Gustrisehat’sWeblog

WASIAT

Kepada segenap kaum muslimin yang kami cintai hafidzhahullah… Mudah-mudahan kalian senantiasa dilindungi Allah Ta’ala dari godaan, jeratan, jebakan, penipuan, penyesatan dan pemalsuan syetan yang terajam lagi terkutuk.

Perkenankanlah kepada kami untuk menyampaikan beberapa wasiat dan pesan-pesan yang hendak kami sampaikan berikut ini, sebagai bentuk kecintaan kami kepada seluruh kaum muslimin.

[1]. Wasiat Pertama

Pegang teguhlah baik-baik seluruh wasiat yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya wasiatkan dalam Al Qur’an dan As-Sunnah, dan berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk mengamalkannya.

[2]. Wasiat Kedua

Ingatlah bahwasanya diri kita diciptakan Allah Ta’ala, semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, (Q.S. Adz-Dzariyat (51): 56). Untuk mentauhidkan-Nya dan menghambakan diri kepada-Nya saja dengan membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk dalam segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, bebaskanlah diri-diri kalian dari segala bentuk syirik; syirik pada asma’ dan shifat-Nya, pada rububiyah-Nya, pada uluhiyah-Nya, pada perintah-perintah-Nya, pada hukum-hukum-Nya dan keputusan-keputusan-Nya. Bebaskanlah diri kalian dari segala bentuk syirkul qubur (syirik yang berhubungan dengan kuburan, seperti menjadikan orang-orang yang sudah mati menjadi ilah (Tuhan), meminta kepada arwah-arwah, membuat patung, kubah-kubah dan menyembahnya, dan lain sebagainya), dan bebaskan pula diri kalian dari segala bentuk syirkul qushur (syirik yang berhubungan dengan istana, seperti menjadikan para thawaghit sebagai tuhan-tuhan kecil, memberikan hak kepada mereka untuk membuat syariat dan hukum yang bertentangan dengan syariat Allah). Dua bentuk syirik tersebut telah diuraikan dengan gamblang oleh ulama-ulama kita, antara lain Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, dalam kitab Tauhid nya, dan Asy-Syahid —insya Allah— Sayyid Qutb rahimahullah dalam bukunya, Ma’alim Fith-Thoriq, buku Fie Dhilalil Qur’an dan sebagainya.

Kedua bentuk syirik yang berbahaya tersebut, telah diramalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Daud dengan sanad yang shahih dari Tsauban maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ

Artinya:

Sesungguhnya termasuk sesuatu yang aku takuti menimpa umatku adalah para pemimpin (agama maupun politik) yang menyesatkan…Dan tidak akan terjadi hari kiamat sampai beberapa kabilah dari umatku yang bergabung dengan kaum musyrikin, dan sampai ada beberapa kabilah dari umatku yang menyembah berhala.” (Hadits Hasan Riwayat, Ibnu Majah dan Abu Daud)(1)


Subhanallah! Ramalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tersebut benar-benar terjadi dan bisa kita saksikan pada hari ini. Berapa banyak orang-orang yang mengaku beragama Islam tetapi menyembah berhala dengan segala ragamnya. Begitu juga tidak sedikit, bahkan sulit kita mencari alat canggih untuk menghitungnya, sebagian dari umat ini yang bergabung dengan orang-orang musyrik, baik zionis, salibis, komunis, maupun yang lainnya dengan mengikuti agama sekulerismenya, kapitalismenya, demokrasinya, liberalismenya, sosialismenya dan lain sebagainya.

[3]. Wasiat Ketiga

Jika kalian ingin selamat dalam arti kata yang sebenarnya di dunia maupun di akherat, maka ikutilah jalan yang lurus (Ash-Shirathal Mustaqim), yaitu jalannya orang-orang yang telah Allah berikan nikmat kepada mereka (Q.S Al Fatihah (1): 7), dari para anbiya’, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin, (Q.S. An-Nisa’ (4): 69), dan janganlah kalian mengikuti jalan orang-orang yang dimurkai (Yahudi dan semacamnya), dan jalan orang-orang yang tersesat (Nasrani dan semacamnya) (Q.S Al Fatihah (1): 7). Ikutilah jalan yang satu yaitu jalan Allah yang lurus dan jangan mengikuti jalan-jalan yang beraneka ragam, jalan Iblis dan syetan (Q.S. Al-An’am (6): 153).

Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, satu-satunya Ad-Dien yang dapat mengantarkan seseorang dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, hanya Islam sajalah yang dapat memasukkan pemeluknya ke dalam surga, sedang isme-isme selain Islam seperti : Yahudi, Nasrani, Majusi, Hindu, Budha, Khong Hu Chu, Kejawen, Komunisme, Marxisme, Leninisme, Sosialisme, Sekulerisme, Kapitalisme, Liberalisme, Permissifisme, Demokrasi, Nasionalisme, Ba’atsisme dan lain sebagainya, sebab jika kalian menapaki langkah-langkah syetan ini kalian akan terpelanting dari jalan yang lurus dan akan keluar dari padanya.

Jika kalian masih mengaku sebagai orang-orang yang beragama Islam, ikutilah Islam yang benar sebagaimana Islam yang dibawa oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, Islam yang dipeganginya dan diperjuangkannya, bersama para shahabat-shahabatnya radiyallahu ‘anhum ajma’in, lalu diteruskan oleh para tabi’in dan para pengikutnya rahimahumullah. Dan jangan mengikuti Islam yang sesuai dengan selera hawa nafsu kalian, yang diridhai dan diingini oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafiq. Ingat bahwasanya Islam yang benar itu tidak akan pernah disukai oleh mereka sampai hari kiamat. Mereka membagi Islam dan kaum muslimin menjadi dua kelompok (ma’af untuk ini kami terpaksa menggunakan pembagian tolol mereka).

(a) Kelompok Fundamentalis, Radikal, Ekstrem, Teroris dan sebagainya.

(b) Kelompok Moderat, sederhana, bertolak ansur, kompromi, tidak mau kekerasan, mau menjilat pantat orang-orang kafir dan sebagainya.(1)

Sebenarnya kesimpulannya sangat mudah, penggembala kerbau yang tak pernah mengenal pensil dan kertaspun bisa menyimpulkan bahwa bagian (a), adalah Islam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, para shahabat radiyallahu ‘anhum dan para pengikutnya hingga hari kiamat, sedang kelompok (b), adalah Islam Abdullah bin Ubay bin Salul (Gembong munafiq era Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam-ed), dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Maka masalahnya tinggal terserah kalian, kalian mau mengikuti dan mendukung Islam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam atau Islam Abdullah bin Ubay bin Salul. Untung dan ruginya kembali kepada diri kalian sendiri. Seandainya seluruh kaum muslimin yang ada di bumi ini memilih, mengikuti dan mendukung Islam yang dikehendaki oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafiq seperti yang dikehendaki oleh Bush dan antek-anteknya –laasamahallaahu– hal ini tidak memberi madhorot sedikitpun terhadap Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala akan mendatangkan kaum yang baru untuk menggantikan mereka yang siap untuk mendukung dan memperjuangkan Islam yang benar, yang diantara sifat-sifatnya sebagai berikut:

1. Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah.

2. Bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin.

3. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir.

4. Berjihad di jalan Allah (berperang fie sabilillah).

5. Dan tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela.

Inilah sifat-sifat generasi yang menggantikan kaum munafiqin dan kaum murtaddin yang meninggalkan dienul Islam yang benar (Q.S. Al-Maidah (5): 54).

“Demikianlah sunnatullah, dan sekali kali kalian tidak akan mendapatkan perubahan dan penyimpangan bagi sunnatullah” (Q.S. Faathir (35): 43).

[4]. Wasiat Keempat

Camkan pada diri kalian beberapa prinsip penting dibawah ini.

a) Tujuan hidup kita adalah untuk mencari ridha Allah ta’ala dengan mengikuti Sunnah Nabi-nya, shallallahu ‘alaihi wa salam.

b) Iman dan tauhid kita adalah sebagaimana iman dan tauhid salaf (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in radhiyallohulahum wa rahimahullahu lahum ajma’iin).

c) Kita memahami Islam sebagaimana yang difahami oleh ulama-ulama salaf yang tsiqat lagi terpercaya.

d) Target hidup kita adalah untuk memperhambakan manusia kepada Allah satu-satunya dan membebaskan diri kita dan mereka dari memperhambakan diri kepada manusia, atau makhluk, dengan menegakkan kembali daulah dan khilafah, sebab tanpa keduanya mustahil target ini dapat tercapai, hanya orang yang bodoh dan tidak memahami hakekat dienul Islam saja, yang memandang remeh urusan ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/75, yang menerangkan akan wajib menegakkan hal tersebut).

e) Kita bermuamalat dan berwala’ kepada Allah Ta’ala, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam, dan orang-orang yang beriman.

f) Kita bersikap bara’ dan bermu’amalat terhadap musuh-musuh Allah ta’ala, musuh-musuh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam, dan musuh-musuh orang-orang beriman dari syetan-syetan manusia maupun syetan-syetan jin.

g) Jalan perjuangan kita dengan dakwah, amar makruf dan nahi mungkar (yang sesuai dengan sunnah), dan dengan Jihad jika mampu. Jika tidak mampu dengan i’dad, jika tidak mampu i’dad dengan hijrah, jika tidak mampu berhijrah dan tidak ada jalan, maka dengan uzlah, (meninggalkan dan menyingkir dari seluruh jalan-jalan syetan dan kelompok-kelompok yang batil, termasuk demokrasi)

h) Demokrasi adalah jalan Iblis dan syetan, jalan orang-orang kafir yang sekuler, ladiniyah (sekulerisme, ed), yang tidak beragama dengan agama yang benar, jalan yang kufur lagi syirik yang diantara prinsip batilnya, sesatnya, kufurnya dan syiriknya adalah bahwasanya “Kedaulatan di Tangan Rakyat”, sedang menurut Dienul Haq, bahwa “Kedaulatan adalah di Tangan Allah Rabbul ‘Alamiin”, satu-satunya. Inilah perbedaan antara Tauhid dan Syirik. Oleh karena itu demokrasi sebenarnya hanya merupakan perangkap yang dipasang oleh musuh-musuh Islam dan ia tak ubahnya seperti fatamorgana belaka bagi para peminatnya(1), di dunia sampai hari kiamat tidak akan menang dalam arti kata yang sebenarnya (tidak dapat menegakkan daulah sebagaimana yang dituntut syariat), dan diakherat terancam dengan siksa neraka karena mengikuti jalan yang bukan jalan orang yang beriman (Q.S. (4): 15)

i) Bekal kita untuk menggapai tujuan dan target adalah ilmu dan taqwa, yakin dan tawakkal, syukur dan sabar, zuhud di dunia dan Itsar (lebih mementingkan) kehidupan akherat, cinta jihad dan mati syahid di jalan Allah.

[5]. Wasiat Kelima

Jauhkanlah diri kalian dari bid’ah, ahli bid’ah dan kelompok-kelompok bid’ah dengan segala bentuknya, baik bid’ah dalam segi nusuk (penyembelihan/pengorbanan) dan ibadah, maupun dalam segi tashawwur dan manhaj. Ikutilah dan kembalilah kepada sunnah, Ahlussunnah dan kelompok-kelompok Ahlussunnah, sebab hanya golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah sajalah yang dijamin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, sebagai satu-satunya Al-Firqoh An-Najiyah, yaitu kelompok yang terselamatkan dari api neraka. Berusahalah untuk bergabung dengan Firqoh An-Najiyah Al Manshurah (kelompok yang dijamin selamat dari api neraka dari yang mendapat pertolongan Allah ta’ala), yaitu Al-Jama’ah Al-Jihadiyah As-Salafiyah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, yang diriwayatkan Imam Muslim dari shahabat Jabir bin Abdullah radiyallahu ‘anhum

عَنْ جَابِرٍ بن عبد الله، يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang membela kebenaran dengan mendapat pertolongan Allah hingga datangnya hari kiamat…“(H.R.Imam Muslim)(1)

[6]. Wasiat Keenam

(A). Waspadailah, jauhilah dan tinggalkanlah para penyeru ke pintu-pintu neraka Jahannam, karena pada diri mereka tidak ada setitikpun dari kebaikan. Adanya hanya keburukan, kejahatan dan kemungkaran. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari shohabat Hudzaifah radiyallahu ‘anhum dinyatakan yang maksudnya(1) :

حَدَّثَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي.

فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ. فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ نَعَمْ .

قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ.

قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ.

ُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا.

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, صِفْهُمْ لَنَا ! فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا.

قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ.

قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Hudzaifah radiyallahu ‘anhum berkata: “Adalah manusia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepadanya tentang kejahatan, karena aku khawatir ia akan menimpaku, maka aku katakan : “Hai Rasulullah! Sesungguhnya kami dahulu berada dalam kejahiliyahan dan kejahatan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, maka apakah sesudah kebaikan ini ada kejahatan?” Beliau berkata, “Ya” Aku katakan lagi, “Dan apakah sesudah kejahatan itu ada kebaikan?” Beliau bersabda “Ya, dan didalamnya ada asap” aku katakan, “Apa asapnya?” beliau berkata, “Yaitu kaum yang memberi petunjuk dengan bukan petunjukku, kamu kenali mereka dan kamu ingkari. ” Aku katakan lagi, “Maka apakah sesudah kebaikan itu ada kejahatan?” Beliau berkata “Ya, para penyeru keatas pintu-pintu Jahannam, barangsiapa menuruti mereka, kepadanya, mereka akan mencampakkannya, di dalamnya.” Aku katakan, “Hai Rasulullah, sifatilah mereka untuk kami.” Beliau berkata, “mereka sekulit dengan kita, dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku katakan, “Apa yang Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, perintahkan kepadaku jika hal itu menimpaku? ” Beliau bersabda, “Kamu lazimi (tetap atas) jama’atul muslimin dan imam mereka.” Aku katakan, “Jika mereka tidak mempunyai Jama’ah dan Imam?” Beliau bersabda, “Maka tinggalkanlah kelompok-kelompok itu semuanya, walaupun kamu menggigit akar pohon sampai kematian menjemputmu, dan kamu tetap dalam keadaan seperti itu”(1) (Muttafaq Alaihi)(1).

Para penyeru ke pintu-pintu Jahannam tersebut, meskipun mereka sekulit dengan kita, sebangsa dengan kita, berbicara dengan bahasa kita, dengan kata lain mengaku beragama Islam, berbicara atas nama Islam dan sepertinya membicarkan tentang urusan Islam dan kaum muslimin, tetapi pada hakekatnya tidak ada kebaikan sama sekali pada diri mereka, yang ada hanyalah kejahatan dan kemungkaran. Dan siapa yang menuruti dan mengikuti seruan dan ajakan mereka akan dicampakkan dalam neraka Jahannam –Al’iyadzubillah-. Siapakah mereka itu pada zaman sekarang ini?

Berkata Ibnu Hajar rahimahumullah: Al-Qobisi mengatakan : “Mereka itu adalah orang-orang yang pada lahirnya kelihatan berada diatas millah Islam, tetapi pada batinnya mereka orang-orang yang menyelisihi Islam.” Fathul Bari Syarhu Shahih Bukhari 13/36.

Menurut Asy-Syaikh Al Mujahid Abu Abdullah bin Ladin : “Mereka antara lain adalah para penguasa murtaddin dan perangkat-perangkatnya, termasuk-ulama’-ulama’ Bal’am, mereka-mereka ini siang malam senantiasa menyeru manusia ke pintu-pintu jahannam dengan memalingkan manusia dari jalan yang lurus, menipu mereka dan menghalang-halangi dari jalan Allah”. (rujuk Taujihat Manhajiyah I/15).

Menurut Asy-Syaikh Salman Al Audah : “Mereka, antara lain adalah para pengusung aliran-aliran sesat kebendaan (materialisme), yaitu para pengusung Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Baatsisme, Sekulerisme, dan lain sebagainya, otak-otak mereka inilah menjadi lahan yang subur bagi timur dan barat dalam menyebarkan agama atau aliran mereka di negara-negara kaum muslimin.” Katanya : “Kalau ulama’-ulama’ sunnah memasukkan ahlul ahwa’ seperti khawarij dan sebagainya termasuk dari golongan mereka, maka sangat mungkin untuk memasukkan dalam golongan mereka setiap orang yang pura-pura menampakkan dirinya dengan Islam dan pada hakekatnya mereka adalah zindiq, munafiq dan memusuhi Islam (Shifatul Ghuraba : 221-223) ”.

Para penyeru ke pintu-pintu neraka Jahannam dari para pengusung agama materialisme Barat maupun Timur yag berkedok dengan Islam, dengan berbagai status kehidupan sosialnya, dari penguasa, menteri, tentara, polisi, dosen, mahasiswa, guru, pemuka-pemuka masyarakat, hingga rakyat jelata. Orang-orang ini aneh bin ajaib dalam beragama, terutama yang keranjingan dan keracunan agama Sekulerisme, yang dengan taqdir dan kehendak Allah Ta’ala hari ini sedang naik pamornya dan menguasai dunia. Mereka mayoritasnya menjalankan agama Islam hanya sebagai kuda tunggangan untuk memenuhi nafsu syahwatnya dan perutnya belaka.

Ada yang mengatakan Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, tidak sesuai dengan masa kini, ada yang mau menegakkan Islam diluar cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, menegakkannya.

Ada yang menganggap semua agama sama, ada yang mengatakan orang-orang Nasrani adalah saudara kita.

Ada yang bilang prinsip-prinsip salaf dan pendapat-pendapatnya tidak sesuai lagi untuk masa kini.

Ada yang berprinsip dimana ada maslahat disitu ada hukum Allah, mengukur maslahat sesuai dengan selera hawa nafsunya.

Ada yang dengan tolol dan dungunya mengatakan bahwa wajah orang Nasrani meskipun di dunia hitam, tetapi di akherat akan berseri-seri jika banyak berbuat kebaikan untuk kemanusiaan, padahal orang-orang Nasrani dengan jelas mereka telah berbuat dusta terhadap Allah dengan keyakinan trinitasnya dan sebagianya yang menurut nash Al Qur’an wajah mereka menjadi hitam pada hari kiamat (Buka Al-Qur’an surat : Az-Zumar (39): 60).

Ada juga diantara mereka yang mengaku sebagai mufakkir (pemikir, cendekiawan) Islam. Mereka sengaja lari dari istilah mujtahid, sebab dengan istilah itu mereka akan kebakaran jenggotnya karena tidak memenuhi syarat sebagai mujtahid.

Ada sebagian dari kaum tersebut yang berupaya membuat ushul fiqih baru yang berbeda dan bertentangan dengan ushul fiqh yang telah dibuat oleh Imam-Imam yang agung lagi terpercaya seperti Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan sebagainya.

Ada yang memahami Iman dan Islam dengan filsafat Aristoteles (Aristotelian-ed) dan sebagainya. Ada yang menganggap Islam adalah urusan pribadi dan seibut satu lagi pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan sampah yang tidak layak duduk dan tingal melainkan di tong sampah. Oleh karena itu sekali lagi jauhilah dan tinggalkanlah orang-orang yang modelnya seperti ini jika kalian ingin selamat dari api neraka

(B). Kenalilah musuh-musuh kalian dan tipudaya mereka sebagaimana yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam beritakan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ingat! Bahwasanya musuh selama-lamanya tetap musuh, lawan kapanpun tetap lawan, meskipun bertopeng kawan. Serigala tetap serigala meskipun berkulit domba, musang tetap musang walaupun berbulu ayam. Sadarlah singa tersenyum bukan mengucapkan salam kepada kalian tetapi hendak menerkam dan membantai kalian, Zionis, Salibis, Komunis, Majusi dan Kafirin lainnya serta antek-anteknya dari kaum zindiq dan munafiqun adalah musuh-musuh bebuyutan kalian. Mereka adalah pembawa dan pembela panji-panji kebathilan, kufur, syirik nifaq dan riddah, sedang kalian adalah pembawa dan pembela panji-panji kebenaran, Islam, Iman dan Tauhid. Sudah menjadi Sunnatullah bahwasanya dua kelompok ini akan senantiasa bergolak dan bertarung. (Q.S. An-Nisa’ (4): 76), (Q.S. Al-Hajj (22): 19-25). Dan lain sebagainya, pergolakan dan pertarungannya adalah permanen hingga hari kiamat.

Maka dalam hal ini, hanya ada satu dari dua pilihan, apakah memihak kelompok yang membawa panji-panji kebenaran atau yang mengusung panji kebatilan. Tidak ada pilihan yang ketiga, tidak ada netral atau non blok dalam pergolakan ini. Kalau yang berperang Blok Barat (Sekuler/Kapitalis) melawan Blok Timur (Komunis/ Sosialis), minimal kita bersikap netral dan non blok. Kita tidak boleh memihak salah satu minimal dari keduanya atau ke dua-duanya, sebab kedua-duanya adalah musuh bebuyutan kita. Jika mampu bahkan wajib memerangi kedua-duanya sampai mereka tunduk dan dibawah kekuasaan Islam, dalam keadaan damai, keadilan bisa ditegakkan, kemungkaran, kemaksiatan, perilaku keji dan kejahatan dapat dicegahdan diredam. Setiap agama bebas menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya masing-masing dibawah perlindungan syariat Islam. Masing-masing merasa bebas dan merdeka hidup di bawah naungan Islam, semuanya bisa menikmati kebahagian hidup sesuai dengan usahanya.

Tidak sebagaimana sekarang ini, karena yang memimpin dunia orang-orang tolol yang tidak mengerti halal dan haram. Tidak memahami kebenaran, sehingga mengatur dunia mengikuti hawa nafsunya, maka akibatnya seluruh penduduk bumi, teraniaya, berduka cita, menderita, sengsara, tidak pernah mengecapi kebahagiaan lahir apalagi batin. Meskipun segala materi ada dihadapannya –kecuali orang-orang yang dirahmati Allah- maka kembalilah kepada Islam secara kaffah, sebab ia membawa rahmat bagi alam semesta. Jika Islam yang kalian ikuti tidak sebagaimana Islam yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya radiyallahu ‘anhum, yang berkuasa di dunia dengan segala kehebatan dan kekuatannya sehingga disegani oleh lawan-lawannya, maka jangan kalian mimpi Islam kalian akan membawa rahmat bagi semesta alam.

Sebaliknya Islam kalian akan menjadi bahan permainan bagi musuh-musuh Islam, seperti keadaan hari ini. Lihat Iblis Bush –laknatullahi alaihi– yang senantiasa mendapat dukungan dari penguasa munafiqin, dan ulama’-ulama’ Bal’amnya dengan sesuka hatinya mempermain-mainkan Islam dan kaum muslimin dari hari ke hari.

Kalian tentu masih ingat ketika Iblis Ariel Sharon –laknatullahi alaihi– membunuh Asy-Syaikh Ahmad Yassin dengan brutalnya, lalu dunia menyepakati untuk memboikot Israel. Tetapi negara pelacur Amerika, negara syetan besar itu, dibawah pimpinan Iblis Bush –laknatullahi alaihi– menggunakan hak hukum rimbanya (veto). Maka dengan kepongahan dan kebrutalan Bush –laknatullahi alaihi– yang selalu memihak kepada Israel itu, mendapat kecaman dan ultimatum langsung dari pemimpin-pemimpin mujahidin –Al-Hammas- Asy-Syaikh Abdul Aziz Rantisi rahimahumullah bahwasanya Bush adalah musuh Islam dan beliau berjanji akan membunuhnya(1). Maka dengan tolol dan congkaknya si Iblis –laknatullahi alaihi– mengatakan, antara lain “Bahwasanya kami tidak memerangi Islam, kami ingin mempersatukan Islam dibawah demokrasi”. Coba fikirkan dengan akal sehat kalian, apalagi jika dengan iman sehat kalian, mana ada penghinaan yang lebih menyakitkan dari kata-kata iblis tersebut terhadap kita, sebagai kaum mukminin.

Manusia Drakula yang berbuat durjana membantai beribu-ribu kaum muslimin di sana-sini lalu dengan pongahnya konon ingin mempersatukan kaum muslimin. Sebenarnya yang ingin dipersatukan Bush –laknatullahi alaihi– adalah orang-orang munafiq, murtad. Mustahil bagi seseorang yang masih ada iman sebiji iman dalam hatinya mau diimpin oleh Iblis, dan mendukungnya bahkan mencintainya, merasa gembira jika Bush gembira, dan merasa sedih jika Bush ditimpa bencana. Sebaliknya jika mujahidin mendapat kebaikan, mereka tidak senang dan jika mujahidin tertimpa musibah, mereka senang (Q.S (9): 50). Orang-orang yang seperti inilah yang disebut orang-orang munafiq yang akan Allah Ta’ala bakar di neraka yang paling bawah (Q.S (4) : 145). Meskipun mereka sholat, puasa, haji seribu kali dan sebagainya, tidak berarti sama sekali amalan mereka, kecuali jika mereka bertaubat (Q.S (4) : 146) –Wallahu a’lam-

Sekali lagi waspadalah dan fahamilah tipudaya-tipudaya musuh-musuh Islam agar kalian tidak tersesat. Hari ini diantara tipudaya, pemecah belahan, taktik dan siasat yang dipergunakan oleh musuh-musuh Islam untuk mengelabui orang-orang Islam dan memecah belah mereka adalah dengan memunculkan dan mempropagandakan ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah yang bermuatan makar, misalnya : “Islam adalah agama damai, rahmatan lil alamin, bukan agama yang keras dan tidak menyukai kekerasan.” Mereka membagi Islam, ada Islam Ekstrem, ada Islam Moderat, ada istilah teroris, ekstremis, fundamentalis radikal dan sebagainya dan sebagainya. Jika ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah seperti ini tidak kalian kembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan tetapi kalian hanya mengikuti hawa nafsu, selera dan perasaan, maka kalian akan terbius oleh propaganda syetan-syetan tersebut, dan kalian akan merugi dan menyesal sendiri di kemudian hari.

Pada masa kini banyak dari kalangan kaum muslimin yang terpengaruh dengan propaganda musuh-musuh Islam karena kebodohannya. Maka begitu mujahidin dan para pejuang Islam menyembelih dan membunuh orang-orang kafir tulen maupun kafir munafiq baik di Pakistan, Afghanistan, negara-negara Arab, negara-negara Eropa, Amerika, Rusia, Asia Tenggara, maupun yang lainnya, langsung menanggapi dengan sinis. Bahkan karena sudah rusak iman dan akalnya sampai ada yang mengutuk –al’iyadzubillah-. Tapi sebaliknya jika yang dibantai dan ditimpa musibah para mujahidin, ditanggapinya dengan dingin-dingin saja bahkan merasa suka sambil berkata, itulah balasan terhadap para teroris dan orang-orang yang melakukan kekerasan, bukankah agama Islam adah agama yang cinta damai dan rahmatan lil alamiin?????

Wahai orang-orang yang masih tersisa iman dalam hatinya, apakah kalian tidak pernah membaca Al Qur’an kitab suci dan penuntun kita, ketahuilah bahwasanya didalam kitab suci kalian itu berpuluh-puluh ayat yang memerintahkan kepada kalian agar berjihad, berperang, membunuh, berbuat keras dan sebagainya, jika kalian masih yakin dengan kitab kalian, silakan baca beberapa ayat yang saya tunjukan ini : (Q.S. Al-Anfal (8) : 34), (Q.S. At-Taubah (5) : 14,15,29,36, 73, 111, 120, 121, 123), (Q.S. Muhammad (47) : 4-6), (Q.S. Al-Maidah (5) : 54), (Q.S. Al-Fath (48) : 29), dan lain sebagainya.

Apakah kalian terlupakan bahwa membunuh orang-orang kafir musuh-musuh Islam itu merupakan amal yang luar biasa fadhilah dan keutamaannya. Camkan hadits shahih ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعُ كَافِرٌ وَقَاتِلُهُ فِي النَّارِ أَبَدًا

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhum , bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : Tidak berkumpul orang kafir dan pembunuhnya didalam neraka selama-lamanya” (H.R. Muslim dalam shahihnya nomor 1891).

Adakah kalian tidak menyadari bahwa manusia junjungan kita, serta tauladan kalian, tokoh-tokoh agung kalian, khususnya Nabi Teragung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan tokoh-tokoh besar lainnya radiyallahu ‘anhum ajma’in). mereka adalah orang-orang yang bersifat keras kepada orang-orang kafir dan lemah-lembut kepada orang-orang yang beriman (48: 29, 5:54).

Dan diantara kegiatan kegiatan utama mereka adalah berperang dan membunuh orang-orang kafir. Tidak tahukah kalian bahwa Baginda kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, hanya dalam 10 tahun menjadi imam negara Islam yang berpusat di Madinah, menjalankan operasi jihad sebanyak 77 kali; 28 kali beliau pimpin sendiri, sedang selebihnya, adalah brigade-brigade ekspedisi yang dipimpin oleh salah seorang shahabat yang beliau tunjuk.

Coba bandingkan dengan ibadah haji beliau. Dalam riwayat, setelah beliau hijrah hanya menunaikan ibadah haji sekali saja, dan dalam riwayat lain dua kali. Maka dalam 10 tahun saja beliau telah menguasai seluruh jazirah Arab, bahkan sudah sampai di wilayah perbatasan negeri Syam. Kemudian pada masa Khulafaur Rasyidin yang hanya 30 tahun saja, para shahabat telah berhasil menumbangkan dua negara super power pada saat itu yaitu, Persia (Majusi) dan Rumawi (Kristen), dan kekuasaan Islam pada saat itu membentang ke negeri Sind di sebelah timur, ke negeri Khazar (Kaspia), Armenia dan negeri-negeri Rusia di ujung utara, dan masuk dalam kekuasaannya yang adil : negeri-negeri Syam, Mesir, Burqoh, Tripoli dan negeri-negeri lain di benua Afrika.

Dan pada masa khilafah Bani Umayyah belum masuk tahun 102 Hijriyah, kekuasaan Islam menyebar luas lagi, sampai ke negeri-negeri Sind dan sebagian besar wilayah India dan sampai ke perbatasan negeri Cina, di bagian timurnya dan ke barat sampai ke negeri Andalusia (Spanyol) di Eropa. Subhanallah. Dan seterusnya dan seterusnya sampai runtuhnya dan hilangnya kekuasaaan poemerintahan Islam yang terakhir dari bumi, yaitu Khilafah Utsmaniyah di Turki, pada tahun 1924 M. akibat dari persekongkolan jahat negara-negara Salibis (Inggris, Perancis, Italia dan Yunani) yang dikendalikan oleh Zionis Internasional, bekerjasama dengan antek-anteknya dari kaum munafiqin baik yang berada di Turki, seperti Kamal Attaturk dan Ishmat Inonu dan sebagainya maupun yang berada di negara-negara Arab –la’aainullaahi alaihi ajma’in-. Sehingga kini pemerintahan Islam dalam arti kata yang sebenarnya menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para Salaf, belum bisa bangkit lagi.

Adapun negara-negara yang pada biasa kita dengar dengan sebutan-negara-negara Islam atau yang lebih sesuai sebagai negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, pada hakekatnya negara-negara tersebut pemerintahannya bukan pemerintahan Islam tetapi merupakan boneka-boneka penjajah, termasuk negara-negara Arab.

Kalian mesti pernah mendengar tentang kabar tentang revolusi, negara-negara Arab yang terjadi sekitar tahun 1917-an Masehi, dapat disimpulkan revolusi itu itu adalah lari dari pangkuan pemerintahan Islam di bawah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah, masuk dalam ketiak pemerintahan Kafir Salibis Inggris, Perancis dan sebagainya. Silahkan anda baca sejarah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia. Ia didirikan dengan kekuatan Inggris, berwala’ kepada Inggris, dengan senjata Inggris, dengan dana Inggris,. Raja pertamanya Abdul Aziz, menerima gaji dari Inggris, lima ribu Junaih perbulannya, sesuatu jumlah uang yang sangat besar pada saat itu. Diantara penyebab utama runtuhnya Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah Utsmaniyah di Turki, adalah persekongkolan jahat penjajah Salibis Inggris dengan Alu (Keluarga) Saud. (Taujihat Manhajiyah I/17-18).

Maka janglanlah kalian merasa heran jika penguasa-penguasa boneka Arab tidak terketuk sama sekali untuk membantu mujahidin Palestina dalam memerangi negara-Zionis Israel. Bagaimana mereka mau memerangi Israel, sedang mereka sama-sama tunduk dibawah satu boss (waktu itu antara Israel dan boneka Arab dibawah satu koordinasi Inggris, penulis menyebut kepemimpinan Inggris sebagai boss-ed). Berdirinya negara mereka atas prakarsa sang boss, demikian juga berdiri negara Israil pada tahun 1948 pun atas prakarsa boss. Siapa bossnya? Siapa lagi kalau bukan Zionis dan Salibis.

Bagaimana mereka para boneka-boneka salibis zionis yang mengaku beragama Islam itu akan membantu para mujahidin, justru yang paling mereka takuti adalah jika mujahidin atau Islam menang, sebab mereka yakin dengan kemenangan Islam akan menggusur kekuasaan batilnya dan menghancurkan singgasananya.

Kemudian apa yang dimaksud “Agama Islam adalah agama yang cinta damai.” Saya tidak tahu sumber ungkapan ini berasal darimana, apakah dari ahlul ilmi ataukah ucapan orang awam. Taruhlah jika ungkapan itu benar, bukan berarti karena Islam cinta damai maka tidak suka berperang, tidak suka kekerasan, tidak suka senjata, tidak suka bom dan sebagainya, sebab petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, tidak seperti itu. (buka firman Allah surat Al Anfal (8): 61-62 dan surat Muhammad (47) : 35). Pada ayat 61 surat Al-Anfal tersebut bermaksud, jika musuh cenderung kepada perdamaian, maka kaum mukminin disuruh agar cenderung kepadanya, dengan kata lain jika musuh mengajak damai terimalah ajakan itu. Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Zaid bin Aslam, Atho’ Al Khurasaini, Ikrimah, Al Hasan dan Qotadah ; bahwa ayat ini telah termansukhkan dengan ayat pedang pada surat At-Taubah (9): 29. sedangkan ayat 35 dari surat Muhammad, kaum mukminin dilarang meminta damai, kenapa dilarang? Sebab kaum mukminin itu lebih tinggi daripada musuhnya, sedang minta damai adalah sifat orang yang kalah dan hina.

Agar lebih jelas maksud darikata damai, maka baiklah kita lihat secara ringkas sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Selama beliau dan para shahabat 13 tahun berada di Mekkah dalam keadaan tertindas, pada waktu itu belum muncul istilah damai, bagaimana berdamai dengan penguasa thaghut dari mereka, sedang diri mereka diancam, diintimidasi, disiksa dan sebagainya, kebrutalan orang-orang musyrik mereka hadapi dengan sabar dan berhijrah, sebab pada waktu itu belum diizinkan untuk berperang (Q.S. An-Nisa’ (4): 77).

Setelah beliau berhijrah ke Madinah dan mendirikan pemerintahan Islam disana, barulah ada ikatan perjanjian damai dengan penguasa-penguasa lain baik Yahudi, kabilah-kabilah maupun musyrikin Quraisy karena kekuatan kaum Muslimin belum cukup untuk menundukkan mereka, disamping banyak lagi hikmah-hikmah yang lain. Dalam masa-masa terikat perjanjian damai kaum mukminin senantiasa memenuhi perjanjian, tetapi pihak kuffar selalu berkhianat khususnya orang-orang Yahudi.

Yahudi Bani Nadhir berkhianat, bermakar hendak membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, maka mereka diusir dari kampung halaman mereka, (Q.S. Al-Hasyr (59): 2-5).

Yahudi Bani Qoinuqo’ mengganggu dan sengaja melecehkan seorang perempuan muslimah di pasar dengan menarik dan merobek jilbabnya, akhirnya merekapun diperangi dan diusir.

Dan Yahudi Bani Quraidhah lebih hebat dan berbahaya pengkhianatannya yaitu bersekongkol dengan musyrikin Quraisy untuk menyerang kota Madinah, sebagai pusat pemerintahan pada saat itu. Maka hukuman ganjaran bagi mereka adalah, laki-laki dewasa dibunuh, perempuan dan anak-anak menjadi tawanan dan harta bendanya menjadi ghonimah. Kemudian laki-laki dewasa dibawa ke pasar Madinah dan di seru masuk Islam, semua menolak kecuali dua orang yang masuk Islam, yang lain berjumlah tujuh ratus orang ditebas tengkuknya oleh Az-Zubair dan Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhum, dan dikuburkan dalam lubang di pasar tersebut yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Subhanallah.

Adapun bentuk damai dengan orang-orang kafir pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah memiliki kekuatan yang cukup dan banyak. Yaitu orang-orang kafir hidup damai dibawah payung pemerintahan Islam sebagai Ahludz dzimmah, dipungut bayaran jizyah sekali dalam setahun, bagi laki-laki dewasa dan mampu, dan bayarannya pun tidak begitu mahal. Tuntutan bayaran zakat kepada penduduk yang muslim lebih banyak jumlahnya, sebab tujuan pokok pembayaran jizyah bukan untuk mendzholimi mereka atau untuk memperkaya pemerintah, tetapi sebagai pengakuan dan keta’atan secara resmi mereka, terhadap pemerintahan Islam dan imbalan dari pemenuhan kewajibannya memperoleh hak mendapat jaminan darah maupun hartanya. (Q.S. At-Taubah (9): 29).

Demikianlah bentuk kedamaian yang dapat dinikmati oleh ahludz-dzimmi, mereka memperoleh hak-hak sebagai rakyat sebagaimana yang diperolehi rakyat yang muslim tentunya sesuai dengan aturan syariat. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka aku menjadi lawannya di hari kiamat” (Hadits Hasan dari jalur Ibnu Mas’ud). Tetapi jika mereka berkhianat, batallah ikatan janjinya dan darah serta hartanya tidak terjamin lagi. (Minhajul Muslim, hal 256), dan (Tafsir Ibnu Katsir 4/195).

Sebagai tambahan, tatkala pemerintahan Islam telah kuat dan mampu menghadapi penguasa-penguasa atau kekuatan-kekuatan kafir, maka ketika itu pemerintahan Islam memberikan tiga alternatif pilihan kepada mereka:

1. Diseru masuk Islam, jika bersedia akan selamat, dunia dan akherat, selamat di dunia dari serangan mujahidin dan di akhirat –Insya Allah- terselamatkan dari siksa neraka. Jika mereka enggan dengan pilihan pertama, maka:

2. Berdamai dan bersedia membayar jizyah sebagai ahludz-dzimmi. Jika masih tetap tidak mau maka pilihan terakhir bagi mereka adalah:

3. Perang.

Oleh karena itu, pemerintahan Islam wajib melakukan jihad ekspansi minimal satu kali dalam satu tahun, lebih dari itu tentu lebih baik sehingga tidak tinggal di muka bumi selain muslim atau musalim (orang kafir yang suka damai). Demikian menurut pendapat Imam Asy-Syafi’i dan para pengikutnya, begitu juga Imam Al Haramain Al Juwaini dan Ibnu Qudamah (Bisa saudara lihat di Masyari’ul Asywaaq, karangan Ibnu Nuhhas, syahid tahun 814 H, di Mesir, tahdzib dan tahqiq oleh Dr. Sholah Abdul Fattah Al Kholidi hal 35).

Seterusnya apa yang dimaksud Rahmatan lil Alamiin? Allah Ta’ala berfirman (Q.S. Al-Anbiya’ (21): 107):

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam) melainkan utnuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam

Orang-orang yang kurang ilmu dan pengalaman, memandang sosok pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, bagaikan orang buta meraba dan memegang tubuh gajah. Jika yang ia pegang kebetulan dua gadingya, maka gajah yang tergambar pada fikirannya adalah seperti dua bayonet tajam yang terhunus. Jika sentuhan tangannya mengenai telinganya, maka gajah terbayang seperti sebuah kipas. Jika mengenai kakinya, menganggap seperti pohon atau batang kayu. Jika badannya, maka anggapannya seperti batu raksasa dan seterusnya. Maka informasi tentang gajah dari karakternya yang diperoleh dari orang buta tidak boleh diterima begitu saja, sebab tidak utuh.

Orang-orang Barat khususnya Yahudi dan Salibis karena kedengkiannya terhadap Islam dan kesempurnaannya, memandang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, dari segi kerasnya dan jihadnya saja. Sehingga yang tergambar pada benak mereka, adalah seorang teroris. Sebaliknya orang-orang Islam kebanyakannya –kecuali yang dirahmati Allah – tidak pernah terbayang dalam pikirannya bahwa belau shallallahu ‘alaihi wa salam, adalah bersikap keras terhadap musuh-musuhnya.

Diantara program utama hidupnya adalah perang, diutus sebagai nabi terakhir dengan pedang. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhum, beliau besabda,

( بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلُّ وَ الصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ).

Artinya : “Aku diutus mendekati hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah disembah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan hina dan kerdil atas orang yang menyelisihi peritahku, dan barangsiapa yang menyerupai dengan suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (H.S.R. Imam Ahmad).(1)

Yang terbayang pada benak mereka hanyalah, beliau shallallahu ‘alaihi wa salam adalah sebagai seorang Nabi yang penyantun, penyabar, lemah lembut, dilempar kotoran pun tak marah, dicemooh dan diolok-olok pun tidak pernah membalas, tidak pernah mengganggu orang lain, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Adapun yang sebenarnya, seluruh sifat-sifat yang mulia dan yang terpuji terdapat pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, yang keras maupun yang lemah lembut. Beliau keras pada waktu harus bersikap keras, dan bersikap lemah lembut pada masa-masa mesti berlemah-lembut. Perlu disadari, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam adalah Nabi dan Rasul terakhir, kedatangannya sebagai penyempurna bagi seluruh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya. Oleh karena itu, segala keutamaan yang ada pada diri para Anbiya’ dimiliki oleh beliau. Maka beliaulah yang dipilih Allah, Ta’ala, menjadi manusia yang paling utama, paling mulia dan paling sempurna yang pernah hidup di muka bumi, bahkan yang paling terkemuka dari pada segala makhluk yang ada.

Beliau bisa menjadi contoh dan suri tauladan dalam segala segi kehidupan, semua lapisan masyarakat bisa meneladaninya. Sebab beliau sebagai kepala negara yang kekuasaan wilayahnya begitu luasnya, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, beliau juga sebagai seorang Qodhi (hakim), seorang pendidik, pengajar, suami, pedagang, majikan, pernah juga menjadi karyawan (pekerja yang memperoleh gaji), sebelum diangkat sebagai Rasul dan lain sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman: (Q.S. Al-Ahzab (33): 21).

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir dan banyak berzikir kepada Allah

Ayat yang mulia ini merupakan dalil agung dalam hal meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, pada ucapannya, perbuatannya dan keadaan-keadaannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada manusia agar meneladani beliau pada perang Al-Ahzab, beliau menghadapi perang itu dengan sabar, menguatkan kesabaran, senantiasa siap siaga dan bermujahadah sambil menunggu kelapangan, walaupun musuh-musuh Islam, tentara sekutu dan koalisi telah mengepung daulah Islamiyah Madinah dari segala penjuru.

Maka jika kita perhatikan dengan seksama ayat tersebut (Q.S. 33: 21), terletak ditengah ayat-ayat yang menceritakan perang Ahzab, baik sebelum maupun sesudahnya. Namun itu tidak berarti kita hanya disuruh untuk meniru perangnya saja. Sebab ayat itu untuk umum, hanya saja yang wajib menjadi perhatian, karena umat ini kebanyakan telah terjangkit, penyakit dan kuman kehidupan sufi baik dalam cara beribadah maupun manhaj hidup, maka peneladanan pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, dalam hal yang berhubungan dengan perang yang menentukan Izzul Islam Wal Muslimin, setelah iman justru tidak diindahkan sama sekali, tidak pernah dibicarakan, bahkan tidak terbayangkan sedikitpun –kecuali yang dirahmati Allah-. Inilah diantara penyebab utama kehinaan kaum muslimin pada masa kini.


Presiden Amerika Serikat George W. Bush, terhuyung-huyung karena dongengan-dongengan kehebatan Amerika hilang dan musnah dalam beberapa kejap mata saja, dalam jumpa persnya lima hari setelah ambruknya WTC, dan porak-porandnya markas angker Pentagon, tepatnya pada hari Ahad tanggal 16/09/2001 Masehi bertepatan dengan 28/06/1422 Hijriah. Presiden yang sedang duka dan sedih serta kalang-kabut itu tidak mampu menyembunyikan aqidahnya yang sebenarnya. Yang selama ini ditutup-tutupi dengan berbagai kedok dan sandiwara, dengan jelas dan gamblang dalam jumpa pers itu ia menyatakan sebagai berikut : “This crusade, this war on Terrorism, is going to take a long time”, maksud dari ucapannya-qotalalloh– Ini Perang Salib, perang melawan teroris, ini akan memakan waktu yang lama.

Coba bayangkan ! Sudah jelasnya seperti itu, bagaikan matahari di siang bolong masih juga ada diantara kaum muslimin yang menyatakan bahwa Bush tidak memerangi Islam. Jika ucapannya dan anggapan seperti ini datang dari para penguasa dan Bal’am-Bal’am mereka yang arab maupun yang ajam, kita tidak perlu heran sebab mereka adalah orang-orang munafiq sudah menjadi sunnatullah bahwa orang-orang munafiq itu akan senantiasa bekerjasama dengan orang-orang kafir dalam memerangi Islam dan kaum muslimin. (Q.S. Al-Hasyr (59): 11) dan lain sebagainya).

Dan bukalah sekali lagi sejarah! Kalian akan mendapati kaum munafiqin senantiasa bergentayangan dalam panggung sejarah Islam. Yang kita sayangkan adalah orang-orang Islam yang masih ada sisa iman dalam hatinya, tetapi karena kurangnya ilmu dan pengalaman sehingga terpengaruh dengan sihir dan ucapan manis yang keluar dari mulut orang-orang kafir, zindiq dan munafiq.

Dengan demikian, meskipun Amerika dan Eropa telah menabuh genderang Perang Salib dengan cara yang lebih licik dari perang-perang salib sebelumnya, antara lain dengan dalih memerangi teroris, mereka membantai kaum mukminin dimana-mana, dan menghancurkan negara mereka dan menguasainya.

Sementara itu kaum muslimin dengan kebodohannya –kecuali yang dirahmati Allah- masih tetap memegangi prinsip sesatnya, katanya: “Agama Islam itu agama yang tidak suka peperangan, tidak suka kekerasan, tidak suka persenjataan, tidak suka bom, agama rahmatan lil alamin (rahmatan lil alamin menurut udelnya)”, dan lain sebagainya.

Kita kembali kepada firman Allah (Q.S. Al-Anbiya), apa yang dimaksud dengan rahmatan lil ‘alamin رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ, “menjadi rahmat bagi semesta alam”. Dalam tafsir Ibnu Katsir dinyatakan bahwa dengan ayat tersebut Allah Ta’ala memberitahukan bahwasanya Allah menjadikan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, sebagai rahmat bagi mereka seluruhnya. Maka barangsiapa yang mau menerima rahmat itu dan mensyukuri nikmat ini, ia akan hidup bahagia di dunia dan di akherat. Dan sebaliknya, barangsiapa yang menolak rahmat dan mengingkari nikmat itu, ia akan rugi di dunia dan di akherat, sebagaimana firman Allah Ta’ala (Q.S. Ibrahim (14): 28-29) dan (Q.S. Fushilat (41): 44).

Diutusnya Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam adalah menjadi rahmat bagi orang yang beriman dan bagi orang kafir. Bentuk rahmat yang dicapai oleh orang-orang yang beriman sudah jelas seperti yang disebutkan diatas. Maka yang menjadi pertanyaan, rahmat apa yang diperoleh orang-orang kafir dengan diutusnya Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, sebagai Nabi dan Rasul terakhir? Dalam dua buah atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ath-Thabrani, Ibnu Abbas rhodiyalloohu anhum dalam mentafsirkan ayat وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّرَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ berkata: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau mengikuti Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, maka ia akan mendapat rahmat di dunia dan di akherat. Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya atau tidak mengikutinya akan (tetap diadzab oleh Allah) dihindarkan dari siksaan secara langsung sebagaimana yang ditimpakan terhadap umat-umat sebelumnya, seperti dilenyapkan dari bumi, dirubah menjadi monyet dan dihujani batu dari langit

Dalam sebuah hadits yang agak panjang yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, bahwa Abu Jahal mengatakan kepada kepada orang-orang Quraisy yang isinya makar dan menyudutkan Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam dan para pengikutnya, maka begitu berita itu sampai kepada beliau, beliau bersabda :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، َلأَقْتُلَنَّهُمْ وَ َلأُصَلِّبَنَّهُمْ وَ َلأَهْدِيَنَّهُمْ وَهُمْ كَارِهُونَ، إِنِّي رَحْمَةٌ بَعَثَنيَِ اللهُ وَ لاَ يَتَوَفَّانِي حَتىَّ يُظْهِرَ اللهُ دِينَهُ

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh benar-benar aku akan membunuh mereka dan menyalib mereka, serta menunjukkan mereka, sedang mereka tidak menyukainya. Sesungguhnya aku diutus Allah menjadi rahmat dan Allah tidak akan mewafatkanku. Sehingga Allah memenangkan dien (agama)-Nya” “H.R Ath-Thabrani”

Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin Umar rhodiyalloohu anhum berkata, Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ بَعَثَنيِ رَحْمَةً مُهْدَاةً بُعِثْتُ بِرَفْعِ قَوْمٍ وَخَفْضِ آخَرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah mengutusku menjadi rahmat lagi menjadi petunjuk (1) aku diutus dengan mengangkat suatu kaum, dan merendahkan yang lainnya, (maksudnya mengangkat kaum yang beriman dan merendahkan kaum yang kafir-pen)” (Tafsir Ibnu Katsir 3/210-211).

Demikianlah penjelasan rahmatan lil ‘alamin, jadi bukan berarti tidak suka perang, tidak suka membunuh orang kafir, tidak mengenal kekerasan, yang dikenali hanya lemah lembut, lembek dan mengalah. Sungguh tidak demikian.

Agar supaya kita tidak termakan dan terpengaruh dengan istilah-istilah bermuatan makar yang dipropagandakan ahlul kitab, atau musuh-musuh Islam, maka teladanilah sikap dan keberanian Imam kita dibawah ini:

1. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullahu wa rhodiya anhu, ketika beliau dituduh sebagai seorang rafidhi (pengikut syiah rafidhah), maka dengan tegasnya beliau mengatakan, “Jika yang dimaksud rafidhah, adalah orang yang benar-benar mencintai keluarga Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, maka supaya manusia dan jin menyaksikan bahwasanya aku seorang rafidhi.”

2. Imam Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah rahimahullahu wa rodhiya anhu menyatakan, “Jika yang dituduh sebagai nashibah orang-orang yang benar-benar mencintai shahabat-shahabat Nabi sholallohu alaihi wa sallam, maka agar manusia dan jin menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah seorang nashibi.”

3. Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullahu wa rodhiya anhu, menyatakan, “Jika yang dituduh sebagai mujassim adalah orang-orang yang mengitsbatkan shifat-shifat Allah dan mensucikan-Nya dari setiap takwil yang diada-adakan, maka dengan memuji Allah sebagai Rabb-ku sesungguhnya aku adalah seorang mujassim, kemarilah kalian untuk menyaksikan”

4. Imam Asy-Syahid Abdullah Yusuf Azzam, rahimahullahu wa rodhiya anhu, menyatakan:

a) Jika yang kalian maksud fundamentalis adalah orang-orang yang Iman, Tauhid dan Islamnya benar sebagaimana yang di bawa Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, maka saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang fundamentalis.

b) Jika yang kalian maksud ekstrimis orang-orang yang melakukan i’dad untuk memerangi musuh-musuh Allah, maka saksikanlah bahwasanya kami adalah orang-orang yang ekstrem.

c) Jika yang kalian maksud dengan teroris adalah orang-orang yang berjihad, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah para teroris, (lihat ceramah-ceramah beliau yang terhimpun dalam Tarbiyah Jihadiyah atau yang lainnya).

[7]. Nasehat Ketujuh

Kembalilah kepada Jihad karena ia adalah perintah Allah yang wajib dilaksanakan, bahkan menurut sebagian ahlul ilmi, setelah sirnanya kedaulatan dan kekhilafahan Islam dari muka bumi dan negara-negara kaum muslimin dikuasai orang-orang kafir, maka jihad menjadi fardhu’ain atas seluruh kaum muslimin, Allamah Abdul Qadir bin Abdul Aziz rahimahumullah, berkata, “…Dari sini jelaslah bahwasanya jihad hampir menjadi fardhu ‘ain atas seluruh kaum muslimin pada masa sekarang ini. Khususnya apabila orang-orang kafir telah turun di suatu negeri. Hari ini kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin diperintah dan dikuasai oleh orang-orang kafir, baik penjajah asing yang kafir maupun pemerintah setempat yang kafir, dan apabila jihad telah menjadi fardhu ain, maka meninggalkannya termasuk dosa-dosa besar karena adanya ancaman siksa dalam masalah ini, bahkan termasuk dari tujuh dosa-dosa besar sebagaimana yang tertera dalam hadits Nabi sholallohu alaihi wa sallam” (lihat Al ‘Umdah fie I’dadil ‘Udah(1).

Sesungguhnya nash-nash atau dalil-dalil yang menerangkan dan memerintahkan berjhad banyak sekali dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, bahkan beratus-ratus, lebih banyak daripada yang menerangkan perihal shalat, zakat, puasa dan haji. Namun masalahnya bukan terletak pada dalil, akan tetapi masalahnya terletak pada iman dan hati. Orang yang iman dan hatinya sehat akan senantiasa siap dan sedia untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, baik perintah itu pada dzahirnya atau menurut fikirannya, menguntungkan dirinya atau merugikannya. Sebab iman dan keyakinannya lebih dominan pada dirinya, daripada perasaan dan fikirannya. Ia yakin dan telah berhusnudzan kepada Allah, bahwa setiap perintah-Nya akan berdampak dan berakibat baik. Jika ia laksanakan, maka ia menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Perhatikan suri tauladan kita Nabiyullah Ibrahim alaihi salam diperintahkan untuk menyembelih putranya yang dicintainya Nabiyullah Ismail alaihi salam. Beliau tanpa berfikir panjang — karena itu adalah perintah dari Allah—, maka terus dikerjakan. Begitu juga dengan Nabi besar junjungan kita Muhammad sholallohu alaihi wa sallam, beliau diperintahkan Allah untuk memerangi pasukan kaum musyrikin Quraisy yang dipimpin Abu Jahal yang jumlahnya berlipat ganda, lengkap dengan peralatan perangnya, sedangkan pihak kaum muslimin yang dipimpin oleh beliau jumlah pasukannya sedikit dengan peralatan perang yang seadanya. Menurut perasaan dan fikiran, pasukan Islam akan kalah dan hancur. Tetapi karena ini adalah perintah Allah, dengan berbekal iman yang teguh dilaksanakan. Demikian pula para Anbiya’ yang lain, para Shiddiqin, para Syuhada’ dan para Shalihin dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Mereka menunaikan perintah-perintah-Nya, atas dasar cinta mereka kepada Allah, takut akan murka dan siksa-Nya dan mengharap ridha dan surga-Nya, bukan karena maslahat duniawi semata.

Adapun orang-orang yang beriman dan hatinya berpenyakit, tidak demikian halnya. Mereka menyembah dan menjalankan perintah Allah tidak sepenuh keyakinannya, dengan berada di tepi-tepi saja, (Q.S. Al-Hajj (22): 11), apalagi jika penyakit “Al-Wahn” (حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ) cinta dunia dan takut mati, atau “(حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْقِتَالِ )” cinta dunia dan benci perang, telah menjadi kronis pada dirinya. Maka orang-orang seperti ini akan menolak “jihad”, sebab jihad tidak dapat memenuhi nafsu syahwatnya, dan lebih buruk lagi jika fitnah syahwatnya dipertahankan dan didukung oleh fitnah syubuhatnya, karena malu mengakui kelemahan diri dan imannya di hadapan para pengikutnya. Padahal kalau dengan ksatria mengakui kelemahannya, akan lebih baik lagi bagi dirinya di hadapan Allah, maupun di hadapan manusia. Namun hal ini tidak ditempuhnya, demi mempertahankan status quonya. Malah dengan beraninya menipu diri sendiri, menipu Allah, menipu orang-orang yang beriman. Katanya; Itu bukan jihad yang sebenarnya, atau jihad bukan perang saja, mencari nafkah untuk keluargapun jihad, berkecimpung dalam arena dakwah dan tarbiyah pun jihad, berdagang dan bertanipun jihad, membuang sampah dan membersihkan saluran pembuangan air pun jihad, menceburkan diri dalam pesta demokrasi ala orang kafir juga bisa disebut jihad dan sebagainya dan sebagainya.

Begitulah kebanyakan kaum muslimin, terutama pimpinan-pimpinannya, dalam menyikapi perintah jihad –kecuali yang dirahmati Allah-. Sungguh Maha Benar Allah Ta’ala dengan segala firman-Nya, Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat: Al-Baqarah (2): 216,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui

Belum sampaikah kepada kalian kecaman, celaan dan ancaman Allah Ta’ala melalui firman-firman-Nya dan sabda-sabda Rasul-Nya terhadap orang-orang yang meninggalkan jihad karena tidak menyukainya dan ancaman itu akan menimpa mereka baik di dunia maupun diakherat?

Silahkan anda baca firman Allah ini (yaitu Al-Qur’an Surat: At-Taubah (9): 24, 38, 39) dan sebagainya, dan beberapa hadits dibawah ini:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُم

Artinya: “Apabila kalian telah berjual beli dengan ‘inah (salah satu dari bentuk riba), dan kalian mengambil ekor-ekor lembu dan suka bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad, Allah akan menguasakan kehinaan keatas kalian dan tidak mencabutnya sehingga kalian kembali kepada dien (agama) kalian” H.S.R. Abu Daud dan Imam Ahmad.(1)

Yang dimaksud dengan hatta tarji’uu ilaadiinikum (khot arabnya),(sehingga kalian kembali kepada dien kalian) ialah : kembali menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan atas kalian yaitu berjihad memerangi orang-orang kafir, menegakkan dien dan menolong Islam dan kaum muslimin. (“Masyaari’ul Asywaaq” Ibnu Nuhhas –Asy-Syahid- tahdzib halaman 41).

عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ؛ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Artinya : “Dari Abu Hurairah rhodiyalloohu anhum dari Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda, “Barangsiapa yang mati dan belum pernah berperang, dan tidak terdetik dalam dirinya dengannya (untuk berperang), ua mati diatas cabang dari kemunafikan.” (H.S.R. Imam Muslim dalam kitab “Imarah (Kepemimpinan)” Bab Celaan Terhadap Orang yang Belum Berperang).

عَنْ أَبِي أُمَامَـةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ قَالَ: “مَنْ لَمْ يَغْـزُ أَوْ يُجَهِّزْ غَازِيًا أَوْ يَخْلـُفْ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ؛ أَصـَابَهُ اللهُ بِقَارِعَةٍ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ”

Artinya : “Dari Abu Umamah Al Bahili rhodiyalloohu anhum dari Nabi sholallohu alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang tidak pernah berperang, atau menyiapkan orang yang berperang, atau mengurus keluarga orang yang berperang dengan baik, Allah akan menimpakan kepadanya suatu bencana sebelum hari kiamat” (H.S.R Abu Daud dan Ibnu Majah, dalam kitab Jihad, masing-masing dengan jalur periwayatan dan sanad Shahih ).

Janganlah kita menyangka bahwa diri-diri kita akan dengan mudah dapat masuk surga tanpa berjihad melawan musuh-musuh Islam, perhatikan firman Allah berikut (Al-Qur’an Surat: Al-Baqarah (2): 214, Al-Qur’an Surat: Ali Imran (3): 142, dsb ).

Dan di dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan sebagai berikut:

عَنْ بَشِيرِ بْنِ الْخَصَاصِيَّةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لِأُبَايِعَهُ عَلَى اْلإِسْلاَمِ, فَاشْتَرَطَ عَلَيَّ : تَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, وَتُصَلِّي الْخَمْسَ وَ تَصُومُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ وَ تَحُجُّ اْلبَيْتَ وَ تُجَاهِدُ فيِ سَبِيلِ اللهِ…قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ, أَمَّا اثْنَانِ فَلاَ أُطِيقُهُمَا : الزَّكَاةُ لِأَنَّهُ لَيْسَ لِي إِلاَّ عَشْرُ ذَوْذٍ هُنَّ رِسْلُ أَهْلِي وَحَمُولَتُهُمْ. وَأَمَّا الْجِهَادُ فَإِنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنَّهُ مَنْ وَلىَّ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللهِ. وَ أَخَافُ إِنْ حَضَرَنِي قِتَالٌ كَرِهْتُ الْمَوْتَ وَ خَشَعَتْ نَفْسِي. فَقَبَضَ رَسُولُ اللهِ يَدَهُ ثُمَّ حَرَّكَهَا, ثُمَّ قَالَ : لاَ صَدَقَةَ وَلاَ جِهَادَ, فَبِمَاذَا تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ, أُبَايِعُكَ. فَبَايَعَنِي عَلَيْهِنَّ كُلِّهِنَّ.

Artinya: “Dari Bisyr bin Khashashiyah rhodiyalloohu anhum, berkata: “Aku mendatangi Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, untuk berbai’at kepadanya atas Islam, maka beliau menetapkan kepadaku, “Kamu bersaksi bahwasanya tiada Ilah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, membayar zakat, dan menunaikan haji ke Baitullah dan berJihad Fie Sabilillah”. Aku katakan, “Wahai Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, adapun yang dua perkara aku tidak sanggup, yaitu zakat, sebab aku hanya mempunyai sepuluh ekor unta, susunya untuk keluargaku, dan untuk keperluan transportasi mereka, adapun Jihad mereka menyatakan bahwasanya barangsiapa yang lari mundur kebelakang maka ia kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan aku khawatir jika aku ikut berperang aku takut mati, dan mentalku jatuh.” Lalu Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, memegang tangannya, kemudian menggerak-gerakkanya, lalu berkata, “Tidak (mau) bershadaqah dan tidak (mau) berjihad terus dengan apa kamu masuk surga? Aku katakan, “Wahai Rasulullah, Aku membai’atmu, lalu Rasulullah membai’atku atas semuanya” (H.S.R Al-Baihaqy dan Al-Hakim, menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Ataukah kalian termasuk orang-orang yang mengatakan bahwa jihad sudah berhenti, tiada lagi dan tidak sesuai dengan masa kini? Jika demikian persepsi kalian, maka ketahuilah bahwa pada zaman Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam masih hidup pun sudah muncul kaum yang berpemahaman seperti itu. Silahkan ikuti hadits dibawah ini;

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ نُفَيْلٍ الْكِنْدِيِّ قَالَ بَيْنَمَا أَنََا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ, إِنَّ الْخَيْلَ قَدْ سُيِّبَتْ وَوُضِعَ السِّلَاحُ وَقَدْ زَعَمَ أَقْوَامٌ أَنَّهُ لاَ قِتَالَ قَدْ وَضَعَتِ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَذَبُوا. الْآنَ ! الْآنَ! جَاءَ الْقِتَالُ. وَ إِنَّهُ لاَ تَزَالُ أُمَّةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ, َيُزِيغُ اللَّهُ لَهُمْ قُلُوبَ أَقْوَامٍ وَيَرْزُقُهُمْ مِنْهُمْ, يُقَاتِلُونَ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ وَ لاَ يَزَالُ الْخَيْرُ مَعْقُودًا فِي نَوَاصِي الْخَيْلِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ, تَضَعُ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا حِيْنَ يَخْرُجُ يَأْجُوجُ وَ مَأْجُوجُ.

Artinya : “Dari Salamah bin Nufail rhodiyalloohu anhum berkata, “Ketika aku sedang duduk-duduk bersama Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, tiba-tiba masuk seorang laki-laki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kuda telah dibiarkan (tidak diperdulikan), dan senjata telah diletakkan, dan beberapa kaum telah mengatakan bahwasanya perang tidak ada lagi, dan sesungguhnya peperangan sudah usai”, maka Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, berkata, “Mereka berdusta, sekarang perang telah tiba, dan sesungguhnya akan senantiasa ada sekelompok umat dari umatku yang berperang dijalan Allah, tidak memberi mudhorot terhadap mereka orang yang tidak menyetujui mereka, Allah menyimpangkan (menyesatkan) untuk mereka (para mujahidin), hati-hati beberapa kaum, untuk memberikan rizki kepada mereka (para mujahidin), dari mereka (orang-orang kafir-maksudnya ghonimah-), mereka berperang hingga hari kiamat, dan kebaikan akan senantiasa diikatkan pada ubun-ubun kuda sampai hari kiamat, peperangan akan berhenti ketika keluarnya Ya’juj dan Ma’juj” (H.R An-Nasa’i dan Imam Ahmad, sanadnya Shahih)(1).

Sesungguhnya penyebab orang-orang tidak mau berperang, enggan mengarungi pertempuran dan kikir untuk menggadaikan nyawa dan hartanya di jalan Allah, tidak lain dan tidak bukan hanyalah karena hal-hal berikut, yaitu : panjang angan-angan, atau takut cepat mati, atau takut berpisah dengan sesuatu yang dicintai, takut terpisah dengan keluarganya dan hartanya, atau anak-anaknya, atau pembantunya dan sanak familinya, atau saudara kandungnya, atau orang dekatnya yang dikasihinya, atau orang tua yang dimuliakannya, atau shahabat karibnya, atau konon katanya ingi menambah amal-amal shalih terlebih dahulu, atau karena cintanya kepada istri yang cantik, lawa dan molek, atau karena pangkat yang disandangnya, atau karena makanan yang lezat dan nyaman dan nikmat-nikmat duniawi lainnya.

Tidak ada penyebab lainnya yang menjadikan kalian enggan berjihad dan menjauhkan diri kalian dari Allah Ta’ala selain hal-hal tersebut diatas. Demi Allah, sungguh tidak baik kedudukan kalian, jika kalian seperti itu, belum dengarkah kalian firman Allah Ta’ala yang tersebut dibawah ini?

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلأَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepadamu kamu , “Berangkatlah (untuk berperang), di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akherat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akherat hanyalah sedikit” Q.S. At-Taubah (5): 38.

Sekarang ikutilah hujjah-hujjah yang bernash yang melemahkan dan membatilkan alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan syahwat dan syubuhat kalian –Insya Allah-, dengan hujjah-hujjah ini kalian akan menyadari bahwasanya sikap kalian enggan untuk berjihad itu, apalagi membencinya dan membenci orang-orang yang menunaikannya, tidak lain hanyalah merugikan diri kalian sendiri di dunia dan di akherat.

Katakanlah misalnya kalian tidak mau berjihad itu karena angan-angan kalian terlalu panjang, ingin hidup di dunia seribu tahun lagi demi meraih harapan, cita-cita, lamunan dan khayalan yang terdetik dalam benak kalian, yang jauh lebih panjang dari jatah umur yang diberikan dan ditaqdirkan bagi kalian. Sehingga kalian khawatir dan takut jika kalian berjihad akan cepat mati dan tidak dapat meraih idaman dan cita-cita kalian.

Ketahuilah! Bahwa kalian berjihad di medan perang atau kalian tidak berjihad berdiam diri di rumah dengan anak-anak kalian tidak mempengaruhi sama sekali pendek dan panjangnya umur, karena umur seseorang itu sudah ditetapkan dalam kitab Lauhul Mahfudz

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَايُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٍ وَلاَيُنقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلاَّ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ

Artinya : “Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjagn dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan sudah ditetapkan dalam kitab (lauh mahfudz), sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah” (Q.S. Al-Fathir (35) : 11).

Silahkan buka ayat-ayat yang hampir semakna dengannya seperti dalam Q.S Ali Imran (3) : 145-185, An-Nisa (4): 78, Al-A’raf (7): 34, Al-Ankabut (29) : 57 dan Al-Munafiqun (63) :11.

Maka kalian tidak bisa lari dari jatah umur kalian, dan saat kematian yang telah Allah tentukan. Dan apabila kalian mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah termasuk meninggalkan jihad apalagi membenci orang-orang yang berjihad, maka kalian akan mati dalam keadaan tersiksa dan kesakitan yang luar biasa di masa-masa sekarat, dan dikuburpun ada siksa yang sangat mengerikan tidak selamat darinya, melainkan orang-orang yang shalih, Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim (14) : 27 yang dijelaskan dalam buku tafsir Ibnu Katsir II/550-557, kalian akan mengetahui gambaran dahsyatnya, siksa sewaktu sakaratul maut dalam kubur, dan seterusnya akan tersiksa lagi yang lebih mengerikan sewaktu di Mahsyar, kemudian di dalam neraka akan diadzab dengan berbagai adzab yang tidak dapat kita bayangkan –Al-‘Iyadzubillah-.

Tetapi sebaliknya, jika ajal kalian datang sedang kalian dalam keadaan berjihad fie sabilillah, maka kalian akan aman dari segala siksa dan hal-hal yang menakutkan tersebut, bahkan merasakan dan menikmati berbagai macam nikmat, meskipun nampak pada lahirnya badan terobek oleh peluru, bercerai berai karena bom dan roket, dicincang-cincang oleh orang-orang kafir dan munafiq, tetapi pada hakekatnya tidak merasakan sakit melainkan dicubit saja –Subhanallah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَسِّ الْقَرْصَةِ

Artinya: “Orang yang mati syahid tidak merasakan sakit sewaktu dibunuh melainkan sebagaiman salah seorang dari kamu meerasa sakit sewaktu dicubit” (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah dari Abi Hurairah rhodiyalloohu anhum).

Dan jka kalian mati syahid berbagai-bagai fadhilah dan keutamaan, kemuliaan, kehormatan, pahala, ganjaran kenikmatan-kenikmatan yang kalian raih di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, hal ini diterangkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti surat Al-Baqoroh (2): 154, Ali Imran (3): 169-171, Muhammad (47): 4-6 dan sebagainya serta berpuluh-puluh hadits, antara lain;

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِّهِ, وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ, وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ, وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ, وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا, وَيُزَوَّجُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ, وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَقَارِبِهِ.

Artinya : Imam Ahmad dan At-Thabrani meriwayatkan dari Ubadah bin Shamit rhodiyalloohu anhum dari Nabi sholallohu alaihi wa sallam,” Sesungguhnya bagi orang yang mati syahid di sisi Allah memiliki enam perkara, “Diampunkan dosanya pada awal terkucurnya darahnya. Ia melihat tempat duduknya di surga, (dalam sebagian riwayat ada tambahan: Ia dihiasi dengan hiasan iman). Ia dihindarkan dari siksa kubur, Ia aman dari ketakutan yang maha dahsyat pada hari kiamat. Diletakkan diatas kepalanya mahkota kebesaran, satu butir yakut darinya lebih baik daripada dunia dan apa yang ada didalamnya. Ia dijodohkan dengan tujuh puluh bidadari surga dan diberi hak memberi syafaat pada tujuh puluh orang kerabatnya.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dari Miqdam bin Ma’di Yakrib. Juga oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dari Ubadah bin Shamit, sanadnya shahih).


Jika yang menjadikan kalian enggan dan tidak mau berjihad itu, karena kecintaan kalian terhadap bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagakan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai (lihat At-Taubah (9) : 41), serta kenikmatan-kenikmatan duniawi yang lain seperti emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sholallohu alaihi wa sallamah ladang (Lihat surat Ali Imran (3) : 14), dan lain sebagainya, misalnya tahta, pangkat gelaran-gelaran, dan seterusnya dan seterusnya, maka ketahuilah bahwa segala jenis kenikmatan duniawi itu adalah kenikmatan yang menipu (Q.S 57: 20, 31:33), dan kenikmatan yang sangat sedikit, Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda :

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Artinya : “Dari Sahal bin Sa’ad rhodiyalloohu anhum dari Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda, “Seandainya dunia ini di sisi Allah seharga satu sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (H.S.R At-Tirmidzi).

Memang, nikmat duniawi benar-benar sedikit dibandingkan dengan kenikmatan di akherat. Sedikit ditinjau dari segala seginya baik dari segi jumlahnya, banyak hal yang pada lahirnya sepertinya nikmat, tetapi dalam jiwa ternyata sebagai azab. Taruhlah misalnya kalian orang yang terkaya di negeri kalian, berapa banyak harta kalian? Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, sebagai manusia yang paling pakar mendidik dan mengajar pada suatu saat beliau mengatakan dihadapan pada shahabat rhodiyalloohu anhum yang maksudnya : “Tiadalah dunia ini dibandingkan dengan akhirat melainkan sebagaimana kamu memasukkan jari tangannya ini ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat air yang menempel di jarinya sewaktu diangkatnya, waktu itu beliau berisyarat dengan jari telunjuk beliau(1)”


Atau sebagaimana sabda Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam. Itulah jumlah nikmat dunia keseluruhannya, apalagi dunia yang berada di tangan kalian. Kemudian berapa lama kalian hendak menikmati kenikmatan-kenikmatan duniawi kalian? Ingatlah bahwasanya satu hari di sisi Allah adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan kita (Al-Hajj (22): 47). Kalaulah misal umur kalian 100 tahun, itupun sudah keriput, berarti kalian hanya hidup selama satu jam dua belas menit saja, dihitung dengan waktu akherat. Kalau kalian dijatah umur 50 tahun berarti hanya 36 menit saja. Kalau masa pensiun kalian hanya 20 tahun, berarti kalian hanya menikmati gaji pensiun kurang lebih 15 menit, dan seterusnya. Hitung-hitunglah sendiri, umur yang begitu singkat itupun tidak sepenuhnya bisa merasakan nikmat meskipun segala nikmat duniawi ada di tangan kalian, bahkan nikmat-nikmat itu kebanyakan membawa kesengsaraan baik di dunia maupun di akherat, karena tidak dipandu oleh iman dan syareat. Kata orang Jawa “Enake sak klentheng rekasane sak rendheng”, nikmatnya hanya sebesar biji kapuk randu, sengsaranya sepanjang musim hujan.


Demikianlah sifat nikmat dunia, karena Allah Ta’ala menjadikan kehidupan dunia bukan utnuk tempat bernikmat-nikmat, tetapi sebagai kampung untuk beramal dan ujian. Adapun tempat bernikmat-nikmat adalah di surga nanti

Oleh karena itu jangan sampai kenikmatan-kenikmatan dunia yang palsu dan menipu itu memperdayakan diri kalian dari melaksanakan perintah Allah, termasuk perintah jihad yang mengakibatkan kalian tidak dapat memperoleh nikmat yang sebenarnya di akherat kelak, yaitu surga yang kerudung bidadarinya saja lebih baik daripada dunia dan segala yang ada di dalamanya, dan jelas kenikmatan surga jauh lebih baik bagi kalian, jika kalian benar-benar orang yang bertaqwa (bisa anda lihat pada surat Ali Imran (3): 15 dan lainnya).


Dan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori dari Sahal bin Sa’ad As-Sa’idi rhodiyalloohu anhum, Rasulullah bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِي اللَّهُ عَنْهم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا وَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا وَالرَّوْحَةُ يَرُوحُهَا الْعَبْدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ الْغَدْوَةُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا وَحِمَارُ جَارِيَةٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا.

Artinya: “Tempat letak cambuk salah seorang dari kamu dalam surga itu lebih baik daripada dunia dan isinya, dan pergi perang di jalan Allah pada pagi hari atau sore hari itu lebih baik daripada dunia dan isinya. Dan kain kerudung seorang wanita dari penduduk surga itu lebih baik dari dunia dan seisinya.” (H.R Imam Bukhori no 2892).


Jika yang menghalangi kalian untuk berjihad itu karena kalian mampu tidak meninggalkan dan berpisah dengan keluarga kalian terutama istri yag kalian cintai, cantiknya, lawanya dan moleknya, lembutnya, kasihnya, sayangnya, penampilannya, adabnya dan sebagainya, maka ketahuilah bahwa alasan kalian itu salah dan batil.


Anggaplah istri kalian sebagai wanita yang terbaik dan paling cantik di zaman kini, bukankah awalnya adalah setetes air mani yang busuk dan pada akhirnya akan menjadi bangkai yang kotor, dan pada masa hidupnya body yang kalian lihat mempesona, cantik lagi menawan kalian itu adalah sebuah tong yang memuat segala kotoran, haidhnya menghalangi kalian darinya separoh umurnya, durhakanya terhadap kalian lebih banyak dari baiknya, bila tidak bercelak matanya jadi kabur tidak bercahaya, bila tidak berhias nampak jeleknya, bila tidak bersisir kusut rambutnya, jika tidak bermake-up pudar sinar raut mukanya, jika tidak berminyak wangi berbau bacin, jika tidak mandi berbau busuk, banyak penyakitnya, cepat membosankan kalau sudah tua, putus asa, kalau sudah sangat tua lemah lagi cacat, kalian telah berbuat baik kepadanya dengan sungguh-sungguh, namun begitu kalian berbuat kurang baik sedikit saja, semua kebaikan kalian diingkarinya.


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dari shahabat Ibnu Abbas rhodiyalloohu anhum bahwasanya Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam bersabda, berkenaan dengan pengingkaran istri terhadap kelebihan suaminya,

لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Artinya: “Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka dalam masa panjang lalu dia melihat darimu (sesuatu yang tidak berkenan), ia akan berkata aku tidak melihat sama sekali kebaikan dalam diri kamu.”

‘Ala kulli hall kalian tidak akan mungkin bersenang-senang dengannya, tanpa menemui kebengkokannya, dan tidak akan berlangsung panjang pergaulan kalian dengannya tanpa disertai kesempitan dan kesempitan.



Aduhai, sungguh mengherangkan, bagaimana cinta kalian kepada istri yang kayak gitu itu, menghalangi kalian untuk dapat menyunting pasangan yang dicipta dari cahaya, yang dipingit di bawah naungan istana bersama anak-anak dan bidadari-bidadari, di tempat tinggal yang penuh dengan kenikmatan dan sukaria.


Demi Allah tidak kering darah orang yang mati syahid, sehingga bidadari menemuinya dan kedua matanya bernikmat-nikmat menyaksikan cahaya kecantikan dan kemolekannya.


Sesungguhnya dia adalah bidadari surga, luas matanya, cantik jelita, selamanya dalam keadaan gadis, bagaikan permata yakut, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, suaranya halus lagi merdu, badannya tegap, rambutnya hitam sekali, nilai dan standartnya sangat tinggi dan besar, cantiknya luar biasa, moleknya tiada taranya, genitnya mempesona, matanya bercelak, kuku-kukunya amat indah, bicaranya sedap dan enak di dengar, penciptaanya sangat menakjubkan, akhlaknya sungguh baik, perhiasan beraneka ragam, banyak kecintaannya dan kasih sayangnya, tak mengenal bosan, cintanya semata-mata hanya untuk kalian saja tidak mengenal pria lain, selalu bermain cinta dengan kalian sesuai dengan segala kebutuhan selera birahi kalian.


Seandainya dia menampakkan kukunya, cahaya bulan purnama akan menjadi pudar dan padam. Seandainya dia memperlihatkan gelangnya pada malam hari niscaya alam persada menjadi terang benderang. Seandainya ia menampakkan pergelangan tangannya, niscaya akan terpikat seluruh manusia. Andaikan dia muncul diantara langit dan bumi niscaya keduanya akan dipenuhi dengan bau harumnya. Andaikan dia meludah di lautan, air laut akan menjadi tawar, dan andaikan telapak kakinya menginjak tanah pasir, serta merta akan tumbuh rumput diatasnya. Setiap kali kalian melihatnya, akan bertambah-tambah kecantikannya. Setiap kalian bercinta dengannya yang sudah lawa itu akan bertambah lagi lawanya.


Apakah bagus bagi orang yang berakal, mendengar bidadari yang begitu cantiknya, lawanya, moleknya, jelitanya, baiknya, agungnya, menawannya, mempesonanya, kasihnya, sayangnya, cintanya dan segala-galanya, lalu ia duduk-duduk dan nongkrong-nongkrong begitu saja tanpa ada hasrat untuk menggapainya dan menyuntingnya???

Kalau kalian benar-benar orang yang berakal dan iman kalian normal, kalian pasti gandrung, untuk meminangnya. Adapun jalan meminangnya silakan memperhatikan bait syair yang sering dilantunkan oleh Asy-Syaikh Asy-Syahid, Abdullah Azzam, orang yang sudah pengalaman meminang dara cantik molek itu, dan Insya Allah kalian telah menggapainya, katanya:

يَا خَاطِبَ الْحَوْرَاءِ إِنْ كُنْتَ رَاغِبًا ِبهَا # فَهَذَا أَوَّلً الْمَهْـِر وَهُوَ الْمُقَـدَّمُ

Wahai Pelamar Bidadari, jika kamu hendak menyuntingnya, maka inilah awal maskawinnya (perang) dan ia mesti di dahulukan.


Kembali pada masalah keluarga, terutama istri. Ketahuilah bahwasanya kalian pasti akan berpisah dengan istri kalian, dan seakan-akan telah terjadi perpisahan itu, dan di surga –Insya Allah- akan mengumpulkan kalian dengan istri kalian, itulah sebaik-baik perkumpulan, pertemuan kalian dengannya. Jika ia sholihah dan kalian sholeh dengan izin Allah, mesti terjadi, namun tidak boleh tidak mesti berpisah terlebih dahulu, yaitu dengan kematian. Kemudian kalian akan menjumpainya di akherat, lebih cantik daripada bidadari-bidadari surga, tidak ada yang mengetahui kemolekannya selain Rabb Semesta Alam. Dan dia akan menjadi sayyidah (puan, ratu-ed) bidadari-bidadari surga.


Sedangkan sesuatu yang tidak kalian sukai semasa di dunia baik dari segi fisiknya, wataknya, sifatnya, akhlaknya; seluruhnya hilang dan sirna. Segala-galanya berubah, akhlaknya menjadi baik sekali, ciptaannya menjadi serba sempurna, cantik, molek, lawa, perawan terus menerus, bersih dari haidh dan nifas, hilang segala kebengkokannya, bertambah keayuannya, menjadi agung lagi tinggi nilai dan kedudukannya, lebih afdhal dari bidadari-bidadari yang diciptakan di surga, dalam segala-galanya sebagaimana afdhalnya, karena ia pernah hidup di dunia dan menjadi wanita yang sholihah.


Maka jika hari ini kalian meninggalkan istri kalian karena , kalian keluar untuk berjihad di jalan Allah, maka Allah akan mengkaruniakan ganti untuk kalian, dan apabila di akherat istri kalian termasuk ahli surga, maka pasti menjadi milik kalian.


Oleh karena itu janganlah kehidupan dunia yang sedikit kenikmatannya ini, melalaikan kalian. Jangan sampai terperdaya dengan pesona-pesonanya. Ingat dunia bukan kampung yang sebenarnya, hidup di dunia hanya sebentar saja. Kalaupun harus berpisah dengan semua keluarga, termasuk istri, anak-anak, orang tua, saudara, dan sebagainya, tidak mengapa, demi meraih pertemuan yang sebenarnya. Mana ada kebahagiaan hidup sukses dibandingkan dengan kehidupan sukses dan kebahagiaan orang yang seluruh keluarganya, bisa masuk surga, bertemu lagi dan bersenang-senang di sana?.

Resapilah dan hayatilah firman Allah Ta’ala di bawah ini,

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ {} جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ {} سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Artinya: Dan orang-orang yang sabar, karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan (yang baik). Yaitu surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, bersama-sama dengan orang-orang Yang sholeh dan bapa-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucu dan cicitnya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari segala pintu. Sambil mengucapkan salamun ‘alaikum bima sabartum, keselamatan atas kamu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (Ar-Ra’du (13): 22-24).

Selanjutnya, jika kalian enggan dan tidak mau berjihad itu karena disamping terkena fitnah (bencana) syahawat duniawi, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, terkena juga fitnah (bencana) syubuhat (kebodohan), tidak dapat memahami sunnah yang sebenarnya, sebagaimana yang dikehendaki syariat, misalnya dengan alasan-alasan antara lain sebagai berikut:

1. Kalian enggan berjihad, dengan alasan hendak menempuh cara ibadah dan jalan hidup sufi, karena mereka lebih afdhal amalnya, jihadnya jihad akbar (melawan hawa nafsu), prinsipnya hendak memasukkan setiap manusia ke dalam surga. Jika orang kafir dibunuh berarti menyengajakan memasukkan orang ke dalam neraka, mereka orang yang cinta damai dan tidak suka dengan kekerasan, tidak minat pedang dan senjata, mereka hendak merubah dunia dengan tasbih saja.


Ada juga bentuk sufi dengan gaya lain, katanya hendak merubah dunia, dengan cara merubah diri sendiri, tidak perlu dengan kekerasan, tak perlu memerangi para thaghut, tak perlu membunuh tentara-tentara Iblis musuh-musuh Islam, yang penting beraqidah salaf, (dengan pemahaman yang picik), dan beribadah, (dengan pemahaman yang picik juga), mengikuti sunnah Nabi sholallohu alaihi wa sallam. Jika seluruh kaum musimin beraqidah salaf dan beribadah mengikuti sunnah Nabi sholallohu alaihi wa sallam, maka tanpa jihadpun dengan sendirinya, daulah dan khilafah dengan sendirinya akan tegak di muka bumi. Demikianlah hujjah-hujjah orang-orang sufi yang beragama mengikuti perasaan sesat kesufiannya,

Ingat kata-kata Imam Ahlus-Sunnah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahumullah,

مَا تَصَوَّفَ رَجُلٌ عَاقِلٌ أَوَّلَ النَّهَارِ وَأَتَتْ عَلَيهِ صَلاَةُ الْعَصْرِ إِلاَّ وَهُوَ مَجْنُونٌ

Artinya: “Tidak ada seseorang yang berakal menjadi orang sufi pada awal siang hari, dan shalat ashara datang kepadanya melainkan dia sudah dalam keadaan gila” (Ibnul Jauzi dalam Shifatu ash Shohwah dan Talbis al Iblis).


Benar sekali apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i rha, orang-orang sufi memang majnun (gila-ed). Tentunya gilanya tidak dimaksudkan seperti orang gila yang tidak normal syarafnya, akan tetapi gilanya –wallahu a’lam- tidak normal fikirannya dalam memahami kebenaran sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, sehingga pendapat-pendapatnya dan amal-amalannya nyleneh-nyeleneh, ora ngalor, ora ngidul, pembicaraannya mengambang tidak pernah menukik kepada persoalan ushul, esok tempe sore dele, dan seterusnya.


Amal yang paling mereka sukai dan menurutnya paling afdhal adalah menghitung tasbih dan ijtima’-ijtima’ ala mereka. Ada juga yang lebih suka terjun dalam bidang tarbiyah dan dakwah, koleksi buku-buku, menulis dan sebagainya dan menganggap hal itu lebih afdhal daripada jihad, sehingga tidak tertarik bahkan tidak terdetik sama sekali untuk berjihad. Demikianlah sufi. Adapun sunnah tidak begitu adanya, Al-Qur’an dan As-Sunnah menyatakan bahwa amalan yang paling afdhal setelah Iman adalah Jihad, dalilnya sampai beratus-ratus.


Oleh karena itu Jihad merupakan amal yang paling disukai Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, para shahabatnya, para Tabi’in dan orang-orang yang mengikutinya radhiyalloohu anhum wa rahimakumullahu ajma’iin. Keterangan dalam masalah ini memenuhi kitab-kitab hadits dan kitab-kitab tulian ulama’ Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, silakan merujuk kepadanya(1). Al Imam Al Faqih Asy-Syahid Abdullah bin Mubarak rahimahumullah, adalah seorang tokoh besar Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, beliau sangat tamak untuk berjihad, berperang dan ribath. Beliau menggalakkan dan menghasung manusia agar berjihad, dan mengecam atas orang-orang yang ber i’tikaf untuk beribadah, yang duduk-duduk enggan berjihad.


Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Muhammad bin Ibrahim bin Abu Sakinah sedang menunaikan ribath bersama Abdullah bin Mubarak di Thursus. Ketika ia hendak menunaikan haji, beliau menitip surat kepadanya agar disampaikan, kepada shahabatnya seorang ulama’ besar juga yaitu Al-Fudhail bin Iyadh, yang pada waktu itu ia sedang bertempat tinggal di dekat ka’bah, dan beri’tikaf di masjidil Haram. Isi surat beliau sebagai berikut:

يَا عَابِدَ الْحَرَمَينِ لَوْ أَبْصَرْتَنَا


لَعَلِمْتَ أَنَّكَ فِي الْعِبَادَةِ تَلْعَبُ



مَنْ كَانَ يُخْضِبُ خَدَّهُ بِدُمُوعِهِ


فَنُحُورُنَا بِدِمَائِنَا تَتَخَضَّبُ


أَوْ كَانَ يُتْعِبُ خَيْلَهُ فِي بَاطِلٍ


فَخُيُولُنَا يَوْمَ الصَّبِيحَةِ تَتْعَبُ


رِيحُ الْعَبِيرِ لَكُمْ، وَنَحْنُ عَبِيرُنَا


رَهْجُ السَّنَابِكِ وَالْغُبَارُ اْلأَطْيَبُ


وَلَقَدْ أَتَانَا مِنْ مَقَالِ نَبِيِّنَا


قَوْلٌ صَحِيحٌ صَادِقٌ… لاَ يَكْذِبُ


لاَ يَسْتَوِي وَغُبَارُ أَهْلِ اللهِ فِي


أَنْفِ امْرِىءٍ وَدُخَانِ نَارٍ تُلْهِبُ


هَذَا كِتَابُ اللهِ يَنْطِقُ بَيْنَنَا


لَيْسَ الشَّهِيدُ بِمَيِّتٍ لاَ يَكْذِبُ








Wahai abid yang beribadah di masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Andaikan kamu menengok kami, niscaya kamu akan tahu bawasanya kamu dalam beribadah sekedar main-main saja.

Kalau kamu membasahi pipimu dengan air mata-air mata kamu, maka ketahuilah bahwa kami membasahi tenggorokab-tenggorokan kami dengan darah-darah kami.

Kalau kamu melelahkan kudamu dalam kebatilan (urusan duniawi), maka ketahuilah bahwasanya kuda-kuda kami berlelah-lelah pada hari pertempuran.

Bau semerbak harum bagimu, dan kami mempunyai keharuman tersendiri, hentakan kaki kuda dan debu lebih harum bagi kami.

Sungguh telah datang kepada kita sabda nabi kita, sabda yang betul lagi benar yang tidak dusta.

Tidaklah sama debu kuda Allah pada diri seseorang dan asap api neraka yang menjilat-jilat.

Ini Kitabullah (Al-Qur’an) berbicara dihadapan kita.

Orang yang syahid bukanlah mati, ia (Al-Qur’an) tidak berdusta.


Dan ketika Muhammad bin Ibrahim (pembawa surat) bertemu dengan Al-Fudhail bin Iyadh, di dekat Ka’bah, diserahkanlah surat Ibnul Mubarak kepadanya. Maka tatkala ia membaca surat itu berlinanglah air matanya dan berkata, “Benar Abu Abdurrahman (kunyah Abdullah bin Mubarok) dia telah menasehatiku.” (Siyar ‘A’lamin Nubala’ –Adz-Dzhahabi 8/412).

Al Imam Al Faqih Asy-Syahid Ahmad bin Hambal rahimahumullah, salah seorang tokoh agung Ahlus-Sunah yang namanya tidak asing lagi bagi orang awam, beliau syahid sebab cambukan penguasa dzalim (1), demi mempertahankan Iman, Tauhid dan Kebenaran.

Pada suatu hari diceritakan tentang perang dihadapan beliau, maka beliau menangis dan berkata, “Tidak ada amalan yang baik yang lebih utama, dan tidak ada sesuatu yang dapat menandingi bertemu dengan musuh lalu menceburkan diri dalam peperangan secara langsung merupakan hal yang paling utama. Orang-orang yang memerangi musuh adalah orang-orang yang mempertahankan Islam, kaum muslimin dan kehormatan mereka, maka amalan apa yang lebih utama daripada itu….? Manusia dalam keadaan aman, sedangkan mereka dalam keadaan takut. Mereka telah mengorbankan darah dan jiwa mereka, di jalan Allah” Tarikh Al Baghdadi oleh Al Khatib Al Baghdadi I/168.

Begitulah persepsi, tanggapan, interest (ketertarikan) dan semangat tokoh-tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah kepada Jihad. Perbedaannya dengan Ahlul Bid’ah dan Ahludh-Dholal antara langit dan bumi, maka ambilah pelajaran wahai orang-orang yang punya sisa hati.

2. Kalian tak mau berjihad dengan alasan hendak mengishlah dan memperbaiki amalan-amalan kalian, hendak mentarbiyah diri terlebih dahulu, hendak mengumpulkan pahala dan ganjaran dulu, hendak memperbaiki aqidah dan ibadah agar sesuai dengan sunnah dan sebagainya.


Ketahuilah bahwa alasan-alasan kalian itu batil dan bid’ah! Ingatlah justru Jihad adalah sarana yang paling efektif untuk mengishlah amalan kalian, mentarbiyah diri kalian dalam segala aspek baik Imaniyah ruhiyah, tashawwuriyah, fikriyah, khuluqiyah, amaliyah dan jismiyah, dan sebagainya. Di medan perang kalian akan memahami dengan cepat dan tepat makna tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat. Disanalah kalian akan terdidik dan terbekali secara langsung dengan bekalan ilmu dan taqwa, yakin dan tawakkal, syukur dan sabar, zuhud terhadap kehidupan dunia dan Itsar lebih mementingkan kehidupan akhirat. Disana kalian akan memperoleh bekal yang sangat mahal lagi berharga dengan mudah, yang amat sulit di dapatkan di tempat-tempat lain, termasuk pesantren bahkan Al-Haramain, yaitu cinta jihad dan cinta mati syahid. Berapa banyak orang yang baru masuk Islam baik pada masa Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, hinga masa kini, karena langsung menceburkan diri dalam kancah jihad, maka Allah Ta’ala mengkaruniakan kepadanya rasa cinta kepada jihad dan mati syahid, dan akhirnya memperoleh syahadah, mengakhiri hidup yang paling afdhal. Tapi sebaliknya tidak sedikit orang-orang yang menggondol gelaran S1, S1,S3, dalam bidang ushuluddin, syariah dan lain sebagainya, namun tidak pernah mampir dalam hatinya rasa cinta terhadap jihad dan mati syahid bahkan bersikap acuh tak acuh. Dan yang lebih parah lagi merasa sinis mendengar berita medan laga, bunyi peluru dan suara bom, sambil nyeletuk dan mengatakan; “Jihad kan bukan dengan kekerasan saja, membahagiakan istri kan juga jihad” –Wallaahul musta’an-

Kalau kalian beralasan mau mengumpulkan pahala, coba perhatikan dengan seksama satu hadits saja dibawah ini, yang lainnya masih berpuluh-puluh lagi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَرَّ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِعْبٍ فِيهِ عُيَيْنَةٌ مِنْ مَاءٍ عَذْبَةٌ فَأَعْجَبَتْهُ لِطِيبِهَا فَقَالَ لَوِ اعْتَزَلْتُ النَّاسَ فَأَقَمْتُ فِي هَذَا الشِّعْبِ وَلَنْ أَفْعَلَ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَا تَفْعَلْ فَإِنَّ مُقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَتِهِ فِي بَيْتِهِ سَبْعِينَ عَامًا

Artinya: “Dari Abu Hurairah rhodiyalloohu anhum dari Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda: Sesungguhnya berdirinya seseorang dalam barisan di jalan Allah lebih utama dari ibadahnya dalam keluarganya selama tujuh puluh tahun.” (Hadits Hasan Riwayat At-Tirmidzi, Al-Baihaqi dan Al Hakim).


Kalau kalian mau mengishlah amal kalian dan mentarbiyah diri kalian dengan berdakwah, ketahuilah bahwasanya dakwah yang paling efektif juga dengan jihad. Rujuklah dan bacalah siroh, Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, para shahabatnya dan Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari ini.


Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, selama 13 tahun berdakwah di Mekah, hanya mendapatkan pengikut sebanyak ratusan orang saja, tidak sampai seribut orang. Tetapi dengan Jihad yang hanya 10 tahun saja di Madinah, berpuluh-pluh ribu (seratus ribu lebih) orang berduyun-duyun masuk Islam dengan sukarela tanpa dipaksa –Subhanallah-.

3. Jika kalian enggan memperjuangkan Islam dengan menempuh jalan jihad sebab dengan jihad akan banyak memakan korban baik harta maupun jiwa, banyak harta benda yang hilang dan hangus, banyak putra-putra Islam yang baik-baik yang akan ditawan dan dipenjara, dan tentu akan banyak yang mati, sedangkan target yang dicanangkan yaitu tegaknya daulah dan khilafah belum tentu dapat diraih maka kami tidak mau mengorbankan mereka dengan sia-sia.


Oleh karena itu kami lebih memilih memperjuangkan Islam dengan jalan damai, yaitu dengan pesta demokrasi dan parlementer, sebab dengannya banyak maslahat yang bisa dicapai dengan tidak mengorbankan harta benda maupun jiwa dan raga. Dan tambahnya dengan cara inipun kita bisa menang, kenapa kita mesti memilih dengan cara kekerasan, cara yang berat, cara yang tidak manusiawi, cara yang brutal dan sebagainya dan sebagainya.


Ketahuilah dan sadarilah! Jika kalian mengaku sebagai orang beriman, bahwasanya hujjah dan alasan-alasan kalian tersebut adalah batil, dhalal, sesat dan bid’ah, tidak sesuai dengan dien dan akal sehat.

Jika harta benda dan jiwa raga yang terkorbankan dalam perjuangan fie sabilillah itu kalian anggap sia-sia, yang perlu kalian tanyakan kepada diri-diri kalian, sebenarnya tujuan hidup kalian itu untuk mencari apa? Dan perjuangan kalian dalam rangka apa? Bukankah semata-mata untuk mencari ridha Allah Ta’ala? Jika benar demikian dan kalian betul-betul tulus dan ikhlas, justru apabila kalian berhasil mengorbankan harta benda, darah, raga, jiwa dan nyawa kalian dan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan kalian berarti telah mencapai tujuan akhir kalian yaitu ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Bapak Dr. Muhammad Natsir, salah seorang tokoh Islam bertaraf internasional dan sangat terkenal namanya khususnya di kalangan dunia Islam. Pada saat-saat jihad Afghanistan melawan Uni Sovyet sedang semarak-semaraknya, beliau pernah diajak Asy-Syaikh Al Ustadz Abdullah Sungkar, lebih dari sekali, untuk memperjuangkan Islam dengan jalan Jihad, namun beliau selalu menolak untuk memperjuangkan Islam dengan pertimbangan antara lain, “Tidak mau mengorbankan darah-darah kaum muslimin dengan sia-sia”. Pertimbangan seperti ini adalah semata-mata didasarkan pada akal dan rasio yang bertentangan dengan sunnah, memang kebanyakan orang-orang yang telah terkena virus dan kuman demokrasi ala barat, yang sesat, kufur dan syirik itu, selalunya dalam memahami masalah perjuangan menegakkan Islam, mereka mendahulukan pendapat dan ra’yunya diatas sunnah (تَقْدِيمُ الرَّأْيِ عَلَى السُّنَةِ).


Akan tetapi, alhamdulillah, ana mendengar dari salah seorang saksi mata mengatakan, bahwa beliau pada akhir-akhir hayatnya merasa menyesal dan bertaubat, mudah-mudahan dosa dan kesalahannya diampunkan Allah Ta’ala.


Asy-Syaikh Sa’id Ramadhan (bukan Al Buthi), seorang tokoh kawakan Jama’ah Al Ikhwan Al Muslimin, pada masa Hasan Al Banna, sekitar tahun delapan puluh enaman (86-an) didatangi oleh salah seorang pimpinan mujahidin. Waktu itu beliau sedang melaksanakan seminar di Eropa — jikalau tidak lupa di Swedia—. Begitu tamu berjumpa dengannya, dan mengenalkan dirinya bahwa ia kenal dekat dengan Amir Mujahidin dari Tandhim Al Ittihad Al Islamy lil Mujahidin Afghanistan, yaitu Abdu ar Rabbi Ar Rasul Sayyaf, maka beliau terus menerus mengelus-elus dadanya dengan tangan kanannya, sambil mengatakan kasihan Sayyaf, kasihan Sayyaf berulang-ulang.


Jika kata-kata seperti ini dinyatakan karena Sayyaf terjebak dan terseret dalam mengikuti langkah Ahmad Syah Mas’ud (koalisi utara), untuk menyerang Thaliban, tidak mengapa, sebab Sayyaf benar-benar kasihan dalam persoalan ini. Tetapi jika kasihannya itu karena Asy-Syaikh Sayyaf berjihad melawan pemerintahan Kabul boneka Rusia dan Negara komunis Rusia, maka yang perlu ditanyakan, kenapa mesti dikasihani? Apakah karena Asy-Syaikh Sayyaf menempuh jalan perjuangannya dengan kekerasan dan tidak memilih jalan damai atau demokrasi???


Dr. Yusuf Al Qordhowi, nama yang sudah tidak asing lagi memenuhi segala ufuk. Banyak orang yang terpesona dengan pendapatnya dan fikirannya, bahkan ada sebagian orang yang menyikapinya seolah-olah seperti nabi yang semua pendapatnya di telan begitu saja. Padahal sebenarnya banyak sekali pendapat-pendapatnya yang sesat lagi menyesatkan.(2) Al Qordhowy dan orang-orang sejenisnya seperti Al-Ghazali, Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthi, Fahmi Huwaidi, Hasan Ath-Thurabi, Rasyid Al Ghanusyi, Jaudat Sa’id dan lain sebagainya, yang pada masa kini sepak terjangnya sudah menyebar kemana-mana termasuk Indonesia. Bahkan sebagian orang-orangnya lebih jelek lagi pendapat dan pemikirannya. Yang dimaksud disini adalah orang-orang yang mengaku sebagai ilmuwan dan cendekiawan muslim. Adapun yang diluar itu, misalnya orang-orang sekuler, tentu lebih buruk lagi, meskipun mengaku beragama Islam dan jauh lebih sesat lagi.


Orang-orang tersebut dalam memahami Islam mempunyai qoidah tersendiri, lain sama sekali dengan qoidah-qoidah yang telah diasaskan oleh ulama’ salaf yang tsiqat lagi terpercaya. Mereka berbuat demikian karena didorong oleh rasa mindernya dan kalahnya dalam menghadapi peradaban dan tamadun syaitan yang pada hari ini mendominasi dunia baik peradaban Barat yang mengusung sekulerisme dengan demokrasinya dalam masalah politik, kapitalismenya dalam ekonomi dan liberalismenya dalam masalah sosial.


Maupun peradaban timur dengan yang komunis dengan diktatorismenya dalam bidang politik, sosialisme dalam ekonomi dan permisifismenya dalam masalah sosial dan kemasyarakatan. Tetapi yang banyak mempengaruhi mereka bersikap demikian adalah peradaban Barat yang dianggapnya lebih maju dan hebat.


Dengan perasaan minder dan kalahnya, maka mereka menampilkan Islam tidak sebagaimana Islam yang diperjuangakan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, dan para shahabatnya rhodiyalloohu anhum yaitu Islam yang lengkap dan sempurna. (lihat surat Al-Ma’idah (5) : 3), yang tidak memerlukan sama sekali penambahan dari segala sistem dan peradaban di luar Islam. Islam yang tulen seperti ini tidak disukai oleh orang-orang barat dan tidak mendapat tanggapan positif dari mereka, maka orang-orang yang lari dan kalah itu menampilkan model Islam yang direspon Barat, Islam yang disukai oleh mereka, Islam yang mau kompromi dan berkongsi dengan mereka, Islam yang moderat dan sesuai dengan tuntutan zaman menurut selera mereka.


Untuk memenuhi hasrat itu, maka mereka membuat qoidah-qoidah ushul yang aneh bin nyeleneh yang tidak pernah dikenali oleh generasi salaf kita, sebagai contoh misalnya:

)لاَ يُنْكَرُ تَغَيُّرُ اْلأَحْكَامِ بِتَغَيُّرِ اْلأَزْمَانِ (

Artinya: Tidak menolak adanya peradaban hukum karena perobahan zaman.

Dengan qoidah ini mereka bisa menghukumi apa saja menurut selera dan hawa nafsu mereka. Maka jangan kaget kalau mendengar pendapat mereka yang nyeleneh-nyeleneh, sesat lagi menyesatkan, seperti misalnya “Islam menerima demokrasi dengan segala penampilannya”, ‘kekufuran bukan dosa yang bersifat duniawi, ia dosa ukhrawi Allah sendiri yang menghisab’, maka orang kafir, berhak untuk hidup terhormat dan kita wajib menghentikan panggilan kafir terhadap mereka.


“Orang nashrani adalah saudara kita”, “ahludz-dzimmah tidak ada lagi sebab orang-orang ahli kitab telah sama-sama mempertahankan negara kita”. “Hukum had atas orang yang murtad telah gugur” dan seribu satu lagi. Pokoknya dengan qoidah mereka, mereka bisa memain-mainkan syariat sesuka hati mereka. Contoh yang lainnya,

حَيْثُمَا كَانَتِ الْمَصْلَحَةُ فَثَمَّ شَرْعُ اللهِ

Artinya: Dimana saja terdapat maslahah (kepentingan, kemanfaatan dan kebaikan), maka disanalah syariat Allah.

Kalian bisa bayangkan sesatnya qoidah ini, dan lebih sesat lagi apabila mereka menyandarkan maslahat itu diatas maslahat duniawi sesuai dengan hawa nafsu mereka yang biasa disebut Al-Mashalih-Al Basyariah (maslahat kemanusiaan).

Coba sekarang bedakan dengan menggunakan akal dan iman yang waras qoidah maslahah yang dikehendaki oleh mereka yaitu ahlul bid’ah, ahlul ahwa’dan ahlul dholalah dengan qoidah mashlahah menurut Ahlus-Sunnah wal Jamaah. Imam Asy-Syatibi, salah seorang tokoh Ahlus-Sunnah wal Jamaah telah menjelaskan secara detil kepada kita, mengenai mashlahah dalam kitab “Al-Muwafaqat” beliau katakan:

إن المصالح هي بنظر الشارع لا بنظر المكلف، أي أن حكم الله تعالى في الجزئي (الدليل الخاص ) هو الذي يحقق المصلحة، وإن فاتت بعض المصالح لدى النظر القاصر

Artinya: Sesungguhnya maslahah-maslahah itu adalah menurut pandangan Dzat yang membuat syariat (Allah Ta’ala) bukan menurut pandangan orang yang dibebani tanggung jawab (manusia). Maksudnya hukum Allah ta’ala yang terdapat pada dalil setiap permasalahannya, itulah yang merealisir maslahah, meskipun dengan itu akan hilang sebagian maslahat menurut pandangan orang yang picik. (Al-Muwafaqat fi Ushuli Syari’ah 2/27-28).

Katanya lagi:

الشارع إنما قصد بوضع الشريعة إخراج المكلف عن اتباع هواه حتى يكون عبدا لله

Artinya:

Dzat Pembuat syariat (Allah) membuat syariat adalah dengan tujuan mengeluarkan mukallaf dari mengikuti hawa nafsunya sehingga ia menjadi hamba Allah.” (Al-Muwafaqat 2/153). Katanya lagi :

المصالح المتجلية شرعا، والمفاسد المستدفعة إنما تعتبر من حيث تقام الحياة الدنيا للحياة الأخرى، لا من حيث أهواء النفوس في جلب مصالحها العادية أو درء مفاسدها العادية

Artinya:

Maslahah-maslahah yang jelas secara syar’i dan sebab-sebab kerusakan yang mesti dibendung, bahwasanya hal itu adalah dinilai dari segi tegaknya kehidupan dunia untuk kehidupan akherat, bukan diukur mengikut hawa nafsu dalam meraih kepentingannya secara manusiawi atau mengelak kerusakan-kerusakannya secara adat kebiasaan. (Al-Muwafaqat 2/27-28).

Beliau berkata lagi:

المنافع الحاصلة للمكلف مشوبة بالمضار عادة، كما أن المضار محفوفة ببعض المنافع: كما نقول: إن النفوس محترمة محفوظة ومطلوبة للإحياء، بحيث إذا دار الأمر بين إحيائها وإتلاف المال عليها، أو إتلافها وإحياء المال كان إحياؤها أولى فإن عارض إحياؤها إماتة الدين، كان إحياء الدين أولى، وإن أدى إلى إماتتها، كما جاء في جهاد الكفار، وقتل المرتد وغير ذلك.

Artinya: Biasanya kemanfaatan-kemanfaatan yang berhasil dicapai oleh seorang mukallaf itu tercampur dengan kemadharatan-kemadharatan, sebagaimana pula kemadharatan-kemadharatan dikelilingi dengan sebagian kemanfaatan. Seperti yang kami katakan: bahwasanya jiwa adalah terhormat lagi terpelihara dan menuntut untuk hidup. Sekiranya dihadapkan kepada permasalahan (pilihan) antara menghidupkan (menyelamatkan) jiwa dan melenyapkan harta demi selamatnya nyawa, atau melenyapkannya (kehilangan nyawa) dan menghidupkan (menyelamatkan) harta, maka menghidupkan jiwa itu lebih diutamakan. Akan tetapi jika menghidupkan jiwa, itu membawa kepada kematian dien (agama), maka menghidupkan dien itu lebih diutamakan, walaupun mengakibatkan kematiannya, sebagaimana yang terdapat dalam syariat berjihad melawan orang-orang kafir dan membunuh orang murtad dan lain sebagainya. Al-Muwafaqat 2/92. (Rujuk Al-Muwafaqat juz 2/ 92, 27, 8, 153, atau kitab Al-Jihad wal Ijtihad hal 268-269).

Pada (Al Muwafaqat juz 2) halaman 176 beliau berkata:

فمصلحة الدين مقدمة على أي مصلحة، وضرورة الدين أرجح من كل ضرورة، ولذلك لا قيمة لحظ الإنسان أمام أحكام الشريعة

Artinya: Maka maslahat dien (agama) didahulukan diatas maslahat apapaun juga dan darurat atau kepentingan dien lebih diberatkan dari segala darurat atau kepentingan lainnya. Oleh karena itu tidak ada harganya bagi nasib manusia dihadapan hukum-hukum syariat.


Dari beberapa qoul Imam Asy-Syathibi tersebut kita, dapat menyimpulkan bahwasanya “Maslahat dan Madharat” dalam Islam itu dinilai berdasarkan syariat, bukan berdasarkan fikiran manusia dan hawa nafsunya. Dan maslahat dien (agama), dan akherat adalah didahulukan atau diutamakan diatas segala maslahat yang lain.


Demikianlah pemahaman maslahah menurut Ahlus-Sunnah wal Jama’ah. Adapun menurut kaum yang tidak mempunyai izzah lagi dengan Islam yang asli dan tulen, bahkan minder, pesimis, dan merasa kalah berhadapan dengan peradaban barat, mereka mendasarkan maslahat diatas berdasarkan rasio, akal dan hawa nafsunya. Maka maslahat menurut mereka adalah maslahat duniawi tanpa memandang kepada maslahat dien dan ukhrawi. Disinilah letak dan puncak kesesatan mereka, bukan sekedar perselisihan antar madzhab dikalangan ahlus-Sunnah, misalnya antara madzhab Asy-Syafi’i dengan madzhab Al-Hanafi, atau Al-Hambali dengan Al-Maliki, atau Asy-Syafi’i dengan ketiganya, atau sebaliknya atau keempat-empatnya dengan madzhab Adh-Dhahiri, atau sebaliknya. Bahkan bukan hanya sekedar seperti perselisihan antara ahlus-Sunnah wal Jama’ah dengan golongan Khowarij atau golongan murji’ah terdahulu, tetapi lebih dari itu semua…



Bahkan sebagian ahlul ilmi tidak ragu lagi menghukumi orang-orang seperti itu (kaum pesimistis-ed) sebagai zindiq (orang yang berpura-pura beriman tetapi pada hakekatnya adalah kufur).


Berkata Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik rahimahumullah : Ulama’ahlul kalam adalah zindiq (lihat Al Jihad wal Ijtihad 278). Sedangkan jika diperhatikan tindakan kriminal yang dilakukan oleh kaum tersebut tidak lebih kecil dibandingkan dengan apa yang diperbuat oleh ahlul kalam. –wallahu ‘alam-


Jika ditanyakan apakah tidak ada takhshish (pengkhususan), menurut hukum syar’i dalam hal maslahat ini?

Jawabnya, setelah memahami maslahah dengan pemahaman yang benar menurut syara’, maka sesungguhnya pengkhususan terdapat pada dua maudhu’ yaitu:

1) Berkata Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rahimahumullah:

مَا حُرِّمَ سَدًّا لِلذَّرِيعَةِ أُبِيحَ لِلْمَصْلَحَةِ الرَّاجِحَةِ

Artinya: Sesuatu yang diharamkan karena menutup wasilah keburukan yang mungkin terjadi, diperbolehkan, karena ada maslahat yang lebih kuat (dari keburukannya).

2) Berkata Asy-Syathibi rahimahumullah:

المقاصد الشرعية ضربان أصلية وتابعية، فالأصلية لا يراعى فيها حق المكلف، وأما التابعية فيراعى فيها حق المكلف

Artinya: Maksud syariat ada dua macam, Ashliyah dan Tabi’iyah, maksud yang asli adalah tidak mengambil kira (perhitungan) padanya hak seorang mukallaf. Sedangkan maksud tabi’i di dalamnya memperhatikanatau memperhitungkan hak mukallaf. Keterangan yang lebih jelas dalam masalah ini, silahkan merujuk pada kitab yang tertera diatas.

Kembali pada pembahasan pokok. Jika kalian enggan menempuh jalan jihad dalam memperjuangkan tegaknya Islam, dan kalian memilih dengan cara ikut pesta demokrasi —salah satu syariat agama sekuler itu— dengan alasan demi maslahah, maka ketahuilah bahwasanya alasan kalian itu batil, sebab kalian telah mendasarkan maslahah diatas rasio atau akal perasaan dan hawa nafsu kalian, dan bukan diatas syara’ sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.


Ketahuilah bahwasanya segala cara apapun untuk menggantikan Jihad (perang) baik dengan parlemen, tabligh, seminar-seminar, menulis buku, bedah buku, dengan tarbiyah yang khayal, yang mana semua orang Islam akan dididik agar seluruhnya menjadi sholeh, bahkan iman mereka diharapkan dapat mendekati derajat iman para shahabat, dengan membenahi perekonomian, ilmu pengetahuan, teknologi maupun yang lain-lain. Semua cara-cara ini akan membawa kepada kerendahan dan kehinaan, jika dijadikan sebagai jalan untuk mencapai kemenangan dan kekuasaan Islam tanpa jihad. Dan Allah Yang Maha Menunjukkan ke jalan yang lurus.


Jika ada diantara kalian yang bertanya, kita wajib berjihad, maka siapakah yang harus kita lawan, bukankah kaum muslimin pada saat ini adalah dalam keadaan aman, orang kafir kan tidak memusuhi kita? Jawaban singkatnya orang kafir dari segi lahir kelihatannya tidak memerangi kaum muslimin, sebab sadar atau tidak sadar sebenarnya kaum muslimin telah menuruti kemauan mereka, mengikuti program-program mereka, manhaj mereka dan undang-undang mereka, angan-angan mereka, dan impiannya selama ini sudah tercapai. Mereka telah berhasil menguasai kaum muslimin, dalam segala aspek, maka untuk apa mereka memerangi dengan senjata??? Tetapi jika kaum muslimin enggan mengikuti mereka, maka mereka tidak segan-segan menggunakan cara apapun termasuk senjata pemusnah masal, dan sebagainya. Lihatlah apa yang terjadi di Afghanistan, Irak, Filipina Selatan, Chechnya, dan sebagainya!

Menurut ahlul ilmi, jihad pada masa kini hukumnya wajib, karena beberapa sebab antara lain:

(a) Negara-negara kaum muslimin dikuasai oleh orang-orang kafir. Coba amati dengan sebaik-baiknya dengan menggunakan ilmu syar’i dan ilmu kauni, apakah ada negara kaum muslimin sekarang ini yang tidak dikuasai oleh kekuasaan kufur? Jika kalian jujur mesti menjawab tidak ada, walaupun jazirah Arabia sebagai pusat negara kaum muslimin, bukankah yang berkuasa disana adalah pelacur Amerika dan antek-anteknya.?

(b) Kebanyakan penguasa-penguasa kaum muslimin telah murtad mereka telah melakukan berbagai kufur akbar, syirik akbar dan nifaq akbar.

(c) Wujudnya para penguasa dan kekuatan-kekuatan mereka sebagai golongan yang menolak syariat Allah.

(d) Sirnanya Khilafah Islamiyah.

(e) Penjara di mana-mana dipenuhi para pejuang Islam. (Rujuk Al-Khuttuth Al Aridhah hal 105-129).

[8]. Wasiat Kedelapan;

Janganlah kalian berputus asa, bersedih hati, pesimis, merasa kecil, hina dan tidak memiliki apa-apa…Ingat! Kalian memiliki iman yang lebih berharga dari segala-galanya. Jika iman kalian benar, maka kalian paling tinggi derajat dan kedudukannya (Q.S. Ali Imran (3): 139). Ketahuilah bahwasanya masa depan adalah untuk Islam dan kaum Muslimin, baik di dunia maupun di akherat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (Q.S. An-Nur (24): 55, Q.S. Al-Mukmin (40): 51, Q.S. Al-Anbiyaa’ (21): 105, Q.S. Al-A’raf (7) : 128, 5, 11, 49, Q.S. Al Qoshos (28) : 83).


Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda dalam beberapa hadits, antara lain sebagai berikut:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ. فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ, فَقَالَ :يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ, أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ؟ فَقَالَ حُذَيْفَةُ : أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ. فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ.

فَقَالَ حُذَيْفَةُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Artinya: “Dari Hudzaifah rhodiyalloohu anhum berkata, Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, telah bersabda, terjadi nubuwwah (kenabian) di kalangan kamu, sebagaimana yang Allah kehendaki untuk terjadi, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki mengangkatnya, kemudian terjadi khilafah, diatas minhaj (jalan yang terang) kenabian, maka terjadilah ia sebagaimana kehendak Allah untuk terjadi, kemudian Allah, mengangkatnya apabila Allah menghendaki untuk mengangkatnya, kemudian terjadi kerajaan yang menggigit (kejam / bengis) maka terjadilah ia sebagaimana kehendak Allah untuk terjadi, kemudian Allah, mengangkatnya apabila Allah menghendaki untuk mengangkatnya, kemudian terjadi kerajaan yang memaksa (sombong / angkuh), maka terjadilah ia sebagaimana kehendak allah untuk terjadi, kemudian mengangkatnya, apabila Allah menghendaki untuk mengangkatnya, kemudian terjadi khilafah diatas minhaj kenabian. Kemudian beliau diam” (H.H.R Imam Ahmad dalam Musnad: 1843).

Sabda beliau lagi sholallohu alaihi wa sallam:

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ, عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ. وَكَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ يَقُولُ قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمُ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ *

Artinya: “Dari Tamim ad Dari rhodiyalloohu anhum berkata, “Aku mendengar Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda,”Sesungguhnya benar-benar urusan ini (Islam) akan mencapai segala tempat yang dicapai malam dan siang dan Allah tidak meninggalkan rumah yang terbuat dari tanah liat maupun bulu unta melainkan Allah memasukkan dien ini kepadanya, dengan memuliakan yang mulia dan menghinakan yang hina, mulia karena Allah memuliakan dengannya Islam, dan hina karena Allah menghinakan dengannya kekufuran ” (H.S.R Imam Ahmad, dalam kitab Al-Musnad No: 16998 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no 8326, lihat Silsilah Ahadits Shahihah, syaikh Albani no 3).

Sabdanya sholallohu alaihi wa sallam, lagi

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ *

Artinya: “Dari Tsauban rhodiyalloohu anhum bahwasanya Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda, sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku, maka aku bisa melihat penjuru timurnya dan penjuru baratnya dn sesungguhnya umatku kerajaan (kekuasaan) nya akan mencapai apa yang dihimpunkan kepadaku darinya.” (H.S.R Muslim).

Sabdanya sholallohu alaihi wa sallam, yang lain:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّينِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي الْأَرْضِ. فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الْآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الْآخِرَةِ نَصِيبٌ.

Artinya: “Dari Ubay bin Kaab rhodiyalloohu anhum berkata “Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda: “Gembirakanlah umat ini dengan keluhuran, ketinggian dan kemenangan, kejayaan dan berkuasa di muka bumi, maka barangsiapa dari mereka yang mengerjakan amalan akhirat untuk keduniaan, ia tidak mendapatkan bagian apapun di akherat”” (H.R. Imam Ahmad).


Dan masih banyak lagi keterangan-keterangan lain yang berhubungan dengan pembahasan masalah ini, bagi yang ingin memperdalam silahkan melihat sebagian rujukan yang saya tuliskan di bawah ini:

  • Tafsir Ibnu Katsir : 3/211-213, 210-212, 4/90-91, 1/586-597
  • Al Mustaqbal li Haadzad-Dien –oleh- Ust. Sayyid Qutb.
  • Armageddon (Huru-hara akhir Zaman) oleh Muhammad Amin Jamaluddin.
  • Armageddon Peperangan Akhir Zaman menurut Al-Qur’an, Al-Hadits, Taurat dan Injil, oleh Ir. Wisnu Sasongko, M.T.

Untuk menyongsong kemuliaan, kemenangan, kejayaan dan kekuasaan Islam dan kaum muslimin itu, meskipun kebanyakan umat Islam telah mabuk ke dunia, dan tidak sedikit juga yang terbuai dengan kehidupan ala sufi dan manhaj Demokrasi Al-Ghorbi As-Syirki Al-Kufri. Akan tetapi Sunnatullah dan taqdirnya telah menyatakan bahwasanya akan senantiasa ada dari umat ini satu kelompok yang membela dan memperjuangkan Islam dengan pedang dan kekuatan dengan mendapat pertolongan Allah Ta’ala.


Ada sekitar dua ratus (yang lebih benar; dua puluh, ed) hadits yang menjelaskan masalah ini, baiklah kita simak satu saja mudah-mudahan Allah memberkati kita:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لَا إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah rhodiyalloohu anhum berkata, Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam bersabda “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang membela kebenaran dengan mendapat pertolongan Allah hingga datangnya hari kiamat.” “Beliau berkata, “Kemudian akan turun Isa putra Maryam alaihi salam, lalu pemimpin mereka berkata (kepada Isa alaihi salam). “Kemarilah silakan anda mengimami kami sholat!” Lalu beliau menjawab, “Tidak sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin, bagi sebagian yang lain.” Sebagai penghormatan dari Allah terhadap umat ini. (H.S.R Muslim).


Berdasarkan hadits-hadits yang banyak itu dan keterangan-keterangan ahlul ilmi yang tsiqot, bisa disimpulkan –wallahu a’lam- bahwa golongan tersebut pada masa kini adalah para mujahidin, yang sedang berjihad dengan pedang dan kekuatan di mana-mana demi membela kebenaran. Mereka inilah yang patut menyongsong kemenangan dan kejayaan tersebut. Oleh karena itu bersegeralah kalian untuk bergabung dengan mereka (bisa anda lihat dalam Al-Qur’an surat ke 19 ayat ke 119), minimal hati dan perasaan kalian. Sungguh merugi orang yang tidak menyertai mereka.

أَللَّهُمَّ أَحْيِنَا مُسْلِمِينَ وَأَمِتْنَا مُسْلِمِينَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَالِحِينَ

Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim dan matikanlah kami dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah kami dengan orang-orang sholeh (di dunia dan di akherat)” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/351, 2/510).

[9]. Wasiat Kesembilan:

Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, kepada dien-Nya, kepada Islam, kepada Al-Qur’an, kepada As-Sunnah, dan kepada Al-Haq, dan berjama’ahlah, serta bersatulah dalam memegangi kebenaran, dan jangan bercerai berai (silahkan buka firman Allah Ta’ala surat Ali Imran (3) : 103).


Ingatlah bahwa berjama’ah atau bersatu dalam kebatilan, seperti kufur, syirik, nifaq, riddah, bid’ah, dan sebagainya tidak berarti sama sekali dalam perjuangan menegakkan kebenaran, bahkan dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka maksud dari jama’ah, dalam Islam adalah jama’ah yang sesuai dengan syariat meskipun seorang diri, seperti kata Abdullah bin Mas’ud rhodiyalloohu anhum seorang faqih dari kalangan shahabat. Maka kumpulan, kelompok dan golongan yang manapun juga, meskipun pengikutnya menakjubkan kita jumlahnya, dan sistem organisasinya, dan lain sebagainya, tetapi tidak sesuai dengan syari’at, maka kumpulan tersebut adalah kumpulan batil. Kalian tidak boleh beriltizam dan mengikutinya, karena sesat dan menyesatkan, tinggalkanlah jama’ah-jama’ah yang seperti itu, dan kembalilah kepada jama’ah-jama’ah yang sesuai dengan syara’ meskipun kelihatannya tidak banyak pengikutnya.


Berusahalah untuk mengishlah atau memperbaiki, perhubungan sesama kaum mukminin, (al-Qur’an Surat Al-Anfal (8): 1). Sebab kerusakan hubungan sesama kaum mukminin, berpengaruh negatif terhadap dien dan dunianya, di dalam sebuah hadits disebut sebagai Al Haliqoh (pencukur).

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ ؟ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ *

Artinya: “Dari Abu Darda’ rhodiyalloohu anhum, berkata, Rasulullah sholallohu alaihi wa sallam, bersabda: Ingatlah! Aku akan memberitahukan kepada kalian dengan sesuatu yang lebih utama dari derajat kedudukan puasa, shalat dan shodaqoh!” “Ya apa itu wahai Rasulullah! Beliau berkata, “Memperbaiki hubungan sesama (kalian).” Beliau berkata “Dan rusaknya hubungan sesama (kalian) adalah pencukur” (H.H.R Abu Daud dan At-Tirmidzi), Dan dalam riwayat lain dikatakan sebagai pencukur dien (agama).

Oleh karena itu, janganlah kita ribut sendiri dengan sesama kaum mukminin, hanya karena masalah duniawi, roti dan nasi sehingga lupa terhadap masalah-masalah prinsip yang mesti dibela sampai mati. Jadikanlah diri-diri kalian sebagai Ashabul Mabadi’ (orang-orang yang punya prinsip). Dan janganlah menjadi Ashabul Masholih (orang-orang yang hidupnya demi kepentingan duniawinya).

[10]. Wasiat Kesepuluh:

Bermujahadahlah sekuat tenaga dan kemampuan untuk menghindarkan diri dari dua belas perkara yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Insya Allah dengan izin-Nya dan rahmat-Nya kalian akan diselamatkan dari siksa dunia dan akherat, kalian akan terselamatkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga. Inilah keberuntungan, kejayaan, kemenangan dan sukses yang sebenarnya, (Al-Qur’an Surat Ali Imran (3): 185). Adapun 12 jenis yang diharamkan itu ialah:

a) Kufur الكفر

b) Syirik الشرك

c) Nifaq النفاق

d) Kefasikan الفسوق

e) Kedurhakaan العصيان

f) Dosa الإثم

g) Pelanggaran العدوان.

h) Perbuatan keji الفخشاء,

i) Kemungkaran المنكر,

j) Dzhalim/melanggar hak manusia الظلم

k) Mengada-adakan terhadap Allah tanpa ilmu القول على الله بلا علم (lihat Qur’an Surat (7) : 33),

l) Mengikuti jalan yang bukan jalan orang mukmin. اتباع غير سبيل المؤمنين (lihat Qur’an Surat An-Nisa (4) : 115). Bagi yang ingin membaca syarahnya secara detail, bisa dilihat pada kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim 1/335-372, atau Risalah kepada Shahabat-oleh penulis-

Demikianlah 10 wasiat dan pesan-pesan yang perlu kami sampaikan kepada kalian :semua, semoga bermanfaat bagi kita sekalian. Yang benar dari Allah ta’ala, marilah kita berusaha, bersedia menerima dan mengamalkannya, sedang yang batil dari saya sendiri dan syaitan, saya beristighfar dan memohon ampun kepada-Nya.


Akhirnya marilah kita senantiasa berdo’a untuk diri kita, keluarga kita, segenap kaum mukminin, terutama mujahidin yang sedang berjihad dan berjuang dimana-mana, mudah-mudahan kita semua ditunjukkan Allah jalan yang benar dan diberi-Nya rizki untuk dapat mengikuti-Nya, dan selalu sabar, tsabat dan istiqomah. Amiin.

6 Komentar »

  1. Alhamdulillah…
    Telah saya baca dan pahami tulisan tsb diatas. Nah inilah salah satu contoh korban propaganda penguasa thagut yaitu pada zaman Muawiyah dan Abbasiyah.

    Begitu hebat dan dasyatnya dengan propagandanya yaitu bekerjasama dan memperalat para ahli hadist dan alim ulama yg ada pada zamannya untuk membuat ribuan hadist palsu dan penafsiran Al Qur’an untuk kepentingan kekuasaannya. Sehingga hadist dan tafsir tsb ada ditengah-tengah umat Islam hingga saat ini, menyebar di ranah ilmu agama Islam, baik itu syariat, tharikat, hakikat dan ma’rifat atau tauhid, fiqih dan akhlak.

    Sehingga umat Islam baik ulamanya ataupun jama’ahnya secara tidak sadar dalam memahami kebenaran yg tercantum dalam Al Qr’;an dan Hadist Nabi Saw. Yang benar bisa dikatakan salah, yang salah bisa dikatakan benar.
    Memang tidak akan mudah bagi kita umat Islam utnuk dapat membedakannya, karena hal tsb sudah berlangsung ribuan tahun secara turun temurun bahwa umat Islam mengikuti yg mayoritas yaitu yg mengikuti Imam Mazhab yang 4 (empat) yakni Hanafi, Hambali, Maliki dan Syafe’i.
    Pada zaman Rasulullah Saw tidak ada yang namanya Ahlusunnah Wal Jama’ah. Itu adalah propaganda dari kedua penguasa Thagut tsb yang bersembunyi dibalik topeng kekuasaanya.
    Hati-hati kepada hadist yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah, kareha hidup bersama Nabi Saw selama kurang lebih 3 tahun, tapi telah ribuan hadist yg diriwayatkan oleh orang tsb. Sedangkan sahabat utama Nabi Saw yg termasuk Khulafur Rasyidin hanya sedikit saja. Lelaki ini banyak meriwayatkan ribuan hadist pada zaman Muawiyah untuk kepentingan kekuasaannya dan mendapat imbalan jabatan sebagai gubernur Damaskus pada waktu itu.

    Kepada seluruh umat Islam, saya menghimbau dan menyeru untuk kembali lagi kepada yang suci yaitu ajaran Ahlulbait Nabi Muhammad Saw.

    Mari kita berjuang dan berperang di jalan Allah Swt dan Rasul-Nya yang sesuai dengan ajarannya untuk melawan penguasa thagut pada zaman sekarang yakni Yahudi dengan Zionismenya, Amerika yg didalangi Yahudi, Nasrani dengan Salibisnya, kaum Munafiqin, Musyrkin, Kafirin yg tentunya ada dalam setiap zaman sepeninggal Rasusullah Saw.

    Duhai saudaraku almarhum Amrozi, Imam Samudra dan Ali Zufron, semoga semuanya diterima disisi Allah Swt sesuai dengan pemahamannya tentang Islam dan diampuni segala dosa-dosanya. Tidak ada manusia yang sempurna.
    Dan kepada keluarga dan para pendukungnya saya mohon dengan rasa cinta kasih dan sayang karena Allah Swt, untuk berintropeksi dan bertafakur kpd Allah Swt agar membenahi pemahamannya tentang agama Islam.

    Ajaran Ahlulbait Nabi Muhammad Saw terasa asing di tengah-tengah umat Islam yg mayoritas. Mungkin inikah yg dikatakan dalam Nash :

    ‘Islam pada akhir Zaman akan kembali asing”

    Yaa Allah, satukanlah pemahaman seluruh umat Islam dan lembutkanlah hatinya untuk menerima kebenaran ajaran Ahlulbait Nabi Muhammad Saw.
    Karuniakan taufik dan hidayah Mu yaa Allah, kepada seluruh umat Islam yang ada di alam semesta ini, diantara jin dan manusia.
    Yaa Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan Ithrah Ahlulbainya yg suci.
    Amin yaa Allah, yaa Rabbal’alamin.

    Wallahu’Alam Bishawwab

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Komentar oleh asep — November 11, 2008 @ 2:59 am

  2. Satu hal yang menarik hati saya adalah:

    Dimana letak dien islam jika merasa perang atau membunun orang adalah wajib jika negara tidak dalam keadaan perang?
    Apakah jiwamu terancam dalam mengamalkan agama islam?
    Apakah anda tidak diperbolehkan menjalankan ibadah anda?
    Kapan perang dan membunuh (dalam arti sesungguhnya)diperbolehkan?
    Apakag definisi jihad itu?
    Sudahkah kita berjihad terhadap diri kita terlebih dahulu dengan arti sesungguhnya sebelum berjihad dengan fisik?
    Apakah dapat dikatakan jihad sementara kita tdk membantu saudara kita yg sebenarnya membutuhkan pertolongan demi menegakkan dienul islam di palestina?
    Menurut hemat saya jgn kacaukan makna sebenarnya islam menurut persepsi personal.
    Belajarlah utk mengetahui secara komprehensife dan aturlah strategy dg baik jika telah menelsh dengan seksama. Sebab adalah kebodohan yg nyata berbuat tanpa berfikir terlebih dahulu. Dan justri itulah musuh-musuh islam dengan mudah memecah pemeluk dienul islam.
    Sebenarya Allah telah memberikan petunjuk yaitu:
    Satunya kiblat
    Satunya imam shallat
    Satunya kitab suci

    Dan kenapa shallat berjamaah menjadi keutaman?
    Mengapa shallat shafnya harus rapat?
    Kenapa ada bulan wajib utk berpuasa bersama?

    Wahai saudaraku….
    Berjama’ahlah…satukan visi dan misi mu dalam dienul islam…
    Islam tiada memiliki aliran…
    Islam tiada memiliki sekte….
    Islam tiada golongan…
    Segala perbedaan akibat pemikiran dan ijtihad kembalikanlah ke alqur’an dan hadits.
    Diskussikanlah dg ilmu pengetahuan. Dan jikalau itu berbeda, selama tdk keluar dari alqur’an dan hadits, janganlah kita bertengkar. Sekali lagi rapikah dan luruskan shaf kita. Niscaya tiada yg dpt menghancurkan dienul islam.

    Komentar oleh XYZ — Januari 1, 2009 @ 2:23 pm

  3. terimakasih atas komentarnya,
    Maaf terlalu banyak poin yang diajukan, jika saya jawab semua butuh tulisan yang panjang, jika saya jawab beberapa point khawatir tidak memuaskan. Namun setelah saya teliti dan saya renungkan Pesan utamanya dari Komentator adalah memberikan sebuah nasehat untuk saya. Maka saya menerima dan berterima kasih atas nasehatnya. Saya membutuhkannya lagi.

    Komentar oleh Gustri — Januari 1, 2009 @ 4:53 pm

  4. Tiada yang memberi nasehat saudaraku….kita semua saling nasehat menasehati..saya pun sedang menerima banyak nasehat termasuk dari anda…
    Keep your spirit high and hoping to Allah merely.

    Komentar oleh XYZ — Januari 3, 2009 @ 6:52 am

  5. Dengan wasiat tsb, maka…. DUAAARRR… BOM …. meledak dimana-mana. Hiiiyyy serammmm….:mrgreen:

    Komentar oleh Aswaja — April 22, 2011 @ 6:13 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: