Gustrisehat’sWeblog

TASAWUF

ALIRAN TASAWUF YANG MENGAKU ISLAM

Tarikat Haddadiah
Tarikat yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang wafat 1095M di Yaman. Banyak orang yang takut ikut tarikat­nya berhubung ratibnya yang terkenal, Ratib Al-Haddad, dipercayai sebagai doa selamat yang bermantera. Pengaruhnya tak hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh negara Indonesia.

Tarikat Khalwatiah
Tarikat yang diprogandakan dalam abad-18 oleh Syaikh Mustafa Al-Bakri di Mesir dan Suriah. Salah seorang tokoh tarikat ini ialah Ahmad At-Tijani yang berasal dari Aljazair.

Tarikat Maulawiah
Tarikat yang didirikan oleh Maulwi Jalaluddin Ar-Rumi, meninggal dunia di Anatoila, Turki. Zikirnya disertai tarian mistik dengan cara keadaan tak sadar, agar dapat bersatu dengan Tuhan. Penga­nut-penganutnya bersifat pengasih dan tidak mengharapkan kepen­tingan diri sendiri, serta hidup sederahana menjadi teladan bagi orang lain.

Tarikat Mu`tabarah Nahdliyin
Para kyai pada tanggal 10 Oktober 1957 mendirikan suatu badan federasi bernama Pucuk Pimpinan Jam`iyah Ahli Tariqah Mu`tabarah, sebagai tindak lanjut keputusan Muktamar N.U. (nahdlatul Ulama) 1957 di Magelang. Belakangan dalam Muktamar N.U. 1979 di Semarang ditambahkan kata Nahdliyin, untuk menegaskan bahwa badan ini tetap berafiliasi kepada NU. Sejak berdirinya pimpinan tert­inggi badan ini ialah para kyai ternama dari pesantren-pesantren besar.

Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa badan ini bertujuan:

(1) meningkatkan pengamalan syariat Islam di kalangan masyarakat;
(2) mempertebal kesetiaan masyarakat kepada ajaran-ajaran dari salah satu Mazhab yang empat; dan
(3) menganjurkan para anggota agar meningkatkan amalan-amalan Ibadah dan Muamalah, sesuai dengan yang dicontohkan para ulama salihin.

Pasal 4 menyatakan bahwa badan ini akan tetap setia kepada paham Ahlussunnah wal-Jama`ah.
Alasan utama mendirikan badan federasi ini adalah:

(1) untuk membimbing organisasi-organisasi tarikat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al-Qur`an dan hadis;
(2)  untuk mengawasi organisasi-organisasi tarikat agar tidak menyalahgunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak dibenar kan oleh ajaran-ajaran agama.

Tarikat Naqsyabandiah
Tarikat ini mula-mula didirikan di Turkestan oleh Bahiruddin Naqsyabandi (sumber lain menyebutkan, Muhammad bin Muhammad Bahauddin al-Bukhari 1317-1389M, bukan Imam Al-Bukhari perawi Hadits, pen) dan di Indonesia termasuk tarikat yang paling ber­pengaruh. Pimpinannya, Sulaiman Effendi, mempunyai markas besar yang terletak di kaki gunung Abu Qubbais di pnggiran kota Makkah. Pengikut-pengikutnya kebanyakan dari Turki dan wilayah-wilayah Hindia Belanda dulu, serta di bekas jajahan Inggris di daerah Melayu.
Pada umumnya tarikat ini paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini.
Tarikat ini adalah tarikat terbesar di dunia, juga di Indonesia, dan dianggap paling terawat baik. Ada seleksi untuk jadi pengi­kutnya. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang, Sukabumi, Labuhan Haji (Aceh) di pesantren Syaikh Waly, Khalidi.

Tarikat Qadiriah
Asal mulanya di Bagdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166M). Mula-mula ia seorang ahli bahasa dan ahli Fiqih dari mazhab Hambali. Tulisannya pada umumnya berdasarkan ajaran Ahlus-Sunnah wal-Jama`ah. Ada sejumlah bukunya yang ditulis oleh murid-muridnya yang menceritakan kesaktiannya.

Pelajaran Tarikat Qadiriah tidak jauh berbeda dari pelajaran Islam umum. Hanya saja tarikat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan maupun politik. Keistimewaan tarikatnya ialah zikir dengan menyebut-nyebut nama Tuhan.

Kaum Qadiriah terlalu menyamakan Tuhan dengan manusia. Paham Qadiriah pada hakikatnya adalah sebagian dari faham Mu`tazilah, karena imam-imamnya orang mu`tazilah. (Apa yang ditulis di Leksikon Islam ini, agaknya rancu dengan aliran Qada­riyah, yaitu aliran yang menganggap bahwa manusia ini bebas dan berkuasa penuh untuk menentukan dirinya, tidak ada campur tangan Tuhan, lawan dari aliran Jabbariyah yang menganggap manusia hanya bagai wayang yang seluruhnya dijalankan oleh dalang, semuanya digerakkan oleh Tuhan tanpa ada upaya manusia, pen. Selanjutnya, Leksikon Islam itu menulis:)

Ada anggapan membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani pada tanggal 10 malam tiap bulan bisa melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya populer, baik di Jawa maupun Sumatra. (Ini jelas bid’ah dan sesat, lihat Sorotan terhadap Kissah Maulid, Nisfu Sya’ban, Manakib Syaikh AK Jailany oleh HSAAl-Hamdany, Pekalon­gan, 1971, dan Kitab Manakib Syekh AbdulQadir Jaelani Merusak Aqidah Islam oleh Drs Imron AM, Yayasan Al-Muslimun Bangil Jatim, cetakan keenam, 1411H/ 1990, pen).
Kadang kala tarikat ini digabung dengan Naqsyabandiah menjadi Tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Seperti halnya di Suryalaya (Tasikmalaya Jawa Barat, dipimpin Abah Anom, yang sering dikun­jungi Harun Nasution, pen) dan Jombang (Jawa Timur, daerah kelah­iran Presiden Gus Dur, pen).

Tarikat Qadiriah Naqsyabandiah
Gabungan ajaran dua tarikat, yaitu Tarikat Qadiriah dan Tarikat Naqsyabandiah. Pendirinya Syaikh Khatib Sambas. Tarikat ini merupakan sarana yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaya dari pusatnya di Makkah antara pertenga­han abad ke-19 sampai dengan perempat pertama abad ke-20.

Tarikat Rifa’iah
Didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Ali-Abul Abbas (wafat 578H/1183M). Syaikh Ahmad, yang konon guru Syaikh Abdul Qadir Jilani, begitu asyik berzikir hingga tubuhnya terangkat ke atas, ke angkasa. Tangannya menepuk-nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada bidadari untuk memberinya rebana di dadanya, daripada menepuk-nepuk dada.
Tapi Syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa; begitu khusuknya, sehingga ia tak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal selu­ruh dunia mendengar suara rebana itu.
Tarikat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal-hal yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya. Rifa`iah,  yang memang merinci tarikatnya dengan rebana, di Aceh dulu pernah berkembang besar dan disebut Rapa’i sudah sulit mencarinya yang asli, yang masih berpegang teguh pada ajaran.

Tarikat Samaniah
Tarikat yang dikenal di Jawa Barat dan Aceh, didirikan oleh Syaikh Muhammad Saman Dari Madinah, Arab Saudi, yang wafat tahun 1702 M. Manaqib (riwayat hidup) Syaikh Saman banyak dibaca orang yang mengharap berkah. Manaqib itu ditulis oleh Syaikh Siddiq Al-Madani, murid beliau.
Di situ tertulis: “barang siapa berziarah ke makam Rasullah tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia.” (Ini contoh kebatilan yang nyata, pen).
Juga disebutkan: “Siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang kesedihannya. Siapa yang makan-makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah ke makamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya.” (ini benar-benar mengada-ada atas nama agama, na’udzubillahi min dzaalik, pen). Tarikat Saman sekarang menjadi tari Seudati di Aceh. Zikir Saman mulanya hampir sama dengan zikir-zikir yang lain. Namun kemudian berkembang menjadi zikir yang ekstrim.

Tarikat Sanusiah
Tarikat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Ali As-Sanusi, tahun 1837, di Aljazair, meninggal dunia tahun 1957. Pusat tari­kat ini di Libia.

Tarikat Siddiqiah
Asal-usul tarikat ini tidak begitu jelas, dan tidak terdapat di negara-negara lain. Muncul dan berkembang di Jombang, Jawa Timur, dimulai oleh kegiatan Kiyai Mukhtar Mukti yang mendirikan tarikat ini tahun 1953.

Tarikat Syattariah
Tarikat yang dibangun oleh Syaikh Abdullah Syattari di India. Tarikat ini di Jawa masih ada, misalnya di sekitar Madiun. Di Aceh dulu mengalami puncaknya di zaman Sultanah (Ratu) Safiatud­din. Tarikat ini dibawa oleh Syaikh Abdurra’uf Sinkil yang kemudian bergelar Syiah Kuala.

Tarikat Syaziliah
Tarikat yang didirikan oleh Ali As-Syazili, terdapat di Afrika Utara, dan Arab, juga Indonesia, walaupun tidak luas tersebarnya dan pengaruhnya relatif kecil.

Tarikat Tijaniah
Tarikat yang didirikan oleh Ahmad At-Tijani. Tarikat ini dengan cepat meluas di Afrika Barat dan di negara-negara lain, antaranya Indonesia. Di Afrika tarikat ini telah banyak yang mengislamkan orang-orang Negro. (Ahmad At-Tijani ini mengaku dirinya adalah al-qothbul maktum yang menjadi perantara/ penengah antara semua anbiya’ (para nabi) dan auliya’ (para wali). Lihat Ilat Tashawwuf ya ‘Ibadallah oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Jam’iyyah Ihyait Turats al-Islami, hal 42, pen).

Tarikat Wahidiah
Tarikat yang ini didirikan oleh Kyai Majid Ma`ruf di Kedonglo, Kediri (Jawa Timur), 1963. Teoritis tarikat ini terbuka sifatnya, karena orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota: siapa saja yang mengamalkan zikir salawat wahidiah sudah dianggap sebagai anggota.

Motivasi mendirikan tarikat ini adalah meningkatkan ketaatan orang Islam kepada perintah-perintah agama. Pendirinya menganggap masyarakat Jawa dewasa ini mengalami kekosongan agama dan keji­waan. Itulah sebabnya ia mengajak masyarakat Islam agar mening­katkan ketakwaannya kepada Tuhan dengan setiap kali mengucapkan zikir “fafirruu ilallaah”, artinya: “marilah kita kembali ke jalan Allah.”

Begitulah beberapa tarikat dari buku Leksikon Islam 2.

Bantahan terhadap Tarikat

Ulama dan ilmuwan Indonesia yang gigih meluruskan bahkan membantah keras tentang tarekat di antaranya HSA Al-Hamdani dari Pekalongan Jawa Tengah dengan bukunya Bantahan Singkat terhadap Kelantjangan Pembela Tashawuf dan Tarekat, 1972; Sorotan-sorotan terhadap Kitab-kitab Wirid -Dzikir- Hizb Doa dan Sholawat; juga Sanggahan terhadap Tashawuf dan Ahli Shufi dan Sorotan terhadap Kissah Maulid, Nishfu Sya’ban, manakib Sjaich AK Djailany. Sang­gahan lain juga ditulis oleh Drs Yunasril Ali, dengan judul Membersihkan Tashawwuf dari Syirik, Bid’ah, dan Khurafat. Sedang Abdul Qadir Jaelani da’i dari Bogor Jawa Barat menulis bantahan dengan judul Koreksi terhadap Tasawuf. Juga bantahan-batahan yang ditulis dalam tanya jawab, misalnya oleh Ustadz Umar Hubeis dalam kitabnya, Fatawa dll.

Berikut ini kami kutip sebagian bantahan Drs Yunasril Ali, kemudian HSA Al-Hamdany. Sedang bantahan dari kitab-kitab Arab banyak pula, namun karena masalah tarekat ini orang Indonesia juga ikut-ikut mendirikannya (menciptakannya) bahkan mengorgani­sasikannya, maka kami kemukakan bantahan dari ulama dan ilmuwan Indonesia.

Drs Yunasril Ali dalam bukunya Membersihkan Tashawwuf dari Syirik, Bid’ah, dan Khurafat menjelaskan, masing-masing tarekat itu merumuskan amalan-amalannya sendiri-sendiri, sehingga antara satu dengan yang lain saling berbeda cara amaliahnya. Namun demikian amaliah yang berbeda-beda itu semuanya mereka nisbahkan kepada dua sahabat besar: Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Shid­diq. Entah mana yang benar di antara tarekat-tarekat itu yang berasal dari Ali dan Abu Bakar, wallahu a’lam.

Dasar mereka mendirikan tarekat ialah:

1. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu, benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar. ” (QS Al-Jinn/ 72:16).

2.  Firman Allah SWT:
Artinya: “Maka barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah, hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia memperseku­tukan siapa pun dalam beribadah kepada Tuhan.” (QS Al-Kahfi/ 18:110).

3. Hadits:
Qoola ‘Aliyyubnu Abii Thoolib: Qultu: Yaa Rasuulallaah, ayyut thoriiqoti aqrobu ilallooh? Faqoola Rasuulullaahi SAW: Dzikrul­loohi.

Artinya: Ali bin Abi Thalib berkata: saya bertanya: Ya Rasulal­lah, “Manakah tarekat yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan? Maka Rasulullah SAW menjawab, “dzikir kepada Allah.” (Dr Mustafazahri, Kunci Memahami Tasawwuf, halaman 87, seperti dikutip Drs Yunasril Ali halaman 54).

Koreksi (dari Drs Yunasril Ali): Di dalam Al-Quran didapati kata “thariqah” dan musytaqnya  (pecahan kata yang berasal darinya) di sembilan tempat yaitu:

1. firman Allah SWT:
Artinya: “Mereka berkata: hai kaum kami, sesungguhnya kami men­dengar kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS Al-Ahqaaf/ 46:30).

2. Firman Allah SWT:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kedhaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa-dosa) mereka dan tidaklah akan menunjukkan jalan kepada mereka.” (QS An-Nisaa/ 4:168).

3.  Firman Allah SWT (sambungan ayat no.2):
Artinya: “Kecuali jalan ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS An-Nisaa’/ 4:169).

4. Firman Allah SWT:
Artinya: “Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka!” Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan sehari saja.” (QS Thaha/ 20:104).

5. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hambaKu (Bani Israel) di malam hari, maka bikinlah untuk mereka [1]jalan[1] yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).” (QS Thah/ 20:77).

6.  Firman Allah SWT:
Artinya: “Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.” (QS Thaha/ 20:63).

7. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu benar-benar Kami akan memberi minum mereka dengan air yang segar.” (QS Al-Jinn/ 72:16).

8. Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh langit); dan Kami tidaklah lengah terha­dap ciptaan (Kami)”. (QS Al-Mu’minuun/ 23:17).

9. Dan Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang shalih dan di antara Kami ada pula orang yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS Al-Jinn/ 72:11).

Demikianlah penulis kutip di sini 9 buah kata “thariqah” dan musytaqnya yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Tidak satupun yang menunjukkan kepada tarekat yang dipropagandakan oleh penga­nutnya, yang mereka berdzikir tanpa sadar diri dan tidak pula ingat kepada Tuhan lagi.

Untuk lebih jelas, penulis kemukakan arti thoriqoh dalam ayat-ayat di atas dengan mengutipnya dari tafsir-tafsir yang mu’tabar, sebagai berikut:

1. Kata “thariqin” dalam surat al-Ahqaf ayat 30 artinya ialah “Agama Islam” (Al-Qasimy, Tafsir Mahasinut Ta’wil, juz XV hal. 94).
2. Kata “thariqon” dalam surat An-Nisaa’ ayat 168 artinya ialah “satu jalan dari jalan-jalan menuju jahannam”. (Al-Jalalain, Tafsir Al-Quranil Kariem, juz I, hal. 94).
3. Kata “thoriqo jahannam” dalam Surat An-Nisaa’ ayat 169 artinya ialah “jalan yang menyampaikan orang menuju jahannam”. (ibid).
4. Kata “thoriqoh” dalam Surat Thaha ayat 104 artinya ialah “jalan” (ibid, juz II, hal 26). Ada pula ahli tafsir yang mengatakan “jalan yang lurus” di sini ialah orang yang agak lurus pikirannya atau amalnya di antara orang-orang yang berdosa itu.

(Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, note hal. 488).

5. Kata “thoriqon” dalam S Thaha ayat 77 berarti “Allah menger­ingkan bumi sebagai jalan bagi Musa dan kaumnya.” (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 24).
6. Kata “thoriqoh” dalam S Thaha ayat 63 ada yang mengartikannya dengan “keyakinan (agama)” (Departemen Agama RI, Opcit, hal. 482). Dan ada pula yang menafsirkannya dengan “Bani Israel”. (Az-Zamakhsyary, Tafsir Al-Kassyaf, Jilid II, hal. 543).
7. Kata “thoriqoh” dalam S Al-Jinn ayat 16 artinya “jalan kebena­ran dan keadilan”. (Al-Qasimi, Tafsir Mahasinut Ta’wil, juz XVI, hal. 5950).
8. Kata “thoroiq” dalam surat al-Mu’minun ayat 17 artinya “lan­git”, thoroiq kata jama’ dari thoriqoh, karena dia adalah jalan-jalan malaikat.” (Al-Jalalain, opcit, juz II, hal. 45).
9. Kata “thoroiq” dalam S Al-Jinn ayat 11 artinya “Golongan yang berbeda pendapat di kalangan muslimin dan kafir.” (ibid, hal. 240).

Inilah artinya kata “thoriqoh” dan musytaqnya yang ada dalam Al-Quran. Tidak satupun dari kata-kata itu yang menunjukkan metode ibadah dalam tasawwuf. Memang ada thoriqoh yang berarti golongan-golongan di kalangan kaum muslimin, tetapi maksudnya ialah golongan yang berbeda pendapat dalam menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadits. Bukan golongan yang membuat-buat tarekat tertentu yang dihasilkan oleh renungan guru.

Kalaulah benar bahwa yang dimaskud dengan tariqat di dalam ayat-ayat itu ialah penjelasan dari Al-Quran dan As-Sunnah yang secara langsung dituntunkan dan dipraktekkan oleh seorang guru kepada muridnya, seperti menuntun bagaimana cara berdiri betul dalam shalat, bagaimana cara takbir, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud, duduk tahiyyat, cara membaca bacaan-bacan shalat, dan lain-lain; sesuai dengan cara yang ditentukan oleh Rasul SAW. kepada para shahabatnya, maka tarekat seperti ini dapat penulis terima, karena tarekat ini adalah sebahagian dari as-sunnah, yang disebut dengan sunnah fi’liyah. Jadi tarekat dalam pengertian seperti ini termasuk sunnah. Dan memang tarekat (sunnah fi’liyah) yang seperti inilah yang disuruh dalam mengajarkan agama. Rasu­lullah SAW pernah membimbing seorang Badwi dalam pelaksanaan shalat, karena orang Badwi tersebut belum tepat cara ia melaksa­nakan shalat. (Lihat Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, al-Muharrar, hal. 42).

Adapun membuat-buat ibadah dengan cara baru, lantas dinamakan tarekat, ini bid’ah. Contohnya ialah seperti mengadakan dzikir lisan, dzikir qolbu dan dzikir sirr; semuanya itu tidak pernah ada diriwayatkan dari Rasul SAW. atau dari para shahabat beliau. Jadi perbuatan ibadat seperti itu adalah bid’ah yang dibuat-buat oleh para penganut tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Padahal agama Islam, baik aqidah maupun tatacara ibadatnya sudah sempurna, tidak usah ditambah-tambah. (Drs Yunasril Ali, Member­sihkan Tasawwuf dari Syirik, Bid’ah, dan Khurafat, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, cet. III 1992, hal. 53-59).

17 Komentar »

  1. Sebenar2nya Syari’at adalah Syari’atullah
    Sebenar2nya Tarikat adalah Tarikatullah
    Sebenar2nya Hakikat adalah Hakikatullah
    Sebenar2nya Ma’rifat adalah Ma’rifatullah

    “Syari’atullah, Tarikatulah, Hakikatullah, Ma’rifatullah itulah jalan yang lurus”

    Sya’riat apapun jika tidak menuju kepada Allah maka Sia2 dan Batil
    Tarikat apapun jika tidak sejalan dengan Ajaran Allah melalui Rosul-Nya maka sesat
    Hakikat apapun jika Imannya bukan kepada Allah maka Kafir
    Ma’rifat apapun jika tidak mengenal kepada Allah maka carilah Tuhan selain Allah.

    Komentar oleh pengembarajiwa — Oktober 20, 2008 @ 3:25 am

  2. Saudaraku…,

    Saya mau bertanya :

    Bagaimana pendapat Anda jika ada orang yang telah bermimpi bertemu dengan Rosulullah Muhammad Saw. Lalu bagaimanakah kehidupan Dunia dan Akhirat bagi mereka yang telah berjumpa dengan Nabi tadi di dalam Mimpi…… (Selamat atau Tidak?)

    Komentar oleh pengembarajiwa — Oktober 20, 2008 @ 3:38 am

  3. Alhamdulillah,
    Senang sekali sadaraku @pengembarajiwa berkunjung dan berkomentar, seandainya kita bertemu darat pasti saya rangkul dan saya peluk.

    saudaraku, komentar yang pertama rasanya udah kita bicarakan di blog anda(intinya) dan kita sudah memahami posisi kita masing-masing, saya merasa tidak perlu dibahas perbedaan kita, aku disini anda disana BIARKANLAH !

    “kehidupan Dunia dan Akhirat bagi mereka yang telah berjumpa dengan Nabi tadi di dalam Mimpi…… (Selamat atau Tidak?)”

    Kehidupan Akhirat, sorga, neraka, adalah milik YANG MAHA MEMILIKI yaitu ALLAH SWT. Maka ALLAH-lah yang berhak menetapkan siapa yang selamat di Sorga-dan siapa yang di Neraka atau siapa, dimana, bagaimana, semua itu HAK ALLAH semata. OTORITAS TUNGGAL. maka dari itu mari kita bertanya pada Yang Maha ber-HAK, dan jawabanya sbb:

    AL KAHFI 107. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,
    MARYAM 60. kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,
    THAHAA 82. Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
    …dll. ayat-ayat yang seperti tsb diatas jumlahnya ratusan, namun cukup tiga saja yang saya berikan. Dan anehnya tidak ada satu ayatpun yang menjamin jika orang “bermimpi bertemu Rosul ia selamat di akhirat”
    Rosul sendiri bersabda “sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur’an”, maka perkataan mana lagi yang akan kita pegang ?
    Saya hanya memegang perkataan yang terbaik yaitu Qur’an, tidak yang lain selain Qur’an.
    saya yakin saudaraku sependapat.
    AMIIN.

    Komentar oleh gustsrysyahidan — Oktober 20, 2008 @ 6:52 am

  4. Ass,Wr,Wb

    ============================================
    Rosul sendiri bersabda “sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur’an”, maka perkataan mana lagi yang akan kita pegang ?
    ============================================
    Alhamdulillah……. Saya sependapat dengan Anda.

    Terimakasih atas suguhan Ayat2 Al-Qur’an nya, semoga bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

    Teruslah berjuang, menegakkan Kalimah Allah di Muka Bumi ini, Saya dukung Anda.

    Dan semoga Anda sepakat dengan Saya untuk bersatunya Islam dengan menyerahkan segala perbedaan paham kepada Allah Swt, selanjutnya mengikat Tali Silaturrahmi kepada sesama di dalam ikrar 2 Kalimat Syahadat.

    Wassalam.

    Komentar oleh pengembarajiwa — Oktober 20, 2008 @ 6:40 pm

  5. Assalamu’alaikum,
    Sudaraku, sebagai kenang-kenangan perjumpaan kita kali ini, berikut adalah nasehat untuk kita bersama :

    Al-An’aam 93. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, …

    Al-Baqoroh 142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar menjalaninya.

    An-Nisaa’ 123. (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab (ahli Qur’an atau ahli Injil atau ahli Taurot atau salah satu diantara kitabbulloh). Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

    Terima kasih atas attensi-nya,

    Semoga kita dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik.
    Barokahhulloh…
    Alhamdulillah hirob-bul ‘aalamiin

    Wassalam

    Komentar oleh gustsrysyahidan — Oktober 21, 2008 @ 2:09 am

  6. Ass.
    ukutan nimbrung ah……….
    bleh naya ya………
    untuk apa sih kita diciptakan di muka bumi?
    cerita dikit ya.
    aku punya kekasih……
    (orang bilang)saat memadu kasih dunia terasa hanya berdua tidak ada yang alainnya.bagai mana kita punya keinginan (kanan dan kiri)
    (suatu ketika)saat si fakir ingin berjumpa dengan kekasihnya,tetapi kekasihnya mengujinya . dikasihlah dia makanan yang enak,apapun selain dia tersedia.
    bagai mana perasaan (rasa Hati)si fakir ….?
    apakah di memilih apa yang disediakan kekasihnya atau memilih berjumpa dengan kekasihnya?

    Komentar oleh Musafir — Desember 22, 2008 @ 7:56 am

  7. Diciptakannya Manusia tujuannya :
    Al Baqoroh: 30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” …

    Tujuan Khusus penciptaan Manusia: Untuk menjadi Kholifah, berkuasa di muka bumi, mengatur dan mengelola bumi. Menjadikan Aturan-aturannya (kalimatnya ) tinggi di muka Bumi.

    Kekasih tak akan bisa ditemui di dunia ini. Pertemuan dengan kekasih hanya dan hanya bisa terjadi setelah melewati Yaumul Akhir.

    Jika ingin bertemu kekasih jadikan Kalimat Kekasih menjadi Kalimat tertinggi lebih dulu. Yang berusaha sungguh-sungguh untuk itu, kelak bertemu Kekasih dan Mendapat Makanan Lezat yang juga tersedia. Akan dapat dua-duanya.

    Di Dunia tugas kita bukan untuk mencari pertemuan dengan Kekasih, tapi ditugaskan untuk menjadikan Kalimat Kekasih Tinggi di muka Bumi.

    Komentar oleh Gustri — Desember 22, 2008 @ 9:27 am

  8. ass,,,saya mau ikut tny gus. setelah kita meninggal yg akan kita temui itu kiamat dulu apa akhirat dulu, trs bagaimana dengan golongan yang lebih dulu beriman? apakah mereka juga akan menemui kiamat atau akhirat? trmksh gus

    Komentar oleh kawulane gusti — September 7, 2009 @ 12:08 pm

  9. Jawab:
    Wa’aalaikum salaam.
    Yang mengalami kiamat hanyalah Umat yang hidup di akhir Jaman.
    Yang menemui Akhirat adalah semua umat manusia yang pernah hidup dimuka bumi.

    Umat yang meninggal sebelum Kiamat, jiwanya dalam genggaman Allah di Alam Barzakh.Sampai hari dibangkitkan.
    Kelak mereka menemui akhirat. Tidak menemui(mengalami) Kiamat.

    Urutannya sbb :
    1.) Kehidupan dunia.(dialami semua manusia)
    2.) Kiamat (dialami umat yg di akhir zaman saja)
    3.) Hari berbangkit(dialami semua manusia)
    4.) Yaumul Hisab (dialami semua manusia)
    5.) Hari pembalasan (Sorga/Neraka)(dialami semua manusia)

    Komentar oleh Gustri — September 7, 2009 @ 2:51 pm

  10. assalamualaikum gus,,,mksh atas jwban Gustri,,,tp sy masih bingung,dalam urutan yg gustri sebutkan kenapa tidak ada akhirat? 1.kehidupan dunia,2.kiamat,3.hari berbangkit,4.yaumul hisab,5.hari pembalasan..kalau begitu akhirat ada di urutan ke berapa gus?,,dan sekarang tambah lagi yang ingin saya tanyakan,apakah hari kiamat dan hari berbangkit itu beda? terus sorga/neraka itu sebenarnya tempat atau suasana? terimakasih gus

    Komentar oleh kawulane gusti — September 8, 2009 @ 2:29 pm

  11. Hari pembalasan = hari akhirat (tiap di jiwa dibalasi sesuai amal perbuatannya)
    Hari Kiamat = saat Kiamat terjadi
    Hari berbangkit = saat manusia dibangkitkan (setelah kiamat)

    Sorga/neraka kata asalnya dr Bhs. Sansekerta untuk menerjemahkan kata JANNAH/JAHANAM.
    Sedang Jannah/Jahanam arti lugasnya adalah “Kebun yg subur/tempat yg membakar”.
    Jannah adalah tempat. Tempat yg subur. Jahanam adalah tempat yg membakar.

    yaa Aadamuskun anta wazauzukal JANNATA wakulaa minha ….(tinggalah kamu semua di sorga/jannah…..(tempat tinggal = berarti tempat)

    Komentar oleh Gustri — September 8, 2009 @ 3:57 pm

  12. assalamualaikum gus,,,terima kasih bnyk gus atas smua jawaban dr pertanyaan saya,,,sebenarnya msh banyak yg ingin saya tanyakan,tpsaya gak enak,agar tak menimbulkan prasangka negatif dr gustry saya kira ckp ertanyaan saya kali ini,hanya rasa ucap terima kasih bnyk pd gustry yg bs saya hatutrkan,,,semoga kita smua di masukkan gologan org yg mendapat Rahmat Hidayah ALLOH,,Amin.

    Komentar oleh kawulane gusti — September 9, 2009 @ 4:05 pm

  13. wa ‘aalaikumsalam @kawulane Gusti.
    sebenarnya saya bukan type yg suka berprasangka. Santai saja. Terima kasih mapir kemari jangan sungkan-sungkan…

    Komentar oleh Gustri — September 9, 2009 @ 5:59 pm

  14. assalamualaikum gus,,,terimakasih bny atas sikap gustri yang berbudi bowo leksono,,,gus bolehkah saya minta bantuan dan pendapapat gustri untuk membahas sasahidan yang konon di wejangkan oleh syeh siti jenar,,pakah menurut gustri sasahidan itu benar atau menyeleweng? terima kasih dan saya sangat mengharap petunjuk dari gustri,,,,

    Komentar oleh kawulane gusti — September 10, 2009 @ 1:13 pm

  15. Bersyahadat adalah salah satu Rukun Islam.

    Islam mengajarkan bahwa Kholiq dan Makhluk adalah dua entitas yg berbeda. Beda Dzat, beda wujud, dan berbeda dalam segala hal, baik substansinya maupun entitasnya. “Walam yaqullahu khufuwan akhad /Tidak yang menyamai Ke-Tunggalannya)”.

    Itu adalah prinsip di dalam Islam.

    Komentar oleh Gustri — September 11, 2009 @ 1:44 pm

  16. assalammuallaikum wr.wb. gus salam sejahtera selalu, maaf saya mau tanya gus apakah arti mimpi saya ini?? saya mimpi bertemu presiden sby dan istrinya duduk di atas kursi sambil tersenyum di rumah saya, dan saya duduk bersila di bawah,selama hidup saya blm pernah bermimpi,dan saya adalah seorang islam yg dulunya nakal,cari kerja selalu gagal,hidup susah,setelah saya bertaubat kepada allah swt.memohon ampunan dan kesehatan,keselamatan dunia akhirat, baru pada hari jumat jam 2 pagi setelah shalat tahajud saya bermimpi seperti itu. mohon gus pentafsirannya apakah baik/buruk untuk khidupan saya ? atas jwbnnya saya ucapkan,terima kasih.

    Komentar oleh anis — Maret 3, 2014 @ 4:10 am

  17. mohon maaf gus kyai, jika tak keberatan tolong jawabannya di sms kan lewat no hp saya; 085731220332. terima kasih gus. salam kenal

    Komentar oleh anis — Maret 3, 2014 @ 4:15 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: