Gustrisehat’sWeblog

SHIITE

 

 

 

 

 

 

Kebenaran
Yang Hilang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

Sayyid
Abdul-Husain Syarafuddin Al-Musawi

 

 

 

 

 

Daftar Isi

 

BAB I

Sejarah
Hidupku

 

BAB II

Dan
Tersingkaplah Kebohongan

Referensi-Referensi
Hadis

Riwayat
Turmudzi

Sanad Hadis
Pada Abu Dawud

Sanad Hadis
Pada Ibnu Majah.

Kenyatan
Sejarah Dan Hadis Ahlus Sunnah

Hadis Lain

Dialog Dengan
Muhaddis Dan Hafidz Kota Damaskus

Kesulitan
Ahlus Sunnah …

Para Khalifah
Adalah Para Imam Ahlul Bait

Ahlul Bait,
Jalan Untuk Berpegang Kepada Al-Kitab Dan Sunnah

 

BAB III

Hadis
“Kitab Allah dan ‘Itrah Ahlul Bait” …

Sanad Hadis

Jumlah Perawi
Dari Kalangan Sahabat

Jumlah Perawi
Dari Kalangan Thabi’in

Jumlah Para
Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad

Hadis
“Kitab dan ‘Itrah” di Dalam Kitab-Kitab Hadis

Keraguan
Terhadap Hadis Tzaqalain

Menolak
Keragu-Raguan

Jawaban
Kepada Ibnu Jauzi Atas …

Kritikan Ibnu
Taimiyyah

Hadis
Tsaqalain dan Keimamahan Ahlul Bait

 

BAB IV

Siapa Ahlul Bait
Itu?

Ahlul Bait Di
Dalam Ayat Tathhir

Hadis
Al-Kisa` Menentukan …

Ahlul Bait di
Dalam Aayat Mubahalah

 

BAB V

Kepemimpinan Ali di dalam Al-Qur’an Al-Karim

Bahasan
Pemutus

Teks Khutbah

 

BAB VI

Musyawarah dan Kekhilafahan Islam

Pembahasan
Tentang Ayat Musyawarah

Musyawarah,
dalam Kenyataan

Musyawarah
Dan Saqifah Bani Sa’idah

Saqifah Di
Dalam Kitab Tarikh Thabari

Para Sahabat
dan Ayat Inqilab

 

BAB VII

Tiga Kelompok Penyeleweng Kebenaran

Para
Sejarawan

Peranan
Sejarah Di Dalam Membangkitkan Umat

Kekuasaan Dan
Penyelewengan Sejarah

Bagaimana
Para Sejarahwan Mencatat Sejarah Syi’ah?

Pendapat Para
Ulama Tentang Saif Bin Umar

Contoh Lain

Jawaban Surat
Muawiyah Kepada Muhammad bin Abu Bakar

Kelompok
Muhaddis

Hadis Pada
Masa Muawiyah

Para Perawi
Hadis Dan Pemalsuan Kebenaran

Penulis dan
Peranan Mereka dalam …

Beberapa
Kitab Yang Ditulis Untuk Menentang Syi’ah

Kitab-Kitab
Syi’ah Yang Menjawab Dan Mengokohkan Kebenaran Mazhabnya

Para Ulama
Ahlus Sunnah Dan Kalangan Terpelajar Mereka …

Contoh-Contoh
Dari Penyelewengan Yang Dilakukan Para Penulis

 

BAB VIII

Mazhab Empat Dalam Sorotan

Perselisihan
Antar Mazhab

Sejenak
Bersama Para Imam Mazhab Yang Empat

1.   Imam Abu Hanifah

      Kemunculan
Abu Hanifah
 

      Fikih Abu
Hanifah

      Tikaman Pada
Abu Hanifah.

      Abu Hanifah
Dan Imam Ja’far ash-Shadiq as

2.   Imam Malik bin Anas

Tersebarnya
Mazhab Maliki

Tikaman
Terhadap Malik.

3.   Imam Syafi’i

Tikaman
Terhadap Syafi’i

4.   Imam Ahmad bin Hanbal

Kitab-Kitab
Peninggalan Ahmad

Malapetaka
Yang Menimpa Ahmad bin Hanbal

Pahlawan-Pahlawan
Yang Tidak Tunduk Pada Keadaan

Ahmad Pada
Masa Mutawakkil

Fikih Ahmad
bin Hanbal

Penutup

Fikih Di
Kalangan Syi’ah

Dialog
Yohanes Dengan Para Ulama Mazhab Empat

BAB IX

Akidah Ahlus Sunnah

Sekilas
Pandangan Sejarah

Madrasah
Hanbaliyah (Salafiyah)

a.   Ahmad Bin Hanbal, Ajarannya dalam Bidang
Keyakinan

Riwayat-Riwayat
Akan Pentingnya Akal

Contoh-Contoh
Hadis Tajsim

b.   Periode Ibnu Taimiyah (Ahmad bin Abdul Halim)

Diskusi
Tentang Tauhid Rububiyyah

Diskusi
Tentang Tauhid Uluhiyyah

Diskusi
Wahabi Tentang Pengertian Ibadah

Defenisi
Ibadah Berdasarkan Pemahaman Al-Qur’an

Apakah
Bertawassul Kepada Para Nabi Dan Orang-Orang Saleh Itu Haram?

Kontradiksi
antara Ajaran-Ajaran Asy’ariyah

Beberapa
Contoh Hadis Ahlul Bait Yang Menaflkan Keyakinan Ru’yah

Dalil-Dalil
Akal Kalangan Asy’ariyyah Tentang Bolehnya Ru’yah

Dalil-Dalil
Kalangan Asy’ariyyah Tentang Ru’yah Dari Al-Qur’an al-Karim

Beberapa
Catatan Atas Dalil-Dalil Di Atas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  I

 

Sejarah Hidupku

Hari-Hari Masa Kecilku

 

Minat keagamaan telah muncul sejak aku kecil, ada fitrah yang menarikku
untuk berpegang teguh kepada agama. Dalam bayanganku ke masa depan, pikiranku
tidak pernah keluar dari kerangka agama. Aku melihat diriku sebagai pahlawan
dan mujahid Islam yang mampu mengembalikan kehormatan agama dan kemuliaan
Islam. Pada saat itu aku belum lulus dari sekolah tingkat pertama. Maklum, pemikiranku
waktu itu masih dangkal. Begitu pula pengetahuanku tentang sejarah kaum
Muslimin dan peradabannya masih sangat terbatas. Aku belum mengetahui kecuali
beberapa kisah tentang Rasulullah saw dan peperangan yang dilakukannya terhadap
orang-orang kafir, dan kisah tentang kepahlawanan dan keberanian Imam Ali as.
Aku mempelajari pemerintahan Mahdiyyah di Sudan, aku merasa kagum dengan
kepribadian Usman Daqnah. Dia adalah salah seorang komandan pasukan Mahdi yang
pemberani di daerah timur Sudan. Jihad yang telah membangkitkan minat saya
manakala guru sejarah kami menggambarkan keberanian dan keagungan
kepribadiannya kepada kami. Dia seorang mujahid di antara bukit dan lembah.
Begitulah hatiku tertarik kepadanya. Saya bercita-cita ingin menjadi seperti
dirinya. Mulailah saya berpikir dengan pikiran saya yang masih dangkal, bahwa
untuk bisa mencapai tujuan ini maka jalan satu-satunya yang terbayang di dalam
benak saya ketika itu ialah saya harus menjadi lulusan akademi militer,
sehingga saya terlatih dalam strategi perang dan penggunaan senjata.
Bertahun-tahun saya hidup di atas angan-angan ini, hingga akhirnya saya pindah
ke sekolah tingkatan menengah. Pada tingkatan ini, pemahaman dan pengetahuan
saya mulai berkembang. Mulailah saya mengenal para pemimpin kemerdekaan dunia
Islam, seperti Abdur­rahman al-Kawakibi, as-Sanusi, Umar Mukhtar dan Jamaluddin
al-Afghani, seorang pejuang dan pemikir cemerlang yang bertolak dari
Afhghanistan, dan kemudian berpindah-pindah dari satu ibu kota negara Islam
yang satu kepada ibu kota negara Islam yang lain, dan begitu juga ke
negara-negara bukan Islam, untuk menyebarkan pemikiran yang hidup, yang
berbicara tentang sisi-sisi keterbelakangan dunia Islam dan bagaimana cara
menyembuhkannya.

Yang amat menarik perhatian saya ialah metode jihad yang dilakukannya.Dia
melakukannya melalui hikmah, penyebaran pengetahuan dan pengembangan pemikiran
di kalangan umat Islam, tidak melalui jalan memanggul senjata.

Saya pernah berkeyakinan bahwa setiap orang yang hendak berjuang dan
membela kaum Muslimin, mau tidak mau dia harus menghunus pedang dan masuk ke
dalam medan peperangan. Sementara cara yang ditempuh oleh Jamaluddin al-Afghani
sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini saya bayangkan. Metode kata dan
pendidikan yang sadar adalah sesuatu yang baru dalam pemikiran agama saya. Saya
tidak mampu dengan mudah melepaskan diri dari pemikiran dan cita-cita yang
telah saya bangun selama ini di dalam benak saya, meskipun saya sadar bahwa
krisis yang dialami umat ini ialah krisis pendi­dikan dan pemikiran.

Karena pendidikanlah yang mampu menjadikan setiap individu mau mengemban
tanggung jawabnya. Inilah Jamaluddin, dia mengelilingi dunia untuk menebarkan
cahaya dan keberkahan, dan menyebarluaskan pemikiran-pemikirannya, yang
mendapat sambutan yang hangat dari kaum Muslimin. Karena, pemikiran-pemikiran
yang dilontarkannya mampu menyelesaikan berbagai permasalahan mereka dan
sekaligus sejalan dengan kenyataan mereka. Yang demikian ini amat mencemaskan
kekuatan penjajah. Karena majalah al- ‘Urwah al-Wutsqa[1] saja sudah
merupakan tantangan yang berat bagi mereka, yang memaksa mereka untuk melarang
penerbitannya.

Pertanyaan yang selalu menghantui benak saya ialah,
Bagaimana seorang individu mampu mengubah perimbangan ini, dan bagaimana
seorang individu mampu membuat takut seluruh kekuatan besar?!

Untuk menjawab pertanyaan ini, di hadapan saya terbuka beberapa pintu
pertanyaan. Sebagiannya sederhana dan sebagiannya lagi tidak ada jawabannya di
Sudan. Ini menjadikan saya berusaha untuk dapat lepas dari kenyataan ini, dan
sekaligus melepaskan berbagai belenggu yang selama ini mendorong saya untuk
tunduk kepada kenyataan agama yang ada, supaya saya berjalan di dalam hidup ini
sebagaimana yang telah dilakukan oleh kakek-kakek saya. Akan tetapi, rasa
tanggung jawab yang ada di dalam diri saya, dan begitu juga kecintaan saya ke­pada
Jamaluddin al-Afghani membunyikan lonceng bahaya di dalam fitrah saya, sehingga
menjadikan saya bertanya-tanya,

Bagaimana saya bisa menjadi seperti Jamaluddin al-Afghani? Apakah agama
yang saya warisi ini mampu membawa saya kepada tingkatan itu? Kemudian saya
berkata, “Kenapa tidak?!” Apakah Jamaluddin mempunyai agama yang
berbeda dengan agama kita?! Dan Islam yang berbeda dengan Islam kita?!”

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya terombang-ambing selama bertahun-tahun,
dan setiap kali saya sampai kepada sebuah jawaban, maka itu berarti perubahan
pada pemahaman saya tentang agama secara umum. Maka saya pun melihat Jamaluddin
sebagai idola dan panutan, setelah sebelumnya Usman Daqnah, sehingga dengan
begitu tentunya berubah pula cara yang harus ditempuh. Setelah sebelumnya
akademi militer sebagai jalan keluar satu-satunya dalam pandangan saya, maka
sekarang cara damailah yang memperkenalkan saya kepada pemikiran Islam yang
orisinil, yang dari sela-selanya akan muncul kebangkitan Islam.

Bagaimana Permulaannya

Pembahasan tentang cara-cara dan pemikiran yang benar dan bertanggung jawab
adalah sesuatu bahasan yang sulit. Tahapan ini adalah tahapan yang sulit, meski
pun pembahasan yang saya bahas bersifat spontan. Sepanjang kehidupan saya, saya
sering bertanya, berdiskusi dan lain sebagainya, dan tidak ada waktu yang
kosong dari pembahasan.

Setelah serangan keras yang dilancarkan oleh kaum Wahabi ter­hadap Sudan,
dan pengintensifan diskusi dan dialog, serta semakin berkembangnya pergerakan
agama, mulailah tersingkap banyak kebenaran,dan semakin jelas berbagai
perselisihan dan pertentangan sejarah, keyakinan dan fikih. Kemudian mulailah
upaya-upaya pengkafiran terhadap beberapa kelompok dan keluar mereka dari tali
ikatan Islam, yang mendorong kepada terbentuknya mazhab-mazhab yang berbeda.

Meskipun pahit apa yang telah terjadi, namun minat saya untuk melakukan
pembahasan malah semakin bertambah, dan saya merasakan realitas
pertanyaan-pertanyaan spontan yang selama ini menggangu benak saya.

Besarnya perhatian saya kepada ajaran wahabi dikarenakan diskusi-diskusi
dan seminar-seminar yang mereka laksanakan telah menarik perhatian saya. Hal
terpenting yang saya pelajari dari mereka ialah keberanian menentang ajaran
yang ada. Saya pernah meyakini bahwa ajaran adalah sesuatu yang sakral, yang
tidak dapat diserang dan dikritik, meskipun saya banyak memberikan catatan
terhadap kenyataan yang ada, yang didasari oleh pertimbangan nurani dan fitrah
saya.

Saya terus berjalan bersama mereka, dan banyak sekali diskusi yang terjadi
diantara saya dan mereka, yang pada kenyataannya merupakan
pertanyaan-pertanyaan yang selama ini membingungkan benak saya. Saya memperoleh
jawaban yang memuaskan bagi sebagian pertanyaan saya, sementara jawaban
sebagian yang lain tidak dapat saya temukan pada mereka. Hal ini menjadi
jaminan bagi saya untuk bersimpati dan membantu mereka, namun dengan tetap
disertai beberapa catatan yang merintangi saya untuk berpegang secara penuh
kepada ajaran wahabi. Yang pertama dan yang terpenting dari itu ialah saya
tidak menemukan di sisi mereka apa yang dapat memenuhi cita-cita risalah saya.
Kadang-kadang, rasa was-was menghinggapi diri saya dengan mengatakan,
sesungguhnya apa yang engkau pikirkan dan yang engkau cari adalah sesuatu yang
utopis yang tidak ada kenyata­annya, dan ajaran wahabi adalah ajaran yang
paling dekat dengan Islam yang tidak ada tandingannya.

Saya berjalan mengikuti rasa was-was ini dan sekaligus membenarkannya,
disebabkan ketidaktahuan saya terhadap pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran
yang lain. Namun, dengan cepat saya sadar bahwa apa yang dilakukan oleh
Jamaluddin tidak mungkin merupakan pemikiran wahabi. Saya pernah berteriak
lantang, “Sesungguhnya ajaran wahabi adalah jalan yang paling dekat kepada
Islam — disebabkan mereka mengemukakan dalil-dalil dan nas-nas yang membenarkan
mazhab mereka, yang tidak saya temukan pada kelompok-kelompok lain di Sudan
namun kesulitan mereka ialah bahwa mazhab yang mereka bangun tidak ubahnya
seperti rumus-rumus matematika. Yaitu berupa kaidah-kaidah yang kaku, yang
tanpa memiliki refleksi peradaban yang jelas dalam kehidupan manusia, juga dalam
menghadapi berbagai macam tataran kehidupan. Baik dalam tataran individu,
tataran sosial, tataran ekonomi atau tataran politik, dan bahkan di dalam tata
cara berhubungan dengan Allah SWT. Bahkan sebaliknya, ajaran ini menjadikan
manusia menjadi liar dan terasing dari masyarakat, dan sekaligus memberikan
surat jaminan untuk mengkafirkan kelompok masyarakat yang tidak sepaham dengan
mereka. Setiap orang dari mereka tidak bisa hidup bersama dengan masyarakat.
Dia selalu membedakan diri dari masyarakat dengan pakaian dan tingkah lakunya.
Seluruh sisi kehidupannya tidak sejalan kecuali dengan teman-temannya.

Saya merasakan kesombongan dan keangkuhan dari mereka. Mereka memandang
manusia mempunyai kedudukan yang tinggi, namun dalam kehidupannya mereka tidak
mau bekerja sama dan membaur dengan masyarakat.

Bagaimana mungkin mereka dapat bekerja sama dengan masya­rakat?! Sementara
seluruh yang dilakukan masyarakat adalah bid’ah dan sesat dalam pandangan
mereka.

Saya masih ingat benar manakala bantuan wahabi masuk ke desa kami, dalam
jangka waktu yang tidak berapa lama, dengan tanpa didasari pengkajian dan
kesadaran, sekelompok besar dari para pemuda ikut bergabung ke dalam barisan
wahabi, namun tidak berapa lama kemudian mereka semua keluar dari barisan
tersebut. Menurut perkiraan saya ini disebabkan karena mazhab baru ini melarang
mereka berbaur dengan masyarakat, dan mengharamkan banyak sekali ke-biasaan
yang sudah mendarah daging pada diri mereka, yang sebenarnya kebiasaan itu
tidak bertentangan dengan agama.

Ada baiknya saya sebutkan, bahwa salah satu di antara yang menyebabkan para
pemuda yang bergabung dengan mazhab wahabi menderita ialah bahwa ada kebiasaan
di desa kami, dimana para pemudanya biasa duduk-duduk di atas hamparan pasir
yang bersih di saat malam-malam bulan purnama, di mana mereka menghabiskan
malamnya dengan mengobrol. Saat itulah merupakan satu-satunya kesempatan
bertemu bagi para pemuda desa setelah bekerja sepanjang hari di ladang dan
tempat-tempat kerja lainnya. Kini pemimpin mereka melarang perbuatan itu dan
mengharamkannya, dengan alasan bahwa Rasulullah saw telah mengharamkan
perbuatan duduk-duduk di atas jalan. Padahal tempat-tempat tersebut tidak
terhitung jalan. Kedua, dan ini merupakan masalah seluruh orang wahabi, yaitu
bahwa setiap orang dari mereka dalam waktu yang singkat dan dengan ilmu yang
sedikit telah menjadi seorang mujtahid yang berhak memberikan fatwa dalam
masalah apapun. Saya masih ingat, pada satu hari saya duduk berdiskusi dengan
salah seorang dari mereka mengenai banyak hal. Di tengah-tengah diskusi dia
bangkit berdiri setelah mendengar azan Magrib di mesjid mereka. Saya katakan
kepadanya, “Sabar, kita selesaikan dulu diskusi kita.” Dia menjawab,
“Tidak ada lagi diskusi. Telah datang waktu salat, mari kita salat di
mesjid.” Saya berkata kepadanya, “Saya salat di rumah”, meskipun
biasanya saya selalu salat bersama mereka. Dia berteriak lantang, “Batal
salat Anda.” Saya merasa heran dengan kata-kata ini dan sebelum saya
sempat meminta penjelasan darinya dia telah berbalik dan pergi. Saya berkata
kepadanya, “Sebentar, apa yang menyebabkan salat saya di rumah
batal?”

Dia menjawab dengan penuh kesombongan, “Rasulullah saw telah bersabda,
‘Tidak ada salat bagi tetangga mesjid kecuali di mesjid.'” Saya berkata
kepadanya, “Tidak ada perselisihan di dalam keutamaan salat berjamaah di
mesjid, namun ini bukan berarti hilangnya kesahan salat di selain tempat ini.
Hadis di atas sedang menekankan keutamaan di mesjid, bukan sedang menjelaskan
hukum salat di rumah. Adapun dalilnya ialah kita belum pernah melihat di dalam
fikih disebutkan bahwa salah satu yang membatalkan salat ialah salat di rumah,
dan tidak ada seorang pun dari fukaha yang memberikan fatwa demikian. Adapun
yang kedua, dengan hak apa Anda mengeluarkan hukum ini?! Apakah Anda seorang
fakih?!

Karena sulit sekali bagi seorang manusia untuk bisa memberikan fatwa dan
menjelaskan hukum tentang permasalahan tertentu. Seorang fakih harus
mempelajari seluruh nas yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dia harus
mengetahui petunjuk perintah (dilalah al-amr) dan petunjuk larangan (dilalah
an-nahy) di dalam nas. Apakah perintah menunjukkan kepada hukum wajib atau
hukum mustahab, apakah larangan menunjukkan kepada hukum haram atau hukum
makruh. Sungguh, agama ini amat dalam, maka selamilah dengan
kehati-hatian.”

Tampak kegusaran pada wajahnya. Dia cemberut dan berkata, “Anda telah
mentakwil hadis, dan takwil itu haram.” Lalu dia pun pergi.

Saya serahkan urusaan saya kepada Allah SWT dari manusia dungu seperti ini,
yang tidak memahami apa pun.

Pikiran inilah yang menjadi penyebab kedua yang menghalangi saya menjadi
seorang wahabi, meski pun saya banyak terpengaruh dengan pikiran-pikiran mereka
dan membelanya.

Dalam keadaan ini untuk beberapa waktu, saya bingung dan tidak mempunyai
arah. Terkadang saya mendekati mereka dan terkadang pula saya menjauhi mereka.
Saya melihat bahwa jalan satu-satunya yang ada di hadapan saya —sebagai ganti
dari sekolah di akademi militer— ialah saya harus belajar di fakultas atau
universitas Islam, sehingga saya dapat melanjutkan pengkajiaan saya dengan
lebih teliti. Setelah menyelesaikan ujian masuk universitas, di mana di sana
terdapat enam universitas atau institut yang diminati oleh para mahasiswa, saya
memilih fakultas Islam. Kini, saya telah selesai diterima di salah satu
fakultas Keislaman (yaitu fakultas studi Islam dan bahasa Arab di universitas
Wadi an-Nil di Sudan). Saya sangat senang dengan penerimaan ini. Setelah
menunaikan latihan kemiliteran (bela negara) —yang tidak mungkin seseorang
dapat memasuki perguruan tinggi kecuali setelah menunaikan latihan militer ini—
mulailah para utusan dari seluruh penjuru Sudan datang ke Universitas, dan saya
termasuk yang pertama dari mereka. Pada saat interview, direktur fakultas
bertanya kepada saya, tokoh mana yang Anda kagumi? Saya katakan kepadanya,
“Jamaluddin”, dan saya jelaskan kepadanya alasan saya mengaguminya.
Direktur fakultas merasa puas dengan jawaban saya. Setelah banyak mendapat
pertanyaan, akhirnya secara resmi saya pun diterima di fakultas. Di fakultas,
saya sering mengunjungi perpustakaan, terdapat banyak buku-buku dan
ensiklopedia yang tebal-tebal. Akan tetapi, kesulitan yang saya hadapi ialah
dari mana saya harus mulai? Dan apa yang harus saya baca?

Saya tetap dalam keadaan ini, berpindah dari suatu buku ke buku yang lain,
tanpa mempunyai program yang jelas. Salah seorang dari kerabat saya telah
membukakan pintu yang luas dan penting di dalam pembahasan dan penyelidikan,
yaitu mempelajari sejarah dan mengkaji mazhab-mazhab Islam, untuk bisa
mengetahui kebenaran di antara mereka. Sungguh ini merupakan pertolongan Allah
SWT yang tidak saya duga, saya bisa bertemu dengan kerabat saya Abdul Mun’im
—dia lulusan fakultas hukum— di rumah paman saya di kota Athbarah. Saat itu dia
sedang berbincang-bincang di halaman rumah dengan seorang anggota Ikhwanul
Muslimin yang merupakan tamu di rumah paman saya. Saya menajamkan pendengaran
saya untuk bisa melndengar apa yang sedang mereka perbincangkan…. Dengan
segera saya menuju kepada mereka manakala saya tahu topik yang menjadi
perbincangan mereka adalah masalah-masalah agama. Saya duduk di dekat mereka,
dan memperhatikan perkembangan perbincangan. Tampak sekali Abdul Mun’im begitu
tenang di dalam perbincangan tersebut, meski pun begitu gencar provokasi dan
serangan dari pihak lawan. Saya tidak mengetahui secara menyeluruh watak
diskusi yang sedang berlangsung, hingga akhirnya anggota Ikwanul Muslimin itu
berkata, “Sy’iah itu kafir dan zindiq!!”

Di sini saya mulai mengerti, dan timbul pertanyaan
di benak saya….

Siapakah Syi’ah itu? Kenapa mereka kafir?

Apakah Abdul Mun’im orang Syi’ah?

Apa yang dikatakannya sesuatu yang asing. Apakah
itu perkataan Syi’ah?!

Harus diakui bahwa Abdul Mun’im telah dapat mengalahkan lawannya pada
setiap masalah yang dikemukaan di dalam diskusi, di samping tampak sekali
kemampuan logika dan kekuatan argumentasinya.

Setelah selesai diskusi dan mengerjakan salat magrib, saya mendekati Abdul
Mun’im. Saya bertanya kepadanya dengan penuh hormat, “Apakah Anda seorang
Syi’ah? Siapakah orang Syi’ah itu? Dan, dari mana Anda mengenal mereka?”

Abdul Mun’im berkata, “Pelan-pelan, satu pertanyaan demi satu
pertanyaan”.

Saya berkata kepadanya, “Maaf, saya masih bingung dengan apa yang saya
dengar dari Anda.”

Abdul Mun’im menjawab, “Ini sebuah pembahasan yang panjang, yang
merupakan hasil kerja keras selama empat tahun, dan itu pun masih belum sampai
kepada kesimpulan yang diinginkan.”

Saya potong pembicaraannya, “Kesimpulan apakah itu?”

Abdul Mun’im menjawab, “Kita hidup di atas timbunan kebodohan dan
pembodohan sepanjang hidup kita. Kita berjalan di belakang masyarakat kita
dengan tanpa bertanya, apakah agama yang ada di sisi kita ini adalah yang
dikehendaki oleh Allah SWT, yaitu Islam? Setelah melakukan pengkajian, menjadi
jelas bagi saya bahwa kebenaran sejauh dalam pandangan saya, yaitu Syi’ah.

Saya berkata kepadanya, “Mungkin Anda tergesa-gesa, atau Anda salah…
!”

Mendengar itu dia tersenyum sambil berkata, “Kenapa Anda sendiri tidak
mengkajinya dengan teliti dan penuh kesabaran? Apalagi Anda mempunyai perpustakaan
di universitas, yang akan memberikan manfaat yang banyak sekali kepada
Anda.”

Saya berkata dengan penuh keheranan, “Perpustakaan kami perpustakaan
Ahlus Sunnah, bagaimana mungkin saya dapat mengkaji Syi’ah?”

Abdul Mun’im menjawab, “Salah satu bukti dari kebenaran Syi’ah ialah
mereka berargumentasi atas kebenaran mereka dengan menggunakan kitab-kitab dan
riwayat-riwayat ulama Ahlus Sunnah. Karena di dalamnya banyak sekali hal-hal
yang menjelaskan kebenaran mereka dengan jelas sekali.”

Saya menimpali, “Kalau begitu, sumber-sumber rujukan Syi’ah adalah
sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah itu sendiri?”

Abdul Mu’im menjawab, “Tidak, Syi’ah mempunyai sumber-sumber rujukan
tersendiri, yang jumlahnya berkali-kali lipat dibandingkan sumber-sumber
rujukan Ahlus Sunnah, dan semuanya diriwayatkan dari Ahlul Bait as dan dari
Rasulullah saw. Namun demikian, mereka berargumentasi kepada Ahlus Sunnah
dengan menggunakan riwayat-riwayat yang ada di dalam sumber-sumber rujukan
Ahlus Sunnah, dikarenakan Ahlus Sunnah tidak percaya kepada apa yang ada pada
sisi mereka, maka mau tidak mau mereka harus berhujjah dengan apa-apa yang
diyakini oleh kalangan Ahlus Sunnah.”

Pembicaraannya menyenangkan saya dan membuat saya tambah berminat untuk
melakukan pembahasan. Saya tanya kepadanya, “Kalau begitu, bagaimana saya
harus memulai?”

Abdul Mu’in menjawab, “Apakah di perpustakaan Anda terdapat kitab
Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Musnad Ahmad, Turmudzi dan Nasa’i?”

Saya menjawab, “Tentu saja, di perpustakaan kami terdapat sekumpulan
besar kitab-kitab hadis rujukan.”

Abdul Mu’im berkata, “Mulailah dari sini. Kemudian, bacalah
kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab sejarah, karena di dalam kitab-kitab ini
terdapat hadis-hadis yang menunjukkan wajibnya mengikuti ajaran Ahlul Bait
as.”

Mulailah dia menyebut beberapa contoh darinya, dengan tidak lupa
menyebutkan sumbernya, sekaligus dengan nomer jilid dan nomer halamannya. Saya
terheran-heran. Dengan penuh perhatian saya mendengarkan hadis-hadis yang belum
pernah saya dengar sebelumnya. Saya ragu apakah hadis-hadis ini benar-benar ada
di dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Namun dengan segera Abdul Mun’im memotong
keraguan saya itu dengan mengatakan, “Catat hadis-hadis ini oleh Anda, dan
kemudian carilah di perpustakaan. Nanti kita ketemu lagi pada hari Kamis yang
akan datang —Insya Allah.”

Pada Hari Jumat

Setelah saya merujuk hadis-hadis tersebut ke dalam Sahih Bukhari, Muslim
dan Turmudzi di perpustakaan universitas kami, saya menjadi yakin akan
kebenaran apa yang dikatakannya. Saya kaget dengan serangkaian hadis-hadis lain
yang lebih menunjukkan kepada wajibnya mengikuti Ahlul Bait, yang membuat saya
menjadi shok. Kenapa kita belum pernah mendengar hadis-hadis ini sebelumnya?!

Maka saya pun menunjukkan serangkaian hadis ini kepada sebagian teman-teman
saya, supaya mereka pun ikut serta berpartisipasi di dalam kesulitan ini.
Sebagian dari mereka memberikan perhatian, sementara sebagiannya lagi tidak
begitu peduli. Namun saya telah bertekad untuk melanjutkan pengkajian, meski
pun untuk itu saya harus menghabiskan seluruh umur saya. Ketika tiba hari
Kamis, saya pergi ke Abdul Mun’im. Dia menyambut kedatangan saya dengan penuh
senang hati. Dia berkata, “Anda tidak boleh tergesa-gesa, Anda harus
melanjutkan pengkajian Anda dengan penuh kesadaran.”

Kemudian kami mulai membahas permasalahan-permasalahan lain yang beraneka
macam, dan itu terus berlangsung hingga Jumat sore. Saya banyak mendapatkan
manfaat dari pembahasan-pembahasan itu, dan banyak mengetahui sesuatu yang
sebelumnya saya tidak ketahui. Sebelum saya kembali ke kampus dia meminta saya
untuk membahas beberapa masalah. Demikianlah hal itu berlangsung hingga
beberapa waktu. Diskusi yang berlangsung di antara saya dengan dia selalu
berubah dari waktu ke waktu. Terkadang saya berbicara keras kepadanya, dan
terkadang saya membantah beberapa permasalahan yang sudah amat jelas. Sebagai
contoh, ketika saya merujuk beberapa hadis di dalam kitab-kitab rujukan, dan
saya meyakini keberadaannya, saya katakan kepadanya, “Hadis-hadis ini
tidak ada.” Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang mendorong saya
melakukan itu, selain dari perasaan merasa terdesak dan menginginkan
kemenangan.

Dengan cara ini, dan dengan semakin bertambahnya pembahasan, tersingkaplah
kebenaran di hadapan saya yang tidak saya perkirakan sebelumnya. Sepanjang
periode ini saya banyak melakukan diskusi dengan teman-teman. Ketika meraka
tidak mampu lagi menghadapi saya, mereka meminta saya untuk berdiskusi dengan
doktor yang mengajarkan mata kuliah ilmu fikih kepada kami. Saya katakan, “Tidak
ada halangan bagi saya, namun terdapat penghalang di antara saya dengan dia
yang menghalangi saya dapat berbicara bebas dengannya.” Mereka tidak
merasa puas dengan jawaban saya. Mereka mengatakan, “Di antara kami dan
Anda ada dosen, jika argumentasi Anda dapat memuaskannnya maka kami akan
bersama Anda..!”

Saya katakan, “Yang menjadi masalah bukanlah memuaskan atau tidak
memuaskan, yang menjadi masalah ialah dalil dan argumentasi, dan pencarian akan
kebenaran….”

Pada permulaan mata kuliah fikih mulailah saya berdiskusi dengan dosen saya
dalam bentuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Nampak dia tidak banyak
menentang saya, bahkan sebaliknya dia menekankan kecintaan kepada Ahlul Bait as
dan keharusan mengikuti mereka, serta menyebut keutamaan-keutamaan mereka.
Selang be­berapa hari dia meminta saya untuk menemuinya di kantornya, di kantor
pusat universitas. Setelah saya pergi menemuinya, dia menyodorkan kepada saya
sebuah kitab yang terdiri dari beberapa juz, yaitu kitab Sahih al-Kafi, yang
termasuk kitab rujukan hadis yang paling dipercaya di kalangan Syi’ah. Dia
meminta kepada saya untuk tidak semberono terhadap kitab ini, karena kitab ini
merupakan warisan dari Ahlul Bait. Saya tidak dapat berbicara sepatah kata pun
karena saking gugupnya, lalu saya ambil kitab itu dan mengucapkan terima kasih
kepadanya.

Saya pernah mendengar kitab ini namun saya belum pernah melihatnya. Hal ini
menjadikan saya ragu apakah doktor ini seorang Syi’ah, meski pun saya tahu dia
itu seorang Maliki. Setelah bertanya ke sana ke mari, menjadi jelas bagi saya
bahwa dia itu se­orang sufi yang mencintai Ahlul Bait as.

Ketika teman-teman saya melihat kesesuaian di
antara saya dengan dosen tersebut, mereka meminta kepada saya untuk berdiskusi
dengan dosen lain, yang mengajarkan mata kuliah hadis. Dosen mata kuliah hadis
tersebut adalah seorang laki-laki yang taat beragama, sangat tawadu dan baik
akhlaknya. Saya amat mencintainya. Maka saya pun memenuhi permintaan mereka.
Mulailah terjadi diskusi di antara kami dalam banyak masalah. Saya menanyakan
kepadanya tentang kesahihan beberapa hadis, dan dia pun menguatkan kesahihan
hadis-hadis tersebut. Setelah berjalan beberapa waktu, saya merasakan
ketidaksukaan dia dengan diskusi-diskusi saya, dan begitu juga teman-teman saya
merasakan hal yang sama. Maka saya pun berpikir bahwa cara yang paling baik
untuk melanjutkan diskusi ialah melalui tulisan. Lalu saya tulis sekumpulan
hadis dan riwayat yang menunjukkan secara jelas akan wajibnya mengikuti Ahlul
Bait as, dan saya minta kepadanya untuk membahas kesahihan hadis-hadis ini.
Setiap hari saya meminta jawaban darinya, namun dia membela diri dengan
mengatakan tidak ada pembahasan. Saya terus mengikutinya dengan cara ini,
hingga dia merasakan rasa kegelisahan saya.

Dia mengatakan kepada saya, “Semuanya
sahih.”

Saya katakan, “Semuanya jelas menunjukkan
wajibnya mengikuti Ahlul Bait.”

Dia tidak menjawab, melainkan bergegas pergi ke kantor. Tindakannya ini
merupakan goncangan bagi saya, dan menjadikan saya merasakan kebenaran akan
perkataaan Syi’ah. Namun saya ingin perlahan-lahan dan tidak ingin tergesa-gesa
di dalam memutuskan.

Kebetulan, dekan fakultas kami adalah Profesor ‘Alwan. Dia mengajar mata
kuliah tafsir bagi kami. Pada suatu hari dia berbicara tentang tafsir firman
Allah SWT yang berbunyi, “Seorang peminta telah meminta kedatangan azab
yang bakal terjadi”,

“Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru
manusia, maka mereka pun berkumpul. Lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali
as seraya berkata, ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali
sebagai pemimpinnya.’ Berita itu pun tersebar ke seluruh pelosok negeri, dan
sampai kepada Harits bin Nukman al-Fihri. Lalu dia mendatangi Rasulullah saw
dengan menunggang untanya. Kemudian dia menghentikan untanya dan turun darinya.
Harits bin Nukman al-Fihri berkata,

‘Hai Muhammad, kamu
telah menyuruh kami tentang Allah, supaya kami bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah dan bahwa kamu adalah utusan-Nya, dan kami pun menerimanya. Kamu
perintahkan kami untuk menunaikan salat lima waktu, dan kami pun menerimanya.
Kamu perintahkan kami untuk menunaikan zakat, dan kami pun menerimanya. Kamu
peritahkan kami untuk berpuasa di bulan Ramadhan, dan kami pun menerimanya.
Kamu perintahkan kami untuk melaksakan ibadah haji, dan kami pun menerimanya.
Kemudian kamu tidak merasa puas dengan semua ini sehingga kamu mengangkat
tangan sepupumu dan mengutamakannya atas kami semua dengan mengatakan, ‘Siapa
yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya. ‘Apakah
ini dari kamu atau dari Allah?’

Rasulullah saw menjawab, ‘Demi Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia,
sesungguhnya ini berasal dari Allah SWT.’ Mendengar itu Hants bin Nukman
al-Fihri berpaling dari Rasulullah saw dan bermaksud menuju ke kendaraannya
sambil berkata, ‘Ya Allah, seandainya apa yang dikatakan Muhammad itu benar
maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab
yang pedih.’ Maka sebelum Harits bin Nukman al-Fihri sampai ke kendara­annya
tiba-tiba Allah menurunkan sebuah batu dari langit yang tepat mengenai
ubun-ubunnya dan kemudian tembus keluar dari duburnya, dan dia pun mati.
Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya,

‘Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal
terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.’
[2]

Setelah selesai pelajaran salah seorang teman saya
menemuinya dan berkata kepadanya, “Apa yang telah Anda katakan adalah
perkataan Syi’ah.” Bapak dekan tertegun sejenak, kemudian memandang ke
arah pemerotes seraya berkata, “Panggil Mu’tashim ke ruang
kantor…!”

Saya merasa heran dengan permintaan ini, dan merasa
takut bertemu bapak dekan. Namun saya cepat-cepat menguasai diri saya dan pergi
menemuinya. Sebelum sempat saya duduk, bapak dekan berkata kepada saya,
“Anda orang Syi’ah!”

Saya menjawab, “Saya semata-mata hanya seorang
yang sedang mengkaji.”

Bapak dekan berkata, “Pengkajian itu sesuatu
yang bagus, dan sesuatu yang harus.”

Bapak dekan mulai menyebutkan beberapa kecurigaan tentang Syi’ah yang
banyak disebut orang. Namun dengan pertolongan Allah SWT saya bisa menjawab
semua itu dengan sekuat-kuatnya dalil dan argumentasi, dan dapat lancar
berbicara melebihi dari yang saya duga. Sebelum menutup pembicaraan kami, dia
berpesan kepada saya akan kitab al-Muraja ‘at. Dia mengatakan, “Kitab
al-Muraja ‘at termasuk kitab yang bagus dalam hal ini.”

Setelah saya membaca kitab al-Muraja ‘at, Ma’alim
al-Madrasatain dan beberapa kitab yang lain, maka kebenaran pun menjadi jelas
bagi saya dan tersingkaplah kebatilan dari hadapan saya, disebabkan dalil-dalil
yang jelas, dan argumentasi-argumentasi yang terang, yang menunjukkan kebenaran
mazhab Ahlul Bait as, yang terkandung di dalam kedua kitab ini. Dengan begitu,
kekuatan saya di dalam berdiskusi dan mengkaji pun menjadi semakin bertambah,
sehingga Allah SWT membukakan cahaya kebenaran di dalam hati saya, dan saya pun
mengumumkan Kesyi’ahan saya.

Selanjutnya mulailah periode baru dari pergumulan.
Orang orang yang tidak mampu berdiskusi, mereka tidak menemukan jalan lain
selain dari jalan olok-olok, caci maki, ancaman, fitnah dan jalan-jalan
kebodohan lainnya. Saya serahkan seluruh urusan saya kepada Allah SWT, dan saya
sabar dengan apa yang terjadi, meskipun serangan-serangan yang dialamatkan
kepada saya itu berasal dari teman-teman saya, yang telah mengharamkan makan
dan tidur dengan saya dalam satu atap.

Mereka mengasingkan saya secara penuh, kecuali sebagian teman yang lebih
paham dan lebih terbuka. Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya saya bisa
menormalkan kembali hubungan saya dengan semuanya, dan dalam bentuk yang lebih
baik dari yang semula. Bahkan saya menjadi orang yang dihormati dan dihargai di
tengah-tengah mereka. Sebagian mereka meminta pertimbangan saya di dalam setiap
masalah yang kecil maupun yang besar, dari masalah-masalah kehidupannya. Namun
ini semua tidak berlangsung lama. Api fitnah pun kembali menyala, setelah tiga
orang mahasiswa lainnya mengumum­kan Kesyi’ahan mereka, di samping sekelompok
besar mahasiswa yang menampakkan simpati dan dukungan mereka kepada Syi’ah.
Serangkaian konflik dan guncangan pun mengelilingi kami, dan kami menghadapi
semua itu dengan berpegang teguh kepada akhlak dan hikmah, sehingga kami mampu
menghilangkan kemarahan dengan sesegera mungkin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  II

 

Dan
Tersingkaplah Kebohongan

 

Hadis
yang menyatakan “Kamu harus
berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin sepeninggalku,
dan peganglah erat-erat serta gigitlah dengan gigi gerahammu”
dan
hadis yang menyatakan “Sesungguhnya
aku meninggalkan dua perkara yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya
kamu tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunahku”
, keduanya
bagi saya merupakan dalil terkuat yang saya gunakan ketika saya cenderung
kepada pemikiran Wahabi. Saya hafal betul kedua hadis tersebut sering
diulang-ulang oleh para ulama mereka di dalam buku-buku dan ceramah-ceramahnya,
tidak terlintas di dalam benak saya untuk memeriksa referensi aslinya. Bagi
saya kedua hadis itu sebagai sesuatu yang pasti dan tidak perlu diragukan lagi.
Karena kedua hadis itu merupakan dasar utama bangunan pemikiran Ahlus Sunnah,
lebih khusus lagi pemikiran Wahabi yang dibangun kokoh di atas dasar kedua
hadis ini. Tidak terlintas sedikit pun di dalam benak saya untuk meragukan
kesahihan kedua hadis tersebut. Hadis ini pula yang menjadi landasan titik
tolak bergabungnya saya ke dalam mazhab Ahlus Sunnah. Oleh Karenanya, keraguan
terhadap hadis tersebut merupakan keraguan akan keanggotan saya ke dalam mazhab
Ahlus Sunnah.

Pemikiran
ini bukanlah merupakan produk jaman sekarang atau produk pemikiran Ahlus
Sunnah, melainkan telah dirancang sejak masa silam dengan tujuan untuk
menyembunyikan kebenaran dan menghadapi jalan Ahlul Bait, memerankan Islam
dengan bentuknya yang paling indah. Namun sangat disayangkan, kebanyakkan
mazhab pemikiran berdiri di atas reruntuhan perancang yang jahat itu. Mereka
menganut pemikiran-pemikirannya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah sebagai
sesuatu yang turun dari Allah. Mereka menyebarkan dan membelanya dengan segala
cara. Wahabi merupakan contoh yang jelas dari korban perancang jahat tersebut,
yang telah menjerumuskan umat Islam ke dalam jurang perpecahan.

Kita akan
berusaha menyingkap sedikit tipu daya dan persekongkolannya pada tiap-tiap bab
buku ini.

Yang
perlu menjadi perhatian kita dari perancang di atas, di dalam masalah ini,
ialah bahwa kedua hadis di atas adalah merupakan langkah pertama untuk
menyelewengkan agama, merubah perjalanan risalah dan menjauhkan kaum Muslimin
dari hadis Rasulullah saw, “Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua
perkara yang sangat berharga, yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya
niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku selama-lamanya, yaitu Kitab
Allah dan ‘itrah Ahlul Baitku”
, yang merupakan hadis mutawatir
yang diriwayatkan oleh kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah dan Syi’ah, namun
tangan-tangan jahil telah berusaha menyembunyikannya dari pandangan manusia,
dan sebagai gantinya mereka menyebarkan hadis “Kitab Allah dan
sunahku” dan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan
sunah para Khulafa` Rasyidin….” yang kelak akan tersingkap
ke-dhaifan-nya.

Saya
terkejut manakala mendengar pertama kali hadis “… Kitab Allah dan ‘itrah
Ahlul Baitku”. Saya takut … dan berharap hadis itu tidak sahih, karena
dia akan meruntuhkan bangunan pemikiran agama saya, dan bahkan lebih jauh lagi
akan merobohkan tiang penyangga Ahlus Sunnah. Namun, angin bertiup tidak
sebagaimana yang diinginkan perahu …. dan yang terjadi justru sebaliknya
manakala saya memeriksa kedua hadis di atas ke dalam referensi-referensi
aslinya, saya menemukan bahwa hadis “.. Kitab Allah dan ‘itrah Ahlul
Baitku …” termasuk hadis sahih yang tidak dapat seorang pun meragukannya.
Berbeda dengan hadis “… Kitab Allah dan sunahku ..”, yang tidak
lebih hanya merupakan hadis ahad yang marfu’ atau mursal. Melihat itu hati saya
menjadi terpukul. Dari sinilah awal mula saya melakukan pembahasan. Setelah itu
mulailah terkumpul beberapa petunjuk satu demi satu, sehingga pada akhirnya
tersingkaplah kebenaran dengan sejelas-jelasnya. Di sini kita akan buktikan
ke-dhaif-an hadis “Kamu harus berpegang kepada sunahku dan sunah para
Khulafa` Rasyidin ..” dan hadis “.. Kitab Allah dan sunahku ..”,
serta sekaligus kesahihan hadis “.. Kitab Allah dan ‘itrah Ahlul Baitku
..”, yang merupakan peluru pertama yang mengenai jantung pemikiran Ahlus
Sunnah.

Hadis
“Kamu Harus Berpegang Teguh Kepada Sunahku Dan Sunah Para Khulafa`
Rasyidin” Merupakan Kebohongan Yang Nyata

“Kamu harus berpegang teguh kepada
sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin sepeniggalku, dan peganglah erat-erat
serta gigitlah dengan gigi gerahammu.”

Orang
yang melihat hadis ini untuk pertama kali dia akan mengira hadis ini merupakan
hujjah yang kokoh dan petunjuk yang jelas akan kewajiban mengikuti mazhab para
Khulafa` Rasyidin. Yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin
Affan dan Ali bin Abi Thalib, dan tidak mungkin membawanya ke arti lain,
kecuali dengan melakukan takwil yang didasari ta’assub. Dari sini tampak sekali
kehebatan tipuan dan kelihaian para pemalsu. Di dalamnya mereka menetapkan
kebenaran mazhab Ahlus Sunnah —madrasah Khulafa` Rasyidin— dihadapan madzhab
Syi’ah —madrasah Ahlul Bait. Dari sini kita dapat menjelaskan bahwa pertumbuhan
madrasah-madrasah pemikiran Ahlus Sunnah adalah di dalam rangka menentang
mazhab Ahlul Bait. Karena madrasah-madrasah tersebut berdiri di atas dasar
hadis ini dan hadis-hadis lain yang sepertinya.

Namun,
dengan menggunakan pandangan ilmiah dan dengan sedikit bersusah payah di dalam
meneliti kenyataan sejarah dan hal-hal yang melingkupi hadis ini dan
hadis-hadis lain yang sepertinya, atau dengan melihat ke dalam ilmu hadis dan
ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil, niscaya akan tampak dengan jelas kebohongan hadis
ini.

Sungguh
sangat bodoh jika seorang Ahlus Sunnah berhujjah kepada orang Syi’ah dengan
hadis ini. Itu dikarenakan hadis ini hanya ada di kalangan Ahlus Sunnah,
sehingga mereka tidak bisa memaksa orang Syi’ah dengan hadis yang tidak mereka
riwayatkan di dalam kitab-kitab referensi mereka.

Namun,
disebabkan saya seorang pembahas dari kalangan Ahlus Sunnah maka mau tidak mau
saya harus bertitik tolak dari kitab-kitab referensi Ahlus Sunnah, sehingga
dapat menjadi pegangan bagi saya; dan ini yang menjadi acuan saya di dalam
melakukan pembahasan. Kita harus bersandar kepada acuan ini di dalam berdialog
dan berargumentasi. Karena sebuah argumentasi tidak dapat dikatakan argumentasi
kecuali jika mengikat pihak lawan, sehingga menjadi hujjah baginya. Dan ini
yang tidak disadari oleh kebanyakkan ulama Ahlus Sunnah manakala mereka
berhujjah kepada orang-orang Syi’ah. Misalnya, mereka berhujjah dengan
menggunakan hadis ini, sementara orang Syi’ah berhujjah dengan menggunakan
hadis “.. Kitab Allah dan ‘itrah Ahlul Baitku ..” Perbedaan di antara
kedua hujjah ini sangat besar sekali. Karena hadis “sunahku” hanya
ada di dalam kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah sementara hadis “‘itrah Ahlul
Baitku” dapat ditemukan di dalam kitab-kitab hadis kedua kelompok.

REFERENSI-REFERENSI
HADIS

Sesungguhnya
kesulitan pertama yang dihadapi hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada
sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin …” ialah Bukhari Muslim
membuangnya dan tidak meriwayatkannya. Dan ini berarti kekurangan di dalam
derajat kesahihannya. Karena sesahih-sahihnya hadis adalah hadis-hadis yang
diriwayatkan oleh dua orang Syeikh, yaitu Bukhari dan Muslim. Kemudian yang
diriwayatkan oleh Bukhari saja. Lalu yang diriwayatkan oleh Muslim saja.
Kemudian yang memenuhi syarat keduanya. Kemudian yang memenuhi syarat Bukhari
saja. Dan kemudian yang memenuhi syarat Muslim saja. Keutamaan-keutaman ini
tidak terdapat di dalam hadis di atas.

Hadis di atas terdapat di dalam Sunan Abu
Dawud, Sunan Turmudzi dan Sunan ibnu Majah.

Para
perawi hadis ini seluruhnya tidak lolos dari kelemahan dan tuduhan dalam
pandangan para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Orang yang meneliti biografi
mereka dapat melihat hal ini dengan jelas. Pada kesempatan ini saya tidak bisa
mendiskusikan seluruh para perawi hadis ini seorang demi seorang, dengan
berbagai macam jalannya, dan dengan menukil pandangan para ulama ilmu al-Jarh
wa at-ta’dil tentang mereka. Melainkan saya akan mencukupkan dengan hanya
mendhaifkan seorang atau dua orang perawi dari musnad setiap riwayat. Itu sudah
cukup digunakan untuk mendhaifkan riwayat tersebut, sebagaimana yang disepakati
oleh para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Karena, bisa saja perawi yang dhaif
ini sendiri yang telah membuat riwayat ini.

Riwayat
Turmudzi

Turmudzi
telah meriwayatkan hadis ini dari Bughyah bin Walid. Dan, inilah pandangan para
ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil tentang Bughyah bin Walid: Ibnu Jauzi berkata
tentangnya di dalam sebuah perkataan, “Sungguh kami ingat bahwa Bughyah
telah meriwayatkan dari orang-orang yang majhul dan orang-orang lemah. Mungkin
saja dia tidak menyebutkan mereka dan tidak menyebutkan orang-orang yang
meriwayatkan baginya.”[6]

Ibnu
Hiban berkata, “Tidak bisa berhujjah dengan Bughyah.”[7] Ibnu Hiban
juga berkata, “Bughyah seorang penipu. Dia meriwayatkan dari orang-orang
yang lemah, dan para sahabatnya tidak meluruskan perkataannya dan membuang
orang-orang yang lemah dari mereka.”[8]

Abu Ishaq
al-Jaujazani berkata, “Semoga Allah merahmati Bughyah, dia tidak peduli
jika dia menemukan khurafat pada orang tempat dia mengambil hadis.”[9]

Dan
ucapan-ucapan lainnya dari para huffadz dan ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Dan
apa yang telah kita sebutkan itu sudah cukup.

Sanad
Hadis Pada Abu Dawud

Walid bin
Muslim meriwayatkan hadis dari Tsaur an-Nashibi. Sebagaimana kata Ibnu Hajar
al-‘Asqolani, “Kakeknya telah terbunuh pada hari Muawiyah terserang
penyakit sampar. Adapun Tsaur, jika nama Ali disebut dihadapannya dia
mengatakan, “Saya tidak menyukai laki-laki yang telah membunuh kakek
saya.”[10]

Adapun
berkenaan dengan Walid, adz-Dzahabi berkata, “Abu Mushir mengatakan Abu
Walid seorang penipu, dan mungkin dia telah menyembunyikan cacat para
pendusta.”[11]

Abdullah
bin Ahmad bin Hambal berkata “Ayah saya ditanya tentangnya (tentang
Walid), dia menjawab, ‘Dia seorang yang suka mengangkat-angkat.”[12]

Dan
begitu juga perkataan-perkataan yang lainnya. Itu sudah cukup untuk mendhaifkan
riwayatnya.

Sanad
Hadis Pada Ibnu Majah.

Diriwayatkan
melalui tiga jalan:

– Pada
jalan hadis pertama terdapat Abdullah bin ‘Ala. Adz-Dzahabi berkata tentangnya,
“Ibnu Hazm berkata, ‘Yahya dan yang lainnya telah mendaifkannya.’[13]
Dia telah meriwayatkan hadis dari Yahya, dan Yahya adalah seorang yang majhul
dalam pandangan Ibnu Qaththan.”[14]

– Adapun
pada jalan yang kedua terdapat Ismail bin Basyir bin Manshur. Dia itu seorang
pengikut aliran Qadariyyah di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib.[15]

Adapun
pada jalan ketiga disisi ibnu majah adalah sebagai berikut: Hadis diriwayatkan
dari Tsaur —seorang nashibi— Abdul Malik bin Shabbah. Di dalam kitab Mizan
al-I’tidal disebutkan, “Dia dituduh mencuri hadis.”[16]

Di
samping itu, hadis tersebut sebagai hadis ahad. Seluruh riwayatnya kembali
kepada seorang sahabat, Urbadh bin Sariyah. Hadis ahad tidak bisa digunakan
sebagai hujjah, disamping Urbadh termasuk pengikut dan agen Muawiyah.

 

 

Kenyatan Sejarah Dan Hadis Ahlus
Sunnah.

Adapun
kenyataan sejarah juga mendustakan hadis ini. Sejarah menyebutkan bahwa sunah
yang suci belum ditulis pada masa Rasulullah saw, dan bahkan di sana terdapat
hadis-hadis yang berasal dari saluran Ahlus Sunnah yang menyebutkan bahwa
Rasulullah saw melarang penulisan hadis. Seperti perkataan Rasulullah saw, “Janganlah kamu menulis sesuatu dariku.
Barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an maka hendaknya dia
menghapusnya.”
Sebagaimana yang terdapat di dalam Sunan ad-Darimi[17]
dan Musnad Ahmad.

Di dalam
sebuah riwayat disebutkan, “Mereka
meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menulis hadis beliau, namun Rasulullah
saw tidak mengizinkan mereka.”
Dan riwayat-riwayat lainnya secara
jelas melarang penulisan hadis yang berasal dari Rasulullah saw. Semua itu
tidak lain merupakan upaya perancang untuk mencegah tersebarnya hadis
Rasulullah saw, supaya kebenaran tidak kelihatan. Mereka tidak berhenti sampai
di sini, Umar telah berijtihad secara gamblang untuk menghapus hadis. Urwah bin
Zubair telah meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ingin menulis sunah, lalu dia
bermusyawarah tentang hal itu dengan para sahabat. Para sahabat memberi isyarat
supaya dia menuliskannya. Maka mulailah Umar beristkharah kepada Allah tentang
hal itu selama sebulan. Kemudian, pada suatu hari Allah menetapkan hatinya,
lalu dia berkata,

“Tadinya saya bermaksud ingin menulis
sunah, namun kemudian saya ingat satu kaum sebelum kamu yang menulis
kitab-kitab dan menekuni pekerjaan itu lalu mereka meninggalkan Kitab Allah.
Demi Allah, saya tidak akan mengenakan sesuatu apapun kepada Kitab Allah untuk
selama-lamanya
.”[18]

Dari
Yahya bin Ju’dah disebutkan bahwa Umar bin Khattab hendak menuliskan sunah,
kemudian tampak baginya untuk tidak menuliskannya, maka dia pun mengumumkan di
kota-kota, barangsiapa yang mempunyai sesuatu (hadis) di sisinya maka hendaknya
dia menghapusnya.[19]

Ibnu
Jarir meriwayatkan bahwa setiap kali Khalifah Umar bin Khattab mengirim seorang
hakim atau gubernur ke sebuah negeri dia memberikan pesan, dan salah satu dari
pesannya ialah, “Ringkaskan
Al-Qur’an, sedikitkan riwayat dari Muhammad, maka aku menyertaimu”
.[20]

Sejarah
telah mencatat bahwa Khalifah Umar bin Khattab telah berkata kepada Abu Dzar,
Abdullah bin Mas’ud dan Abu Darda, “Hadis
apa ini yang engkau sebarkan dari Muhammad?!”
[21]

Juga
disebutkan bahwa Umar bin Khattab mengumpulkan hadis dari seseorang, mereka
mengira Umar bin Khattab hendak memeriksa dan meluruskannya sehingga tidak ada
perselisihan di dalamnya, maka merekapun membawa tulisan-tulisan hadis mereka,
lalu Umar mem-bakarnya seraya berkata, “Kebohongan sebagaimana kebohongan
Ahlul Kitab.” Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Khatib dari al-Qasim
di dalam kitab Tagyid al-‘Ilm.

Adapun
alasan yang disebutkan oleh Umar bin Khattab untuk menyita sunah adalah alasan
yang tidak dapat diterima oleh seorang yang bodoh sekali pun, apalagi oleh
seorang yang berilmu. Karena hal itu bertentangan dengan Al-Qur’an, ruh agama,
dan akal. Bagaimana dia dapat mengatakan “Ringkaskan Al-Qur’an dan
sedikitkan riwayat”, padahal Al-Qur’an sendiri mengatakan bahwa
kehujjahannya berdiri dengan sunah. Karena sunah adalah penjelas, pen-takhsis,
pen-taqyid dan lain sebagainya. Allah SWT telah berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan
kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan.”

Bagaimana
Rasulullah saw menerangkan Al-Qur’an?! Bukankah dengan sunah?! Allah SWT telah
berfirman, “Kawanmu (Muhammad) tidak
sesat dan tidak pula keliru, dan tiadaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an)
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan kepadanya.”

Apa
manfaat wahyu jika kita diperintahkan untuk menyembunyikan dan membakarnya.
Adapun sunah yang mereka gunakan sebagai hujjah akan wajibnya mengikuti sunah,
telah mengalami serangkaian silsilah persekongkolan. Persekongkolan ini dimulai
sejak jaman Abu Bakar di mana dia membakar lima ratus hadis yang ditulis pada
masa Rasulullah saw di jaman kekhilafahannya.[22]
Aisyah berkata, “Ayah saya
mengumpulkan lima ratus hadis Rasulullah saw, lalu dia tidur dengan keadaan
berguling-guling (tidak tenang). Pada saat bangun pagi dia berkata, ‘Wahai anak
perempuanku, kemarikan hadis-hadis yang ada padamu.’ Maka saya pun
membawakannya, dan lalu dia membakarnya. Kemudian Ayah saya berkata, ‘Saya
takut saya mati sementara hadis-hadis ini masih berada di sisimu.’
[23]

Umar bin
Khattab telah memerintahkan kepada seluruh penjuru negeri pada masa
kekhilafahannya, bahwa barang siapa telah menulis sebuah hadis maka dia harus
menghapusnya.[24]

Utsman
pun melakukan hal yang sama. Karena dia telah memberi tanda tangan untuk
meneruskan jalan yang telah ditempuh oleh Syeikhain, yaitu Abu Bakar dan Umar.
Usman berkata di atas mimbar, “Tidak
boleh seorang pun meriwayatkan sebuah hadis yang belum pernah didengar pada
masa Abu Bakar dan Umar
.”[25]

Kemudian
sepeninggalnya jalan tersebut diteruskan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Muawiyah
bin Abi Sufyan berkata, “Wahai
manusia, sedikitkan riwayat dari Rasulullah saw, dan jika kamu menyampaikan
hadis maka sampaikanlah hadis sebagaimana yang telah disampaikan pada masa Umar
.”[26]

Dengan
begitu, perbuatan menghentikan penulisan hadis menjadi sebuah sunah yang
diikuti, dan perbuatan menulis hadis dihitung sebagai sebuah kemunkaran.

Propaganda
yang menyesatkan yang dilakukan oleh para penguasa dalam masalah penulisan
hadis ini tidak lain bertujuan untuk menutupi keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.
Mungkin alasan ini tidak bisa diterima oleh banyak orang, namun inilah
kenyataan yang ditemukan oleh para peneliti sejarah. Lalu setelah itu, sunah
yang mana yang telah diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk diikuti?!

Apakah sunah
yang telah dihapus oleh Umar atau sunah yang telah dibakar oleh Abu Bakar?!

Lalu apa
yang harus diperbuat oleh orang yang hendak berpegang kepada sunah sepeninggal
Rasulullah saw?!

Sebagai
contoh, seseorang hidup bersama para sahabat. Lalu untuk mengetahui sebuah
sunnah Rasulullah saw, apakah dia harus mencari semua sahabat yang tersebar di
berbagai negeri, yang mana sebagian dari mereka ada yang menjadi gubernur dan
komandan?!

Apakah
dia harus menemui mereka semua untuk menanyakan sebuah hukum yang ingin dia
ketahui, atau apakah cukup dengan hanya merujuk kepada para sahabat yang ada,
namun yang demikian tentunya tidak mencukupi, karena terdapat kemungkinan
adanya pembatal (nasikh), pengkhusus (mukhashshish) dan pembatas (muqayyid)
sunnah tersebut, dengan hadirnya seorang atau dua orang sahabat yang tidak ada
di kota yang bersangkutan? Dan kehujjahan sunah —sebagaimana kata Ibnu Hazm—
tidak dapat tegak berdiri kecuali dengan mereka.

Jika yang
demikian ini sulit bagi orang yang bertemu dengan para sahabat, padahal jumlah
mereka sedikit, maka apa lagi setelah kekuasan Islam bertambah luas dan telah
banyak negeri yang ditaklukkan, sementara semakin banyak pertanyaan yang muncul
tentang berbagai kejadian.

Dengan
apa mereka bisa menjawab?!

Begitulah
banyak hadis dan hukum yang hilang, dan ini memang merupakan tujuan dari
persekongkolan yang mereka lakukan. Umar bin Khattab dengan lantang mengatakan
hal itu pada masa Rasulullah saw, ketika Rasulullah saw bersabda pada saat
hendak meninggal dunia,

“Ambilkan
aku tulang pundak dan tinta, supaya aku tuliskan sebuah tulisan yang kamu tidak
akan sesat selama-lamanya sesudahnya.” Lalu Umar berkata,
“Sesungguhnya dia sedang mengigau, cukup bagi kita Kitab Allah saja.”
[27]

Tujuan
yang melatarbelakangi pelarangan mendatangkan tulang pundak dan tinta bagi
Rasulullah saw yang hendak menuliskan sebuah tulisan yang akan mencegah mereka
dari kesesatan adalah tujuan yang sama dengan yang melatarbelakangi pelarangan
pengumpulan dan penulisan hadis.

Bagaimana
bisa mereka meriwayatkan hadis “Berpegang teguhlah kepada sunahku”
sementara para sahabat dan khalifah tidak berpegang kepadanya, dan bahkan
dengan lantang mereka mengatakan sesuatu yang lain dari itu, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh adz-Dzahabi di dalam kitab Tadzkirah al-Huffadz. Adz-Dzahabi
berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar Shiddiq mengumpulkan manusia sepeninggal
wafatnya Nabi mereka. Lalu Abu Bakar berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya kamu
menyampaikan hadis-hadis Rasulullah saw namun kamu berselisih tentangnya, dan
orang-orang sepeninggalmu akan lebih keras perselisihannya, maka oleh karena
itu janganlah kamu menyampaikan satu hadis pun dari Rasulullah saw. Dan jika
ada orang bertanya kepadamu maka katakanlah, di antara kita terdapat Kitab
Allah, maka halalkan lah apa yang dihalalkannya dan haramkan lah apa yang
diharamkannya.”[28]

“Sesungguhnya
yang normal ialah tidak ditetapkannya sesuatu yang belum tersusun dan
terbukukan sebagai sumber penetapan hukum bagi umat, kecuali jika terdapat
penanggung jawab yang menjadi rujukan tentangnya.”[29]

Umat
Islam sepakat bahwa sunah Nabi belum dibukukan pada masa Rasulullah saw dan
pada masa para khalifah, dan sunah tidak dibukukan kecuali setelah satu abad
setengah dari wafatnya Raslullah saw. Lantas dengan alasan apa mereka
mengatakan, “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku …”

Hadis Lain

Bunyi
nasnya: “Aku tinggalkan dua perkara padamu yang jika kamu berpegang teguh
kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunah
Nabi-Nya.”

Hadis ini
lebih lemah lagi untuk bisa didiskusikan. Adapun hal-hal yang dapat kita
katakan mengenai hadis ini, di samping hal-hal yang telah disebutkan pada hadis
sebelumnya ialah,

1. Hadis
ini tidak diriwayatkan oleh para penulis kitab sahih yang enam dikalangan Ahlus
Sunnah, dan ini sudah cukup untuk mendhaifkannya. Bagaimana bisa mereka
berpegang kepada sebuah hadis yang sama sekali tidak ada di dalam kitab-kitab
sahih dan musnad mereka. Seseorang yang memperhatikan bagaimana hadis ini diperlakukan
dikalangan Ahlus Sunnah, sepertinya dia akan merasa yakin bahwa hadis ini telah
diriwayatkan oleh kitab-kitab sahih, terutama sahih Bukhari dan sahih Muslim;
padahal kenyataannya hadis ini sama sekali tidak terdapat di dalam kitab-kitab
sahih dan musnad.

2.
Sesungguhnya sumber-sumber pertama yang menyebutkan hadis ini ialah kitab
al-Muwaththa Imam Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan ash-Shawa’iq Ibnu Hajar, dan
saya tidak menemukan kitab lain yang meriwayatkan hadis ini. Kitab-kitab ini
telah menukil kedua hadis ini secara bersama-sama, kecuali kitab al-Muwaththa.

3.
Riwayat hadis ini mursal di dalam kitab ash-Shawa’iq, dan terpotong sanadnya di
dalam Sirah Ibnu Hisyam.[30]
Ibnu Hisyam mengaku bahwa dia mengambil hadis ini dari Sirah Ibnu Ishaq, dan
saya telah mencarinya di dalam Sirah Ibnu Ishaq namun saya tidak menemukannya
di dalam semua cetakannya. Lantas, dari mana sebenarnya Ibnu Hisyam mengambil
hadis ini….?!

4. Adapun
riwayat Malik terhadap hadis ini adalah khabar marfu’ yang tidak ada sanadnya.
Perawi al-Muwaththa berkata, “Telah berkata Malik kepada saya bahwa telah
sampai berita kepadanya sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda …
(al-hadis).”[31]

Sebagaimana
Anda lihat, hadis ini tidak bersanad, maka oleh karena itu tidak boleh
bersandar kepadanya. Mengapa hanya Malik yang meriwayatkan hadis ini sementara
gurunya Abu Hanifah atau muridnya Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal tidak
meriwayatkannya. Jika hadis ini sahih maka kenapa para Imam mazhab dan para
Imam hadis berpaling darinya.

5.
Al-Hakim mengeluarkan hadis ini di dalam mustadrak-nya[32]
dengan dua jalur. Pada jalur pertama terdapat Zaid ad-Dailasi, dari Doimah,
dari Ibnu Abbas. Kita tidak mungkin dapat menerima hadis ini karena pada
sanadnya terdapat Ikrimah si pendusta.[33]
Dia termasuk seorang musuh Ahlul Bait as, dan termasuk orang yang memerangi dan
mengkafirkan Ali as. Adapun pada jalur yang kedua terdapat Shalih bin Musa
ath-Thalhi, dari Abdul Aziz bin Rafi’, dari Ibnu Shalih, dari Abu Hurairah.
Hadis ini pun tidak mungkin dapat diterima, karena menurut riwayat Abu Sa’id
al-Khudri hadis ini dikatakan oleh Rasulullah saw pada saat beliau terbaring
hendak wafat, sementara pada waktu itu Abu Hurairah sedang berada di Bahrain
karena diutus bersama ‘Ala al-Hadhrami satu tahun setengah sebelum Rasulullah
saw wafat. Lantas kapan Abu Hurairah mendengar Rasulullah saw yang sedang
terbaring hendak wafat mengatakan hadis ini?!

6. Sunan
al-Kubra Baihaqi menukil hadis ini pada juz 10, halaman 4, terbitan Dar
al-Ma’rifah Bcirut – Lebanon. Dia menukil hadis “Aku tinggalkan padamu
Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku”, dan kemudian menukil dua hadis
mustadrak dengan nas.

7. Kitab
al-Faqih al-Mutafaqqih, karya Khatib al-Baghdadi, jilid 1, halaman 94,
mensahihkan hadis ini; dan kemudian Syeikh al- Anshari, anggota lembaga fatwa
Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah Beirut – Lebanon memberikan komentar tentangnya. Dia
menukli dua hadis: Yang pertama hadis mustadrak (dari Abi Shalih, dari Abu
Hurairah). Adapun hadis baru yang dia nukilkan ialah, Saif bin Umar telah
meriwayatkan kepadaku, dari Ibnu Ishaq al-Asadi, dari Shabah bin Muhammad, dari
Abu Hazm, dari Abi Sa’id al-Khudri …. al-hadis. Sanad ini tidak mungkin dapat
diterima berdasarkan kesaksian para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil,
dikarenakan adanya Saif bin Umar, yang telah disepakati kedustaan dan
kebohongannya. Saya akan ketengahkan kepada Anda pandangan para ulama tentang
dia.

8. Kitab
al-Ilma’ ila Ma’rifah Ushul ar-Riwayah wu Taqyid as-Sima’, karya Qadhi ‘lyadh
yang hidup pada tahun 479 – 544 Hijrah, hasil tahkik Sayyid Ahmad Shaqir,
cetakan pertama, penerbit Dar ar- Ra’s an-Nashirah —Maktabah al-‘Atiqah— Tunis,
halaman 9, menukil nas hadis ini dari kitab al-Faqih al-Mutafaqqih, yang pada
sanadnya terdapat Saif bin Umar.

Selain
dari yang kami telah sebutkan di atas tidak ada satu buku pun lainnya yang
menukil hadis “Kitab Allah dan sunahku”. Dengan demikian, hadis ini
tidak ditetapkan kecuali oleh tiga jalur, yaitu dari Ibnu Abbas, Abu Sa’id
al-Khudri dan Abu Hurairah. Ketiga jalur ini, bersama dengan kedhaifannya, baru
muncul pada pertengahan abad kelima hijrah, yaitu setelah masa Hakim. Dan tidak
satu pun kitab yang lebih tua dari itu yang menyebutkan ketiga jalan ini. Ini
yang pertama. Yang kedua, ketiga sahabat tersebut, yaitu Abu Hurairah, Ibnu
Abbas dan Abu Sa’id al-Khudri telah meriwayatkan hadis “Kitab Allah dan
‘ltrah Ahlul Baitku” pada abad kedua hijrah, sebagaimana yang telah
diriwayatkan oleh Muslim. Mana di antara keduanya yang akan kita terima.[34]

Dialog
Dengan Muhaddis Dan Hafidz Kota Damaskus, Abdul Qadir al-Arnauthi

Selama saya tinggal di Syiria saya bertemu dengan
Syeikh Abdul Qadir al-Arnauthi, salah seorang ulama Syiria. Dia mempunyai
ijazah di dalam ilmu hadis.

Pertemuan ini berlangsung dengan tanpa persiapan dari
saya, melainkan terjadi dengan kebetulan.

Saya
mempunyai seorang teman dari Sudan yang bernama Adil. Saya mengenalnya di
kawasan Sayyidah Zainab as, dan Allah SWT telah menerangi hatinya dengan cahaya
Ahlul Bait as. Teman saya ini memiliki sifat-sifat terpuji yang jarang
ditemukan pada yang lainnya. Dia seorang yang berakhlak, taat beragama dan
warak. Keadaan telah memaksanya untuk bekerja di sebuah ladang di kawasan yang
ber-nama “Adliyyah”, kurang lebih berjarak sembilan kilometer sebelah
selatan kawasan Sayyidah Zainab as. Di sebelah ladang tempat dia bekerja
terdapat ladang lain milik seorang laki-laki tua yang dipanggil dengan sebutan
Abu Sulaiman.

Ketika
tetangga ini tahu bahwa orang Sudan yang bekerja di ladang sebelahnya itu orang
Syi’ah, dia datang dan berbicara kepadanya. Tetangga itu berkata,

“Wahai
saudaraku, orang-orang Sudan itu orang Ahlus Sunnah yang baik, lantas dari mana
kamu menjadi Syi’ah?! Apakah di keluargamu ada orang yang bermazhab
Syi’ah?”

Adil
menjawab, “Tidak, namun agama dan keyakinan tidak dibangun di atas dasar
taklid kepada masyarakat dan keluarga.”

Tetangga
itu berkata, “Sesungguhnya Syi’ah menipu dan membohongi masyarakat.”

Adil
menjawab, “Saya tidak melihat yang demikian itu dari mereka.”

Tetangga
itu berkata lagi, “Benar, kami mengenal mereka dengan baik.”

Adil
berkata, “Wahai haji, apakah Anda percaya pada Bukhari dan Muslim dan
kitab-kitab sahih yang enam?”

Tetangga
itu menjawab, “Tentu.”

Adil
berkata lagi, “Sesungguhnya Syi’ah berargumentasi atas berbagai keyakinan
yang mereka yakini dengan menggunakan sumber-sumber ini, apalagi sumber-sumber
mereka.”

Tetangga
itu berkata, “Mereka itu berdusta. Mereka mempunyai sahih Bukhari dan
Muslim yang telah diselewengkan.”

Adil
menjawab, “Mereka tidak mengharuskan saya dengan kitab tertentu, melainkan
mereka meminta saya untuk mencarinya di perpustakaan manapun di dunia
Arab.”

Tetangga
itu berkata, “Ini bohong, saya wajib mengembalikan Anda ke dalam Ahlus
Sunnah. Karena Rasulullah saw telah bersabda, “Jika Allah memberikan
petunjuk kepada seorang laki-laki dengan perantaraanmu, maka yang demikian itu
lebih baik bagimu dibandingkan seluruh dunia dan isinya.”

Adil
berkata, “Kita ini pencari kebenaran dan petunjuk, kita akan condong
bersama argumentasi ke mana pun argumentasi itu condong.”

Tetangga
itu berkata, “Saya akan mendatangkan kepadamu ulama terbesar di kota
Damaskus. Yaitu ‘Allamah Abdul Qadir ar-Arnauti, seorang ulama terpandang dan
ahli hadis yang hafal Al-Qur’an. Orang-orang Syi’ah telah berusaha membujuknya
dengan uang berjuta-juta supaya dia bersama mereka, namun dia menolaknya.”

Teman
saya Adil menyetujui rencana ini. Abu Sulaiman berkata kepadanya, “Janji
kita pada hari Senin, Anda dan orang-orang Sudan lainnya yang terpengaruh
pikiran Syi’ah silahkan datang.” Adil datang kepada saya. Dia mengabarkan
apa yang telah terjadi, dan meminta saya untuk pergi bersamanya. Dengan sangat
senang saya menerima tawaran itu. Saya janji akan pergi bersamanya pada hari
Senin tanggal 8 Safar 1417 Hijrah, tepat jam 12 siang.

Hari itu
adalah hari yang sangat panas. Kami berkumpul di tempat yang telah dijanjikan,
dan kemudian kami bertolak ke ladang bersama tiga orang Sudan lainnya. Setelah
kami sampai, teman kami Adil menyambut kami di ladang yang hijau yang dipenuhi
dengan berbagai pohon buah-buahan, seperti murbei, persik, apel dan buah-buahan
lainnya yang tidak terdapat di negara kami, Sudan.

Setelah
itu kami pun tergesa-gesa menuju ladang tetangganya yang Ahlus Sunnah itu.
Tetangga itu menyambut kedatangan kami dengan kasar. Setelah beristirahat
sejenak di tempat yang dikelilingi sayur-sayuran itu, saya berdiri untuk
mengerjakan salat Zuhur. Pada saat saya mengerjakan salat Zuhur tibalah
rombongan yang membawa Syeikh ar-Arnauthi. Ruangan bangunan telah dipenuhi oleh
manusia sementara bagian luarnya telah dipenuhi oleh mobil. Kebingungan melanda
wajah teman-teman saya, dikarenakan kedudukan yang sedemikian tingginya. Karena
mereka tidak mengira urusan ini sedemikian besarnya. Setelah masing-masing
menempati tempatnya, saya memilih tempat di sebelah Syeikh.

Setelah
berlangsung acara perkenalan di antara semua, pemilik ladang berkata kepada
Syeikh, “Mereka ini adalah saudara-saudara kita dari Sudan. Mereka telah
terpengaruh Syi’ah di kawasaan Sayyidah Zainab. Di antara mereka ada seorang
Syi’ah yang bekerja di ladang sebelah kami.”

Syeikh
itu bertanya, “Mana yang Syi’ah itu?”

Mereka
menjawab, “Pergi ke ladangnya, dan nanti akan kembali tidak lama
lagi.”

Syeikh
berkata, “Kalau begitu kita tunda pembicaraan kita hingga dia
kembali.”

Salah
seorang Sudan pergi mencarinya dan kemudian membawanya ke majlis. Syeikh
memanfaatkan kesempatan ini untuk membacakan banyak hadis yang dia hafal di
luar kepala. Adapun tema hadis-hadis yang dibacakannya itu ialah berkenaan
dengan keutamaan sebagian negeri atas sebagian negeri yang lain, khususnya yang
berkenaan dengan negeri Syiria dan kota Damaskus. Tema ini telah memakan waktu
sekitar setengah jam. Sebuah tema yang tidak ada faidahnya. Saya sangat heran
kenapa dia tidak memanfaatkan kesempatan ini, padahal semua yang hadir telah
menajamkan pikiran mereka untuk mendengarkan hadis yang dapat mereka manfaatkan
di dalam agama dan dunia mereka. Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya agama
Allah tidak diambil berdasarkan nasab dan keturunan. Allah SWT telah menjadikan
agamanya untuk semua manusia, lalu dengan hak apa kita mengambil agama kita
dari Ahlul Bait?! Rasulullah saw telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh
kepada Kitab Allah dan sunahnya. Hadis ini adalah hadis yang sahih yang tidak
ada seorang pun yang mampu mendhaifkannya, dan tidak ada jalan lain selain
jalan ini.” Kemudian dia menepukkan tangannya ke punggung Adil sambil
berkata kepadanya, “Wahai anakku, jangan sampai perkataan Syi’ah dapat
menipumu.”

Saya
memotong pembicaraannya dengan mengatakan, “Yang mulia Syeikh, kami adalah
pencari kebenaran, dan kini perkara telah bercampur sedemikian rupa sehingga
membingungkan kami. Oleh karena itu, kami datang kepada Anda supaya dapat
mengambil manfaat dari Anda manakala kami mengetahui Anda seorang ulama besar,
ahli hadis dan hafidz.”

Syeikh
itu menjawab, “Itu benar.”

Saya
berkata lagi, “Sudah merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa
kaum Muslimin telah terbagi ke dalam beberapa golongan dan mazhab, dan
masing-masing golongan mengklaim bahwa dirinyalah yang benar sementara yang
lainnya salah. Apa yang harus saya lakukan sementara saya diwajibkan oleh agama
Allah untuk mengetahui kebenaran di antara jalan-jalan yang saling bertentangan
itu?! Apakah Allah menghendaki kita berpecah-belah atau menginginkan kita
berada pada satu agama, yaitu kita menyembah Allah dengan agama yang satu?!
Jika ya, lantas jaminan apa yang telah ditinggalkan oleh Allah dan Rasul-Nya
untuk kita supaya umat terjaga dari kesesatan?

Sebagaimana
yang kita ketahui bahwa perselisihan pertama yang terjadi di antara kaum
Muslimin adalah perselisihan yang terjadi secara langsung setelah Rasulullah
saw wafat, padahal Rasulullah saw tidak mungkin meninggalkan umatnya tanpa ada
petunjuk.”

Syeikh
berkata, “Sesungguhnya jaminan yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah saw
untuk mencegah umat dari perselisihan ialah sabdanya yang berbunyi,
“Sesungguhnya aku tinggalkan sesuatu padamu yang jika kamu berpegang teguh
kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunah.”

Saya
berkata, “Beberapa saat yang lalu Anda menyebutkan terkadang ada sebuah
hadis yang tidak ada sumbernya, artinya tidak disebut di dalam kitab-kitab
hadis.”

Syeikh
menjawab, “Itu benar.”

Saya
katakan kepadanya, “Hadis ini tidak memiliki sumber di dalam kitab-kitab
sahih yang enam, lantas kenapa Anda menyebutkannya, sementara Anda seorang
muhaddis?”

Di sini,
bangkitlah kemarahan Syeikh, lalu dia berteriak lantang, “Apa yang Anda
maksud, apakah Anda ingin mendhaifkan hadis ini.”

Saya
merasa heran kenapa Syeikh sedemikian marah padahal saya tidak mengatakan
apa-apa.

Saya
berkata, “Sabar, sesungguhnya pertanyaan saya hanya satu, yaitu apakah
hadis ini terdapat di dalam kitab sahih yang enam?”

Syeikh
itu menjawab, “Kitab sahih itu tidak hanya enam. Kitab hadis itu banyak
sekali. Hadis ini terdapat di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik.”

Saya
berkata dengan menghadap kepada para hadirin, “Baik, Syeikh telah mengakui
bahwa hadis ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab sahih yang enam, dan hanya
terdapat di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik.”

Dengan
nada tinggi dia memotong pembicaraan saya dengan mengatakan, “Lalu, apakah
kitab al-Muwaththa bukan kitab hadis?”

Saya
menjawab, “Kitab al-Muwaththa kitab hadis, namun hadis ‘Kitab Allah dan
sunahku’ adalah marfu’ dengan tanpa sanad, padahal diketahui bahwa semua hadis
yang terdapat di dalam kitab al-Muwaththa bersanad.”

Di sini
Syeikh berteriak setelah hujjahnya patah. Dia mulai memukul saya dengan
tangannya dan menggerak-gerakkan tubuh saya ke kanan dan ke kiri sambil
berkata, “Anda ingin mendhaifkan hadis ini, padahal Anda ini siapa
sehingga hendak mendhaifkannya.” Dia tidak dapat mengontrol emosinya
sehingga tindak tanduknya telah keluar dari batas-batas yang wajar. Seluruh
orang yang hadir merasa heran dengan gerak dan tingkah lakunya.

Saya
berkata, “Ya Syeikh, di sini tempat diskusi dan dalil, dan cara ini tidak
layak untuk diikuti. Saya telah duduk dengan banyak ulama Syi’ah namun saya
tidak pernah melihat sama sekali cara yang seperti ini.” Allah SWT
berfirman, ‘Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu.’ Setelah itu, dia sedikit reda dari
kemarahannya.

Saya
berkata, “Ya Syeikh, saya bertanya kepada Anda apakah riwayat Malik
terhadap hadis “Kitab Allah dan sunahku” di dalam kitab al-Muwaththa
itu dhaif atau sahih?!”

Dengan
penuh berat hati Syeikh menjawab, “Dhaif.”

Saya
berkata, “Jika demikian, kenapa Anda mengatakan hadis tersebut ada di
dalam kitab al-Muwaththa padahal Anda tahu hadis tersebut dhaif?”

Dengan
nada tinggi Syeikh menjawab, “Sesungguhnya hadis tersebut mempunyai
jalan-jalan yang lain.”

Saya
berkata kepada para orang-orang yang hadir, “Syeikh telah melepaskan
riwayat al-Muwaththa, dan mengatakan bahwa hadis ini mempunyai jalan-jalan yang
lain, maka marilah kita mendengarkan jalan-jalan itu darinya.”

Di sini
Syeikh merasa malu, karena sebenarnya tidak ada jalan yang sahih yang dimiliki
hadis ini. Pada saat itu tiba-tiba salah seorang hadirin yang duduk berbicara,
lalu Syeikh menepuk saya dan berkata sambil menunjuk kepada orang yang bicara,
“Dengarkan dia.” Saya tahu dia ingin lari dari pertanyaan sulit yang
saya lontarkan kepadanya. Saya merasakan itu darinya, namun saya tetap
bersikeras dan berkata, “Ya Syeikh, sebutkanlah kepada kami jalan-jalan
lain yang dimiliki hadis ini?”

Dengan
nada putus asa Syeikh menjawab, “Saya tidak hapal, dan saya akan
menuliskannya untuk Anda.”

Saya
berkata, “Subhanallah! Anda hapal seluruh hadis-hadis ini, hadis-hadis
tentang keutamaan negeri-negeri, namun tidak hapal jalan hadis terpenting yang
merupakan pilar utama mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang menjaga umat dari
kesesatan, sebagaimana yang telah Anda katakan.” Mendengar itu Syeikh
terdiam seribu bahasa.

Ketika
para hadirin merasakan rasa malu Syeikh, salah seorang dari mereka berkata
kepada saya, “Apa yang Anda inginkan dari Syeikh, padahal Syeikh telah
berjanji akan menuliskannya untuk Anda.”

Saya
berkata, “Saya akan coba dekatkan jalan untuk Anda. Sesungguhnya hadis ini
juga terdapat di dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam dengan tanpa sanad.”

Syeikh
al-Arnauthi berkata, “Sirah Ibnu Hisyam adalah kitab sejarah, bukan kitab
hadis.”

Saya
berkata, “Kalau begitu berarti Anda mendhaifkan riwayat ini.”

Syeikh
al-Arnauthi menjawab, “Ya.”

Saya
berkata, “Anda telah membantu saya menyelesaikan diskusi ini.”

Kemudian
saya meneruskan perkataan saya dengan mengatakan, “Hadis ini juga terdapat
di dalam kitab al-llma’ karya Qadhi ‘lyadh, dan kitab al-Faqih al-Mutafaqqih
karya Khatib al-Bagdadi, apakah Anda mengambil riwayat-riwayat ini?”

Syeikh
menjawab, “Tidak”.

Saya
berkata, “Jika demikian, maka hadis “Kitab Allah dan sunahku”
itu dhaif menurut kesaksian Syeikh, dan tidak ada jaminan lain di hadapan kita
kecuali satu jaminan yang akan mencegah umat dari perselisihan, yaitu hadis
mutawatir dari Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh kitab-kitab hadis Ahlus
Sunnah dan kitab-kitab sahih yang enam selain Bukhari, yaitu sabda Rasulullah
saw yang berbunyi,

“Aku
meninggalkan dua perkara yang sangat berharga, yang jika kamu berpegang teguh
kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu Kitab
Allah, yang merupakan tali yang terbentang di antara langit dan bumi, dan
‘ltrah Ahlul Baitku. Sesungguhnya Zat Yang Maha Mengetahui telah
memberitahukanku bahwa keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga
mendatangiku di telaga,”

Sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Ahmad bin
Hambal. Tidak ada alternatif lain bagi seorang Mukmin yang menginginkan Islam
sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya selain dari
jalan ini. Yaitu jalan Ahlul Bait yang mereka telah disucikan di dalam
Al-Qur’an al-Karim dari segala dosa dan kotoran. Dan kemudian saya menyebutkan
sekumpulan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait as. Tidak sebagaimana biasanya,
Syeikh terdiam tidak mengatakan satu patah kata pun selama saya berbicara.

Ketika murid-murid Syeikh melihat kekalahan di wajah
gurunya, mereka pun membuat kegaduhan dengan berteriak-teriak.

Saya
berkata, “Sungguh merupakan dajjal, kemunafikan dan penghindaran dari
kebenaran. Sampai kapan pengingkaran ini akan terus berlangsung?! Kebenaran jelas
ayat-ayatnya, tampak kelihatan penjelasan-penjelasannya, dan saya telah
menegakkan hujjah atas Anda bahwa tidak ada agama selain dari Kitab Allah dan
‘ltrah Rasululah saw yang suci.”

Syeikh diam dan tidak membantah sedikit pun apa yang
saya katakan. Tiba-tiba dia berdiri sambil berkata, “Saya ingin pergi,
saya punya tugas mengajar”, padahal dia tahu dia diundang untuk makan
siang!!

Tuan rumah memaksa dia untuk tetap tinggal, dan
setelah makanan disajikan suasana majlis pun menjadi tenang, dan Syeikh tidak
mengatakan sepatah kata apa pun selama menyantap makanan, padahal sebelumnya
dia yang menguasai majlis dan pembicaraan.

Demikianlah nasib setiap orang yang menghindari dan
menyembunyikan kebenaran. Mau tidak mau pasti akan tersingkap di hadapan orang
banyak.

Kesulitan Ahlus Sunnah Tidak Akan
Terpecahkan Dengan Kedua Hadis Ini

Jika
seandainya kita membiarkan semua itu dan menerima kesahihan hadis “Kamu
harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin ..”
dan hadis “.. Kitab Allah dan sunahku.. ” dengan tanpa membantah,
maka yang demikian itu tidak akan bisa menyelamatkan Ahlus Sunnah dan tidak
akan bisa memecahkan masalah berat yang dihadapinya. Bahkan justru segenap
jalan dan kecendrungan akan mendukung dan memperkuat mazhab Ahlul Bait as
(Syi’ah). Yang demikian itu dikarenakan hadis pertama yang ber-bunyi,
“Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa`
Rasyidin al-mahdiyyin sepeninggal.”

 

Para Khalifah Itu Adalah Para Imam
Ahlul Bait

Sesungguhnya
kata “khulafa” di dalam hadis ini tidaklah dikhususkan untuk satu
golongan tertentu, dan penafskan kalangan Ahlus Sunnah bahwa para khalifah itu
adalah para khalifah yang empat adalah sebuah pentakwilan yang tanpa dalil.
Karena pernyataan (proposisi) yang dikemukakan lebih luas dari klaim, dan
bahkan bukti-bukti mengatakan sebaliknya. Yaitu bahwa yang dimaksud dengan para
khalifah rasyidin ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait as. Disebabkan
dalil-dalil dan riwayat-riwayat yang pasti yang menetapkan bahwa para khalifah
rasyidin sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah.
Al-Qanduzi al-Hanafi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah,
“Yahya bin Hasan telah menyebutkan di dalam kitab al-‘Umdah melalui dua
puluh jalan bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua
belas orang khalifah, dan seluruhnya dari bangsa Quraisy. Dan begitu juga di
dalam Sahih Bukhari melalui tiga jalan, di dalam Sahih Muslim melalui sembilan
jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui tigajalan, di dalam Sunan Turmudzi
melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui tiga jalan. Di dalam Sahih
Bukhari berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah
bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku dua
belas orang amir’
, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang saya
tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakannya kepada ayah saya, ‘Apa yang telah
dikatakannya?’ Ayah saya men-jawab, ‘Semuanya dari bangsa Quraisy.'”
Adapun di dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya
menulis surat kepada Ibnu Samrah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang telah
Anda dengar dari Rasulullah saw.’ Lalu Ibnu Samrah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada
hari Jumat sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak
berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya dua belas orang khalifah
yang kesemuanya berasal dari bangsa Quraisy
.”[35]

Setelah ini tidak ada lagi orang yang bisa berhujjah
dengan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para
Khulafa` Rasyidin..” dengan menerapkannya kepada para khalifah yang empat.
Dikarenakan riwayat-riwayat yang mutawatir yang mencapai dua puluh jalan, yang
kesemuanya dengan jelas mengatakan khalifah itu ada dua belas orang; dan kita
tidak akan menemukan penafsiran bagi riwayat-riwayat ini pada dunia nyata
kecuali pada para Imam mazhab Ahlul Bait yang dua belas. Dengan demikian,
Syi’ah adalah satu-satunya kelompok yang merupakan personifikasi dari makna
hadis-hadis ini, dikarenakan penerimaan mereka kepada kepemimpinan Imam Ali as,
kemudian Imam Hasan dan Imam Husain, dan setelah itu sembilan orang Imam dari
keturunan Imam Husain, sehingga jumlah mereka seluruhnya berjumlah dua belas
orang Imam.

 

Meskipun kata “Quraisy” yang terdapat di
dalam riwayat-riwayat ini bersifat mutlak dan tidak dibatasi, namun dengan
riwayat-riwayat dan petunjuk-petunjuk yang lain menjadi jelas bahwa yang
dimaksud adalah Ahlul Bait. Dan itu disebabkan adanya banyak riwayat yang
menunjukkan kepada kepemimpinan Ahlul Bait. Insya Allah, kita akan memaparkan
sebagiannya pada pembahasan-pembahasan yang akan datang.

 

Pada
kesempatan ini saya cukupkan Anda dengan riwayat yang berbunyi, “Aku tinggalkan
padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan
tersesat sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku.”[36]

Agama ini
akan tetap tegak berdiri dengan kepemimpinan dua belas orang khalifah,
sebagaimana yang telah dijelaskan oleh riwayat-riwayat sebelumnya. Pada saat
yang sama terdapat riwayat-riwayat yang menekankan keseiringan Ahlul Bait
dengan Kitab Allah. Ini merupakan sebaik-baiknya dalil yang menunjukkan bahwa
yang dimaksud dengan “dua belas orang khalifah” itu adalah para Imam
dari kalangan Ahlul Bait.

Adapun
ungkapan “semuanya berasal dari
Quraisy”
itu tidak lain merupakan pemalsuan di dalam hadis. Ungkapan
ini mereka letakkan supaya petunjuk yang jelas akan wajibnya mengikuti Ahlul
Bait menjadi kabur. Karena sesungguhnya ungkapan yang benar ialah “semuanya
berasal dari Bani Hasyim”
, namun tangan-tangan jahat senantiasa
mencari keutamaan-keutamaan Ahlul Bait, untuk kemudian mereka sembunyikan
semampu mereka, atau mengganti dan merubah sesuatu dari mereka yang dapat
diselewengkan.[37]

Riwayat
ini merupakan salah satu korban daripada pengubahan. Namun, Allah SWT
menampakkan cahaya-Nya. Al-Qanduzi al-Hanafi sendiri telah menukilnya di dalam
kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Pada mawaddah kesepuluh dari kitab Mawaddah
al-Qurba, bagi Sayyid Ali al-Hamadani —semoga Allah SWT mensucikan jalannya dan
mencurahkan keberkahannya kepada kita— disebut-kan, “Dari Abdul Malik bin
‘Umair, dari Jabir bin Samrah yang ber-kata, ‘Saya pernah bersama ayah saya
berada di sisi Rasulullah saw, dan ketika itu Rasulullah saw bersabda, ‘Sepeninggalku
akan ada dua belas orang khalifah.’ Kemudian Rasulullah saw menyamarkan
suaranya. Lalu saya bertanya kepada ayah saya, ‘Perkataan apa yang disamarkan
olehnya?’ Ayah saya menjawab, ‘Rasulullah saw berkata, ‘Semua berasal dari Bani
Hasyim.”[38]

Bahkan
Al-Qanduzi meriwayatkan banyak hadis lain yang lebih jelas dari hadis-hadis di
atas. Al-Qanduzi telah meriwayat dari ‘Abayah bin Rab’i, dari Jabir yang mengatakan,
“Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya adalah penghulu para nabi dan Ali
adalah penghulu para washi, dan sesungguhnya para washi sepeninggalku berjumlah
dua belas orang. Yang pertama dari mereka adalah Ali, dan yang terakhir dari
mereka adalah al-Qa’im al-Mahdi.”
[39]

Setelah
menyebutkan hadis-hadis ini, Al-Qanduzi al-Hanafi tidak menemukan apa-apa
selain harus mengakui dan mengatakan, “Sesungguhnya hadis-hadis yang
menunjukkan bahwa para khalifah sesudah Rasulullah saw sebanyak dua belas orang
khalifah, telah banyak dikenal dari banyak jalan, dan dengan penjelasan jaman
dan pengenalan alam dan tempat dapat diketahui bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah
saw dari hadis ini ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait Rasulullah saw.
Karena tidak mungkin kita dapat menerap-kannya pada raja-raja Bani Umayyah,
dikarenakan jumlah mereka yang lebih dari dua belas orang dan dikarenakan
kezaliman mereka yang amat keji, kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan dikarenakan
mereka bukan dari Bani Hasyim. Karena Rasulullah saw telah bersabda,
‘Seluruhnya dari Bani Hasyim’, di dalam riwayat Abdul Malik, dari Jabir. Dan
begitu juga penyamaran suara yang dilakukan oleh Rasulullah saw di dalam
perkataan ini, memperkuat riwayat ini. Dikarenakan mereka tidak menyambut baik
kekhilafahan Bani Hasyim. Kita juga tidak bisa menerapkannya kepada raja-raja
Bani ‘Abbas, disebabkan jumlah mereka yang lebih banyak dibandingkan jumlah
yang disebutkan, dan juga dikarenakan mereka kurang menjaga ayat
“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah apapun kepadamu atas risalah yang aku
sampaikan kecuali kecintaan kepada keluargaku'” dan hadis Kisa`. Maka mau
tidak mau hadis ini harus diterapkan kepada para Imam dua belas dari Ahlul Bait
Rasulullah saw. Karena mereka adalah manusia yang paling berilmu pada jamannya,
paling mulia, paling warak, paling bertakwa, paling tinggi dari sisi nasab,
paling utama dari sisi kedudukan dan paling mulia di sisi Allah SWT. Ilmu
mereka berasal dari bapak-bapak mereka, dan terus bersambung kepada datuk
mereka Rasulullah saw.[40]
Maka penerapan hadis “Kamu harus berpegang teguh pada sunahku dan sunah
para Khulafa` Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku” kepada para
Imam Ahlul Bait jauh lebih dekat dibandingkan menerapkannya kepada para
khalifah yang empat. Karena sudah jelas bahwa para khalifah sepeninggal
Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, yang kesemuanya berasal
dari Bani Hasyim.

Ahlul
Bait, Jalan Untuk Berpegang Kepada Al-Kitab Dan Sunnah.

Adapun
hadis “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh
kepadanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya sepeninggalku, yaitu
Kitab Allah dan sunahku” tidak bertentangan dengan hadis “Kitab Allah
dan ‘ltrah Ahlul Baitku”. Dua hal baru bisa dikatakan ta’arud
(bertentangan) manakala pertentangan yang terjadi di antara keduanya sedemikian
rupa sehingga mustahil untuk dapat dipertemukan. Padahal kedua hadis di atas
dapat diper-temukan dan sama sekali tidak ada pertentangan di antara keduanya.
Ibnu Hajar al-Juhdhi telah menyakinkan kita tentang mungkinnya menggabungkan
kedua hadis di atas. Dia menyebutkan di dalam kitab ash-Shawa’iq-nya,
“Rasulullah saw bersabda di dalam hadisnya, ‘Sesungguhnya aku meninggalkan
padamu dua perkara yang jika kamu mengikuti keduanya niscaya kamu tidak akan
tersesat. Yaitu Kitab Allah dan Ahlul Baitku.’ Thabrani menambahkan tentang
Ahlul Bait, ‘Janganlah kamu mendahului mereka nanti kamu binasa, janganlah kamu
tertinggal dari mereka nanti kamu celaka, dan janganlah kamu mengajari mereka
karena sesungguhnya mereka lebih tahu dari kamu.’ Pada sebuah riwayat
disebutkan bahwa ‘Kitab Allah dan sunahku’ merupakan maksud dari hadis-hadis
yang hanya dibatasi pada Kitab Allah, karena sunnah merupakan penjelas bagi
Kitab Allah, sehingga penyebutan Kitab Allah saja sudah mencukupi. Alhasil,
sesungguhnya anjuran jatuh kepada berpegang teguh kepada Kitab Allah,
sunah-sunnah dan manusia-manusia yang mengetahui keduanya dari kalangan Ahlul
Bait. Dari keterangan hadis-hadis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiga
perkara tersebut akan tetap ada hingga hari kiamat.”[41]

Dengan
ungkapan yang lebih teliti, sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar
tersebut ingin mengatakan bahwa peritah berpegang teguh kepada sunah tidak
dapat dilakukan kecuali melalui jalan para pemeliharanya, yaitu Ahlul Bait.
Karena Ahlul Bait pasti lebih tahu dengan apa yang ada di dalam rumah.
Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh riwayat-riwayat dan telah disaksikan
oleh sejarah. Sehingga dengan demikian, sesungguhnya anjuran yang berasal dari
Rasulullah saw telah jatuh pada berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Ahlul
Bait; dan berpegang teguh kepada sunah sudah merupakan keharusan dari berpegang
teguh kepada Ahlul Bait.•

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Hadis
“Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait” di dalam
Referensi-Referensi Ahlus Sunnah

Pada
pembahasan yang lalu, telah jelas bagi Anda tentang kelemahan hadis
“berpegang kepada sunah”, yang dianggap sebagai pilar utama bagi
tegak berdirinya bangunan mazhab Ahlus Sunnah. Inilah yang menyebabkan kenapa
para ulama mereka sedemikian bersungguh-sungguh menyembunyikan riwayat
“Kitab Allah dan ‘itrahku”, dan menyebarkan hadis “Kitab Allah
dan sunahku”, sehingga melekat ke dalam benak masyarakat sedemikian rupa,
sampai derajat manakala saya menyebutkan hadis “‘itrah” kepada jamaah
mana pun juga tampak keheranan pada wajah-wajah mereka.

Oleh
karena itu, pada pasal ini saya ingin —supaya sempurna hujjah— membuktikan
hadis “‘itrah” dari kitab-kitab Ahlus Sunnah dengan seluruh jalannya,
dan inilah rinciannya:

SANAD
HADIS

Jumlah
Perawi Dari Kalangan Sahabat

Hadis ini
telah mencapai derajat mutawatir dari sekumpulan sahabat, dan inilah sebagian
nama-nama mereka:

1. Zaid bin Arqam.

2. Abu sa’id al-Khudri.

3. Jabir bin Abdullah.

4. Hudzaifah bin Usaid.

5. Khuzaimah bin Tsabit.

6. Zaid bin Tsabit.

7. Suhail bin Sa’ad.

8. Dhumair bin al-Asadi,

9. ‘Amir bin Abi Laila (al-Ghifari).

10. Abdurrahman bin ‘Auf.

11. Abdullah bin Abbas.

12. Abdullah bin Umar.

13. ‘Uday bin Hatim.

14. ‘Uqbah bin ‘Amir.

15. Ali bin Abi Thalib.

16. Abu Dzar al-Ghifari.

17. Abu Rafi’.

18. Abu Syarih al-Khaza’i.

19. Abu Qamah al-Anshari.

20. Abu Hurairah.

21. Abu Hatsim bin Taihan.

22. Ummu Salamah.

23. Ummu Hani binti Abi Thalib.

24. Dan banyak lagi laki-laki dari kalangan Quraisy.

Jumlah
Perawi Dari Kalangan Thabi’in

Penukilan
hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawatir pada jaman tabi’in, dan
inilah sebagian dari para tabi’in yang menukil hadis “Kitab Allah dan
‘itrahku”:

1. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah.

2. ‘Athiyyah bin Sa’id al-‘Ufi.

3. Huns bin Mu’tamar.

4. Harits al-Hamadani

5. Hubaib bin Abi Tsabit.

6. Ali bin Rabi’ah.

7. Qashim bin Hisan.

8. Hushain bin Sabrah.

9. ‘Amr bin Muslim.

10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih.

11. YahyabinJu’dah.

12. Ashbagh bin Nabatah.

13. Abdullahbin Abirafi’.

14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab.

15. Abdurrahman bin Abi sa’id.

16. Umar bin Ali bin Abi Thalib.

17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib.

18. Hasan bin Hasan bin bin Ali bin Abi Thalib.

19. Ali Zainal Abidin bin Husain, dan yang lainnya.

Jumlah
Para Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad

Adapun
orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi’in, dari
kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama
berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat
mereka satu persatu. Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah
mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab ‘Abagat
al-Anwar, juz pertama dan kedua.

Pada
kesempatan ini saya mencukupkan diri dengan hanya menyebutkan jumlah mereka
pada setiap tingkatan masa, dari abad kedua hingga abad keempat belas

• Abad kedua: Jumlah perawi sebanyak 36 orang.

• Abad ketiga: Jumlah perawi sebanyak 69 orang.

• Abad keempat: Jumlah perawi sebanyak 38 orang.

• Abad kelima: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.

• Abad keenam: Jumlah perawi sebanyak 27 orang.

• Abad ketujuh: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.

• Abad kedelapan: Jumlah perawi sebanyak 24 orang.

• Abad kesembilan: Jumlah perawi seabanyak 13 orang.

• Abad kesepuluh: Jumlah perawi sebanyak 20 orang.

• Abad kesebelas: Jumlah perawi sebanyak 11 orang.

• Abad kedua belas: Jumlah perawi sebanyak 18 orang.

• Abad ketiga belas: Jumlah perawi sebanyak 12 orang.

• Abad keempat belas: Jumlah perawi sebanyak 13 orang.

Dengan
begitu jumlah para perawi hadis dari abad ketiga hingga abad keempat belas
semuanya berjumlah 323 orang. Perhatikanlah ini!

HADIS
“KITAB DAN ‘ITRAH” DI DALAM KITAB-KITAB HADIS

Adapun
mengenai kitab-kitab hadis yang meriwayatkan hadis ini jumlahnya banyak sekali.
Kami akan menyebutkan sebagian darinya:

1. Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan
Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Muslim
meriwayatkan di dalam kitab sahihnya, “Telah berkata kepada kami Muhammad
bin Bakkar bin at-Tarian, “Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu
Ibrahim), dari Sa’id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata,
‘Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, ‘Anda telah melihat kebajikan.
Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya.
Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada
kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.’
Zaid (bin Arqam) berkata, ‘Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut
usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat
ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu
terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku
dengannya.’ Kemudian Zaid bin Arqam berkata,

‘Pada
suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di
telaga yang bernama “Khum”, yang terletak di antara Mekkah dan
Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi
nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata,

‘Adapun
selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi
oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan
padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang
merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas
petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas
kesesatan.’ Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua
adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku
peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’
Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), ‘Siapakah Ahlul Baitnya,
apakah istri-istrinya?’ Zaid bin Arqam menjawab, ‘Demi Allah, seorang wanita
akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya
menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait
Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah
sepenggal beliau. ” Muslim juga meriwayatkan:

Dari
Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Mukhallad, semuanya dari Ibnu ‘Uliyyah. Zuhair
berkata, “Telah berkata kepada kami Ismail bin Ibrahim, ‘Telah berkata
kepada kami Abu Hayan, ‘Telah berkata kepada kami Yazid bin Hayan yang berkata,
‘Saya pergi…’ dan kemudian dia menyebutkan hadis di atas.”

Muslim
meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata, “Telah berkata
kepada kami Muhammad bin Fudhail, ‘Telah berkata kepada kami Ishaq bin Ibrahim,
‘Telah memberitahukan kepada kami Jarir’, keduanya dari Abi Hayyan ….
kemudian dia menyebutkan hadis.”

Seluruh
riwayat Muslim kembali kepada Abi Hayyan bin Sa’id at-Tamimi. Adz-Dzahabi telah
berkomentar tentangnya,

“Yahya
bin Sa’id bin Hayyaan Abu Hayyan at-Tamimi adalah seorang pejuang yang
diagungkan dan dipercaya. Ahmad bin Abdullah al-‘Ajali berkata tentangnya, ‘Dia
seorang yang dapat dipercaya, saleh dan unggul sebagai pemilik sunah.”[42]

Adz-Dzahabi
juga berkata di dalam kitab al- ‘lbar, jilid 1, halaman 205, “Di dalamnya
terdapat Yahya bin Sa’id at-Tamimi, Mawla Tim ar-Rabbab al-Kufi. Dia itu
seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah. Asy-Sya’bi dan yang
lainnya meriwayatkan darinya.

Yafi’i
berkata, “Di dalamnya terdapat Yahya bin Sa’id at-Tamimi al-Kufi. Dia itu
seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah.”[43]

Al-‘Asqalani
berkata, “Abu Hayyan at-Tamimi al-Kufi adalah seorang yang dapat
dipercaya, salah seorang ahli ibadah yang enam, dan wafat pada tahun 45
Hijrah.”[44]

Dan
komentar-komentar para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil lainnya tentang Abu
Hayyan at-Tamimi.

Sebagaimana
diketahui dengan jelas bahwa hadis ini diriwayatkan di dalam Sahih Muslim, dan
ini menunjukkan akan kesasihannya, dikarenakan kaum Muslimin sepakat untuk
mensahihkan selurah hadis yang diriwayatkannya.

Muslim sendiri dengan tegas telah mengatakan bahwa
seluruh hadis yang terdapat di dalam Kitab Sahihnya telah disepakati
kesahih-annya. Apalagi dalam pandangannya sudah tentu sahih. Hafidz as-Suyuthi
telah berkata, “Muslim berkata, ‘Tidak semua yang sahih saya letakkan di
sini, melainkan saya hanya meletakkan yang telah disepakati
kesahihannya.'” Sebagaimana tertulis di dalam kitab at-Tadrin ar-Rawi.

An-Nawawi berkata di dalam biografi Muslim,
“Muslim telah menyusun banyak kitab di dalam ilmu hadis, dan salah satunya
adalah kitab sahih ini, yang telah Allah SWT anugrahkan kepada kaum
Muslimin.”[45]

Dan komentar-komentar yang lainnya yang tidak mungkin
disebutkan seluruhnya.

2. Riwayat hadis pada al-Imam al-Hafidz Abi
‘Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, di dalam kitab mustadraknya atas Bukhari dan
Muslim, jilid 3, halaman 22, kitab Ma’rifah as-Shahabah, terbitan Dar
al-Ma’rifah Beirut – Lebanon.

– Abu
‘Awanah meriwayatkan hadis ini dari al-A’masy Tsana Habib bin Abi Tsabit, dari
Abi Laila, dari Zaid bin Arqam yang berkata, “Tatkala Rasulullah saw
kembali dari haji wada’ dan singgah di Ghadir Khum, Rasulullah saw menyuruh
para sahabatnya bernaung di bawah pepohonan.

Kemudian
Rasulullah saw bersabda, ‘Aku hampir dipanggil oleh Allah SWT, maka aku harus
memenuhi panggilannya. Sesungguhnya aku meninggalkan dua perkara yang amat
berharga, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab
Allah dan ‘itrah Ahlul Baitku. Maka perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadap
keduanya, karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga
datang menemuiku di telaga.’ Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya,
‘Sesungguhnya Allah Azza Wajalla adalah pemimpinku, dan aku adalah pemimpin
setiap orang Mukmin’, lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali seraya berkata,
‘Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.”‘
Dengan demikian, Rasulullah saw menekankan bahwa yang pertama dari Ahlul Bait
dan sekaligus pemimpin mereka yang wajib diikuti ialah Ali as.

Sebagaimana
juga diriwayatkan dari dari Hassan bin Ibrahim al-Kirmani Tsana Muhammad bin
Salma bin Kuhail, dari ayahnya, dari Abi Thufail, dari Ibnu Watsilah yang
berkata bahwa dirinya mendengar Zaid bin Arqam berkata… (dan dia menyebutkan
hadis sebagaimana yang di atas), hanya saja dia menambahkan, ‘Kemudian
Rasulullah saw bersabda, Tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih berhak atas
orang-orang Mukmin dibandingkan diri mereka sendiri’ sebanyak tiga kali. Mereka
menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah saw bersabda lagi, ‘Barangsiapa yang menjadikan aku
sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.'”


Al-Hakim juga meriwayatkannya melalui dua jalan yang lain; dan supaya tidak
terlalu panjang saya cukupkan dengan hanya mem-buktikan dua jalan.

Dan di
antara bukti yang menunjukkan kesahihan dan kemutawatiran hadis ini ialah bahwa
al-Hakim telah meriwayatkannya dan telah menetapkan kesahihannya berdasarkan
syarat Bukhari dan Muslim.

3. Riwayat hadis pada Ahmad bin Hanbal di
dalam Musnadnya, jilid 3, halaman 14, 17, 26 dan 59, terbitan Dar Shadir Beirut
– Lebanon.

Telah
berkata kepada kami Abdullah, ‘Telah berkata kepada kami Abi Tsana Abu
an-Nadzar Tsana Muhammad, yaitu Ibnu Abi Thalhah, dari al-A’masy, dari
‘Athiyyah al-‘Ufi, dari Abi Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw yang berkata,
“Aku merasa segera akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan memenuhi
panggilan itu. Aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yaitu
Kitab Allah Azza Wajalla dan ‘itrahku (kerabatku). Kitab Allah, tali penghubung
antara langit dan bumi; dan ‘itrahku, Ahlul Baitku. Dan sesungguhnya Allah Yang
Maha Mengetahui telah berkata kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah
sehingga berjumpa kembali denganku di telaga. Oleh karena itu, perhatikanlah
bagaimana kamu memperlakukan keduanya itu.”

Imam
Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan, “Telah berkata kepada kami Abdullah,
‘Telah berkata kepada kami Tsana bin Namir Tsana Abdullah, yaitu Ibnu Abi
Sulaiman, dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id al-Khudri yang berkata, ‘Rasulullah
saw telah bersabda, ‘Aku telah tinggalkan padamu dua perkara yang amat
berharga, yang mana salah satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab
Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul
Baitku, Ketahuilah, sesungguhnya keduanya tidak akan pernah ber-pisah sehingga
datang menemuiku di telaga.'” Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkannya dari
berbagai jalan, selain jalan-jalan yang di atas.

4. Riwayat hadis dari Turmudzi, jilid 5,
halaman 662 – 663, terbitan Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi.

Telah
berkata kepada kami Ali bin Mundzir al-Kufi, “Telah berkata kepada kami
Muhammad bin Fudhail, ‘Telah berkata kepada kami al-A’masy, dari ‘Athiyyah,
dari Abi Sa’id dan al-A’masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Zaid bin Arqam
yang berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan
padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan
tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya,
yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan
‘itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang
menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan
keduanya.”‘

5. Sebagaimana juga ‘Allamah ‘Alauddin Ali
al-Muttaqi bin Hisam ad-Din al-Hindi
, yang wafat pada tahun 975 H, meriwayatkan
hadis ini di dalam kitabnya Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al- Af’al
,
juz pertama, bab kedua (bab berpegang teguh kepada Al- Qur’an dan sunah),
halaman 172, terbitan Muassasah ar-Risalah Beirut, cetakan kelima, tahun 1985,
yaitu hadis nomer 810, 871, 872 dan 873.

Jika kita
berlama-lama di dalam bab ini, untuk menyebutkan seluruh kitab yang
meriwayatkan hadis ini, niscaya akan memakan waktu yang lama dan dibutuhkan
kitab tersendiri. Sebagai contoh, di sini kami hanya akan menyebutkan
sekumpulan para hafidz dan ulama yang meriwayatkan hadis ini. Adapun untuk
lebih rincinya lagi silahkan Anda merujuk ke dalam kitab Ihqaq al-Haq, karya
Asadullah al-Tusturi, jilid 9, halaman 311. Sebagian dari mereka itu ialah:

1. Al-Hafidz ath-Thabrani, yang wafat tahun 340 H, di
dalam kitabnya al-Mu ‘jam ash-Shaghir.

2. ‘Allamah Muhibbuddin ath-Thabari, di dalam
kitabnya Dzakha’ir al-‘Uqba.

3. ‘Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi
Bakar al-Himwani, di dalam kitabnya Fara’id as-Sirnthain.

4. Ibnu Sa’ad, di dalam kitabnya ath-Thabaqat
al-Kubra.

5. Al-Hafidz as-Suyuthi, di dalam kitabnya Ihya
al-Mayyit.

6. Al-Hafidz al-‘Asqalani, di dalam kitabnya
al-Mawahib al- Ladunniyyah.

7. Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami, di dalam kitabnya
Majma’ az-zawa’id.

8. ‘Allamah an-Nabhani, di dalam kitabnya al-Anwar
al- Muhammadiyyah.

9. Allamah ad-Darimi, di dalam sunannya.

10. Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali
al-Baihaqi, di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra.

11. ‘Allamah al-Baghawi, di dalam kitabnya Mashabih
as-Sunnah.

12. Al-Hafidz Abu al-Fida bin Katsir ad-Dimasyqi, di
dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an.

13. Kitab Jami’ al-Atsir, karya Ibnu Atsir.

14. Muhaddis terkenal, Ahmad bin Hajar al-Haitsami
al-Maliki, yang wafat pada tahun 914 Hijrah, di dalam kitabnya ash- Shawa’ig
al-Muhriqah fi ar-Radd ‘ala Ahlil Bida’ wa az- Zanadiqah, cetakan kedua, tahun
1965, Perpustakaan Kairo.

Setelah
meriwayatkan hadis tsaqalain Ibnu Hajar berkata, “Ketahuilah bahwa hadis
tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait)
diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat.
Jalan riwayat hadis itu telah disebutkan secara terperinci pada bab kesebelas
(dari kitabnya yang bernama ash-Shawa’iq al-Muhriqah).

Di
antaranya disebutkan bahwa hadis itu diucapkan Rasulullah saw di Arafah pada
waktu haji wada’. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengucapkannya
ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar
beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir
Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu
pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para
sahabat. Tidak dapat dikatakan bahwa riwayat-riwayat itu saling bertentangan,
sebab mungkin saja Rasulullah saw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai
tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap
Al-Qur’an dan Ahlul Bait yang suci. Pada sebuah riwayat yang berasal dari
Thabrani, dari Ibnu Umar yang berkata bahwa perkataan terakhir yang diucapkan
oleh Rasulullah ialah, ‘Berbuat baiklah kamu terhadap Ahlul
Baitku.’
Sementara pada riwayat lain yang berasal dari Thabrani dan Abi
Syeikh disebutkan, ‘Allah SWT mempunyai tiga kehormatan. Barangsiapa yang menjaga
ketiganya maka Allah akan menjaga agama dan dunianya, dan barangsiapa yang
tidak menjaga ketiganya maka Allah tidak akan menjaga dunia dan akhiratnya.
Saya bertanya, ‘Apa ketiganya itu?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Kehormatan Islam,
kehormatanku dan kehormatan kerabatku.’

Pada
riwayat Bukhari yang berasal dari ash-Shiddiq dikatakan, ‘Wahai manusia, apakah
Muhammad mencintai Ahlul Baitnya? Artinya, jagalah Rasulullah dengan menjaga
Ahlul Baitnya dan dengan tidak menyakitinya. Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan
di dalam sirahnya bahwa Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya berpesan kepadamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku. Karena
sesungguhnya besok aku akan memusuhimu tentang perihal mereka. Barang siapa
yang aku menjadi musuhnya maka aku akan memusuhinya, dan barangsiapa yang aku
musuhi maka dia akan masuk ke dalam neraka.’
Juga disebutkan bahwa
Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang
menjagaku pada Ahlul Baitku maka berarti dia telah mengambil perjanjian di sisi
Allah.’
Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan: Yang pertama, hadis yang
berbunyi, ‘Aku dan Ahlul Baitku adalah
sebuah pohon di surga, yang dahan-dahannya menjulur sampai ke dunia, maka
barangsiapa yang hendak mengambil jalan menuju Allah maka dia harus berpegang
teguh kepada Ahlul Baitku.’
Adapun yang kedua adalah hadis yang berbunyi, ‘Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia
adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala
bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil,
dan petakwilan orang-orang yang bodoh.’
Adapun riwayat yang kedua ialah
hadis yang berbunyi, ‘lngatlah, sesungguhnya pemimpin-pemimpin kamu adalah
utusan kamu kepada Allah, maka oleh karena itu perhatikanlah siapa yang kamu
jadikan utusan …’ Kemudian mereka berkata, ‘Rasulullah saw menamakan keduanya
dengan nama ats-Tsaqalain dikarenakan ats-tsaql ialah segala sesuatu yang
berharga, mulia dan terjaga; dan ke-duanya memang demikian. Karena keduanya
adalah tambang ilmu-ilmu agama, hikmah dan hukum syariat. Oleh karena itu,
Rasulullah saw menganjurkan untuk mengikuti mereka, berpegang teguh kepada
mereka dan belajar dari mereka. Rasulullah saw bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hikmah Ahlul Bait di
tengah-tengah kita.’
Ada pendapat yang mengatakan bahwa keduanya dinamakan
dengan ats-Tsaqlain adalah dikarenakan beratnya bobot kewajiban menjaga hak-hak
mereka …”

Apakah Anda telah menjaga semua ini, wahai Ibnu
Hajar, menjaga Rasulullah saw di dalam Ahlul Baitnya, mengikuti mereka dan
mengambil agama dari mereka?!

Atau sebaliknya, apakah Anda hanya mengatakan sesuatu
yang sebenarnya tidak ada di hati Anda?! “Sungguh besar kemurkaan di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.”

Sungguh
benar Imam Ja’far ash-Shadiq as manakala mengatakan, “Mereka mengklaim
mencintai kami namun pada saat yang sama mereka melakukan pembangkangan
terhadap kami.” Ibnu Hajar dan orang-orang yang sepertinya, mereka
mengklaim mencintai dan mengikuti Ahlul Bait, namun pada saat yang sama mereka
mengambil agama mereka dari orang-orang yang telah menzalimi Ahlul Bait. Dan
Ibnu Hajar sendiri, tatkala membuktikan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait dan
mengakui kewajiban berpegang teguh kepada mereka, namun pada saat yang sama dia
menyerang Syi’ah di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, memasukkan mereka ke dalam
kelompok yang sesat, dan mencaci maki mereka dengan seburuk-buruknya cacian.

Lantas,
apa dosa mereka, wahai Ibnu Hajar?! Apakah hanya karena mereka mengikuti Ahlul
Bait dan mengambil agama dari kalangan mereka.

KERAGU-RAGUAN TERHADAP HADIS
TSAQALAIN

Di dalam
kitabnya yang berjudul al-‘llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah Ibnu
al-Jauzi mencela hadits ats-tsaqalain. Dia mengatakan, setelah sebelumnya
mengutip hadis ini, “Hadis ini tidak sahih. Adapun ‘Athiyyah telah
didhaifkan oleh Ahmad, Yahya dan selain dari mereka berdua. Adapun tentang
Abdullah al-Quddus, Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan dia
itu seorang rafidhi yang jahat. Sedang mengenai Abdullah bin Dahir, Ahmad dan
Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan bukan termasuk manusia
yang terdapat kebaikan dalam dirinya.”

Menolak
Keragu-Raguan.

1. Sanad
hadis tsaqalain tidah hanya terbatas pada sanad ini saja. Hadis tsaqalain telah
diriwayatkan melalui berbagai jalan, sebagaimana yang telah dijelaskan.

2. Muslim
telah meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya melalui banyak jalan. Dan, tidak
diragukan bahwa riwayat Muslim, meski pun hanya melalui satu jalan sudah cukup
untuk membuktikan kesahihannya, dan ini merupakan sesuatu yang tidak
diperselisihkan di kalangan Ahlus Sunnah.

3.
Demikian juga Turmudzi telah meriwayatkannya di dalam sahihnya melalui banyak
jalan: Dari Jabir, dari Zaid bin Arqam, dari Abu Dzar, dari Abu Sa’id dan dari
Khudzaifah.

4.
Perkataan Ibnu al-Jauzi sendiri di dalam kitabnya al-Mawdhu’at, jilid 1,
halaman 99 yang berbunyi,

“Manakala
Anda melihat sebuah hadis yang tidak terdapat di dalam diwan-diwan Islam
(al-Muwaththa, Musnad Ahmad, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud,
Turmudzi dan sebagainya) maka periksalah. Jika hadis ini mempunyai bandingan di
dalam kitab-kitab sahih dan hasan maka tetapkanlah urusannya.”

Dengan
demikian berarti dia telah menentang dirinya sendiri, karena hadis ini telah
diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis yang dinamakannya sebagai diwan-diwan
Islam.

5.
Sesungguhnya perkataan Ibnu al-Jauzi yang berkenaan dengan ‘Athiyyah itu
tertolak disebabkan penguatan yang diberikan oleh Ibnu Sa’ad terhadapnya. Ibnu
Hajar al-‘Asqalani telah berkata, “Ibnu Sa’ad telah berkata,
“Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada
Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan
jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan
cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak
mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian
‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin
Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga
meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia se- orang yang
dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”[46]
Padahal diketahui bahwa Ibnu Sa’ad adalah termasuk seorang nawasib yang
memusuhi Ahlul Bait. Tingkat permusuhannya terhadap Ahlul Bait sampai
sedemikian rupa sehingga Imam Ja’far ash-Shadiq as mendhaifkannya. Maka
penguatan yang diberikannya kepada ‘Athiyyah cukup menjadi hujjah atas musuh.

6.
Sesungguhnya ‘Athiyyah termasuk orangnya Ahmad bin Hanbal, dan Ahmad bin Hanbal
tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah),
sebagaimana yang sudah diketahui. Ahmad telah meriwayatkan banyak riwayat
darinya, sehingga penisbahan pendhaifan ‘Athiyyah kepada Ahmad adalah sebuah
kebohongan yang nyata. Taqi as-Sabaki telah mengatakan, “Ahmad —semoga
Allah merahmatinya— tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya
(ats-tsiqah). Musuh (maksudnya Ibnu Taimiyyah) telah berterus terang tentang
hal itu di dalam kitab yang dikarangnya untuk menjawab al-Bakri, setelah
sepuluh kitab lainnya. Ibnu Taimiyyah berkata, ‘Sesungguhnya para ulama hadis
yang mempercayai ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil ada dua kelompok. Sebagian dari
mereka tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya dalam
pandangan mereka, seperti Malik, Ahmad bin Hanbal dan lainnya.'”[47]

7.
Penguatan yang diberilan oleh cucu Ibnu Jauzi kepada ‘Athiyyah. Cucu Ibnu Jauzi
dengan tegas memberikan penguatan terhadap ‘Athiyyah dan menolak pendhaifannya.

8. Adapun
usaha Ibnu Jauzi menisbahkan pendhaifan ‘Athiyyah kepada Yahya bin Mu’in itu
tertolak, didasarkan kepada penukilan a-Dawri dari Ibnu Mu’in yang mengatakan
bahwa ‘Athiyyah ada- lah seorang yang saleh. Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata
tentang biografi ‘Athiyyah, “Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa
‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.”[48]
Dengan begitu, gugurlah apa yang telah dinisbahan Ibnu Jauzi kepada Yahya
Mu’in.

Sesuatu
yang menunjukkan kebodohan Ibnu Jauzi akan hadis tsaqalain ialah dia mengira
bahwa dengan semata-mata mendhaifkan ‘Athiyyah berarti dia telah mendhaifkan
hadis tsaqalain, padahal sudah diketahui dengan jelas bahwa penguatan atau
pendhaifan ‘Athiyyah sama sekali tidak mencemarkan hadis tsaqalain. Karena
hadis yang telah diriwayatkan oleh ‘Athiyyah dari Abi Sa’id juga telah diriwayatkan
dari Abi Sa’id oleh Abu Thufail, yang termasuk ke dalam kategori sahabat. Dan
jika kita melangkah lebih jauh lagi dari itu niscaya kita akan menemukan bahwa
kesahihan hadis tsaqalain tidak bergantung kepada riwayat Abi Sa’id, baik yang
melalui jalan ‘Athiyyah maupun yang melalui jalan Abu Thufail. Jika seandainya
kita menerima ke-dhaifan riwayat Abi Sa’id dengan semua jalannya, maka yang
demikian itu tidak membahayakan sedikit pun terhadap hadis ini, disebabkan
banyaknya riwayat dan jalan lain yang dimilikinya.

Jawaban
Kepada Ibnu Jauzi Atas Pendhaifannya Terhadap Ibnu Abdul Quddus

1. Adapun
celaannya terhadap Abdullah bin Abdul Quddus tertolak dengan penguatan yang
diberikan oleh al-Hafidz Muhammad bin Isa terhadap Abdullah bin Abdul Quddus.
Al-Hafidz Muhammad bin Isa berkata tentang biografi Abdullah bin Abdul Quddus,
“Ibnu ‘Uday telah menceritakan dari Muhammad bin Isa yang mengatakan, ‘Dia
(Abdullah bin Abdul Quddus) itu dapat dipercaya.”‘[49]

Al-Hafidz
Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Telah diceritakan bahwa Muhammad bin Isa
telah berkata, ‘Dia itu dapat dipercaya.'”[50]

Adapun
tentang Muhammad bin Isa, al-Hafidz adz-Dzahabi telah berkata, “Abu Hatim
telah berkata, ‘Dia seorang yang dapat dipecaya. Saya belum pernah melihat dari
kalangan muhaddis yang lebih menguasai bab-bab hadis melebihi dia.’ Abu Dawud
telah berkata, ‘Dia seorang yang dapat dipercaya.'”

2.
Muhammad bin Hayan memasukkan Abdullah bin Abdul Quddus ke dalam kelompok orang
yang dapat dipercaya. Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Abdullah bin
Abdul Quddus, “Ibnu Hayan telah memasukkannya ke dalam kelompok orang yang
dapat di- percaya.”[51]

3.
Al-Haitsami telah menukil di dalam kitabnya Majma’ az-Zawa’id, “Bukhari
dan Ibnu Hayan telah menguatkannya.”

4.
Al-Hafidz al-‘Asqalani telah berkata tentang biografinya, “Dia, pada
dasarnya adalah seorang yang amat jujur, hanya saja dia meriwayatkan dari
kaum-kaum yang dhaif.”[52]

Kritikan
Bukhari terhadap Ibnu Abdul Quddus, setelah sebelumnya dia menguatkannya, bahwa
dia meriwayatkan dari orang-orang yang lemah tidaklah tertuju kepada hadis ini.
Karena Ibnu Abdul Quddus meriwayatkan hadis tsaqalain —yang disebutkan oleh
Ibnu Jauzi— dari al-A’masy, dan dia adalah seorang yang dapat dipercaya.

5.
Abdulah bin Abdul Quddus adalah termasuk orangnya Bukhari di dalam kitab
sahihnya, di dalam bab at-Ta’liqat. Sebagaimana juga disebutkan di dalam kitab
Tahdzib at-Tahdzib, jilid 5, halaman 303; dan juga kitab Tagrib at-Tahdzib,
jilid 1, halaman 430. Kelulusan yang diberikan oleh Bukhari kepadanya, meskipun
itu terdapat di dalam bab at-Ta’liqat merupakan bukti penguatan Bukhari
terhadapnya.

Ibnu
Hajar al-‘Asqalani, di dalam memberikan jawaban terhadap tuduhan yang
dilontarkan kepada orang-orang Bukhari berkata di dalam mukaddimah Fath al-Bari
fi Syarh Shahih al-Bukhari, “Sebelum menyelami masalah ini, hendaknya
setiap orang yang sadar mengetahui bahwa kelulusan yang diberikan oleh pemilik
kitab sahih ini —yaitu Bukhari— kepada perawi mana saja, menuntut keadilan
perawi tersebut dalam pandangan Bukhari, kebenaran rekamannya dan
ketidaklalaiannya. Apalagi mayoritas para imam menamakan kedua kitab ini
sebagai dua kitab sahih. Makna ini tidak berlaku bagi orang yang tidak
diluluskan di dalam kedua kitab sahih ini.”

6.
Abdullah bin Abdul Quddus termasuk orangnya Turmudzi.

7.
Pencemaran terhadap Abdullah bin Abdul Quddus juga tidak membahayakan hadis
ini. Bahkan sekali pun dengan riwayat al-A’masy dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id,
disebabkan tidak hanya Abdullah bin Abdul Quddus sendiri yang meriwayatkan
hadis ini dari al- A’masy. Hadis ini juga telah diriwayatkan dari al-A’masy
oleh Muhammad bin Thalhah bin al-Musharrih al-Yami dan Muhammad bin Fudhail bin
Ghazwan adh-Dhibbi di dalam Musnad Ahmad dan Turmudzi, sebagaimana yang telah
dijelaskan kepada Anda. Dan ini merapakan bukti kebenaran riwayat ini.
Sebagaimana juga al- A’masy tidak hanya meriwayatkan hadis ini dari ‘Athiyyah,
dia juga meriwayatkan hadis ini dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman Masiri
al-Ghazrami dan Abi Israil Ismail bin Khalifah al-‘Abasi, sebagaimana
disebutkan di dalam Musnad Ahmad, dan juga dari Harun bin Sa’ad al-‘Ajali dan
Katsir bin Ismail at-Timi, sebagaimana terdapat di dalam Mu’jam ath-Thabrani.

Adapun
Pendhaifan Ibnu Jauzi Terhadap Abdullah bin Dahir:

1. Ini
bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Karena tuduhan
samar tidak dapat diterima dari siapa pun.

2. Tidak
ada sebab yang rasional untuk menuduhnya di dalam riwayat ini, selain karena
periwayatannya tentang keutamaan-keutamaan Amirul Mukminin. Sebagaimana
dikatakan oleh adz-Dzahabi, “Ibnu ‘Adi berkata, ‘Kebanyakan riwayat yang
diriwayatkannya berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Ali, dan dia menjadi
tertuduh karena hal itu.'”[53]
Sungguh, pendhaifannya karena sebab ini tidak dapat diterima.

3. Dan
yang lebih mengherankan dari Ibnu al-Jauzi ialah dia berusaha sedemikian rupa
untuk mendhaifkan hadis ini dengan cara memasukkan Abdullah bin Dahir ke dalam
sanad hadis ini, padahal dengan jelas diketahui bahwa Abdullah bin Dahir sama
sekali tidak termasuk ke dalam sanad hadis ini. Silahkan rujuk kepada riwayat-
riwayat yang telah disebutkan dan juga riwayat-riwayat yang belum kami
sebutkan, apakah Anda mendapati Abdullah bin Dahir di dalam sanad hadis ini?!
Dan saya tidak memahami hal ini selain dari permusuhan kepada Ahlul Bait dan
usaha-usaha untuk menghapus hak-hak mereka. Akan tetapi Allah enggan akan hal
itu kecuali Dia menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang yang kafir
tidak suka.

4. Cucu
Ibnu al-Jauzi, setelah menyebutkan hadis tsaqalain dari Musnad Ahmad bin Hambal
dia mengatakan, “Jika dikatakan, ‘Kakek Anda telah mengatakan di dalam
kitab al-Wahiyah, ‘…. (lalu dia menyebutkan perkataan Ibnu al-Jauzi di dalam
mendhaifkan hadis ini, sebagaimana yang telah disebutkan)’, maka saya katakan,
‘Hadis yang kami riwayatkan telah disahkan oleh Ahmad di dalam al-Fadhail, dan
tidak ada seorang pun di dalam sanadnya yang didhaifkan oleh kakek saya. Abu
Dawud juga telah mensahkannya di dalam sunannya, dan begitu juga Turmudzi dan
mayoritas kalangan muhaddis. Razin juga telah menyebutkannya di dalam kitab
al-Jam’ Baina ash-Shabah. Sungguh mengherankan bagaimana mungkin hadis yang
diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya dari Zaid bin Arqam dapat
tersembunyi dari kakek saya.'”[54]
Apa yang dikatakan oleh cucu Ibnu al-Jauzi tidak lain merupakan pembenaran bagi
Ibnu al-Jauzi. Karena jika tidak maka tentu Ibnu al-Jauzi tidak lalai akan
hadis yang dapat disaksikan di dalam referensi-referensi kaum Muslimin ini,
dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, namun dia ingin menipu
dan membuat makar maka Allah pun membuat makar terhadapnya dan menggagalkan
urusannya.

Kritikan
Ibnu Taimiyyah.

Adapun
kritikan Ibnu Taimiyyah terhadap hadis tsaqalain di dalam kitabnya Minhaj
as-Sunnah lebih lemah untuk kita diskusikan, namun dengan maksud untuk
memaparkannya kita akan tetap menyebutkan pemikiran yang kosong ini, yang tidak
mengekspresikan apa-apa kecuali kesalah-pahaman. Ketika Ibnu Taimiyyah tidak
mampu mendhaifkan hadis tsaqalain dari sisi sanad, sebagaimana kebiasaannya di
dalam mendhaifkan setiap hadis yang berbicara tentang keutaman Ahlul Bait, dia
menggunakan cara lain yang tidak kita temukan pada yang lain selain dia. Dia
mengatakan, hadis ini tidak menunjukkan kepada wajibnya berpegang teguh kepada
Ahlul Bait melainkan hanya menunjukan kepada wajibnya berpegang teguh kepada
Al-Qur’an saja.

Manusia
berakal mana yang menarik kesimpulan dan pemahaman yang seperti ini dari nas
yang sedemikian jelas ini?! Zahir hadis memastikan dan menekankan wajibnya
berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Kitab dan al-‘Itrah. Karena jika
tidak maka apa artinya tsaqalain (dua benda yang sangat berharga)? (Aku
tinggalkan padamu dua benda yang sangat berharga). Apa artinya sabda Rasulullah
saw yang berbunyi, “Jika kamu
berpegang teguh kepada keduanya”?!
Akan tetapi kefanatikan telah
membutakan hati, dan Ibnu Taimiyyah pun berargumentasi atas hal itu dengan
sebuah hadis yang terdapat di dalam sahih Muslim yang berasal dari Jabir, dan
kemudian dia melemparkan seluruh hadis yang lain ke dinding atau berpura-pura
lalai darinya, meski pun hadis-hadis tersebut banyak riwayatnya dan banyak
jalannya. Yaitu sebuah hadis yang dengan jelas tampak cacat bagi orang yang teliti
apabila dibandingkan dengan hadis-hadis lain yang ada di dalam bab ini. Hadis
yang dijadikan argumentasi oleh Ibnu Taimiyyah ialah, “Aku tinggalkan
padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan
tersesat sesudahnya, yaitu Kitab Allah.”

Hadis ini
jelas-jelas cacat dan menyimpang. Karena hadis Jabir sendiri terdapat di dalam
riwayat Turmudzi, dimana di dalamnya terdapat perintah yang jelas akan wajibnya
berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Adapun bunyi nas hadis yang terdapat di
dalam riwayat Turmudzi ialah, “Wahai
manusia, sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang
teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah
Ahlul Baitku.”

Kritikan
Ibnu Taimiyyah itu sendiri juga mengenai dirinya. Karena dia mengatakan
wajibnya berpegang teguh kepada al-Kitab dan sunah. Tentunya perintah yang
datang dari Rasulullah saw itu satu, apakah kewajiban berpegang teguh kepada
al-Kitab saja atau kewajiban berpegang teguh kepada al-Kitab dan sunah. Ketika
Ibnu Taimiyyah memilih kewajiban berpegang teguh kepada al-Qur’an saja, maka
tentunya kewajiban berpegang teguh kepada sunah menjadi gugur. Ini jelas
bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyyah sendiri, sebagaimana tampakjelas
dari mazhabnya—yaitu Ahlus Sunnah, sebagaimana juga dia menamakan kitab tempat
dia menyebutkan hadis ini dengan nama Minhaj as-Sunnah, dan tidak dengan nama
Minhaj al-Qur’an.

Jika
menurut keyakinannya bahwa hadis yang disebutkannya ini tidak membatalkan hadis
berpegang teguh kepada al-kitab dan sunah maka tentunya hadis ini pun tidak
membatalkan hadis yang mengatakan wajibnya berpegang teguh kepada al-kitab dan
‘ltrah Ahlul Bait.

Ibnu
Taimiyyah tidak berhenti sampai disini, dia mengatakan tentang hadis “…
dan ‘ltrah Ahlul Baitku. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah
berpisah hingga menemuiku di telaga”, “Sesungguhnya hadis ini
diriwayatkan oleh Turmudzi. Dan, Ahmad telah ditanya tentang hadis ini, serta
tidak hanya seorang dari ahli ilmu yang mendhaifkan hadis ini. Mereka
mengatakan bahwa hadis ini tidak sahih.”

Adapun jawaban terhadap Ibnu Taimiyyah, Anda dapat
merasakan dari perkataan Ibnu Taimiyyah bahwa nas hadis ini tidak diriwayatkan
kecuali oleh Turmudzi, padahal sebagaimana sudah Anda ketahui bahwa hadis ini
telah diriwayatkan tidak hanya oleh seorang dari kalangan ulama Ahlus Sunnah
dan para hafidz mereka.

Lantas, apa yang dia maksud dengan mengatakan hadis
ini diriwayatkan oleh Turmudzi?!

Apakah dia ingin mengatakan riwayat Turmudzi
menunjukkan kedhaifan hadis ini?!

Siapa yang telah bertanya kepada Ahmad?! Dan apa
jawaban Ahmad kepadanya?!

Di mana perkataan ini dapat ditemukan?!

Bukankah Ahmad sendiri telah meriwayatkan dan
menguatkan hadis ini?!

Dan siapa yang mendhaifkan hadis ini, sehingga Ibnu
Taimiyyah mengatakan tidak hanya seorang?! Kenapa dia tidak menyebutkan
nama-nama mereka?!

Dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang dapat
ditujukan kepada Ibnu Taimiyyah. Jika dia dapat memberikan jawaban yang kuat
tentu kita akan menerima kritikannya terhadap hadis ini. Namun, kita tidak
mungkin menerima pembicaraannya yang rancu dan samar.

Namun, inilah kebiasaan Ibnu Taimiyyah, dia bersedia
menyesatkan umat dan menutupi kebenaran.

Inilah
keragu-raguan yang paling tampak di dalam bab ini, dan menurut pengkajian saya,
saya tidak melihat adanya orang yang mencela hadis tsaqalain, yang telah
tertetapkan secara mutawatir dan telah diakui kesahihannya oleh para ulama
umat, dari kalangan huffadz dan muhaddis. Tidak ada yang berani mencela hadis
tsaqalain ini kecuali orang yang mempunyai hati yang jahat yang dipenuhi dengan
ke-bencian kepada Ahlul Bait.

Setelah
terbukti dengan jelas kesahihan hadis ini bagi kita, maka kita wajib menyingkap
penunjukkan maknanya, untuk kemudian berpegang teguh kepadanya.

PENUNJUKKAN
HADIS TSAQALAIN TERHADAP KEIMAMAHAN AHLUL BAIT

Penunjukkan
makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat
jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan
kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan
pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan
perbuatan. Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka
maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama.
Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat
diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali
melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka.
Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada
keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang
teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu
menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya. Demikian juga halnya dengan
berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat
terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih
dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan
‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai
pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka
mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib,
sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari
siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Karena hal ini merupakan pembahasan
berikutnya. Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan
larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa
mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini.

Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan,
“Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu
Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah
yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang
jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal
beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka. Rasulullah saw
menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu
memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas,
sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan
mereka.

Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah
saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah.
Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah
untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali
Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan
siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan
dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian
datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang
menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah
Kitab Allah dan Rasulullah saw.

Sekelompok para mufassir telah mengatakan yang
demikian itu. Ibnu Hajar telah menyebut nama-nama mereka di dalam kitabnya
ash-Shawa’iq, di dalam bab “Apa-Apa Yang Diturunkan Dari Al-Qur’an Tentang
Ahlul Bait”. Silahkan Anda merujuknya!

Al-Qanduzi
menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang
firman Allah SWT yang berbunyi “Dan
berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”
, “Tsa’labi telah
mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah
katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali
Allah dan janganlah berpecah-belah.'”
Penulis kitab al-Manaqib juga
mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami
pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang
berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu
kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan
berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke
tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah
yang kokoh itu.’
[55]

Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi
“Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”,
menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena
keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun
kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di
dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan
maupun dengan perbuatan.

Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun
dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu
berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis
mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah
saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah
saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan
sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan
(ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan
mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi
kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya
kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang
berbunyi “Janganlah kamu mendahului
mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena
kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya
mereka lebih mengetahui dari kamu”
memperkuat makna ini.

Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap
berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang
kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya
ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang
teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan
terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat.
Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para
pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis
yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil
dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang
paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka
ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan
ketelitian hasil-hasil istinbathnya.[56]

Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan
pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan
mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi
hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah
kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari
kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan
dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya.
Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun
perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan,
sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini
kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan
Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita
wajib mengenal dan mengikutinya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam
keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang
jahiliyyah.”

Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT
yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam
mereka.”

 

BAB IV

Siapa
Ahlul Bait Itu?

 

Pembahasan
ini termasuk sejelas-jelasnya pembahsan. Karena tidak ada seorang pun manusia
yang pura-pura tidak mengenal Ahlul Bait kecuali mereka para penentang yang
tidak menemukan jalan keluar dari dalil-dalil yang pasti tentang wajibnya
mengikuti mereka, lalu mereka pun berlindung kepada keragu-raguan tentang siapa
yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Inilah yang dapat saya saksikan dari
berbagai diskusi yang saya lakukan dengan teman-teman. Ketika salah seorang
mereka tidak menemukan jalan untuk menghindar dari keharusan mengikuti Ahlul
Bait, dengan serta-merta dia melontarkan berbagai pertanyaan yang meragukan,

Siapa Ahlul Bait itu?

Bukankah istri-istri Rasulullah saw termasuk Ahlul
Baitnya?!

Bukankah Rasulullah saw telah bersabda, “Salman
dari kalangan kami Ahlul Bait”?!

Bahkan, bukankah Abu Jahal juga termasuk keluarga
Rasulullah saw?!

Tidak ada
yang mereka inginkan dari seluruh pertanyaan ini kecuali keinginan untuk
mengingkari kenyataan hadis Tsaqalain, yang merupakan salah satu hadis yang
menunjukkan kepada keimamahan Ahlul Bait, mereka menduga bahwa dengan
pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan ini, mereka dapat membungkam akalnya
dan membungkam seruan nuraninya. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan perkiraan
mereka, dan hujjah tetap tegak berdiri meskipun dia mengingkari atau pun tidak
mengingkari.

Saya
pernah mengatakan kepada sebagian mereka manakala mereka melontarkan
pertanyaan-pertanyaan seperti ini, “Kenapa Anda menginginkan segala
sesuatunya tersedia dengan tanpa susah-payah?! Sesungguhnya pikiran-pikiran
yang sudah dikemas tidak memberikan faidah. Saya mampu memberikan jawaban,
namun Anda pun mampu menolak dan mengingkari jawaban saya, karena Anda tidak
merasakan pahitnya melakukan pembahasan dan tidak menanggung kesulitan untuk
bisa memberikan jawaban. Apakah hanya saya yang diwajibkan untuk menjawab?
Apakah Rasulullah saw telah memerintahkan kepada saya secara khusus untuk
berpegang teguh kepada Ahlul Bait?! Tidak, kita semua diwajibkan untuk menjawab
pertanyaan ini. Karena telah tegak hujjah atas kita akan wajibnya mengikuti
Ahlul Bait dan mengambil agama dari mereka, sehingga kita wajib mengenal mereka
dan untuk kemudian mengikuti mereka.”

Pada
kesempatan ini pun saya tidak akan memperluas argumentasi dan dalil, melainkan
saya cukup mengemukakan beberapa petunjuk yang jelas, dan bagi siapa yang
menginginkan keterangan yang lebih maka dia sendiri yang harus memperdalamnya.

Ahlul Bait
Di Dalam Ayat Tathhir

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai
Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.”

(QS.
al-Ahzab: 33)

Sesungguhnya
turunnya ayat ini kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain adalah termasuk perkara
yang amat jelas bagi mereka yang mengkaji kitab-kitab hadis dan tafsir. Dalam
hal ini Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya mayoritas para mufassir
mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Fatimah, Hasan dan
Husain.”[57]
Ayat ini, disebabkan penunjukkannya yang jelas terhadap kemaksuman Ahlul Bait,
tidak sejalan kecuali dengan mereka. Ini dikarenakan apa yang telah kita
jelaskan, yaitu bahwa mereka itu adalah pusaka umat ini dan para pemimpin
sepeninggal Rasulullah saw. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan kita
untuk mengikuti mereka. Arti kemaksuman juga dengan jelas dapat disaksikan dari
ayat ini, bagi mereka yang mempunyai hati dan mau mendengarkan. Hal itu
dikarenakan mustahil tidak terlaksananya maksud jika yang mempunyai maksud itu
adalah Allah SWT; dan huruf al-hashr (pembatasan) yaitu kata “innama”
menunjukkan kepada arti ini. Yang menjadi fokus perhatian kita di dalam
pembahasan ini ialah membuktikan bahwa ayat ini khusus turun kepada Ali,
Fatimah, Hasan dan Husain.

Hadis
Al-Kisa“ Menentukan Siapa Yang Dimaksud Dengan Ahlul Bait

Argumentasi
terdekat dan terjelas yang berkenaan dengan penafsiran ayat ini ialah sebuah
hadis yang dikenal di kalangan para ahli hadis dengan sebutan hadis al-Kisa“,
yang tingkat kesahihan dan kemutawatirannya tidak kalah dari hadis Tsaqalain.

1.
Al-Hakim telah meriwayatkan di dalam kitabnya al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain
fi al-Hadis:

“Dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib yang
berkata, ‘Ketika Rasulullah saw memandang ke arah rahmat yang turun, Rasulullah
saw berkata, ‘Panggilkan untukku, panggilkan untukku.’ Shafiyyah bertanya,
‘Siapa, ya Rasulullah?!’ Rasulullah menjawab, ‘Ahlul Baitku, yaitu Ali,
Fatimah, Hasan dan Husain.’ Maka mereka pun dihadirkan ke hadapan Rasulullah,
lalu Rasulullah saw meletakkan pakaiannya ke atas mereka, kemudian Rasulullah
saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah keluargaku
(maka sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).’ Lalu Allah
SWT menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa
dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. ‘”[58]

Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih
sanadnya.”

2.
Al-Hakim meriwayatkan hadis serupa dari Ummu Salamah yang berkata, “Di
rumah saya turun ayat yang berbunyi ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu
sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fatimah, Hasan dan Husain,
dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku.'”[59]
Kemudian, al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat Bukhari.”

Di tempat
lain al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dari Watsilah, dan kemudian berkata,
“Hadis ini sahih menurut syarat mereka berdua.”

3. Muslim
meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Aisyah yang berkata,
“Rasulullah saw pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan
pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan
Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husain datang, dan
Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan
Rasulullah saw pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga
datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; kemudian
Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.”[60]

Berita
ini dapat ditemukan di dalam banyak riwayat yang terdapat di dalam kitab-kitab
sahih, kitab-kitab hadis dan kitab-kitab tafsir.[61]
Hadis al-Kisa` termasuk hadis yang sahih dan mutawatir, yang tidak ada
seorang pun yang mendhaifkannya, baik dari kalangan terdahulu maupun kalangan
terkemudian. Sungguh akan banyak memakan waktu jika kita menyebutkan seluruh
riwayat ini. Saya menghitung ada dua puluh tujuh riwayat yang kesemuanya sahih.

Di antara
riwayat yang paling jelas di dalam bab ini —di dalam menentukan siapa Ahlul
Bait— ialah riwayat yang dinukil oleh as-Suyuthi di dalam kitab tafsirnya
ad-Durr al-Mantsur, yang berasal dari Ibnu Mardawaih, dari Ummu Salamah yang
berkata, “Di rumahku turun ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu
sesuci-sucinya.’ Saat itu di rumahku ada tujuh orang yaitu Jibril, Mikail, Ali,
Fatimah, Hasan dan Husain, sementara aku berada di pintu rumah. Kemudian saya
berkata, ‘Ya Rasulullah, tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?!’ Rasulullah saw
menjawab, ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau
termasuk istri Rasulullah saw.'”[62]

Pada
riwayat al-Hakim di dalam kitab Mustadraknya disebutkan, Ummu Salamah bertanya,
“Ya Rasulullah, saya tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah saw menjawab,
“Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan, mereka itulah Ahlul Baitku.
Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku yang lebih berhak.”[63]

Pada
riwayat Ahmad disebutkan, “Saya mengangkat pakaian penutup untuk masuk
bersama mereka namun Rasulullah saw menarik tangan saya sambil berkata,
‘Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan.'”[64]
Ini cukup membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait ialah mereka Ashabul Kisa, sehingga dengan demikian
mereka itu adalah padanan al-Qur’an, yang kita telah diperintahkan oleh
Rasulullah saw — di dalam hadis Tsaqalain — untuk berpegang teguh kepada
mereka.

Orang
yang mengatakan bahwa ‘itrah itu artinya keluarga, sehingga mengubah makna,
perkataannya itu tidak dapat diterima. Karena tidak ada seorang pun dari para
pakar bahasa yang mengatakan demikian. Ibnu Mandzur menukil di dalam kitabnya
Lisan al-‘Arab, “Sesungguhnya
‘itrah Rasulullah saw adalah keturunan Fatimah ra.

Ini
adalah perkataan Ibnu Sayyidah. Al-Azhari berkata, ‘Di dalam hadis Zaid bin
Tsabit yang berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘… lalu dia menyebut hadis
Tsaqalain’ . Maka di sini Rasulullah menjadikan ‘itrahnya sebagai Ahlul Bait.’
Abu Ubaid dan yang lainnya berkata, “Itrah seorang laki-laki adalah
kerabatnya.’ Ibnu Atsir berkata, “Itrah seorang laki-laki lebih khusus
dari kaum kerabatnya.’ Ibnu A’rabi berkata, “Itrah seorang laki-laki ialah
anak dan keturunannya yang berasal dari tulang sulbinya.’ Ibnu A’rabi
melanjutkan perkataannya, ‘Maka ‘itrah Rasulullah saw adalah keturunan
Fatimah.”[65]
Dari makna-makna ini menjadi jelas bahwa yang dimaksud Ahlul Bait bukan mutlak
kaum kerabat, melainkan kaum kerabat yang paling khusus. Oleh karena itu, di
dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa tatkala Zaid bin Arqam ditanya, siapa
yang dimaksud dengan Ahlul Bait Rasulullah? Apakah istri-istrinya?

Zaid bin
Arqam menjawab, “Tidak, demi Allah. Sesungguhnya seorang wanita tidak
selamanya bersama suaminya, karena jika dia ditalak maka dia akan kembali
kepada ayah dan kaumnya. Adapun yang dimaksud Ahlul Bait Rasulullah saw ialah
keluarga nasabnya, yang diharamkan sedekah atas mereka sepeninggalnya
(Rasulullah saw).”

Menjadi
anggota Ahlul Bait tidak pernah diklaim oleh seorang pun dari kaum kerabat
Rasulullah saw, dan begitu juga oleh istri-istrinya. Karena jika tidak, maka
tentunya sejarah akan menceritakan hal itu kepada kita. Tidak ada di dalam
sejarah dan juga di dalam hadis yang menyebutkan bahwa istri Rasulullah saw
berhujjah dengan ayat ini. Sebaliknya dengan Ahlul Bait. Inilah Amirul Mukminin
Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla
mengutamakan kami Ahlul Bait. Bagaimana tidak demikian padahal Allah SWT telah
berfirman di dalam Kitab-Nya, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu
sesuci-sucinya.’ Allah SWT telah mensucikan kami dari berbagai kotoran, baik
yang tampak maupun yang tersembunyi. Maka kami berada di atas jalan
kebenaran.”

Putranya al-Hasan as berkata, “Wahai manusia,
barangsiapa yang mengenalku maka sungguh dia telah mengenalku, dan barangsiapa
yang tidak mengenalku maka inilah aku Hasan putra Ali. Akulah anak seorang
laki-laki pemberi kabar gembira dan peringatan, penyeru kepada Allah dengan
ijin-Nya, dan pelita yang bercahaya. Saya termasuk Ahlul Bait yang mana Jibril
turun naik kepada mereka. Saya termasuk Ahlul Bait yang telah Allah hilangkan
dosa dari mereka dan telah Allah sucikan mereka sesuci-sucinya.”

Pada kesempatan yang lain al-Hasan berkata,
“Wahai manusia, dengarkanlah. Kamu mempunyai hati dan telinga, maka
perhatikanlah. Sesungguhnya kami ini adalah Ahlul Bait yang telah Allah
muliakan dengan Islam, dan Allah telah memilih kami, maka Dia pun menghilangkan
dosa dari kami dan mensucikan kami sesuci-sucinya.”

Adapun
argumentasi Ibnu Katsir tentang keharusan memasukkan istri-istri Rasulullah saw
tidaklah dapat diterima, karena kehujjahan zhuhur bersandar kepada kesatuan
ucapan. Sebagaimana di ketahui bahwa ucapan telah berubah dari bentuk ta’nits
pada ayat-ayat sebelumnya kepada bentuk tadzkir pada ayat ini. Jika yang di
maksud dari ayat ini adalah istri-istri Rasulullah saw maka tentunya ucapan
ayat berbunyi “Innama Yuridullah Liyudzhiba ‘Ankunnar Rijsa Ahlal Bait wa
Yuthahhirakunna Tathhira “, karena ayat-ayat tersebut khusus untuk
istri-istri Rasulullah saw. Oleh karena itu, Allah SWT memulai firmannya
setelah ayat ini, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari
ayat-ayat Allah dan hikmah….” (QS.
al-Ahzab: 34)

Tidak ada
seorang pun yang mengatakan bahwa ayat Tathhir turun kepada istri-istri
Rasulullah saw selain dari Ikrimah dan Muqatil. Ikrimah mengatakan,
“Barangsiapa yang menginginkan keluarganya maka sesungguhnya ayat ini
turun kepada istri-istri Nabi saw.”[66]
Perkataan Ikrimah ini tidak dapat diterima, disebabkan bertentangan dengan
riwayat-riwayat sahih yang dengan jelas mengatakan bahwa Ahlul Bait itu ialah
para ashabul kisa, sebagaimana yang telah dijelaskan.

Kedua,
apa yang telah memicu emosi Ikrimah sehingga dia berteriak-teriak di pasar
menantang mubahalah?

Apakah
karena kecintaan kepada istri-istri Nabi saw atau karena kebencian kepada para
Ashabul Kisa`?! Dan kenapa dia mengajak ber-mubahalah jika ayat itu tidak diragukan
turun kepada istri-istri Nabi saw?! Atau apakah karena pendapat umum yang
berkembang mengatakan bahwa ayat itu turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan
Husain?! Dan memang demikian. Ini dapat dilihat dari perkataannya, “Yang
benar bukanlah sebagaimana pendapat Anda semua, melainkan ayat ini turun hanya
kepada istri-istri Nabi saw.”[67]
Ini artinya bahwa di kalangan para tabi’in ayat ini jelas turun kepada Ali,
Fatimah, Hasan dan Husain as.

Kita juga
tidak mungkin bisa menerima Ikrimah sebagai saksi dan penengah dalam masalah
ini, disebabkan dia sudah sangat dikenal amat memusuhi Ali. Dia termasuk
kelompok Khawarij yang memerangi Ali, maka tentunya dia akan mengatakan bahwa
ayat ini turun kepada istri-istri Nabi saw. Karena jika dia mengakui bahwa ayat
ini turun kepada Ali maka berarti dia telah menghancurkan mazhabnya sendiri dan
telah merobohkan pilar-pilar keyakinan yang mendorong dirinya dan para sahabatnya
untuk keluar memerangi Ali as. Di samping sudah sangat terkenalnya kebohongan
Ikrimah atas Ibnu Abbas, sehingga Ibnu al-Musayyab sampai mengatakan kepada
budaknya, “Jangan kamu berbohong atasku sebagaimana Ikrimah telah
berbohong atas Ibnu Abbas.” Di dalam kitab Mizan al-I’tidal disebutkan
bahwa Ibnu Ummar pun mengatakan yang sama kepada budaknya yang bernama Nafi’.

Ali bin
Abdullah bin Abbas telah berusaha mencegah Ikrimah dari perbuatan berdusta
kepada ayahnya. Salah satu cara yang dilakukannya ialah dengan cara menggantung
Ikrimah ke atas dinding supaya dia tidak berdusta lagi atas ayahnya. Abdullah
bin Abi Harits berkata, “Saya menemui Ibnu Abdullah bin Abbas, dan saya
mendapati Ikrimah tengah diikat di atas pintu dinding. Kemudian saya berkata kepadanya,
‘Beginikah kamu memperlakukan budakmu?’ Ibnu Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Dia
telah berdusta atas ayahku.'”[68]

Adapun
Muqatil, dia tidak kalah dari Ikrimah di dalam permusuhannya terhadap Amirul
Mukminin dan reputasi kebohongannya, sehingga an-Nasa’i memasukkannya ke dalam
kelompok pembohong terkenal pembuat hadis.[69]

Al-Juzajani di dalam kitab Mizan adz-Dzahab berkata
di dalam biografi Muqatil, “Muqatil adalah seorang pembohong yang
berani.”[70]

Muqatil pernah berkata kepada Mahdi al-‘Abbasi,
“Jika Anda mau, saya bisa membuat hadis-hadis tentang keutamaan
Abbas.” Namun Mahdi al-‘Abbasi menjawab, “Saya tidak perlu itu.”[71]

Kita
tidak mungkin mengambil perkataan dari orang-orang seperti mereka. Karena
perbuatan yang demikian adalah tidak lain bersumber dari kesombongan dan
kebodohan. Karena hadis-hadis sahih yang mutawatir bertentangan dengannya,
sebagaimana yang telah dijelaskan. Dan ini selain dari riwayat-riwayat yang
mengatakan bahwa setelah turunnya ayat ini Rasulullah saw mendatangi pintu Ali
bin Abi Thalib setiap waktu salat selama sembilan bulan berturut-turut dengan
mengatakan, “Salam, rahmat Allah dan keberkahan atasmu, wahai Ahlul Bait.
‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hal Ahlul
Bait, dan mensucikan kamu sesuci-suci-nya.”‘ Itu dilakukan oleh Rasulullah
saw sebanyak lima kali dalam sehari.[72]

Di dalam
Sahih Turmudzi, Musnad Ahmad, Musnad ath-Thayalisi, Mustadrak al-Hakim ‘ala
ash-Shahihain, Usud al-Ghabah, tafsir ath-Thabari, Ibnu Katsir dan as-Suyuthi
disebutkan bahwa Rasulullah saw mendatangi pintu rumah Fatimah selama enam
bulan setiap kali keluar hendak melaksanakan salat Subuh dengan berseru,
“Salat, wahai Ahlul Bait. ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.'”[73] Dan riwayat-riwayat lainnya
yang serupa yang berkenaan dengan bab ini.

Dengan keterangan-keterangan ini menjadi jelas bagi
kita bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait ialah Ali, Fatimah, Hasan dan
Husain.

Dan tidak ada tempat bagi siapa pun untuk
mengingkarinya. Karena orang yang meragukan hal ini adalah tidak ubahnya
seperti orang yang meragukan matahari di siang hari yang cerah.

AHLUL BAIT
DIDALAM AYAT MUBAHALAH

Sesungguhnya
pertarungan antara front kebenaraan dengan front kebatilan di medan peperangan
adalah perkara yang sulit, namun jauh lebih sulit lagi jika dilakukan di medan
mihrab. Yaitu manakala masing-masing orang membuka dirinya di hadapan Zat Yang
Maha Mengetahui hal-hal yang gaib, dan menjadikan-Nya sebagai hakim di antara
mereka. Pada keadaan ini tidak akan menang orang yang di dalam hatinya terdapat
keraguan.

Mungkin
saja seseorang merupakan petempur yang gagah di medan peperangan, dan oleh
karena itu kita mendapati Rasulullah saw menyeru kepada setiap orang yang mampu
memanggul senjata, meski pun dia seorang munafik, untuk berjihad menghadapi
orang-orang kafir. Namun, ketika bentuk pertarungan telah berubah dari bentuk
peperangan ke dalam bentuk mubahalah dengan orang-orang Nasrani, Rasulullah saw
tidak memanggil seorang pun dari para sahabatnya untuk ikut terjun ke dalam
bentuk pertarungan yang baru ini. Karena pada pertarungan yang semacam ini
tidak akan ada yang bisa maju kecuali orang yang mempunyai hati yang lurus dan
telah disucikan dari segala macam dosa dan kotoran.

Mereka
itulah manusia-manusia pilihan. Orang-orang yang semacam itu tidak banyak
jumlahnya di tengah-tengah manusia. Jumlah mereka sedikit, namun mereka adalah
sebaik-baiknya penduduk bumi.

Siapakah orang-orang yang terpilih itu?

Ketika
Rasulullah saw berdebat dengan cara yang paling baik dengan para pendeta
Nasrani, Rasulullah saw tidak mendapati dari mereka kecuali kekufuran,
pengingkaran dan pembangkangan, dan tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh
selain dari bermubahalah. Yaitu dengan cara masing-masing dari mereka memanggil
orang-orang mereka, dan kemudian menjadikan laknat Allah menimpa orang-orang
yang dusta. Pada saat itulah datang perintah dari Allah SWT,

“Siapa
yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu),
maka katakanlah kepadanya, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak
kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu;
kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat
Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.'”

(QS.
Ali ‘lmran: 61)

Ketika para pendeta menerima tantangan Rasulullah saw
ini, sehingga akan menjadi peperangan penentu di antara mereka, maka para
pendeta mengumpulkan orang-orang khusus mereka untuk bersiap-siap menghadapi
hari yang telah ditentukan. Ketika telah tiba hari yang ditentukan maka
berkumpullah sekelompok besar dari kalangan kaum Nasrani. Mereka maju dengan
keyakinan bahwa Rasulullah saw akan keluar menghadapi mereka dengan sekumpulan
besar para sahabatnya, sementara istri-istrinya di belakang dia. Namun,
Rasulullah saw maju dengan langkah pasti bersama bintang kecil dari Ahlul Bait,
yaitu Hasan di sebelah kanannya dan Husain di sebelah kirinya, sementara Ali
dan Fatimah di belakangnya. Ketika orang-orang Nasrani melihat wajah-wajah yang
bercahaya ini, mereka gemetar ketakutan. Maka mereka semua pun menoleh ke arah
Uskup, pemimpin mereka seraya bertanya,

“Wahai Abu Harits, bagaimana pendapat Anda
tentang hal ini?”

Uskup itu menjawab, “Saya melihat wajah-wajah
yang jika salah seorang dari mereka memohon kepada Allah supaya gunung
dihilangkan dari tempatnya, maka Allah akan menghilangkan gunung itu.”

Bertambahlah ketercengangan mereka. Ketika Uskup
merasakan yang demikian itu dari mereka, maka dia pun berkata, “Tidakkah
engkau melihat Muhammad sedang mengangkat kedua tangannya sambil menunggu
terkabulnya doanya. Demi al-Masih, jika dia menggerakkan mulutnya dengan satu kata
saja, maka kita tidak akan bisa kembali kepada keluarga dan harta kita.”[74]

Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang dan
meninggalkan arena mubahalah. Mereka rela walau pun harus menanggung kehinaan
dan memberikan jizyah (denda).

Dengan
mereka yang lima Rasulullah saw mampu mengalahkan orang-orang Nasrani dan
menjadikan mereka kecil. Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya
azab tengah bergantung di atas kepala para penduduk Najran. Kalaulah tidak ada
ampunan-Nya niscaya mereka telah diubah menjadi kera dan babi, dan dinyalakan
atas mereka lembah menjadi lautan api, serta Allah binasakan perkampungan Najran
dan seluruh para penghuninya, bahkan burung-burung yang berada di pepohonan
sekali pun.”

Namun, kenapa Rasulullah saw menghadirkan
mereka yang lima saja, dan tidak menghadirkan para sahabat dan istri-istrinya?

Pertanyaan
itu dapat dijawab dengan satu kalimat, yaitu bahwa Ahlul Bait adalah
seutama-utamanya makhluk setelah Rasulullah, dan manusia-manusia yang paling
suci. Sifat-sifat yang telah Allah SWT tetapkan bagi Ahlul Bait di dalam ayat
Tathhir ini tidak diberikan kepada selain mereka. Oleh karena itu, di dalam
menerapkan ayat ini kita mendapati bagaimana Rasulullah menarik perhatian umat
kepada kedudukan Ahlul Bait. Rasulullah menafsirkan firman Allah yang berbunyi
“abna’ana” (anak-anak kami) dengan Hasan dan Husain,
“nisa’ana” (istri-istri kami) dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra as,
dan “anfusana” (diri-diri kami) dengan Ali as. Itu dikarenakan imam
Ali tidak masuk ke dalam kategori istri-istri dan tidak termasuk ke dalam
kategori anak-anak, melainkan hanya masuk ke dalam kata “diri-diri
kami”. Karena ungkapan “anfusana” (diri-diri kami) akan menjadi
buruk jika seruan itu hanya ditujukan kepada diri Rasulullah saw saja.

Bagaimana
mungkin Rasulullah saw memanggil dirinya?! Ini diperkuat dengan hadis
Rasulullah saw yang berbunyi, “Aku dan Ali berasal dari pohon yang sama,
sedangkan seluruh manusia yang lain berasal dari pohon yang
bermacam-macam.”

Jika Imam
Ali adalah diri Rasulullah saw sendiri, maka Imam Ali memiliki apa yang
dimiliki oleh Rasulullah saw, berupa kepemimpinan atas kaum Muslimin, kecuali
satu kedudukan yaitu kedudukan kenabian. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan
oleh Rasulullah saw di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, “Wahai Ali,
kedudukan engkau di sisiku tidak ubahnya sebagaimana kedudukan Harun di sisi
Musa, hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku.”[75]

Sesungguhnya
argumentasi kita dengan ayat ini bukan untuk menjelaskan peristiwa mubahalah,
melainkan semata-mata dalam rangka menjelaskan siapakah Ahlul Bait itu. Dan
alhamdulillah, tidak ada perbedaan pendapat bahwa ayat ini turun kepada Ashabul
Kisa`. Terdapat banyak riwayat dan hadis di dalam masalah ini. Muslim dan
Turmudzi telah meriwayatkan di dalam bab keutamaan-keutamaan Ali:

Dari Sa’ad
bin Abi Waqash yang berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Katakanlah, ‘Marilah
kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan
istri-istri kamu…’ Rasulullah saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.
Lalu Rasulullah saw berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku.”‘[76]

 

 

 

 

BAB V

Kepemimpinan
Ali di dalam Al-Qur’an Al-Karim

 

Bahasan Pemutus

Setelah
saya selesai dari pembahasan yang pertama, yang telah membebani pikiran dan
jiwa saya, dan menjadikan diri saya hidup dalam suasana bertarung dengan hati
nurani, di satu sisi, dan dengan teman-teman dan dosen saya di kampus, di sisi
yang lain, akhirnya saya cukup puas untuk bisa meragukan matahari namun tidak
bisa meragukannya. Kesimpulan dari pembahasan saya, sebagaimana yang telah saya
jelaskan ialah wajibnya mengikuti Ahlul Bait dan meng-ambil agama dari mereka.
Inilah kepuasan pertama saya setelah berjalan beberapa waktu. Namun saya belum
mampu menentukan sikap dan memilih mazhab saya meski pun hati nurani saya
mendesak saya untuk mengikuti mazhab Syi’ah, dan meski pun keluarga dan
teman-teman saya telah menyebut saya orang Syi’ah. Banyak dari mereka yang
memanggil saya sebagai orang Syi’ah, dan bahkan sebagian dari mereka memanggil
saya sebagai pengikut Khomeini! Padahal saat itu saya belum menentukan sikap
saya. Saya tidak ragu dengan apa yang telah saya capai, namun hawa nafsu yang
senantiasa menyuruh kepada keburukan ini selalu menahan saya dan meniupkan
keragu-raguan kepada diri saya:

Bagaimana Anda dapat meninggalkan agama yang telah
Anda dapati pada orang-orang tua Anda?!

Apa yang dapat Anda perbuat bersama kelompok yang
jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Anda?!

Anda ini siapa, sehingga sampai ke sini?! Apakah Anda
melupakan ulama-ulama besar?! Dan bahkan mayoritas kaum Muslimin?!

Dan,
beribu-ribu pertanyaan dan keragu-raguan lainnya yang kebanyakannya tidak mampu
mengalahkan dan menghentikan saya, namun terkadang mampu merusak pikiran dan
nurani saya. Demikian seterusnya, terjadi tarik ulur, sehingga menimbulkan
keresahan dan kegelisahan pada diri saya. Tidak ada tempat pelarian, tidak ada
teman dan tidak ada orang dekat tempat mencurahkan keluh kesah hati.

Maka
mulailah saya mencari buku-buku yang membantah Syi’ah, mudah-mudahan dapat
membebaskan saya dari keadaan yang sedang saya alami dan dapat menjelaskan
hakikat-hakikat yang mungkin luput dari pandangan saya. Orang-orang Wahabi
mencukupi saya dengan mengumpulkan buku-buku. Imam salat jamaah di mesjid desa
kami mendatangkan seluruh buku yang saya minta.

Setelah
mempelajari buku-buku itu justru semakin bertambah keresahan dan kegelisahan
saya, dan saya tidak mendapati di dalamnya apa yang saya inginkan. Karena
buku-buku itu kosong dari objektifitas dan dialog-dialog yang logis.

Seluruh
isinya hanya berisi caci maki, pelaknatan, sumpah serapah dan kebohongan. Pada
awalnya, buku-buku itu dapat menciptakan hijab bagi saya, namun setelah
pengaruh propagandanya dilepas maka tampak di hadapan saya buku-buku itu lebih
rapuh dibandingkan sarang laba-laba.

Setelah
itu saya pun bertekad untuk meneruskan pengkajian saya, meski pun saya telah
merasa cukup dengan apa yang telah saya capai pada pengkajian pertama, untuk
membendung bujukan-bujukan diri saya, dan sekaligus untuk melihat kebenaran
dengan lebih jelas. Maka pilihan saya jatuh kepada pembahasan mengenai
dalil-dalil kepemimpinan Imam Ali as dan nas-nas yang menunjukkan
keimamahannya. Di dalam benak saya terdapat sekumpulan dalil yang dapat
memenuhi tujuan ini, meski pun itu hanya cukup bagi orang yang mempunyai akal
yang bersih dan hati yang jernih. Namun, saya menginginkan sebuah pembahasan
pemutus, antara apakah saya akan menjadi seorang Ahlus Sunnah yang meyakini
kekhilafahan Abu bakar, Umar dan Usman, atau akan menjadi seorang Syi’ah yang
meyakini keimamahan Imam Ali as.

Setelah
melakukan pembahasan, tiba-tiba saya mendapati diri saya tidak mampu —bahkan
hingga sekarang— mengumpulkan, menghitung dan mempelajari seluruh dalil, baik
yang naqli maupun yang akli, yang mengatakan dengan jelas akan keimamahan
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, dengan jelas di dalam penunjukkannya dan
sebagiannya lagi memerlukan mukaddimah yang panjang.

Apa yang
saya tulis di dalam pasal ini adalah merupakan cuplikan-cuplikan ringkas, dan
itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga keringkasan dan mendorong pembahasan.
Menurut keyakinan saya, itu sudah cukup setelah ditambah penjelasan dan
penjabaran.

A. Firman Allah SWT yang berbunyi,

“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah
Allah, Rasul-Nya dan orang yang beriman yang mendirikan salat dan memberikan
sedekah dalam keadaan ruku.”

(QS. al-Maidah: 54)

Bentuk Argumentasi Dari Ayat Ini

Ayat ini
akan menjadi jelas berbicara tentang kepemimpinan Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib as jika terbukti bahwa yang dimaksud dari firman Allah SWT “Orang
yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan ruku” adalah
Imam Ali as, dan juga jika terbukti bahwa yang dimaksud dengan kata
“wali” di sini ialah berarti orang yang lebih berhak mengatur.

Referensi-Referensi Yang Membuktikan Ayat Ini
Turun Kepada Imam Ali as.

Telah
sampai tingkatan mutawatir riwayat-riwayat kedua belah pihak yang mengatakan
bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah saw khusus berkenaan dengan Imam Ali as
yang mensedekahkan cincinnya tatkala dalam keadaan ruku. Berita ini telah
diriwayatkan oleh sekumpulan besar para sahabat. Di antaranya ialah:

1.    Abu Dzar
al-Ghifari. Sekumpulan para huffadz telah meriwayatkan berita ini darinya,
seperti,

a.   Abu Ishaq
Ahmad bin Ibrahim ats-Tsa’labi di dalam kitab tafsir al-Kasyfwa al-bayan ‘an
Tafsir al-Qur’an.

b.   Al-Hafidz
al-Kabk al-Hakim al-Hiskani di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman
177, terbitan Beirut.

c.  Cucu
Ibnu Jauzi, di dalam kitab at-Tadzkirah, halaman 18.

d.   Al-Hafidz
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf, halaman 56.

e.   Dan yang
lainnya dari kalangan para huffadz dan muhaddis.

 

2.    Miqdad bin
Aswad. Al-Hafidz al-Hiskani meriwayatkan darinya di dalam kitab Syawahid
at-Tanzil, jilid 1, halaman 171, terbitan Beirut.

 

3.    Abu Rafi’
al-Qibthi, budak Rasulullah saw. Sekumpulan orang- orang berilmu meriwayatkan
darinya, seperti,

a.   Al-Hafidz
Ibnu Mardawaih, di dalam kitab al-Fadha’il.

b.   Al-Hafidz
Jalaluddin as-Suyuthi, di dalam kitab tafsir ad-Durr al-Mantsur.

c. Muhaddis al-Muttaqi al-Hindi, di dalam kitab Kanz
al-‘Ummal, jilid 1, halaman 305 dan seterusnya.

 

4.    Ammar bin
Yasir. Orang-orang yang telah mengeluarkan riwayat ini darinya ialah,

a.   Muhaddis
Kabir ath-Thabrani, di dalam kitab Mu’jamah al- Awsath.

b.   Al-Hafidz
Abu Bakar bin Mardawaih, di dalam kitab al-Fadha’il.

c.   Al-Hafidz
al-Hiskani, di dalam kitab Syawahid at-Tanzil.

d.   Al-Hafidz
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf, halaman 56, dari
ath-Thabrani dan Ibnu Mardawaih.

 

5.    Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Adapun orang-orang yang mengeluarkan riwayat
ini darinya ialah,

a.   Al-Hakim
an-Naisaburi, al-Hafidz al-Kabir, di dalam kitab Ma’rifah ‘Ulum al-Haditz,
halaman 102, terbitan Mesir, tahun 1937.

b.   Al-Hafidz
Ibnu al-Maghazili asy-Syafi’i, di dalam kitab al-Managib, halaman 311.

c.   Al-Hafidz
al-Hanafi al-Khawarizmi di dalam kitab al-Manaqib, halaman 187.

d.   Al-Hafidz
Ibnu ‘Asakir ad-Dimasyqi (Tarikh Dimasyq), jilid 2, halaman 409.

e.   Al-Hafidz
Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 7,
halaman 357.

f.    Al-Hafidz
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits
al-Kasysyaf, halaman 56, terbitan Mesir.

g.   Muhaddis
al-Muttaqi al-Hindi, di dalam kitab Kanz al- ‘Ummal, jilid 15, halaman 146, bab
keutamaan Ali as.

 

6.    Amr bin
Ash. Adapun orang-orang yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah al-Hafidz
Akhthab Khawarijmi al-Hafidz Abu al- Muayyad, di dalam kitab al-Manaqib,
halaman 128.

 

7.    Abdullah
bin Salam. Adapun yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah Muhibuddin
ath-Thabari, di dalam kitab Dzakha’ir al-‘Ugba, halaman 201; dan kitab
ar-Riyadh an-Nadhirah, jilid 2, halaman 227.

 

8.    Abdullah
bin Abbas. Adapun yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah,

a.   Ahmad bin
Yahya al-Baladzari, di dalam kitab Ansab al-Asyraf, jilid 2, halaman 150,
terbitan Beirut, diperiksa oleh Mahmudi.

b.   Al-Wahidi,
di dalam kitab Asbab an-Nuzul, halaman 192, cetakan pertama, tahun 1389,
diperiksa oleh Sayyid Ahmad ash-Shamad.

c.   Al-Hakim
al-Hiskani, di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 18.

d.   Ibnu
al-Maghazili asy-Syafi’i, di dalam kitab al-Manaqib, halaman 314, diperiksa
oleh Mahmudi.

e.   Al-Hafidz
Ibnu Hajar al-Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits
al-Kasysyaf, cetakan Mesir.

f.    Jalaluddin
as-Suyuthi.

 

9.    Jabir bin
Abdullah al-Anshari. Di antara orang-orang yang mengeluarkan riwayat ini
darinya ialah Al-Hakim al-Hiskani, di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1,
halaman 174.

 

10. Anas bin
Malik, pembantu Rasulullah saw. Adapun orang yang mengeluarkan riwayat ini
darinya ialah,

a.  Al-Hafidz
al-Hiskani, di dalam kitab asy-Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 145.

b.   Muhaddis
al-Kabir al-Hamawi al-Juwaini al-Khurasani, di dalam kitab Fara’idh
as-Simthain, jilid 1, halaman 187.

Dari
riwayat yang banyak ini kita memilih riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Dzar,
sebuah riwayat yang panjang yang dikeluarkan oleh al-Hakim al-Hiskani dengan
sanadnya di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 177, terbitan
Beirut.

Abu Dzar berkata, “Wahai manusia, barangsiapa
yang mengenalku maka berarti dia telah mengenalku, dan barangsiapa yang tidak
mengenalku maka inilah aku Jundub bin Janadah al-Badri Abu Dzar al-Ghifari. Aku
telah mendengar Rasulullah saw dengan kedua telingaku ini, dan jika tidak maka
tulilah kedua telingaku ini. Aku telah menyaksikan beliau dengan kedua mataku
ini, dan jika tidak maka butalah kedua matakku ini. Yaitu Rasulullah saw telah
bersabda, ‘Ali adalah pemimpin kelompok orang-orang yang lurus. Pejuang yang
memerangi kaum yang kafir. Jayalah siapa yang membantunya. Hinalah siapa yang
menelantarkan dukungan baginya.’ Suatu hari aku salat Zhuhur bersama Rasulullah
saw, lalu masuklah ke dalam mesjid seorang peminta-minta, namun tidak ada
seorang pun yang memberi kepadanya. Kemudian peminta-minta itu mengangkat
tangannya ke langit seraya berkata, ‘Ya Allah, saksikanlah, aku meminta-minta
di mesjid Rasulullah saw namun tidak seorang pun yang memberi sesuatu
kepadaku.’ Pada saat itu Ali sedang salat dalam keadaan ruku, lalu dia memberi
isyarat dengan jari manis tangan kanannya yang bercincin. Pengemis itu lalu
menghampirinya dan menarik cincin itu dari jari Ali. Rasulullah saw menyaksikan
hal itu, dan setelah menyelesaikan salatnya Rasulullah saw mengangkat kepalanya
ke langit seraya berkata,

‘Ya Allah, sesungguhnya
Musa telah memohon kepadamu. Dia berkata, ‘Tuhanku, lapangkanlah untukku
dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu
dari keluargaku: Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan
jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami dapat banyak bertasbih kepada-Mu
dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui keadaan kami.’

Maka Engkau telah wahyukan
kepadanya ‘Kami teguhkan lenganmu dengan saudaramu.’

Dan aku ini, Ya Allah,
adalah hamba dan Nabi-Mu. Lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku
urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku: Ali,
saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku …'”

Abu Dzar berkata, “Demi Allah, belum sampai
Rasulullah saw menyelesaikan ucapannya itu, Jibril al-Amin turun dari sisi
Allah SWT. Jibril al-Amin berkata, ‘Ya Muhammad, selamat, atas apa yang telah
Allah anugrahkan untukmu tentang saudaramu.’ Rasulullah saw bertanya, ‘Apa itu,
ya Jibril?’

Jibril menjawab, ‘Allah SWT telah memerintahkan
umatmu untuk menjadikannnya sebagai pemimpin hingga hari kiamat, dan menurunkan
kepadamu,

‘Sesungguhnya
wali (pemimpin) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman,
yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.'”

Riwayat
ini datang dengan berbagai macam redaksi, namun pada kesempatan ini kita hanya
membatasi dengan riwayat ini saja, karena ini pun sudah cukup untuk menjelaskan
permasalahan.

Ini
merupakan keutamaan yang tidak ada seorang pun bersekutu dengan Amirul Mukminin
di dalamnya. Kita tidak mendapati seorang pun di dalam sejarah yang mengklaim
dirinya telah mengeluarkan zakat dalam keadaan ruku. Ini sudah merupakan hujjah
yang cukup dan petunjuk yang jelas bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah
Amirul Mukminin, tidak yang lainnya.

Terkadang
sebagian kalangan berusaha meragukan apa yang disebutkan di dalam ayat ini, dan
tentang penisbahannya kepada Amirul Mukminin, dengan menggunakan
argumentasi-argumentasi yang tidak berdasar. Sebagai contoh, Anda mendapati
al-Alusi memalingkan makna ruku kepada maknanya yang bukan zahir. Dia berkata,
“Yang dimaksud dengan ruku (di dalam ayat ini) ialah khusyuk.” Ini
adalah sebuah upaya penakwilan yang tidak dapat diterima. Karena tidak ada
petunjuk yang memalingkan makna hakiki yang zahir di dalam ayat —yaitu ruku
yang mempunyai gerakan yang telah ditentukan. Pernah suatu hari saya berdiskusi
dengan sekelompok teman-teman saya di kampus tentang ayat ini. Setelah saya
buktikan kepada mereka bahwa ayat ini turun kepada Amirul Mukminin as, salah
seorang dari mereka menyanggah,

“Jika
memang terbukti ayat ini turun kepada Ali maka berarti ayat ini juga
membuktikan kekurangan Ali?”

Saya
bertanya kepadanya, “Bagaimana bisa begitu?”

Dia
menjawab, “Karena yang demikian itu menunjukkan ketidakkhusyukannya di
dalam salat. Karena jika tidak, bagaimana bisa dia mendengar perkataan
peminta-minta dan kemudian menjawabnya? Karena para ahli ibadah dan orang-orang
yang bertakwa tidak menyadari orang-orang yang ada di sekelilingnya pada saat
mereka sedang menghadap Allah SWT.”

Saya
katakan, “Ucapan Anda tidak bisa diterima, berdasarkan petunjuk ayat ini
sendiri. Karena salat itu untuk Allah, dan begitu pula ketundukkan dan
kekhusyukan. Sementara Allah SWT telah mengabarkan kita bahwa Dia menerima
salat ini, dan bahkan dengan salat ini Dia menetapkan kepemimpinan bagi
pelakunya. Kedudukan pujian tampak jelas terlihat di dalam konteks ayat ini,
baik yang bersedekah itu Ali atau pun yang lainnya. Jika Anda mempunyai
kritikan terhadap kekhusyukan Ali, maka terlebih lagi Anda mempunyai kritikan
terhadap Al-Qur’an.”

Ayat ini jauh lebih kokoh dan akurat dibandingkan
peragu-raguan yang dilontarkan para peragu. Ayat ini jelas menunjukkan kepada
keimamahan Amirul Mukminin, dan pembuktian tentang keimamahan Amirul Mukminin
adalah termasuk perkara yang amat jelas di dalam Al-Qur’an. Saya pernah
mengatakan ini kepada sebagian teman, namun salah seorang dari mereka
menantang,

“Coba sebutkan satu ayat yang mendukung
pengakuan Anda.”

Saya jawab, “Sebelum itu marilah kita coba untuk
melihat apa yang telah dikatakan Rasulullah saw tentang Ali as. Bukhari telah
meriwayatkan di dalam sahihnya bahwa Rasulullah saw telah berkata kepada Ali,
‘Kedudukanmu di sisiku tidak ubahnya sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa,
hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku.’[77]

Dari sini tampak bahwa semua yang dimiliki Harun juga
dimiliki Ali as. Ali as memiliki keimamahan, kekhilafahan, kewaziran dan yang
lainnya, kecuali kenabian, sebagaimana Harun.”

Mereka semua marah seraya mengatakan,”Dari mana
Anda dapatkan ini?! …”

Saya
katakan, “Sebentar, apa kedudukan Harun di sisi Musa? Bukankah Musa
sendiri telah berkata, ‘Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari
keluargaku: Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah
dia sekutu dalam urusanku.'”

Mereka berkata, “Kami belum pernah mendengarnya,
mungkin ayat itu tidak berbunyi demikian….!” Saya merasakan kefanatikan
dan kekeraskepalaan mereka. Saya berkata dengan penuh keheranan akan keadaan
mereka, “Sesungguhnya ini perkara yang jelas sekali, yang tidak ada
seorang pun yang mengingkarinya.”

Salah seorang dari mereka berkata, “Kenapa
berbelit-belit. Ini Al-Qur’an ada di hadapan Anda… Coba tunjukkan ayat itu,
jika kamu benar.”

Di sini
saya gemetar, karena saya lupa sama sekali di dalam surat apa dan di dalam juz
berapa ayat ini terdapat. Setelah beberapa saat, saya memberanikan diri sambil
mengucapkan di dalam hati “Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Ali
Muhammad” (ya Allah, sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga
Muhammad), lalu saya membuka Mushaf Al-Qur’an secara acak.

Pandangan
pertama mata saya jatuh kepada ayat, “Tuhanku, lapangkanlah untukku
dadaku, mudahkanlah untukku urusanku …. dan jadikanlah untukku seorang
pembantu dari keluargaku.”

Keharuan mencekik tenggorokan saya, sementara air
mata mengalir di kedua pipi saya. Saya tidak bisa membacakan ayat karena sangat
paniknya, lalu saya pun menyerahkan Mushaf yang terbuka sambil menunjukkan ayat
yang dimaksud kepada mereka. Mereka semua tercengang karena sangat kagetnya.

Penunjukkan Ayat “Sesungguhnya Wali (pemimpin)
kamu hanyalah Allah … ” Terhadap Kepemimpinan Amirul Mukminin as

Setelah
terbukti pada pembahasan pertama bahwa ayat di atas turun kepada Imam Ali as,
maka arti ayat di atas menjadi “Sesungguhnya wali (pemimpin) kamu hanyalah
Allah, Rasul-Nya dan Ali bin Abi Thalib.”

Tidak ada seorang pun yang dapat mengkritik, kenapa
Allah berbicara kepada seorang individu dengan menggunakan dhamir (kata ganti)
bentuk jamak?!

Karena yang demikian itu sesuatu yang dibolehkan di
dalam bahasa Arab. Dengan demikian, penggunaan bentuk jamak di dalam ayat ini
adalah untuk penghormatan. Banyak sekali bukti-bukti yang mendukung hal ini,
seperti firman Allah SWT yang berbunyi, “Orang-orang yang mengatakan,
‘Sesungguhnya Allah fakir sedangkan kami orang-orang kaya.'” Orang yang
berkata di sini ialah Huyay bin Akhthab. Juga seperti firman Allah SWT yang
berbunyi, “Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, ‘Nabi
mempercayai semua apa yang didengarnya.'”(Surat at-Taubah: 61) Ayat ini
turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari kalangan orang-orang munafik;
apakah itu al-Jalas bin Sawilah, Nabtal bin al-Harts atau ‘ltab bin Qusyairah.
Silahkan rujuk tafsir ath-Thabari, jilid 8, halaman 198.

 

Setelah
itu barulah pembahasan mengenai arti kata “wali”.

Syi’ah berpendapat bahwa kata “wali” di
dalam ayat ini adalah berarti orang yang paling berhak dalam bertindak.
Sehingga kata “wali amril Muslimin” atau kata “wali amris sulthan”
adalah berarti orang yang paling berhak bertindak di dalam urusan mereka.

Oleh
karena itu, Syi’ah mengatakan wajibnya mengikuti Amirul Mukminin Ali as, karena
dia orang yang paling berhak bertindak dalam urusan kaum Muslimin. Sesuatu yang
menunjukkan kepada makna ini ialah bahwa Allah SWT telah menafikan kita
memiliki “wali” selain Dia, selain Rasul-Nya dan selain
“orang-orang yang beriman yang mengerjakan salat dan menunaikan zakat
dalam ke-adaan ruku” dengan kata innama (hanya saja). Jika yang dimaksud
dengan kata “wali” adalah penolong di dalam agama maka tentu tidak
dikhususkan bagi orang-orang yang disebutkan. Karena penolong di dalam agama
adalah mencakup seluruh orang-orang Mukmin. Allah SWT berfirman, “Dan
orang-orang Mukimin laki-laki serta orang-orang Mukmin perempuan sebagian
mereka adalah penolong bagi sebagian mereka yang lain.” Dengan demikian,
maka takhshish (peng-khususan) menunjukkan kepada satu bentuk wilayah yang
berbeda dari wilayah orang-orang Mukimin, di antara sebagian mereka dengan
sebagian mereka yang lain.

Tidak
mungkin sesuatu yang dimaksud dari kata-kata “orang-orang yang beriman
yang mengerjakkan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku ” itu
orang-orang Mukmin secara umum, melainkan khusus imam Ali, dengan dalil kata
innama yang memberikan arti pengkhususan, sehingga menafikan orang-orang Mukmin
yang lain, di samping hadis-hadis sebelumnya yang menyebutkan bahwa ayat ini
turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib. Sifat yang disebutkan di dalam ayat,
“mereka memberi zakat dalam keadaan ruku ” tidak klop pada seorang
pun dan tidak ada seorang pun yang mengklaimnya selain Amirul Mukminin. Dialah
yang memberikan zakat dalam keadaan ruku. Karena kata-kata “wahum
raki’un” adalah merupakan hal bagi kata-kata “yu’tunaz zakat”.
Adapun ruku adalah sebuah gerakan yang khusus, sehingga usaha memalingkan ruku
dari makna hakikinya adalah merupakan satu bentuk pentakwilan yang tidak
berdasar. Karena, di dalam ayat di atas tidak terdapat pe-tunjuk yang
memalingkan ruku dari makna hakikinya. Demikian juga, kata-kata “wahum
raki’un” tidak boleh di-athaf-kan kepada kata-kata sebelumnya, karena kata
salat telah disebutkan sebelumnya. Ibadah salat mencakup ruku, maka oleh karena
itu penyebutan kata ruku sesudah penyebutan kata salat di sini adalah merupakan
hal (keadaan pada saat sebuah perbuatan dilakukan —penerj.), di samping
kesepakatan umat juga menyebutkan bahwa Ali memberikan zakat dalam keadaan
ruku, sehingga dengan begitu ayat di atas dikhususkan untuk Ali. Al-Qusyaji
telah menukil —di dalam kitabnya Syarih at-Tajrid— dari para mufassir yang
mengatakan mereka sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali pada saat Ali memberi
sedekah dalam keadaan ruku. Demikian juga Ibnu Syahrasyub telah menukil yang
demikian di dalam kitabnya al-Fadha’il. Dia mengatakan di dalam mukaddimah
kitabnya itu sebagai berikut,

“Umat sepakat bahwa ayat ini turun kepada Amirul
Mukminin.[78]
Dan begitu juga hadis-hadis yang mendukung pendapat ini telah mencapai
derajat mutawatir. Sayyid Hasyim al-Bahrani telah menukil di dalam kitabnya
Ghayah al-Muram dua puluh empat hadis dari jalan Ahlus Sunnah yang mengatakan
bahwa ayat ini turun kepada Ali, dan juga sembilan belas hadis dari jalan
Syi’ah.”

Jika ayat
ini khusus kepada Amirul Mukminin maka tentu maksud dari kata “wali”
di sini bukanlah wilayah dalam arti umum, yaitu penolong dan pecinta, melainkan
wilayah dalam arti khusus, yaitu orang yang paling berhak dalam bertindak.
‘Allamah al-Mudzaffar telah berkata tentang hal ini, “Jika yang dimaksud
dengan kata wali adalah penolong, maka pembatasan penolong kepada Allah,
Rasul-Nya dan Ali tidaklah dapat dibenarkan kecuali dengan melihat kepada salah
satu di antara dua sisi: Yang pertama, bahwa pertolongan mereka (Allah,
Rasul-Nya dan Ali) kepada orang-orang Mukmin mencakup tindakan dalam urusan
mereka (orang-orang Mukmin), maka ini berarti kembali kepada makna yang
dimaksud. Adapun yang kedua, bahwa pertolongan yang lain kepada orang-orang
Mukmin, semuanya dinisbahkan kepada pertolongan mereka (Allah, Rasul-Nya dan
Ali), maka di sini tercapai pula apa yang dimaksud. Karena itu termasuk
keharusan dari pertolongan menyeluruh kepada orang-orang Mukmin.”[79]

Dengan
demikian, terbuktilah bahwa wilayah Allah, Rasul-Nya dan “orang-orang yang
beriman” —yaitu Ali— adalah wilayah dari jenis yang sama, yaitu wilayah
yang berarti “hak bertindak”. Adapun dalil yang menunjukkan kepada
hal ini ialah penggunaan kata yang sama bagi semua tingkatan.

Karena,
jika artinya tidak sama maka tentu akan menimbulkan kekaburan maksud, dan
tentunya Allah SWT tidak akan mungkin menyesatkan para hamba-Nya. Karena jika
Allah SWT menghendaki arti lain bagi wilayah Amirul Mukminin, tentunya lebih
sesuai jika wilayah Amirul Mukminin disebutkan secara terpisah, untuk
menghilangkan kesamaran. Sebagaimana yang dilakukan di dalam ayat yang lain,
“Taatilah Allah dan taatilah Rasul”. Di dalam ayat ini penyebutan
kata “taat” diulang. Atas dasar-dasar inilah maka Amirul Mukminin
layak menjadi imam orang-orang bertakwa dan pemimpin orang-orang Mukmin.

B. Ayat
Tabhg, Nas Jelas Tentang Kepemimpinan

Allah SWT berfirman,

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak
menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia.”

(QS. Al-Maidah [5]: ..)

Ayat ini
turun untuk menerangkan keutamaan Amirul Mukminin as di Ghadir Khum,
sebagaimana yang telah diisyaratkan di dalam hadis Zaid bin Arqam di dalam
Sahih Muslim.

Pada mulanya saya berpikir cukup mengisyaratkan saja
peristiwa ini, sebab sedemikian jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab hadis
dan kitab-kitab sejarah. Akan tetapi, saya teragitasi oleh seorang penulis
Sudan —yaitu Insinyur Shadiq Amin— yang menyerang dan mengecam Syi’ah di surat
kabar Sudan (berita terakhir). Dia mengatakan di dalam tulisannya, “Pada
hakikatnya, sesungguhnya peristiwa yang diriwayatkan oleh kitab-kitab Syi’ah
yang berkenaan dengan Ghadir Khum ini …, dan demikianlah para ulama Syi’ah
secara terus menerus selalu menyebut (khurafat) ini, yang terhitung sebagai
pilar dasar mazhab Syi’ah …”

Saya tidak tahu apakah ini memperlihatkan kebodohan
akan sejarah atau memperlihatkan kebencian terhadap Imam Ali as dan
pengingkaran terhadap keutamaan-keutamaannya?! Peristiwa ini amat jelas,
sehingga memenuhi buku-buku sejarah.

Bagaimana peristiwa ini luput dari penglihatan
insinyur ini?!

Yang jelas, dia tidak membebani dirinya untuk menutup
kedua matanya, lalu mengambil kitab hadis atau kitab sejarah Ahlus Sunnah mana
saja, dan kemudian membacanya. Jika dia tidak menemukan peristiwa itu di dalam
kitab yang dibacanya maka barulah dia berhak untuk menisbahkan buku tersebut
kepada kitab-kitab Syi’ah, atau menamakannya sebagai khurafat.

Al-Ghadir Dalam Referensi-Referensi Islam

Hadis
al-Ghadir termasuk hadis yang paling mutawatir. Para perawinya dari kalangan
sahabat mencapai seratus sepuluh orang sahabat. ‘Allamah al-Amini telah
menghitung mereka beserta kitab-kitab yang telah mengeluarkan
riwayat-riwayatnya, di dalam kitabnya al-Ghadir, jilid 1, halaman 14 sampai
halaman 61.

Sangat
panjang kiranya sekiranya kami menyebutkan nama-nama mereka dan buku-buku Ahlus
Sunnah yang mengeluarkan hadis-hadis mereka pada kesempatan sekarang ini.

Adapun
para perawainya dari kalangan tabi’in mencapai delapan puluh empat orang
perawi, sebagaimana di sebutkan di dalam kitab al-Ghadir, halaman 62 sampai
halaman 72. Para perawi hadis al-Ghadir tidak berhenti sampai batas ini,
melainkan juga dinukil secara mutawatir pada setiap tingkatan-tingkatannya.
Jumlah para perawinya dari abad kedua hingga abad keempat belas Hijrah mencapai
tiga ratus enam puluh orang perawai. Di samping beribu-ribu kitab Ahlus Sunnah
yang menyebutkan hadis ini.

Bagaimana begitu mudah —setelah semua ini— penulis
ini mengatakan bahwa ini adalah khurafat Syi’ah. Padahal diketahui bahwa
riwayat al-ghadir yang melalui jalur-jalur Syi’ah kurang dari setengahnya dari
yang terdapat di dalam jalur-jalur Ahlus Sunnah.

Namun inilah kesulitan orang-orang terpelajar, mereka
mengeluarkan kata-kata dengan tanpa melakukan pengkajian. Para ulama Ahlus
Sunnah dan orang-orang terpercaya dari kalangan mereka, baik dari kalangan
terdahulu maupun kalangan terkemudian, dengan tegas mengakui kesahihan hadis
al-ghadir. Sebagai contoh di antara mereka ialah:

1. Ibnu
Hajar al-‘Asqalani. Dia berkata di dalam kitabnya Syarih Shahih al-Bukhari,
“Adapun hadis ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali
pemimpinnya’ telah di keluarkan oleh Turmudzi dan Nasa’i. Hadis ini banyak
sekali jalannya. Ibnu ‘Uqdah telah memuat jalan-jalannya di dalam kitab
tersendiri, dan mayoritas sanadnya adalah sahih dan hasan.”[80]

Kitab
yang diisyaratkan oleh Ibnu Hajar ini ialah kitab al-Wilayah fi Thurug Hadits
al-Ghadir, karya Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sa’id al-Hamadani, yaitu
al-Hafidz yang terkenal dengan sebutan Ibnu ‘Uqdah, yang wafat pada tahun 333
Hijrah.

Ibnu
Atsir banyak menukil darinya di dalam kitabnya Usud al-Ghabah, dan begitu juga
Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga telah menyebutnya di
dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, jilid 7, halaman 337, setelah menyebutkan hadis
al-Ghadir. Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Abul Abbas Ibnu ‘Uqdah
mensahihkannya dan menaruh perhatian kepada seluruh jalan-jalannya. Dia mengeluarkannya
dari hadis tujuh puluh orang sahabat atau lebih.” Ibnu Taimiyyah telah
mengisyaratkan penulis ini di dalam menetapkan jalan-jalan hadis al-Ghadir
dengan kata-katanya, “Abul Abbas Ibnu ‘Uqdah telah menulis sebuah kitab
yang mengumpulkan jalan-jalannya.”[81]

2. Ibnu
al-Maghazili asy-Syafi’i. Setelah menyebutkan hadis wilayah bersama dengan
sanadnya Ibnu al-Maghazili asy-Syafi’i berkata, “Ini adalah hadis yang
sahih dari Rasulullah saw. Kurang lebih seratus orang sahabat, termasuk di
antaranya sepuluh orang yang dijamin masuk surga, telah meriwayatkan hadis
Ghadir Khum dari Rasulullah. Hadis ini adalah hadis yang kokoh, yang saya tidak
lihat ada kekurangannya. Hadis ini mengkhususkan keutamaan ini bagi Ali, dan
tidak ada seorang pun yang menyertainya.”[82]

3. Abu
Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid ath-Thabari —penulis kitab tarikh Thabari—
telah mengkhususkan sebuah kitab yang mengeluarkan hadis-hadis al-Ghadir.
Penulis kitab al-‘Umdah telah menyebutkan hal itu dengan mengatakan, “Ibnu
Jarir ath-Thabari, penulis kitab tarikh, telah menyebutkan hadis hari al-Ghadir
beserta jalan-jalannya di dalam tujuh puluh lima jalan, dan dia mengkhususkan
sebuah kitab untuk itu yang dinamakannya dengan kitab al-Wilayah”.[83]

Di dalam
Syarah at-Tuhfah al-‘Alawiyyah, karya Muhammad bin Ismail disebutkan,
“Al-Hafidz adz-Dzahabi telah mengatakan di dalam kitab Tadzkirah
al-Huffadz, di dalam biografi hadis ‘Barang-siapa yang aku menjadi
pemimpinnya’, ‘Muhammad bin Jarir telah menulis sebuah kitab tentangnya. Saya
—adz-Dzahabi— memeriksanya, dan saya terkejut karena bagitu banyak
jalannya.'”

Ibnu
Katsir juga telah menyebut kitab Ibnu Jarir di dalam kitab tarikhnya,
“Sungguh, saya telah melihat sebuah kitab yang terhimpun di dalamnya hadis-hadis
Ghadir Khum dalam dua jilid besar.”[84]

4.
Al-Hafidz Abu Sa’id Mas’ud bin Nashir bin Abi Zaid as-Sajistani, yang wafat
pada tahun 477 Hijrah, mensahkan hadis Ghadir Khum di dalam kitabnya
ad-Dirayahfi Hadits al-Wilayah, di mana di dalam 17 juznya terhimpun
jalan-jalan hadis al-Ghadir yang diriwayatkan dari 120 orang sahabat.

Di dalam
kitab al-Ghadir, Al-Amini telah menyebutkan sebanyak 26 orang ulama Ahlus
Sunnah terkemuka yang menulis kitab-kitab khusus yang mensahkan hadis
al-Ghadir, apalagi kitab-kitab yang menyebutkan riwayatnya. Kita akhiri
pembicaraan kita di sini dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir tentang
al-Juwaini, “Dia terkejut dan mengatakan, ‘Di Bagdad saya menyaksi-kan
kitab berjilid-jilid di tangan seorang redaktur, yang di dalam-nya termuat
riwayat-riwayat hadis ini. Pada kitab-kitab itu tertulis: Jilid kedua puluh
delapan dari jalan-jalan hadis ‘Barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka
inilah Ali pemimpinnya’, dan akan menyusul lagi jilid kedua puluh
sembilan.'”[85]

Referensi-Referensi Yang Menetapkan Ayat Ini
Turun Kepada Ali

Adapun
berkenaan dengan turunnya ayat ini “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Danjika tidak kamu kerjakan (apa yang
diperintahkan, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah
memeliharamu dari (ganguan) manusia ” khusus kepada Ali, banyak sekali
dari mereka yang secara terang-terangan mengakuinya. Di antaranya ialah:

1.
As-Suyuthi di dalam kitab ad-Durr al-Mantsur, di dalam menafsir-kan ayat di
atas, dari Ibnu Abi Khatim, Ibnu Abi Mardawaih dan Ibnu ‘Asakir, dengan sanad-sanad
mereka yang berasal dari Abi Sa’id yang mengatakan, “Ayat ini turun kepada
Rasulullah saw di Ghadir Khum berkenaan dengan Ali.” As-Suyuthi juga
menukil dari Ibnu Mardawaih dengan sanad-sanadnya yang sampai kepada Ibnu
Mas’ud yang berkata, “Pada masa Rasulullah saw kami membaca, ‘Hai Rasul,
sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu bahwa Ali adalah
pemimpin orang-orang Mukmin. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang
diperintahkan, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah
rnerneliharamu dari (gangguan) manusia.'”[86]

2.
Al-Wahidi meriwayatkan di dalam kitab Asbab an-Nuzul, dari Abi Sa’id yang
mengatakan, “Ayat ini turun pada hari Ghadir Khum kepada Ali.”[87]

3.
Al-Hafidz Abu Bakar al-Farsi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Ma Nuzzila fi
Amiril Mukminin dengan bersanad dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini
turun pada hari Ghadir Khum kepada Ali bin Abi Thalib.

4.
Al-Hafidz Abu Na’im al-Isbahani, dengan sanadnya dari al-A’masy, dari ‘Athiyyah
yang berkata, “Ayat ini turun kepada Rasulullah saw pada hari Ghadir
Khum.”[88]

5.
Al-Hafidz Ibnu Asakir asy-Syafi’i, dengan bersanad dari Abi Sa’id al-Khudzri
yang mengatakan bahwa ayat ini turun pada hari Ghadir Khum kepada Ali bin Abi
Thalib.[89]

6.
Badruddin bin al-‘Aini al-Hanafi. Dia mengatakan di dalam kitab ‘Umdah
al-Qari’fi Syarh Shahih al-Bukhari yang berkata, “Telah berkata Abu Ja’far
Muhammad bin Ali bin al-Husain. Artinya, ‘Sampaikanlah apa yang telah
diturunkan dari Tuhanmu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib ra.’ Ketika ayat
ini turun Rasulullah mengangkat tangan Ali dan berkata, ‘Barangsiapa yang aku
sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.'”

Teks Khutbah

Dan
puluhan orang lainnya dari mereka menetapkan bahwa ayat ini turun kepada Ali
bin Abi Thalib. Dari sekian banyak riwayat-riwayat ini kita memilih riwayat
al-Hafidz Abi Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari.

Ibnu Jarir
ath-Thabari mengeluarkan riwayat ini beserta dengan sanadnya di dalam kitab
al-Wilayahfi Thurug Ahadits al-Ghadir, yang bunyi teksnya sebagai berikut:

“Dari zaid bin Arqam yang berkata, ‘Ketika
Rasulullah saw sampai ke Ghadir Khum, di dalam perjalanan kembalinya dari haji
wada’; ketika itu waktu dhuha, sementara cuaca sangat panas sekali, Rasulullah
saw memerintahkan para sahabatnya untuk bernaung di pepohonan. Kemudian
Rasulullah menyerukan salat berjamaah. Maka kami pun berkumpul, lalu Rasulullah
saw menyampaikan sebuah khutbah yang indah. Rasulullah saw berkata,
‘Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kepadaku ayat ‘Sampaikanlah apa yang
telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, danjika kamu tidak melakukan (apa yang
diperintahkan, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah
menjagamu dari (gangguan) manusia.’ Sesungguhnya aku telah diperintahkan oleh
Allah melalui Jibril supaya berdiri di tempat keramaian ini, dan memberitahukan
(bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, washi-ku,
penggantiku dan imam sepeninggalku. Lalu aku meminta kepada Jibril supaya
me-mohonkan ampunan bagiku kepada Tuhanku, karena aku tahu betapa sedikitnya
orang-orang yang bertakwa dan betapa banyaknya orang-orang yang mengganggu
serta mencemoohku karena seringnya aku bersama Ali dan memberikan perhatian
yang lebih kepadanya, sehingga mereka menyebutku sebagai udzun (orang yang
tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Sehingga
Allah berfirman,

‘Di antara mereka ada yang
menyakiti Nabi dan mengatakan, ‘Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.’
Katakanlah, ‘la mempercayai semua yang baik bagimu.’

Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya
akan aku sebutkan, dan seandainya aku mau tunjukkan wajah-wajah mereka niscaya
akan aku tunjukkan. Namun aku berketetapan hati rnerahasiakan nama-nama mereka,
dan akan terus bersikap bersahabat terhadap mereka. Namun demikian, Allah tetap
mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang
diturunkan-Nya kepadaku.

Ketahuilah —wahai manusia— sesungguhnya Allah telah
menetapkan Ali sebagai wali dan imam kamu, dan telah mewajibkan kepada setiap
orang darimu untuk mentaatinya. Sah keputusan hukum yang diambilnya, dan
berlaku kata-katanya. Terlaknat orang yang menentangnya, dan memperoleh rahmat
orang yang mempercayainya.

Dengarlah dan patuhilah, sesungguhnya Allah adalah
Tuhanmu dan Ali adalah pemimpinmu. Kemudian keimamahan dan kepemimpinan
(berikutnya) ada pada keturunan yang berasal dari tulang sulbinya, sehingga
tiba hari kiamat.

Sesungguhnya tidak ada yang halal kecuali apa yang
telah dihalalkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka, dan tidak ada yang haram
kecuali apa yang telah diharamkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka.

Tidak ada satu ilmu pun kecuali telah Allah tetapkan
dan pindahkan kepada mereka. Maka oleh karena itu janganlah kamu berpaling
dari-nya, dan janganlah kamu bersikap sombong dan enggan menerima
kepemimpinannya. Karena dialah orang yang akan menunjukkan kepada kebenaran dan
mengamalkannya. Allah tidak akan mengampuni orang-orang yang mengingkari
wilayah dan kepemimpinannya, dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali.
Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang
menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab
yang amat pedih selama-lamanya.

Dia adalah manusia yang paling utama setelahku.
Karena kamilah kemudian Allah turunkan rezeki-Nya (kepada kamu) dan (karena
kami juga maka) seluruh makhluk memperoleh kehidupan. Sungguh terkutuk orang
yang menentangnya. Ucapanku ini berasal dari Jibril, dan Jibril dari Allah SWT.
Karena itu hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang akan disiapkannya untuk
hari esok.

Pahamilah ayat-ayat muhkamat Al-Qur’an, dan janganlah
kamu ikuti (secara lahiriyyah) makna ayat-ayat mutasyabihat-nya. Tidak akan ada
orang yang bisa menerangkan tafsirnya kepadamu melainkan orang yang aku pegang
tangannya, yang aku naikkan dia ke sisiku dan yang aku angkat lengannya. Kini
aku umumkan, ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali
pemimpinnya.’ Perintah untuk mengangkatnya sebagai pemimpin ini adalah berasal
dari Allah SWT yang telah diturunkan kepadaku. Ingatlah, sungguh aku telah
tunai-kan (perintah ini). Ingatlah, sungguh aku telah sampaikan. Ingaflah,
sungguh aku telah perdengarkan. Ingatlah, sungguh aku telah aku jelaskan.

Tidak diperkenankan siapa pun menyandang gelar Amirul
Mukminin (pemimpin orang-orang yang beriman) sepeninggalku selain dia.’
Kemudian Rasulullah saw mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu tingginya
sehingga kakinya sejajar dengan lutut Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw
berkata,

‘Wahai manusia, ini adalah Ali, saudaraku dan
washi-ku, pemelihara ilmuku, khalifahku bagi orang yang beriman kepadaku dan
wakilku dalam menafsirkan Kitab Allah Azza Wajalla.’ Pada riwayat lain
disebutkan, ‘Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, perangilah orang yang
memeranginya, kutuklah orang yang mengingkarinya dan murkailah orang yang
mengingkari haknya.'”

Khutbah
ini tidak lagi memerlukan penjelasan. Seorang yang berakal wajib merenunginya.

Khutbah ini menunjukkan dengan jelas wajibnya
mengikuti Imam Ali as, dan di dalamnya terdapat jawaban yang cukup atas orang
yang mengatakan bahwa maksud dari kata “wali” adalah penolong atau
pecinta. Karena petunjuk-petunjuk kontekstual dan verbal mencegah pengertian
itu. Sungguh tidaklah masuk akal Rasulullah saw menahan sekumpulan manusia
besar ini di bawah terik matahari yang sangat panas hanya untuk mengatakan
kepada mereka bahwa inilah Ali, cintai dan tolonglah dia. Orang berakal mana
yang mempertimbangkan arti ini? Dengan perkataan ini berarti dia telah menuduh
Rasulullah saw telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Sebagaimana ucapan yang
ter-surat juga memperkuat hal ini. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguh-nya
Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, washiku, khalifahku dan Imam
sepeninggalku.” Rasulullah juga telah bersabda, “Maka sesung-guhnya
Allah telah mengangkatnya sebagai pemimpin dan Imam bagi kamu, dan telah
mewajibkan ketaatan kepadanya atas setiap orang…”

Urusan kepemimpinan bukanlah urusan yang sederhana.
Seluruh ajaran Islam bersandar kepadanya.

Bukankah Islam adalah ketundukkan dan kepatuhan?!

Maka orang yang tidak tunduk kepada kepemimpinan
Ilahi dan tidak patuh kepada mereka di dalam seluruh perintahnya, apakah kita
berhak menyebut dia sebagai seorang Muslim?!

Tentu tidak. Karena jika tidak, maka tentu terjadi
tanaqudh (kontradiksi). Tindakan mengikuti kepemimpinan palsu dan tunduk
kepadanya, Al-Qur’an masukkan ke dalam kategori syirik.

Allah SWT berfirman, “Mereka menjadikan
orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain
Allah.”
(QS. at-Taubah: 31)

Mereka
tidak menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai
berhala-berhala yang disembah, melainkan rahib-rahib mereka itu menghalalkan
bagi mereka apa-apa yang Allah haramkan dan mengharamkan bagi mereka apa-apa
yang Allah halalkan. Demikian juga orang yang membangkang kepada kepemimpinan
Ilahi, dia dianggap orang musyrik.

Orang
yang merenungi ayat di atas dengan kesadaran dan mata hati niscaya akan hal itu
akan terbuka baginya. Allah SWT berfirman, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa
yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” Ayat ini merupakan bagian
dari surat al-Maidah, yang merupakan surat Al-Qur’an terakhir, sebagaimana yang
disebut-kan di dalam Mustadrak al-Hakim.

Telah
disebutkan bahwa ayat ini turun di Ghadir Khum, yaitu pada saat sepulangnya
Rasulullah saw dari haji wada.

Lantas,
perintah Ilahi yang manakah ini, yang perbuatan tidak menyampaikannya berarti
sama dengan tidak menyampaikan risalah sama sekali?!

Mau tidak mau pasti perintah Ilahi tersebut merupakan
substansi dan tujuan Islam. Yaitu ketundukkan kepada kepemimpinan Ilahi dan
kepatuhan kepada perintah-perintahnya. Jelas, perkara ini menciptakan
ketidakrelaan dari sebagian para sahabat. Sebagian besar dari mereka
menolaknya. Oleh karena itu, di dalam sebuah riwayatnya Rasulullah saw berkata
kepada Jibril, yang artinya, sesungguhnya kami telah memerangi mereka selama
dua puluh tiga tahun sehingga mereka mengakui kenabianku, lalu bagaimana
mungkin mereka dapat menerima keimamahan Ali hanya dalam waktu sekejap. Dari
sinilah kemudian datang firman Allah yang berbunyi, “Dan Allah menjaga
kamu dari (gangguan) manusia.”

Setelah Rasulullah menyampaikan perintah yang
menyamai seluruh risalah ini, maka turunlah ayat yang berbunyi, “Pada
hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagi agamamu.”

Banyak
dari kalangan para muhaddis yang dengan tegas mengatakan bahwa ayat ini turun
kepada Ali. Allamah al-Amini telah menyebutkan enam belas sumber dari mereka di
dalam kitabnya al-Ghadir, jilid 1, halaman 230 sampai dengan halaman 237.
Dengan demikian, penyempurnaan agama dan pencukupan nikmat adalah dengan
kepemimpinan Ali as. Dari sini kita dapat memberi kemungkinan kepada
riwayat-riwayat yang mengatakan, sesungguhnya diterimanya amal perbuatan
seorang hamba bergantung kepada penerimaannya terhadap kepemimpinan Ahlul Bait.
Karena mereka adalah jalan yang telah Allah perintahkan kepada kita untuk
mengikutinya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah
apa pun kepadamu atas risalah yang aku sampaikan selain dari kecintaan kepada
Ahlul Baitku.'” Kecintaan terhadap mereka bukan semata-mata dengan
mencintai mereka, melainkan dengan menolong dan mengikuti mereka dan juga
mengambil ajaran-ajaran agama dari mereka.

Di dalam
sebuah hadis yang berasal dari Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as
disebutkan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq telah berkata, “Sesungguhnya
sesuatu yang pertama kali akan ditanya kepada seorang hamba tatkala dia berada
di hadapan Allah SWT ialah mengenai salat yang diwajibkan, zakat yang
diwajibkan, puasa yang diwajibkan, dan mengenai kepemimpinan kami Ahlul Bait. Jika
dia mengakui kepemimpinan kami, lalu dia mati, maka diterima salatnya,
puasanya, zakatnya dan hajinya. Dan jika dia tidak mengakui kepemimpinan kami
di hadapan Allah maka Allah tidak akan menerima sedikit pun amal perbuatannya.
[90]

Dari Ali
as yang berkata, “Tidak ada kebaikan di dunia kecuali bagi salah seorang
di antara dua orang laki-laki. Yaitu seorang laki-laki yang bertambah
kebaikannya setiap harinya, dan seorang laki-laki yang menyusul keburukannya
dengan tobat. Demi Allah, kalau sekiranya seorang hamba bersujud hingga
terputus lehernya niscaya Allah tetap tidak akan menerima tobatnya kecuali dia
mengakui kepemimpinan kami Ahlul Bait”

Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah saw yang
bersabda,

“Wahai manusia, jika dlsebut keluarga Ibrahim kepadamu
tampak berseri-seri wajahmu, namun jika disebut keluarga Muhammad kepadamu
tampak seolah-olah biji-biji delima memecah di wajahmu? Demi Zat yang telah
mengutusku sebagai nabi dengan kebenaran, jika salah seorang dari kamu datang
pada hari kiamat dengan membawa amal perbuatan sebesar gunung Uhud namun dia
tidak datang dengan membawa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as niscaya Allah
akan lemparkan dia ke dalam neraka.”
[91]

Dan
riwayat-riwayat lainnya yang semisal dengan itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

Musyawarah
dan Kekhilafahan Islam

Pertama:

PEMBAHASAN
TENTANG AYAT-AYAT MUSYAWARAH

 

Baik dahulu maupun sekarang kaum Muslimin berbeda
pendapat di dalam cara bagaimana menentukan imam dan khalifah. Pada jaman
dahulu perbedaan pendapat tersebut lebih banyak berwujud dalam tataraan
kenyataan praktis dan pencrapaan lapangan dibandingkan pada tingkatan teori dan
pemikiran. Adapun pada jaman sckarang perbedaan tersebut hanya terbatas pada
tataran pemikiran, tidak melampaui tingkat pertengkaran ucapan dan argumentasi
teoritis.

 

Partisipasi kita di dalam menyelesaikan pertengkaran ini
ialah dengan cara kita akan mendiskusikan penunjukkan (dilalah) ayat-ayat
musyawarah (syura) yang terdapat di dalam Al-Qur’an yang dijadikan sandaran
oleh kalangan Ahlus Sunnah di dalam pandangan mereka. Kemudian setelah itu kita
akan mengkaji musyawarah dalam tataran kenyataan praktis setelah wafatnya
Rasulullah saw dan sekaligus berbagai peristwa yang terjadi sesudahnya.

 

Allah
SWT berfirman,

 

“Maka disebabkan
rahmat dan Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkaniah ampunan bagi mereka,
dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu
telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

(QS. Ali Imran: 159)

 

“Apabila keduanya
ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan
permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Danjika kamu ingin anakmu
disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan
pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah
bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

(QS. al-Baqarah: 233)

 

“Dan (bagi) orang-orang
yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan
mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan
sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

(QS. asy-Syura: 38)

 

Kalangan Ahlus Sunnah, di dalam masalah kekhilafahan
bersandar kepada konsep syura. Mereka mengatakan bahwa kekhilafahan kaum
Muslimin tidak dapat ditentukan kecuali melalui musyawarah. Oleh karena itu,
mereka mensyahkan kekhilafahan Abu Bakar, yang terpilih melalui musyawarah di Saqifah
Bani Sa’idah.

Sedangkan pandangan kedua, yaitu kalangan Syi’ah,
memandang bahwa masalah kekhilafahan harus ditentukan dan diangkat oleh Allah
SWT, karena tidak ada jaminan terpilihnya orang yang paling layak berdasarkan
pandangan pertama. Hal itu dikarenakan masalah musyawarah sangat dipengamhi
dengan pengaruh-pengaruh emosi dan perasaan manusia, pandangan-pandangan
pemikiran dan kejiwaan mereka dan juga afiliasi mereka kepada keyakinan, sosial
dan politik tertentu. Di samping itu, musyawarah juga membutuhkan tingkat
ketulusan, objektifitas dan keterbebasan dari berbagai pengaruh yang disadari
maupun yang tidak disadarl. Oleh karena itu, mereka (kalangan Syi’ah)
mengatakan Rasulullah harus mempunyai wasiat yang jelas di dalam masalah
kckhilafahan. Mereka mengatakan Rasulullah saw telah menetapkan khalifah dan
bahkan khalifah-khalifah sepeninggalnya. Atas dasar itu, mereka meyakini
kekhilafahan Ali bin Abi Thalib as, dan bahwa musyawarah yang disebutkan di
dalam Al-Qur’an hanyalah diperuntukkan bagi beberapa tema permasalahan yang
khusus berkaitan dengan pelaksanaan dan penerapan hukum, bukan berkaitan dengan
penentuan hakim (pemimpin), yang merupakan kedudukan Ilahi.

 

Oleh karena perbedaan tersebut hanya terbatas di
antara dua pandangan ini, maka kebatilan salah satunya akan membuktikan
kebenaran yang lainnya, dan sebagai akibatnya membuktikan kebenaran atau
kebatilan kekhilafahan khalifah, baik khalifah itu Abu Bakar dan
khalifah-khalifah lain yang menggantikannya atau khalifah itu Ali dan para
washi yang menggantikannya.

 

Kita telah membuktikan pada pasal-pasal sebelumnya,
dengan tidak meninggalkan keraguan sedikit pun, akan kebenaran pandangan yang
mengatakan lebih berhaknya Ahlul Bait di dalarn kekhilafahan Islam, dan bahkan
merupakan hak yang khusus bagi mereka dan tidak bagi selain mereka. Namun,
untuk lebih menyempurnakan faidah dan menjelaskan hakikat, mau tidak mau kita
harus mcndiskusikan konsep musyawarah sebagai semata-mata sebuah konsep, dan
sampai sejauh mana kelayakannya di dalam masalah pemilihan khalifah kaum
Muslimin.

 

Kalangan pendukung konsep musyawarah, di dalam
menegakkan pandangannya sangat bersandar kepada ayat-ayat Al-Qur’an yang telah
kita sebutkan pada awal pembahasan. Ayat-ayat tersebut menjadi pokok pembahasan
di dalam bab ini.

 

Jika
kita mengkaji ayat-ayat di atas niscaya akan jelas bagi kita bahwa konsep
musyawarah Islam tergambar dalam dua bentuk:

 

1. Tema musyawarah yang hendak dimusyawarahkan adalah
suatu urusan yang bersifat parsial, di dalam konteks yang sempit dan terbatas,
seperti terna penyapihan anak yang masih menyusu, sebagaimana yang diisyaratkan
oleh ayat, “Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan
kerelaan keduanya dan permusyawaratan…” Jenis musyawarah ini tidak
menjadi bahan pertengkaran, dan oleh karena itu kita tidak perlu
mendiskusikannya.

 

2. Tema musyawarah yang hendak dimusyawarahkan adalah
suatu perkara umum yang mcnjadi perhatian seluruh kaum Muslimin, Seperti
mengumumkan perang terhadap musuh atau memilih khalifah kaum Muslimin.

Tidak diragukan, bahwa dalam masalah yang seperti ini
kaum Muslimin harus merujuk kepada Rasulullah saw. Karena tidak lah logis
sebuah musyawarah terlaksana dengan tidak ada pendapat Rasulullah saw di
dalamnya. Bahkan, termasuk buruk dalam pandan-gan umum (‘urf) dan pembangkangan
menurut syariat jika sebuah musyawarah dilakukan dengan tanpa merujuk kepada
Rasulullah saw atau orang yang menempati kedudukannya, yaitu wali amri.

Allah SWT berfirman, “Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri dari
mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)
mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).”
(QS. an-Nisa: 83)

 

Jenis musyawarah ini berdasarkan ayat “Dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah…” mempunyai tiga
rukun:

1.   Adanya
orang-orang yang bermusyawarah, sehingga musyawarah terlaksana. Dan ini
ditunjukkan oleh kata ganti hum (mereka) di dalam kata “wa
syawirhun”.

2.   Adanya
materi dan tema yang dimusyawarahkan, sehingga dengan itu musyawarah
terlaksana.

3.   Adanya
pemimpin yang mengatur musyawarah, dan putusan terakhir bergantung kepada
pandangannya. Ini ditunjukkan oleh kata ganti ta mukhaththab (orang kedua) pada
kalimat “faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah…”

 

Tidak diragukan, jika yang menjadi tema adalah urusan
umum yang berkaitan dengan seluruh kaum Muslimin maka yang mempunyai hak
memutuskan ialah wali amril Muslimin.

Tidak mungkin musyawarah yang sah dalam bentuknya
yang Islami dapat terlaksana dengan tidak adanya salah satu di antara ketiga
rukun di atas. Bisa saja wali aniri ada, orang yang bermusyawarah ada, namun
tema musyawarah tidak ada, maka di sini musyawarah tidak terselenggara sama
sekali. Oleh karena tidak ada permasalahan yang dapat mereka diskusikan dan
musyawarahkan. Atau, bisa juga wali amri ada, tema musyawarah ada, namun
kumpulan manusia yang akan bermusyawarah tidak ada, maka di sini berubah status
dari musya-warah kepada nas atau perintah.

Atau juga, kumpulan manusia yang bermusyawarah ada,
tema musyawarah ada, namun wali amri tidak ada, maka di sini musyawarah tidak
berlangsung dengan bentuknya yang sah sebagaimana yang telah Allah SWT tetapkan
di dalam Kitab-Nya, ketika Dia mewajibkan adanya pengawas atas musyawarah, yang
menjadi tempat kembalinya urusan, Ketika masing-masing dari mereka mengeluarkan
pandangannya, maka dia (wali amr) harus menjadi rujukan seluruh pandangan.

 

Musyawarah yang tidak sah ini tidak mungkin bisa
mengeluarkan keputusan-keputusan yang sah dan mengikat seluruh kaum Muslimin.
Karena musyawarah ini bertentangan dengan apa yang telah ditekankan oleh ayat
bahwa pada akhirnya urusan bcrgantung kepada wali amri, “Kemudian apabila
kamu telah berketetapan hati, maka bertawakallah kepada Allah.”

 

Mungkin saja ada orang yang membantah dan berkata
bahwa ayat “Dan bermusyawarahlah dengan rnereka dalam urusan itu. Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah…”
adalah khusus untuk Rasulullah, sehingga tidak mengharuskan adanya wali amri di
dalam musyawarah; dan tidak ada halangan musyawarah dilaksanakan dengan tanpa
adanya wali amri, berdasarkan petunjuk ayat “Dan bermusyawarahlah dengan
mereka dalam urusan itu. ” Karena di dalam zahir ayat tidak terdapat kata
wali amri yang berketetapan hati dan bertawakal, sebagaimana yang terdapat di
dalam ayat yang pertama.

 

Bantahan
ini dapat dijawab dengan beberapa jawaban berikut:

 

1. Sesungguhnya seluruh yang tertelapkan bagi
Rasulullah saw, seperti hak ketaatan, juga tertetapkan bagi wali amri,
berdasarkan firman Allah SWT yang berbunyi, “Taatilah Allah, taatilah
Rasul dan ulil amri dari kamu.” Dengan begitu menjadi jelas bahwa jenis
ketaatan kepada wali amri adalah jenis kctaatan yang sama dengan ketaatan
kepada Rasulullah saw, disebabkan adanya athaf secara pasti, sebagaimana
digunakannya satu kata (yaitu kata “taatilah”) untuk keduanya, yaitu
“Taatilah Rasul dan ulil amri dari kamu… ” Jika seandainya
digunakan kata “athi’u” untuk ketiga kalinya bagi ulil amri, maka
barulah benar perkataan yang mengatakan di sana terdapat perbedaan di antara
dua ketaatan tersebut.

 

2. Sesungguhnya tata cara musyawarah yang telah Allah
tetapkan dalam urusan-urusan umum yang berhubungan dengan seluruh kaum Muslimin
adalah satu, “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudianjika kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada
Allah.” Sehingga penggunaan tata cara lain menuntut adanya dalil syariat
yang menghasilkan perkara-perkara syariat, seperti kewajiban taat terhadap apa
yang dihasilkan oleh musyawarah ini. Dan berargumentasi dengan ayat
“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara
mereka” untuk cara yang kedua dari musyawarah tidaklah sempurna.

 

Karena perkataan ini mendapat bantahan bahwa —tidak
diragukan— ayat ini turun kepada Rasulullah saw. Dalam arti, ayat ini turun
pada saat Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kaum Muslimin. Akal dan agama
tentunya melarang kaum Muslimin bermusyawarah tentang suatu urusan umum yang
menyangkut urusan seluruh kaum Muslimin dengan tanpa kehadiran Rasulullah saw
di antara niereka dan dengan tanpa merujuk kepada beliau. Salah satu dalil yang
menunjukkan bahwa Rasulullah harus berada di tengah mereka ialah, bahwa kata
ganti hum (mereka) di dalam ayat “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarah di antara mereka ” mencakup Rasulullah saw. Di samping itu,
sesungguhnya konteks ayat di atas berbicara tentang sifat-sifat orang Mukmin
yang menang,

“Maka sesuatu apa pun
yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada
pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan
hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal Dan (bagl) orang-orang yang
menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah
mereka memberi rnaaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan
Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarah di antara mereka; dan merteka menafkahkan sebagian reieki yang Kami
berikan kepada mereka.”

(QS. asy-Syura: 36-38)

 

Tidak diragukan bahwa seutama-utamanya ekstensi
(mishdaq) orang-orang Mukmin adalah Rasulullah saw. Tidak diragukan bahwa
Rasulullah saw adalah salah seorang dari mereka. Jika telah terbukti bahwa
Rasulullah saw termasuk bagian dari musyawarah ini, maka tentu Anda tahu bahwa
urusan musyawarah di dalam ayat ini kembali kepada Rasulullah saw, dan tentunya
musyawarah ini tidak akan sempurna kecuali dengan ketetapan hati beliau,
“Kemudian jika kamu telah berbulat hati maka bertawakallah kepada
Allah.”

 

Dengan demikian, sesungguhnya musyawarah ialah
sebagaimana cara yang pertama. Seluruh yang terdapat di dalam ayat “Sedang
urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka” adalah
bersifat umum dan mujmal, sedangkan ayat “Dan bermusyawarahlah dengan
mereka dalam urusan itu. Kemudian apahila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah” adalah merupakan penjelas dan perinci baginya.

 

Setelah saya menjelaskan ini, dengan segera saya
menambahkan bahwa kita akan sampai kepada hasil yang terbatas jika kita
berpendapat bahwa ayat “Dan bermusyawarahlah dengan mereka…” ini
hanya khusus untuk Rasulullah saw, dan tidak untuk ulil amri. Karena jika
demikian musyawarah tidak akan bisa berlangsung kecuali dengan adanya Rasulullah.
Dan jika Rasulullah saw meninggal dunia maka tidak ada musyawarah, disebabkan
tidak adanya salah satu rukun dasar di dalam musyawarah, yaitu Rasulullah saw.
Namun jika kita me-ngatakan ayat ini tidak hanya khusus terbatas bagi
Rasulullah saw saja, maka berarti kita mengatakan ayat ini juga mencakup ulil
amri, sehingga dengan begitu musyawarah tetap ada dan sah dengan syarat adanya
wali amri di dalamnya. Dan wali amri memiliki hak-hak yang dimiliki oleh
Rasulullah saw di dalam musyawarah, karena dia menempati tempat Rasulullah.
Sehingga dengan demikian, makna “Dan urusan mereka (diselesaikan) dengan
permusyawatan di antara mereka’ ialah mereka tidak dapat menyimpulkan suatu
urusan dengan tanpa bermusyawarah kepada Rasulullah saw, di dalam urusan-urusan
agama yang mereka perlukan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan kalau
mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri dari mereka, tentulah
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari
mereka (Rasul dan ulil amri).”

 

Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka pandangan
musyawarah di dalam pengangkatan khalifah menemui jalan buntu, yang berakibat
kepada batalnya pandangan tersebut. Berdasarkan pendapat pertama, yaitu yang
mengatakan “Dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan
itu…” hanya khusus untuk Rasulullah saw, sebagaimana diketahui bahwa
musyawarah yang diselenggarakan untuk meng-angkat khalifah pertama itu
dilakukan setelah wafatnya Rasuullah saw, sehingga dengan begitu tentunya dia
merupakan musyawarah yang tidak sah menurut hukum Islam dan pandangan
Al-Qur’an, dan dengan begitu maka berarti seluruh keputusan yang dihasilkan
darinya adalah tidak sah, yang salah satunya adalah pengangkatan khalifah
pertama, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab
hadis tentang tata cara pengangkatannya, pada sebuah tempat yang mereka namakan
dengan Saqifah Bani Sa’idah. Adz-Dzahabi telah merekam peristiwa tersebut di
dalam kitab sejarahnya.

Sebagaimana peristiwa ini direkam juga di dalam Sahih
Bukhari, di dalam kitab al-hudud, bab merajam wanita yang mengandung hasil
perbuatan zina, dengan riwayat dari Umar bin Khatab. Ibnu Jarir ath-Thabari
juga merekam peristiwa ini di dalam kitab sejarahnya tatkala dia menceritakan
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 11 Hijrah, di dalam jilid 2 dari
kitab sejarahnya. Demikian juga Ibnu Atsir, dan Ibnu Qutaibah di dalam kitabnya
Tarikh al-Khulafa, jilid 1. Dan begitu juga kitab-kitab referensi sejarah
lainnya.

 

Adapun
berdasarkan pendapat yang kedua, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa ayat
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka… ” terlaksana dengan adanya
Rasulullah saw atau orang yang menempati kedudukannya, musyawarah yang sah
tidak dapat terlaksana kecuali dengan adanya wali amri, dan wali amri tidak
dapat diangkat kecuali dengan musyawarah yang sah, maka ini berarti terjadi
dawr (berputar), dan dawr itu mustahil. Karena, tidak mungkin musyawarah yang
sah dilaksanakan kecuali setelah adanya wali amri, sementara wali amri tidak
mungkin ada kecuali setelah dilaksanakannya msuyawarah yang sah. Ini berarti
perkara ini bergantung kepada dirinya, sehingga dengan begitu tidak akan
mungkin musyawarah yang sah terlaksana untuk selamanya. Kecuali jika dikatakan
bahwa di sana ada seorang wali amri yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw,
yang keberadaannya lebih dulu dibandingkan keberadaan musyawarah. Ini berarti
penerimaan terhadap “pandangan nas”, yang dikatakan oleh madrasah
Ahlul Bait.

 

Mungkin
ada orang yang mengatakan tidak wajib adanya wali amri di dalam musyawarah,
melainkan cukup dengan adanya orang yang bermusyawarah. Jika Anda membantah
dengan mengatakan bahwa dhamir pada kata ‘azamta menunjukkan hak orang yang
bermusyawarah untuk mengambil keputusan, dan ini menunjukkan bahwa dia itu wali
amri di dalam musyawarah, maka bantahan ini dapat dijawab dengan mengatakan
bahwa kata in ‘azamta (apabila kamu berbulat hati) adalah berarti berbulat hati
untuk melaksanakan hasil musyawarah.

 

Sesungguhnya
zahir ayat di atas tidak demikian. Karena yang paling tampak dari ayat ini
ialah tertetapkannya hak mengambil keputusan padanya. Dengan kata lain,
sesungguhnya perkataan di atas baru dikatakan benar jika pendapat orang-orang
yang bermusywarah itu satu; akan tetapi jika pendapat orang-orang yang
bermusyawarah itu ber-macam-macam, bagaimana musyawarah dapat mengambil
keputusan?

 

Jika orang
itu mengatakan harus berdasarkan suara mayoritas, mana dalilnya? Justru Allah
SWT sering mengecam kelompok mayorits di dalam banyak ayatnya, “…
kebanyakan orang yang ada di muka bumi berusaha menyesatkan kamu.” Bahkan,
perkataannya ini bertentangan dengan bunyi ayat yang menyerahkan urusan
pengambilan keputusan kepada satu orang yang bermusyawarah manakala terjadi
perbedaan pendapat. Jika kita menerima ini, maka berarti orang itu telah keluar
dari sifat orang yang bermusyawarah kepada sifat sifat seorang wali di dalam
musyawarah. Bahkan, sekali pun orang-orang yang ber-musyawarah sepakat atas
suatu pendapat, maka orang itu (wali amri) tetap mempunyai hak untuk menetapkan
atau tidak menetapkannya.

Dari
pembahasan di atas menjadi jelas bahwa pandangan musyawarah berada di antara
dua jalan buntu:

1.   Musyawarah dapat dilakukan dengan tanpa adanya
Rasulullah saw dan ulul amri. Musyawarah yang seperti ini batal dan tidak sah.
Dan pendapat yang mengatakan mungkinnya dilakukan musyawarah dengan tanpa
adanya Rasulullah saw dan ulil amri memerlukan kepada dalil agama, namun tidak
ada dalil agama yang menunjukkan kepada hal itu.

 

2.   Atau, musyawarah dilakukan dengan adanya wali
amri yang dijadikan sebagai rujukan. Kemungkinan ini dapat dibayangkan dalam
beberapa bentuk:

a. Wali amri sendiri menobatkan dirinya sebagai
wali amril Muslimin. Cara yang seperti ini tentunya sesuatu yang tidak
dibolehkan oleh agama. Ini merupakan sebuah perampasan tidak sah terhadap
hak-hak kaum Muslimin, sehingga bagaimana bisa ketaatan kepadanya menjadi wajib
atas seluruh kaum Muslimin.

b. Atau, adanya sekelompok kecil orang yang
mengurusi urusan kaum Muslimin. Di sini pun kita tetap terperosok ke dalam dua
jalan buntu yang telah kita bicarakan. Dalam bentuk ini kita akan tetap jatuh
kepada pertanyaan, alasan syariat yang mana yang membenarkan kita mentaati
mereka, dan mana dalilnya?!

c. Allah
SWT dan Rasul-Nya menetapkan seseorang sebagai wali amri. Maka di sini tidak
diperlukan lagi musyawarah, disebabkan tidak mungkin menentang Allah SWT dan
Rasul-Nya. Pandangan ini sendiri adalah pandangan nas atau pandangan wasiat,
sehingga dengan begitu ternafikanlah pandangan musyawarah. Dan sebagai
konsekwensinya adalah batalnya kekhilafahan pertama.

 

Dengan
penjelasan-penjelasan ini menjadi jelas batalnya pandangan musyawarah di dalam
menentukan khilafah dari semua segi, sehingga kita layak memalingkan tema
musyawarah yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an al-Karim kepada tema-tema
selain pengangkatan wali amril Muslimin, seperti musyawarah mengenai cara-cara
penerapan hukum, strategi peperangan dan sebagainya, sebagai-mana yang menjadi
konteks ayat “Dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu.

 

Tidak
tersisa lagi pintu bagi mereka, kecuali jika mereka mengklaim bahwa Allah SWT
dan Rasul-Nya telah mengangkat dan menetapkan kekhilafahan pertama
(kekhilafahan Abu Bakar). Namun, Abu bakar sendiri tidak mengklaim hal itu.
Karena jika Abu Bakar mengklaim hal itu, maka tentu dia akan berhujjah
dengannya kepada orang-orang Anshar pada saat di Saqifah.

Salah satu
hal lain yang juga jelas diketahui dari ayat syura ialah bahwa Allah SWT tidak
mempercayai mereka dalam masalah strategi perang, yang masih merupakan sesuatu
yang berada di dalam ruang lingkup sesuatu yang dapat dimusyawarahkan
—sebagaimana yang dapat dipahami dari konteks ayat, dan— apalagi mempercayai
mereka dalam sebuah urusan yang lebih besar, yaitu memilih khalifah pengganti
Rasulullah saw. Jika Anda tidak mempercayai seseorang untuk mengelola uang
seratus dinar, maka bagaimana mungkin Anda mempercayainya untuk mengelola uang
seribu dinar.

 

Kemudian,
bagaimana mungkin masuk akal Allah SWT menyerahkan kepada umat untuk memilih
sendiri khalifahnya, padahal Allah SWT dan Rasul-Nya saw telah mengetahui akan
terjadinya pembelotan langsung setelah wafatnya Rasulullah saw, “Apakah
jika dia wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang (murtad)?…”
Jika Anda memperhatikan ayat ini dengan seksama niscaya akan jelas bagi Anda
bahwa orang-orang yang diseru di sini adalah orang-orang Muslim. Karena tidak
ada artinya pembelotan orang kafir, dan juga tidak bisa pembelotan ini
diterapkan kepada Musailamah al-Kadzdzab, karena pembelotannya terjadi pada
masa Rasulullah saw.

 

Tidak
masuk akal jika Allah SWT dan Rasul-Nya membiarkan urusan ini menjadi sia-sia
di tengah-tengah kaum Muslimin, padahal Dia tahu akan terjadi berbagai fitnah
di antara kaum Muslimin apabila tidak ditentukan pemimpin yang akan menjadi
rujukan mereka. Sejarah menjadi saksi akan hal itu, di mana ketiadaan wali amri
telah menyebabkan timbulnya berbagai fitnah di tengah-tengah kaum Muslimin.
Penyimpangan ini terus berlanjut hingga orang-orang yang fasik, orang-orang
yang berbuat kerusakan, dan orang-orang yang tidak mempunyai rasa malu, akhlak
dan agama, berkuasa atas kaum Muslimin. Untuk menambah keyakinan Anda, silahkan
putar balik jarum jam Anda mulai dari empat belas abad yang lalu, lalu silahkan
berhenti sejenak pada masa dinasti Bani Umayyah dan Bani Abbas, yang memerintah
manusia selama periode tertentu, supaya Anda dapat mengenal para penguasa
mereka dan bagaimana mereka secara terang-terangan meminum khamar, dan
bagaimana mereka bermain dengan anjing dan kera, setelah terlebih dahulu
binatang-binatang itu dikenakan baju sutera yang halus dan perhiasan emas; dan
perbuatan-perbuatan keji lainnya yang dilakukan para penguasa, yang sejarah pun
merasa malu untuk mencatatnya.

 

Ini
merupakan salah satu bukti yang menunjukkan kejelekan-kejelekan konsep
“pemilihan” dan sekaligus kemandulan konsep ini sejak dari dasarnya.
Karena, orang yang kita pilih hari ini mungkin saja kita benci keesokan
harinya, namun kita tidak mampu menurunkannya setelah menempatkan dia sebagai
pemimpin. Kaum Muslimin telah berusaha mengerahkan segenap usahanya untuk
menurunkan Usman, namun Usman enggan turun dengan mengatakan, “Saya tidak
akan melepaskan pakaian yang telah Allah SWT kenakan kepada saya.”

 

Setelah
kita membuktikan kelemahan dua dalil yang telah dikemukakan kelompok pertama,
yang telah menjadikan konsep musyawarah sebagai pilar dasar di dalam memilih
khalifah yang akan mengurusi urusan kaum Muslimin sepeninggal Rasulullah saw,
dan setelah jelas bagi kita jauhnya kedua dalil tersebut dari maqam khilafah
dan kepemimpinan, kita kembali memejamkan mata dari kenyataan ini dan tetap
saja tunduk dan menerima kedua dalil dalam masalah khilafah dan kepemimpinan
ini, serta pura-pura tidak tahu akan penyimpangan-penyimpangan yang dimiliki
keduanya.

 

Apakah
sikap pura-pura tidak tahu dan penerimaan akan kemandulan pandangan ini akan
dapat menyelesaikan ketidak-jelasan peraturan di dalam semua hal yang berkaitan
dengan cara pelaksanaan kandungannya? Kedua dalil ini tidak dapat meluruskan
kebengkokan dan menutupi celah-celah kekurangan konsep ini. Karena konsep ini
membutuhkan pembatasan dan perincian akan maknanya. Kedua nas yang diisyaratkan
di atas, juga kehilangan ukuran-ukuran musyawarah dan cara-cara
pengoreksiannya, di samping konsep ini juga memerlukan alat-alat pelaksanaan di
dalam penerapannya.

Kita tidak
mendapati di dalam hadis-hadis dan riwayat-riwayat serta di dalam sejarah
kehidupan Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw telah
mengemukakan konsep ini dan mengharuskan umat untuk melaksanakannya. Jika
Rasulullah saw telah melakukan yang demikian, maka tentu kita mendapati
Rasulullah saw telah menetapkan petunjuk-petunjuk yang jelas tentang hal itu,
atau tentunya telah membiasakan hal itu di tengah-tengah umatnya guna
mempersiapkan mereka, baik dari segi pemikiran, kejiwaan dan politik, supaya
bisa melaksanakan konsep ini.

Atau
setidaknya beliau telah mempersiapkan beberapa contoh figur yang cakap untuk
memegang kepemimpinan percobaan dan pengawasan terhadap syariat dan
pelaksanaannya. Namun, sebagaimana yang telah kita kemukakan, tidak ada
bukti-bukti yang menunjukkan kepada yang demikian itu.

Kedua:

 

Kedua :

MUSYAWARAH,
DALAM KENYATAAN PELAKSANAAN

 

Musyawarah
Dan Saqifah Bani Sa’idah

Para sejarahwan menyebutkan bahwa kekhalifahan Abu
Bakar diperoleh melalui jalan pencalonan dan pemilihannya di Saqifah Bani
Sa’idah. Peristiwa Saqifah, pada kenyataannya merupakan pijakan dasar yang
dijadikan sandaran oleh Abu Bakar di dalam kekhalifahannya atas kaum Muslimin.
Tidak mungkin seorang Muslim berpegang kepada kekhalifahannya kecuali jika dia
mempercayai bahwa apa yang terjadi di Saqifah itu benar, dan menganggapnya
sebagai satu-satunya jalan untuk bisa menentukan khalifah kaum Muslimin. Oleh
karena pada pembahasan yang lalu kita telah membuktikan ketidakbenaran konsep
musyawarah sebagai alat untuk mengangkat khalifah kaum Muslimin, maka pada
kesempatan ini kita bermaksud ingin mengemukakan peristiwa Saqifah, yang
merupakan penerapan lapangan dari konsep musyawarah, sehingga kita dapat
menyingkap sampai sejauh mana kelurusan dan kebenaran konsep ini, untuk
kemudian kita menyimpulkan apakah akan berpegang kepadanya atau tidak berpegang
kepadanya.

 

Saqifah Di
Dalam Kitab Tarikh Thabari.

 

Thabari menceritakan peristiwa ini secara rinci di
dalam kita tarikhnya, jilid 2, terbitan al-Istiqlal Kairo, tahun 1358 Hijrah,
atau bertepatan dengan tahun 1939 Masehi. Kita akan menukilkannya secara
ringkas, sesuai kebutuhan, dari halaman 455 – 460 sebagai berikut:

“Orang-orang
Anshar telah berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah. Mereka meninggalkan jenezah
Rasulullah saw yang sedang dimandikan oleh keluarganya. Mereka berkata, ‘Kami
menyerahkan urusan ini kepada Sa’ad bin ‘Ubadah sepeninggal Rasulullah saw.
Kemudian mereka menghadirkan Sa’ad bin ‘Ubadah ke tengah-tengah mereka yang
ketika itu sedang sakit. Maka Sa’ad bin ‘Ubadah pun mengucapkan puji-pujian
kepada Allah SWT, lalu dia menyebutkan kedahuluan mereka di dalam agama,
keutamaan-keutamaan mereka di dalam Islam, pemuliaan mereka terhadap Rasulullah
dan para sahabatnya, serta jihad mereka di dalam melawan musuh-musuhnya,
sehingga bangsa Arab tegak dan Rasulullah saw meninggal dunia dalam keadaan
rida kepada mereka.

Sa’ad bin
‘Ubadah berkata, ‘Maka gengamlah kuat-kuat urusan ini, jangan sampai orang lain
yang menggenggamnya.’ Orang-orang Anshar menjawab, ‘Sungguh tepat pendapat
Anda, dan sungguh benar perkataan Anda. Kami tidak akan melanggar apa yang Anda
perintahkan, dan akan kami angkat Anda sebagai pemimpin. Dan kaum Muslimin yang
saleh tentu akan menyenangi.’

 

Kemudian
mereka saling bertukar kata di antara mereka. Sebagian di antara mereka
berkata, ‘Bagaimana apabila kaum Muhajirin menolak dan berkata, ‘Kami adalah
kaum Muhajirin dan sahabat-sahabat Rasulullah saw yang pertama, kami adalah
keluarganya dan wali-walinya, maka kenapa Anda hendak bertengkar dengan kami
mengenai kepemimpinan sesudah Rasulullah saw?’ Lalu sebagian mereka yang lain
berkata, ‘Jika demikian, maka kita akan menjawab, ‘Seorang pemimpin dari kami,
dan seorang pemimpin dari kamu. Selain begini, kita sama sekali tidak akan
rela. Kita adalah pemberi perumahan, pelindung dan penolong, sementara mereka
yang melakukan hijrah. Kita berpegang kepada Al-Qur’an sebagaimana mereka. Apa
pun alasan yang mereka ajukan, kita akan mengajukan dalil yang sama. Kita tidak
hendak memonopoli kekuasaan terhadap mereka, maka bagi kita harus ada seorang
pemimpin dan bagi mereka seorang pemimpin.’ Maka berkatalah Sa’ad bin ‘Ubadah,
‘lniah awal kelemahan!’

 

Abu Bakar
dan Umar mendengar apa yang tengah dilakukan oleh orang-orang Anshar, maka
mereka berdua pun bergegas pergi ke Saqifah dengan ditemani oleh Abu ‘Ubaidah
bin Jarrah, dan kemudian bergabung bersama mereka Usaid bin Hudhair, ‘Awim bin
Sa’idah dan ‘Ashim bin ‘Adi, dari kalangan Bani ‘Ajlan. Kemudian Abu Bakar
berbicara, setelah sebelumnya melarang ‘Umar berbicara. Pertama-tama Abu Bakar
mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT, dan kemudian menyebutkan kedahuluan
orang-orang Muhajir di dalam membenarkan Rasulullah saw, sebelum seluruh orang
Arab yang lain. Abu Bakar berkata, ‘Mereka adalah orang-orang yang pertama
menyembah Allah SWT di muka bumi dan beriman kepada Rasulullah saw. Mereka itu
adalah keluarganya dan wali-walinya, dan manusia yang paling berhak atas urusan
ini sepeninggalnya, serta tidak ada yang bertengkar dengan mereka di dalam
urusan itu kecuali orang yang zalim.’ Kemudian Abu Bakar menyebutkan
keutamaan-keutamaan orang Anshar. Setelah itu dia berkata, ‘Setelah orang-orang
Muhajir yang pertama tidak ada orang yang mempunyai kedudukan di sisi kita
selain orang-orang Anshar. Maka oleh karena itu kami adalah pemimpin sedangkan
Anda adalah wazir (pembantu).’

 

Maka Hubab
bin Mundzir berkata, ‘Wahai kaum Anshar, peganglah urusan Anda. Sesungguhnya
manusia berada di bawah naungan Anda, dan tidak akan ada seorang pemberani yang
berani menentang Anda. Oleh karena itu, janganlah Anda berselisih, sehingga
akan merasak pendapat Anda dan menodai urusan Anda. Apabila mereka menolak
kecuali sebagaimana yang telah Anda dengar, maka biarlah dari kita seorang
pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin.’

 

Umar
berkata, ‘Demi Allah, dua pedang tidak akan masuk ke dalam satu sarung. Orang
Arab tidak akan menerima kepemimpinan Anda, wahai orang Anshar, karena Nabi
bukan berasal dari Anda. Akan tetapi orang Arab tidak akan keberatan dipimpin
oleh kaum yang Nabi berasal dari mereka. Tentang ini, kami mempunyai bukti yang
jelas. Siapa yang memperselisihkan kami atas kekuasaan Muhammad dan
pemerintahannya, padahal kami adalah wali-walinya dan kaum kerabatnya.’

Hubab bin
Mundzir berdiri dan berkata, ‘Wahai kaum Anshar, jangan Anda dengarkan
orang-orang ini, Umar dan sahabat-sahabatnya. Mereka akan mengambil hak Anda
dan merampas kebebasan kalian untuk memilih. Jika mereka tidak setuju, kirim
mereka pulang dan biarkan mereka membentuk pemerintahannya sendiri di sana.
Demi Allah, Anda lebih berhak menjadi pemimpin dari mereka. Karena dengan
perantaraan pedang Anda, orang-orang yang sebelumnya tidak memeluk agama ini
menjadi memeluk agama ini.’

 

Umar
berkata, ‘Kalau begitu, mudah-mudahan Allah SWT membunuhmu.’

Hubab bin
Mundzir berdiri, ‘Tidak, justru mudah-mudahan kamu yang dibunuh oleh Allah
SWT.’

 

Abu
‘Ubaidah berkata, ‘Wahai kaum Anshar, Anda adalah yang pertama membela Islam,
maka janganlah Anda menjadi orang yang pertama memisahkan diri dan berubah.’

 

Maka berdirilah
Basyir bin Sa’ad al-Khazraji, ayah Nu’man bin Basyir berkata, ‘Wahai kaum
Anshar, kita kaum Anshar telah memerangi kaum kafir dan membela Islam bukanlah
untuk kehormatan duniawi, tetapi untuk memperoleh keridaan Allah SWT. Kita
tidak mengejar kedudukan. Nabi Muhammad adalah orang Quraisy, dari kaum
Muhajirin, dan layaklah sudah apabila seorang dari keluarganya menjadi
penggantinya. Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa saya tidak akan melawan
mereka. Saya harap Anda sekalian pun demikian.’

 

Kemudian
Abu Bakar berdiri dan berkata, ‘lni Umar, dan ini Abu ‘Ubaidah, silahkan Anda
baiat yang mana saja di antara mereka yang Anda suka.’

Tetapi
keduanya berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan mau memegang urusan ini selama
Anda masih ada.’

 

Lalu
Abdurrahman bin ‘Auf berdiri dan berkata, ‘Wahai kaum Anshar, meskipun Anda
berada di atas keutamaan, namun tidak ada di tengah Anda orang seperti Abu
Bakar, Umar dan Ali.’ Mendengar itu Mundzir bin Arqam berdiri dan berkata,
‘Kami tidak menolak keutamaan orang-orang yang Anda sebutkan, namun di antara
mereka ada seseorang yang jika dia menuntut urusan ini maka tidak ada seorang
pun yang memperselisihkannya, yaitu Ali bin Abi Thalib.’

 

(Maka
orang-orang Anshar atau sebagian orang Anshar berkata, ‘Kami tidak akan membaiat
kecuali Ali.’)

(Umar
berkata, ‘Suasana menjadi hangat dan suara-suara menjadi keras, dan untuk
menghindari perpecahan saya berkata, ‘Bentangkan tangan Anda, wahai Abu Bakar,
supaya aku membaitmu!’) Manakala keduanya bangkit hendak membait Abu Bakar, Basyir
bin Sa’ad men-dahului keduanya membait Abu Bakar.

Hubab bin
Mundzir berteriak kepada Basyir bin Sa’ad, ‘Wahai Basyir bin Sa’ad! Hai orang
durhaka, orang tuamu sendiri tidak menyukaimu. Engkau telah menyangkal ikatan
keluarga, engkau dengki dan tidak mau melihat saudara sepupumu menjadi
pemimpin.’

 

Basyir bin
Sa’ad berkata, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak mau berselisih dengan satu kaum
tentang suatu hak yang telah Allah SWT jadikan untuk mereka.’ Manakala kaum Aus
melihat apa yang telah dilakukan Basyir bin Sa’ad, apa yang diseru oleh kaum
Quraisy dan apa yang diminta oleh kaum Khazraj untuk menjadikan Sa’ad bin
‘Ubadah sebagai pemimpin, sebagian mereka berkata kepada sebagian mereka yang
lain, di antaranya adalah Usaid bin Hudhair, ‘Demi Allah, bila kaum Khazraj
sekali berkuasa atas dirimu, mereka akan seterasnya mempertahankan
keunggulannya atas diri kamu, dan tidak akan pernah membagi kekuasaan itu
kepadamu untuk selama-lama-nya; maka berdirilah, dan baiatlah Abu Bakar.’

 

Maka
mereka pun berdiri dan membaiatnya. Dan hancurlah kesepakatan yang telah mereka
peroleh atas Sa’ad bin ‘Ubadah dan kaum Khazraj. Orang-orang berdatangan dari
semua sudut untuk membaiat Abu Bakar, hingga hampir saja mereka menginjak Sa’ad
bin ‘Ubadah.

Para
sahabat Sa’ad bin ‘Ubadah berkata, ‘Hati-hati, jangan sampai menginjak Sa’ad.’

Pada saat
itu Umar berkata, ‘Bunuh dia, mudah-mudahan Allah membunuhnya.’

Kemudian
Umar mendekatinya seraya berkata, ‘Saya ingin menginjak-injak engkau sampai
remuk.’

Putra
Sa’ad bin ‘Ubadah, Qais, menjambak janggut Umar dan berkata kepadanya, ‘Bila
engkau menyentuh sehelai saja rambutnya, aku akan rontokkan semua gigimu!’

Abu Bakar
berteriak, ‘Tenang Umar! Dalam keadaan seperti ini kita harus tenang.’

 

Maka Umar
pun pergi meninggalkan Sa’ad, tetapi Sa’ad berteriak, ‘Demi Allah, seandainya
aku dapat berdiri, aku akan membuat huru hara di kota Madinah, agar engkau dan
teman-temanmu bersembunyi ketakutan. Kemudian aku akan menjadikanmu pelayan,
bukan penguasa. Bawa aku dari tempat ini.’ Maka mereka pun membawa Sa’ad bin
‘Ubadah dan memasukkannya ke dalam rumahnya…”

 

Kejadian ini tidak memerlukan penjelasan dan komentar
lagi, dia sendiri dapat menyingkap bagaimana proses terjadinya pengangkatan Abu
Bakar sebagai khalifab… Sungguh proses tersebut jauh sekali dari proses
musyawarah. Musyawarah tidak layak dilakukan di tempat yang tidak tepat ini, di
mana Saqifah Bani Sa’idah terletak di sebuah ladang di luar kota Madinah.
Tentunya Mesjid Rasulullah saw lebih utama untuk dijadikan tempat melakukan hal
ini. Karena Mesjid Rasulullah saw adalah tempat berkumpulnya kaum Muslimin dan
tempat dilakukannya musyawarah untuk membahas urusan-urusan dunia dan
urusan-urusan agama. Di samping juga waktunya tidak sesuai, karena jenazah
Rasulullah saw masih terbujur dan belum di-makamkan. Bagaimana bisa mereka
meninggalkan jenazah Rasulullah saw dalam keadaan seperti ini, untuk
memperebutkan urusan kekhalifahan, sementara sahabat-sahabat besar sedang sibuk
mengurus jenazah Rasulullah saw.

Apakah ada seorang yang berakal yang menamakan
peristiwa ini sebagai musyawarah?!

 

Pada kenyataannya mereka tidak sedang mencari
kekhilafahan Islam yang mendapat petunjuk, yang dengan perantaraannya akan
terjaga persatuan dan eksistensi kaum Muslimin. Kata-kata yang mereka ucapkan
memberi petunjuk kepada hal ini.

 

Kata-kata Sa’ad yang berbunyi, “Maka genggamlah
kuat-kuat urusan ini, jangan sampai orang lain yang menggenggamnya”, lalu
orang-orang Anshar menjawab, “Sungguh tepat pendapat Anda, dan sungguh
benar perkataan Anda. Kami tidak akan melanggar apa yang Anda
perintahkan”, dan begitu juga kata-kata Umar yang berbunyi, “Siapa
yang memperselisihkan kami atas kekuasaan Muhammad dan pemerintahannya?”

 

Seluruh kata-kata ini menyingkap jati diri mereka.
Mereka tidak menginginkan apa-apa kecuali kekuasaan.

Di samping kata-kata kasar yang terjadi di antara
para sahabat, padahal Rasulullah saw telah bersusah payah mendidik mereka
selama dua puluh tiga tahun. Misalnya perkataan Umar terhadap Hubab,
“Mudah-mudahan Allah membunuhmu”, dan begitu juga perkataan Hubab
terhadap Umar, “Tidak, justru mudah-mudahan engkau yang dibunuh oleh
Allah.” Atau perkataan Umar kepada Sa’ad bin Ubadah, “Bunuhlah dia,
mudah-mudahan Allah membunuhnya.” Atau perkata-an Umar yang lain kepada
Sa’ad, “Saya akan menginjak-injak engkau hingga remuk.” Atau
perkataan Qais bin Sa’ad kepada Umar sambil menjambak janggutnya, “Demi
Allah, apabila engkau sentuh satu helai saja dari rambutnya, aku akan rontokkan
semua gigimu.” Semua ini memberikan gambaran yang jelas bagi Anda.

 

Kata-kata keji yang seperti ini yang dilontarkan di
tempat pemilihan yang sangat sensitif ini, hingga sampai tahap ancaman,
pemukulan dan ajakkan untuk membunuh, semua ini menunjukkan betapa orang-orang
yang berkumpul tersebut dipenuhi dengan rasa kedengkian dan permusuhan terhadap
satu sama lain. Bagaimana mungkin kita bisa menerima musyawarah dari
orang-orang seperti mereka —itu pun apabila musyawarah itu sah.

 

Kemudian, lihatlah kata-kata dan argumentasi yang
mereka lontarkan terhadap satu sama lain, semua itu adalah argumentasi yang
kosong dan jauh dari kebenaran. Sebagai contoh —misalnya— argumentasi Umar,
yang merupakan argumentasi yang paling kuat, “Orang Arab tidak akan
menerima kepemimpinan Anda, wahai orang Anshar, karena Nabi bukan berasal dari
Anda. Akan tetapi orang Arab akan menerima dipimpin apabila oleh kaum yang Nabi
berasal dari mereka.”

 

Jika orang Arab tidak menerima kepemimpinan orang
yang jauh dari Rasulullah saw, maka tentu mereka akan menerima kepemimpinan
orang yang paling dekat hubungannya dengan Rasulullah saw, yaitu Ali bin Abi
Thalib as. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as berhujjah, “Mereka
berhujjah dengan pohon kenabian namun mereka meninggalkan buahnya.”[92]

 

Jika orang Arab tidak menerima kepemimpinan Ali as,
maka tentu mereka lebih tidak menerima lagi kepemimpinan seorang laki-laki yang
berasal dari kabilah Tim. Jika ini yang menjadi hujjah mereka, maka tentu hal
ini akan menjadi hujjah yang kuat bagi Ali as

 

Abu Bakar al-Jawahiri berkata tentang argumentasi Ali
as, “Ali berkata, ‘Saya adalah hamba Allah dan saudara Rasulullah.’ Berita
itu sampai kepada Abu Bakar. Lalu Abu Bakar berkata kepada Ali, ‘Berbaiatlah.’
Ali as menjawab, ‘Aku lebih berhak dari Anda atas kepemimpinan ini. Aku tidak
akan berbaiat kepada Anda, justru Anda yang lebih layak berbaiat kepadaku. Anda
telah merebut kepemimpinan ini dari kaum Anshar dengan berhujjah kepada mereka
dengan kekerabat-an Anda dengan Rasulullah, maka mereka pun menyerahkan
kepe-mimpinan kepada Anda. Dan sekarang saya mengajukan hujjah yang sama dengan
hujjah yang Anda ajukan kepada orang-orang Anshar. Maka bersikap adillah kepada
kami, jika Anda memang mengkhawatirkan Allah atas diri Anda. Dan berikanlah
pengakuan yang serupa kepada kami sebagaimana yang telah diberikan oleh kaum
Anshar kepada Anda. Jika tidak, maka berarti Anda telah berlaku zalim dan Anda
mengetahuinya.’

 

Umar berkata kepada Ali, ‘Anda tidak akan dibiarkan
hingga Anda berbaiat.’

Ali menjawab, ‘Anda sedang memerah susu untuk Abu
Bakar dan diri Anda sendiri. Anda bekerja untuknya hari ini, dan besok dia akan
mengangkat Anda menjadi penggantinya. Demi Allah, saya tidak akan menerima
kata-kata Anda, dan tidak akan mengikuti Anda.'”[93]

 

Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk
mendapatkan baiat dari Ali, bahkan dengan cara kekerasan sekali pun.

Umar berkata, “Kita mendapat kabar bahwa Ali dan
Zubair serta orang-orang yang bersamanya memisahkan diri dari kita dan
ber-kumpul di rumah Fatimah.”[94]

Kemudian Umar datang beserta rombongannya dengan
membawa kayu bakar dan bermaksud membakar rumah Fatimah. Maka Fatimah datang
menemui mereka dan berkata, “Apakah Anda datang dengan maksud hendak
membakar rumah kami, wahai Putra Khattab?”

Umar menjawab, “Ya, atau Anda semua melakukan
sebagaimana yang telah dilakukan oleh umat.”[95]

 

Dalam kitab Ansab al-Asyraf disebutkan,

“Fatimah menemui Umar di pintu dan berkata
kepadanya,

‘Wahai Putra Khattab, apakah Anda akan tetap membakar
rumah sementara aku berada di belakang pintunya?’

Umar menjawab, ‘Ya.'”[96]

 

Para sejarahwan mencatat orang-orang yang datang
menyerbu untuk membakar rumah Fatimah:

1.    Umar bin
Khattab.

2.    Khalid bin
Walid.

3.    Abdurrahman
bin ‘Auf.

4.    Tsabit bin
Qais bin Syammas.

5.    Z  iyad bin Labid.

6.    Muhammad
bin Muslim.

7.    Zaid bin
Tsabit.

8.    Salmah bin
Salamah bin Waghasy.

9.    Salmah bin
Aslam.

10. Usaid bin
Hudhair.

 

Ya’qubi berkata, “Mereka datang berkelompok
menyerang rumah, hingga pedang Ali patah dan mereka masuk ke dalam rumah.”[97]

 

Thabari berkata, “Umar memasuki rumah Ali,
sementara di dalam rumah ada Zubair, Thalhah dan beberapa orang dari kaum
Muhajir. Kemudian Zubair keluar dengan pedang terhunus, namun dia tergelincir
dan pedangnya lepas dari tangannya. Maka mereka pun menangkap dan
membawanya.”[98]

Fatimah melihat apa yang dilakukan Umar terhadap
keduanya – Ali dan Zubair— maka dia berdiri di samping pintu kamar dan berkata,
“Hai Abu Bakar, alangkah cepatnya Anda menyerang keluarga Rasulullah. Demi
Allah, saya tidak akan berbicara dengan Umar sampai saya menemui Allah.”[99]

 

Karena peristiwa ini dan juga karena peristiwa
penahanan warisan yang diterimanya dari Rasulullah saw serta
peristiwa-peristiwa lainnya, Fatimah marah kepada Abu Bakar, dan tidak mau
berbicara dengannya hingga meninggal dunia. Fatimah az-Zahra hidup selama enam
bulan sepeninggal Rasulullah saw. Ketika Fatimah az-Zahra wafat, jenazahnya
dikuburkan oleh suaminya pada malam hari, dan tidak diizinkan Abu Bakar untuk
melihat jenazahnya.[100]

 

Pada sebuah riwayat disebutkan bahwa Fatimah az-Zahra
berkata kepada Abu Bakar, “Demi Allah, saya akan mendoakan keburukan
bagimu pada setiap salat yang saya kerjakan.”[101]

Oleh
karena itu, Abu Bakar berkata pada saat hendak meninggal dunia, “Tidak ada
satu pun yang saya sesali dari dunia ini kecuali tiga hal yang telah saya
lakukan. Saya sangat berharap tidak melakukannya.” (Hingga dia mengatakan),
“Adapun ketiga hal yang telah saya lakukan itu: Saya sangat berharap tidak
membuka paksa rumah Fatimah, meski pun mereka menguncinya untuk melakukan
peperangan.”[102]

 

Di dalam
Tarikh Ya’qubi disebutkan, “Oh, seandainya saya tidak membuka paksa rumah
Fatimah dan memasukkan orang-orang ke dalamnya meski pun mereka menguncinya
untuk melakukan peperangan.”[103]

 

Seorang
penyair Mesir, Hafidz Ibrahim, menulis di dalam syairnya,

“Kepada
Ali, Umar berkata, ‘Rumahmu akan kubakar!

Bila
engkau tidak berbaiat kepada Abu Bakar’

Meski pun
Fatimah putri Musthafa ada di dalam

Abu
Hafshah tidak segan melawan Ali, pahlawan Adnan.”

 

Tidak
hanya sampai di situ, bahkan mereka mengancam akan membunuh Ali. Mereka
menyeret Ali dengan paksa keluar dari rumahnya, dan membawanya ke hadapan Abu
Bakar. Mereka berkata, “Berbaiatlah.” Ali berkata, “Kalau aku
tidak mau, bagaimana?”

Mereka
menjawab, “Kalau demikian, demi Allah, kami akan penggal kepalamu.”
Ali menjawab, “Kalau begitu, kamu akan memenggal kepala hamba Allah dan
saudara Rasulullah?”[104]

Kekhalifahan
yang dimulai dengan pemaksaan dan diakhiri dengan ancaman pembunuhan tidak
dapat menjadi bukti bagi konsep musyawarah.

 

Ketika Abu
Bakar dan Umar menyadari keburukan yang telah dilakukannya, mereka datang untuk
meminta maaf kepada Fatimah. Namun kesempatan telah terlambat.

Fatimah berkata kepada mereka, “Apakah Anda mau
mendengar apabila aku katakan kepada Anda suatu perkataan yang berasal dari
Rasulullah saw, yang Anda kenal dan Anda telah berjuang untuk beliau?”

Mereka berdua menjawab, “Ya.”

Kemudian Fatimah berkata, “Apakah Anda tidak
mendengar Rasulullah saw telah bersabda, ‘Keridaan Fatimah adalah keridaanku,
dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Barangsiapa yang mencintai Fatimah,
Puteriku, maka berarti dia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membuat
Fatimah marah, maka berarti dia telah membuatku marah?”

Mereka berdua menjawab, “Ya, kami telah
mendengarnya dari Rasulullah saw.”

Kemudian Fatimah berkata, “Saya bersaksi kepada
Allah para malaikat-Nya, sesungguhnya Anda berdua telah membuat saya marah dan
Anda berdua telah membuat saya tidak rida. Seandainya kelak saya bertemu dengan
Nabi saw, saya akan adukan Anda berdua kepada beliau.”

Selanjutnya Fatimah berkata kepada Abu Bakar,
“… Demi Allah, saya akan mendoakan keburukan bagimu pada setiap salat
yang saya kerjakan.”[105]

 

Demikianlah,
Abu Bakar tidak berhak atas kekhalifahan kaum Muslimin melalui syura. Karena
musyawarah tersebut tidak sah secara teoritis, dan tidak ada wujudnya dalam
tataran kenyataan. Jika kita tetap mengakui bahwa Abu Bakar telah memperoleh
kekhalifahan kaum Muslimin melalui syura, dan itu merupakan satu-satunya cara
untuk itu, maka yang perlu kita tanyakan ialah, atas hak apa Abu Bakar
mengangkat Umar menjadi khalifah sepeninggalnya?

 

Oleh karena itu, Abu Bakar dan
kekhalifahannya menghadapi dua masalah:

Pertama, musyawarah sebagai jalan
yang Allah SWT tetapkan untuk mengangkat seorang khalifah. Maka di sini berarti
Abu Bakar telah membangkang perintah Allah SWT dengan mengangkat Umar sebagai
khalifah penggantinya, tanpa proses musyawarah.

Kedua, musyawarah bukan
merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT. Maka dengan demikian
kekhalifahan Abu Bakar tidak sah, karena muncul melalui musyawarah yang tidak
diperintahkan oleh Allah SWT.

 

Demikian
juga kekhalifahan Umar dan Usman tidak sah, kecuali kekhalifahan Ali as.
Seluruh umat sepakat untuk membaiat Ali setelah Usman terbunuh, di samping
nas-nas dari Allah dan Rasul-Nya yang menunjukkan kepada kekhalifahan dan
keimamahannya. Jika di sana terdapat musyawarah maka kekhalifahan untuk Ali,
dan begitu juga jika ditetapkan berdasarkan pengangkatan maka kekhalifahan
tetap untuk Ali. Sebagaimana yang diceritakan secara mutawatir oleh
riwayat-riwayat.

 

Untuk
menyempurnakan pembahasan, marilah kita akhiri pembahasan ini dengan dialog
berikut:

Ali bin Maitsam ditanya, “Kenapa Ali duduk
berdiam diri tidak memerangi mereka?”

Ali bin Maitsam menjawab, “Sebagaimana duduk
berdiam dirinya Harun terhadap Samiri, padahal mereka telah menyembah patung
anak sapi. Seperti Harun ketika mengatakan, ‘(Harun berkata), ‘Hai anak ibuku,
sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.’ (QS. al-A’raf: 150) Seperti
Nuh tatkala berkata, ‘Aku ini orang yang dikalahkan, oleh karena itu
menangkanlah (aku).'(QS. al-Qamar: 10) Seperti Luth tatkala mengatakan,
‘Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat
berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).’ (QS. Hud: 80)

Dan seperti Musa dan Harun tatkala mengatakan, ‘Ya
Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.'” (QS.
al-Maidah: 25)]

Makna ini
dapat kita ambil dari perkataan Amirul Mukminin as manakala sampai berita
kepadanya bahwa dia tidak memerangi dua orang yang pertama.

Imam Ali
as berkata,

“Saya mempunyai suri teladan dari enam nabi.
Yang pertama ialah Ibrahim al-Khalil as, tatkala dia mengatakan, ‘Dan aku akan
menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah.’ (QS. Maryam:
48)

Jika Anda mengatakan, ‘Dia menjauhkan diri dari
mereka dengan tanpa ada sesuatu yang tidak disukai’, maka Anda telah kafir.

Jika Anda mengatakan, ‘Dia menjauhkan diri dari mereka
disebabkan dia melihat sesuatu yang tidak disukai’, maka washi dimaafkan.

Yang berikutnya adalah Luth as, tatkala dia
mengatakan, ‘Seandainya aku ada mempunyai kekuatan untuk menolakmu atau aku
dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).’ (QS. Hud: 80)

Jika Anda mengatakan, ‘Sesungguhnya Luth mempunyai
kekuatan untuk menolak mereka’, maka Anda telah kafir. Dan jika Anda
mengatakan, ‘Sesungguhnya dia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak mereka’,
maka washi dimaafkan.

Yang berikutnya adalah Yusuf as tatkala dia
mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan
mereka kepadaku.’ (QS. Yusuf: 33)

Jika Anda mengatakan, ‘Nabi Yusuf meminta penjara
dengan tanpa adanya sesuatu yang tidak disukai yang dibenci oleh Allah SWT’,
maka Anda telah kafir. Dan jika Anda mengatakan, ‘Sesungguhnya dia diajak
kepada sesuatu yang dimurkai Allah’, maka washi dimaafkan.

Yang berikutnya adalah Musa as, tatkala dia
mengatakan, ‘Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu.’ (QS.
asy-Syu’ara: 21)

Jika anda mengatakan, ‘Sesungguhnya Nabi Musa as
lari dengan tanpa ada sesuatu yang ditakutkan’, maka Anda telah kafir. Dan jika
Anda mengatakan, ‘Sesungguhnya dia lari meninggalkan mereka disebabkan mereka
ingin berbuat jahat kepadanya’, maka washi dimaafkan.

Yang berikutnya adalah Harun, tatkala dia berkata
kepada saudaranya, ‘Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku
lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku.’ (QS. Al-A’raf: 150)

Jika Anda mengatakan, ‘Mereka tidak menganggap Harun
as lemah dan tidak hampir membunuhnya’, berarti Anda telah kafir. Dan jika Anda
mengatakan, ‘Mereka telah menganggap Harun as lemah dan hampir membunuhnya, dan
oleh karena itu dia mendiamkan mereka’, maka washi dimaafkan.

Selanjutnya adalah Muhammad saw tatkala dia lari ke
gua dan meninggalkan saya di ranjangnya, dan saya mempersembahkan nyawa saya
kepada Allah.

Jika Anda mengatakan, ‘Muhammad telah lari dengan
tanpa adanya sesuatu yang mengancamnya dari pihak mereka’, maka Anda telah kafir.
Dan jika Anda mengatakan, ‘Mereka telah mengancamnya, dan tidak ada jalan lain
baginya kecuali lari ke gua’, maka washi dimaafkan.”

Lalu orang-orang berkata, “Anda benar, wahai
Amirul Mukminin.”[106]

 

Ketiga:

PARA
SAHABAT DAN AYAT INQILAB

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat
atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikit pun;
dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

(QS. Ali Imran: 144)

 

Sesungguhnya titik berat ayat yang mulia ini berbicara
tentang wafatnya Rasulullah saw dan peristiwa pembelotan yang terjadi
sesudahnya. Titik berat pembicaraan ayat ini terkumpul di dalam tiga ungkapan,
yaitu ungkapan “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul”,
“Apakah jika dia wafat atau dibunuh”, dan “Kamu akan berbalik ke
belakang?” Untuk mendalami ayat ini dan membahasnya secara rinci, mau
tidak mau kita harus melontarkan beberapa pertanyaan yang tajam, untuk menggali
pemikiran dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

Mengapa Allah SWT tidak cukup hanya dengan mengatakan
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul”, melainkan
melanjutkannya secara langsung dengan kata-kata “Apakahjika dia wafat atau
dibunuh”, padahal konteks ayat di atas berdiri tegak dengan ungkapan
pertama?

 

Apa perbedaan antara mati dan terbunuh? Huruf
“aw” athaf (atau) memberikan arti pemisahan antara ma’thuf dengan
ma’thuf ‘alaih, lantas apa perbedaan di antara keduanya? Mengapa pengulangan
ini muncul dari Allah SWT, padahal Dia mengetahui bahwa Rasulullah akan mati?
Siapa orang yang disinggung di dalam firman-Nya “Jika kamu berbalik ke
belakang”! Dari apa mereka berbalik ke belakang? Dan apa hubungannya
antara pembelotan (berbalk ke belakang) dengan wafatnya Rasulullah saw?

 

Konteks ayat ini berbicara tentang sikap istiqamah,
lantas kenapa ayat ini menggunakan kata-kata “Dan Allah akan memberikan
balasan kepada orang-orang yang bersyukur”, dan tidak mengatakan “Dan
Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang istiqamah, orang-orang Muslim,
atau orang-orang Mukmin?”

 

Sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mau
tidak mau kita harus menyebutkan dua mukaddimah berikut:

 

Pertama, tentang sebab-sebab turunnya ayat ini. Para
mufassir menyebutkan bahwa yang menjadi sebab turunnya ayat ini ialah kekalahan
yang diderita oleh kaum Muslimin setelah peperangan Uhud, di mana kaum
musyrikin menyebarkan berita bahwa Rasulullah saw telah terbunuh di dalam
peperangan. Berita ini telah menciptakan kerapuhan, kemunduran dan keraguan
pada sebagian kaum Muslimin. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai teguran
terhadap kaum Muslimin atas yang demikian.

 

Kedua, mana yang pokok di dalam ayat-ayat
Al-Qur’an? Apakah yang pokok ialah bahwa ayat-ayat Al-Qur’an cocok untuk
seluruh jaman, kecuali yang dikecualikan oleh suatu dalil? Atau, apakah justru
sebaliknya?

Maksudnya ialah, jika ayat-ayat Al-Qur’an cocok untuk
seluruh jaman, maka kita dapat mengumumkan makna ayat di atas kepada
jaman-jaman yang lain selain dari jaman yang menjadi sebab-sebab turunnya ayat.
Jika tidak, maka berarti kita terikat dengan sebab-sebab yang melatar belakangi
turunnya ayat di atas, dan penggenaralisiran ayat di atas kepada jaman-jaman
yang lain selain dari jamannya itulah yang memerlukan alasan.

Para ulama Islam, baik dari kalangan Ahlus Sunnah
maupun Syi’ah sepakat bahwa pengambilan pelajaran berdasarkan keumuman lafaz,
bukan berdasarkan kekhususan sebab. Jika yang menjadi pokok ialah tidak
berlakunya ayat-ayat Al-Qur’an pada setiap jaman, niscaya akan batallah
pelaksanaan Al-Qur’an pada jaman-jaman berikut, atau kita akan meninggalkan
sebagian besar ayat Al-Qur’an di dalam kebekuan dan ketidak-sesuaian dengan
jaman. Hal ini jelas tidak sejalan dengan ruh Islam, dan juga tidak sejalan
dengan ajaran-ajarannya serta keumumannya. Ini adalah dalil akal. Dan sebagian
besar ayat Al-Qur’an mendukung dalil ini, dimana ayat-ayat tersebut mendorong
manusia untuk mau bertadabbur dan mengamalkan Al-Qur’an, serta mengecam
perbuatan sebaliknya.

 

Jika kita membenarkan pendapat yang kedua, niscaya
tidak akan ada artinya firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan apabila
dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan
tenang agar kamu mendapat rahmat.” Karena, ayat ini mengisyaratkan kepada
seluruh Al-Qur’an, dan tidak mengkhususkan kepada sebagian dari ayat-ayat
Al-Qur’an, melainkan kita harus berusaha untuk bisa memahami seluruh ayat-ayat
Al-Qur’an, memperhatikannya dan memetik pelajaran darinya. Hal ini sebagaimana
yang Allah perintahkan kepada kita untuk mentadabburinya, “Maka apakah
mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”

Al-Qur’an al-Karim mengecam orang yang mengimani
sebagian Al-Qur’an dan tidak mengimani sebagian lainnya, “(Yaitu)
orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi.

“(Yaitu) orang-orang beriman kepada sebagian
al-Kitab (Al-Qur’an) dan kafir kepada sebagian yang lain.”

 

Allah SWT berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami
telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam
perumpamaan.”

(QS. al-Kahfi: 54)

 

“Dan sesungguhnya
telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil
pelajaran?”

(QS. al-Qamar: 17)

 

“Kitab yang dijelaskan
ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.

(QS. Fushshilat: 3)

 

“Sesungguhnya Kami menjadikan
Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.”

(QS. az-Zukhruf: 3)

 

Ayat-ayat ini mendorong kita untuk berpegang kepada
Al-Qur’an seluruhnya, tidak sebagiannya.

 

Alhasil, jika kita berpegang kepada pendapat yang
kedua, maka tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang menerimanya. Kalau
pun seandainya kita berpegang kepada pendapat yang kedua, sesungguhnya ayat
yang sedang menjadi pembahasan kita mempunyai dalil-dalil yang membuktikan
bahwa dia tidak hanya khusus bagi jaman pada saat dia turun, melainkan dia
terus berlaku sepanjang kehidupan Rasulullah saw, dan bahkan sesudahnya.

 

Adapun
dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:

 

Sesungguhnya berita yang tersebar pada saat
peperangan Uhud ialah berita terbunuhnya Rasulullah saw. Dan ayat ini berbicara
tentang kejadian wafatnya Rasulullah saw, “Apakah jika dia wafat atau
dibunuh… ” Seandainya ayat ini hanya dikhususkan bagi jaman pada saat
dia diturunkan, maka tentu Allah SWT akan berkata, “Apakah jika dia
dibunuh “. Sepertinya, penyebutan kata “wafat” adalah untuk
menunjukkan bahwa perbuatan berbalik ke belakang yang terjadi pada peperangan
Uhud juga akan terjadi pada saat setelah kematian Rasulullah saw.

 

Faedah praktis dari mukaddimah ini dalam pembahasan
kita ialah, kita tidak dibebani kewajiban untuk mengemukakan sebuah dalil yang
mengumumkan ayat inqilab ini kepada kejadian yang bukan merupakan sebab
turunnya ayat ini, jika pendapat pertama yang benar, dan ini adalah pendapat
yang benar —sebagaimana yang Anda saksikan. Adapun berdasarkan pendapat yang
kedua, mau tidak mau harus ada sebuah dalil khusus untuk membuktikan bahwa ayat
ini tidak hanya dikhususkan bagi kejadian tempat dia diturunkan, melainkan
berlaku sepanjang kehidupan Rasulullah saw, dan bahkan jaman sepeninggal beliau.
Seandainya pendapat yang kedua itu yang benar, maka dalil yang menunjukkan
berlakunya ayat ini sepanjang kehidupan Rasulullah saw dan bahkan jaman
sepeninggal beliau, terdapat di dalam ayat itu sendiri.

Di mana, dan bagaimana?

Adapun pertanyaan “di mana”, maka
jawabannya ialah di dalam firman Allah SWT yang berbunyi “Apakah jika dia
wafat atau dibunuh…” Sedangkan pertanyaan “bagaimana”, maka
jawabannya ialah bahwa berita yang tersebar luas di sekitar dan di dalam kota
Madinah pada saat terjadi peperangan Uhud ialah berita terbunuhnya Rasulullah
saw, yang menyebabkan sebagian dari para sahabat murtad dan berbalik ke
belakang. Jika Allah SWT hendak mengkhususkan ayat ini hanya bagi peperangan
Uhud, niscaya Allah SWT akan mengatakan, “Apakah jika dia terbunuh…”
Namun penyebutan kata “wafat” oleh Allah SWT di dalam ayat,
“Apakah jika dia wafat atau terbunuh…”, memberikan pengertian yang
pasti bahwa keadaan yang sama benar-benar akan terulang pada saat Rasulullah
saw meninggal dunia.

 

Insya Allah, akan datang penjelasan lebih rinci
kepada Anda yang menguatkan bahwa ayat ini tidak hanya terbatas kepada
peristiwa perang Uhud, melainkan juga mencakup jaman hingga meninggalnya
Rasulullah saw, dan bahkan jaman sesudahnya.

Ketahuilah, sesungguhnya mati mempunyai dua arti:

Mati dalam arti umum, yaitu peristiwa dicabutnya ruh,

“Di
mana saja kamu berada, kematian akan mendatangi kamu, meski pun kamu berada di
dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. an-Nisa: 78)

“Dan
Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian
menghidupkan kamu (lagi).”

(QS.
al-Hajj: 66)

Juga terdapat mati dalam arti khusus, sebagai lawan
dari terbunuh. Yaitu orang yang mati disebabkan telah rusaknya bangunan
kehidupannya. Dan ayat mana saja yang menyebutkan kedua kata tersebut secara
bersamaan, yaitu kata mati dan terbunuh, maka yang dimaksud dengan mati adalah
mati dalam arti khusus. Pengertian ini lebih bertambah kuat lagi manakala
digunakan kata aw (atau), yang memberikan arti pemisahan di antara ma’thuf dan ma’thuf
‘alaih.

Contohnya ialah firman Allah SWT yang berbunyi,

“Dan sungguh kalau
kamu terbunuh di jalan Allah atau meninggal dunia, tentulah ampunan Allah dan
rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.”

(QS. Ali Imran: 157)

 

“Dan sungguh jika kamu
meninggal dunia atau terbunuh, tentulah kepada Allah saja kamu
dikumpulkan.”

(QS. Ali Imran: 158)

 

“Kalau mereka tetap
bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.”

(QS. Ali Imran: 156)

 

Karena, jika kata “mati” di dalam ayat-ayat
ini bermakna umum maka tentu tidak diperbolehkan menggunakan kata
“terbunuh”, karena sudah tercakup di dalamnya. Dan jika hal itu
dilakukan, maka ini berarti bertentangan dengan kefasihan bahasa. Dari sini
kita dapat membuktikan bahwa yang dimaksud dengan mati di dalam ayat Inqilab
ialah mati dalam arti khusus, yang merupakan lawan dari kata terbunuh.

 

Kenapa Allah SWT menekankan kepada sifat kerasulan
pada diri Rasul-Nya, dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang rasul,
sebagaimana telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Untuk tujuan itu
sebenarnya Allah SWT cukup dengan hanya mengatakan, “Muhammad itu tidak
lain hanyalah seorang rasul”, namun kenapa Allah SWT melanjutkannya secara
langsung dengan mengatakan, “Apabila dia wafat atau dia dibunuh”?

 

Yang terbayang pertama kali di dalam menjawab
pertanyaan ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian para mufassir,
yaitu bahwa Allah SWT hendak menarik perhatian kaum Muslimin kepada sebuah
hakikat, bahwasannya Nabi Muhammad saw itu tidak kekal. Dia itu akan mati dan
berlalu. Keadaannya persis sebagaimana rasul-rasul yang lain yang telah mati
dan berlalu. Makna ini adalah makna yang tampak, namun bukan satu-satunya
makna. Karena kalau sekiranya maksud Allah SWT hanya sebatas hendak menetapkan
sifat kematian bagi Rasulullah saw, maka tentunya Allah SWT akan me-ngatakan,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang manusia, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang manusia.” Untuk menekankan kepada kefanaan dan
ketidak-langgengan yang sudah merupakan tabiat manusia.

 

Juga terdapat beberapa arti yang lebih luas dan lebih
dalam dari arti ini, yang menuntut dikemukakannya dan ditekankannya sifat
kerasulan. Yaitu,

Pertama, sebagaimana keberadaan agama tidak
digantungkan kepada kehidupan rasul-rasul yang lalu, maka demikian juga
keberadaan agama ini tidak digantungkan kepada kehidupan Rasulullah saw.

Sebagaimana para nabi terdahulu meninggal dunia dan
agama tetap berlangsung sepeninggal mereka, maka demikian pula manakala
Rasulullah saw meninggal dunia atau terbunuh, agama akan tetap berlangsung
sepeninggalnya.

 

Kedua, ini merupakan arti yang paling dalam dan
paling mencakup, yaitu penekanan terhadap hakikat kesesuaiaan sunah-sunah di
antara umat sepeninggal rasul-rasulnya. Maka apa yang telah terjadi atas
umat-umat tersebut, akan terjadi pula atas umat ini. Al-Qur’an, sunah
Rasulullah saw dan kenyataan menguatkan hakikat ini. Adapun Al-Qur’an al-Karim
mengatakan,

“Rasul-rasul
itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara
mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah
meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam
beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan ruhul qudus. Dan kalau Allah
menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang)
sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam
keterangan, akn tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang
beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah
menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa
yang dikehendaki-Nya.”

(QS.
al-Baqarah: 253)

 

Dhamir (kata ganti) hum kembali kepada kata ar-rusul
(rasul-rasul). Jika yang dikehendaki oleh Allah SWT hanyalah Isa as maka tentu
Allah SWT akan menggunakan ungkapan “min ba’dih” (sesudahnya). Juga
tidak bisa dikatakan bahwa yang dikehendaki oleh Allah dengan dhamir
“hum” (mereka) adalah Isa as, sebagai penghormatan. Karena kedudukan
dhamir “hum” pada kata “min ba’dihim” (sesudah mereka)
dengan maksud sebagai pengagungan, itu bertentangan dengan kefasihan. Adapun
berkenaan dengan orang yang mengatakan bahwa dhamir “hum” hanya
merupakan makna majazi (kiasan), maka kita katakan, sesungguhnya jika terjadi
keraguan apakah suatu lafaz itu digunakan dalam arti majazi (kiasan) atau
hakiki (arti sebenarnya) maka kita berpegang kepada arti hakiki. Pada
penggunaan dhamir hum dalam arti hakiki maka dhamir hum kembali kepada
“rasul-rasul itu”, yang salah satu di antaranya adalah Rasulullah
saw, berdasarkan petunjuk ayat sebelumnya yang berbunyi, “Itu adalah
ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan benar, dan sesungguhnya kamu
benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” Kemu-dian
Allah SWT melanjutkan, “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka
atas sebagian yang lain.”

 

Kemudian, sesungguhnya perihal kesesuaian sunah-sunah
juga ditunjukan oleh banyak riwayat yang masyhur dan sahih, yang disepakati
oleh kaum Muslimin. Seperti sabda Rasulullah saw yang berbunyi,

“Niscaya kamu akan mengikuti sunah-sunah orang
sebelummu. Bulu anak panah dengan bulu anak panah, dan sandal dengan sandal.
Bahkan jika mereka memasuki lubang biawak, niscaya kamu pun akan
memasukinya.”

 

Dalam sebuah hadis yang lain Rasulullah saw bersabda,

“Janganlah sepeninggalku engkau kembali menjadi
orang-orang kafir, yang sebagianmu memenggal sebagian leher yang lain.”

 

Rasulullah saw juga telah bersabda,

“Orang-orang Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh
puluh satu golongan, sementara orang-orang Kristen telah berpecah belah menjadi
tujuh puluh dua golongan, dan umatku akn berpecah belah menjadi tujuh puluh
tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan darinya berada di dalam neraka, dan
hanya satu golongan yang selamat.”

 

Bahkan, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang
menunjukkan kepada fenomena ini. Seperti firman Allah SWT yang berbunyi,

 

“Mereka
tidak menunggu-nunggu kecuali kejadian-kejadian yang sama dengan
kejadian-kejadian yang menimpa orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka.”

(QS.
Yunus: 102)

 

“Manusia
itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus
para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, danAllah
menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara
manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang
Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan Kitab kepada mereka, yaitu
setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki di
antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman
kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan
kehendak-Nya.”

(QS.
al-Baqarah: 213)

 

“Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’,
sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. al-Ankabut: 2)

 

Sesunggunya dalil terbesar yang menunjukkan kepada
kesesuaian di antara sunah-sunah umat terdahulu dan umat kemudian ialah
kenyataan yang terjadi pada para sahabat sepeninggal Rasulullah saw, yaitu di
mana sebagian mereka mengkafirkan sebagian mereka yang lain, dan masing-masing
dari mereka memfasikkan yang lainnya, hingga berakhir dengan terjadinya
peperangan yang dahsyat di antara mereka, yang menelan korban lebih dari
seratus ribu kaum Muslimin. Inilah ekstensi dari ayat yang berbunyi, “Dan
kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang yang
datang sesudah rasul-rasul itu.”
(QS. al-Baqarah: 253)

 

Setelah ini, tidak bisa seseorang mengatakan,
bagaimana mungkin para sahabat berbalik ke belakang padahal merekalah yang
telah mengorbankan harta dan diri mereka, dan telah memerangi keluarga mereka
serta telah berdiri tegar di sisi Rasulullah saw dalam keadaan susah dan lapar,
serta mereka telah melihat ayat-ayat dan mukjizat-mukjizatnya!! Karena di
samping alasan-alasan yang telah disebutkan di atas, keragu-raguan ini dapat
dijawab dengan hal-hal berikut,

 

a. Sesungguhnya kata ganti orang kedua di dalam
ungkapan “inqalabtum” (kamu berbalik ke belakang) ditujukan kepada
mereka para sahabat. Karena tidak logis jika yang dimaksud adalah orang-orang
kafir atau orang-orang munafik, karena mereka adalah orang-orang yang
menyimpang atau berbalik ke belakang sejak awal.

b. Ilmu tidak menjamin pemiliknya untuk lurus. Betapa
banyak manusia yang mengetahui bahwa kebenaran berada di suatu tepian, namun
disebabkan hawa nafsunya dia justru cenderung kepada tepian yang lain. Bahkan,
kebanyakan pembangkangan terjadi setelah datangnya pengetahuan tentang
kebenaran. Allah SWT berfirman,

“Dan
tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka.”

(QS. Ali
Imran: 19)

 

“Dan
tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang-orang yang telah
didatangkan Kitab kepada mereka, yaitu setelah datang kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki di antara mereka sendiri.”

(QS.
al-Baqarah: 213)

 

Segala
sesuatunya terang dan jelas, namun mereka berselisih dan saling
berbunuh-bunuhan, “Dan kalaulah Allah menghendaki, niscaya tidaklah
berbunuh-bunuhan orang-orang yang datang sesudah rasul-rasul itu, sesudah
datang kepada mereka beberapa macam keterangan.”

(QS.
al-Baqarah: 253)

 

“Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya,
dan kemudian Allah membiarkannya sesat atas ilmunya. ”

(QS.
al-Jatsiyah: 23)

 

c.  Sesungguhnya pengorbanan-pengorbanan yang
lalu dan kesabaran atas berbagai musibah, tidak menjamin manusia untuk tidak
jatuh ke dalam penyimpangan di masa yang akan datang. Pengorbanan dan kesabaran
yang mereka (para sahabat) tunjukkan tidak lebih besar dari pengorbanan dan
kesabaran yang ditunjukkan oleh Bani Israil manakala Fir’aun memotong kaki dan
tangan mereka, menyalib mereka,  membiarkan hidup perempuan-perempuan
mereka dan anak-anak perempuan mereka, dan membunuh kaum laki-laki dari mereka,
namun mereka tetap sabar berpegang kepada seruan Nabi Musa as, dan mereka
melihat dengan jelas mukjizat-mukjizat besar yang ditunjukkan oleh Nabi Musa
as, yang mana yang terbesar darinya ialah membelah lautan menjadi dua bagian,
sehingga tidak ubahnya menjadi dua buah gunung yang besar. Namun, tatkala Nabi
Musa as meninggalkan mereka beberapa hari, mereka kembali menyembah patung anak
sapi. Sehingga sepertinya sudah menjadi watak manusia melakukan pelanggaran
manakala dia merasa cukup dan aman, “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia
benar-benar melampaui batas.”
(QS. al-‘Alaq: 6)

 

d. Betapa pun seorang manusia telah tinggi di dalam
derajat keimanan, dia tetap tidak dimaksum oleh Allah SWT, sehingga bisa saja
dia berbalik ke belakang dan kembali kafir. Tidak ada contoh yang lebih besar
dari Bal’am bin Ba’ura,

 

“Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya
ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri
dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah
dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesunggunya
Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada
dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya
dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu
agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. Barang
siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang
merugi.”

(QS.
al-A’raf: 175-178)

 

Apakah ada
salah seorang dari sahabat telah mencapai tingkat keimanan yang seperti ini,
hingga mencapai tingkat membawa Ism al-A’zham? Sungguh telah menyimpang orang
yang telah mencapai derajat ini, apalagi orang yang ada di bawahnya?

 

Timbul
pertanyaan di sini, “Pembelotan (perbuatan berbalik ke belakang) itu
terjadi atas apa?”

Bahkan,
merupakan tugas kita untuk menanyakan, atas apa pembelotan itu biasanya
terjadi?

 

Di dalam
ayat Inqilab terdapat unsur-unsur dasar yang dapat menghantarkan kita kepada
jawaban pertanyaan ini, dengan melakukan analisa dan penarikan kesimpulan
darinya:

a.    Ayat Inqilab mempunyai hubungan yang langsung
dengan wafatnya Rasulullah saw, “Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu
berbalik ke belakang?”

 

b.    Pembelotan menunjukkan adanya satu dasar yang
menjadi tempat terjadinya pembelotan. Yaitu suatu dasar yang dikenal di
kalangan seluruh orang yang membelot. Karena jika orang-orang yang membelot itu
tidak mengetahui dasar ini, maka tentu tidak dikatakan kepada mereka,
“Kamu berbalik ke belakang.” Bahkan, sesuatu yang menjadi tempat
terjadinya pembelotan adalah sesuatu yang dipegang teguh oleh para pembelot
untuk beberapa waktu hingga terjadinya pembelotan.

 

c.     Sesungguhnya perkara ini mempunyai hubungan
yang langsung dengan Allah dan Rasul-Nya saw, dan dari mereka berdualah mereka
 membelot.

 

d.    Sesungguhnya bahaya pembelotan ini akan
mengenai orang-orang yang membelot, baik di dunia maupun di akhirat, “Dan
Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. ” Allah SWT
berfirman sebelumnya, “Maka dia tidak dapat mendatangkan madharat sedikit
pun kepada Allah. ” Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman,
“Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur bagi dirinya
sendiri. “

Allah SWT menjelaskan bahwa
manfaat syukur kembali kepada hamba itu sendiri, dan demikian juga perbuatan
tidak bersyukur madharatnya akan kembali kepada si hamba sendiri.

 

e.    Sesungguhnya pembelotan ini mempunyai kaitan
dengan sunah- sunah orang-orang terdahulu. Apa yang orang-orang terdahulu telah
membelot darinya maka orang-orang terkemudian pun akan membelot darinya.

 

f.      Allah SWT tidak mengatakan, Dia akan memberi
balasan kepada orang-orang Mukmin dan orang-orang Muslim, melainkan Allah SWT
mengatakan, “Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.” Ini memberikan pengertian bahwa orang yang tidak membelot atau
berbalik ke belakang sedikit jumlahnya, “Dan hanya sedikit dari
hamba-hamba Kami yang bersyukur. ” Ini dikuatkan dengan perkataan-Nya,
“Kamu berbalik ke belakang”, yang memberikan pengertian umum dan
banyak. Kalau sekiranya orang-orang yang membelot itu sedkit jumlahnya, maka
tentu Allah SWT akan mengatakan, “Sebagian kamu berbalik ke
belakang”, dan tentunya tidak benar mengecam mayoritas.

 

g.    Pembelotan ini benar-benar terjadi. Ini
didasarkan petunjuk “jawab syarat” yang memberikan pengertian
terlaksana manakala terlaksananya “syarat”, dan penggunaan bentuk
fi’il madhi (kata kerja lampau) yang memberikan pengertian terlaksananya
sesuatu.

 

h.     Sesungguhnya ucapan Allah SWT ini khusus
ditujukan kepada kaum Muslimin, dan tidak ditujukan kepada orang-orang kafir,
karena mereka adalah orang-orang yang menyimpang sejak awal. Demikian juga ayat
ini tidak ditujukan kepada orang-orang munafik saja, karena hal ini
bertentangan dengan zahir ayat. Kalaulah yang dimaksud dalam ucapan Allah SWT
ini hanyalah orang-orang munafik saja, maka tentu Allah SWT akan mengatakan,
“Kamu menampakkan pembelotanmu”, padahal pembelotan (perbuatan
berbalik ke belakang) itu terjadi pada saat Rasulullah saw meninggal dunia.

 

Untuk
mengetahui esensi pembelotan ini, maka kita harus memperhatikan seluruh unsur dasar
ini pada saat melakukan analisa dan menarik kesimpulan, dan hendaknya
kesimpulan yang ditarik harus sesuai dengan unsur-unsur dasar ini. Karena jika
tidak, maka berarti bukan kesimpulan yang benar.

 

Rasulullah
saw adalah seorang pemimpin kaum Muslimin, dan setelah beliau wafat terjadi
pembelotan… Lantas kita bertanya, setelah wafatnya seorang pemimpin, atas apa
biasanya terjadi pembelotan?!

 

Pada sisi
apa Rasulullah saw berperan sebagai katup pengaman bagi umat dari perselisihan,
yang jika sekiranya Rasulullah saw tidak ada akan terjadi perselisihan dan
pertentangan. Apakah Al-Qur’an al-Karim menjelaskan hal ini? Al-Qur’an al-Karim
tidak menjelaskan secara jelas perkara yang amat besar ini, yang tidak diterima
oleh sebagian besar manusia, dan yang Rasulullah saw sendiri merasa takut
menyampaikannya kepada umat, namun Allah SWT memerintahkan,

 

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang telah
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka
berarti katnu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga kamu dari (ganguan)
manusia.”

(QS. al-Maidah: 67)

 

Dengan memperhatikan secara
sekilas ayat di atas kita dapat menyingkap beberapa poin berikut:

 

1.    Sesungghnya perkara yang wajib disampaikan
ini, bobotnya menyamai bobot menyampaikan seluruh risalah. Sehingga jika
Rasulullah saw tidak menyampaikannya maka dia sama dengan tidak menyampaikan
risalah. Sebaliknya, pengingkaran terhadapnya sama dengan pengingkaran terhadap
risalah, dan sikap berbalik ke belakang darinya sama dengan sikap berbalik ke
belakang dari risalah.

 

2.    Sesungguhnya perkara ini adalah perkara yang
banyak mendapat penentangan dari manusia. Bahkan, Rasulullah saw
mengkhawatirkan dirinya dari manusia untuk menyampaikan perkara ini. Oleh
karena itu, Allah SWT meyakinkannya, “Dan Allah menjaga kamu dari
(gangguan) manusia.”

 

3.    Perkara ini merupakan penyempurna risalah.
Karena jika Rasulullah saw menyampaikan perkara ini maka berarti Rasulullah saw
telah menyampaikan risalah dan menyempurnakannya,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk
katnu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai
Islam itu sebagai agamamu. ”

(QS. al-Maidah: 3)

Ini sejalan dengan ayat
Inqilab yang mengatakan bahwa sikap berbalik ke belakang dari perkara ini
adalah berarti sikap berbalik ke belakang dari agama ini seluruhnya.

 

4.    “Allah menjaga kamu dari (gangguan)
manusia.” Ini memberikan arti bahwa sebagian besar manusia tidak menyukai
perkara yang Rasulullah saw diperintahkan untuk menyampaikannya? Perkara apakah
ini yang Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikannya?

 

Pertama-tama, sesungguhnya
perkara ini mempunyai kaitan dengan sikap berbalik ke belakang. Dan ini
didasarkan kepada beberapa hal:

1.    Karena perkara ini berkaitan dengan risalah,
dan berbalik ke belakang darinya adalah berarti berbalik ke belakang dari
risalah.

 

2.    Di dalam perkara ini terdapat sikap berbalik
ke belakang, disebabkan ketidak-relaan kelompok mayoritas terhadap perkara ini.

 

3.    Rasulullah saw harus menyampaikan perkara ini
disebabkan ajalnya sudah dekat, “Sudah hampir masanya aku dipanggil oleh
Allah dan aku mesti menjawab panggilan-Nya”, sehingga tidak meninggalkan
alasan bagi mereka untuk bisa berbalik ke belakang, dan sekaligus menegakkan
hujjah yang sempurna atas mereka. Karena perbuatan berbalik ke belakang
mempunyai kaitan dengan wafatnya Rasulullah saw.

4.
Sesungguhnya perkara yang Allah SWT inginkan Rasulullah saw menyampaikannya
ialah satu perkara yang sangat dimungkinkan manusia berpaling darinya. Karena,
Rasulullah saw telah menyampaikan seluruh risalah, dengan segenap cabangnya,
namun tidak tampak tanda-tanda ketidak-relaan dari kaum Muslimin terhadap
seluruh yang telah disampaikan Rasulullah saw, kecuali perkara ini. Rasulullah
saw sendiri merasa khawatir untuk menyampaikannya, maka Allah SWT pun
memberikan jaminan kepada Rasulullah saw untuk menjaga dan melindunginya dari
gangguan manusia.

 

5.    Rasulullah saw berperan sebagai katup
pengaman dalam masalah ini. Jika Rasulullah saw meninggal dunia, maka lumpuhlah
keamanan, dan manusia akan melakukan yang sebaliknya.

 

6.    Tidak ada sesuatu yang menjadi objek dari
sikap berbalik ke belakang selain dari kekhalifahan yang ditetapkan dari sisi
Allah SWT.

 

Kekhalifahan
siapa yang Rasulullah saw sampaikan?

Hadis-hadis mutawatir, dan
begitu juga beratus-ratus kitab referensi kaum Muslimin menceritakan peristiwa
al-Ghadir dan pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah kaum Muslimin, sebagaimana
yang telah disebutkan.

Dari sini, dan dari
beribu-ribu hadis lainnya tampak jelas bahwa Rasulullah saw telah menetapkan
Ali sebagai khalifah dan Imam atas seluruh makhluk, namun hal ini tidak
mendapat kerelaan dari kaum Muslimin. Manakala Rasulullah meninggalkan dunia
yang fana ini, dengan segera mereka pun berbalik ke belakang darinya dan merampas
apa yang menjadi haknya. Dan hanya sedikit sekali dari mereka yang tetap
berpegang teguh. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Allah SWT pada bagian
akhir ayat Inqilab, “… dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang
yang bersyukur.”

 

Dari ayat ini tampak jelas:

Pertama, mereka itu sedikit jumlahnya. Dengan alasan,

a.   Kata “ingalabtum ” (kamu berbalik ke
belakang), memberikan arti umum dan mayoritas.

b.   Firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan
hanya sedikit dari hamba-hambaku yang bersyukur.”

 

Kedua, syukur di sini sebagai lawan dari kufur,
yaitu berbalik ke belakang, “Maka di antara mereka ada yang beriman dan di
antara mereka ada yang kafir”, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya
jalan yang lurus: ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” Jalan ini
sudah dikenal, berdasarkan beberapa petunjuk berikut,

a.
Petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus, “Sesungguhnya Kami telah
menunjukinya jalan yang lurus.”

b.   Perbuatan berbalik ke belakang dari jalan yang
lurus. Karena ayat di atas mengatakan, “Dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang bersyukur.” Yaitu mereka yang mengikuti jalan yang
luras ini. Sehingga selain dari mereka adalah orang- orang kafir, karena mereka
berbalik ke belakang dari jalan yang lurus.

c.   Alif lam ta’rif.

Jalan ini
merupakan tempat ujian dan kenikmatan pada waktu yang bersamaan. Yaitu ujian
yang dengannya manusia diuji, dan kenikmatan bagi orang yang melaluinya.
Biasanya, perbuatan berbalik ke belakang yang menyamai kekufuran adalah
perbuatan berbalik ke belakang dari kenikmatan. Manakala kepemimpinan Ali
merupakan sebuah kenikmatan, “Dan telah Aku cukupkan kepadamu
nikmat-Ku”, maka perbuatan berbalik ke belakang terjadi atasnya, dan hanya
sedikit saja yang menerima kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana yang dikuatkan
oleh hadis Rasulullah saw yang bersabda,

“Ketika
aku sedang berdiri tiba-tiba datang sekelompok orang yang aku kenal. Lalu
keluarlah seorang di antara kami dan berkata, ‘Mari.’ Aku bertanya, ‘Ke mana?’
Dia menjawab, ‘Ke neraka, demi Allah.’ Aku bertanya, ‘Apa kesalahan mereka?’
Dia men-jawab, ‘Mereka telah murtad sepeninggalmu dan telah berbalik dari
kebenaran.’ Dan aku tidak melihat yang tersisa kecuali sedikit sekali, seperti
sekelompok unta yang tersisih.”

 

Hadis ini
menguatkan apa yang dikatakan di dalam ayat inqilab, yaitu hanya sedikit orang
yang bersyukur terhadap kenikmatan. Rasulullah saw mengatakan, “Aku tidak
melihat yang tersisa kecuali sedikit sekali, seperti sekelompok unta yang
tersisih.” Sebagaimana kelompok unta yang terpisah dari rombongannya
sedikit sekali jumlahnya, maka demikian pula para sahabat yang selamat sedikit
sekali jumlahnya.

 

Dalam
hadis yang lain Rasulullah bersabda,

“Aku
akan mendahului kamu di telaga. Siapa yang berlalu dariku dia akan minum, dan
siapa yang telah minum dia tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak ada
sekelompok orang yang aku kenal dan mereka juga mengenalku, datang kepadaku.
Kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan berkata, ‘Sahabatku, sahabatku.’
Lalu dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu.’
Dan aku pun berkata, ‘Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah
sepeninggalku.'”

 

Rasulullah
saw pernah berkata kepada Abu Bakar, manakala Rasulullah meyaksikan para
syuhada ahli surga. Rasulullah saw berkata,

“Adapun
berkenaan dengan mereka, aku memberikan kesaksian bagi mereka.” Lalu Abu
Bakar berkata, “Dan juga bagi kami, hai Rasulullah?” Rasulullah saw
menjawab, “Adapun mengenaimu, aku tidak mengetahui apa yang akan kamu
lakukan sepeninggalku. •

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

Tiga Kelompok Penyeleweng Kebenaran

 

 

Pertama:

PARA
SEJARAHWAN

 

Peranan
Sejarah Di Dalam Membangkitkan Umat

Sesungguhnya umat yang maju adalah umat yang
mengambil pelajaran dari sejarah, dan menghadirkan pengalaman-pengalaman
sejarah di hadapannya, setelah sebelumnya menyadari hukum-hukum sejarah yang
akan menuntun umat menuju peradaban. Di samping juga mengetahui sebab-sebab
kehancuran dan kemunduran umat-umat terdahulu. Allah SWT tidak mengkhususkan
satu hukum untuk sebuah kaum dan tidak bagi kaum yang lain, melainkan Allah
menjadikannya sebagai satu sunah yang tidak berubah. Allah SWT berfirman,
“Maka sekali-kali kamu tidakakan mendapat penggantian bagi sunah Allah,
dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.

 

Kehidupan berdiri di atas satu hakikat, yaitu
pertarungan yang terus-menerus di antara yang hak dengan yang batil. Seluruh
peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia tidak keluar dari konteks
pertarungan ini. Dengan hati nurani kita dapat menyelami sejarah dan
menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang. Kita
dapat menyelami lebih dalam tentang terjadinya berbagai perpecahan mazhab di
dalam sejarah umat Islam. Untuk mengkaji ini mau tidak mau kita harus
mengesampingkan berbagai emosi dan kecenderungan pribadi, dan mendasarkan diri
kepada kaidah-kaidah Al-Qur’an. Sehingga kita mampu melakukan analisa yang
objektif, dan mampu melihat berbagai peristiwa bukan hanya sebatas permukaannya
saja melainkan sampai ke substansinya. Dengan begitu kita akan bisa sampai
kepada penglihatan yang jelas dan objektif, dan bukan penglihatan yang salah
dan rancu.

 

Untuk itu, marilah kita mulai sebagaimana seolah-olah
Al-Qur’an al-Karim baru diturunkan kepada kita. Kita membaca di dalam
Al-Qur’an,

 

“Dan
apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan
bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka?
Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi
(tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan.
Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti
yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan
tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.”

(QS.
ar-Rum: 9)

 

Sebaliknya, umat yang beku tidak mampu memahami
sejarah beserta hukum-hukum dan pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu,
mereka kehilangan kemampuan penglihatan yang menjadikan mereka mampu menguasai
peristiwa-peristiwa sekarang dan berjalan menyongsong masa depan.

 

Kekuasaan
Dan Penyelewengan Sejarah

 

Jika demikian, maka setiap penolakan untuk melakukan
pengkajian sejarah, dengan alasan akan membangkitkan fitnah-fitnah yang telah
lalu, atau alasan-alasan lainnya, tidaklah pada tempatnya. Penolakan itu tidak
lain hanya menunjukkan kebodohan orang yang ber-sangkutan. Pada hakikatnya,
seandainya pun di sana terdapat fitnah, maka fitnah itu disebabkan pemalsuan
dan penyelewengan yang dilakukan terhadap sejarah. Karena sejarah sebagai
sebuah sejarah, dia tidak lebih hanya merupakan sebuah cermin yang memantulkan
peristiwa-peristiwa yang telah lalu bagi orang-orang yang sekarang, dengan
tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan. Namun, manakala sejarah jatuh ke tangan
para politikus kotor maka dia akan berubah bentuknya dan akan rusak wajahnya.
Dari sinilah kemudian timbulnya berbagai pandangan dan mazhab. Karena, jika
sejarah lurus-lurus saja dan tidak ada rekayasa maka tentu akan tersingkap
kepalsuan berbagai mazahab yang ada dan akan diketahui kebatilannya.

 

Apa yang diderita oleh kaum Muslimin sekarang, berupa
terkotak-kotaknya mereka ke dalam beberapa mazhab dan kelompok, itu tidak lain
merupakan buah dari berbagai penyelewengan yang terjadi di dalam sejarah Islam,
yaitu berupa pemalsuan dan penyembunyian kebenaran yang dilakukan oleh para
sejarahwan. Mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari para perencana
yang hendak mendiskredirkan mazhab Ahlul Bait untuk kepentingan politik. Para
perencana ini telah bermain di semua tingkatan, untuk membentuk arus lain yang mempunyai
tampilan Islam, sebagai lawan dari Islam yang sesungguhnya. Oleh karena sejarah
menceritakan seluruh apa yang dilihatnya, maka para perencana ini mau tidak mau
harus membungkam dan membutakannya, sehingga tidak dapat menyingkap tipu daya
yang dilakukannya. Oleh karena itu, mereka menempatkan sejarah di dalam
gengaman tangan penguasa, supaya sejarah itu ber-gerak ke arah mana saja
penguasa bergerak.

 

Maka para sejarahwan pun berada di bawah ancaman dan
bujukan para penguasa. Bulu-bulu tangan mereka bergetar karena harus memalsukan
kebenaran. Kebijakan politik yang diikuti para penguasa Bani Umayyah, dan
kemudian dilanjutkan oleh para penguasa Bani Abbas, sejak awal adalah bertujuan
untuk mencemarkan wajah Ahlul Bait as. Semata-mata menyatakan kecintaan kepada
Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Baitnya, cukup menjadi alasan seseorang untuk
dihancurkan rumahnya dan diputus bagiannnya dari baitul mal. Bahkan Mu’awiyah
senantiasa mengintai Syi’ah Ali dengan mengatakan, “Bunuh mereka, meski
mereka hanya baru disangka syi’ahnya Ali.” Sehingga menyebutkan
keutaman-keutamaan m Ahlul Bait as merupakan sebuah kejahatan yang tidak dapat
diampuni. Untuk mengetahui tragedi-tragedi yang menimpa para Imam Ahlul Bait
dan para syi’ah mereka, silahkan Anda merujuk kepada kitab Magatil
ath-Thalibiyin, karya Abul Faraj al-Isfahani.

 

Apalagi dengan para sejarahwan. Tidak mudah bagi
mereka pada kondisi yang keras ini menuliskan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait
dan menyebutkan sejarah kehidupan mereka yang cemerlang.

Demikianlah, generasi demi generasi mewariskan
kebenaran yang telah diselewengkan.

Bahkan, keadaan berkembang lebih jauh dari itu
manakala para ulama terkemudian (muta’akhkhir) membenarkan para pendahulunya,
dan menukil segala sesuatu dari mereka dengan tanpa melakukan pengkajian dan
perenungan. Maka rasa permusuhan kepada Ahlul Bait dan Syi’ah mereka pun
menjadi berakar, dan demikian juga kebodohan terhadap pihak lain. Tidaklah aneh
mana-kala Ibnu Katsir menceritakan Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as di dalam
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun seratus empat puluh delapan Hijrah,
dia tidak lebih hanya mengatakan, “Pada tahun itu Ja’far bin Muhammad
ash-Shadiq wafat.” Dia hanya menyebutkan tahun wafatnya, namun tidak
sedikit pun menyebutkan sesuatu dari kehidupannya. Banyak sekali bukti-bukti
penyeleweangan yang dilakukan oleh para sejarahwan. Kita cukupkan dengan hanya
menyebut beberapa contoh darinya.

 

Bagaimana
Para Sejarahwan Mencatat Sejarah Syi’ah?

 

Thabari —sejarahwan pertama di dalam Islam— dan para
sejarahwan terkemudian yang menukil darinya mengatakan bahwa pendiri Syi’ah
ialah seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba, yang berasal dari kota
Shan’a. Saya ingat, orang yang pertama saya dengar menyebut nama ini adalah
salah seorang saudara saya yang berfaham Wahabi. Dia mengatakan, Syi’ah itu
Yahudi. Syi’ah berasal dari Abdullah bin Saba, seorang Yahudi. Setelah saya
kaji masalah ini, saya temukan dia menukil dari Ihsan Ilahi Zahir. Saya menulis
perkataan ini dalam keadaan tangan saya memegang buku Ihsan Ilahi Zahir,
asy-Syi’ah wa as-Sunnah. Ihsan Ilahi Zahir menukil cerita-cerita dusta ini dari
Thabari dan sejarahwan-sejarahwan lainnya.

Di sini, saya akan menukilkan apa yang telah dinukil
oleh Ihsan Ilahi Zahir dari Thabari,

 

“Sejarahwan
paling terdahulu, Thabari menyebutkan, ‘Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi
yang berasal dari Shan’a. Ibunya bernama Sauda, dan dia masuk Islam pada zaman
Usman. Kemudian dia berpindah-pindah dari satu negeri kaum Muslimin ke negeri
kaum Muslimin lainnya, di dalam rangka usaha menyesatkan mereka.

Pertama-tama
dia pergi ke Hijaz, kemudian ke Basrah, Ke Kufah dan ke Syam, namun dia tidak
mampu melaksanakan apa yang diinginkannya terhadap satu orang penduduk Syam
pun. Kemudian orang-orang mengusirnya dari Syam, hingga akhirnya dia datang ke
Mesir.

Dia
mengunjungi mereka dan berkata, ‘Sungguh mengherankan orang yang meyakini bahwa
Isa akan kembali namun mendustakan bahwa Muhammad akan kembali. Padahal Allah
SWT telah berfirman, ‘Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan
hukum-hukum) Al-Qur’an akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.’ Oleh karena
itu, Muhammad lebih berhak kembali dibandingkan Isa.’ Thabari melanjutkan
perkataannya, ‘Maka diterimalah yang demikian itu darinya, dan ditetapkanlah
keyakinan raj’ah bagi mereka, dan mereka pun membicarakan tentangnya. Kemudian
Abdullah bin Saba berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya terdapat seribu nabi,
dan tiap-tiap nabi mempunyai seorang washi, dan Ali adalah washinya Muhammad.’
Lalu Abdullah bin Saba mengatakan bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan
Ali penutup para washi. Selanjutnya Abdullah bin Saba mengatakan bahwa
sezalim-zalimnya manusia adalah orang yang tidak memenuhi wasiat Rasulullah
saw, menyerang washi Rasulullah, dan menguasai urusan umat.

Kemudian Abdullah
bin Saba berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Usman telah merebut urusan ini
dengan tanpa kebenaran, padahal ini adalah washinya Rasulullah saw, maka oleh
karena itu bangkitlah kamu di dalam urusan ini, dan mulailah dengan
mencaci-maki para pemimpin kamu, serta tampakkanlah amar ma’ruf dan nahi munkar
supaya kamu dapat menarik simpati orang, dan serulah mereka kepada urasan
ini.'”

 

Dengan cerita ini, mereka menisbahkan
keyakinan-keyakinan Syi’ah dan sejarah mereka kepada Abdullah bin Saba, dan
meletakan penghalang psikologis di antara para pengkaji dan kebenaran. Sehingga
mereka berjalan berdasarkan model yang telah diletakan oleh para sejarahwan,
yaitu dengan tanpa melakukan pengkajian dan penelitian.

 

Sebagai contoh, kita mendapati penulis Ahmad Amin di
dalam bukunya Fajr al-Islam, setelah dia menukil kisah Abdullah bin Saba dan
menganggapnya sebagai sebuah kebenaran yang tidak diragukan lagi, dia menemukan
di hadapannya jalan yang terbuka untuk melontarkan berbagai tuduhan dan
kebohongan atas Syi’ah. Dia mengatakan pada halaman 269 dari bukunya,
“Keekstriman Syi’ah mengenai Ali tidak hanya cukup sampai sebatas ini.
Mereka tidak merasa cukup dengan mengatakan Ali sebagai seutama-utamanya
makhluk sepeninggal nabi, dan bahwa dia maksum, melainkan mereka juga
menuhankannya. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, ‘Telah merasuk satu
bagian ketuhanan pada diri Ali, dan telah bersatu dengan jasadnya, sehingga
oleh karena itu dia mengetahui yang ghaib.'”

 

Kemudian, Ahmad Amin menukil khurafat tentang Ibnu
Saba dan memberikan komentar tentangnya. Selanjutnya, dia mengambil kesimpulan
sebagai berikut, “Yang benar ialah bahwa Syi’ah merapakan tempat
berlindung setiap orang yang hendak menghancurkan Islam, dikarenakan permusuhan
atau kedengkian mereka terhadap Islam, dan juga merupakan tempat berlindung
bagi orang yang hendak memasukkan ajaran-ajaran bapaknya, yang berasal dari
ajaran-ajaran Yahudi, Kristen, Zaroster dan Hindu…”

 

Dia mengatakan semua ini secara spontan, dengan tanpa
melakukan pengkajian dan penelitian. Bahkan, dia tidak ubahnya seperti orang
yang mengigau yang tidak mengetahui apa yang dikatakannya. Namun, kecaman tidak
patut ditujukan kepadanya, karena yang dia kemukakan tidak lain merupakan hasil
penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh para sejarahwan.

 

Begitulah sejarah. Kisah sabaiyyah (Abdullah bin
Saba) telah menjadi faktor penting di dalam pemalsuan kebenaran dan penyesatan
umat. Para ulama Syi’ah telah menentang pemikiran sabaiyyah, dan telah
melakukan pengkajian mengenainya secara mendalam, dan mereka menemukan
kenyataan bahwa kisah Abdullah bin Saba adalah kisah fiktif. Allamah Murtadha
al-Askari, secara khusus telah membahas masalah ini di dalam kitab tersendiri
yang terdiri dari dua jilid, yang diberinya judul Abdullah bin Saba wa Asathir
Ukhra. Di dalam kitab ini dia meneliti riwayat tentang Ibnu Saba dari seluruh
kitab-kitab referensi sejarah. Pada kesempatan ini saya tidak bisa mengemukakan
semua dalil yang mendukung fakta ini, namun saya hanya mencukupkan dengan
mengemukakan beberapa petunjuk berikut:

 

Cerita bohong ini kembali kepada seorang perawi yang
bernama Saif bin Umar. Dia penulis kitab al-Futuh al-Kabirah wa ar-Raddah dan
kitab al-Jamal wa Masirah Aisyah wa Ali. Thabari menukil cerita bohong ini di
dalam kitab tarikhnya dari kedua kitab tersebut, dan demikian juga Ibnu Asakir
serta adz-Dzahabi di dalam kitab tarikhnya al-Kabir.

 

Pendapat
Para Ulama Tentang Saif Bin Umar

 

1.    Yahya bin
Mu’in (wafat tahun 233 Hijrah) berkata, “Lemah hadisnya, dan tidak ada
kebaikan darinya.”

2.    Abu Dawud
(wafat tahun 275 Hijrah) berkata, “Dia bukan apa-apa. Dia pendusta.”

3.    Nasa’i
(wafat tahun 303 Hijrah) berkata, “Dia orang yang lemah, ditinggalkan
hadisnya, dan tidak dipercaya.”

4.    Ibnu Hatim
(wafat tahun 327 Hijrah) berkata, “Ditinggalkan hadisnya.”

5.    Ibnu ‘Uday
(wafat tahun 365 Hijrah) berkata, “Suka meriwayatkan hadis-hadis mawdhu’,
dan dituduh zindiq.” Ibnu ‘Uday berkata, “Orang-orang mengatakan dia
suka membuat hadis palsu.”

6.    Al-Hakim
(wafat tahun 405 Hijrah) berkata, “Ditinggalkan hadisnya, dan dia dituduh
zindiq.”

7.    Khatib
al-Bagdadi (wafat tahun 406 Hijrah) melemahkannya.

8.    Ibnu Abdul
Barr (wafat tahun 463 Hijrah) menukil dari Ibnu Hibban yang berkata tentang
Saif bin Umar, “Saif ditinggalkan hadisnya. Kita menyebutkan hadisnya
hanya sekedar untuk mengetahui.” Ibnu Abdul Barr tidak memberikan komentar
apa pun terhadap hadisnya.

9.    Fairuz
Abadi, penulis berbagai kitab, menyebutkannya bersama yang lainnya,
“Mereka itu orang-orang yang dha’if (lemah).”

10. Ibnu Hajar (wafat
tahun 852 Hijrah) berkata, setelah mengkritik sebuah hadis yang di dalam
sanadnya terdapat nama Saif bin Umar, “Di dalam sanadnya terdapat
orang-orang yang dhaif, dan terdha’if di antara mereka adalah Saif bin
Umar.”

11. Shafiyyuddin
(wafat tahun 923 Hijrah) berkata, “Mereka mendha’ifkannya.

 

Inilah pandangan para ulama selama berabad-abad
tentang Saif bin Umar.

Bagaimana bisa para sejarahwan berbicara secara
panjang lebar tentang riwayatnya?! Bagaimana bisa para peneliti membangun
pandangan-pandangan mereka berdasarkan riwayat ini.

Di samping perbedaan yang masih diperselisihkan
tentang namanya. Apakah namanya Ibnu Sauda, atau Abdullah bin Saba?! Demikian
juga perbedaan tentang kemunculannya. Apakah dia muncul pada masa Usman,
sebagaimana yang dikatakan oleh Thabari, atau sebagaimana yang dikatakan oleh
Sa’ad bin Abdullah al-Asy’ari di dalam kitabnya al-Maqalat wa al-Firaq,
“Dia muncul pada masa Ali atau sesudah kematiannya.”

Dan kenapa Usman bersikap diam terhadapnya, padahal
dia tidak bersikap diam sekali pun kepada sahabat-sahabat besar, seperti Abu
Dzar, ‘Ammar dan Ibnu Mas’ud?

Bahkan, sesungguhnya dia merupakan sebuah rangkaian
kebohongan yang diciptakan atas Syi’ah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thaha
Husain, “Ibnu Saba adalah seorang tokoh yang diciptakan oleh para musuh
Syi’ah untuk menghantam Syi’ah, yang sebenarnya tidak ada wujudnya di
luar.”

Rekayasa ini diciptakan dengan tujuan untuk
mencemarkan keyakinan-keyakinan Syi’ah yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah.
Seperti keyakinan tentang wasiat dan ‘ishmah. Musuh-musuh mereka tidak
menemukan jalan selain dengan jalan menghubung-hubungkan keyakinan-keyakinan
ini dengan ajaran Yahudi, yang tokohnya adalah seorang tokoh fiktif yang
bernama Abdullah bin Saba. Sehingga dengan begitu kecaman ditujukan kepada
tokoh ini dan kepada orang yang mengambil ajaran darinya. Di samping di sisi
lain mereka menampilkan kelurusan wajah para sahabat dan membersihkan mereka
dari berbagai kecaman dan celaan, dikarenakan berbagai perpecahan dan
perselisihan yang terjadi di antara mereka, sehingga berakhir dengan
terbunuhnya Usman, dan begitu juga peristiwa perang Jamal yang memakan ribuan
korban dari kalangan para sahabat. Kisah fiktif tentang Abdullah bin Saba ini
tidak lain merupakan upaya untuk menutupi lembaran sejarah yang hitam ini,
untuk kemudian melemparkan tanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi
kepada tokoh fiktif ini, padahal para sahabat sendiri bertanggung jawab atas
peristiwa-peristiwa yang terjadi. Yaitu terpecah belahnya umat kepada berbagai
mazhab dan keyakinan.

 

Contoh
Lain

 

Terdapat penghapusan besar-besaran secara sengaja
akan keutamaan-keutamaan Ali dan Ahlul Baitnya dari kitab-kitab sejarah.

Ini Ibnu Hisyam yang menukil Sirah Ibnu Ishak berkata
di dalam mukaddimah kitabnya, “Di dalam kitab ini ditinggalkan sebagian
yang disebutkan oleh Ibnu Ishak… dan begitu juga hal-hal yang buruk untuk
dikatakan, dan beberapa hal yang tidak baik orang menyebutkannya… “

 

Dia mengatakan kata-kata ini sebagai pengantar untuk
menyembunyikan kebenaran. Di antara hal-hal yang tidak baik orang
menyebutkannya adalah ajakan Rasulullah saw kepada Abu Thalib manakala Allah
SWT memerintahkannya, “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang
terdekat. ” Thabari telah menyebutkannya beserta sanadnya.

Dia mengatakan Rasulullah saw telah bersabda,

 

“Wahai
putra-putra Abdul Muththalib! Demi Allah tidak ada seorang pun pemuda bangsa
Arab yang telah membawa untuk kaumnya sesuatu yang lebih berharga dan lebih
utama dari apa yang aku bawa untuk kalian. Aku datang membawa kebaikan dunia
dan akhirat. Dan Allah telah memerintahkan aku untuk menyeru kalian agar
menerimanya. Maka siapakah di antara kalian yang bersedia memberikan dukungan
bagiku dalam urusan ini; dan sebagai imbalannya, ia akan menjadi saudaraku, washiku,
serta menjadi khalifah (pengganti)ku di antara kalian?”

Semua yang
hadir diam seribu bahasa, kecuali Ali yang termuda di antara mereka; ia berdiri
dan berkata dengan lantangnya, “Aku – wahai Nabi Allah – yang akan menjadi
pembantumu!” Kemudian Rasulullah saw berkata, “Inilah saudaraku,
washiku dan khalifahku di antara kalian! Dengar kata-katanya, dan taatlah
kepadanya!” Maka bangkitlah mereka sambil tertawa dan berkata kepada Abu
Thalib, “Lihatlah betapa dia telah memerintahkan Anda agar mendengarkan
kata-kata anak Anda dan taat kepadanya.”[107]

 

Apakah riwayat ini termasuk sesuatu yang buruk untuk
dikatakan?!

Jangan membuat Anda heran Thabari menyebutkan kisah
ini, karena dengan segera dia mencabut kembali perkataannya itu. Dia
meriwayatkan kisah ini di dalam kitab tafsirnya dengan disertai penyimpangan.
Dia mengatakan, “Rasulullah saw bersabda, ‘Maka siapakah di antara kalian
yang bersedia memberikan dukungan bagiku; dan sebagai imbalannya, ia akan
menjadi saudaraku… dan seterusnya dan seterusnya.'” Kemudian Thabari
melanjutkan, “Kemudian Rasulullah saw berkata, ‘Sesungguhnya inilah
saudaraku… dan seterusnya dan seterusnya, maka dengarkan kata-katanya, dan
taatlah kepadanya.’[108]

Apa yang dimaksud dengan kata-kata “dan
seterusnya dan seterusnya” yang dikatakan oleh Thabari?!

 

Adapun Ibnu Katsir, manakala menyebutkan kisah ini di
dalam kitab tarikhnya, merasa kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh
Thabari di dalam kitab tafsirnya, maka dengan tanpa rasa malu dan dengan tanpa
berpegang kepada kejujuran intelektual dia pun mengikuti langkah yang telah
dilakukan oleh Thabari. Dia ikut mengatakan, “dan seterusnya dan
seterusnya.”[109]

 

Perhatikanlah peristiwa ini, yang berbicara tentang
salah satu keutamaan Amirul Mukminin dan lebih berhaknya dia atas kekhalifahan;
dan juga perhatikanlah apa yang telah dilakukan oleh para sejarahwan terhadap
peristiwa ini.

Ibnu Hisyam tidak bisa menggunakan siasat
terhadapnya, dia menghapuskannya sama sekali. Adapun Thabari, dan kemudian
diikuti oleh Ibnu Katsir, mereka berdua menyelewengkan dan mengaburkan
maknanya. Maka perhatikanlah!

 

Berikut ini kami ketengahkan contoh lain dari
penyelewengan yang dilakukan oleh para sejarahwan terhadap kebenaran. Mereka
tidak hanya menyembunyikan keutamaan-keutmaan Ali dan Ahlul Baitnya, melainkan
sebagai lawannya mereka juga menyembunyikan segala sesuatu yang mencemarkan
nama sahabat, terlebih lagi para khalifah. Berikut ini sebuah kisah yang
merupakan gabungan di antara dua sisi, yaitu sisi menyembunyikan
keutamaan-keutamaan Ali dan sisi menyembunyikan keburukan-keburukan para
khalifah.

 

Para sejarahwan, terutama Thabari menyembunyikan
surat menyurat yang terjadi di antara Muhammad bin Abu Bakar —salah seorang
pengikut Ali— dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Karena di dalam surat-surat
tersebut terdapat pembuktian akan kedudukan Imam Ali sebagai washi Rasulullah
saw, dan sekaligus menyingkap keadaan para khalifah yang sebenarnya.

 

Setelah menyebutkan sanad kedua surat tersebut
Thabari memberikan alasan bahwa di dalam kedua surat tersebut terdapat sesuatu
yang masyarakat umum tidak tahan untuk mendengarnya. Kemudian setelah itu
datang Ibnu Atsir, dan dia pun melakukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh
Thabari.

 

Selanjutnya, Ibnu Katsir mengikuti jalan yang telah
mereka tempuh. Dia hanya memberi isyarat kepada surat Muhammad bin Abu Bakar,
namun sama sekali membuang surat tersebut dari penulisan. Ibnu Katsir
mengatakan, “Di dalamnya terdapat kata-kata kasar.” Apa yang telah
dilakukan oleh para sejarahwan yang tiga itu adalah seburuk-buruknya bentuk
penyembunyian kebenaran. Ini semua membuktikan dengan amat jelas akan
ketidak-objektifan mereka.

Apa yang mereka maksud dengan perkataan
“masyarakat umum tidak tahan untuk mendengarkan isi keduanya”?

Apakah karena masyarakat umum tidak akan meyakini
para khalifah lagi setelah mendengar isi kedua surat tersebut?

 

Berikut ini surat Muhammad bin Abu Bakar yang
ditujukan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, sebagaimana yang dinukil di dalam
kitab Muruj adz-Dzahab, karya al-Mas’udi:

 

Dari
Muhammad bin Abu Bakar kepada si tersesat Muawiyah bin Shakhr.

Salam
kepada penyerah diri dan yang taat kepada Allah!

Amma
ba’du, sesungguhnya Allah SWT, dengan keagungan dan kekuasaan-Nya, menciptakan
makhluk-Nya tanpa main-main. Tiada celah kelemahan dalam kekuasaan-Nya. Tiada
berhajat Dia terhadap hamba-Nya. ia menciptakan mereka untuk mengabdi
kepada-Nya.

Dia
menjadikan orang yang tersesat atau orang yang lurus, orang yang malang dan
orang yang beruntung.

Kemudian,
dari antara mereka, Dia Yang Mahatahu memilih dan mengkhususkan Muhammad saw
dengan pengetahuan-Nya. Dia jugalah yang memilih Muhammad saw berdasarkan
ilmu-Nya sendiri untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengemban wahyu-Nya. Dia
mengutusnya sebagai rasul dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Dan orang
pertama yang menjawab dan mewakilinya, mentaatinya, mengimaninya,
membenarkannya, menyerahkan diri kepada Allah dan menerima Islam sebagai
agamanya —adalah saudaranya dan misannya Ali bin Abi Thalib— yang membenarkan
yang ghaib. Ali mengutamakannya dari semua kesayangannya, menjaganya pada
setiap ketakutan, membantunya dengan dirinya sendiri pada saat-saat mengerikan,
memerangi perangnya, berdamai demi perdamaiannya, melindungi Rasulullah dengan
jiwa raganya siang maupun malam, menemaninya pada saat-saat yang menggetarkan,
kelaparan serta dihinakan. Jelas tiada yang setara dengannya dalam berjihad,
tiada yang dapat menandinginya di antara para pengikut dan tiada yang
mendekatinya dalam amal perbuatannya.

Dan saya
heran melihat engkau hendak menandinginya! Engkau adalah engkau! Sejak awal Ali
unggul dalam setiap kebajikan, paling tulus dalam niat, keturunannya paling
bagus, istrinya adalah wanita utama, dan pamannya (Ja’far) syahid di perang
Mu’tah. Dan seorang pamannya lagi (Hamzah) adalah penghulu para syuhada perang
Uhud, ayahnya adalah penyokong Rasulullah saw dan istrinya

Dan engkau
adalah orang yang terlaknat, anak orang terkutuk. Tiada hentinya engkau dan
ayahmu menghalangi jalan Rasulullah saw. Kamu berdua berjihad untuk memadamkan
nur Ilahi, dan kamu berdua melakukannya dengan menghasud dan menghimpun
manusia, menggunakan kekayaan, dan mempertengkarkan berbagai suku. Dalam
keadaan demikian ayahmu mati. Dan engkau melanjutkan perbuatannya seperti itu
pula.

Dan
saksi-saksi perbuatan engkau adalah orang-orang yang meminta-minta perlindungan
engkau, yaitu dari kelompok musuh Rasulullah yang memberontak, kelompok
pemimpin-pemimpin yang munafik dan pemecah belah dalam melawan Rasulullah saw.

Sebaliknya
sebagai saksi bagi Ali dengan keutamaannya yang terang dan keterdahuluannya
(dalam Islam) adalah penolong-penolongnya yang keutamaan mereka telah
disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Dan mereka itu
merupakan pasukan yang berada di sekitarnya dengan pedang-pedang mereka dan
siap menumpahkan darah mereka untuknya. Mereka melihat keutamaan pada dirinya
yang patut ditaati, dan malapetaka bila mengingkarinya.

Maka
mengapa, hai ahli neraka, engkau menyamakan dirimu dengan Ali, sedang dia
adalah pewaris dan pelaksana wasiat Rasulullah saw, ayah anak-anak Rasulullah
saw, pengikut pertama, dan yang terakhir menyaksikan Rasulullah saw, teman
berbincang, penyimpan rahasia dan serikat Rasulullah saw dalam urusannya.
Rasulullah saw memberitahukan pekerjaan beliau kepadanya, sedang engkau adalah
musuh dan anak dari musuh beliau.

Tiada
peduli keuntungan apa pun yang engkau peroleh dari kefasikanmu di dunia ini dan
bahkan Ibnu al-‘Ash menghanyutkan engkau dalam kesesatanmu, akan tampak bahwa
waktumu berakhir sudah dan kelicikanmu tidak akan ampuh lagi. Maka akan menjadi
jelas bagimu siapa yang akan memiliki masa depan yang mulia. Engkau tidak
mempunyai harapan akan pertolongan Allah, yang tidak engkau pikirkan.

Kepada-Nya
engkau berbuat licik. Allah menunggu untuk menghadangmu, tetapi kesombonganmu
membuat engkau jauh dari Dia.

Salam bagi
orang yang mengikuti petunjuk.[110]

 

Jawaban
Surat Muawiyah Kepada Muhammad bin Abu Bakar

 

Dari
Muawiyah bin Abu Sufyan.

Kepada
pencerca ayahnya sendiri, Muhammad bin Abu Bakar.

Salam
kepada yang taat kepada Allah.

Telah
sampai kepadaku suratmu, yang menyebut Allah Yang Mahakuasa dan Nabi
pilihan-Nya, dengan kata-kata yang engkau rangkaiakan. Pandanganmu lemah.
Engkau mencerca ayahmu. Engkau menyebut hak Ibnu Abi Thalib dan keterdahuluan
serta kekerabatannya dengan Nabi Allah saw, dan bantuan serta pertolongannya
kepada Nabi pada setiap keadaan genting.

Engkau
juga berhujjah dengan keutamaan orang lain dan bukan dengan keutamaanmu. Aneh,
engkau malah mengalihkan keutamaanmu kepada orang lain.

Di zaman
Nabi saw, kami dan ayahmu telah melihat dan tidak memungkiri hak Ibnu Abi
Thalib. Keutamaannya jauh di atas kami.

Dan Allah
SWT memilih dan mengutamakan Nabi sesuai janji-Nya. Dan melalui Nabi Dia
menampakkan dakwah-Nya dan menjelaskan hujjah-Nya. Kemudian Allah mengambil
Nabi saw ke sisi-Nya.

Ayahmu dan
Faruq-nya (Umar) adalah orang-orang pertama yang merampas haknya. Hal ini
diketahui umum.

Kemudian
mereka mengajak Ali membaiat Abu Bakar, tetapi Ali menunda dan memperlambatnya.
Mereka marah sekali dan bertindak kasar. Hasrat mereka bertambah besar.
Akhirnya Ali membaiat Abu Bakar dan berdamai dengan mereka berdua.

Mereka berdua
tidak mengajak Ali dalam pemerintahan mereka. Tidak juga mereka menyampaikan
kepadanya rahasia mereka, sampai mereka berdua meninggal dan berakhirlah
kekuasaan mereka.

Kemudian
bangkitlah orang ketiga, yaitu Usman yang menuruti tuntunan mereka. Engkau dan
temanmu berbicara tentang kerusakan-kerusakan yang dilakukan Usman agar
orang-orang yang berdosa di propinsi-propinsi mengembangkan maksud-maksud buruk
terhadapnya dan engkau bangkit melawannya. Engkau menunjukkan permusuhanmu
kepadanya untuk mencapai keinginan-keinginamu sendiri.

Hai putra
Abu Bakar, berhati-hatilah atas apa yang engkau lakukan. Jangan engkau
menempatkan dirimu melebihi apa yang dapat engkau urusi. Engkau tidak akan
dapat menemukan seseorang yang mempunyai kesabaran yang lebih besar dari
gunung, yang tidak pernah menyerah kepada suatu peristiwa. Tak ada yang dapat
menyamainya.

Ayahmu
bekerja sama dengan dia dan mengukuhkan kekuasaannya. Bila kaum katakkan bahwa
tindakanmu benar, (maka ketahuilah) ayahmulah yang mengambil alih kekuasaan ini,
dan kami menjadi sekutunya. Apabila ayahmu tidak melakukan hal ini, maka kami
tidak akan sampai menentang anak Abu Thalib dan kami akan sudah menyerah
kepadanya.

Tetapi
kami melihat bahwa ayahmu memperlakukan dia seperti ini dihadapan kami, dan
kami pun mengikutinya; maka cacat apa pun yang akan kamu dapatkan, maka
arahkanlah itu kepada ayahmu sendiri, atau berhentilah dari turut campur.

Salam bagi
orang yang kembali.[111]

 

Anda dapat mengetahui rahasia kenapa Thabari, Ibnu
Atsir dan Ibnu Katsir tidak bersedia menukil surat-surat di atas. Karena
surat-surat tersebut menyingkap perselisihan yang terjadi dikalangan kaum
Muslimin dalam urusan kekhalifahan, yang merupakan hak Ali. Muawiyah mengakui
ini, namun dia beralasan bahwa kekhalifahannya hanyalah kepanjangan
kekhalifahan Abu Bakar. Kemudian Muawiyah mengecam anak Abu Bakar (yaitu
Muhammad bin Abu Bakar) dengan hal ini, sehingga menjadikannya terdiam tidak
dapat bicara dalam urusan ini.

 

Celaka engkau, hai Muawiyah, meskipun Muhammad bin
Abu Bakar tidak berdiam diri dan tidak menutupi urusan Anda, namun Thabari,
Ibnu Atsir dan Ibnu Katsir bersikap diam terhadap urusan Anda.

 

Banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkan pemalsuan
dan penyelewengan yang dilakukan oleh para sejarahwan terhadap kebenaran. Kita
tidak mungkin menyebutkannya satu persatu dalam kesempatan ini. Seseorang yang
meneliti sejarah akn mendapati hal ini dengan jelas. Namun yang mengherankan,
para sejarahwan tidak menutupi berbagai penyelewengan yang telah mereka
lakukan. Anda dapat menemukan isyarat-isyarat yang jelas akan apa yang telah
mereka lakukan. Sebagai contoh, berkenaan dengan peristiwa peng-hinaan yang
dilakukan oleh Usman bin Affan terhadap Abu Dzar, Thabari berkata, “Telah
disebutkan banyak hal yang menjadi sebab pemulangan Abu Dzar dari Syam, namun
saya enggan menyebutkan kebanyakannya.

Dengan demikian kita dapat menyingkap dengan jelas
penyimpangan yang dilakukan oleh Thabari terhadap kebenaran.

 

Kedua:

KELOMPOK
MUHADDIS

 

Ketika Anda melihat berbagai persekongkolan yang
telah dilakukan terhadap hadis, dan penggantian hakikat-hakikatnya, niscaya
Anda akan merasa pentingnya pandangan Syi’ah. Yaitu pandangan yang mengatakan,
mau tidak mau harus ada seorang pemimpin yang maksum yang menjaga syariat Allah
dan mengokohkan pilar-pilarnya. Jika dia tidak maksum dan tidak terbebas dari
dosa maka dia akan memanfaatkan agama untuk melayani tujuan dan
kepentingan-kepentingan politiknya, dan memutar-balikan hadis untuk
kepentingannya. Ini pun jika penulisan dan penyebaran hadis tidak dilarang dan
diperangi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh ketiga orang khalifah —yaitu
Abu Bakar, Umar dan Usman— yang mana mereka telah melarang periwayatan hadis,
dan bahkan membakar hadis-hadis yang dimiliki kaum Muslimin, serta menahan para
sahabat untuk tetap berada di kota Madinah, sehingga mereka tidak menyebarkan
hadis di tempat lain. Imam Ali berkata tentang hal itu, “Para penguasa
sebelumku telah melakukan perbuatan yang menentang Rasulullah saw. Mereka
secara sengaja menentangnya, melanggar janjinya dan merubah sunahnya.”

 

Saya tidak akan membahas periode ini di dalam pasal
ini. Saya akan mencukupkan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan sebelumnya.
Melainkan di sini saya akan membahas masa pembukuan hadis yang di kalangan
Ahlus Sunnah dianggap sebagai masa keemasan hadis, dengan disertai
isyarat-isyarat yang menunjukkan apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah di
dalam membuat hadis-hadis palsu dan menyembunyikan keutamaan-keutamaan Ahlul
Bait.

 

Hadis Pada
Masa Muawiyah

 

Kita dapat menelusuri periode Muawiyah seperti yang
telah dinukil oleh al-Mada’ini di dalam kitab al-Ahdats. Al-Mada’ini berkata,
“Muawiyah menulis satu naskah dan mengirimkannya kepada para gubernurnya
sesudah “Tahun Jamaah”[112],
untuk memakzulkan siapa saja yang meriwayatkan sesuatu tentang keutamaan Abu
Turab —yaitu imam Ali as— dan Ahlul Baitnya.

Maka berdirilah para khatib diseluruh pelosok desa
dan diseluruh mimbar melaknat Ali dan memakzulkannya, serta mencaci maki dia
dan keluarganya. Masyarakat yang paling keras tertimpa bencana pada saat itu
adalah para penduduk kota Kufah, disebabkan banyaknya Syi’ah Ali di kota
tersebut. Muawiyah menempatkan Ziyad bin Sumayyah atas mereka, dan juga
menyerahkan kota Basrah kepadanya. Ziyad mencari dan menangkapi orang-orang
Syi’ah, karena dia mengenal mereka, disebabkan dia pernah menjadi bagian dari
mereka pada masa Imam Ali. Ziyad membunuhi mereka di mana saja ditemukan. Dia
memotong tangan dan kaki mereka, dan mencungkil mata mereka serta menyalib
mereka di batang-batang pohon kurma. Dia mengusir mereka dari bumi Irak,
sehingga tidak tersisa yang dikenal dari mereka.

 

Muawiyah menulis surat kepada para gubernurnya di
seluruh negeri, supaya mereka tidak memperkenankan kesaksian seorang pun dari
pengikut Ali dan Ahlul Baitnya. Serta Muawiyah menulis kepada mereka supaya
memperhatikan para pengikut dan pecinta Usman, dan orang-orang yang
meriwayatkan keutamaan-keutamaannya. Muawiyah memerintahkan kepada para
anteknya untuk mendatangi majlis-majlisnya dan memuliakan mereka. Muawiyah
berkata kepada antek-anteknya, ‘Tulislah segala sesuatu yang diriwayatkan oleh
salah seorang dari mereka, dan juga tulislah nama orang tersebut beserta nama
ayahnya dan nama keluarganya.’ Maka orang-orang pun berlomba-lomba menulis dan
memperbanyak keutamaan-keutamaan Usman, disebabkan berbagai hadiah yang diberikan
Muawiyah kepada mereka.”

 

Al-Mada’ini melanjutkan, “Kemudian Muawiyah
menulis surat kepada para gubernurnya, ‘Sesungguhnya hadis tentang Usman telah
begitu banyak dan telah begitu tersebar di seluruh pelosok negeri. Oleh karena
itu, manakala suratku ini sampai kepadamu maka serulah manusia untuk
meriwayatkan keutamaan-keutamaan para sahabat dan keutamaan-keutamaan dua
khalifah yang pertama.

Dan jangan biarkan ada seorang pun dari kaum Muslimin
yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab, karena yang demikian itu berarti
menentang sahabat. Dan lumpuhkan hujjah dan argumentasi Abu Turab serta
Syi’ahnya, dan kuatkan pujian-pujian akan keutamaan Usman.”

 

Al-Mada’ini melanjutkan, “Kemudian Muawiyah
menulis sepucuk surat kepada para gubernurnya di seluruh pelosok negeri,
“Perhatikanlah, siapa saja yang terbukti mencintai Ali dan Ahlul Baitnya,
maka hapuslah dia dari diwan, dan putuslah rezeki dan pemberian untuknya.’
Muawiyah menambahkan, ‘Siapa saja yang kamu duga mengikuti mereka maka
timpakanlah bencana kepadanya, dan han-curkanlah rumahnya.'”[113]

 

Tampak jelas bagi Anda begitu kerasnya persekongkolan
yang dilakukan untuk menyelewengkan dan memalsukan kebenaran, hingga sampai
tarap mereka menghalalkan berbohong atas nama Rasulullah saw. Semua ini
disebabkan rasa pemusuhan yang begitu besar yang dimiliki Muawayiyah terhadap
Ali dan para Syi’ahnya. Oleh karena itu, Muawiyah mengerahkan segenap
kemampuannya untuk menghadapi Ali dan Syi’ahnya. Adapun langkah pertama yang
dilakukan oleh Muawiyah ialah dengan melucuti Imam Ali as dari segala
keutamaan, dan tidak hanya cukup sampai di situ, melainkan dia juga melaknatnya
di atas mimbar selama delapan tahun. Adapun langkah yang kedua ialah dengan
membangun pagar yang indah yang mengelilingi sekelompok sahabat, sehingga
mereka menjadi simbol dan panutan, sebagai ganti dari Imam Ali as. Berbagai
ancaman dan bujukan Muawiyah telah menjadikan sekelompok orang munafik
berkhidmat kepadanya dengan cara membuat hadis-hadis palsu, dengan menyebut
diri mereka sebagai sahabat Rasulullah saw.

 

Abu Ja’far al-Iskafi berkata, “Muawiyah
memerintahkan sekelompok orang dari para sahabat dan tabi’in untuk membuat
riwayat-riwayat yang menjelekkan dan memakzulkan Ali. Muawiyah mengiming-imingi
mereka dengan hadiah dan pemberian yang mereka sukai. Maka mereka pun melakukan
apa yang diinginkannya. Di antara para sahabat yang demikian ialah Abu
Hurairah, ‘Amr bin ‘Ash, Mughirah bin Syu’bah, sementara di antara para tabi’in
ialah ‘Urwah bin Zubar…”[114]

 

Demikianlah, mereka telah menjual akhirat mereka
dengan dunia Muawiyah. Inilah Abu Hurairah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh
al-A’masy, “Ketika Abu Hurairah datang ke Irak bersama Muawiyah pada
“Tahun Jamaah”, dia datang ke mesjid Kufah. Tatkala dia melihat
banyaknya manusia yang menyambut kedatangannya, dia berlutut di atas kedua
lututnya sambil memukul bagian botak kepalanya berkali-kali sambil berkata,

‘Wahai
penduduk Irak, apakah kamu mengira saya berdusta atas Rasulullah saw, dan
membakar diri saya dengan api neraka? Demi Allah, saya telah mendengar
Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya tiap-tiap nabi mempunyai haram (tempat
yang disucikan), dan sesungguhnya haram-ku ialah di antara ‘Air dan Tsawr.[115]
Barangsiapa yang ber-hadats di dalamnya, maka Allah, para malaikat dan
seluruh manusia akan melaknatnya.’ Dan aku bersaksi kepada Allah bahwa
sesungguhnya Ali telah ber-hadats di dalamnya.’

Ketika ucapan Abu Hurairah itu terdengar oleh
Muawiyah, maka Muawiyah pun memberinya hadiah, menghormatinya dan mengangkatnya
sebagai penguasa Madinah.[116]

 

Berikut ini adalah Samurah bin Jundub, contoh lain
dari antek Muawiyah di dalam membuat hadis palsu. Di dalam kitab Syarh Nahj
al-Balaghah Ibnu Abil Hadid disebutkan bahwa Muawiyah memberikan seratus ribu
dirham kepada Samurah bin Jundub supaya dia mau meriwayatkan bahwa ayat ini
turun pada Ali,

“Dan di antara manusia
ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan
dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, pada-hal ia adalah
penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia
berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak
tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”
(QS. al-Baqarah: 204),

 

dan ayat yang kedua turun pada Ibnu Muljam —pembunuh
Ali bin Abi Thalib,

 

“Dan di antara manusia
ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah
Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. al-Baqarah: 207)

 

Samurah bin Jundub tidak mau menerima. Muawiyah
menambah pemberiannya menjadi dua ratus ribu dirham, namun Samurah bin Jundub
tetap tidak mau menerima. Tetapi, tatkala Muawiyah menambahnya lagi menjadi
empat ratus ribu dirham, Samurah bin Jundub menerimanya.[117]

 

Thabari meriwayatkan, “Ibnu Sirin ditanya,
‘Apakah pernah Samurah membunuh seseorang?’ Ibnu Sirin menjawab, ‘Tidak
terhitung orang yang telah dibunuh oleh Samurah bin Jundub. Dia mengganti Ziyad
di Basrah, dan kemudian Kufah, dia telah membunuh delapan ribu orang.'”
Juga diriwayatkan bahwa Samurah bin Jundub pernah membunuh sebanyak empat puluh
tujuh orang hanya dalam satu pagi, yang kesemuanya adalah orang yang telah
mengumpulkan Al-Qur’an.[118]

 

Thabari berkata, “Ziyad meninggal dunia sementara
Samurah sedang memegang kendali atas Basrah. Muawiyah memperdayakannya selama
berbulan-bulan, dan kemudian menurunkannya. Samurah berkata, ‘Semoga Allah
melaknat Muawiyah. Demi Allah, seandainya aku taat kepada Allah sebagaimana aku
taat kepada Muawiyah, niscaya Dia tidak akan mengazabku selama-lamanya.”‘[119]

 

Adapun Mughirah bin Syu’bah, dia terang-terangan
mengakui berbagai tekanan yang diberikan oleh Muawiyah kepada dirinya. Thabari
meriwayatkan tentang Mughirah bin Syu’bah, “Mughirah berkata kepada
Sha’sha’ah bin Shuhan al-‘Abdi —ketika itu Mughirah tengah menjadi penguasa
Kufah yang diangkat oleh Muawiyah— ‘Jangan sampai engkau mencela Usman di hadapan
siapa pun; dan begitu juga jangan sampai engkau menyebut sebuah keutamaan Ali
secara terang-terangan, karena tidak ada satu pun keutamaan Ali yang engkau
sebutkan yang tidak aku ketahui. Bahkan aku lebih tahu dari kamu tentang itu,
namun sultan ini —yang dia maksud adalah Muawiyah— telah memerintahkan kepada
kami untuk menampakkan kekurangan-kekurangannya —yaitu Ali— ke hadapan manusia.
Kami banyak meninggalkan apa yang telah diperintahkan kepada kami, namun kami
terpaksa menyebutkan sesuatu yang kami tidak menemukan jalan untuk lepas
darinya, untuk membela diri kami dari mereka. Jika engkau ingin jika
menyebutkan keutamaannya (Ali) maka sebutkanlah di tengah-tengah sahabatmu, dan
di dalam rumah-mu secara rahasia. Adapun menyebutkannya secara terang-terangan
di mesjid adalah sesuatu yang tidak bisa diterima dan dimaafkan oleh
khalifah…’”[120]

 

Begitulah sekelompok para sahabat dan tabi’in
memenuhi permintaan Muawiyah. Barangsiapa yang menolak maka dia dibunuh.
Seperti Syahid Hujur bin ‘Adi, Maitsam at-Tammar dan yang lainnya.

 

Oleh karena itu, pada periode tersebut muncul
beribu-ribu hadis palsu yang merangkai keutamaan-keutamaan dan kepahlawanan
para sahabat, terutama para khalifah yang tiga, yaitu Abu Bakar, Umar dan
Usman. Kemudian hadis-hadis palsu tersebut dinukil generasi demi generasi,
hingga kemudian dibukukan di dalam kitab-kitab referensi yang dijadikan
pegangan.

 

Berikut ini beberapa contoh dari hadis palsu, dan
barangsiapa yang hendak mengetahui lebih luas, maka silahkan dia merujuk kepada
ensiklopedia al-Ghadir, karya Allamah al-Amini, jilid 7, 8 dan 9:

 

1.    Matahari
Bertawassul Kepada Abu Bakar

Rasulullah saw bersabda, “Ditampakkan kepadaku segala sesuatu pada
malam mi’raj, bahkan hingga matahari. Aku mengucapkan salam kepadanya, dan
menanyakan tentang sebab kenapa terjadi gerhana atasnya. Allah SWT
menjadikannya bisa berbicara, lalu dia berkata, ‘Allah SWT menjadikan aku
berada di atas roda yang bergerak ke mana dia suka. Kemudian aku melihat kepada
diriku dengan perasaan bangga, maka roda itu pun menurunkan aku sehingga aku
jatuh ke laut. Lalu aku melihat ada dua orang, di mana yang satu mengatakan,
‘Esa, esa’, sedangkan yang satunya lagi mengatakan, ‘Benar, benar’. Kemudian
aku pun bertawassul kepada keduanya, maka Allah SWT membebaskan aku dari
gerhana. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, siapakah mereka berdua?’ Allah SWT
menjawab, ‘Yang mengatakan ‘esa, esa’ adalah kekasihku Muhammad saw, sedangkan
yang mengatakan ‘benar, benar’ adalah Abu Bakar ash-Shiddiq ra.”[121]

 

2.    Abu
Bakar Berada Di Qaba Qawsain

Telah sampai riwayat kepada kita bahwa tatkala Rasulullah saw berada
pada jarak dua ujung busur anak panah atau lebih dekat, rasa takut menyerang
dirinya, lalu dia mendengar suara Abu Bakar ra di hadirat Allah SWT, maka hati
Rasulullah saw pun menjadi tenang dengan mendengar suara sahabatnya.[122]

 

3.    Abu Bakar,
Dan Alif Al-Qur’an

Ayat Al-Qur’an yang turun pada Abu Bakar banyak sekali. Cukup bagi kita
cukup alif Al-Qur’an, yaitu “alif lam mim, dzalikal kitabu”. Alif
adalah Abu Bakar, Lam adalah Allah, dan Mim adalah Muhammad.[123]

 

Mereka tidak membiarkan satu pun keutamaan yang
dimiliki Rasulullah saw kecuali mereka juga menjadikan Abu Bakar sama-sama
memilikinya.

Adapun berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Umar maka
tidak diragukan. Kita sebutkan salah satunya yang mengatakan Umar mempunyai
kekuasaan takwini. Ar-Razi telah berkata di dalam kitab tafsirnya,
“Terjadi gempa bumi di kota Madinah. Lalu Umar memukulkan mutiara ke bumi
sambil berkata, ‘Diamlah, dengan izin Allah.’ Maka bumi pun diam, dan sejak itu
tidak pernah terjadi lagi gempa di kota Madinah.”

Juga disebutkan, telah terjadi kebakaran di sebagian
pinggiran kota Madinah, maka Umar menulis di atas sehelai kain, ‘Wahai api,
diamlah, dengan izin Allah’, lalu dia melemparkannya ke dalam api, maka
seketika itu pun api menjadi padam.

 

Para
Perawi Hadis Dan Pemalsuan Kebenaran

 

Terdapat banyak cara yang dilakukan oleh para penulis
hadis untuk memalsukan dan menyelewengkan kebenaran. Keta’assuban tampak jelas
terlihat di dalam kitab-kitab mereka. Tatkala terlihat oleh mereka hadis-hadis
yang berbicara tentang keutamaan Ali, atau menyingkap kekurangan para khalifah
dan sahabat, dengan segera tangan mereka merubah hakikatnya. Berikut ini
beberapa contoh dari cara-cara tersebut, hingga peranan yang amat berbahaya
yang dilakukan oleh para muhaddis di dalam memalsukan kebenaran.

 

1. Contoh Pertama:

Manakala Muawiyah hendak mengambil baiat untuk
anaknya Yazid, Abdurrahman bin Abu Bakar termasuk salah seorang yang paling
keras menentang pembaiatan Yazid. Marwan berpidato di mesjid Rasulullah saw,
yang ketika itu dia berkedudukan sebagai gubernur Hijaz yang diangkat oleh
Muawiyah. Marwan berkata, “Amirul Mukminin menginginkan keutamaan Anda
semua. Dia telah menunjuk anaknya Yazid untuk menjadi khalifah
sepeninggalnya.” Mendengar itu Abdurrahman bin Abu Bakar berdiri dan
berkata, “Demi Allah, engkau telah berdusta, ya Marwan. Dan juga engkau
telah berdusta, ya Muawiyah. Keutamaan apa yang engkau inginkan bagi umat
Muhammad. Engkau tidak lain ingin menjadikannya menjadi kerajaan, di mana
setiap seorang raja mati maka diganti dengan raja yang lain.” Marwan berkata,
“Inilah orang yang Allah SWT telah turunkan padanya, dan orang yang telah
berkata kepada kedua orang tuanya, ‘Cis, bagi kamu keduanya.'” Aisyah
mendengar perkataan Marwan dari balik tabir. Dia berdiri dari balik tabir dan
kemudian berkata, “Hai Marwan, hai Marwan.” Maka orang-orang pun
diam, dan Marwan menghadapkan wajahnya. Lalu Aisyah berkata, “Engkau
katakan kepada Abdurrahman bahwa ayat Al-Qur’an ini turun kepadanya. Engkau
dusta. Demi Allah, ayat ini bukan turun padanya, melainkan pada Fulan bin Fulan,
namun dia adalah kelompok orang yang dilaknat oleh Allah SWT.” Pada
riawayat lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Demi Allah, bukan dia yang
dimaksud dalam ayat ini. Akan tetapi Rasulullah saw telah melaknat Bapak Marwan
pada saat Marwan masih berada di dalam tulang sulbinya. Maka dengan begitu
Marwan termasuk kelompok orang yang dilaknat oleh Allah Azza Wajalla.”[124]

Sekarang,
coba lihat, bagaimana Bukhari menyelewengkan sesuatu yang memburukkan Muawiyah
dan Marwan:

“Marwan
berkuasa atas Hijaz. Muawiayah menggunakanya. Marwan berpidato, dan menyebut
Yazid bin Muawiyah supaya orang-orang berbaiat kepadanya sepeninggal ayahnya.
Kemudian Abdurrahman bin Abu Bakar mengatakan sesuatu, lalu Marwan berkata,
‘Tangkap dia’, maka Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke rumah Aisyah, sehingga
mereka tidak mampu menangkapnya. Marwan ber-kata, ‘Orang inilah yang Allah
telah turunkan padanya ayat, ‘Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya,
‘Cis, bagi kamu berdua.’ Apakah Anda menerima alasan saya?!’ Kemudian Aisyah
berkata dari balik tabir, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu dari Al-Qur’an
padanya, kecuali Allah menurunkan alasan saya.'”[125]

Bukhari
membuang perkataan Abdurrahman dan menggantinya dengan mengatakan
“Abdurrahman mengatakan sesuatu”, sebagaimana juga dia mengganti
perkataan Aisyah. Semua ini dilakukan Bukhari untuk menjaga nama baik Muawiyah
dan Marwan. Ibnu Hajar telah menceritakan peristiwa ini secara panjang lebar di
dalam kitabnya Fath al-Bari. Perhatikanlah, sampai sejauh mana kelurusan
Bukhari di dalam menukil kenyataan.

 

2.
ContohKedua.

Bukhari
membuang fatwa Umar tentang tidak salat. Muslim meriwayatkan dari Syu’bah yang
berkata, “Al-Hakam berkata kepada saya, dari Sa’id bin Abdurrahman, dari
ayahnya yang berkata, “Seorang laki-laki mendatangi Umar dan berkata,
‘Saya berjunub, namun saya tidak menemukan air.’ Umar menjawab, ‘Jangan kamu
salat.’

Lalu Ammar
berkata, ‘Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala kamu dan saya
berada di dalam pasukan. Pada saat itu kita berjunub, dan kita tidak menemukan
air. Kamu pada saat itu tidak mengerjakan salat, sedangkan saya
berguling-guling di atas tanah dan kemudian salat. Kemudian Rasulullah saw
berkata, ‘Cukup kamu memukulkan kedua telapak tanganmu ke atas tanah, kemudian
meniup keduanya, dan lalu mengusapkannya ke wajahmu dan kedua punggung
tanganmu.’

Umar
berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah, wahai Ammar.’ Ammar berkata, ‘Jika kamu
tidak ingin, saya tidak akan ceritakan.”‘[126]

Padahal
hadis ini dengan jelas menunjukkan kebodohan Umar akan hukum agama yang paling
sederhana dan penting, yang diketahui oleh seluruh kaum Muslimin (yaitu hukum
tayammum), dan yang dengan jelas dikatakan oleh Al-Qur’an dan diajarkan oleh
Rasulullah saw kepada mereka tentang tata caranya. Namun demikian, Umar
memberikan fatwa untuk tidak salat. Yang pertama, ini tidak lain merupakan
salah satu indikasi kebodohan Umar, dan menunjukkan bahwa Umar tidak begitu
menaruh perhatian kepada salat, dan bahkan me-nunjukkan bahwa Umar tidak mengerjakan
salat pada saat dia junub, sebagaimana yang dijelaskan oleh riwayat.

Saya
ingat, salah seorang teman saya pernah berdiskusi dengan saya tentang ilmunya
Umar. Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya Umar sejalan dengan Al-Qur’an
sebelum Al-Qur’an turun.”

Saya
katakan kepadanya, “Ini hanya cerita yang tidak ada hubungannya dengan
kenyataan. Karena bagaimana mungkin Umar sejalan dengan Al-Qur’an sebelum
Al-Qur’an diturunkan, padahal dia tidak sejalan dengan Al-Qur’an setelah
Al-Qur’an turun tentang masalah tayammum dan penentuan mahar wanita. Hadis ini
merupakan guncangan yang paling keras yang saya alami selama saya mengkaji
tentang pribadi Umar. Karena hadis ini menyingkap secara sempurna sampai sejauh
mana tingkat keilmuan dan keberagamaan Umar. Yang lebih mengherankan saya ialah
sikap Umar yang tetap bersikeras dengan kebodohannya setelah diberitahukan oleh
Ammar tentang hukum agama mengenai masalah itu.

Kemudian,
lihatlah bagaimana Bukhari tidak sampai hati meriwayatkan fatwa Umar ini, yang
tidak mungkin ada seorang pun yang memfatwakannya meski orang pasar sekali pun.
Bukhari mengeluarkan di dalam kitab sahihnya dengan sanad dan redaksi yang
sama, namun dengan membuang fatwanya,

“Seorang
laki-laki datang kepada Umar bin Khattab dan berkata, ‘Saya berjunub namun saya
tidak menemukan air.’ Lalu Ammar bin Yasir berkata kepada Umar bin Khattab,
‘Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala kamu dan saya …”[127]

 

3. Contoh
Ketiga:

Ibnu Hajar
mengeluarkan di dalam kitabnya Fath al-Barifi Syarh Shahih al-Bukhari, jilid
17, halaman 31, hadis yang berbunyi, “Seorang laki-laki bertanya kepada
Umar tentang firman Allah SWT yang berbunyi, ‘Dan buah-buahan serta
rumput-rumputan’, apakah rumput-rumputan itu?’

Umar
menjawab, ‘Kita dilarang untuk mendalami dan memberatkan diri.'”

Ibnu Hajar
berkata, “Di dalam riwayat lain yang berasal dari Tsabit, dari Anas yang
berkata bahwa Umar membaca, ‘Dan buah-buahan serta abb (sejenis rerumputan).’
Lalu orang bertanya, ‘Apa abb itu?’ Umar menjawab, ‘Kita tidak diperintahkan
untuk memberatkan diri’, atau ‘Kita tidak diperintahkan dengan yang demikian
ini.'”

 

Kemudian,
perhatikanlah bagaimana Bukhari mengerahkan segenap usahanya untuk membersihkan
Umar dari segala sesuatu yang menempel padanya. Kenapa dia tidak meriwayatkan
hadis yang membuktikan kebodohan Umar akan Al-Qur’an ini. Karena masalah yang
ditanyakan adalah masalah yang sangat sederhana bagi orang yang mengenal Al-Qur’an
dan gaya bahasanya. Argumentasi Umar tentang tidak adanya perintah memberatkan
diri bukanlah pada tempatnya, karena masalah ini bukan merupakan sebuah
tindakan pemberatan diri. Dan membuat-buat alasan dalam urusan ini adalah lebih
buruk dari dosa. Ketika Imam Ali as ditanya dengan pertanyaan yang sama, Imam
Ali as menjawab berkenaan dengan ayat yang sama, ‘Dan buah-buahan serta abb
(sejenis rerumputan), untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu’,
‘Buah-buahan adalah kesenangan untuk kita sedangkan abb adalah kesenangan untuk
binatang-binatang ternak. Abb adalah sejenis rerumputan.'”

Bukhari
berkata di dalam kitab sahihnya, dari Tsabit, dari Anas yang mengatakan,
“Kami berada di samping Umar, lalu dia berkata, ‘Kita dilarang untuk
memberatkan diri.'”[128]

 

Hadis ini
dan hadis-hadis lainnya termasuk ke dalam kelompok hadis yang tidak sejalan
dengan keyakinan Bukhari. Oleh karena itu, dengan sengaja dia pun menghilangkan
sebagian, mengganti atau membuang hadis secara keseluruhan. Persis, sebagaimana
yang telah dilakukannya terhadap hadis tsaqalain, “Kitab Allah dan ‘itrah
Ahlul Baitku …”, yang mana Muslim dan al-Hakim telah mengeluarkannya sesuai
dengan syarat Bukhari. Demikian juga dengan hadis-hadis sahih lainnya yang
Bukhari tidak mampu menjelaskan dan menyimpangkannya, maka dia pun tidak
memasukkannya ke dalam kitab sahihnya. Inilah yang menjadi sebab dasar kenapa
kitab Sahih Bukhari dijadikan sebagai kitab yang paling sahih setelah Kitab
Allah oleh para penguasa. Saya tidak tahu ada sebab lain selain sebab ini yang
dijadikan dasar pertimbangan ini.

 

4. Contoh
Keempat:

Berikut
ini saya ketengahkan kepada Anda suatu peristiwa yang darinya Anda dapat
mengetahui dengan jelas sampai sejauh mana Bukhari secara sengaja
menyelewengkan fakta dan kebenaran. Para ulama Ahlus Sunnah beserta para
huffazhnya, seperti Turmudzi di dalam Sahihnya, al-Hakim di dalam Mustadraknya,
Ahmad bin Hanbal di dalam Mustadraknya, Nasa’i di dalam Khasha’ishnya, Thabari
di dalam Tafsirnya, Jalaluddin as-Suyuthi di dalam tafsirnya ad-Durr
al-Mantsur, Muttaqi al-Hindi di dalam kitabnya Kanz al-‘Ummal, Ibnu Atsk di
dalam kitab Tarikhnya, dan banyak lagi yang lainnya, mereka meriwayatkan,

“Sesungguhnya
Rasulullah saw mengutus Abu Bakar dan memerintahkannya untuk menyeru dengan
kalimat ini, yaitu pengingkaran dari Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah
saw memerintahkan Ali untuk menyusul Abu Bakar dan memerintahkannya untuk menyeru
dengan kalimat yang sama. Maka Ali as berdiri pada hari-hari tasyrig dan
berseru, ‘Sesungguhnya Allah SWT dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang
musyrik. Maka berjalanlah selama empat bulan di muka bumi. Dan setelah tahun
ini tidak boleh ada orang Musyrik yang berhaji, dan tidak boleh ada orang yang
bertawaf dalam keadaan telanjang.’ Abu Bakar ra kembali dan berkata, ‘Apakah
ada ayat yang turun berkenaan denganku?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Tidak.
Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Tidak boleh ada yang menunaikan
tugas ini selain kamu atau seorang laki-laki dari kamu.'”

 

Di sini,
Bukhari menghadapi dilema. Riwayat ini bertentangan sama sekali dengan mazhab
dan keyakinannya. Riwayat ini menetapkan keutamaan Ali as, dan itu pun
keutamaan yang sangat besar, sementara pada saat yang sama riwayat ini
merendahkan Abu Bakar, atau setidaknya tidak menetapkan sesuatu apa pun bagi
Abu Bakar. Bagaimana caranya dia bisa menyelewengkan riwayat ini bagi
kepen-tingan keyakinannya, sehingga dengan begitu dia bisa menetapkan keutamaan
bagi Abu Bakar dan tidak sesuatu pun bagi Ali.

Marilah
Anda perhatikan, bagaimana dengan kelihaiannya Bukhari dapat keluar dari
keadaan yang sulit ini.

 

Bukhari
mengeluarkan di dalam Sahihnya, kitab tafsir al-Qur’an, bab firman Allah SWT
“Maka berjalanlah selama empat bulan di muka bumi”,

Bukhari
berkata, “Humaid bin Abdurrahman telah memberitahukan saya bahwa Abu
Hurairah ra telah berkata, ‘Abu Bakar mengutus saya pada ibadah haji itu ke
dalam kelompok orang yang diutus olehnya pada harian menyembelih kurban di Mina
untuk mengumumkan bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang
berhaji, dan tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang.’
Humaid bin Abdurrahman menambahkan ‘Kemudian Rasulullah saw mengikutkan Ali bin
Abi Thalib as dan memerintahkannya untuk mengumumkan bara’ah (pengingkaran
terhadap orang musyrik). Lalu Abu Hurairah berkata, ‘Maka Ali bin Abi Thalib
pun bersama-sama kami mengumumkan bara ‘ah kepada orang-orang yang sedang ada
di Mina pada harian menyembelih kurban, dan bahwa setelah tahun ini tidak boleh
ada orang musyrik yang berhaji serta tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam
keadaan telanjang.”‘[129]

 

Saya
berikan kesempatan kepada Anda, wahai para pembaca, untuk berkomentar, supaya
Anda dapat melihat sendiri kepada penyimpangan dan pemutar-balikkan ini.

Bagaimana
Bukhari melenyapkan keutamaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib as, dan
sebagai gantinya dia menetapkan keutamaan bagi Abu Bakar, padahal Allah SWT
telah memakzulkannya dengan wahyu yang diturunkan olehNya. Jibril Berkata
kepada Rasulullah saw, “Tidak boleh ada yang menunaikan tugas ini kecuali
kamu atau seorang laki-laki dari kamu.” Kemudian, coba lihat, bagaimana
Bukhari menjadikan urusan ini berada di tangan Abu Bakar, sehingga dengan
begitu Abu Bakar menjadi orang yang memerintah dan menetapkan urusan dengan
kehadiran Rasulullah saw!

Masya
Allah, bagaimana dia merubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.

 

5. Contoh
Kelima:

Muslim
berserikat di dalam sahihnya dengan Ibnu Hisyam dan Thabari di dalam membuang
bagian dari hadis yang mendiskreditkan kedudukan Abu Bakar dan Umar. Setelah
Ibnu Hisyam menukil berita tentang peperangan Badar dan informasi yang sampai
kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya tentang kafilah dagang Quraisy, Ibnu
Hisyam menyebutkan Rasulullah saw mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah.
Ibnu Hisyam berkata, “Rasulullah saw mendapat berita tentang perjalanan
kafilah dagang Quraisy, dan beliau bermaksud mencegat kafilah dagang tersebut.
Maka Rasulullah saw mengajak orang-orang untuk bermusyawarah dan memberitahukan
mereka tentang kafilah dagang Quraisy. Maka berdirilah Abu Bakar ash-Shiddiq
mengatakan sesuatu, lalu Rasulullah saw berkata, ‘Bagus!’ Lalu berdiri Umar dan
mengatakan sesuatu, kemudian Rasulullah saw berkata, ‘Bagus!’ Selanjutnya
Miqdad bin ‘Amr berdiri dan berkata, ‘Ya Rasulullah, berjalanlah sesuai dengan
apa yang telah Allah perlihatkan kepada Anda, niscaya kami bersama Anda. Demi
Allah, kami tidak akan mengatakan kepada Anda sebagaimana yang telah dikatakan
oleh Bani Israil kepada Musa manakala mereka mengatakan, ‘Pergilah kamu berdua
denganmu Tuhanmu dan berperanglah, adapun kami biar duduk di sini saja
menunggu; melainkan kami mengatakan, ‘Pergilah kamu berdua dengan Tuhanmu dan
berperanglah, dan kami pun ikut berperang bersama Anda berdua.’ Demi Zat yang
mengutus Anda dengan kebenaran, meski pun Anda membawa kami ke dalam lautan,
kami akan tetap berperang bersama Anda sehingga Anda sampai kepadanya.’ Maka
Rasulullah saw berkata kepadanya, ‘Bagus!’, dan beliau berdoa untuknya.”

 

Yang
menjadi pertanyaan kita ialah, apa yang dikatakan oleh Abu Bakar dan Umar
kepada Rasulullah saw.

Jika
memang bagus, lalu kenapa Bukhari tidak menyebutkannya. Kenapa Bukhari
menyebutkan apa yang dikatakan oleh Miqdad namun tidak menyebutkan apa yang
dikatakan oleh keduanya?!

Selanjutnya,
marilah kita kembali kepada Muslim, untuk melihat apakah dia juga melakukan hal
yang sama sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibnu Hisyam dan Thabari. Muslim
meriwayatkan, “Rasulullah saw bermusyawarah dengan para sahabatnya
manakala sampai berita kepadanya tentang kedatangan (kafilah) Abu Sufyan..”

Muslim berkata,
“Maka Abu Bakar berkata, namun Rasulullah saw berpaling darinya. Kemudian
berkata Umar, namun Rasulullah saw berpaling darinya… kemudian Muslim
menyebutkan kelanjutan hadis.”[130]

 

Muslim
juga tidak menyebutkan apa yang telah dikatakan oleh Abu Bakaar dan Umar, namun
dia lebih jujur dari Ibnu Hisyam dan Thabari. Karena Muslim mengatakan ,
“Rasulullah saw berpaling darinya”, dan tidak mengatakan, “Bagus!”
Meski pun apa yang telah dilakukannya tetap merupakan kejahatan terhadap hadis.
Karena dia harus menyebutkan perkataan keduanya. Dan keputusannya untuk tidak
menyebutkan perkataan keduanya, menunjukkan adanya kedengkian di dalam perkara
ini. Kenapa Rasulullah saw berpaling dari perkataan keduanya, jika perkataan
keduanya bagus?!

 

Dari kedua
hadis di atas —setelah terbukti secara jelas pemalsuan yang telah mereka
lakukan— menjadi jelas bagi kita bahwa di sana terdapat sesuatu yang tidak
layak bagi kedua Syeikh (Abu Bakar dan Umar —penerj.) yang tidak mereka
sebutkan. Namun, Allah SWT tetap menampakkan cahaya-Nya meski pun orang-orang
kafir tidak suka. Kitab al-Maghazi, karya al-Waqidi, dan kitab Imta’ al-Asma,
karya Muqrizi, menceritakan kisah ini. Setelah kedua kitab ini menyebutkan
khabar di atas, kedua kitab ini menyebutkan, “Maka Umar berkata, ‘Ya
Rasulullah, Demi Allah, sesungguhnya mereka itu bangsa Quraisy. Demi Allah,
kemuliaan mereka belum melemah sejak mereka mulia. Demi Allah, mereka belum
beriman sejak mereka kafir. Dan demi Allah, selamanya mereka tidak akan
menyerahkan kemuliaannya. Mereka pasti akan memerangi Anda, maka oleh karena
itu bersiap sedialah dengan perlengkapan untuk itu.”

 

Dari sini
kita dapat mengetahui kenapa Rasulullah saw berpaling dari perkataan Umar.
Karena perkataan yang dikatakan oleh Umar ini tidak pantas dikatakan oleh
seorang sahabat Rasulullah saw. Bagaimana bisa Umar menyatakan orang musyrikin
Quraisy mempunyai kemuliaan?

Apakah
Rasulullah saw bermaksud hendak menghinakan mereka?

Sungguh
amat disayangkan. Namun, inilah tingkat pengetahuan Umar terhadap Islam, dan
begitu juga tingkat peradabannya.

 

Demikianlah,
Bukhari dan Muslim senantiasa mencampurkan kebenaran dengan kebatilan, dan
mengganti hadis-hadis yang mereka rasakan menjelekkan Abu Bakar dan Umar.

 

Ketiga:

PENULIS,
DAN PERANAN MEREKA DI DALAM MENYELEWENGKAN KEBENARAN

 

Peranan para muhaddis dan sejarahwan mengukuhkan
orang-orang yang datang sesudah mereka, yaitu para penulis. Mereka mengerahkan
segenap usaha mereka untuk memalsukan kebenaran dan menjelek-jelekkan mazhab
Ahlul Bait, dengan menggunakan berbagai macam propaganda dan penyebaran berita
dusta. Mereka para penulis telah memperoleh keberhasilan besar di dalam
memperdalam kebodohan pada diri anggota mazhab mereka, dan memperlebar jurang
di antara mereka dengan pengenalan kepada kebenaran. Mereka telah menggambarkan
Syi’ah dalam rupa yang paling buruk.

Ini semua disebabkan berbagai khurafat dan sangkaan
yang mereka rangkai. Saya tidak mengatakan ini hanya sekedar berupa asumsi,
melainkan saya sendiri pernah mengalami kebodohan ini untuk beberapa waktu. Dan
saya dapat merasakan lebih besar lagi kebodohan saya tersebut manakala hati
saya telah terbuka dan diterangi oleh Allah SWT dengan cahaya Ahlul Bait.

 

Saya menemukan masyarakat saya tenggelam di dalam
timbunan kebodohan dan berbagai kebohongan atas Syi’ah. Setiap kali saya
bertanya tentang Syi’ah, baik yang ditanya itu seorang ulama atau seorang yang
terpelajar, mereka menjawab saya dengan serangkaian kebohongan atas Syi’ah.
Misalnya, mereka menjawab bahwa Syi’ah itu mengatakan Ali adalah Rasul Allah
yang sebenarnya, namun Jibril melakukan kesalahan dan menurunkan risalah kepada
Muhammad. Atau, mereka mengatakan bahwa orang-orang Syi’ah menyembah Ali, atau
kebohongan-kebohongan lainnya yang sama sekali bertentangan dengan kenyataan.
Dan, cobaan yang paling berat dari semua itu ialah manakala kepada Anda
dilontarkan pertanyaan yang mengherankan,

“Apakah orang-orang Syi’ah itu Muslim?”

“Apa perbedaan antara Syi’ah dengan syuyu’iyyah
(komunis)?”

 

Kebodohan akan Syi’ah ini, yang dialami oleh sebagian
besar dari umat Islam, adalah merupakan hasil logis dari segenap usaha dan
kerja keras para penulis, sebagai akibat dari kebodohan yang diterapkan atas
generasi-generasi umat ini, supaya mereka menolak dan tidak mengakui mazhab
Syi’ah. Ini merupakan kelanjutan dari rencana yang telah dimulai sejak dahulu,
dan diteruskan hingga hari ini. Oleh karena itu, Anda dapat menemukan
beratus-ratus buku beracun yang menghujat Syi’ah, yang mereka sebarkan ke
tengah-tengah masyarakat, dan biasanya dibagi-bagikan secara gratis oleh pihak
Wahabi. Alangkah baiknya, jika sekiranya di tengah-tengah atmosfir yang
dipenuhi dengan sikap penentangan terhadap Syi’ah, dibolehkan juga buku-buku
Syi’ah beredar di tengah-tengah masyarakat, sehingga dengan begitu akan
tercipta keseimbangan. Namun, ini tidak terjadi. Cobalah tengok
perpustakaan-perpustakaan Islam dari kalangan Ahlus-Sunnah, mereka jarang
sekali dan bahkan dapat dikatakan tidak sama sekali memuat buku-buku Syi’ah.
Sebaliknya perpustakaan-perpustakaan Syi’ah, baik itu yang untuk dijual maupun
yang terdapat di lembaga-lembaga ilmiah, mereka tidak kosong dari kitab-kitab
dan referensi-referensi rujukan Ahlus-Sunnah, dengan berbagai macam garis dan
pandangannya.

 

Dan yang lebih parah dari semua itu, jika seandainya
Anda memberikan sebuah buku Syi’ah kepada salah seorang dari mereka, mereka
tidak akan membacanya, bahkan mungkin akan membakarnya, dengan alasan bahwa dia
tidak boleh membaca buku-buku sesat.

 

Saya masih ingat bagaimana imam mesjid di desa kami
dengan lantang menyatakan kekufuran dan kesesatan saya, dan melarang semua
orang untuk duduk bersama saya atau membaca buku-buku tulisan saya. Logika
macam apakah ini, yang memberangus manusia dari kebebasannya berpikir. Namun,
memang beginilah siasat kebodohan dan pembodohan yang mereka tempuh.

 

 

Beberapa
Kitab Yang Ditulis Untuk Menentang Syi’ah:

 

1. Muhadharat fi Tarikh al-Umam al-Islamiyyah
(Ceramah-Ceramah Tentang Sejarah Umat Islam), karya al-Khudhari.

2. As-Sunnah wa asy-Syi’ah (Sunnah dan Syi’ah), karya
Muhammad Rasyid Ridha, penulis tafsir al-Manar.

3.   Ash-Shira’
Baina al-Watsaniyyah wa al-Islam (Pertarungan Antara Paganisme Dengan Islam),
karya al-Qashimi.

4.   Fajr
al-Islam wa Dhuha al-Islam (Fajar Islam), karya Ahmad Amin.

5.   Al-Wasyi’ah
fi Naqd asy-Syi’ah (Kumpulan Kritikan Terhadap Syi’ah), karya Musa Jarullah.

6.   Al-Khuthuth
al-‘Aridhah (Jaringan yang luas), karya Muhibuddin Khathab.

7.   Asy-Syi’ah
wa as-Sunnah, asy-Syi’ah wa al-Qur’an, asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, dan asy-Syi’ah
wa at-Tasyayyu”, karya Ihsan Ilahi Zhahir.

8.   Minhaj
as-Sunnah, Ibnu Taimiyyah.

9.   Ibthal
al-Bathil, Fadhl bin Ruzbahan.

10. Ushul
Madzhab asy-Syi’ah, Nashir al-Ghifari.

11. Wa Ja’a Dawr
al-Majus, Abdullah Muhammad al-Gharib.

12. At-Tuhfah
al-Itsna ‘Asyariyyah, ad-Dahlawi.

13. Jawlahfi
Rubu’asy-Syarq al-Adna, Muhaddis Tsabit alMishri.

 

Dan kitab-kitab lainnya yang tendensius. Para ulama
Syi’ah telah menjawab kitab-kitab ini dan kitab-kitab yang semisalnya dengan
jawaban rinci dan cukup.

Anda dapat saksikan adanya perbedaan metode
pembahasan di antara kedua jenis kitab di atas. Anda mendapati kitab-kitab
Syi’ah bertujuan untuk membuktikan dan mengokohkan kebenaran mazhabnya dengan
dalil-dalil yang kuat dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang, yang
bersandar kepada kitab-kitab referensi Ahlus Sunnah, dengan tanpa menyerang
mazhab lain. Adapun kitab-kitab yang berusaha menolak Syi’ah, sejak awal mereka
bertujuan untuk menyerang mazhab Syi’ah dengan berbagai cara, meskipun dengan
cara menuduh dan menciptakan kebohongan-kebohongan.

Banyak sekali bukti-bukti yang mendukung ucapan kami.
Insya Allah, kami akan kemukakan beberapa contoh darinya dalam pembahasan ini.

 

Kitab-Kitab
Syi’ah Yang Menjawab Dan Mengokohkan Kebenaran Mazhabnya

 

1.    Asy-Syafi
fi al-Imamah.

Kitab ini terdiri dari empat jilid. Di dalam kitab ini, penulisnya
Syarif al-Murtadha membuktikan keimamaham sebagai dasar agama, sosial dan
politik. Dia juga membuktikan dengan dalil naql dan akal yang lurus bahwa
keimamahan merupakan keharusan agama dan sosial, bahwasannya Ali as adalah
khalifah sepeninggal Rasulullah saw yang telah ditetapkan dengan nas, dan
barangsiapa yang menentangnya maka berati dia telah menentang kebenaran. Di
dalam kitabnya ini juga Syarif al-Murtadha menjawab seluruh kecurigaan maupun
kesamaran yang dikatakan atau yang mungkin akan dikatakan di seputar masalah
keimamahan, dan kemudian dia menggugur-kannya dengan logika akal dan hujjah
yang cemerlang.[131]

 

2.    Nahj
al-Haq wa Kasyf ash-Shidq, karya Allamah al-Hilli.

Kitab ini membahas sekumpulan masalah berikut ini,

a. Pemahaman (al-Idrak).

b. Pandangan (an-Nazhar).

c.  Sifat-sifat Allah.

d. Kenabian.

e. Keimamahan.

f.  Ma’ad (hari kiamat).

g. Ushul Fikih.

h. Masalah-masalah yang berkaitan dengan fikih.

 

Tampak sekali bagi para pembaca kitab ini bahwa penulisnya adalah
seorang pengkaji yang objektif, yang tidak ta’assub terhadap pandangannya, dan
tidak mendukung salah satu keyakinan pada permulaannya. Dia tidak membahas dan
mencari dalil untuk medukung keyakinannya, melainkan dia menempat-kan pendapat
dan keyakinannya mengikuti Al-Qur’an, serta pendapat dan keyakinannya tunduk kepada
dalil.

Fadhl bin Ruzbahan al-Asy’ari telah menulis sebuah kitab untuk
mengkritik kitab ini, dan memberinya judul Ibthal al-Bathil wa Ihmal Kasyf
al-‘Athil. Namun dia tidak menggunakan metode sebagaimana yang digunakan oleh
Allamah al-Hilli. Dia justru banyak menyerang dan mengecam. Namun, secara
relatif kitab ini dapat dikatagorikan sebagai kitab yang dapat dipegang
hujjahnya dan berisi diskusi ilmiah.

 

3.    Ihqaq
al-Haq, karya Sayyid Nurullah al-Husaini al-Tusturi.

Sebuah kitab yang besar, yang ditulis oleh penulisnya untuk menjawab
kitab Ibthal al-Bathil yang ditulis oleh Fadhl bin Ruzbahan. Kitab lhqaq al-Haq
ini telah diberi catatan oleh Ayatullah Syihabuddin al-Mar’asyi an-Najafi,
sehingga tebalnya mencapai dua puluh lima jilid ukuran besar. Penulis kitab ini
telah melakukan usaha yang besar dan tidak kenal lelah di dalam meneliti dan
mengeluarkan hadis-hadis dan riwayat-riwayat dari kitab-kitab Ahlus Sunnah.
Sungguh, alangkah bagusnya jika kitab ini ditempatkan di tempat-tempat
penyimpanan barang berharga, karena dapat dikatakan sebagai sebuah karya besar,
yang mungkin sebuah tim khusus pun tidak dapat menghasilkannya.

 

4. Jawaban terhadap Fadhl bin Ruzbahan juga diberikan
oleh Allamah al-Mudzaffar, di dalam tiga jilid kitab yang berjudul Dala’il ash-Shidq.
Kitab ini juga merupakan jawaban terhadap kitab Minhaj as-Sunnah, karya Ibnu
Taimiyyah, yang ditulis untuk menjawab Allamah al-Hilli di dalam kitabnya yang
berjudul Minhaj al-Karamah. Namun, Allamah al-Mudzaffar tidak membahas secara
panjang lebar di dalam menjawab Ibnu Taimiyyah. Dia memberikan isyarat di dalam
mukaddimahnya, “Apabila tidak ada kerendahan pada point-point
pembahasannya, kekotoran lidah pada penanya, bertele-telenya ungkapannya, serta
permusuhannya terhadap diri Nabi al-Amin dan anak-anaknya yang suci, maka tentu
layak melakukan pembahasan dengannya.”[132]

 

5.    Ensiklopedia
al-Ghadir, terdiri dari 11 jilid, karya Allamah Abdul Husain al-Amini.

Ini merupakan karya besar yang dipersembahkan oleh penulisnya. Kitab ini
membuktikan kebenaran mazhab Ahlul Bait melalui segenap jalan dan argumentasi.
Yang lebih mengagumkan ialah, bahwa penulisnya telah menghimpun kurang lebih
sembilan puluh empat ribu kitab rujukan Ahlus Sunnah di dalamnya.

Kitab al-Ghadir ini ditujukan untuk menjawab beberapa kitab Ahlus Sunnah
yang ditulis untuk menentang Syi’ah, seperti kitab:

a. al-‘Iqd al-Farid.

b. al-Farq Baina al-Firaq.

c.  al-Milal wa an-Nihal.

d. al-Bidayah wa an-Nihayah.

e. al-Mahshar.

f.  as-Sunnahwaasy-Syi’ah.

h. ash-Shira”.

i.   Fajr al-Islam.

j.   Zhuhr al-Islam.

k. Dhuha al-Islam.

l.   ‘Agidah asy-Syi’ah.

m. al-Wasyi’ah.

n. Minhaj as-Sunnah.

 

Allamah al-Amini telah menjawab mereka dengan baik, dengan menggunakan
dalil-dalil yang terang dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang.

Dia memiliki kelebihan dari sisi kajian yang objektif, yang tidak
cenderung kepada sikap ta’assub.

 

6.    Juga
termasuk salah satu ensiklopedia besar yang membuktikan kebenaran mazhab
Syi’ah, yang menjawab serangan musuh-musuhnya ialah kitab ‘Abagat al-Anwar fi
Imamah al-Aimmah al-Athhar, karya Sayyid Hamid Husain Ibnu Sayyid Muhammad Qili
al-Hindi, namun saya belum mendapatkan naskah aslinya. Saya baru mendapat kitab
ringkasannya yang berjudul Khulashah ‘Abagat al-Anwar, karya Ali Husain
al-Milani. Kitab ini terdiri dari 10 jilid. Kitab ini merupakan jawaban atas
kitab at-Tuhfah al-Itsna ‘Asyariyyah, karya Abdul Aziz ad-Dahlawi, yang
mengkritik keyakinan-keyakinan Syi’ah. Sekumpulan para ulama Syi’ah telah
menjawab kitab at-Tuhfah ini dengan beberapa kitab, yang di antaranya adalah
kitab as-Saif al-Maslul ‘ala Mukhrib Din ar-Rasul, karya Abu Ahmad bin Abdun
Nabi an-Naisaburi, kitab yang terdiri dari empat jilid, yang masing-masing
jilidnya dengan nama Sayyid Deldor Ali Taqi; kitab an-Nazhah al-ltsna
‘Asyariyyah, karya Muhammad Qili, yang terdiri dari sekumpulan beberapa jilid
kitab besar; berikutnya kitab al-Wajiz fi al-Ushul, karya Syeikh Subhan Ali
Khan al-Hindi; dan kitab al-Imamah, karya Sayyid Muhammad bin Sayyid. Sayyid
Muhammad bin Sayyid juga mempunyai kitab jawaban terhadap kitab at-Tuhfah dalam
bahasa Persia, yang berjudul al-Bawariq al-Ilahiyyah.

Dan kitab-kitab lainnya yang merupakan jawaban terhadap ad-Dahlwi, yang
disebutkan oleh penulis kitab adz-Dzari’ah dan kitab A’yan asy-Syi’ah. Dari
kitab-kitab jawaban ini yang terbesar adalah kitab al- ‘Abagat. Tampak dengan
jelas, dari isi kitab ini, kebesaran penulis, ketajaman pandangannya, keluasan
ilmunya, ketelitiannya terhadap berbagai perkataan, dan keamanahannya di
penukilan ilmiah terhadap berbagai pembahasan, dan di dalam metodologinya di
dalam menjawab berbagai kritikan dan sanggahan terhadap argumentasi-argumentasi
yang diajukan.

Dia telah memutus seluruh jalan dan alasan dengan sekuat-kuatnya hujjah
dan sekokoh-kokohnya argumentasi, dan telah menolak berbagai keraguan, sehingga
tidak tersisa lagi celah bagi musuh untuk menikam mazhab Syi’ah, mencela dalil
dan melemahkan hadis. Dia telah menangkis semuanya dengan cara yang paling
baik, dan telah menjawabnya dengan jawaban yang indah, disertai dengan
penelitian yang anggun, penyelidikan yang cekatan, argumentasi yang kokoh,
istidlal Alawi dan kebangkitan Ridhawi, dengan bersandar seluruhnya kepada
kitab-kitab Ahlus Sunnah, dan berargumentasi dengan perkataan pilar-pilar ulama
mereka, di dalam berbagai macam disiplin ilmu.”[133]

 

Untuk melakukan itu dia telah dibantu oleh perpustakaan keluarganya yang
terkenal yang terdiri lebih dari 30 ribu kitab, baik yang berupa kitab cetakan
maupun kitab yang masih berupa transkrif, dari berbagai mazhab dan golongan.
Hingga saat sekarang ini kita belum menemukan adanya kitab jawaban terhadap
kitab al-‘Abaqat, padahal kitab at-Tuhfah telah banyak mendapat jawaban. Adapun
yang pertama menjawab kitab at-Tuhfah adalah Sayyid Deldor Ali di dalam
kitabnya yang berjudul ash-Shawarim alllahiyyah dan kitab Sharim al-hlam.
Lantas kedua kitab Sayyid Deldor itu dijawab oleh Rasyi-duddin ad-Dahlawi,
murid penulis kitab at-Tuhfah, dengan kitabnya yang berjudul asy-Syawkah
al’Umariyyah. Selanjutnya kitab asy-Syawkah al-‘Umariyyah itu dijawab oleh
Baqir Ali dengan kitabnya al-Hamlah al-Haidariyyah. Demikian juga kitab
at-Tuhfah dijawab oleh al-Mirza di dalam kitabnya an-Nazhah al-Itsna
‘Asyariyyah. Lalu salah seorang Ahlus Sunnah menjawab kitab an-Nazhah al-Itsna
‘Asyariyyah dengan kitab Rujum asy-Syayathin. Selanjutnya kitab ar-Rujum
asy-Syayathin dijawab oleh Sayyid Ja’far al-Musawi dengan kitabnya Mu’in
ash-Shadiqin fl Radd Rujum asy-Syayathin.

 

Begitu juga kitab at-Tuhfah dijawab oleh Sayyid Muhammad Qili, ayah
penulis kitab al- ‘Abagat dengan kitabnya yang berjudul al-Ajnad al-Itsna
‘Asyariiyah al-Muhammadiyyah. Selanjutnya kitab tersebut dijawab oleh Muhammad
Rasyid ad-Dahlawi. Lalu Sayyid Muhammad Qili kembali menjawabnya dengan kitab
al-Ajwibah al-Fakhirahfi ar-Radd ‘ala al-Asya’irah, hingga akhrinya polemik ini
disudahi oleh penulis kitab al’Abaqat, dan hingga sekarang belum ada yang
menjawabnya. Ini cukup untuk membuktikan kelemahan dari pihak Ahlus Sunnah.

 

7.    Ma’alim
al-Madrasatain, karya Murtadha al-‘Askari.

Kitab ini merupakan kitab perbandingan di antara madrasah Ahlul Bait
dengan madrasah para khulafa. Penulis kitab ini bersandar kepada sikap objektif
dan kajian ilmiah yang teliti. Kitab ini terdiri dari tiga juz.

 

8.    Kitab
al-Muraja’at (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul
“Dialog Sunnah Syi’ah” —penerj.), karya Abdul Husain Syarafuddin.

Kitab ini merupakan hasil dialog di antara penulisnya dengan Syeikh
al-Azhar, Salim al-Bisyri. Kitab ini terhitung sebagai dialog yang langka, di
mana di dalamnya kedua orang yang berdialog menggunakan metode yang tenang dan
percakapan yang santun. Abdul Husain juga mempunyai banyak kitab lain di dalam
masalah ini, di antaranya adalah kitab an-Nash wa al-ljtihad, kitab al-Fushul
al-Muhimmah fi Ta’lif al-Ummah, kitab al-Kalimah al-Gharra’ fi Tafdhil
az-Zahra, dan kitab Abu Hurairah.

 

Juga terdapat berbagai jawaban dari kalangan ulama
Syi’ah terhadap kitab-kitab Ahlus Sunnah, seperti:

1. Ajwibah Masa’il Jarullah, oleh Abdul Husain
Syarafuddin al-Musawi.

2. Ma ‘a al-Khathibfi Khuthuth al- ‘Aridhah, karya
Luthfullah ash-Shafi.

3. Syubhat Hawla asy-Syi’ah.

4. Kadzib ‘ala asy-Syi’ah.

 

Para Ulama
Ahlus Sunnah Dan Kalangan Terpelajar Mereka Yang Masuk Syi’ah

 

Sekelompok dari kalangan para tokoh Ahlus Sunnah dan
para ulama mereka, telah mampu memutus belenggu dan melampaui hadangan propaganda,
sehingga terbuka bagi mereka berbagai ilmu dan pengetahuan yang lain. Dan,
sebagian dari mereka telah berpindah ke mazhab Syi’ah.

Juga turut bergabung ke dalam iring-iringan ini
beribu-ribu orang yang memiliki pemikiran dan pena yang bebas, baik dahulu
maupun sekarang. Kita tidak mungkin dapat menyebutkan nama mereka satu persatu,
namun kita cukup menyebutkan beberapa orang dari mereka sebagai contoh:

 

1.      Muhaddis
Jalil Abu Nafar Muhammad bin Mas’ud bin ‘Ayasy, yang dikenal dengan panggilan
al-‘Ayasyi. Dia termasuk salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah sebelum menjadi
Syi’ah. Dia juga terhitung sebagai ulama besar Syi’ah Imamiyyah. Dia mempunyai
kitab tafsir al-ma’tsur, yaitu kitab tafsir al- ‘Ayasyi.

 

2.      Syeikh
Muhammad Mar’i al-Amin al-Anthaqi. Dia keluar dari al-Azhar dan menyandang
kedudukan hakim agung di Halab. Dia mempunyai kedudukan di dalam lingkungan
keilmuan dan sosial. Allah SWT telah memberinya petunjuk untuk berpegang kepada
ajaran Ahlul Bait. Dia mempunyai sebuah kitab yang telah dicetak dan
diterbitkan, dengan judul Limadza Ikhtartu Madzhab asy-Syi’ah (Kenapa Saya
memilih Mazhab Syi’ah). Beribu-ribu penduduk kota Halab pun telah ikut menjadi
Syi’ah bersamanya.

 

3.      Syeikh
Salim Bisyri. Dia termasuk ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dia telah memangku
jabatan Syeikh al-Azhar sebanyak dua kali dalam hidupnya. Telah terjadi
berbagai dialog antara dia dengan Abdul Husain Syarafuddin, seorang ulama
Syi’ah. Kemudian hasil-hasil dialog tersebut dikumpulkan di dalam sebuah kitab
yang diberi judul al-Muraja’at (yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan judul Dialog Sunah Syi’ah —penerj.) Dialog yang tenang dan
santun ini telah menjadikan Syeikh Salim Bishri menjadi Syi’ah. Pada permulaan
dialog, Syeikh Salim Bishri telah menyatakan bahwa dirinya tidak ta’assub, dan
ini diungkapkan dalam kata-katanya,

“Sesungguhnya saya hanyalah seorang penyelidik yang rindu akan
kebenaran. Jika kebenaran tampak jelas, maka sesungguhnya kebenaran adalah
sesuatu yang paling berhak untuk diikuti; dan jika tidak, maka sesungguhnya
saya akan mengatakan sebagaimana yang dikatakan orang,

‘Kami rida dengan apa yang ada pada kami dan kamu pun rida dengan apa
yang ada pada kamu, karena pendapat kita berbeda.”[134]

Setelah dilakukan berbagai dialog yang mengungkapkan keilmuan, kebesaran
kedudukan, akhlak dan kesetiaan kedua belah pihak kepada kebenaran, pada akhir
dialog Syeikh Salim Bishri menyatakan, “Sehingga telah berlalu kesamaran,
dan telah jelas kebenaran dari campurannya, serta telah tampak waktu subuh bagi
orang yang mempunyai dua mata. Segala puji bagi Allah atas petunjuk-Nya kepada
agama-Nya, dan atas taufik seruan-Nya kepada-Nya melalui jalan-Nya. Serta salawat
dan salam semoga Allah limpahkan kepadanya dan kepada keluarganya.”[135]

 

4.      Syeikh
Muhammad Abu Rayah. Seorang ulama dan penulis Mesir. Dia mempunyai banyak kitab
dan karya, di antaranya ialah, kitab Adhwa’ ‘ala as-Sunnah al-Muhammadiyyah dan
kitab Abu Hurairah Syeikh al-Mudhirah.

 

5.      Pengacara
Ahmad Husain Ya’qub. Dia seorang penulis Yordania yang menjadi Syi’ah. Dia
mempunyai kitab yang berjudul Nazhariyyah ‘Adalah ash-Shahabah dan kitab
al-Khuthath as-Siyasiyyah li Tawhid al-Ummah al-hlamiyyah.

 

6.      Doktor at-Tijani as-Samawi. Dia seorang
Tunisia yang menjadi Syi’ah. Dia mempunyai sekumpulan kitab, yang di antaranya
ialah, kitab Tsumma Ihtadaitu (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
dengan judul “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” penerj.), kitab Li akuna
Ma’a ash-Shadiqin (juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan
judul “Bersama Orang-Orang Yang Benar” —penerj.), kitab Fas’alu Ahla
adz-Dzikr dan kitab asy-Syi ‘ah Hum Ahlus Sunnah.

 

7.      Seorang
penulis dan sekaligus redaktur, Sayyid Idris al-Husaini, yang berasal dari
Maroko. Dia mempunyai kitab yang masih berupa transkrif yang berjudul Laqad
Tasyayya’ani al-Husain, kitab al-Khilafah al-Mughtashabah dan kitab Hakadza
‘Araftu asy-Syi’ah.

 

8.      Sha’ib
Abdul Hamid. Dia mempunyai kitab yang berjudul Manhaj fi al-Intima’
al-Madzhabi.

 

9.      Sa’id
Ayub. Dia mempunyai kitab yang berjudul ‘Agidah al-Masih ad-Dajjal. Di dalam
permulaan kitabnya dia mengatakan, “Di dalam pembahasan niscaya Anda
mendapati saya berusaha melenyapkan berbagai timbunan yang menutupi kebenaran,
sehingga kebenaran menjadi jelas di hadapan mata dan akal. Yaitu berbagai
timbunan yang telah diletakkan oleh guru-guru kegelapan selama sepanjang
sejarah manusia. Ketika saya memegang cangkul untuk menghilangkan berbagai
rintangan yang menyesatkan, saya mempunyai sarana yang cukup untuk melaksanakan
pekerjaan ini.”[136]
Dia mempunyai juga kitab Ma’alim al-Fitan, yang terdiri dari dua juz.

 

10.    Seorang
penulis Mesir yang bernama Shalih al-Wardani. Dia mempunyai kitab yang berjudul
al-Khuda’ah (Rekayasa), Rihlati Min as-Sunnah Ila asy-Syi’ah (Perjalananku dari
Ahlus Sunnah ke Syi’ah), Harakah Ahlul Bait as, asy-Syi’ahfi Mishr (Syi’ah di
Mesir), dan ‘Aga’id as-Sunnah wa ‘Aqa’id asy-Syi’ah (Akidah Syi’ah dan Ahlus
Sunnah).

 

11. Seorang penulis Mesir yang bernama Muhammad Abdul
Hafidz. Dia mempunyai kitab yang berjudul Limadza Ana Ja’fari (Kenapa Saya
bermazhab Ja’fari).

 

12.    Seorang
penulis Sudan, yaitu Doktor Sayyid Abdul Mun’im Muhammad al-Hasan. Dia
mempunyai kitab yang berjudul Bi Nur Fathimah Ihtadaitu (Dengan Cahaya Fatimah
Saya Mendapat Petunjuk).

 

13.    Syeikh
Abdullah Nashir dari Kenya. Dia menjadi Syi’ah setelah sebelumnya menjadi salah
seorang Syeikh Wahabi. Dia mempunyai berbagai kitab di dalam masalah ini, di
antaranya ialah, asy-Syi’ah wa al-Qur’an, asy-Syi’ah wa al-Hadits, asy-Syi’ah
wa ash-Shahabah, asy-Syi’ah wa at-Taqiyyah dan asy-Syi’ah wa al-Imamah.

 

14.    Yang
mulia al-‘Alim al-Khathib al-Munadzir Sayyid Ali al-Badri. Dia mempunyai jasa
yang besar di dalam menyebarkan mazhab Ahlul Bait as setelah menjadi Syi’ah.
Dia berkeliling dunia melakukan berbagai dialog. Lalu hasil-hasil dialognya itu
dia bukukan ke dalam kitab besar, yang sedang dalam proses pencetakan, dengan
judul Ahsan al-Mawahib fi Haqa’iq al-Madzahib.

 

15.    Seorang
penulis dari Syiria yang bernama Sayyid Yasin al-Ma’yuf al-Badrani. Dia
mempunyai sebuah kitab dengan judul Ya Laita Qawmi Ya’lamun.

 

Contoh-Contoh
Dari Penyelewengan Yang Dilakukan Para Penulis

 

Seluruh kitab yang memberi jawaban terhadap Syi’ah
tidak dimaksudkan kecuali untuk menyerang, mencemarkan, memalsukan dan
menyebarkan tuduhan dan kebohongan. Di samping di dalam men-jawab
keyakinan-keyakinan Syi’ah mereka bersandar kepada kitab-kitab Ahlus Sunnah.
Yang demikian ini bukanlah sesuatu yang objektif di dalam berdialog dan
berargumentasi.

 

Syeikh al-Mudzaffar berkata mengenai hal ini,
“Ketahuilah, sesungguhnya tidak dibenarkan berargumentasi terhadap lawan
kecuali dengan menggunakan argumentasi yang menjadi hujjah atasnya. Oleh karena
itu, Anda dapat melihat penulis —Allamah al-Hilli— dan yang lainnya manakala
mereka menulis argumentasi atas Ahlus Sunnah mereka selalu menyebut hadis-hadis
mereka, bukan hadis-hadis kita. Sementara mereka (Ahlus Sunnah) tidak berpegang
kepada kaidah pembahasan dan tidak meniti jalan dialog sebagaimana yang semestinya.”[137]

 

Mereka juga hanya memberi jawaban terhadap gambaran
umum tentang keyakinan Syi’ah, dengan tanpa menjawab secara logis setiap bagian
dari bagian-bagian mazhab Syi’ah. Sikap yang demikian ini tidaklah adil di
dalam bab keamanahan ilmiah. Oleh karena itu, Anda mendapati Doktor Bashir
al-Ghifari berkata di dalam mukaddimah bukunya yang berjudul Ushul Madzhab
Syi’ah, halaman 15,

“.. Karena sebagian keyakinan ada yang cukup
untuk mengetahuinya hanya dengan semata-mata mengemukakannya. Oleh karena itu,
Syeikh Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa penggambaran mazhab yang batil
telah cukup untuk menerangkan kebatilan mazhab tersebut, dan tidak diperlukan dalil
yang lain yang mengiringi penggambaran tersebut.”

 

Jika apa yang dikatakannya itu benar, maka mau tidak
mau seseorang yang menggambarkan suatu akidah harus mengimani dan mempercayai
akidah tersebut, sehingga dia mempunyai kebebasan yang cukup di dalam
menjelaskan keyakinan-keyakinannya. Sungguh merupakan sebuah kezaliman manakala
suatu pihak masuk untuk menggambarkan keyakinan-keyakinan pihak lain dengan
gambaran yang paling buruk. Apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah adalah
merupakan suatu bentuk pembodohan terhadap pengikut-pengikutnya, manakala
mereka menggambarkan mazhab-mazhab yang bertentangan dengan mereka dengan
gambaran sebagai mana yang mereka kehendaki. Jika ini cukup untuk menjadi
hujjah, maka tentu seorang kafir yang hidup di Eropa yang mempunyai pandangan
yang buruk tentang Islam, sebagai akibat dari gambaran yang diberikan oleh
kalangan orientalis dan para musuh agama, tentu mereka termaafkan. Sungguh,
ucapannya ini lemah, dan metodeloginya salah, sehingga tidak dapat digunakan
untuk berargumentasi. Namun sayangnya memang inilah watak dan kebiasaan mereka.

 

Berikut ini kami ketengahkan beberapa contoh
penyimpangan dan penyelewengan:

 

1.    Kitab Ushul Madzhab ‘ala asy-Syi’ah. Karya
Dr. Nashir Abdullah al-Ghifari
, yang merupakan disertasinya untuk
memperoleh gelar doktor, dari Universitas Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah, dan
dia memperoleh peringkat Summa Cumlaude. Kebohongan-Kebohongannya Atas Syi’ah:

a. Dia mengatakan, “Jadi, Syi’ah memerangi
Sunah. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah dinamakan dengan nama ini disebabkan
mereka mengikuti sunah al-Musthafa saw.”[138]

Kemudian, setelah itu dia berusaha mengeluarkan riwayat-riwayat Syi’ah
yang mewajibkan untuk mengikuti sunah. Dia berkata, “Hanya saja seseorang
yang mempelajari nas-nas Syi’ah dan riwayat-riwayatnya, terkadang dia sampai
kepada kesimpulan bahwa Syi’ah secara zahir mengakui sunah namun secara batin
mengingkarinya. Karena sebagian besar dari riwayat-riwayat dan
perkataan-perkataan mereka mengarah menjauhi sunah sebagaimana yang dikenal
oleh kaum Muslimin, baik dari segi pemahaman, penerapan, sanad dan matan.”[139]

 

Adapun perkataannya yang mengatakan bahwa Syi’ah memerangi sunah,
tidaklah pada tempatnya. Karena kitab-kitab hadis yang ada pada Syi’ah
berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah.
Bahkan, riwayat-riwayat yang ada di dalam kitab al-Kafi saja melebihi
riwayat-riwayat yang terdapat di dalam kitab sahih yang enam (ash-Shihah
as-Sittah). Apalagi bila ditambah dengan beberapa ensiklopedia hadis seperti
Bihar al-Anwar yang mencapai 110 jilid.

Jika Syi’ah memerangi sunah, lantas untuk apa semua ensiklopedia hadis
ini?

Atau, apa yang dimaksud dengan sunah olehnya?

Apakah yang dimaksud adalah riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Ahlus
Sunnah di dalam kitab-kitab sahih mereka?

Jika benar, maka ini merupakan hujjah bagi mereka namun tidak bagi
Syi’ah.

Adapun perkataannya yang mengatakan, “Sesungguhnya sebagian besar
riwayat-riwayat dan perkataan-perkataan mereka mengarah menjauhi sunah
sebagaimana yang dikenal oleh kaum Muslimin…” adalah perkataan yang
aneh. Karena, jika mereka sejak awal sepakat dengan Ahlus Sunriah di dalam
hadis-hadis, baik dari segi sanad, matan, penerapan dan pemahaman, maka tentu
tidak ada alasan untuk berbeda dan berselisih. Syi’ah mengimani sunah
Rasulullah saw dan berpegang teguh kepadanya. Pemonopolian Ahlus Sunnah
terhadap sunah Rasulullah saw adalah sesuatu yang tidak adil.

Kemudian yang kedua, apakah Anda dan kaum Anda merupakan sumbu agama,
sehingga Anda berhak mengukur segala sesuatu dengan diri Anda?! Keadilan
manakah yang mengiyakan perkataan yang seperti ini.

 

b. Penyelewengannya terhadap kebenaran, dengan cara
menukil nas-nas yang dipotong, sehingga merubah arti. Pada akhir mukaddimahnya
dia mengatakan, “Saya bertekad untuk menukil huruf demi huruf, dengan
tujuan untuk menjaga objektifitas dan pentingnya ketelitian di dalam penukilan.
Ini merupakan keharusan metodelogi ilmiah di dalam menukil perkataan pihak
lawan.”

 

Apakah tuan Doktor berpegang teguh kepada apa yang
dikatakannya?

 

▪ Di dalam halaman 252, juz 2, di dalam perkataannya
tentang “melihat Allah” dia menyebutkan sebuah hadis dari Ibnu
Babawaih al-Qummi, dari Abi Bashir, dari Abi Abdillah as. Abi Bashir berkata,
“Saya berkata kepadanya, ‘Beritahukan aku tentang Allah Azza Wajalla,
apakah orang-orang Mukmin akan melihat-Nya pada hari kiamat?’

Abi Abdillah as menjawab, ‘Ya.'”

Dia menukil riwayat ini dari kitab at-Tawhid, halaman
117, namun dia tidak menyebutkan riwayat secara sempurna, sehingga merubah arti
sama sekali. Berikut ini kami ketengahkan riwayat tersebut secara sempurna, dan
silahkan Anda sendiri menilai.

Abi Bashir berkata, “Saya berkata kepadanya,
‘Beritahukan aku tentang Allah Azza Wajalla, apakah orang-orang Mukmin akan
melihat-Nya pada hari kiamat?’

Abi Abdillah as menjawab, ‘Ya. Bahkan mereka telah
melihatNya sebelum hari kiamat.’

Saya bertanya, ‘Kapan?’

Abi Abdillah as menjawab, ‘Ketika Allah SWT berkata
kepada mereka, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu.’ Lalu mereka menjawab, ‘Benar, Kamu
adalah Tuhan kami.’

Kemudian Imam as diam beberapa saat, lalu melanjutkan
perkataannya, ‘Sesungguhnya orang-orang Mukmin pasti melihat Allah di dunia,
sebelum hari kiamat. Bukankah kamu sedang melihat-Nya pada waktu sekarang?’

Abi Bashir berkata, ‘Saya menjadi tebusan Anda,
apakah boleh saya ceritakan tentang hal ini dari Anda.’

Abi Abdillah as menjawab, ‘Tidak. Karena jika kamu
menceritakannya, maka pengingkar yang bodoh akan mengingkari makna yang kamu
katakan, dan akan menganggapnya bahwa itu tasybih (penyerupaan Allah dengan
makhluk-Nya). Padahal, penglihatan dengan hati bukanlah sebagaimana penglihatan
dengan mata. Mahasuci Allah dari apa-apa yang disifatkan oleh orang-orang yang
menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan oleh orang-orang yang
mengingkariNya.”‘

Anda dapat melihat betapa perbedaan di antara arti
yang pertama dengan arti yang kedua. Bahkan, arti yang pertama, berdasarkan
teks riwayat, seluruhnya berasal dari ucapan para musyabbihin dan mulhidin.

Kenapa dia tidak menukil perkataan Imam Muhammad
al-Baqir as tatkala dia ditanya oleh seorang Khawarij. Orang khawarij berkata,
“Wahai Abu Ja’far, apa yang kamu sembah?”

Imam Muhammad al-Baqir as menjawab,
“Allah.”

Orang khawarij itu bertanya lagi, “Apakah kamu
telah melihat-Nya?”

Imam Muhammad al-Baqir as menjawab, “Tentu, akan
tetapi bukan dengan penglihatan mata, melainkan dengan hakikat iman. Dia tidak
dikenal melalui “qiyas, dan tidak dipahami melalui indera. Dia digambarkan
melalui ayat-ayat, dan dikenal melalui dalil-dalil. Tidak ada penyimpangan di
dalam hukum-Nya. Dia itulah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia.”[140]

 

▪ Salah satu bukti lain dari pemotongan riwayat yang
dia lakukan ialah perkataannya tentang kaifiyyah (keadaan) Allah. Dia menukil
sebuah riwayat dari kitab Bihar al-Anwar, yaitu riwayat dari Abi Abdillah
Ja’far ash-Shadiq yang mengatakan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq as ditanya
tentang Allah SWT, “Apakah Allah dapat dilihat pada hari kiamat?”

Imam Ja’far ash-Shadiq as menjawab, “Mahasuci
Allah dari yang demikian itu. Dia Mahatinggi dan Mahabesar. Sesungguhnya
penglihatan tidak dapat menggapai sesuatu kecuali yang mempunyai warna dan
kaifiyyah, sedangkan Allah SWT adalah pencipta warna dan kaifiyyah.”[141]

Nashir Abdullah al-Ghifari memberikan komentar
mengenai hal ini, “Tampak sekali bahwa hujjah yang digunakan oleh mereka,
yang meletakkan riwayat ini atas Ja’far, mengandung penafian wujud al-Hak.
Karena sesuatu yang secara mutlak tidak memiliki kaifiyyah tidak ada
wujudnya.”[142]
Pertama-tama, kita akan memberikan komentar atas kaidah yang dia katakan, dan
kemudian baru kita menyebutkan bukti pemotongan di dalam hadis.

Dia mengatakan, “Sesuatu yang secara mutlak
tidak memiliki kaifiyyah tidak ada wujudnya”.

Dia menyebutkan kaidah ini —yang merupakan sebuah
kaidah yang aneh— sebagai lawan dari hadis Imam Ja’far ash-Shadiq as di atas.
Sungguh, akal yang tidak yang diterangi dengan riwayat Ahlul Bait, dan malah
terdidik dengan riwayat-riwayat Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Manbah, tidak
dapat memahami hadis-hadis Ahlul Bait.

Apa yang dimaksud dengan kata-kata “secara mutlak”
olehnya. Apakah artinya sesuatu yang tidak memiliki kaifiyyah dari seluruh
magulat al-kaif (kategori keadaan)?

Jika yang dia maksud adalah ini, maka benar bahwa
Allah SWT keluar dari maqulat al-kaif. Dia tidak diliputi oleh pertanyaan di
mana, arah mana atau tempat apa. Barangsiapa yang mengatakan Allah SWT
berbentuk dengan salah satu kategori keadaan atau bentuk sebagaimana yang
dikenal, maka dia telah kafir, dan telah mensifati Allah dengan sifat-sifat
materi. Karena kaifiyyah (bentuk) adalah termasuk keharusan jisim dan
keterbatasan, sedangkan Allah SWT tidak terbatas dan bukan materi. Inilah
kesalahan saudara penulis. Tatkala dia membayangkan Allah SWT dengan bercorak
dengan satu keadaan, maka ini kembali kepada pemahamannya yang bersifat inderawi.
Dia tidak mampu memahami sesuatu kecuali dalam batas-batas inderawi, oleh
karena itu dia mengingkari wujud setiap maujud yang keluar dari kerangka kaif.

Atau, mungkin yang dimaksud olehnya adalah kaif yang
keluar dari maqulat al-kaif (kategori keadaan) yang sudah dikenal, maka ini
tidak dinamakan kaif, sehingga dengan begitu perkataannya tidak mengena.

Kemudian dia menyebutkan sebagian riwayat, untuk
menguatkan perkataannya dan sekaligus untuk membuktikan pertentangan yang
terjadi di dalam riwayat-riwayat Syi’ah. Dia berkata, “Sebagaimana hadis
ini bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh penulis al-Kafi, dari Abi
Abdillah as yang berkata, ‘… namun mau tidak mau kita harus membuktikan bahwa
Dia mempunyai kaifiyyah yang tidak layak atasnya selain dari-Nya, tidak ada
yang bersekutu dengan-Nya di dalamnya, tidak ada sesuatu selain Dia yang
meliputinya, dan tidak ada yang mengetahuinya selain Dia.'”[143]

 

Berikut ini kami nukilkan riwayat tersebut secara
keseluruhan, supaya terbukti bagi Anda sesuatu yang bertentangan dengan apa
yang dia katakan, Seorang penanya berkata, “Anda telah membatasi-Nya jika
Anda menetapkan wujud-Nya.” Abu Abdillah as berkata, “Aku tidak
membatasi-Nya melainkan aku menetapkan-Nya. Karena tidak ada kedudukan di
antara penafian dan penetapan.” Penanya bertanya lagi, “Apakah Dia
mempunyai esensi?” Abu Abdillah as menjawab, “Ya, karena tidak
tertetapkan sesuatu kecuali dengan esensi. Mau tidak mau kita harus keluar dari
penghentian (ta’thil) dan penyerupaan (tasybih). Karena barang siapa yang
menafikan-Nya maka berarti dia telah mengingkari-Nya dan meniadakan
ke-rububiyyahan-Nya. Dan barang siapa yang menyerupakan-Nya dengan sesuatu selain-Nya
maka berarti dia telah menetapkan-Nya dengan sifat-sifat makhluk yang tidak
layak menyandang sifat ketuhanan. Namun, mau tidak mau harus ditetapkan bahwa
Dia mempunyai kaifiyyah yang tidak layak atasnya selain dari-Nya, yang tidak
ada yang bersekutu dengan-Nya di dalamnya, yang tidak ada sesuatu selain-Nya
yang meliputinya dan tidak ada yang mengetahuinya selain-Nya.”[144]

Baca dan renungilah makna yang dapat diambil dari
riwayat ini. Sungguh dia berbeda sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh
Nashir Abdullah al-Ghifari yang mengatakan, “Sesuatu yang secara mutlak
tidak mempunyai kaifiyyah, berarti tidak ada wujudnya.” Perkataan Imam kepada
penanya yang menanyakan “Apakah Dia mempunyai kaifiyyati’, dan Imam
menjawab, “Tidak”, adalah merupakan jawaban atas kaidah yang
dilandasi dengan hadis yang dipotong. Kaifiyyah yang dimaksud dan diyakini oleh
penulis adalah kaifiyyah yang termasuk ke dalam sifat-sifat maudhu’. Imam as
telah mensucikan Allah dari sifat-sifat yang demikian dengan jawaban yang
di-berikannya kepada penanya, “Karena kaifiyyah adalah sisi sifat dan
keterliputan.” Yang demikian ini tidak berlaku atas Allah SWT. Sedangkan
kaifiyyah yang dikatakan oleh Imam as pada akhir hadis, “kaifiyyah yang
tidak ada yang berhak atasnya selain dari-Nya, yang tidak ada sesuatu yang
bersekutu dengan-Nya di dalamnya…” adalah kaifiyyah yang kalau pun
dinamakan dengan nama kaifiyyah, itu adalah hanya semata-mata kiasan,
disebabkan kekurangan kata-kata bahasa.

Dan dia tidak dinamakan dengan sebutan kaifiyyah
kecuali semata-mata termasuk ke dalam bab persekutuan kata (al-isytirak
al-lafdzi), sehingga dia sama dari sisi kata namun berbeda dari sisi arti.

Riwayat ini juga telah diriwayatkan oleh Ibnu
Babawaih al-Qummi dengan sanad dan matan yang sama, “… namun mau tidak
mau harus ditetapkan bahwa Dia adalah Zat yang tidak ber-kaifiyyah, yang tidak
layak atasnya selain dari-Nya, yang tidak ada yang bersekutu dengan-Nya di
dalamnya, yang tidak ada sesuatu selain Dia yang meliputinya, dan yang tidak
ada yang mengetahuinya selain Dia.”[145]

Riwayat ini menghilangkan kesamaran dan menjelaskan
seluruh yang dimaksud. Yaitu menafikkan seluruh kaifiyyah. Karena menetapkan
kaifiyyah untuk Allah SWT adalah perbuatan tasybih (menyerupakan Allah dengan
makhluk-Nya). Adapun yang dimaksud darinya ialah menetapkan seluruh sifat-sifat
kesempurnaan-Nya, dan itu adalah Zat-Nya itu sendiri.

 

2.
Ihsan Ilahi Zahir
.

Dia termasuk salah seorang penulis yang amat memusuhi
Syi’ah. Dia mempunyai sejumlah buku jawaban atas Syi’ah, dan saya mempunyai
empat buku darinya:

– Asy-Syi’ah wa as-Sunnah.

– Asy-Syi’ah wa Ahlul Bait.

– Asy-Syi’ah wa al-Qur’an.

– Asy-Syi’ah wa at-Tasyayyu’.

Dia telah menggunakan seluruh kemampuannya untuk
menjawab dan menyerang pemikiran-pemikiran Syi’ah. Alangkah indahnya jika
sekiranya dia bersikap bersih, jujur dan santun. Dia telah membuat
kebohongan-kebohongan atas Syi’ah sedemikian rupa sehingga menjadikan anak-anak
menjadi beruban dan orang-orang dewasa menjadi tua renta. Saya mengajak seluruh
orang yang berakal lurus untuk membaca buku-bukunya, lalu silahkan menilai
metode yang digunakannya, kemudian melihat kebohongan-kebohongannya, dan
berikutnya menyaksikan pemalsuannya, setelah sebelumnya terlebih dahulu merujuk
kepada buku-buku Syi’ah yang berbicara tentang topik pembahasan yang sama.

 

Di sini saya cukup kan dengan menyebutkan beberapa
bukti. Karena tidak diperlukan jawaban dan pembahasan secara rinci. Sebelum
saya menjeleskan berbagai pemalsuan yang dilakukannya terhadap ke-benaran,
terlebih dahulu saya akan memberikan dua catatan singkat tentang cara penjelasan
dan metode penyampaian pikiran yang dilakukannya:

 

a. Catatan Pertama: Di dalam menjelaskan dan
mengemukakan keyakinan-keyakinan Syi’ah dia bertumpu kepada cara-cara yang
tidak layak dan dengan menggunakan judul-judul yang menjijikkan, sehingga
dengan begitu dia menciptakan tabir pemisah di antara pembaca dengan
keyakinan-keyakinan Syi’ah. Seharusnya dia mengikuti cara-cara yang sehat di
dalam menjawab, yaitu dengan pertama-tama menyebutkan keyakinan-keyakinan
Syi’ah, lalu menyebutkan dalil-dalil mereka serta menjawab dalil-dalil yang
mereka kemukakan, dan berikutnya kemudian berargumentasi atas keyakinan yang
dimilikinya.

Sebagai contoh, dia mengatakan di dalam bukunya asy-Syi ‘ah wa
as-Sunnah, halaman 53, di bawah judul “Masalah al-Bada”, “Salah
satu dari pemikiran yang disebarkan oleh orang-orang Yahudi dan Abdullah bin
Saba ialah berlakunya al-bada, yaitu lupa dan kebodohan pada Allah SWT.
Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan.”

Kemudian, Dia menyebutkan riwayat-riwayat dari kitab-kitab Syi’ah mengenai
seputar al-bada, dengan tanpa menyebutkan dalil-dalil yang dikemukakan Syi’ah
tentang al-bada, baik yang berasal dari Al-Qur’an, riwayat-riwayat Bukhari dan
Muslim, perkataan-perkataan para ulama Ahlus Sunnah dan akal; dan dengan tanpa
menjelaskan bagaimana pemahaman Syi’ah tentang al-bada, melainkan dia justru
mendefenisikannya sendiri dengan menyebutnya sebagai “bodoh dan
lupa”. Lalu, dengan berpijak kepada defenisi yang salah ini, dia mulai
memberikan penafsiran kepada riwayat-riwayat Syi’ah yang berbicara tentang
al-bada. Hal yang sama pun dia lakukan terhadap masalah tagiyyah. Dia
menyebutkannya di dalam halaman 127, di bawah judul “Syi’ah dan
Kebohongan”. Dia memulai perkataannya, “Syi’ah dan kebohongan tidak
ubahnya seperti dua kata yang searti (sinonim), yang tidak ada perbedaan
sedikit pun di antara keduanya. Keduanya saling bertalian sejak hari pertama
didirikannya mazhab ini. Tidaklah permulaan mazhab ini melainkan dimulai dari
kebohongan dan dengan kebohongan…”

 

Kemudian dia berdalih, “Oleh karena Syi’ah merupakan produk
kebohongan, maka mereka pun memberi warna pensucian dan pengagungan terhadap
kebohongan, dan menamakannya bukan dengan namanya, melainkan dengan menggunakan
kata “taqiyyah” untuk menyebutnya..”

 

Demi Allah, saya bertanya kepada Anda, hai Ihsan Ilahi Zahir, cara
apakah ini yang Anda gunakan di dalam pembahasan ilmiah ini. Ini tidak lain
semata-mata hanya penyerangan dan pengolok-olokkan. Bagaimana bisa dia
menafsirkan tagiyyah dengan kebohongan? Padahal Al-Qur’an sendiri telah
menggunakan kata ini. Allah SWT berfirman,

“Janganlah
orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan
meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah
dia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat memelihara diri (taqiyyah)
dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. ”

(QS. Ali
Imran: 28)

 

Sementara pada ayat yang
lain Al-Qur’an al-Karim menyebutnya secara makna,

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah
dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir
padahal hatinya tetap tenang dalam beriman.” (QS. an-Nahl: 106)

 

Tagiyyah, ialah berarti menyembunyikan keimanan dan
menampakkan kebalikannya, manakala seseorang mengkhawatirkan atas dirinya,
hartanya dan kehormatannya. Dan ini merupakan sesuatu yang tidak
dipermasalahkan oleh seorang Muslim pun. Karena orang yang dipaksa tidak
dihisab atas sesuatu yang dipaksakan atasnya. Bahkan terkadang seseorang wajib
melakukan taqiyyah manakala jika dia tidak melakukan taqiyyah hal itu akan
membahayakan orang lain atau membahayakan kepentingan agama. Hal ini
sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang Mukmin keluarga Fir’aun. Karena,
pada keadaan terpaksa hukum tidak berlaku atas maudhu’ (objek hukum).

Allah SWT berfirman,

“Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada
dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.”

(QS. al-Baqarah: 173)

 

Apa yang disampaikan oleh
Ihsan Ilahi Zahir dalam masalah ini tidak lain hanyalah merupakan rekayasa dan
tipu muslihat yang licik. Dia menjelaskan tagiyyah dengan kebohongan, dan
kemudian menganggapnya sebagai sebuah kebenaran yang tidak diragukan. Ketika
pengertian yang disampaikannya ini tertanam di dalam benak pembaca, dengan
segera dia membanjiri para pembaca dengan riwayat-riwayat Syi’ah yang berbicara
tentang taqiyyah.

Sehingga dengan demikian,
pembaca meletakkan kata “bohong” pada tempat kata
“taqiyyah”. Sehingga dengan begitu pembaca akan keluar dengan
makna-makna yang menjadikannya benci dari segala sesuatu yang dikatakan Syi’ah.

 

Saya tidak sedang menolak
atau membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh Syi’ah, karena dia —Ihsa
Ilahi Zahir— bukan-lah seorang ahli diskusi dan argumentasi. Dia tidak
menyebutkan satu pun argumentasi yang menentang, sehingga perlu untuk dijawab.
Yang menjadi fokus perhatian kita ialah hanya metode penyampaiannya saja.

 

b. Catatan
Kedua: Tidaklah logis jika sekiranya Anda memperolok-olok dan menghakimi
keyakinan orang, hanya karena semata-mata keyakinannya itu bertentangan dengan
keyakinan-keyakinan Anda. Namun sungguh amat disayangkan, itulah metode dia dan
metode penulis-penulis lainnya. Mereka mengatakan, segala sesuatu yang berbeda
dengan kita adalah salah. Salat mereka tidak sama dengan salat kita, puasa
mereka berbeda dengan salat kita, dan zakat mereka tidak sama dengan zakat
kita.

 

Seolah-olah mereka adalah
sumbu agama dan para pemimpin kaum Muslimin, yang mau tidak mau segala sesuatu
harus berputar di sekelilingnya. Mereka melanggar kaidah yang mengatakan,
“Kita senantiasa bersama dalil, kami condong ke mana pun dalil
condong.”

Ini bertentangan dengan
metode yang digunakan oleh Al-Qur’an di dalam melakukan pembahasan dan dialog
ilmiah, yang mengakui kedua belah pihak. Allah SWT dan Rasul-Nya tahu bagaimana
berbicara kepada orang-orang kafir dan orang-orang musyrik.

Allah SWT berfirman,
“Kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau
dalam kesesatan yang nyata. ” (QS. Saba: 25)

Perhatikanlah perlakuan
santun yang indah ini. Al-Qur’an tidak mengatakan kepada mereka bahwa
sesungguhnya kami berada dalam kebenaran sedangkan kamu berada dalam kesesatan.
Melainkan Al-Qur’an mengatakan, apakah kami atau kamu berada dalam kebenaran
atau kebatilan. Inilah metode al-Qur’an tatkala menawarkan kebebasan berdialog
kepada semua, “Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu
adalah orang yang benar.'” (QS. al-Baqarah: 111)

Rasulullah saw mendengarkan
argumentasi-argumentasi mereka dan menjawabnya dengan cara yang paling bagus.
Al-Qur’an al-Karim telah merekam contoh yang banyak, baik yang bersama
Rasulullah saw maupun yang bersama para Nabi sebelumnya. Di dalam kisah Ibrahim
dan Namrud, serta Musa dan Fir’aun terdapat sebaik-baiknya pelajaran. Allah SWT
merekam hujjah dan argu-mentasi orang-orang di dalam Al-Qur’an-Nya, dan Dia
tetap mem-berikan kesucian kepada ayat-ayat yang merekamnya sebagaimana kepada
ayat-ayat lainnya. Seorang Muslim tidak boleh menyentuhnya dengan tanpa wudu,
berdasarkan fiqih Syi’ah.

 

Kemana Ihsan Ilahi Zahir
dan orang-orang yang sepertinya dari menggunakan metode Al-Qur’an yang indah
ini. Dia bangga dengan dirinya dan kelompoknya sambil mengatakan, “Kamilah
para pembaca Al-Qur’an yang membacanya sepanjang malam dan siang.”[146]

Apa faedah orang yang
membaca Al-Qur’an namun tidak mentadabburi ayat-ayatnya, dan mengambil
pelajaran yang dapat membukakan jalan baginya di dalam kehidupan, serta
bertanya kepadanya bagaimana memperlakukan orang lain yang menentang dirinya di
dalam masalah akidah dan mazhab. Sungguh benar Imam Ali tatkala mengatakan,
“Betapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an namun Al-Qur’an melaknatnya.

 

Contoh-Contoh Dari Pemalsuan
Ihsan Ilahi Zahir

 

▪ Dia
menukil di dalam kitabnya asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, halaman 40, sebuah teks
dari Imam Ali as di dalam kitab Nahjul Balaghah, untuk membuktikan bahwa Imam
Ali as mengakui syura dan tidak mengakui nas, dan bahwa syura orang-orang
Muhajir dan orang-orang Anshar adalah diridai oleh Allah, serta kepemimpinan
tidak dapat terlaksana dengan tanpa mereka. Ini merupakan kesimpulan yang dia
ambil dari teks Imam Ali as, dan sebagaimana yang Anda ketahui ini jelas-jelas
bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Syi’ah. Berikut ini teks yang
menjadi tempat dia mengambil kesimpulan di atas,

 

“Adapun hak musyawarah hanyalah bagi kelompok
Muhajirin dan Anshar. Bila mereka telah sepakat memilih seseorang dan
menamakannya sebagai Imam, maka yang demikian itulah yang diridai Allah SWT.
Dan bila setelah itu ada orang yang keluar dari kesepakatan dengan tidak
mengakuinya lalu menimbulkan kekacauan, maka mereka itu akan memaksanya agar
kembali. Dan bila dia menolak, mereka pun akan memeranginya atas dasar
penyimpangan dari jalan kaum Mukmin, sementara Allah akan memusuhi selama dia
berpaling.”

 

Setelah
saya merujuk kepada sumber rujukan, tampak jelas bahwa laki-laki ini tidak
jujur di dalam penukilannya. Dia hanya mengambil bagian tengah perkataan yang
diinginkannya dan meninggalkan bagian awal dan akhirnya, sehingga dengan begitu
dia memalsukan dan menyelewengkan kebenaran dan fakta.

Berikut
ini teks yang berubah pemahamannya secara keseluruhan. Apa yang dikatakan oleh
Imam Ali as ini adalah termasuk bab memaksa lawan dengan apa yang telah mereka
paksakan untuk diri beliau. Ini merupakan kutipan surat Imam Ali as yang
ditujukan kepada Muawiyah,

 

“Sesungguhnya aku telah dibaiat oleh
orang-orang yang sebelumnya telah membaiat Abu Bakar, Umar dan Usman atas dasar
yang sama seperti rnereka itu. Maka tiada lagi pilihan lain bagi yang hadir,
dan tiada lagi hak menolak bagi yang tidak hadir.

Adapun hak musyawarah hanyalah bagi kelompok
Muhajirin dan Anshar. Bila mereka telah sepakat memilih seseorang dan
menamakannya Imam, maka yang demikian itulah yang diridai Allah SWT. Dan bila
setelah itu ada orang yang keluar dari kesepakatan dengan tidak mengakuinya
lalu menimbulkan kekacauan, maka mereka itu akan memaksanya agar kembali. Dan
bila dia menolak, mereka pun akan memeranginya atas dasar penyimpangannya dari
jalan kaum Mukmin, sementara Allah akan memusuhinya selama dia berpaling.

Demi Allah, wahai Muawiyah, sekiranya Anda melihat
dengan mata hati, bukannya dengan hawa nafsu, niscaya akan Anda sadari bahwa
aku adalah yang paling tidak berdosa dalam soal pembunuhan terhadap Usman. Dan
Anda pasti akan merasa yakin bahwasannya aku berada jauh dari itu. Kecuali Anda
memang sengaja ingin melekatkan kejahatan pada seseorang yang tidak
melakukannya. Maka perbuatlah apa saja yang Anda ingin perbuat. Wassalam.”[147]

 

Amirul
Mukminin as berhujjah atas Muawiyah dengan hujjah yang sama yang diajukan oleh
Muawiyah dan para pengikutnya pada saat berhujjah mengenai keabsahan
kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman. Imam Ali as memaksa Muawiyah dengan
hujjah yang sama sebagaimana yang pernah diajukan oleh Muawiyah. Imam Ali as
berkata, Jika baiat para khalifah sebelumku itu sah, maka demikian pula bait
kepadaku. Manusia telah membaitku, dan tidak ada jalan bagi seseorang untuk
mengingkarinya setelah itu. Seseorang yang menyaksikan baiat tiada lagi
mempunyai hak untuk memilih, sebagaimana yang telah terjadi di dalam pembaiatan
Umar, setelah Abu Bakar menentukannya. Mereka tidak mempunyai hak memilih
setelah Abu Bakar menentukannya. Serta orang yang tidak hadir tidak bisa
menolak, sebagaimana Imam as tidak bisa menolak pembaiatan Abu Bakar di
Saqifah. Karena pembaiatan itu dilakukan secara tersembunyi. Inilah musyawarah
sebagaimana yang Anda dengung-dengungkan. Baik itu pada kepemimpinan Abu Bakar,
Umar maupun Usman. Itulah keridaan Allah sebagaimana yang Anda katakan. Maka
tidak boleh seseorang keluar dari kesepakatan itu, karena jika tidak maka
mereka akan memaksanya untuk kembali, sebagaimana yang telah mereka lakukan
terhadap orang-orang yang menahan zakat manakala mereka tidak mau membayarkan
zakat kepada Abu Bakar, karena dia bukan merupakan khalifah yang sah dalam pandangan
mereka. Kamu tidak mempunyai jalan untuk lari, wahai Muawiyah, karena
orang-orang telah sepakat membaiatku. Kecuali jika Anda memang sengaja ingin
melekatkan kejahatan kepada orang yang tidak melakukannya. Maka perbuat lah apa
saja yang Anda ingin perbuat.

Inilah
arti yang dapat disimpulkan dari serangkaian kalimat di atas, namun ini tidak
sejalan dengan hawa nafsu Ihsan Ilahi Zahir.

 

▪ Dia
menyebutkan di dalam bukunya sebuah hadis yang dinisbahkan kepada Imam Hasan
al-Askari yang berkata, “Sesungguhnya seseorang yang membenci keluarga
Muhammad, dan para sahabatnya yang baik-baik, atau salah seorang dari mereka,
niscaya Allah SWT akan mengazabnya dengan sebuah azab, yang kalau sekiranya
azab itu dibagi-bagi sebanyak bilangan makhluk Allah, maka akan membinasakan
seluruh mereka.”[148]

Kemudian
Ihsan Ilahi Zahir melanjutkan, “Oleh karena itu, datuk besarnya, Ali bin
Musa, yang dijuluki dengan sebutan arRidha -Imam yang kedelapan di kalangan
Syi’ah— manakala ditanya tentang sabda Rasulullah saw yang berbunyi,
“Sahabat-sahabatku laksana bintang gemintang, maka siapa saja dari mereka
yang kamu ikuti pasti kamu mendapat petunjuk”, dan juga tentang sabdanya
yang berbunyi, “Seru para sahabatku untukku”, dia menjawab, “Ini
benar.”[149]

 

Dia ingin
berargumentasi dengan hadis ini bahwa pandangan Ahlul Bait terhadap sahabat
adalah pandangan yang mengakui keadilan para sahabat seluruhnya, sehingga
dengan demikian Syi’ah tidak berhak mencela atau mengkritik seorang pun dari
mereka, karena yang demikian itu berarti bertentangan dengan para Imam mereka.

Renungkanlah
kebohongan yang jelas ini manakala saya nukilkan kepada Anda seluruh teks hadis
di atas,

“Perawi berkata, ‘Ayahku berkata kepadaku,
‘Seseorang telah berkata, ‘lmam Ali ar-Ridha telah ditanya tentang sabda Nabi
saw yang berbunyi, ‘Sahabat-sahabatku laksana bintang gemintang, maka siapa
saja dari mereka yang kamu ikuti pasti kamu mendapat petunjuk”, dan juga
sabdanya saw yang berbunyi, ‘Serulah para sahabatku untukku’. Imam ar-Ridha as
menjawab, ‘Hadis ini benar. Yang Rasulullah saw maksudkan adalah mereka yang
tidak berubah sepeninggalnya.’ Kemudian Imam ar-Ridha as ditanya lagi,
‘Bagaimana Rasulullah saw tahu bahwa mereka akan berubah?’ Imam ar-Ridha as
menjawab, ‘Berdasarkan apa yang telah mereka riwayatkan bahwa Nabi saw telah
bersabda, ‘Sekelompok orang dari sahabatku akan diusir dari telagaku pada hari
kiamat, sebagaimana diusirnya sekelompok unta dari sumber air. Maka aku
berkata, ‘Ya Rabb, sahabatku, sahabatku.’ Lalu aku dijawab, ‘Engkau tidak tahu
apa yang telah mereka lakukan setelah ketiadaanmu.’ Maka mereka pun digiring ke
arah utara. Lalu aku mengatakan, ‘Enyahlah, enyahlah mereka yang telah berubah
setelah ketiadaanku.'”[150]

 

Lihatlah
pengkhianatan yang dia lakukan di dalam penukilan hadis, bagaimana dia mengubah
pengertiannya secara keseluruhan.

Bukankah
saya telah katakan kepada Anda bahwa dia (Ihsan Ilahi Zahir —penerj.) itu
seorang pendusta?!

 

Perkataan
Imam ar-Ridha as yang berbunyi “Berdasarkan apa yang telah mereka
riwayatkan”, yang dimaksud olehnya adalah apa yang diriwayatkan oleh para
muhaddis dan para huffadz dari kalangan Ahlus Sunnah. Untuk membuktikan
kebenaran perkataan Imam ar-Ridha as saya nukilkan bagi Anda beberapa riwayat
yang terdapat di dalam Bukhari dan Muslim.

 

Bukhari
meriwayatkan di dalam tafsir surat al-Maidah, bab “Wahai Rasul, Sampaikan
Apa Yang Telah Diturunkan Kepadamu”, dan di dalam tafsir surat al-Anbiya;
sebagaimana juga diriwayatkan oleh Turmudzi di dalam bab sifat-sifat kiamat,
bab “apa yang terjadi berkenaan dengan kebangkitan, dan juga tafsir surat
Thaha, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Didatangkan sekelompok orang
dari umatku, lalu mereka digiring ke arah utara, maka aku berkata, ‘Tuhanku,
sahabatku, sahabatku’, lalu dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang telah mereka
lakukan setelah ketiadaanmu.’ Maka aku berkata sebagaimana yang dikatakan oleh
seorang hamba yang saleh, ‘Saya menjadi saksi atas mereka selama saya berada di
tengah-tengah mereka, dan tatkala Engkau wafatkan aku, maka Engkaulah pengawas
atas mereka.’ Kemudian dijawab, ‘Sesungguhnya mereka berbalik ke belakang
(murtad) sejak engkau berpisah dari mereka.”‘

Bukhari
meriwayatkan di dalam kitab “ad-Da’wat”, bab Haudh; serta Ibnu Majah
di dalam kitab “al-Manasik”, bab “Khutbah Pada Hari Menyembelih
Kurban”, hadis nomer 5830; sebagaimana juga Ahmad meriwayatkan di dalam
musnadnya melalui berbagai jalan,

“Serombongan
sahabatku mendatangiku di telaga. Hingga ketika aku mengenali mereka, mereka
dihilangkan dariku, maka aku pun berkata, ‘Sahabatku’. Lalu dijawab, ‘Kamu
tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sepeninggalmu.'”

 

Di dalam
Sahih Muslim, kitab al-Fadha’il, bab “Pembuktian Telaga Nabi Kita”,
hadis 40, disebutkan, “Sekelompok orang yang telah bersahabat denganku
datang menemuiku di telaga. Hingga tatkala aku melihat mereka, mereka pun
dipisahkan dariku, lalu aku berseru, ‘Ya Tuhan, sahabatku.’ Kemudian aku
dijawab, ‘Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka lakukan
sepeninggalmu.'”

Bukhari
juga meriwayatkan, “Aku akan mendahului kalian di telaga haudh. Siapa yang
berlalu dariku dia akan minum dan siapa yang telah minum tidak akan dahaga untuk
selama-lamanya. Kelak ada sekelompok orang yang aku kenal dan mereka juga
mengenalku datang kepadaku; kemudian mereka dipisahkan dariku. Aku akan
berkata, ‘Sahabatku, sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang telah
mereka lakukan sepeninggalmu.’ Dan aku pun berkata, ‘Enyahlah, enyahlah mereka
yang telah berubah setelah ketiadaanku.'”

 

Jika tidak
khawatir akan keluar dari topik pembahasan, niscaya saya akan berbicara secara
panjang lebar tentang masalah ini.

Ya Ihsan
Ilahi Zahir, jika Anda sanggup menjulurkan tangan Anda untuk menyelewengkan
apa-apa yang terdapat di dalam hadis-hadis Syi’ah, namun Anda tidak akan bisa
menyelewengkan apa-apa yang terdapat di dalam kitab-kitab sahihmu.

 

▪ Pada
halaman 66, dari buku yang sama, Ihsan Ilahi Zahir menukil sebuah perkataan
Imam Ali as dari kitab Nahjul Balaghah. Berikut ini apa yang dikutipnya,

“Tinggalkanlah
aku, dan pergilah kepada orang lain selainku. Aku seperti salah seorang dari
kamu. Mungkin aku akan mendengar dan mentaati kepada orang yang kamu serahkan
urusanmu kepadanya. Aku menjadi pembantu (wazir) kamu, itu lebih baik bagimu
dibandingkan aku menjadi pemimpinmu.”

 

Ketika
saya merujuk kepada sumber nas yang disebutkan, saya menemukan rekayasa dan
tipu daya yang dilakukannya. Karena dia hanya mengambil permulaan dan akhir
nas, dan membuang pertengahannya, sehingga dengan begitu maknanya menjadi
berubah. Berikut ini saya nukilkan bagi Anda bunyi nas secara lengkap,

Imam Ali
as berkata tatkala orang-orang hendak membaiatnya, setelah terjadi peristiwa
pembunuhan Usman,

 

“Tinggalkanlah aku, dan pergilah kepda orang
lain selainku. Kita sedang menghadapi suatu hal yang mempunyai (beberapa) wajah
dan warna, yang tidak ditanggung oleh hati dan tidak dapat diterima oleh akal.
Awan sedang menggelantung di langit dan wajah-wajah tidak dapat dibedakan. Kamu
seharusnya tahu bahwa apabila aku menyambutmu, aku akan memimpinmu sebagaimana
yang aku ketahui, dan tidak akan memusingkan apa pun yang mungkin dikatakan dan
dicercakan orang. Apabila kamu meninggalkan aku, maka aku akan menjadi seperti
salah seorang dari kalian.

Mungkin aku akan mendengar dan mentaati kepada orang
yang kamu serahkan urusanmu kepadanya. Akan akan menjadi pembantu (wazir) kamu,
itu lebih baik bagimu dibandikan aku menjadi pemimpinmu.”[151]

 

Lihatlah
nas yang telah dibuangnya. Betapa maknanya menjadi berubah sama sekali dengan
tanpa mencantumkannya. Perbuatan yang demikian ini, disebut apa, wahai Ihsan?!
Siapa yang telah berdusta atas Ahlul Bait?!

Yang
termasuk kebohongan bukan hanya Anda mengatakan sesuatu lalu Anda
menisbahkannya kepada orang yang tidak mengatakannya, melainkan juga termasuk
kebohongan manakala Anda menyelewengkan maksud perkata seseorang lalu Anda
menisbahkannya kepada orang itu.

Subhanallah,
Amirul Mukminin as telah tahu bahwa mereka tidak teguh di dalam baiatnya, dan
kelak mereka akan berbalik darinya dan memeranginya pada perang Jamal, Shiffin
dan Nahrawan, serta akan berhujjah kepadanya dengan beribu-ribu macam
pembenaran dan alasan. Oleh karena itu, Amirul Mukminin as mendirikan hujjah
atas mereka, dan memberitahukan kepada mereka tentang jalan yang akan ditempuhnya
di dalam masalah hukum. Yaitu jalan kebenaran. Dan kebenaran itu pahit dan
sulit, “Dan kebanyakan dari mereka tidak menyukai kebenaran.”

Telah
terbukti apa yang telah dikatakannya, namun saya tidak mengharapkan tindakan
pembelotan dan pembenaran ini terus ber-langsung hingga sekarang, di mana
mereka menyelewengkan ucapan-ucapannya.

Saya
akhiri dengan (menyebutkan) pemalsuan dan penyelewengan ini. Saya persilahkan
kepada pembaca untuk memberikan komentar. Saya cukupkan sampai di sini, karena
jika saya terus menyebutkan contoh-contoh pemalsuan dan penyelewengan yang dia
lakukan, niscaya akan banyak memakan waktu. Secara singkat dapat saya katakan
bahwa orang ini tidaklah jujur, bahkan kepada dirinya sendiri. Perbuatannya ini
didorong oleh rasa permusuhannya yang sangat kepada Ahlul Bait dan para
pengikutnya. Karena jika tidak, maka untuk apa semua kesewenang-wenangan yang
mencolok ini? Apakah dia ingin membuktikan kebenaran yang dihilangkan, kepada
manusia? Sementara dia mengikuti kebatilan dan pemalsuan sebagai alat dan
tujuan?!

 

Di dalam
bukunya yang berjudul asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, halaman 67, Ihsan Ilahi Zahir
berkata, “Ath Thabrasi juga menukil dari Imam Muhammad a-Baqir yang
menegaskan bahwa Ali membenarkan kekhilafahannya (Abu Bakar), mengakui kepemimpinannya
(Abu Bakar), dan berbait kepada pemerintahannya (Abu Bakar.” Sebagaimana
juga dia menyebutkan bahwa tatkala Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah saw,
hendak keluar meninggalkan Madinah, Rasulullah saw meninggal dunia. Ketika
surat sampai kepada Usamah, maka Usamah pun bergerak bersama pasukan yang
menyertainya masuk ke kota Madinah. Ketika dia melihat orang-orang sepakat
terhadap kekhilafahan Abu Bakar, dia pun pergi ke Ali bin Abi Thalib dan
berkata, ‘Apa ini?’ Ali menjawab, ‘lni adalah sebagaimana yang kamu lihat’
Usamah bertanya, ‘Apakah kamu telah berbaiat kepadanya?’ Ali menjawab,
‘Sudah.'”

 

Dia telah
menukil peristiwa ini dari kitab al-Ihtijaj, karya ath-Thabrasi. Berikut ini
saya ketengahkan kepada Anda bunyi teks secara lengkap dari sumber di atas,

“Diriwayatkan
dari al-Baqir as, bahwa Umar bin Khattab berkata kepada Abu Bakar, ‘Tulis
kepada Usamah supaya dia datang menghadapmu. Karena dengan kedatangannya itu
akan terputuslah keburukan dari kita. Maka Abu Bakar pun menulis surat
kepadanya,

‘Dari Abu
Bakar, khalifah Rasulullah saw, kepada Usamah bin Zaid. Amma ba’du,

Perhatikanlah,
jika sudah sampai suratku kepadamu, maka datanglah kepadaku beserta pasukan
yang bersamamu. Karena sesungguhnya kaum Muslimin telah sepakat atasku dan
telah menyerahkan urusan kepemimpinan mereka kepadaku. Jangan kamu tidak
datang, karena itu berarti kamu membangkang, dan akan menimpa kepadamu sesuatu
yang tidak kamu sukai. Wassalam.’

 

Perawi
melanjutkan riwayatnya, ‘Maka Usamah pun menulis surat jawaban kepada Abu Bakar
sebagai berikut,

‘Dari
Usamah bin Zaid, petugas Rasulullah saw pada peperangan Syam. Amma ba’du,

Telah
sampai kepadaku surat darimu, yang mana bagian awalnya bertentangan dengan
bagian akhirnya. Pada bagian awal engkau mengatakan bahwa engkau adalah khalifah
Rasulullah, sedangkan pada bagian akhirnya engkau mengatakan bahwa kaum
Muslimin telah sepakat atas engkau dan mereka telah menyerahkan urusan
kepemimpinan mereka kepadamu, serta telah meridaimu. Ketahuilah, sesungguhnya
aku dan orang-orang yang bersamaku dari jamaah kaum Muslimin dan Anshar, demi
Allah, tidak meridaimu dan tidak menyerahkan urusan kepemimpinan kami kepadamu.
Ingatlah, engkau harus mengembalikan hak kepada pemiliknya dan harus
melepaskannya kepada mereka. Karena sesungguhnya mereka jauh lebih berhak atas
urusan ini dibandingkan engkau. Engkau telah mengetahui apa yang telah
dikatakan oleh Rasulullah saw tentang Ali pada hari al-Ghadir. Belum terlalu
lama waktu berlalu namun engkau telah melupakannya. Lihatlah kedudukanmu, dan
janganlah kamu menentang, karena yang demikian itu berarti kamu telah
membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya, dan membangkang orang yang telah
diangkat oleh Rasulullah saw sebagai khalifah atasmu dan atas sahabatmu. Aku
belum diturunkan dari jabatanku hingga Rasulullah saw meninggal dunia,
sementara kamu dan sahabatmu —Umar— pulang dan membangkang, serta tinggal di
Madinah dengan tanpa ijin.'”

 

Abu Bakar
bermaksud melepaskan kekhilafahan dari pundaknya. Perawi berkata, “Maka
Umar berkata kepadanya, ‘Jangan kamu lakukan, karena sesungguhnya pakaian ini
adalah pakaian yang Allah kenakan kepadamu. Jangan engkau melepasnya, nanti
kamu akan menyesal.'” Umar mendesaknya untuk menulis banyak surat kepada
Usamah, dan mendatangi si fulan si fulan supaya mereka menulis surat kepada
Usamah, agar tidak memecah belah jamaah kaum Muslimin, dan supaya Usamah masuk
bersama mereka kepada apa yang telah mereka perbuat.

 

Perawi
berkata, “Maka Abu Bakar menulis surat kepadanya dan begitu juga
sekelompok orang dari orang-orang munafik, ‘Hendaknya kamu rida dengan apa yang
telah kami bersepakat atasnya, dan janganlah kamu meliputi kaum Muslimin dengan
fitnah yang berasal darimu.”‘

 

Perawi
menuturkan lebih lanjut, “Ketika surat-surat datang kepada Usamah, maka
Usamah bergerak memasuki kota Madinah dengan pasukan yang menyertainya. Ketika
dia melihat manusia bersepakat atas Abu Bakar, maka dia pun bertolak kepada Ali
bin Abi Thalib as dan bertanya kepadanya, ‘Apa ini?’

Ali
menjawab, ‘lni adalah sebagaimana yang kamu lihat.’ Usamah bertanya lagi kepada
Ali, ‘Apakah kamu telah berbaiat kepadanya?’ Ali menjawab, ‘Ya, wahai Usamah.’
Usamah bertanya lagi, ‘Karena taat atau karena terpaksa?’

Ali
menjawab, ‘Karena terpaksa.'”

Perawi
melanjutkan, “Maka Usamah pun berangkat dan datang menemui Abu Bakar
seraya berkata kepadanya, ‘Salam atasmu, wahai khalifah kaum Muslimin.’ Dengan
serta merta Abu Bakar menjawab kepadanya, ‘Salam atasmu, wahai komandan.'”[152]

 

Kita tidak
akan mengatakan lebih banyak kepadanya dari apa yang telah dikatakan oleh Allah
SWT di dalam Kitab-Nya yang mulia,

 

“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan
dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata bagi
mereka.”

(QS. al-Baqarah: 50)

 

“Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami
kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah
perkataan Allah dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian
dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad)
senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara
mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. al-Maidah: 13)

 

3. Kitab
Tabdid azh-Zhalam wa Tanbih an-Niyam ila Khathar at-Tasyayyu’ ‘ala al-Muslimin
wa al-Islam, Karya Ibnu Jabhan.

 

Saya belum
melihat sebuah kitab yang lebih besar permusuhannya kepada Ahlul Bait dan para
syi’ahnya dibandingkan kitab ini. Dia telah membulatkan tekadnya untuk mencaci
maki mereka dan membuat kebohongan-kebohongan atas mereka, dengan tanpa adanya
objektifitas di dalam diskusi dan dialog. Seluruh yang berasal darinya adalah
tidak lain berisi pengkafiran, pengfasikan dan pemberangusan terhadap
pendapat-pendapat orang lain. Orang yang membaca bukunya akan mendapati saya
amat lapang dada.

 

Saya yakin
dia tidak menginginkan dari kitabnya ini selain dari ingin menyulut fitnah di
antara kalangan Syi’ah dan Ahlus Sunnah, serta memecah belah barisan kaum
Muslimin dengan berbagai macam cara, supaya bertambah bala dan kelemahan yang
menimpa mereka. Alangkah bagusnya jika bukunya ini dikirimkan kepada
musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin, yaitu negara Israel.

 

Di samping
dia seseorang yang lebih bodoh untuk bisa diajak berdiskusi, karena tidak ada
satu dalil pun yang dikemukakannya, bukunya ini tidak lebih hanya berupa
kumpulan kebohongan dan rekayasa atas Ahlul Bait dan para pengikutnya. Dia
menafikan seluruh keutamaan yang datang berkenaan dengan mereka, dan
mengingkari ayat-ayat dan hadis-hadis yang dengan jelas menunjukkan wajibnya
berpegang teguh kepada mereka.

 

Berikut
ini beberapa contoh dari cara-cara yang dia gunakan di dalam mendaifkan
hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait:

 

a.   Setelah menyebutkan sekumpulan hadis dia
mengatakan, “Kami menolaknya dan kami menolak monster  kemanusiaan
yang bergantung padanya.”[153]

a.1.Hadis
pertama
, “Perumpamaan Ahlul
Baitku di sisimu tidak ubahnya seperti pintu pengampunan. Siapa saja yang
memasukinya akan aman.” “Perumpamaan Ahlul Baitku di sisimu tidak
ubahnya seperti bahtera Nuh. Siapa saja yang berpegang kepadanya akan selamat
dan siapa saja yang tertinggal darinya akan tenggelam.”

 

Dia mendhaifkan hadis ini
dengan selemah-lemahnya argumentasi. Dia mengatakan, “Hadis ini
mengharuskan bahwa keselamatan dan keamanan terletak di dalam berpegang kepada Ahlul
Bait, dan kecelakaan serta kemusnahan terletak di dalam ketertinggalan dari
mereka. Yang demikian ini tidak dibolehkan berdasarkan ucapan Al-Qur’an. Karena
Al-Qur’an tidak mensyaratkan untuk keselamatan kecuali dengan beriman kepada
Allah dan beramal saleh, dan tidak memperingatkan kehancuran kecuali atas
kekufuran dan melaksanakan perbuatan maksiat; serta tidak ada satu pun ayat di
dalam Kitab Allah yang bertentangan dengan ucapan kita ini.”[154]

 

Saya katakan, “Namun,
apa hubungannya perkataan Anda dengan hadis ini. Karena pembuktian sesuatu
tidak menafikan selainnya. Ini yang pertama.

Yang kedua, seluruh
Al-Qur’an menentang ucapan Anda. Al-Qur’an yang ada di tangan Anda ini
memerintahkan kita untuk berpegang kepada para nabi dan para rasul, dan
menetapkan kekufuran orang yang tidak berpegang kepada mereka, “Apa saja
yang dibawa oleh Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang kamu dilarang
olehnya maka jauhilah.” Demikian juga Al-Qur’an memerintahkan kita untuk
berpegang kepada para wali, “Taatilah Allah, dan taatilah Rasul serta ulil
amri dari kamu.” Perintah di dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan
kepada wajib, maka dengan demikian wajib hukumnya berpegang kepada mereka.
Allah SWT juga telah mewajibkan kepada kita untuk berpegang kepada orang-orang
Mukmin dan mengikuti jalan mereka.

Allah SWT berfirman,

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah
jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang
Mukmin, Kami biarkan dia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya
itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya
tempat kembali.”

(QS. an-Nisa: 115)

 

Maka, tidak berpegang teguh
kepada mereka berarti kehancuran. Namun amat disayangkan, Ibnu Jabhan tidak
merujuk kepada Kitab Allah sehingga dia tahu bagaimana perbuatan masuk pintu
bagi Bani Israil merupakan pengampunan bagi dosa-dosa mereka,

 

“Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis),
dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai,
dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan kata-kanlah, ‘Bebaskanlah
kami dari dosa’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan
menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. al-Baqarah: 58)

 

Ibnu Jabhan bukan tidak
mengetahui hal itu, namun rasa permusuhan dan kebenciannya yang sangat kepada
Ahlul Bait telah mendorongnya melakukan demikian. Kita akan tambahkan
kemarahannya dengan firman Allah SWT yang berbunyi,

“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu
sesuatu upah pun atas apa yang aku sampaikan kecuali kecintaan kepada
keluargaku.'”

(QS. asy-Syura: 23)

 

Dia berargumentasi,
“Kenapa kita harus mengikuti Ahlul Bait. Apakah mereka mempunyai ilmu yang
belum disampaikan oleh Rasulullah saw kepada kaum Muslimin seluruhnya.
Sesungguhnya keyakinan yang seperti itu berarti menuduh Rasulullah saw telah
melakukan pilih kasih dan menyembunyikan risalah. Selama agama telah sempurna,
maka apalagi yang dibutuhkan dari Ahlul Bait?”

 

Lihatlah oleh Anda
ketololan argumentasi ini. Jika penyampaian dan penjelasan hukum-hukum agama
kepada sebagian orang tanpa sebagian orang yang lain berarti tindakan pilih
kasih, maka berarti Rasulullah saw —yang merupakan Rasul Allah bagi seluruh
manusia— harus menyampaikan sendiri risalahnya kepada seluruh manusia seorang
demi seorang, atau paling tidak kepada mereka yang hidup sezaman dengannya.
Yang demikian ini tentu tidak akan dikatakan oleh seorang yang berakal. Di
samping urusan ini tidak termasuk ke dalam kerangka tabligh.

Ahlul Bait memiliki
sifat-sifat yang menjadikan mereka mempunyai kelayakan atas kepemimpinan umat.
Sudah merupakan sesuatu yang jelas bahwa manusia berbeda-beda di dalam tingkat
pemahaman dan penguasaan mereka, dan juga berbeda-beda di dalam tingkat
keimanan mereka. Rasulullah saw telah menyampaikan ajarannya bagi seluruh
manusia, namun Ahlul Bait adalah manusia yang paling dahulu keimanannya, paling
banyak jihadnya dan paling utama ketakwaan dan kewarakannya. Oleh karena itu
Allah SWT mensucikan mereka dari segala dosa di dalam Kitab-Nya.

Lantas, kedengkian apakah
ini, wahai Ibnu Jabhan?!

Jika kesempurnaan agama
menafikan kebutuhan manusia, maka kenapa kita membutuhkan sahabat dan salaf saleh
dan mengikuti mereka?!

Dengan dalil-dalil yang
bodoh ini Ibnu Jabhan menolak hadis ini.

 

a.2. Hadis
kedua
: “Saya tinggalkan padamu dua benda yang sangat berharga, yaitu
Kitab Allah dan ‘itrahku.”

Dia mengatakan, “Hadis
ini telah diselewengkan, yang benar adalah ‘Kitab Allah dan sunahku’. Kalau pun
seumpama hadis ini tidak diselewengkan, lantas siapa yang dimaksud dengan
‘itrah yang diisyaratkan di dalam hadis ini.”[155]

Dengan sangat mudah dia
menolak hadis “Kitab Allah dan ‘itrahku”.

Pembahasan mengenai hal ini
telah kita lakukan pada permulaan buku.

Sudah merupakan sesuatu
jelas, sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama ilmu ushul, bahwa qadhiyyah
(proposisi) tidak menetapkan maudhu’-nya. Hadis ini sedang dalam tataran
menetapkan garis umum gadhiyyah, yaitu wajibnya berpegang teguh kepada Kitab
Allah dan ‘itrah Ahlul Bait. Adapun pembicaraan mengenai apa itu Kitab Allah
dan siapa itu ‘itrah Ahlul Bait, tidak dapat diketahui dari hadis ini. Maka
oleh karena itu diperlukan dalil lain, yang akan menjelaskan siapa keduanya
yang dimaksud.

Bagaimana dia mengkritik
hadis ini dengan mengatakan, “Siapa Ahlul Bait itu?!”

Pertanyaan ini seharusnya
dia ajukan kepada Rasulullah saw.

 

a.3.Hadis
ketiga:
“Hai Ali, tidak
mencintaimu kecuali orang Mukmin dan tidak membencimu kecuali orang
munafik.”

Ibnu Jabhan berkata,
“Hadis ini maudhu’ (palsu) dan sama sekali tidak benar. Karena kecintaan
kepada selain Allah dan Rasul-Nya tidak bisa menjadi ukuran bagi keimanan.
Karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya pasti mengharuskan kecintaan kepada
orang-orang saleh, dan tidak akan terlepas darinya.”

Pertama, kenapa dia
mengecualikan Rasulullah saw? Jika yang menjadi ukuran ialah istitba’ (hubungan
keharusan), maka kecintaan kepada Allah mengharuskan juga kecintaan kepada
Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Kedua, jika kecintaan
kepada Allah dan Rasul-Nya mengharuskan kecintaan kepada orang-orang saleh,
maka kecintaan kepada orang-orang saleh juga mengharuskan kecintaan kepada
Rasul-Nya dan kecintaan kepada Allah. Ini membuktikan kebenaran hadis ini.
Karena hadis ini sedang menjelaskan bagaimana mengetahui orang munafik. Karena
orang yang menampakan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak dapat
mengumumkan ketidak-cintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, karena jika tidak
maka tentu dia tidak disebut orang munafik, namun dia bisa mengumumkan
kebenciannya kepada siapa saja yang lain. Dan oleh karena Imam Ali as termasuk
ke dalam kelompok orang yang saleh, maka siapa saja yang membencinya
—berdasarkan hukum keharusan (istiba’)— berarti dia membenci Allah dan
Rasul-Nya. Sehingga dengan demikian hadis ini memberikan ukuran yang akurat di
dalam mengenal orang-orang munafik.

Ketiga, jika yang menjadi
slogan Anda ialah bahwa kecintaan dan kebencian bukan ukuran bagi keimanan dan
keyakinan, lantas kenapa Anda mengkafirkan Syi’ah, kalau bukan karena kebencian
mereka terhadap sebagian sahabat —sebagaimana persangkaan Anda?!

Kenapa Anda mencintai
mereka dan mencintai salaf saleh, padahal di antara mereka ada yang dari
kalangan Bani Umayyah dan Bani Abbas, dan Anda berjuang membela dan
mempertahankan mereka?!

Bukankah Anda mengharapkan
pahala dari yang demikian itu?!

Jika jawabannya tidak, maka
seluruh perkataan Anda sia-sia dan hanya menghabiskan waktu.

 

a.4.Hadis
keempat:
“Saya adalah kota
ilmu dan Ali adalah pintunya.”

Ibnu Jabhan berkata,
“Sesungguhnya bunyi teks hadis menunjukkan kebodohannya dan kebodohan
orang yang menisbahkannya kepada Rasulullah saw. Karena jelas sekali
ketidak-cocokkan antara kata “kota” dengan kata “ilmu”, dan
tidak ada keserasian sama sekali antara pemahaman kedua kata tersebut dengan
lafazh keduanya. Jika dia mengatakan, ‘Saya adalah lautan ilmu dan Ali adalah pantainya’,
maka itu jauh lebih layak.”

Dia melanjutkan
argumentasinya, “Kenapa Rasulullah saw menjadikan ilmu ini berada di
sebuah kota dan menjadikan kuncinya berada di tangan Ali? Kenapa Rasulullah
tidak menjadikan kota tersebut untuk umum dengan tanpa pintu, sehingga
memudahkan setiap orang memasukinya dari arah mana saja yang mereka
kehendaki?”

 

Inilah tingkat keilmuannya
dan batas akhir argumentasinya. Yaitu dia berargumentasi dengan adanya
kontradiksi di antara kata “kota” dan kata “ilmu”. Hadis di
atas secara khusus tidak sedang mendefinisikan ilmu, sehingga harus mengatakan
“laut”.

Melainkan hadis di atas
hendak menjelaskan hubungan antara ilmu dengan Ali as. Yang menjadi perhatian
hadis ini ialah hubungan secara umum di antara keduanya, maka perumpamaan kota
lebih jelas disebabkan tidak dapatnya seseorang memasukinya kecuali melalui
pintunya.

Adapun perkataan Ibnu
Jabhan yang menyebutkan, “Kenapa Rasulullah saw tidak menjadikan kota itu
untuk umum dengan tanpa pintu, sehingga memudahkan setiap orang untuk
memasukinya dari arah mana saja yang mereka kehendaki”, maka jawabannya
cukup dengan firman Allah SWT yang berbunyi,

“Maka bertanyalah
kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS.
an-Nahl: 43)

Inilah metode yang
digunakannya, yang menunjukkan kepada permusuhannya yang sangat kepada
Rasulullah saw dan ‘ltrah Ahlul Baitnya yang suci. Dengan pemikiran yang
dangkal ini dan dengan dalil-dalil yang lucu, dia berusaha menafikan
keutamaan-keutamaan Ahlul Bait, dan sebaliknya dia mensahihkan seluruh riwayat
yang lemah dan hadis-hadis yang tertolak, baik dari sisi matan dan sanad, hanya
karena hadis-hadis tersebut menetapkan keutamaan salah seorang salaf.

 

Wahai para ulama Ahlus
Sunnah wal Jamaah, apakah Anda menerima orang yang seperti ini sebagai salah
seorang ulama dari Anda, yang membela Anda dan mengakui mewakili Anda. Jika
“iya”, maka salam atas Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Dan jika tidak, maka
kenapa Anda tidak memprotes dan menghentikannya. Buku yang ada di tangan saya
ini merupakan cetakan ketiga. Mungkin saja buku ini telah dicetak
berpuluh-puluh kali. Maka oleh karena itu, hentikanlah!

Sangat disayangkan sekali
pada buku tersebut tertulis kata-kata “Buku ini dicetak dengan ijin dari
kepala kantor pengkajian ilmiah, pemberian fatwa, dakwah dan penerangan”.

Subhanallah, sebuah nama
yang bertentangan sama sekali dengan buku ini. Pengkajian ilmiah apa, padahal
dia tidak mengkaji isi buku ini sendiri. Jika tidak, maka dinisbahkan juga
kepadanya apa yang telah dinisbahkan kepada penulisnya, yaitu berupa kebodohan,
sedikitnya pemahaman, penyelewengan dan pemalsuan kebenaran. Karena pengakuan
terhadap sesuatu berarti pembenaran terhadapnya.

Dakwah apa, dan penerangan
apa?!

Kecuali jika dakwah
tersebut dakwah kepada perpecahan dan per-selisihan, dan penerangan kepada
pertentangan-pertentangan yang mendatangkan cela ini. Sampai kapan paham Wahabi
akan hidup di dalam pertentangan ini. Ketika Dr. Turabi mendhaifkan hadis
“lalat” dengan dalil-dalil yang logis dan argumentasi-argumentasi yang
ilmiah, dengan serta merta mereka menghunuskan pedang terhadapnya dan
memfatwakan kekafirannya. Namun tatkala Ibnu Jabhan mendhaifkan berpuluh-puluh
hadis sahih dan mutawatir di sisi Anda, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim, yang demikian itu tidak mengusik ketenangan mereka!

 

b.   Contoh-Contoh Kebohongan Yang Dibuatnya
Atas Syi’ah:

 

b.1. Dia
berkata pada halaman 494 dari bukunya, “Sebagai tambahan dari itu, bahwa
azan mereka berbeda dengan azan kita, salat mereka berbeda dengan salat kita,
puasa mereka berbeda dari puasa kita, dan mereka tidak mengakui zakat dan para
mustahik-nya.”

 

b.2. Dia
berkata pada halaman 495 dari bukunya, “Mereka meyakini bahwa mereka tidak
akan disiksa karena dosa besar dan dosa kecil mereka. Mereka mengatakan bahwa
orang selain mereka akan kekal di dalam neraka. Kemudian, mereka membolehkan
meminjamkan kemaluan wanita, mereka menggugurkan salat Jumat, salat berjamaah
dan hudud, dengan alasan ghaibnya Imam. Mereka menamakan umat Muhammad sebagai
umat yang terkutuk. Serta mereka meyakini bahwa melaknat sahabat dan para Ummul
Mukminin sebagai sebesar-besarnya pendekatan kepada Allah.”

 

b.3. Dia
menyebutkan di dalam halaman 222, “Mungkin para pembaca yang mulia tidak
akan percaya bahwa menikahi ibu dalam pandangan mereka adalah termasuk berbuat
kebajikan kepada orang tua, dan merupakan sebesar-besarnya pendekatan kepada
Allah.”

 

b.4. Dia
juga menyebutkan, “Orang Syi’ah menyodorkan tangannya mengajak Anda
bersalaman, namun itu dilakukannya untuk membuat Anda lengah sementara dia
memasukkan tangan yang satunya lagi ke dalam kantong Anda.”

 

b.5. Pada
halaman 58 dia mengatakan, “Orang Syi’ah mengatakan bahwa setiap anak yang
dilahirkan pada hari-hari Asyura, maka dia itu sayyid. Demikian juga setiap
anak yang dikandung oleh ibunya pada hari-hari Asyura maka dia itu sayyid,
meskipun kandungan itu berasal dari hubungan yang tidak sah.” Bahkan, dia
tidak cukup sampai di sini. Dia memanjangkan lidahnya terhadap Imam Ja’far
ash-Shadiq as, putra Rasulullah saw, yang diyakini oleh sekelompok kaum Muslimin
sebagai Imam yang maksum, sementara sekelompok kaum Muslimin yang lain
meyakininya sebagai kampiun ilmu dan ulama. Para Imam mazhab yang empat telah
berhutang kepadanya dengan keutamaan-keutamaannya.

Sejarah belum pernah
menyebutkan kepada kita ada orang yang mencelanya, meskipun dari kalangan
orang-orang yang memusuhinya. Hingga datang Ibnu Jabhan berkata tentangnya,
“Sesungguhnya perkataan Ja’far yang berbunyi ‘Barangsiapa yang
menginginkan dunia maka dunia tidak akan memuaskanmu dan barangsiapa yang
menginginkan akhirat maka akhirat tidak akan menjagamu’ adalah perkataan orang
yang unggul di dalam cara-cara bersilat lidah dan orang yang terampil memainkan
teknik-teknik Dajjal. Jika perkataan yang berbunyi ‘manusia mengikuti agama
rajanya’ itu benar, maka tentu benar pula perkataan yang berbunyi ‘manusia
mengikuti agama imam mereka’. Oleh karena Anda adalah duplikat yang sesuai
dengan aslinya (yaitu Ja’far), yang Anda akui sebagai pendiri besar seluruh
keyakinan-keyakinan Anda.”[156]

Lihatlah,
sejauh mana kebencian dan permusuhan dia kepada Ahlul Bait Rasulullah.

 

Cara ini
bukan merupakan hasil ciptaan Ibnu Jabhan. Sebelumnya, Ustaznya pun telah
mendahuluinya dengan cara-cara yang seperti ini, yaitu pendiri ajaran Wahabi,
Muhammad bin Abdul Wahab. Di dalam sebuah risalahnya yang berjudul fi ar-Radd
‘ala ar-Rafidhah, halaman 34 dia mengatakan, “Mereka membolehkan nikah
mut’ah, dan bahkan menjadikannya lebih baik dari tujuh puluh kali nikah
permanen. Syeikh mereka yang bernama Ali bin al-‘Ali telah membolehkan dua
belas orang dari mereka menikahi mut’ah seorang wanita dalam satu malam. Jika
lahir seorang anak dari hasil hubungan mereka, maka dilakukan undian di antara
mereka, dan orang yang keluar nomer undiannya, maka anak itu menjadi
miliknya.”

 

b.6. Dalam
halaman 44 dari bukunya dia mengatakan, “Orang-orang Yahudi telah dirubah
menjadi monyet dan babi. Juga telah dinukil bahwa yang demikian pun telah
terjadi pada sebagian orang rafidhi (Syi’ah) di kota Madinah al-Munawwarah dan
kota-kota lainnya. Bahkan dikatakan bahwa mereka telah berubah wajah dan
rupanya tatkala mati. Wallahu A’lam.”

Inilah cara mereka di dalam
menjawab Syi’ah. Dalil-dalil mereka tidak keluar dari dongeng-dongeng seribu
satu malam.

 

4. Adapun
kebohongan-kebohongan Ahmad Amin di dalam kitab Dhuha al-Islam, kita maafkan
dan tidak akan kita sebutkan.
Terutama setelah sampai kepada kita
permohonan maafnya atas apa yang telah ditulisnya tentang Syi’ah. Yang demikian
itu telah disebutkan oleh al-Imam asy-Syeikh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha,
di dalam kitabnya Ashl asy-Syi’ah wa Ushuluha, halaman 72,

“Termasuk
sesuatu yang jarang terjadi, Ahmad Amin, setelah beredar bukunya dan setelah
beberapa orang ulama Najaf mendatanginya, pada tahun 1349 Hijrah dia mendatangi
Kota Ilmu, Najaf, dan berkesempatan menziarahi makam-makam suci yang ada di
kota tersebut, bersama rombongan dari Mesir yang kira-kira terdiri dari 30
orang guru dan murid. Mereka mengunjungi kami di Universitas kami. Pada suatu
malam dari malam-malam bulan Ramadhan, mereka menghadiri sebuah acara perayaan
kami yang penuh sesak. Di situ kami mengkritiknya secara halus, dan sekaligus
memaafkan atas apa yang telah dilakukannya. Kami ingin berjalan bersamanya
dengan terhormat, dan mengucapkan salam kepadanya. Adapun alasan terbesar yang
dia ajukan dalam masalah penulisan bukunya ialah karena sedikitnya informasi
dan referensi yang dia miliki. Namun kita katakan, ‘lni juga tidak mencukupi. Karena
orang yang hendak menulis tentang sesuatu tema, maka pertama-tama dia harus
mengumpulkan referensi dalam jumlah yang cukup, dan kemudian meneliti dan
mempelajarinya secara mendalam. Dan jika tidak, maka tidak boleh baginya
menyelami tema tersebut dan berbicara tentangnya. Bagaimana bisa
perpustakaan-perpustakaan Syi’ah, salah satunya adalah perpustakaan kami,
mencakup kurang lebih 5000 judul buku, yang sebagian besarnya terdiri
kitab-kitab Ahlus Sunnah, dan itu pun terletak di kota Najaf, sebuah kota yang
fakir dari segala sesuatu, kecuali ilmu dan kesalehan -InsyaAllah; sementara
perpustakaan-perpustakaan Kairo yang besar, tidak memiliki buku-buku Syi’ah
kecuali hanya sedikit sekali.”

 

Benar,
kaum tersebut tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang Syi’ah, namun mereka
menulis segala sesuatu tentangnya.•

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VIII

MAZHAB YANG EMPAT DALAM SOROTAN

 

Perselisihan
Antar Mazhab

 

Pengaruh peristiwa Saqifah dan pengalihan
kekhilafahan dari Ahlul Bait terpantul di dalam semua segi dan tingkatan.
Pengalihan ini telah memberikan pengaruh yang negatif ke dalam sejarah dan ilmu
hadis serta ilmu-ilmu lainnya. Pengaruh-pengaruh negatifnya tampak dengan jelas
di dalam dunia fikih Islam, sehingga menyebabkan banyak terciptanya
madrasah-madrasah fikih, yang bertentangan satu sama lainnya.

 

Sejarah telah menceritakan kefanatikan masing-masing
kelompok terhadap madrasah fikih mereka, dan juga berbagai pertengkaran dan
perselisihan yang terjadi di antara mereka, hingga sampai tingkatan di mana
sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain. Juga tersingkap dengan jelas
bagi kita betapa besarnya peranan para penguasa di dalam hal ini, dan bagaimana
mereka mempermainkan agama kaum Muslimin. Seorang imam yang sejalan dengan hawa
nafsu mereka akan menjadi imam bagi kaum Muslimin, dan manusia diharuskan
secara langsung atau pun tidak langsung untuk bertaklid dan mengikutinya.

 

Setelah terjadi berbagai kejadian yang melingkupi,
akhirnya tertetapkanlah bahwa marji’iyyah fiqhiyyah (pemegang otoritas fikih)
berada di tangan empat imam, dari sekian ratus mujtahid yang ada. Mereka itu
adalah Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Kemudian setelah masa
mereka diharamkan ijtihad, dan semua orang diperintahkan untuk bertaklid kepada
mereka. Semua itu kembali kepada sejarah tahun 645 Hijrah, yaitu manakala para
penguasa yang berkuasa melihat bahwa kepentingan mereka menuntut dibatasinya
ijtihad hanya pada keempat orang Syeikh tersebut. Sekelompok ulama telah
bersikap ta’assub dengan pemikiran ini, dan mereka mengumumkan persetujuan
mereka. Sedangkan sekelompok ulama yang lain memandang bahwa kebijaksanaan ini
tidak lain hanya merupakan pembendungan terhadap kebebasan dan pemberangusan
terhadap kemampuan.

 

Ibnu Qayyim telah menulis satu pasal khusus yang
panjang, di dalam kitabnya yang bernama I’lam al-Muwaqqi’in, di mana di dalam
pasal itu dia menyelidiki secara mendalam argumen orang-orang yang meyakini
wajib ditutupnya pintu ijtihad, dan kemudian mementahkan seluruh argumen
tersebut dengan dalil-dalil yang kuat. Meski pun pandangan yang mengatakan
wajibnya berhenti pada ijtihad Imam yang empat, bertentangan dengan agama dan
akal yang sehat, namun justru pandangan ini yang menang, disebabkan dukungan
yang diberikan para penguasa terhadap pandangan yang akan menjamin kepentingan
mereka ini.

 

Ustadz Abdul Muta’al ash-Sha’idi berkata, “Saya
dapat memastikan —setelah ini— bahwa pelarangan ijtihad telah berlangsung
dengan cara-cara yang zalim, dengan berbagai cara kekerasan dan bujukan harta.
Tidak diragukan, seandainya cara-cara ini memenangkan selain mazhab yang empat
—yang kita ikuti sekarang— maka dapat dipastikan mayoritas kaum Muslimin
bertaklid kepadanya, dan tentu diterima oleh orang-orang yang mengingkarinya
sekarang. Dengan demikian, kita sekarang sedang berada dalam pelepasan dari
keterikatan kepada mazhab yang empat, yang telah dipaksakan kepada kita dengan
cara-cara yang busuk; dan sedang dalam proses menghidupkan kembali ijtihad di
dalam hukum-hukum agama kita. Karena pelarangannya tidak terjadi kecuali dengan
jalan pemaksaaan. Sedangkan Islam tidak meridai sesuatu kecuali yang diperoleh
dengan jalan kerelaan dan musyawarah di antara kaum Muslimin. Sebagaimana yang
difirmankan oleh Allah SWT, “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarah di antara mereka.” (QS. asy-Syura: 38)

 

Inilah kenyataan pahit yang dapat ditemukan oleh
seorang pengkaji yang adil di dalam sejarah mazhab yang empat. Dengan hak apa
kaum Muslimin dipaksa untuk tunduk kepada salah satu darinya. Dan dengan alasan
apa para ulama dilarang untuk berijtihad, dan kenapa keempat imam itu yang
dipilih sementara yang lain tidak?! Padahal masih ada para ulama yang lebih
utama dan lebih berilmu dibandingkan mereka, sebagai contoh:

 

1.  Sufyan
ats-Tsauri

Dia dilahirkan pada tahun 65 Hijrah. Dia mempunyai mazhab khusus, namun
tidak bertahan lama mengamalkan mazhabnya, dikarenakan sedikit pengikutnya, dan
tidak adanya dukungan penguasa kepadanya. Dia adalah salah seorang murid Imam
Ja’far ash-Shadiq as, dan lulusan madrasah beliau. Dia termasuk sebagai salah
satu fukaha yang sering melakukan perjalanan di dalam mencari ilmu.

Al-Manshur bermaksud membunuhnya, namun tidak berhasil karena dia
melarikan diri. Akhirnya dia wafat dalam persembunyian pada tahun 161 Hijrah.
Mazhabnya masih terus diamalkan hingga abad keempat Hijrah.

2.   Sufyan bin
‘Uyainah.

Seorang alim dan fakih yang lurus. Dia mengambil ilmunya dari Imam
Ja’far ash-Shadiq as, az-Zuhri, Ibnu Dinar dan yang lainnya. Syafi’i berkata
tentangnya, “Saya belum pernah melihat ada seorang yang memiliki alat
kelengkapan untuk memberi fatwa, sebagaimana pada Sufyan, dan saya belum pernah
melihat ada orang yang lebih layak darinya di dalam memberikan fatwa. Dia
mempunyai mazhab yang diamalkan, namun kemudian padam pada abad keempat Hijrah.

3.   Al-Awza’i.

Al-Awza’i termasuk salah seorang dari ulama. Mazhabnya tersebar di Syam,
dan diamalkan oleh para penduduknya untuk beberapa waktu. Al-Awza’i amat
dihormati dan amat dekat dengan penguasa. Dia termasuk orang yang didukung oleh
penguasa. Oleh karena itu, penguasa menjadikannya sebagai simbol agama. Dan
manakala kalangan Bani Abbas datang, mereka mendekatinya, disebabkan kedudukan
yang dimilikinya di mata penduduk negeri Syam. Al-Manshur menghormatinya dan
senantiasa mengiriminya surat, dikarenakan mengetahui bahwa dia berpaling dari
keluarga Muhammad saw. Namun demikian, mazhabnya tetap tenggelam manakala
Muhammad bin Usman —seorang bermazhab Syafi’i— ditetapkan sebagai qadhi atas
kota Damaskus. Lalu Muhammad bin Usman menetapkan hukum berdasarkan mazhab Syafi’i,
memberlakukan dan menyebarkannya di negeri Syam, sehingga akhirnya orang-orang
Syam berpindah ke mazhab Syafi’i pada tahun 302 Hijrah.

Dan berpuluh-puluh para mujtahid lainnya, seperti
Ibnu Jarir ath-Thabari, Dawud Ibnu Ali adz-Dzahiri, Laits bin Sa’id, al-A’masy,
asy-Sya’bi dan yang lainnya. Kenapa mazhab yang empat ini tetap hidup dan
tersebar, sementara yang lainnya tidak?!

Apakah karena para imamnya adalah sealim-alimnya
manusia pada zamannya?!

Atau, apakah karena manusia rida kepada mereka,
sehingga menjadikan mereka sebagai imamnya?!

 

Semua ini tidak terdapat pada mazhab yang empat.
Silahkan Anda rujuk ke dalam sejarah, di mana sejarah membuktikan adanya para
ulama yang lebih alim dari mereka. Akal sendiri menghukumi ternafikannya syarat
ini. Karena penentuan kelebih-aliman (al-a’lamiyyah) adalah sesuatu yang sulit.
Sebagaimana juga tersebarnya mazhab-mazhab ini, dan terkenalnya para imam
mereka, tidak berlangsung pada sebuah keadaan di mana kebebasan dan keunggulan
keilmuan berkuasa atas mereka. Bahkan tampak jelas bagi seseorang pengkaji
sejarah, bahwa mazhab-mazhab tersebut dipaksakan kepada kaum Muslimin oleh para
penguasa melalui ketazaman mata pedang. Adapun kesepakatan dan keridaan manusia
atas mereka adalah sesuatu yang tidak terlihat sama sekali bekas-bekasnya di
dalam sejarah. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Setiap orang bersikap
ta’assub dengan mazhabnya, dan sebagian mereka mengecam keyakinan-keyakinan
sebagian yang lainnya, sehingga menimbulkan perselisihan-perselisihan berdarah,
yang menelan beribu-ribu korban dari kaum Muslimin. Maka mereka menjadi musuh
satu sama lain, dan masing-masing memperlakukan yang lainnya sebagai orang yang
keluar dari agama. Sampai-sampai Muhammad bin Musa al-Hanafi —qadhi Damaskus—
yang wafat pada tahun 506 Hijrah berkata, “Seandainya saya mempunyai
sedikit saja kekuasaan niscaya saya akan memungut upeti (jizyah) dari
orang-orang Syafi’i.” Sementara Abu Hamid ath-Thusi, yang wafat pada tahun
567 Hijrah berkata, “Kalau saya mempunyai kekuasaan niscaya saya tetapkan
upeti (jizyah) atas orang-orang Hanbali.” Banyak sekali peristiwa yang
terjadi di antara orang-orang Hanafi dengan orang-orang Hanbali, dan antara
orang-orang Hanbali dengan orang-orang Syafi’i. Para khatib Hanafi mengutuk
orang-orang Hanbali dan orang-orang Syafi’i dari atas mimbar. Sementara
orang-orang Hanbali membakar mesjid orang-orang Syafi’i di Marwa. Berkobar api
fitnah dan fanatisme di antara orang-orang Hanafi dan orang-orang Syafi’i di
kota Naisabur, sehingga pasar dan toko-toko dibakar. Banyak sekali orang-orang
Syafi’i yang terbunuh, lalu orang-orang Syafi’i melakukan balas dendam pada
tahun 554 Hijrah. Hal yang sama pun terjadi di antara orang-orang Syafi’i
dengan orang-orang Hanbali, sehingga memaksa penguasa turun tangan untuk me-nyelesaikan
perselisihan mereka dengan kekerasan, dan itu terjadi pada tahun 716 Hijrah.[157]

 

Mazhab-mazhab lain sepakat marah terhadap orang-orang
Hanbali disebabkan tindak tanduk Ibnu Taimiyyah. Diumumkan di kota Damaskus dan
kota-kota lainnya, “Barangsiapa yang berpegang kepada agama Ibnu
Taimiyyah, maka halal harta dan darahnya.” Dengan kata lain, mereka
memperlakukan orang-orang Hanbali sebagaimana orang-orang kafir. Di sisi lain,
kita mendapati Syeikh Ibnu Hatim al-Hanbali berkata, “Barangsiapa yang
tidak bermazhab Hanbali, maka dia bukan Muslim.”[158]

Dia mengkafirkan seluruh kaum Muslimin kecuali
orang-orang Hanbali. Sebaliknya, Syeikh Abu Bakar al-Maghribi —penceramah di
mesjid-mesjid Baghdad— mengkafirkan seluruh orang Hanbali.[159]

 

Dan peristiwa-peristiwa lainnya yang membuat hati
berdarah-darah. Kefanatikan mereka sudah sampai tingkat membunuh para ulama dan
para fukaha dengan menggunakan racun. Inilah Fakih Abu Manshur —yang wafat pada
tahun 567 Hijrah— dibunuh oleh seorang yang bermazhab Hanbali dengan racun,
karena fanatik dengan mazhab Hanbali. Ibnu al-Jauzi berkata, “Orang
Hanbali itu memperdaya seorang wanita agar mau membawakan nampan yang berisi
manisan kepada Fakih Abu Manshur. Wanita itu berkata, ‘Tuanku, ini titipan dari
kekasihku.’ Lalu dia, istrinya, anaknya dan satu anaknya lagi yang masih kecil
memakan manisan itu, maka mereka pun mati. Padahal dia adalah seorang ulama
Syafi’i yang terkemuka.”[160]

 

Demikianlah, kefanatikan setiap orang kepada imamnya
telah sampai kepada tingkatan di mana mereka membuat hadis-hadis tentang
keutamaan imam mereka, dan menisbahkan hadis-hadis tersebut kepada Rasulullah
saw. Kefanatikan mereka telah menjadikan mereka keluar dari batas-batas akal
sehat dan kewajaran. Sebagai contoh, mereka menisbahkan sebuah hadis kepada
Rasulullah saw yang berbunyi, “Sesungguhnya Adam merasa bangga dengan
diriku, dan aku merasa bangga dengan seorang laki-laki dari umatku yang bernama
Nu’man.” Dalam bentuk lain juga disebutkan, “Para nabi merasa bangga
dengan diriku, dan aku merasa bangga dengan Abu Hanifah. Barangsiapa yang
mencintainya maka dia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membencinya maka
dia telah membenciku.”[161]

 

Mereka bersikap berlebihan terhadap terhadap Abu
Hanifah, hingga mereka berkata tentang keutamaan-keutamaannya, “Allah
mengkhususkan syariah dan karomah bagi Abu Hanifah. Salah satu dari karomahnya
ialah bahwa Khidhir as datang mengunjunginya setiap hari pada waktu Subuh, dan
belajar darinya tentang hukum-hukum syariat hingga lima tahun. Manakala Abu Hanifah
meninggal dunia, Khidhir as berdoa kepada Allah, “Ya Rabb, apabila saya
mempunyai kedudukan di sisi-Mu, maka izinkanlah Abu Hanifah untuk mengajarku
dari dalam kuburnya, sebagaimana biasanya, sehingga aku menjadi manusia yang
paling tahu dengan sempurna tentang syariat Muhammad. Maka Allah memenuhi
permintaannya. Khidhir as menyelesaikan pelajarannya dari Abu Hanifah,
sementara Abu Hanifah berada di dalam kuburnya, dalam jangka waktu dua puluh
lima tahun. Demikian juga dongeng-dongeng lain yang semacamnya, yang biasa
dibacakan di majlis-majlis Abu Hanifah dan mesjid-mesjid mereka di India.[162]

 

Orang-orang Maliki pun mengklaim beberapa perkara
yang dimiliki Imamnya. Di antaranya ialah, “Dengan pena kekuasaan Allah,
tertulis pada pahanya (Imam Malik), ‘Malik hujjah Allah di bumi-Nya’. Juga
disebutkan bahwa Malik menghadiri orang yang meninggal dunia dari para
sahabatnya di dalam kuburnya, dan menyingkirkan kedua malaikat dari si mayit,
serta tidak membiarkan keduanya untuk meng-hisab amal perbuatan si mayit.[163]

Juga disebutkan bahwa Malik melemparkan kitabnya al-Muwaththa
ke air namun tidak basah.

Orang-orang Hanbali berkata tentang Imam mereka,
“Ahmad bin Hanbal adalah Imam kami. Barangsiapa yang tidak menerimanya,
maka dia itu pembuat bid’ah.” Jika demikian, maka seluruh kaum Muslimin
adalah pembuat bid’ah berdasarkan kaidah ini.

Mereka mengatakan, tidak ada seorang pun setelah
Rasulullah saw yang menegakkan urusan Islam sebagaimana yang telah dilakukan
oleh Ahmad bin Hanbal. Abu Bakar pun tidak bisa menyamainya. Allah SWT
menziarahi kuburnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi di dalam
kitab Manaqib Ahmad, halaman 454, “Abu Bakar bin Makarim bin Abi Ya’la
al-Harbi —dia adalah seorang tua yang saleh— berkata, ‘Pernah pada sebagian
tahun sebelum masuknya bulan Ramadan hujan turun lebat sekali selama beberapa
hari. Maka aku pun tidur pada suatu malam dari bulan Ramadan, lalu aku
ber-mimpi —sebagaimana kebiasaanku— berziarah ke kuburan Imam Ahmad bin Hanbal.
Aku melihat kuburannya telah menempel ke tanah seukuran satu saf —barisan dari
tanah liat atau batu bata— atau dua saf. Aku berkata, ‘lni terjadi atas kuburan
Imam Ahmad bin Hanbal disebabkan lebatnya hujan yang turun.’ Lalu aku mendengar
Imam Ahmad bin Hanbal berkata dari dalam kubur, ‘Tidak, ini melainkan berasal
dari wibawa Allah SWT yang telah mengunjungiku. Aku ber-tanya kepada-Nya
tentang rahasia Dia menziarahiku pada setiap tahun. Allah Azza Wajalla
menjawab, ‘Ya Ahmad, ini dikarenakan engkau telah menolong perkataan-Ku,
sehingga dia tersebar dan dibaca di mihrab-mihrab.’ Lalu aku pun mendatangi
liang lahadnya dan menciumnya seraya berkata, ‘Tuanku, apa rahasianya kenapa
tidak ada satu pun kuburan yang diciumi selain dari kuburanmu? Imam Ahmad bin
Hanbal menjawab, ‘Anakku, karomah ini bukan kepunyaanku melainkan kepunyaan
Rasulullah saw, karena aku mempunyai beberapa helai rambutnya Rasulullah saw.
Ingatlah, siapa saja yang mencintaiku maka dia harus menziarahiku pada bulan
Ramadan.’ Dia mengatakan yang demikian sebanyak dua kali.”

 

Dan
keutamaan-keutamaan lainnya, yang menunjukkan kefanatikan dan sikap berlebihan
yang bukan pada tempatnya. Kefanatikan, dengan jelas dapat disaksikan di dalam
syair-syair mereka:

 

“Telah
tumbuh Mazhab Nu’man menjadi sebaik-baiknya mazhab

laksana
bulan yang bercahaya sebaik-baiknya bintang

mazhab-mazhab
ahli fikih telah menyusut

mana
mungkin gunung-gunung kokoh menenun sarang laba-laba.”

Seorang
penyair bermazhab Syafi’i berkata,

“Perumpamaan
Syafi’i di kalangan ulama adalah laksana bulan purnama di antara
bintang-bintang di langit

Katakan
kepada orang yang membandingkannya dengan Nu’man karena kebodohan apakah
mungkin cahaya dapat dibandingkan dengan kegelapan.”

 

Sedangkan
seorang penyair bermazhab Maliki mengatakan,

 

“Jika
mereka menyebutkan kitab-kitab ilmu, maka datangkan

apakah
dapat sebanding dengan kitab al-Muwaththa karya Malik

Dengan
berpegang kepadanya tangan kekuasaan menjadi mendapat

petunjuk
barangsiapa yang menyimpang darinya dia akan celaka.”

Sedangkan
seorang penyair Hanbali berkata,

“Aku
telah menyelidiki syariat-syariat ulama seluruhnya,

namun
aku belum pernah melihat ada yang seperti keyakinan Hanbal.”

Dalam
sebuah syair yang lain seorang Hanbali berkata,

“Aku
adalah seorang Hanbali,

selama
aku hidup maupun sesudah mati.

Wasiatku
kepada seluruh manusia,

hendaklah
mereka bermazhab Hanbali.”

 

Demikianlah,
setiap orang dari mereka sangat fanatik terhadap imamnya, amat bangga dengan
mazhabnya dan mengingkari mazhab-mazhab yang lain. Hingga sampai dikatakan,
“Barangsiapa yang menjadi Hanafi maka diberi hadiah, dan barangsiapa yang
menjadi Syafi’i akan dihukum.”[164]

As-Subki
berkata di dalam kitab Thabagat asy-Syafi’iyyah, “Inilah Abu Sa’id, yang
wafat pada tahun 562 Hijrah. Dia asalnya seorang yang bermazhab Hanafi, lalu
berpindah ke mazhab Syafi’i. Dia mendapat kesusahan karena perpindahan itu.
Demikian juga as-Sam’ani, tatkala berpindah dari mazhab Hanafi ke mazhab
Syafi’i dia mendapat cobaan yang berat. Api fitnah meletus di mana-mana dan
timbul peperangan di antara kedua belah pihak. Peperangan terjadi dari sejak
Khurasan hingga ke Irak, dan penduduk Marwa dilanda ketakutan yang sangat. Maka
diberlakukanlah keadaan darurat. Lalu para ahli ra’yu bergantung kepada ahli
hadis, dan mereka pergi ke pintu penguasa …. dan seterusnya.”[165]

 

Kejadian-kejadian
yang seperti ini banyak sekali terjadi hingga tidak dapat dihitung.
Contoh-contoh yang telah kita sebutkan di atas cukup memberikan gambaran betapa
besar perselisihan dan kefanatikan yang berkembang di antara mazhab-mazhab,
sehingga sikap menyembunyikan mazhab yang dianut amat diperlukan. Abu Bakar
Muhammad bin Abdul Baqi, yang wafat pada tahun 535 Hijrah, seorang yang
bermazhab Hanbali, menggambarkan keadaan menyembunyikan mazhab yang terjadi
kala itu di dalam sebuah syairnya,

“Jagalah
lidahmu, sedapat mungkin jangan sampai menceritakan

yang
tiga, yaitu umur, harta dan mazhab.

Karena
atas yang tiga akan dikenakan yang tiga

yaitu
dikafirkan, dihasudi dan dituduh sebagai pembohong.”

 

Zamakhsyari
telah menggambarkan perselisahan dan kerasnya perbenturan di antara
mazhab-mazhab di dalam syairnya,

 

“Jika
mereka menanyakan mazhabku,

saya
tidak akan membukanya dan akan menyembunyikannya,

karena
menyembunyikannya lebih selamat bagiku.

Jika aku
katakan aku seorang Hanafi

mereka
akan katakan bahwa aku membolehkan thala,

yaitu
minuman yang diharamkan.

jika aku
katakan aku seorang Syafi’i

mereka
akan katakan bahwa aku membolehkan menikahi anak

perempuan
sendiri, padahal itu diharamkan.

Jika aku
katakan aku seorang Maliki

mereka
akan katakan bahwa aku membolehkan kepada mereka memakan anjing.

Jika aku
katakan aku dari ahlul hadis dan kelompoknya

mereka
akan katakan bahwa aku adalah kambing jantan

yang
tidak bisa paham dan mengerti.”[166]

 

 

Sejenak
Bersama Para Imam Mazhab Yang Empat

 

Sesungguhnya pengkajian tentang sejarah para Imam
mazhab yang empat sangat sulit sekali. Karena berita-berita yang datang tentang
mereka, kalau tidak berasal dari orang-orang yang fanatik dan berlebih-lebihan
terhadap mereka, maka berasal dari musuh-musuh mereka yang senantiasa menyerang
mereka. Kita sulit mendapatkan pandang-an yang objektif di antara kedua garis
yang saling berlawanan ini.

 

Ahmad Amin berkata, “Kefanatikan mazhab telah
memaksa sebagian pengikut masing-masing mazhab membuat berita-berita yang
meninggikan kedudukan imam mereka. Salah satu di antaranya ialah dengan cara
mereka meriwayatkan hadis-hadis pemberian kabar gembira dari Rasulullah saw
bagi masing-masing imam. Sebagai contoh, mereka meriwayatkan bahwa Rasulullah
saw telah bersabda tentang penduduk Irak, “Sesungguhnya Allah telah
meletakkan khazanah-khazanah ilmu-Nya pada mereka (orang-orang Irak).”
Contoh lain, disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Akan datang
pada umatku seorang laki-laki yang dipanggil dengan nama Nu’man bin Tsabit, dan
diberi julukan dengan sebutan Abu Hanifah. Kelak Allah menghidupkan sunahku di
dalam Islam dengan perantaraan kedua tangannya.” Bahkan, mereka sampai
menganggap Abu Hanifah telah diberitakan di dalam Kitab Taurat. Demikian juga
yang dilakukan oleh sebagian pengikut Syafi’i terhadap Syafi’i dan sebagian
pengikut Maliki terhadap Malik. Semua itu tetap belum memuaskan mereka. Oleh
karena itu, sangat sulit bagi seorang pengkaji untuk mengetahui sejarah yang
sebenarnya berkenaan dengan masing-masing imam. Karena setiap kali datang generasi
baru, mereka menambahkan lagi tentang keutamaan-keutamaan imamnya.[167]

 

Abu Hanifah sendiri saja telah memperoleh
keutamaan-keutamaan ini dalam jumlah sekumpulan kitab. Kita akan sebutkan
beberapa darinya. Sebagai contoh, kitab ‘Uqud al-Marjan fi Manaqib Abi Hanifah
an-Nu’man, karya Abi Ja’far ath-Thahawi, kitab Managib Abi Hanifah, karya
al-Kharazmi, kitab al-Bustan fi Managib an-Nu’man, karya Syeikh Muhyiddin Abdul
Qadir bin Abi al-Wafa, kitab Syaqa’iq an-Nu’manfi Manaqib an-Nu’man, karya
Zamakhsyari, dan kitab-kitab lainnya. Ini semua, kalau pun menunjukkan sesuatu
maka itu semata-mata menunjukkan tingkat kefanatikan dan sikap berlebih-lebihan
terhadap Abu hanifah, serta perselisihan dan pertengkaran mengenai seputar
mazhab dan para imam mereka. Karena jika tidak, lalu untuk apa penulisan semua
kitab ini, yang para Khulafa Rasyidin pun tidak memperoleh kemanjaan yang
seperti ini?!

 

Dari di antara dua garis yang bertentangan ini kita
berusaha menyingkap pendapat yang objektif tentang seputar sejarah mazhab yang
empat, berikut dengan kejadian-kejadian yang melingkupinya.

 

1. IMAM
ABU HANIFAH

Kemunculan
Abu Hanifah

 

Dia adalah Nu’man bin Tsabit. Dia lahir pada tahun 80
Hijrah, pada masa kekhilafahan Abdul Malik bin Marwan. Dia meninggal dunia pada
tahun 150 Hijrah. Abu Hanifah tumbuh di kota Kufah pada masa kekuasaan Hajjaj.

Pada masa itu Kufah merupakan salah satu kota besar
Irak, yang berkembang di dalamnya berbagai majlis ilmu. Suasana saling
berlawanan dan berbagai pendapat yang saling ber-tentangan di dalam masalah
politik, ilmu dan keyakinan, yang terjadi pada masa itu, mengundang
kebingungan. Pada suasana yang seperti ini Abu Hanifah cemerlang di dalam
bidang ilmu kalam, diskusi dan perdebatan. Kemudian dia pindah ke majlis fikih,
hingga mengkhususkan diri kepadanya. Dia berguru kepada Hammad bin Abi
Sulaiman, yang meninggal pada tahun 120 Hijrah. Setelah Hammad bin Abi Sulaiman
meninggal dunia, reputasi dan nama Abu Hanifah menjadi terkenal. Dia juga
berguru kepada guru-guru yang hidup pada zaman-nya. Dia menghadiri pelajaran
‘Atha bin Rabah di Mekkah, pelajaran Nafi —bekas budak Ibnu Umar— di Madinah,
dan guru-guru yang lainnya. Namun dia banyak berteman dengan Hammad bin
Sulaiman. Abu Hanifah telah meriwayatkan dari Ahlul Bait, seperti Imam Muhammad
al-Baqir dan anaknya Imam Ja’far ash-Shadiq as.

 

Fikih Abu
Hanifah

Abu Hanifah tidak diketahui mempunyai fikih yang
khusus kecuali melalui murid-muridnya. Dia sendiri tidak pernah menulis sesuatu
tentang fikih, dan tidak pernah membukukan sedikit pun pendapat-pendapatnya.
Abu Hanifah mempunyai murid yang banyak, namun mereka yang mengemban dan
menyebarkan mazhabnya ada empat orang. Mereka itu adalah Abu Yusuf, Zufar,
Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani dan Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i .

 

Abu Yusuf—yaitu Ya’qub bin Ibrahim— telah memainkan
peranan yang besar di dalam menyebar-luaskan mazhab Hanafi. Dia telah
memperoleh penerimaan di kalangan para khalifah Bani Abbas, dan menduduki
posisi hakim agung pada masa kekuasaan al-Mahdi, al-Hadi dan Harun ar-Rasyid.
Pada masa Harun ar-Rasyid dia memperoleh posisi yang amat kuat. Maka Abu Yusuf
menggunakan kedudukannya ini untuk memberlakukan dan menyebar-luaskan mazhab Hanafi
ke seluruh penjuru negeri, melalui tangan-tangan hakim yang ditunjuknya dari
kalangan para sahabatnya. Sehingga dengan begitu dapat kita katakan bahwa
tersebarnya mazhab Hanafi dikarenakan bantuan pengaruh kekuasaan. Ibnu Abdul
Barr mengatakan tentang itu, “Abu Yusuf adalah hakim pada masa
pemerintahan tiga khalifah. Dia menduduki posisi hakim agung pada sebagian masa
pemerintahan al-Mahdi, kemudian pada masa pemerintahan al-Hadi dan juga pada
masa pemerintahan ar-Rasyid. Harun ar-Rasyid amat menghormati dan
memuliakannya. Dia mempunyai kedudukan yang kuat di sisi Harun ar-Rasyid. Oleh
karena itu, dia mempunyai tangan yang panjang di dalam menyebarkan nama Abu
Hanifah dan meninggikan kedudukannya.[168]

 

Murid Abu Hanifah yang bernama Muhammad bin al-Hasan
asy-Syaibani, turut serta mempunyai andil di dalam menyebarkan mazhab Abu
Hanifah melalui kitab-kitab tulisannya, yang kelak menjadi rujukkan pertama bagi
fikih Abu Hanifah. Di samping itu, dia juga berguru kepada ats-Tsauri,
al-Awza’i dan Malik; serta dia memasukkan hadis ke dalam fikih ahli ra’yu.

 

Adapun Zufar bin Huzail adalah termasuk sahabat Abu
Hanifah yang paling dulu. Dia turut menyebarkan mazhab Abu Hanifah dengan
lidahnya. Dia menjadi hakim pada zaman Abu Hanifah di kota Basrah.

Dia seorang yang sangat berpegang kepada qiyas,
hingga Ahmad bin Mu’addil al-Maliki mengejeknya dengan sebuah syair,

“Jika kamu berbohong dengan
apa yang kamu katakan kepadaku

maka atasmu dosa Abu Hanifah atau
Zufar

yang menggunakan qiyas secara
sengaja

dan berpaling dari berpegang
kepada khabar.”

 

Satu hal yang aneh, bahwa para ulama yang mengukuhkan
mazhab Hanafi dan membukukannya bukanlah orang-orang yang bertaklid kepada Abu
Hanifah di dalam pandangan-pandangannya. Melainkan mereka adalah ulama-ulama
yang bebas, yang dalam beberapa hal sepakat dengan gurunya, Abu Hanifah, namun
dalam beberapa hal lain menentangnya. Oleh karena itu, kita mendapati
kitab-kitab mazhab Hanafi memuat empat pendapat di dalam satu masalah. Yaitu
pendapat Abu Hanifah, pendapat Abu Yusuf, pendapat Muhammad asy-Syaibani dan
pendapat Zufar.

 

Allamah Khudhari berkata, “Sebagian kalangan
Hanafi telah berusaha menjadikan pendapat-pendapat mereka yang berbeda menjadi
pendapat Abu Hanifah. Namun ini merupakan kelalaian yang sangat akan sejarah
para imain mereka ini, dan bahkan kelalaian akan apa-apa yang tertulis di dalam
kitab-kitab mereka. Karena Abu Yusuf menyebutkan pendapat Abu Hanifah di dalam kitabnya
al-Kharaj, dan kemudian secara tegas menyebutkan pendapatnya dan mengatakan
bahwa dia berbeda pendapat dengannya. Terkadang dia mengakui pendapat Abi
Laila, setelah menyebutkan dua pendapat. Demikian juga Muhammad asy-Syaibani,
dia menceritakan di dalam kitabnya pendapat Imam Abu Hanifah, pendapat Abu
Yusuf, dan pendapatnya yang dengan jelas bertentangan dengannya.

 

Satu hal yang pasti bahwa Abu Yusuf dan Muhammad
asy-Syaibani menarik kembali pendapat Abu Hanifah manakala mereka tahu pendapat
penduduk Hijaz tentang hadis. Para peneliti sejarah menemukan bahwa para imam
mazhab Hanafi, yang telah kita sebutkan setelah Abu Hanifah, mereka tidak
bertaklid kepada Abu Hanifah.”[169]

Singkatnya, sesungguhnya mazhab Hanafi tersebar
dikarenakan usaha para sahabatnya. Di samping itu, para penguasa yang dekat
dengan Abu Yusuf menolong mereka di dalam menyebarkan mazhab tersebut. Dengan
demikian, maka mazhab Hanafi didirikan oleh sekumpulan para fukaha yang
masing-masing mereka independen dengan dirinya, dan bukan berasal dari satu
imam, yaitu Abu Hanifah. Sehingga usaha para pengikut Hanafi untuk
mengembalikan semua pendapat kepada Abu Hanifah adalah sesuatu yang tidak
dibolehkan.

 

Tikaman
Pada Abu Hanifah.

Sebagian ulama yang adil yang hidup semasa dengannya,
telah menuduh Abu Hanifah dengan tuduhan zindiq dan telah keluar dari jalan
yang lurus, serta menyebutnya sebagai orang yang telah rusak akidahnya, telah
keluar dari ajaran agama dan menentang Kitab dan sunah. Mereka menikam
keberagamaan Abu Hanifah dan melucutinya dari iman.”[170]

Telah sepakat Sufyan ats-Tsauri bersama Syarik, Hasan
bin Shalih dan Ibnu Abi Laila, maka mereka pun pergi kepada Abu Hanifah. Mereka
berkata, “Apa pendapat Anda tentang seseorang yang telah membunuh ayahnya,
lalu menikahi ibunya dan meminum khamar di atas kepala mayat ayahnya?”

Abu Hanifah menjawab, “Dia orang Mukmin.”
Maka berkata Ibnu Abi Laila, “Saya tidak akan menerima kesaksian Anda
selamanya.”[171]

Ibrahim bin Basyar bercerita bahwa Sufyan bin
‘Uyainah telah berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih
berani terhadap Allah dibandingkan Abu Hanifah.”[172]

Diceritakan, bahwa Abi Yusuf pernah ditanya,
“Apakah Abu Hanifah seorang Murji’ah?”

Abu Yusuf menjawab, “Benar.” Dia ditanya
lagi, “Apakah dia seorang Jahmiyyah?” Dia menjawab,
“Benar.” Abu Yusuf ditanya lagi, “Bagaimana kedudukan Anda di
sisinya?” Dia menjawab, “Abu Hanifah hanya semata-mata seorang
pengajar. Apa saja perkataannya yang bagus, maka kami terima, dan apa saja
perkataannya yang buruk, maka kami tinggalkan.”‘[173]

Inilah pandangan orang yang paling dekat dengannya,
yang sekaligus sebagai murid dan penyebar mazhabnya. Apalagi pandangan orang
lain.

 

Dari Walid bin Muslim yang berkata, “Malik bin
Anas bertanya kepadaku, ‘Apakah nama Abu Hanifah disebut-sebut di negerimu?’
Aku menjawab, ‘Ya.’ Malik bin Anas berkata, ‘Negerimu tidak layak untuk
didiami.'”[174]

Al-Awza’i berkata, “Kita tidak membenci Abu
Hanifah karena dia menggunakan qiyas, karena kita semua pun menggunakan qiyas.
Kita membenci Abu Hanifah dikarenakan manakala hadis datang kepadanya dia
menentangnya.”[175]

 

Ibnu Abdul Barr berkata, “Salah seorang yang
menikam dan mencelanya ialah Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Dia berkata di
dalam kitabnya adh-Dhu’afa wa al-Matrukun, ‘Berkenaan dengan Abu Hanifah
an-Nu’man bin Tsabit al-Kufi, Na’im bin Hammad berkata, ‘Yahya bin Sa’id dan
Muadz bin Muadz berkata kepada saya, ‘Kami mendengar Sufyan ats-Tsauri berkata,

‘Abu Hanifah telah diminta bertobat dari kekufuran
sebanyak dua kali.’ Na’im al-Fazari berkata, ‘Saya pernah bersama Sufyan bin
‘Uyainah, lalu dia mengkritik Abu Hanifah. Dia berkata, ‘Abu Hanifah telah
merobohkan Islam sedikit demi sedikit. Dan tidak ada anak yang dilahirkan di
dalam Islam yang lebih jahat darinya.’ Inilah yang disebutkan oleh
Bukhari.”[176]

 

Ibnu Jarud berkata di dalam kitabnya adh-Dhu’afa wa
al-Matrukun, “Sebagian besar perkataan Nu’man bin Tsabit adalah
waham.”

Dari Waqi’a al-Jarrah yang berkata, “Saya
menemukan Abu Hanifah menyalahi dua ratus hadis Rasulullah saw.”

Ada orang berkata kepada Ibnu al-Mubarak,
“Orang-orang mengatakan bahwa Anda berpegang kepada perkataan Abu
Hanifah.” Ibnu al-Mubarak menjawab, “Tidak semua yang dikatakan oleh
orang tentang dia itu benar. Dahulu, selama beberapa waktu kami suka
mendatanginya, ketika kami belum mengenalnya.”[177]

Tampak jelas bahwa pandangan mereka ini adalah
pandangan objektif, dan bukan merupakan makian dan celaan yang keluar dari
batas-batas yang wajar, melainkan merupakan kritikan-kritikan ilmiah terhadap
Abu Hanifah. Dalam kesempatan ini kita telah memejamkan mata dari
omongan-omongan musuhnya dan omongan-omongan para pengikutnya yang bersikap
berlebihan. Kita mencukupkan diri dengan pandangan para ulama mengenainya, dan
ini sudah cukup mencemar-kan pribadinya.

Lalu, bagaimana mungkin dengan mudah dia bisa menjadi
imam, padahal di tengah-tengah umat ada orang yang lebih layak darinya, baik
dari segi fikih, ilmu dan keadilan?! Namun memang itulah yang dikehendaki
politik .

 

Abu
Hanifah Dan Imam Ja’far ash-Shadiq as

Abu Hanifah adalah seorang yang banyak berdebat dan
kuat dalam berdiskusi. Khalifah Manshur bermaksud memanfaatkannya untuk
menghantam Imam Ja’far ash-Shadiq as, yang harum namanya dan tinggi
reputasinya. Khalifah al-Mansur kesulitan mengawasi majlis-majlis ilmu yang ada
di kota Kufah, Mekkah, Madinah dan Qum, yang menyerupai cabang dari madrasah
Imam Ja’far ash-Shadiq as. Oleh karena itu, al-Manshur terpaksa menarik Imam
Ja’far ash-Shadiq as dari kota Madinah ke Kufah, dan meminta kepada Abu Hanifah
untuk menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, yang akan ditanyakan kepada
Imam Ja’far ash-Shadiq as di majlis terbuka, dengan maksud untuk menjatuhkan
Imam Ja’far ash-Shadiq as.

 

Abu Hanifah berkata, “Saya belum pernah melihat
orang yang lebih fakih dari Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq. Ketika al-Manshur
mendatangkannya, al-Manshur menemui saya dan berkata, ‘Wahai Abu Hanifah,
orang-orang telah terpikat dengan Ja’far bin Muhammad. Oleh karena itu,
siapkanlah pertanyaan-pertanyaan yang sulit baginya.’ Maka saya pun menyiapkan
empat puluh pertanyaan baginya.

Kemudian Abu Ja’far al-Manshur memanggil saya, dan
saya pun datang menemuinya. Saya masuk ke majlisnya, sementara Ja’far bin
Muhammad sedang duduk di sebelah kanannya. Ketika saya memandang ke arahnya,
saya menjadi tertegun dengan wibawa Ja’far bin Muhammad, namun tidak tertegun
sedikit pun dengan wibawa Abu Ja’far al-Manshur. Saya mengucapkan salam kepada
Abu Ja’far al-Manshur, dan dia pun memberikan isyarat kepada saya, maka saya
pun duduk. Kemudian dia menoleh ke arah Ja’far bin Muhammad seraya berkata,
‘Wahai Aba Abdillah, ini adalah Abu Hanifah.’

Ja’far bin Muhammad menjawab, ‘Ya, dia telah datang
kepada kami’, seolah-olah dia tidak suka apa yang dikatakan oleh kaumnya bahwa
dia mengetahui seseorang tatkala melihatnya. Lalu al-Manshur menoleh ke arah
saya dan berkata, ‘Wahai Abu Hanifah, lontarkan pertanyaan-pertanyaanmu kepada
Aba Abdillah.’ Maka saya pun melontarkan pertanyaan-pertanyaan saya kepadanya,
dan dia menjawabnya satu demi satu. Dia berkata dalam jawabannya, ‘Kamu
berpendapat demikian, penduduk Madinah berpendapat demikian, sementara kami
berpendapat begini. Terkadang pendapat kamu sama dengan kami, terkadang sama
dengan pendapat mereka, dan terkadang pula tidak sama dengan keduanya.’ Dia
terus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan, hingga saya selesai
melontarkan empat puluh pertanyaan.” Kemudian Abu Hanifah berkata, “Bukankah
kita telah mengatakan bahwa manusia yang paling pandai adalah manusia yang tahu
akan perbedaan-perbedaan pendapat manusia.”[178]

 

Imam Ja’far ash-Shadiq as melarang Abu Hanifah
menggunakan qiyas, dan sangat keras mengingkarinya. Imam ja’far ash-Shadiq as
berkata kepada Abu Hanifah, “Telah sampai berita kepada saya bahwa kamu
melakukan qiyas terhadap agama dengan pikiranmu. Jangan kamu lakukan itu, karena
orang yang pertama kali menggunakan qiyas adalah Iblis.”[179]

Abu Na’im berkata kepada kami, “Sesungguhnya Abu
Hanifah, Abdullah bin Ubay Syibrimah dan Ibnu Abi Laila datang menemui Ja’far
bin Muhammad ash-Shadiq. Imam Ja’far ash-Shadiq as bertanya kepada Ibnu Abi
Laila, “Siapa orang yang bersama kamu ini?”

Ibnu Abi Laila menjawab, “Dia orang yang
mempunyai pandangan dan pengaruh di dalam agama.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as bertanya kembali,
“Sepertinya dia mengqiyaskan urusan agama dengan menggunakan
pikirannya?”

Ibnu Abi Laila menjawab, “Benar.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata kepada Abu Hanifah,
“Siapa namamu?”

Abu Hanifah menjawab, “Nu’man.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata lagi, “Saya
tidak melihat kamu sedang membaguskan sesuatu.” Kemudian Imam Ja’far
ash-Shadiq as melontarkan beberapa pertanyaan kepada Abu Hanifah, namun Abu
Hanifah tidak bisa menjawabnya.

Maka Imam Ja’far ash-Shadiq as pun menjawab sendiri
pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kemudian Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Ya
Nu’man, bapakku telah berkata kepadaku, ‘Dari kakekku yang mengatakan bahwa
Rasulullah saw telah bersabda, ‘Orang yang pertama kali mengqiyaskan urusan
agama dengan menggunakan ra’yu adalah Iblis.’

Allah SWT telah berkata kepadanya, ‘Sujudlah kainu
kepada Adam’ Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari
api sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah.’ Barangsiapa yang meng’iyaskan
agama dengan pikirannya maka pada hari kiamat Allah SWT akan mengumpulkannya
dengan Iblis. Karena dia termasuk pengikutnya.

 

Fakhrurrozi berkata, “Sungguh mengherankan, Abu
Hanifah dipercayai sebagai ahli qiyas, dan para musuhnya mengecamnya
dikarenakan banyak menggunakan qiyas, padahal belum pernah diceritakan oleh
para sahabatnya bahwa Abu Hanifah telah menulis satu lembar kertas saja untuk
membuktikan qiyas, serta tidak pernah disebutkan bahwa dia menyebutkan sebuah
kritikan di dalam pernyataannya, apalagi menyebutkan sebuah hujjah. Dia juga
tidak pernah menjawab dalil-dalil lawannya yang mengingkari qiyas. Bahkan,
orang yang pertama kali berbicara dalam masalah ini, dan mengemukakan berbagai
argumentasi mengenainya adalah asy-Syafi’i.”[180]

 

Oleh karena itu, kita menemukan Imam Ja’far
ash-Shadiq as mengarahkan umat kepada jalan yang benar di dalam meng-istinbath
hukum-hukum syariat, terutama setelah merajalelanya penggunaan qiyas sebagai
salah satu sumber penetapan hukum. Maka keluar (lulus)lah beribu-ribu ulama
mujtahid dari madrasah beliau, yang salah seorangnya adalah Abu Hanifah, yang
telah mencurahkan waktunya untuk belajar kepada Imam Ja’far Shadiq as selama
dua tahun di Madinah. Berkenaan dengan waktu dua tahun belajarnya itu Abu
Hanifah berkata, “Kalaulah tidak ada dua tahun itu maka celaka lah
Nu’man.”

Orang-orang yang hadir di majlis Imam Ja’far
ash-Shadiq as tidak berkata kepada beliau kecuali dengan mengawalinya dengan
kata-kata, “Aku jadi tebusanmu, wahai Putra Rasulullah.”[181]

 

Abdul Halim al-Janadi memberikan komentar mengenai
bergurunya Abu Hanifah kepada Imam Ja’far ash-Shadiq as,

“Jika merupakan kemuliaan bagi Malik dia menjadi
guru terbesar bagi Syafi’i, atau kemuliaan bagi Syafi’i dia menjadi guru
terbesar bagi Ibnu Hanbal, atau kemuliaan bagi guru keduanya ini (Abu Hanifah
—penerj.) manakala keduanya belajar kepadanya, maka bergurunya dia (Abu
Hanifah) kepada Imam Ja’far ash-Shadiq telah memberikan kemuliaan kepada fikih
mazhab yang empat. Adapun kemuliaan Imam Ja’far ash-Shadiq tidak dapat
berkurang atau bertambah. Imam (Ja’far ash-Shadiq) adalah penyampai ilmu
kakeknya saw bagi seluruh manusia. Keimamahan adalah kedudukannya, dan
bergurunya para Imam Ahlus Sunnah kepadanya adalah merupakan kemuliaan bagi
mereka, disebabkan mereka mendekati manusia pemilik kedudukan.”[182]

 

Sungguh, duduk bersama Imam Ja’far ash-Shadiq as
adalah merupakan kemuliaan yang membanggakan bagi Abu Hanifah. Karena dia alim
Ahlul Bait dan tambang hikmah. Musuh-musuhnya mengakui keutamaannya. Al-Manshur
berkomentar tentang Imam Ja’far ash-Shadiq as, “Cucuk (tulang kecil) yang
mengganggu tenggorokanku ini adalah manusia terpandai di zamannya, dan dia
termasuk orang yang menginginkan akhirat dan tidak menginginkan dunia.”

 

Yang menjadi persoalan bukan hanya sekedar pengakuan
akan keutamaannya, atau menganggap mulia duduk bersama dengannya, melainkan
yang terpenting ialah tunduk dan patuh kepada perintahnya. Karena ketaatan
kepadanya merupakan kewajiban yang telah Allah SWT wajibkan atas setiap Muslim,
sebagaimana tertetapkan di dalam hadis Tsaqalain, “Kitab Allah dan ‘ltrah
Ahlul Baitku”. Namun yang sangat disayangkan ialah bahwa Abu Hanifah tidak
menjadi orang yang tunduk dan taat kepadanya, melainkan menyendiri dengan diri-
nya sendiri, memberi fatwa berdasarkan pikirannya dan melakukan qiyas di dalam
agama; dan karena itu dia menentang hadis-hadis Rasulullah saw dan tidak
menerimanya kecuali hanya tujuh belas hadis saja.

 

Saya akan akhiri pembicaraan ini dengan perdebatan
yang terjadi antara Imam Ja’far ash-Shadiq as dengan Abu Hanifah,

Imam Ja’far ash-Shadiq as bertanya kepada Abu
Hanifah, “Anda siapa?”

“Abu Hanifah”, jawab Abu Hanifah.

“Anda mufti Irak”, Imam Ja’far ash-Shadiq
as bertanya lagi.

Abu Hanifah menjawab, “Ya.”

“Dengan apa Anda memberi fatwa kepada
mereka?”, tanya Imam Ja’far ash-Shadiq.

Abu Hanifah menjawab, “Dengan Kitab Allah.”

“Jadi, Anda tahu tentang kitab Allah? nasikh
mansukhnya! Dan juga muhkam mutasyabihnya”, tanya Imam Ja’far ash-Shadiq as.

Abu Hanifah menjawab, “Ya.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Kalau
begitu, beritahukan aku tentang firman Allah SWT yang berbunyi, ‘Dan Kami
tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di
kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.’ Topik apakah itu?”

Abu Hanifah menjawab, “Jarak antara Mekkah dan
Madinah.”

 

Mendengar itu Imam Ja’far ash-Shadiq as menoleh ke
kanan dan ke kiri seraya berkata, “Demi Allah, aku memohon dengan sangat
kepada Anda, apakah Anda semua bepergian di antara jarak Mekkah dan Madinah
dalam keadaan mengkhawatirkan diri Anda dari pembunuhan dan harta Anda dari
pencurian?”

Dengan serempak mereka menjawab, “Ya.”

Kemudian Imam Ja’far ash-Shadiq as kembali menoleh
kepada Abu Hanifah, “Celaka engkau, wahai Abu Hanifah. Sesungguhnya Allah
SWT tidak berkata kecuali kebenaran.”

Maka Abu Hanifah pun terdiam untuk beberapa saat,
lalu dia menarik ucapannya sebelumnya dengan mengatakan, “Saya tidak
mempunyai ilmu tentang Kitab Allah.”

Dia mengemukakan alasan baru, “Sesungguhnya saya
adalah seorang ahli qiyas.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Lihatlah
kepada qiyas Anda. Jika Anda memang benar-benar orang yang suka qiyas, mana
yang lebih besar dosanya di sisi Allah, apakah membunuh atau berzina?”

Abu Hanifah menjawab, “Tentu membunuh lebih
besar dosanya di sisi Allah.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as bertanya lebih lanjut,
“Kenapa di dalam pembunuhan Allah SWT rida dengan dua saksi, sedangkan di
dalam perzinahan Allah SWT tidak rida kecuali dengan adanya empat saksi? Apakah
Anda menggunakan qiyas di sini?”

Abu Hanifah menjawab, “Tidak.”

“Bagus”, kata Imam Ja’far as-Shadiq as.

Imam Ja’far ash-Shadiq as bertanya lagi, “Mana
yang lebih utama, apakah salat atau puasa?”

Abu Hanifah menjawab, “Salat, tentu lebih
utama.”

Imam Ja’far as berkata, “Berdasarkan perkataan
Anda, maka orang yang haid harus meng-qadha salat yang ditinggalkannya selama
haid, sedangkan puasa tidak. Padahal Allah SWT telah mewajibkan meng-qadha
puasa dan tidak meng-qadha salat.” Pertanyaan ini juga tidak dijawab oleh
Abu Hanifah.

Imam Ja’far ash-Shadiq ad berkata lebih lanjut,
“Mana yang lebih najis, apakah air kencing atau air mani?”

Abu Hanifah menjawab, “Air kencing lebih
najis.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Di sini,
qiyas Anda harus mengatakan bahwa seseorang wajib mandi karena air kencing, dan
tidak wajib mandi karena air mani. Padahal Allah SWT telah mewajibkan seseorang
untuk mandi karena air mani, dan tidak karena air kencing. Apakah kamu
menggunakan qiyas di sini?”

Abu Hanifah terdiam, dan kemudian dia berkata,
“Saya adalah ahli ra’yu.”

Imam Ja’far ash-Shadiq as bertanya lagi kepadanya,

“Bagaimana pendapat kamu tentang seorang
laki-laki yang mempunyai seorang budak. Lalu laki-laki itu menikah dan
sekaligus menikahkan budaknya pada malam yang sama. Kemudian, keduanya
menggauli masing-masing istrinya pada malam yang sama. Selanjutnya, keduanya
melakukan perjalanan dan meninggalkan istri masing-masing di satu rumah; lalu
masing-masing istrinya melahirkan seorang anak. Kemudian rumah itu runtuh
menimpa mereka dan membunuh kedua wanita tersebut, sementara kedua anak itu
selamat. Sekarang, menurut pendapatmu, mana dari kedua anak itu yang
berkedudukan sebagai tuan dan mana yang berkedudukan sebagai budak? Mana yang
sebagai pewaris dan mana yang diwarisi?”

Untuk ketiga kalinya Abu Hanifah terdiam tidak dapat
menjawab pertanyaan.

2. IMAM
MALIK BIN ANAS

 

Dia adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik,
dilahirkan pada tahun 93 Hijrah, menurut sebagian pendapat, dan meninggal dunia
pada tahun 179 Hijrah, menurut sebagian pendapat. Masa Malik bersinar dengan
cahaya ilmu, dan kota Madinah menjadi kota yang didatangi oleh para penuntut
ilmu yang berasal dari berbagai pelosok penjuru negeri Islam. Madrasah Madinah
mempunyai kelebihan di dalam berpegang kepada hadis, dan memerangi madrasah
ra’yu yang terletak di kota Kufah, di bawah kepemimpinan Abu Hanifah. Inilah
salah satu yang menjadi penyebab timbulnya perselisihan dan pertengkaran di
antara keduanya, hingga telah keluar dari batas-batas keilmuan dan
objektifitas.

 

Di samping kedua madrasah ini terdapat juga madrasah
lain, yaitu madrasah Imam Ja’far ash-Shadiq as. Sebuah madrasah yang dipenuhi
oleh para para ulama dan utusan dari berbagai penjuru dunia Islam, yang
menanti-nanti kesempatan untuk bisa berjumpa dengan para Imam Ahlul Bait as.
Imam Ja’far ash-Shadiq as adalah orang yang paling sedikit mendapat tekanan
dari pihak penguasa. Malik telah turut bergabung dengan Madrasah Imam ja’far
ash-Shadiq as untuk beberapa waktu, dan Oleh karena itu, Imam Ja’far ash-Shadiq
as dianggap guru terbesar Malik. Kemudian Malik berguru kepada beberapa orang
guru, seperti Amir bin Abdullah bin Zubair bin al-Awwam, Zaid bin Aslam, Sa’id
al-Maqbari, Abu Hazim Shafwan bin Aslam dan yang lainnya. Namun Malik lebih
mengutamakan untuk mengambil dari Wahab bin Hurmuz, Nafi’ (bekas budak Ibnu
Umar), Ibnu Syihab az-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yu dan Abu Zanad. Malik mengalami
kemajuan, sehingga madrasah ahlul hadis berkembang pesat. Namun, dengan segera
politik ikut campur untuk membantu madrasah ra’yu dan memusuhi madrasah ahlul
hadis. Oleh karena itu, Malik menghadapi berbagai tekanan dari pemerintah. Dia
dilarang untuk berbicara, dan bahkan dia pernah dicambuk dikarenakan fatwa yang
dikeluarkannya tidak sejalan dengan keinginan pemerintah. Itu terjadi pada masa
kekuasaan Ja’far bin Sulaiman, tahun 146 Hijrah. Dia digunduli, dibentangkan
dan dipukul dengan cambuk hingga terlepas tulang bahunya.

Ibrahim bin Jamad berkata, “Saya pernah melihat
Malik, apabila dia dibangungkan dari tempat duduknya dia membawa tangan
kanannya dengan tangan kirinya atau tangan kirinya dengan tangan
kanannya.”

Namun, sangat mengherankan sekali, hanya dalam jangka
waktu yang singkat Malik berubah menjadi orang yang sangat diutamakan dan
dihormati di dalam pemerintahan, sehingga para gubernur sampai segan dan takut
kepadanya. Yang menjadi pertanyaan ialah, apa yang terjadi pada diri Malik
sehingga pemerintah menyukainya dan meninggikan kedudukannya sampai ke tingkat
ini?

Apakah dahulu pemerintah membencinya karena Malik
mempunyai pandangan tertentu, dan sekarang Malik menarik diri dari pandangannya
itu?

Atau Malik tetap pada pendapatnya, namun sekarang
pemerintah bersikap toleran terhadapnya?’Atau, apakah ada sesuatu yang lain?

Ini merupakan pertanyaan besar yang mengganggu benak
orang-orang yang mempelajari sejarah Imam Malik, di mana mereka menyaksikan
perubahan hubungan di antara Malik dengan pemerintah. Yaitu dari keadaan tegang
dan bermusuhan kepada keadaan di mana al-Manshur dan Malik saling memberikan
perhatian dan sanjungan kepada satu sama lain.

Al-Manshur berkata kepada Malik, “Demi Allah,
kamu adalah manusia yang paling berilmu. Jika kamu menghendaki, niscaya aku
akan tulis perkataanmu tidak ubahnya sebagaimana mushaf-mushaf kitab suci
ditulis, dan aku akan kirimkan ke seluruh pelosok negeri, serta aku akan paksa
mereka untuk menerimanya.”

Dari sini tampak jelas, bahwa kemajuan mazhab Imam
Malik terjadi manakala mendapat rida dari sultan. Oleh karena itu, sesungguhnya
yang menjadi masalah bukanlah masalah paling berilmu dan bukan paling berilmu,
melainkan masalah Malik, Sultan dan propaganda. Rakyat digiring untuk bertaklid
kepada mazhab Malik, baik dengan suka rela maupun terpaksa. Inilah yang
dikatakan oleh Rabi’ah ar-Ra’yu —guru Malik dan orang yang lebih berilmu
darinya— tatkala dia mengatakan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa bantuan
sedikit saja dari pemerintah merupakan sebaik-baiknya pembawa ilmu.”[183]

 

Ketika Malik memperoleh keridaan ini dari Sultan
Malik berkata, “Saya mendapati al-Manshur sebagai orang yang paling
mengetahui Kitab Allah, Rasul-Nya dan peninggalan-peninggalannya yang telah
lalu.”

Subhanallah\\ Ilmu apa yang dimiliki oleh al-Manshur,
sehingga dia menjadi orang yang paling tahu tentang Kitab Allah SWT dan sunah
Rasul-Nya saw?!

Perkataannya itu tidak lebih dari perbuatan menjilat,
dan untuk mendekatkan diri kepada raja dan sultan.

 

Adapun yang menjadi alasan kenapa sebelumnya Malik
dikucilkan, sejarah tidak pernah menceritakan kepada kita bahwa itu dikarenakan
Malik berani menentang al-Manshur atau mengkritik kebijaksanaannya. Sebagaimana
yang telah dilakukan oleh Abdullah bin Marzuq, tatakala dia berjumpa dengan Abu
Ja’far al-Manshur dalam ibadah thawaf. Ketika itu manusia menyingkir darinya,
namun Abdullah bin Marzuq berkata kepadanya, “Siapa yang menjadikanmu
lebih berhak atas Baitullah ini dibandingkan manusia yang lain, sehingga kamu
menghalangi dan menyingkirkan mereka dari-Nya.?”

Abu Ja’far al-Manshur melihat ke arah orang yang
berkata demikian, dan dia pun mengenalnya. Kemudian Abu Ja’far berkata,
“Wahai Abdullah bin Marzuq, siapa yang menjadikanmu berani berkata
demikian, dan siapa yang mendatangkanmu ke sini?”

Abdullah bin Marzuq berkata, “Apa yang hendak
kamu perbuat? Apakah di tanganmu ada bahaya dan manfaat? Demi Allah, saya tidak
takut akan bahayamu dan tidak mengharapkan manfaatmu, sehingga Allah SWT
mengizinkan yang demikian itu terjadi padaku.”

Abu Ja’far al-Manshur berkata, “Kamu telah
menghalalkan nyawamu sendiri dan telah mencelakakannya.”

Abdullah bin Marzuq berkata, “Ya Allah, jika di
tangan Abu Ja’far terdapat bahaya, maka janganlah Engkau tahan bahaya itu
sedikit pun kecuali Engkau timpakan kepadaku; dan jika di tangannya terdapat
manfaatku, maka putuslah seluruh manfaatnya dariku. Di tangan-Mulah ya Allah,
segala sesuatu; dan Engkau adalah pemilik segala sesuatu.”

Maka Abu Ja’far memerintahkan supaya Abdullah bin
Marzuq ditangkap, lalu dia di bawa ke Baghdad, dipenjarakan, dan kemudian
dilepaskan.[184]

Oleh karena itu, kita mendapati Malik menjauh dari
Imam Ja’far ash-Shadiq as, dikarenakan Imam Ja’far ash-Shadiq as tidak setuju
dengan pandangan-pandangannya yang berusaha mendekati sultan.

Dalam pandangan saya sendiri, bahwa yang menjadi
penyebab utama marahnya penguasa terhadap Malik pada masa-masa permulaan adalah
karena penguasa melihat Malik bersahabat dengan Imam Ja’far ash-Shadiq as, dan
issu yang beredar pada waktu itu bahwa orang-orang Arab hendak menuntut balas
bagi Ahlul Bait, maka Oleh karena itu, kita mendapati pemerintah lebih
mendekati mawali (bekas-bekas budak yang telah dibebaskan) dan membantu Abu
Hanifah yang ada di Kufah. Ketika masalah ini telah sirna, maka penguasa tidak
melihat jalan lain kecuali meninggikan nama Malik dan memunculkannya sebagai
pemegang otoritas agama bagi negara, sehingga Malik mem-benarkan penamaan
negara pada saat itu dengan nama “negara Islam”. Oleh karena itu, kita
mendapati kebijaksanaan para raja dengan tegas menyatakan kemampuan dan
kompetensi Malik, yang mana hal itu belum pernah dialamatkan kepada alim-alim
sebelumnya. Abu Ja’far al-Manshur berkata kepada Malik, “Jika Anda ragu
terhadap petugas Madinah, petugas Mekkah, atau salah seorang dari para petugas
Hijaz, yang berkenaan dengan diri Anda atau yang lain, atau yang berkaitan
dengan buruknya perlakuan mereka terhadap rakyat, maka laporkanlah hal itu
kepadaku, supaya aku berikan kepada mereka apa yang seharusnya mereka
terima.”

 

Dengan begitu maka kedudukan Malik menjadi sedemikian
tinggi, dan para gubernur takut kepadanya dikarenakan takut kepada al-Manshur.
Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh asy-Syafi’i tatkala dia datang ke
Mekkah dengan membawa surat dari gubernur Mekkah untuk gubernur Madinah, supaya
disampaikan kepada Malik. Maka gubernur Madinah berkata, “Hai pemuda,
berjalan kaki dari kota Mekkah ke kota Madinah dengan bertelanjang kaki, itu
lebih ringan bagiku dibandingkan aku harus berdiri di depan pintu rumah Malik.
Saya tidak melihat kehinaan sehingga saya berdiri di depan pintu Rumah
Malik.”[185]

Ketika datang era al-Mahdi, setelah era al-Manshur,
kedudukan Malik semakin bertambah tinggi dan dia semakin dekat dengan penguasa.
Al-Mahdi amat meninggikan dan menghormatinya serta mengirimkan berbagai hadiah
kepadanya. Kedudukan Malik semakin bertambah cemerlang di mata masyarakat
tatkala datang era Harun al-Rasyid. Harus ar-Rasyid tetap mempertahankan
kedudukan Malik dan amat mengagungkannya, sehingga dengan begitu kewibawaan
Malik terpatri pada diri masyarakat.

Demikianlah politik. Dia meninggikan siapa yang ingin
ditinggikannya, dan melupakan orang yang ingin dilupakannya. Setelah semua ini,
apa lagi yang akan menghalangi mazhab Malik untuk bisa tersebar, sementara dia
telah mendapat keridaan dari penguasa?

Allah bagimu, wahai tuanku, Imam Ja’far bin Muhammad
ash-Shadiq as.

Mereka mengetahui bahwa kebenaran milikmu dan ada
padamu, serta tidak ada yang berhak atas keimamahan selainmu.

 

Bukankah Malik telah berkata, “Belum pernah mata
terlihat oleh melihat, terdengar oleh telinga dan terlintas di dalam hati, ada
orang yang lebih utama dari Ja’far ash-Shadiq, baik dari segi keutamaan,
keilmuan, ibadah dan kewarakan.”[186]

Sedemikian jelasnya keutamaan beliau, namun beliau
dan para Syiahnya tidak pernah menerima apa-apa kecuali tekanan, ancaman,
pembunuhan dan pengusiran, sebagaimana yang disaksikan oleh sejarah Syi’ah,
mulai dari wafatnya Rasulullah saw hingga terus se-panjang sejarahnya.

Namun saya bertanya-tanya sebagaimana yang ditanyakan
oleh penulis kitab al-Imam ash-Shadiq Mu ‘allim al-Insan manakala dia berkata,
“Saya tidak bertanya kenapa kaum Muslimin terpecah menjadi Sunah dan
Syi’ah. Tidak, saya tidak bertanya tentang hal itu. Namun saya bertanya dengan
penuh keheranan, bagaimana Syi’ah dapat tetap kokoh hingga sekarang, meski pun
begitu kerasnya sikap ta’assub (fanatik) yang ditujukan kepadanya, yang
berwujud dalam bentuk ancaman pemikiran dan fisik, meski pun dengan segala
usaha yang dikerahkan pihak lawan untuk menghapus ajaran-ajaran kebenaran dan
mencabik-cabik Islam?!”[187]

Bukankah merupakan sebuah kezaliman mendahulukan
mazhab-mazhab lain atas mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as?! Bukan hanya
itu, bahkan Syi’ah tidak dikenal hingga sekarang, meski pun di kalangan lapisan
masyarakat yang terpelajar.

 

Saya ingat, suatu hari dosen kami di kampus
mengajarkan fikih Maliki. Sekelompok mahasiswa memprotesnya, “Kenapa Anda
tidak mengajarkan kami fikih empat mazhab?” Dosen kami itu menjawab,
“Saya seorang bermazhab Maliki, dan seluruh penduduk Sudan bermazhab
Maliki, maka barangsiapa di antara kamu yang bukan bermazhab Maliki, saya siap
mengajarkan mazhabnya secara khusus.” Saya berkata kepadanya, “Saya
bukan Maliki, apakah Anda akan mengajarkan mazahab saya?” Dosen kami itu
menjawab, “Tentu. Apa mazhab kamu? Apakah kamu bermazhab Syafi’i?”

Saya jawab, “Bukan.”

“Apakah Hanafi?”, tanya dia.

Saya jawab, “Bukan.”

Dia bertanya lagi, “Oh, kalau begitu Hanbali?”

Saya jawab, “Bukan.”

Tampak keheranan tergambar di wajahnya. Dia berkata,
“Jadi, siapa yang kamu ikuti?”

Saya menjawab, “Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq
as.”

Dia bertanya, “Siapa Ja’far itu?”

Saya jawab, “Guru Malik dan Abu Hanifah, dan
termasuk dari keturunan Ahlul Bait. Mazhabnya terkenal dengan nama mazhab
Ja’fari.”

Dosen kami itu berkata, “Saya belum pernah
mendengar nama ini sebelumnya.”

Saya katakan, “Kami ini Syi’ah.”

Dia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari
Syi’ah”, dan kemudian dia keluar.

 

Barangsiapa yang memiliki kemudahan dan propaganda
sultan, maka dia akan sampai kepada bintang kartika. Malik sendiri tidak tamak
kepada kedudukan ini, karena dia tahu masih banyak orang yang lebih layak
darinya untuk menduduki kedudukan ini. Akan tetapi, penguasa menginginkannya
menjadi marji’ umum (pemegang otoritas tunggal) di dalam fatwa. Al-Mansur telah
memerintahkannya untuk menulis sebuah kitab yang akan dipaksakan kepada
masyarakat secara paksa. Malik tidak bersedia, namun al-Mansur berkata kepadanya,
“Tulis kitab itu, sejak saat ini tidak ada seorang pun yang lebih pandai
dari kamu.”[188]
Maka Malik pun menulis kitab al-Muwaththa, dan kemudian para propagandis sultan
mengumumkan pada hari ibadah haji, “Sejak sekarang tidak boleh ada yang
memberi fatwa selain Malik.”

 

 

Tersebarnya
Mazhab Maliki

Mazhab Maliki tersebar dengan perantaraan para hakim
dan para raja. Di Andalus, raja memaksa rakyatnya untuk mengikuti mazhab
Maliki, manakala sampai berita kepadanya bahwa Malik memujinya tatkala ditanya
tentang perilaku raja Andalus. Malik mengatakan sesuatu yang menyenangkan raja
Andalus, “Kita memohon kepada Allah supaya Dia menghiasi negeri kita
dengan rajamu.” Ketika ucapan Malik itu sampai kepada raja, maka raja pun
memaksa rakyatnya untuk mengikuti mazhabnya. Raja meninggalkan mazhab
al-Awza’i, dan kemudian masyarakat pun berbondong-bondong mengikuti rajanya.

 

Demikian juga mazhab Maliki tersebar di Afrika dengan
perantaraan hakim Sahnun. Al-Muqrizi berkata, “Manakala al-Mu’iz bin Badis
memerintah, dia memaksa seluruh rakyat Afrika untuk berpegang kepada mazhab
Malik dan meninggalkan mazhab yang lainnya. Maka seluruh penduduk Afrika dan
Andalus merujuk kepada mazhabnya, karena mengharapkan apa yang ada pada sultan
dan gemar terhadap dunia. Oleh karena jabatan kehakiman dan jabatan mufti yang
ada diseluruh kota tidak dapat diduduki kecuali oleh orang yang bermazhab
Maliki, maka masyarakat umum mau tidak mau harus merujuk kepada hukum-hukum dan
fatwa-fatwa mereka. Sehingga dengan begitu mazhab ini pun menjadi tersebar dan
mendapat penerimaan. Namun ini bukan karena kualifikasi yang dimilikinya,
melainkan semata-mata karena kehendak penguasa yang memaksa masyarakat untuk
menerimanya.”[189]

 

Demikian juga mazhab Maliki tersebar di Maroko pada
saat Ali bin Yusuf bin Tasyifin memerintah di kerajaan Bani Tasyifin. Ali bin
Yusuf bin Tasyifin memuliakan para fukaha dan mendekati mereka. Namun dia tidak
mendekati kecuali orang yang bermazhab Maliki. Maka orang-orang pun
berlomba-lomba di dalam mempelajari mazhab Maliki. Ketika itu buku-buku mazhab
Maliki menjadi laris, mereka mengamalkannya, dan meninggalkan yang lainnya.
Bahkan, sedikit sekali perhatian orang kepada Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya
pada saat itu.

Demikianlah politik mempermainkan agama kaum
Muslimin, sehingga dialah sesungguhnya yang berkuasa atas keyakinan dan ibadah
mereka. Masyarakat saling mewariskan mazhab-mazhab yang dipaksakan di antara
mereka, dan mereka menerimanya dengan tanpa perdebatan atau pembahasan. Padahal
yang layak ialah masing-masing generasi bersikap merdeka di dalam mengenal
suatu mazhab, dan tidak mengikutinya secara membuta.

 

Ibnu Hazm berkata, “Ada dua mazhab yang pada
awal mulanya tersebar dengan perantaraan raja dan sultan:

Yang pertama, mazhab Abu Hanifah. Karena, pada saat
Abu Yusuf menduduki posisi kehakiman dia tidak mengangkat seorang hakim kecuali
dari kalangan sahabatnya yang semazhab dengannya.

 

Yang kedua, mazhab Malik yang ada di negeri kita
Andalus. Yahya bin Yahya adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang kuat di
sisi raja, dan mendapat pengakuan di dalam jabatan kehakiman. Raja tidak akan
mengangkat seorang hakim diseluruh pelosok negeri Andalus kecuali berdasarkan
musyawarah dan pilihannya, dan jabatan kehakiman tidak akan diserahkan kecuali
kepada para sahabatnya.”[190]

 

Tikaman
Terhadap Malik.

Dalam hal ini kita akan mengabaikan perkataan
orang-orang yang fanatik kepadanya, dan begitu juga kita akan meninggalkan
keutamaan-keutamaan yang diberikan sultan kepadanya. Karena yang demikian ini
tidak bisa menjadi ukuran yang nyata untuk mengenal pribadi Malik. Berikut ini
saya kemukakan satu contoh darinya, “Sesungguhnya Qais melihat Rasulullah
saw berjalan di sebuah jalan, sementara Abu Bakar berada di belakangnya, lalu Umar
di belakang Abu Bakar, dan Malik di belakang Umar, serta Sahnun[191]
di belakang Malik.”[192]

 

Dan beberapa ratus contoh lainnya, yang kesemuanya
merupakan hal-hal yang sepele dan keutamaan-keutamaan buatan yang tidak layak
untuk didiskusikan.

Di sini, saya mencukupkan diri dengan ucapan-ucapan
para ulama dan sebagian orang yang hidup sezaman dengan Malik, yang merupakan
pandangan yang indefenden yang tidak melewati batas-batas kritik ilmiah.

 

Syafi’i berkata, “Singa lebih fakih dari Malik,
hanya saja para sahabatnya tidak menguasainya.” Sa’id bin Ayub berkata,
“Jika seandainya Singa dan Malik berkumpul, maka Malik akan lebih bisu
dari singa, dan singa akan menjual Malik kepada siapa saja yang
diinginkannya.”[193]

Ali bin al-Madini bertanya kepada Yahya bin Sa’id,
“Pendapat siapakah yang lebih kamu sukai, pendapat Malik atau pendapat
Sufyan?”

Yahya bin Sa’id menjawab, “Tentu tidak diragukan
pendapat Sufyan yang lebih aku sukai.” Yahya melanjutkan, “Sufyan
berada di atas Malik dalam segala hal.”

Yahya bin Mu’in berkata, “Saya mendengar Yahya
bin Sa’id berkata, “Sufyan lebih aku sukai dibandingkan Malik dalam segala
hal.”[194]

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Dia —yakni Malik—
tidak mempunyai hapalan.”

Ibnu Abdul Barr berkata, “Ibnu Dzubaib telah
mengatakan sesuatu yang kasar dan keras tentang Malik, yang saya enggan untuk
menyebutkannya.”[195]

 

Ibrahim bin Sa’ad telah berkata tentang Malik sambil
mengutuknya. Demikian juga Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, Ibnu Ubay Yahya,
Muhammad bin Ishaq al-Waqidi dan Ibnu Abi Zanad telah menjelek-jelekkan
beberapa hal dari mazhabnya.

Salmah bin Sulaiman berkata kepada Ibnu Mubaraak,
“Kamu pernah menulis sesuatu tentang pendapat Abu Hanifah, namun kamu
belum pernah menulis sesuatu tentang pendapat Malik?”

Ibnu Mubarak menjawab, “Saya tidak melihatnya
sebagai seorang yang berilmu.”[196]

 

Ibnu Abdul Barr berkata tentang Malik, “Mereka
menjelek-jelekkan beberapa hal dari mazhabnya.” Abdullah bin Idris
berkata, “Muhammad bin Ishaq datang kepada kami, lalu kami menyebutkan
sesuatu tentang Malik, maka kemudian dia berkata, ‘Kemarikan ilmunya.'”
Yahya bin Salih berkata, “Ibnu Aktsam telah berkata kepada saya, ‘Kamu
telah melihat Malik dan mendengar darinya, dan kamu juga telah menyertai
Muhammad bin Hasan. Lalu, mana yang lebih fakih dari keduanya?’ Saya jawab,
‘Muhammad bin Hasan, pada apa yang dia ambil untuk dirinya, lebih fakih dari
Malik.'”[197]

Demikian juga Muhammad bin Abi Hatim berkata,
“Dari Zar’ah, dari Yahya bin Bakir yang berkata, ‘Singa lebih fakih dari
Malik, hanya saja Malik mempunyai langkah.”[198]

Ahmad bin Hanbal berkata, “Abu Dzu’aib serupa
dengan Sa’id bin Musib. Dia lebih utama dari Malik. Hanya saja Malik amat
dibersihkan dan dipuji-puji oleh orang-orangnya.”[199]

 

Dari semua perkataan ini kita dapat menarik
kesimpulan bahwa tidak ada kelebih-utamaan Malik atas ulama yang lain, dan dia
tidak memiliki kelebihan yang menjadikannya layak untuk menduduki posisi
marji’iyyah (tempat rujukan) di dalam fikih. Namun, politik tidak memandang
kepada keahlian, dia mempunyai cara penilaian khusus yang didasarkan kepada
pertimbangan-pertimbangan politis dan kepentingan. Seorang fakih yang tidak
bertentangan dengan kebijakan-kebijaksannya maka dialah yang wajib diikuti oleh
kaum Muslimin, dan di tangannyalah hak otoritas pemberian fatwa.

 

3. IMAM
SYAFI’I

Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas
bin Usman bin Syafi’. Dia dilahirkan pada tahun 150 Hijrah, dan ada yang
mengatakan dia dilahirkan pada hari wafatnya Abu Hanifah. Orang-orang berbeda
pendapat mengenai tempat kelahirannya, antara Ghazzah, ‘Asqalan dan Yaman, dan
pendapat lemah mengatakan bahwa dia dilahirkan di Mekkah. Dia meninggal dunia
di Mesir pada tahun 204 Hijrah.

 

Ketika kecil dia hijrah bersama ibunya ke kota
Mekkah. Di Mekkah dia belajar Al-Qur’an, sehingga hafal Al-Qur’an. Kemudian dia
belajar menulis, dan setelah itu pergi ke pedalaman padang pasir, dan menetap
dengan suku Hudzail selama 20 tahun, sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu
Katsir di dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, atau tujuh belas tahun
sebagaimana yang diceritakannya sendiri di dalam kitab Mu’jam al-Buldan. Maka
dia pun memperoleh kefasihan suku Hudzail. Sepanjang waktu tersebut Syafi’i
tidak mempunyai perhatian kepada bidang keilmuan dan fikih. Dia baru mempunyai
perhatian kepada bidang keilmuan dan fikih pada dekade ketiga dari umurnya.
Jika dia tinggal selama 20 tahun di pedalaman padang pasir, maka dia baru mulai
belajar fikih pada dekade keempat dari umurnya. Artinya, setelah melewati umur
tiga puluh tahun.

 

Syafi’i berguru kepada guru-guru yang ada di Mekkah,
Madinah, Yaman dan Baghdad, dan orang yang pertama menjadi gurunya ialah Muslim
bin Khalid al-Makhzumi, yang dikenal dengan sebutan az-Zanji. Dia termasuk
orang yang tidak bisa dipercaya ucapannya. Banyak dari kalangan para huffazh
yang mendhaifkan dan mengecamnya, seperti Abu dawud, Abi Hatim dan an-Nasa’i.[200]

 

Kemudian Syafi’i belajar kepada Sa’id bin Salim
al-Qaddah. Sa’id bin Salim al-Qaddah telah dituduh sebagai orang murji’ah.
Syafi’i juga belajar kepada Sufyan bin Uyaynah, salah seorang murid Imam Ja’far
ash-Shadiq as. Dia adalah salah seorang pemilik mazhab yang musnah. Syafi’i
juga belajar kepada Malik bin Anas di Madinah, dan juga guru-guru lainnya. Ibnu
Hajar menyebutkan Syafi’i telah belajar dari delapan puluh orang guru. Sebuah
angka yang berlebihan. Ar-Razi menolak perkataan Ibnu Hajar tersebut. Syafi’i
juga telah mengambil ilmu dari Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, seorang qadhi
yang merupakan salah seorang murid dari Abu Hanifah. Tidak ada tempat bagi
kefanatikan di sini, karena Syafi’i sendiri telah mengakui bahwa dirinya telah
mengambil ilmu darinya.

Adapun murid-murid Syafi’i sebagiannya orang-orang
Irak dan sebagiannya lagi orang-orang Mesir. Mereka menjadi faktor penting di
dalam penyebaran mazhabnya. Adapun murid-murid Syafi’i yang berasal dari Irak
ialah Khalid al-Yamani al-Kalbi, Abu Tsaur al-Baghdadi, yang terhitung sebagai
pemilik mazhab tersendiri dan mempunyai muqallid (pengikut) hingga abad kedua
hijrah, dan dia wafat pada tahun 240 Hijrah. Kemudian, Hasan bin Muhammad bin ash-Shabbah
az-Za’farani, Hasan bin Ali al-Karabisi, Ahmad bin Abdul Aziz al-Baghdadi, dan
Abu Abdurrahman Ahmad bin Muhammad al-Asy’ari. Ahmad bin Muhammad al-Asy’ari
diidentikkan dengan Syafi’i, karena dia memperkuat mazhabnya dan membela para
pengikutnya, disebabkan kedudukan tinggi yang dimilikinya di mata sultan. Juga
teimasuk salah seorang dari murid Syafi’i adalah Ahmad bin Hanbal, meskipun
orang-orang Hanbali mengatakan bahwa Syafi’i pernah mengambil hadis dari Ahmad
dan belajar kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Thabaqat
al-Hanabilah.

 

Adapun murid-muridnya di Mesir, mereka amat berperan
di dalam penyebaran mazhabnya dan penulisan buku-buku. Yang paling terkenal
dari mereka ialah Yusuf bin Ya’qub al-Buwaithi, yang merupakan pengganti
Syafi’i di dalam memberikan pelajaran, dan termasuk penyeru terbesar kepada
mazhabnya.

 

Dia mendekati orang-orang asing dan memperkenalkan
kepada mereka keutamaan Syafi’i, hingga banyak pengikutnya dan tersebar
mazhabnya. Ibnu Abi Laits al-Hanafi merasa hasud kepadanya dan kemudian
mengeluarkannya dari Mesir, sehingga akhirnya Yusuf bin Ya’qub al-Buwaithi
meninggal dunia di dalam penjara di kota Baghdad.

 

Di antara murid-murid Yusuf bin Ya’qub al-Buwaithi
ialah Ismail bin Yahya al-Mazni dan Abu Ibrahim al-Mishri, yang memiliki
berbagai tulisan di dalam mazhab Syafi’i yang membantu penyebaran mazhab
tersebut, seperti kitab al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ ash-Shaghir, al-Mantsur,
dan yang lainnya.

Seseorang yang mempelajari sejarah mazhab Syafi’i
akan menemukan bahwa murid-murid dan sahabat-sahabatnyalah yang telah
membantunya dan menyebarkan mazhabnya.

Terdapat perbedaan antara madrasah Syafi’i di Irak
dengan madrasah Syafi’i di Mesir. Suatu hal yang perlu kita cermati.
Sebagaimana diketahui bahwa Syafi’i telah berpaling dari fatwa-fatwa yang
dikeluarkannya ketika berada di Irak, yang kemudian dikenal dengan mazhab
qadim, yang dipegang oleh murid-muridnya di Irak. Di antara kitab-kitab yang
berasal dari mazhab qadim ialah kitab al-Amali dan kitab Majma’ al-Kafi. Ketika
pindah ke Mesir dia mengharamkan berpegang kepada mazhab qadim, setelah mazhab
itu tersebar dan dipraktekkan oleh masyarakat umum. Apakah Syafi’i menarik diri
darinya karena mazhab qadim itu batil?! Atau, apakah ijtihadnya ketika di
Baghdad tidak sempurna, dan kemudian menjadi sempuma di Mesir?!

Kemudian, apa yang menjadi jaminan kebenaran
mazhabnya yang baru di Mesir?!

Apakah kalau sekiranya umurnya panjang dia pun akan
berpaling dari mazhab barunya itu?! Oleh karena itu, Anda menemukan dua
pendapat dalam satu masalah di dalam mazhab Syafi’i. Sebagaimana yang terdapat
di dalam kitab al-Umm. Ada orang yang menganggap bahwa perbedaan ini sebagai
akibat tidak adanya ketetapan hati dari Syafi’i, dan ini merupakan sebuah
kekurangan di dalam ijtihad dan ilmu.

Al-Bazzaz menyokong makna ini dengan mengatakan,
“Ketika di Irak Syafi’i menulis beberapa kitab, namun para sahabat
Muhammad asy-Syaibani mendhaifkan perkataannya dan mempersulitnya, sementara
para ahlul hadis tidak memperhatikan perkataannya, dan bahkan menuduhnya
sebagai mu’tazilah. Ketika di Irak pasar sudah tertutup baginya, maka Oleh
karena itu, dia pun pindah ke Mesir, yang ketika itu belum ada seorang fakih
yang dikenal di sana, dan pasar pun berpihak kepadanya.”[201]

 

Keadaan berubah ketika dia pindah ke Mesir. Karena
Syafi’i dikenal sebagai murid Malik dan sekaligus penolong dan pembela
mazhabnya. Inilah faktor yang membentangkan jalan kesuksesan Syafi’i di Mesir.
Karena watak umum masyarakat Mesir bermazhab Maliki. Di samping itu, kedatangan
Syafi’i ke Mesir berdasarkan rekomendasi khalifah saat itu kepada gubernur
Mesir, maka Oleh karena itu, Syafi’i memperoleh perhatian yang cukup di Mesir,
terutama dari kalangan para pengikut Malik.

 

Namun itu tidak berlangsung lama sehingga akhirnya
Syafi’i menulis kitab-kitab yang menolak Malik dan menentang
perkataan-perkataannya. Ar-Rabi’ berkata, “Saya mendengar Syafi’i
mengatakan,

‘Saya datang ke Mesir dalam keadaan tidak tahu bahwa
Malik berlawanan dengan ucapan-ucapannya kecuali hanya enam belas ucapan. Saya
perhatikan, dan kemudian saya mendapati dia mengatakan yang pokok dan
meninggalkan cabang atau mengatakan cabang dan meninggalkan pokok.’ Abu Umar berkata,
‘Abdul Aziz bin Abi Salma dan Abdurrahman bin Zaid juga telah berkata tentang
Malik, sebagaimana yang disebutkan oleh as-Saji di dalam kitab al-‘llal, mereka
menjelek-jelekkan beberapa hal tentang mazhab Malik.’ Hingga Abu Umar berkata,
‘Syafi’i telah berbuat zalim kepada Malik, dan begitu juga sebagian pengikut
Abu Hanifah, berkenaan dengan sesuatu dari pendapatnya, karena merasa hasud
akan kedudukan keimamahannya.'”[202]

Orang-orang Maliki telah habis kesabarannya terhadap
Syafi’i, dan mereka menunggu saat yang tepat hingga akhirnya mereka
membunuhnya. Ibnu Hajar mengatakan, mereka memukul Syafi’i dengan kunci besi
hingga meninggal dunia.[203]
Abi Hayyan menyebutkan peristiwa ini di dalam kasidah pujiannya terhadap
Syafi’i,

“Tatkala datang ke Mesir dia
menentang berbagai hal

menyakitkan yang ditujukan kepadanya.

Sementara orang-orang
menyembunyikan kebencian kepadanya.

Dia datang mengkritik apa yang
telah mereka peroleh

dan menghancurkan apa yang telah
mereka tegakkan karena memang bangunan mereka lemah.

Maka mereka pun memperdayanya
tatkala mereka berduaan

dengannya di tempat yang sepi.

Kecelakaan bagi mereka yang Allah
telah lumpuhkan

kedua tangan mereka terhadapnya.

Mereka merobek keningnya dengan
kunci besi

hingga pergilah dia tanpa
dibentahukan kematiannya.”

 

Maka Syafi’i pun meninggal dunia sebagai korban dari
kefanatikan mazhab pengikut Malik.

Meski pun demikian, Mesir merupakan benih pertama,
yang darinya tersebar luas mazhab Syafi’i, sebagai hasil dari upaya dan jerih
payah para sahabat dan murid-muridnya. Apabila tidak ada mereka, mungkin nasib
yang dialami mazhab Syafi’i tidak berbeda dengan nasib mazhab-mazab lain yang
musnah.

Mazhab Syafi’i berhasil menyebar luas di Syam dan
mampu mengalahkan mazhab mazhab al-Awza’i, setelah jabatan kehakiman dipegang
oleh Muhammad bin Usman ad-Dimasyqi asy-Syafi’i. Dengan gigih dia berusaha
menyebarkan mazhab Syafi’i di Syam, dan Oleh karena itu,lah mazhab al-Awza’i
menjadi musnah. Kemenangan mazhab Syafi’i menjadi sempurna pada masa Dinasti
Ayubiyyah, yang mana para rajanya merupakan para pemeluk mazhab Syafi’i yang
setia. Hal ini merupakan faktor yang amat membantu sekali di dalam memperkokoh
mazhab Syafi’i. Ketika datang Dinasti Mamalik di Mesir, langkah mereka tidak
bergeser dari mazhab Syafi’i. Seluruh raja-raja mereka bermazhab Syafi’i
kecuali Saifuddin yang bermazhab Hanafi, namun dia tidak mampu memberikan
pengaruh terhadap penyebaran mazhab Syafi’i.

Dengan demikian, nama Syafi’i menjadi harum dan
terkenal karena perantaraan raja dan sultan. Jika tidak, maka tentu mazhabnya
akan menjadi mazhab yang terlupakan.

 

Tikaman
Terhadap Syafi’i

Setiap imam diikuti dua kelompok manusia yang saling
berlawanan. Kelompok yang fanatik kepadanya dan kelompok yang membencinya.
Sebagaimana yang telah disebutkan.

Demikian juga halnya dengan Syafi’i. Orang-orang yang
fanatik kepadanya mensifatinya dengan sifat-sifat kesempurnaan sedemikian rupa,
sehingga tidak ada seorang makhluk pun yang mampu menggapainya. Sebaliknya,
orang-orang yang membencinya membuat hadis-hadis yang menurunkan derajatnya
hingga tingkatan Iblis.

 

Ahmad bin Abdullah al-Juwaibari meriwayatkan dari
Abdu bin Ma’dan, dari Anas, dari Rasulullah saw yang bersabda, “Akan
datang pada umatku seorang laki-laki yang dipanggil dengan nama Muhammad bin
Idris, dia lebih berbahaya bagi umatku dibandingkan Iblis. Juga akan datang
pada umatku seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Abu Hanifah, dia
adalah pelita bagi umatku.”[204]

Tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa hadis ini
palsu.

 

Sebaliknya, Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dengan
bersanad kepada Suwaid bin Sa’id yang berkata, “Kami pernah bersama Sufyan
bin ‘Uyaynah di Mekkah. Lalu datang seorang laki-laki memberitahukan bahwa
Syafi’i telah meninggal dunia. Kemudian Sufyan berkata, ‘Jika Muhammad bin
Idris meninggal dunia maka sungguh telah meninggal seutama-utamanya manusia
pada zamannya.”‘[205]

Ini juga merupakan kabar bohong, karena Sufyan bin
‘Uyaynah meninggal dunia pada tahun 198 Hijrah, yaitu enam tahun sebelum
Syafi’i meninggal dunia.

Tuduhan yang dilontarkan kepada Syafi’i terkadang
tuduhan bahwa dia itu Syi’ah, dia itu Mu’tazilah, dia itu meriwayatkan dari
orang-orang yang suka dusta, dan dia itu orang yang sedikit bersandar kepada
hadis.

Yahya bin Mu’in ditanya, “Apakah Syafi’i pernah
berdusta?”

Yahya bin Mu’in menjawab, “Saya tidak ingin
membicarakannya dan tidak ingin menyebut namanya.”

Al-Khatib meriwayatkan dari Yahya bin Mu’in yang
berkata, “Syafi’i bukan orang yang dapat dipercaya.”

Di sana terdapat tuduhan-tuduhan yang tidak ada
nilainya, yang tidak perlu kita kaji di sini. Namun yang menarik perhatian saya
ialah tuduhan yang mengatakan bahwa Syafi’i itu Syi’ah. Tuduhan ini terhitung
sebagai  tuduhan yang amat berbahaya pada saat itu, di mana pada saat itu
kalangan Alawi dan Syi’ah dikejar-kejar dan dibunuh dengan cara yang paling
keji. Sehingga sikap menampakkan permusuhan kepada Ali, anak-anaknya dan para
pengikutnya menjadi suatu fenomena yang lumrah. Untuk lebih mengetahui hal ini
secara mendalam silahkan Anda merujuk kepada kitab-kitab sejarah, seperti kitab
Magatil ath-Thalibin, karya Abu Faraj al-Isfahani, sehingga Anda dapat
mengetahui sedikit tentang berbagai macam siksaan yang ditimpakan kepada Ahlul
Bait dan para pengikutnya. Oleh karena itu, masyarakat terbelah menjadi dua
kelompok: Kelompok yang sabar dan berkorban untuk tetap berpegang kepada
kepemimpinan Ahlul Bait, jumlah mereka sedikit sekali, sedangkan kelompok kedua
yang merupakan kelompok mayoritas, mereka tunduk dan menukar agamanya dengan
dunia para sultan. Sungguh benar apa yang telah dikatakan oleh Imam Husain,
“Manusia itu hambanya dunia, dan agama hanya sebatas di lidah mereka.
Mereka akan mengelilingi agama selama kehidupan masih mengalir kepada mereka,
namun jika mereka diuji dengan bala maka sedikit sekali dari mereka yang
benar-benar berpegang kepada agama.”

Pada situasi yang dipenuhi dengan kegelapan ini
Syafi’i menampakkan kecintaannya kepada Ahlul Bait. Dan karena semata-mata
kecintaannya kepada Ahlul Bait inilah Syafi’i dituduh Syi’ah. Padahal
sesungguhnya Syafi’i bukanlah seorang Syi’ah. Yaitu orang yang berpegang kepada
kepemimpinan para Imam Ahlul Bait dan mengikuti jalan mereka. Melainkan itu
hanya semata-mata kecintaan yang melekat pada fitrah setiap manusia. Oleh
karena itu, Syafi’i berkata di dalam syairnya,

“Wahai Ahlul Bait Rasulullah,
kecintaan kepadamu

merupakan kewajiban dari Allah di
dalam

Al-Qur’an yang telah
diturunkan-Nya.

Cukup menjadi bukti bagi keagungan
kedudukanmu

bahwa barangsiapa yang tidak
membaca salawat kepadamu

maka tidak ada salat
baginya.”

 

Dengan bersandar kepada firman Allah SWT yang
berbunyi, “Katakanlah. ‘Aku tidak meminta kepadamu suatu upah apa pun atas
risalah yang aku sampaikan kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (QS.
asy-Syura: 23)

Yaitu sebuah ayat yang dengan jelas mengatakan
wajibnya mencintai Ahlul Bait as. Saya pernah heran, kenapa Allah SWT
menjadikan upah penyampaian risalah-Nya terletak di dalam kecintaan kepada
Ahlul Bait?! Masalah ini tetap belum jelas bagi saya kecuali setelah saya
mengetahui betapa besarnya nilai cobaan yang terkandung di dalam kecintaan
kepada Ahlul Bait dan berpegang kepada mereka. Inilah Syafi’i sebagai contoh
yang ada di hadapan Anda, tatkala dia menampakkan kecintaannya kepada Ahlul
Bait, maka dengan serta mereka menuduhnya sebagai rafidhi. Syafi’i berkata di
dalam syairnya,

“Mereka berkata, ‘Engkau
telah menjadi rafidhi.’

Aku jawab, ‘Sekali-kali tidak.

Aku bukan rafldhi, baik secara
agama maupun keyakinan.

Namun tidak diragukan —memang— aku
mencintai sebaik-baiknya Imam dan sebaik-baiknya penunjuk.

Jika kecintaan kepada al-washi
dikatakan sebagai rafidhi,

maka ketahuilah sesungguhnya aku
ini hamba yang paling rafidhi.'”

 

Tatkala Syafi’i menampakkan kecintaannya kepada Ali
as, beberapa orang para penyair mengejeknya dengan mengatakan,

“Syafi’i mati dalam keadaan tidak tahu

apakah Ali Tuhannya atau Allah Tuhannya.”

 

Pada situasi yang dipenuhi dengan kebencian dan
penentangan terhadap Ahlul Bait dan para pengikutnya ini, Syafi’i tidak kendur
di dalam menampakkan kecintaannya kepada Ahlul Bait. Bahkan dengan lantang dia
mengatakan,

“Jika karena kecintaan kepada keluarga Muhammad
seseorang dikatakan rafidhi,

maka biarlah jin dan manusia bersaksi bahwa aku ini
seorang rafidhi.”

 

Syafi’i juga menamakan orang yang memberontak dan
memerangi Ali as sebagai orang pembuat makar. Tuduhan Syi’ah kepada Syafi’i
adalah sesuatu yang memang ada. Namun setelah kami melakukan pengkajian, tampak
jelas bagi kami bahwa Kesyi’ahan Syafi’i adalah semata-mata Kesyi’ahan apabila
dibandingkan dengan masyarakatnya yang tenggelam di dalam kebencian kepada
Ahlul Bait, karena mengikuti raja-raja mereka. Oleh karena itu, Syafi’i dituduh
Syi’ah. Jika kita membebaskan masyarakat tersebut dari kepatuhan kepada
penguasa dan politiknya, maka kita tidak akan mendapati seorang pun yang
membenci Ahlul Bait, kecuali orang-orang Khawarij dan orang-orang yang
mengikuti jejaknya. Hati seorang Muslim tidak akan kosong dari kecintaan kepada
Ahlul Bait. Maka dengan begitu, Syafi’i hanyalah seorang pecinta Ahlul Bait,
dan bukan seorang Syi’ah. Terdapat perbedaan yang besar di antara keduanya.
Karena setiap orang yang mencintai nilai-nilai kebajikan maka dia pasti akan
mencintai Ahlul Bait, yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai kebajikan
tersebut, meski pun dia bukan seorang Muslim.

 

Bukti-bukti yang menunjukkan kepada hal itu banyak
sekali. Beberapa di antaranya ialah: Seorang penulis Kristen yang bernama
George Jordaq. Dia menulis sebuah ensiklopedia tentang Imam Ali as yang terdiri
dari lima jilid. Dia menggambarkan Imam Ali dengan sifat-sifat yang amat agung.
Dia juga menulis sebuah buku tentang Sayyidah Fatimah az-Zahra as, yang diberi
judul Fatimah Witrfi Ghamad. Berikutnya adalah Salma Kattani, penulis buku
al-lmam Ali Nibras wa Mitras. Demikian juga, qashidah terpanjang di dunia yang
terdiri dari lima ribu bait, ditulis oleh seorang Kristen berkenaan dengan hak
Imam Ali bin Abi Thalib as. Berikutnya, qashidah terpanjang kedua yang terdiri
dari tiga ribu bait, yang juga ditulis oleh seorang Kristiani, juga berbicara
tentang keutamaan Imam Ali as. Adapun qashidah terpanjang ketiga adalah
qashidah yang terdiri dari seribu bait, yang juga ditulis oleh seorang
Kristiani berkenaan dengan Imam Ali as. Namun ini semua tidak cukup untuk
menunjukkan Kesyi’ahan mereka. Semata-mata hanya kecintaan tidaklah cukup.
Karena kecintaan yang hakiki adalah berarti tunduk dan patuh kepada mereka, dan
mengambil ajaran agama hanya dari mereka. Hal ini sebagaimana yang dikatakan
oleh seorang penyair,

 

“Jika cintamu memang benar maka tentu kamu
mentaatinya

karena sesungguhnya orang yang mencintai akan
mentaati

orang yang dicintainya.”

 

 

4. IMAM
AHMAD BIN HANBAL

Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Dilahirkan
pada tahun 164 Hijrah, di kota Baghdad, menurut pendapat yang lebih masyhur,
atau di kota Marwa, menurut pendapat yang lebih lemah. Ahmad tumbuh sebagai
yatim di bawah asuhan ibunya. Dia sudah mempunyai perhatian kepada ilmu ketika
dia berumur lima belas tahun, yaitu pada tahun 179 Hijrah. Dia belajar ilmu
hadis, setelah belajar membaca Al-Qur’an dan bahasa. Guru pertama tempat dia
menimba ilmu ialah Hisyam bin Basyir as-Silmi, yang wafat pada tahun 183 Hijrah.
Ahmad bin Hanbal menyertainya selama tiga tahun atau lebih. Dia telah melakukan
perjalanan ke Mekkah, Kufah, Basrah, Madinah, Yaman, Syam dan Irak untuk
mencari hadis. Di kota-kota tersebut dia berguru kepada sekumpulan para ulama,
yang tidak perlu kita sebutkan di sini, namun yang terpenting dari mereka
adalah Syafi’i; sehingga aneh sekali apabila orang-orang Hanbali mengatakan
Syafi’i sebagai murid Ahmad bin Hanbal.

 

Ahmad bin Hanbal mempunyai murid yang banyak sekali,
namun yang paling terkenal dari mereka ialah Ahmad bin Muhammad bin Hani, yang
terkenal dengan panggilan al-Atsram, yang wafat pada tahun 261 Hijrah, kemudian
Shalih bin Ahmad bin Hanbal, putra tertua Ahmad bin Hanbal, dan kemudian
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, yang wafat pada tahun 290 Hijrah, dia
meriwayatkan hadis dari ayahnya.

 

Kitab-Kitab
Peninggalan Ahmad

Ahmad tidak pernah menulis sebuah kitab di dalam
bidang fikih yang terhitung sebagai kitab induk, yang menjadi tempat
pengambilan mazhab fikihnya. Dia hanya mempunyai kitab-kitab yang terhitung
sebagai kitab-kitab fikih tematik, seperti kitab al-Manasik al-Kabirah,
al-Manasik ash-Shaghirah, dan Risalah Shaghirah fi ash-Shalah. Namun,
kitab-kitab tersebut tidak lebih hanya merupakan kitab-kitab hadis, meski pun
terhadap beberapa temanya dilakukan penjelasan dan pembahasan.[206]

 

Dia terkenal tidak mau menulis kitab yang memuat
tafri’ (pencabangan) dan ra’yu. Pada suatu hari dia pernah berkata kepada Usman
bin Sa’id, “Janganlah kamu melihat kepada isi kitab Abi ‘Ubaid, juga
kepada kitab yang ditulis oleh Ishaq, Sufyan, Syafi’i dan Malik. Kamu harus
berpegang kepada pokok.”

 

Yang paling termasyhur dari karyanya di dalam bidang
hadis adalah kitab musnadnya, yang mencakup empat puluh ribu hadis, di mana
sepuluh ribu hadis darinya disebut berulang. Ahmad bin Hanbal amat percaya
dengan kitab musnadnya. Ketika dia ditanya tentang sebuah hadis, dia berkata,
“Lihatlah, jika terdapat di dalam musnad maka itu hujjah, namun jika maka
itu bukan hujjah.”

 

Banyak dari para huffazh yang meragukannya, dan
mereka tidak mempercayai semua yang ada di dalamnya; bahkan dengan lantang
mereka mengatakan akan adanya riwayat-riwayat palsu. Namun di sini bukan tempatnya
kita membahas masalah ini.

 

 

Malapetaka Yang Menimpa Ahmad bin Hanbal

Sesungguhnya tikungan yang paling tampak dalam
sejarah kehidupan Ahmad bin Hanbal ialah malapetaka yang menimpanya disebabkan
perkataannya bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk. Malapetaka yang menimpa dia
dimulai pada zaman Makmun yang memerintahkan manusia dengan kekerasan untuk
mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Makmun adalah seorang mutakallim yang
alim. Dia mengirimkan surat edaran kepada seluruh gubernurnya, dan memerintahkan
kepada mereka untuk menguji manusia akan keyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.
Di dalam surat edarannya itu dia mengatakan, “Sesungguhnya wajib atas
khalifah kaum Muslimin untuk menjaga dan menegakkan agama, serta melaksanakan
kebenaran pada rakyat. Amirul Mukminin telah mengetahui bahwa sebagian besar
dari kalangan masyarakat umum, yang tidak mempunyai pandangan dan perenungan,
tidak mempunyai argumentasi yang berdasarkan petunjuk dan hidayah Allah, dan
tidak diterangi oleh cahaya ilmu dan argumentasi, mereka itu orang-orang yang
bodoh akan Allah SWT, buta terhadap-Nya, tersesat dari hakikat agama-Nya,
tauhid-Nya dan iman kepada-Nya, menyimpang dari tanda-tanda-Nya yang amat
jelas, tidak mampu menghargai Allah sesuai dengan kadar-Nya, dan tidak mampu mengetahui
hakikat pengenalan-Nya; disebabkan karena lemahnya pandangan-pandangan mereka,
kurangnya akal mereka, dan kelalaian mereka dari bertafakkur dan mengambil
pelajaran. Oleh karena itu, mereka menyamakan antara Allah dengan apa yang
telah diturunkan-Nya, yaitu Al-Qur’an. Lalu mereka sepakat menerapkan bahwa
Al-Qur’an itu qadim dan azali, serta tidak diciptakan oleh Allah SWT..”[207]

 

Dari sinilah dimulai malapetaka “makhluknya
Al-Qur’an”. Ibnu Hanbal tidak masuk ke dalam perangkap ujian kecuali pada
masa Mu’tashim, disebabkan Makmun meninggal dunia sebelum sempat mengujinya.
Mu’tashim sangat keras di dalam menguji orang. Ketika datang giliran Ahmad bin
Hanbal, Mu’tashim bersumpah tidak akan membunuhnya dengan pedang, melainkan dia
akan memukulinya dengan pukulan demi pukulan, dan kemudian melemparkannya ke
dalam ruangan yang gelap gulita yang tidak ada cahaya sama sekali. Ahmad bin
Hanbal menjalani ujian selama tiga hari. Setiap hari dia didatangi untuk diajak
dialog. Hampir saja dia tunduk kepada pandangan penguasa, namun dengan segera
dia berpegang kepada keyakinannya dan menolak pandangan penguasa. Ketika
Mu’tashim telah merasa putus asa darinya, maka dia pun memerintahkan supaya
Ahmad bin Hanbal dipukul dengan cambuk. Ahmad bin Hanbal dipukul sebanyak 38
cambukkan. Namun, siksaan yang ditimpakan kepada Ahmad bin Hanbal tidak terus
berlanjut, bahkan Mu’tashim melepaskannya. Hal ini menimbulkan keheranan. Apakah
kejadian ini cukup untuk menjadikan Ahmad sebagai pahlawan sejarah, padahal
sejarah telah menyaksikan orang-orang yang mengalami penyiksaan yang lebih
kejam dari Ahmad dan mereka sabar?! Kemudian, kenapa siksaan yang ditimpakan
kepadanya tidak berlanjut?! Apakah dia telah tunduk kepada perkataan sultan?!

 

Sebagian dari mereka menyebutkan, bahwa masyarakat
umum telah berkumpul mengepung rumah sultan, dan mereka telah bertekad untuk
menyerangnya, maka akhirnya Mu’atshim memerintahkan untuk melepaskannya.
Perkataan ini tidak sesuai dengan kenyataan. Karena sejarah mencatat Mu’tashim
sebagai orang yang kuat dan memiliki kemauan yang keras, di samping besarnya
daerah kekuasaan yang dimilikinya, sehingga penolakan masyarakat umum tidak
akan berpengaruh kepadanya. Lantas, masyarakat umum yang mana? Apakah mereka
itu pengikut Ahmad?! Padahal Ahmad belum dikenal sebelum peristiwa malapetaka
itu, sehingga dia mempunyai masyarakat umum. Jika memang mereka itu pengikut
Ahmad, Ahmad telah melarang mereka untuk memberontak kepada sultan..! Sehingga
dengan demikian, alasan yang dikemukakan di atas tidak memuaskan.

Tampak jelas bahwa yang menjadi sebab kenapa Ahmad
dibebaskan adalah karena Ahmad memenuhi keinginan khalifah dan mengatakan apa
yang dikatakannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh al-Jahidz di dalam
suratnya yang ditujukan kepada Ahlul Hadis, setelah dia menyebutkan malapetaka
dan ujian,

“Sahabat kalian ini —yaitu Ahmad bin Hanbal—
mengatakan bahwa tidak ada taqiyyah kecuali di negara syirik. Jika pengakuannya
yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk hanyalah merupakan upaya tagiyyah
darinya, maka berarti dia telah melakukan taqiyyah di negeri Islam, dan ini
berarti dia telah membohongi dirinya. Dan jika pengakuannya itu disertai dengan
keyakinan akan kebenaran apa yang diakuinya itu, maka berarti dia bukan lagi
dari kamu dan kamu juga bukan lagi dari dia. Padahal dia tidak melihat pedang
yang terhunus, dan tidak mendapat pukulan yang banyak. Dia hanya dipukul
sebanyak tiga puluh cambukan, sehingga dengan lancar dia mengatakan apa yang
diminta oleh sultan. Padahal dia tidak ditempatkan di ruang-an yang sempit, dan
tidak diberati dengan besi.”[208]

 

Juga turut memperkuat apa yang dikatakan oleh
al-Jahidz tentang pengakuan Ahmad bin Hanbal bahwa Al-Qur’an itu makhluk, apa
yang disebutkan oleh Ya’qubi di dalam kitab tarikhnya. Ya’qubi berkata,
“Mu’tashim menguji Ahmad bin Hanbal di dalam masalah kemakhlukan
Al-Qur’an. Ahmad berkata, ‘Saya adalah seorang laki-laki yang mengetahui suatu
ilmu, namun tidak mengatakan demikian dalam masalah ini.’ Maka Mu’tashim pun
menghadirkan beberapa orang fukaha untuknya, maka Abdurrahman bin Ishaq dan
yang lainnya pun berdialog dengannya. Ahmad bin Hanbal tetap tidak mau
mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, sehingga akhirnya dia dipukul dengan
beberapa kali cambukan. Ibnu Ishaq berkata, ‘Biar saya, ya Amirul Mukminin,
yang berdialog dengannya.’ Mu’tashim berkata, ‘Aku serahkan urusan dia
kepadamu.’ Maka Ibnu Ishaq berkata, ‘llmu yang kamu ketahui ini, apakah
diturunkan oleh malaikat kepadamu atau kamu mengetahuinya dari beberapa
orang?!’

Ahmad menjawab, ‘Tentu, saya mengetahuinya dari
beberapa orang.’

Ibnu Ishaq bertanya lagi, ‘Apakah kamu ketahui
sedikit demi sedikit atau secara sekaligus?’

Ahmad bin Hanbal menjawab, ‘Saya mengetahuinya
sedikit demi sedikit.’

Ibnu Ishaq bertanya, ‘Maka berarti masih ada sesuatu
yang tidak kamu ketahui.’

Ahmad bin Hanbal menjawab, ‘Masih ada sesuatu yang
saya tidak ketahui.'”

Ibnu Ishaq berkata, “Dan ini termasuk salah satu
perkara yang tidak kamu ketahui; yang Amirul Mukminin ajarkan kepadamu.”

Ahmad bin Hanbal menjawab, “Saya akan mengatakan
apa yang dikatakan oleh Amirul Mukminin.”

Ibnu Ishaq berkata, “Berkenaan dengan
kemakhlukan Al-Qur’an?”

Ahmad menjawab, “Ya, berkenaan dengan
kemakhlukan Al-Qur’an.”

Lalu Ahmad bin Hanbal pun memberikan kesaksian
tentang kemakhlukan Al-Qur’an, dan Oleh karena itu, mereka membebaskannya
kembali ke rumahnya.[209]

 

Pahlawan-Pahlawan
Yang Tidak Tunduk Pada Keadaan

1. Ahmad bin Nashr al-Khaza’i, yang terbunuh pada
tahun 231 Hijrah. Dia adalah salah seorang murid Malik bin Anas. Ibnu Mu’in dan
Muhammad bin Yusuf menceritakan bahwa dia termasuk salah seorang ahli ilmu.
Al-Watsiq telah mengujinya dengan pertanyaan, apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?

Ahmad bin Nashr al-Khaza’i berkata, “Kalam
Allah, dan bukan makhluk.”

 

Maka al-Watsiq pun memaksanya untuk mengatakan bahwa
Al-Qur’an itu makhluk, namun Ahmad bin Nashr al-Khaza’i tetap menolaknya.
Kemudian al-Watsiq bertanya lagi kepadanya tentang melihat Allah pada hari
kiamat. Ahmad bin Nashr menjawab, “Ya, Allah SWT dapat dilihat pada hari
kiamat.” Lalu dia mengutip hadis-hadis yang berbicara tentang hal itu.

Al-Watsiq berkata, “Celaka kamu. Apakah Dia
dapat dilihat sebagaimana dapat dilihatnya jisim yang terbatas dan menempati
ruang. Sungguh, Anda telah kafir dengan mengatakan Tuhan yang memiliki
sifat-sifat ini.”

 

Manakala Ahmad bin Nashr al-Khaza’I tetap bersikeras
dengan pandangannya, maka Khalifah pun mendatangkan sebilah pedang yang
dijuluki shamshamah (pedang sekali tebas, karena sangat tajamnya). Khalifah
berkata, “Saya akan membuat perhitungan dengan orang kafir ini, yang tidak
menyembah Tuhan yang kita sembah, dan mensifati-Nya dengan sifat yang tidak
kita akui. Kemudian Khalifah berjalan menghampirinya, dan lalu memenggal
lehernya. Selanjutnya Khalifah memerintahkan supaya kepala Ahmad bin Nashr
dibawa ke kota Baghdad. Di sana, kepala Ahmad bin Nashr ditancapkan di sebelah
timur kota selama berhari-hari, dan kemudian di sebelah barat kota beberapa
hari. Ketika tubuh Ahmad bin Nashr disalib, al-Watsiq menulis di atas secarik
kertas, dan kemudian menggantungnya pada kepala Ahmad bin Nashr. Bunyi tulisan
itu sebagai berikut, “Ini adalah kepala Ahmad bin Nashr bin Malik.
Abdullah al-Imam Harun —yaitu al-Watsiq— telah menyerunya kepada keyakinan
kemakhlukan Al-Qur’an dan penafian tasybih, namun dia bersikeras menolaknya,
maka Allah SWT pun mensegerakan dia ke dalam neraka.”[210]

 

2. Yusuf bin Yahya al-Buwaithi. Sebagaimana telah
dijelaskan bahwa dia adalah salah seorang murid Imam Syafi’i, dan merupakan
penggantinya yang meneruskan majlis pelajarannya. Yusuf bin Yahya al-Buwaithi
dibawa dari Mesir ke Baghdad dalam keadaan tubuhnya diberati dengan empat puluh
potongan besi. Dia diminta untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, namun
dia menolaknya. Dia tetap bersikeras menolak bahwa Al-Qur’an itu makhluk
sehingga dia meninggal dunia di dalam penjara pada tahun 232 Hijrah.

 

Dan banyak lagi pahlwan-pahlawan lain, yang tidak
mungkin dapat disebutkan di sini secara satu persatu, yang mana mereka lebih
teguh dan lebih keras di dalam memegang keyakinannya dibandingkan Ahmad bin
Hanbal. Sungguh merupakan kezaliman manakala disebutkan bahwa hanya Ahmad bin
Hanbal saja yang mendapat ujian, dan itu dihitung sebagai kepahlawanannya yang
terbesar. Padahal -sebagaimana Anda ketahui- Ahmad bin Hanbal sama sekali tidak
demikian.

Dia justru tunduk dan mau menerima apa yang dikatakan
oleh Mu’tashim.

 

Ahmad Pada
Masa Mutawakkil

Ketika Mutawakkil menduduki puncak kekuasaan, dia
mendekati kelompok Ahlul Hadis dan mengintimidasi kelompok Mu’tazilah. Persis
kebalikan pada masa Ma’mun, Mu’tashim dan al-Watsiq. Mutawakkil menguji
masyarakat tentang kemakhlukan Al-Qur’an. Siapa saja yang mengatakan Al-Qur’an
itu makhluk, maka dia akan disiksa dan dibunuh. Maka kelompok Ahlul Hadis pun
menemukan sasaran mereka, dan gaung mereka pun menjadi besar. Mereka menempati
kedudukan yang tinggi, dan menuntut balas dendam dari kalangan Mu’tazilah
dengan sekejam-kejamnya.

 

Ahmad Amin berkata, “Khalifah Mutawakkil ingin
merangkul pendapat umum dan mendapatkan dukungan mereka. Oleh karena itu, dia
pun membatalkan perkataannya tentang kemakhlukan Al-Qur’an, membatalkan ujian
dan pengadilan, dan menolong para ahli hadis.”[211]

 

Merupakan keuntungan terbesar bagi Ahmad bin Hanbal
manakala dia dekat dengan Mutawakkil. Karena dia adalah orang yang masih
tersisa dari malapetka “kemakhlukan Al-Qur’an”, setelah
pahlawan-pahlawannya dibunuh. Mutawakkil berpesan kepada para gubernurnya untuk
menghormati dan menghargai Ahmad bin Hanbal. Dia juga bersimpati kepadanya dan
memberikan empat ribu dirham kepadanya setiap bulan.[212]
Maka bersinarlah bintang Ahmad, dan masyarakatpun berbondong-bondong mendatangi
pintu rumahnya, begitu juga dengan para pejabat pemerintah. Sebagai gantinya
Ahmad mengakui keabsahan kekhilafahan dan kepemimpinan Mutawakkil serta
mewajibkan ketaatan kepadanya. Pemerintah sangat mendukung Ahmad dan menguatkan
posisinya. Ini tidaklah heran karena Ahmad berpendapat seseorang wajib taat
kepada pemimpin, baik itu pemimpin yang baik maupun pemimpin yang jahat.

 

Ahmad berkata di dalam salah satu risalahnya,
“Wajib hukumnya mendengar dan taat kepada para pemimpin dan Amirul
Mukminin, baik yang baik maupun yang jahat. Baik yang menduduki kekhilafahan
karena kesepakatan manusia dan keridaan mereka kepadanya maupun orang yang
mendudukinya melalui ketazaman pedang dan kemudian disebut sebagai Amirul
Mukminin. Tidak boleh seorang pun menjelek-jelekan mereka atau menentangnya.
Begitu juga sah hukum-nya membayar zakat kepada mereka, baik pemimpin yang baik
maupun pemimpin yang jahat. Demikian juga sah hukumnya salat di belakang
mereka. Barangsiapa yang mengulangi salatnya maka dia itu pembuat bid’ah dan
penentang sunah.

 

Barangsiapa yang memberontak kepada seoarang pemimpin
dari para pemimpin kaum Muslimin, sementara manusia telah sepakat atasnya dan
telah mengakui kekhilafahannya, baik karena rida maupun karena terpaksa, maka
orang yang memberontak kepadanya berarti telah mematahkan tongkat kaum Muslimin
dan telah menentang peninggalan Rasulullah saw. Jika orang yang memberontak itu
mati maka dia mati sebagai matinya orang jahiliyyah.”[213]

Abu Zuhrah mengatakan di dalam kitab yang sama,
halaman 321, “Ahmad mempunyai pandangan yang sama dengan seluruh para
fukaha tentang sahnya kepemimpinan orang yang menguasai kepemimpinan dan
kemudian manusia meridainya serta memberlakukan hukum yang sesuai di antara
mereka. Bahkan, Ahmad berpendapat lebih jauh dari itu. Dia mengatakan bahwa
barangsiapa yang menguasai kepemimpinan, meskipun dia seorang yang suka berbuat
maksiat, maka wajib taat kepadanya, supaya tidak timbul fitnah.”

 

Oleh karena itu, kita mendapati para pengikutnya dari
kalangan salafi dan Wahabi, mereka menetapkan Husain bin Ali as sebagai seorang
yang durhaka dan wajib dibunuh oleh Yazid, dikarenakan dia telah memberontak
kepada pemimpin zamannya. Saya telah mende-ngar sendiri dengan telinga saya
bagaimana salah seorang dari mereka mendebat saya dan membela Yazid dengan
keras. Dia berkata, “Husain telah memberontak kepada pemimpin zamannya,
maka Oleh karena itu, dia wajib dibunuh.” Lihatlah, betapa orang ini telah
bertaklid secara buta kepada orang-orang sebelumnya. Apa nilai Ahmad bin Hanbal
dihadapan Husain bin Ali as, sehingga saya harus mengatakan apa yang
dikatakannya, melakukan apa yang difatwakannya, dan menuduh Husain bin Ali
telah berbuat zalim dan durhaka?!

 

Jika kita melepaskan diri kita dari taklid buta yang
semacam ini, lalu kemudian kita merenungi ayat-ayat Al-Qur’an, niscaya yang
demikian akan lebih baik dan lebih dekat kepada kebenaran. Allah SWT berfirman,

 

“Dan
janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu
disentuh api neraka.”

(QS. Hud:
113)

 

“Dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat
Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati
batas.”

(QS.
al-Kahfi: 28)

 

“Maka
janganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).”

(QS.
al-Qalam: 8)

 

“Dan
janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas.”

(QS.
asy-Syu’ara: 151)

 

Namun mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, dan
berhujjah dengan riwayat-riwayat yang dibuat oleh para penguasa Bani Umayyah,
supaya manusia tunduk kepada kekuasaan mereka. Ahlul Bait telah menolak
hadis-hadis ini dengan hadis-hadis yang benar dan sejalan dengan Al-Qur’an
serta selaras dengan ruh Islam.

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Barangsiapa
yang suka kelangsungan hidup orang-orang yang zalim maka berarti dia suka Allah
didurhakai.” Di samping perkataan ini merupakan hadis, dia juga merupakan
dalil akal yang kokoh. Karena hadis ini melihat bahwa barangsiapa yang tunduk
dan taat kepada orang yang zalim serta tidak melakukan penentangan terhadapnya
maka berarti dia suka tetap berlangsungnya kedurhakaan kepada Allah. Allah SWT
berfirman,

“Barangsiapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir.”

(QS.
al-Maidah: 44)

 

“Barangsiapa
yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka
itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maidah: 45)

 

“Barangsiapa
yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu
adalah orang-orang yang fasik. ” (QS. al-Maidah: 47)

 

Di samping ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat
yang memerintahkan kepada amar makruf dan nahi munkar. Oleh karena itu, tatkala
Husain bin Ali as hendak melakukan perlawanan terhadap thagut pada zamannya dia
berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda,
‘Barangsiapa yang melihat seorang penguasa zalim yang menghalalkan apa yang
telah diharamkan Allah, melanggar perjanjian Allah, menentang sunah Rasulullah,
dan berbuat dosa dan permusuhan terhadap hamba-hamba Allah, lalu dia tidak
berusaha untuk merubahnya dengan perkataan dan perbuatan, maka Allah berhak
untuk memasukkannya ke dalam tempat masuk penguasa zalim tersebut. Ingatlah,
sesungguhnya mereka itu telah mendawamkan ketaatan kepada setan, meninggalkan
ketaatan kepada Tuhan, menimbulkan kerusakan, membekukan hukum, memonopoli
pampasan perang, serta menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan
mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, padahal aku lebih berhak dari
selainku.”[214]

 

Namun, apa yang harus kita katakan kepada orang yang
telah meninggalkan para Imam Ahlul Bait dan menggantinya dengan para imam
buatan yang tidak Allah SWT perintahkan kepada kita untuk mentaatinya. Allah
SWt berfirman,

“Dan mereka berkata,
‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya
Tuhan kami, berilah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka
dengan kutukan yang besar.'”

(al-Ahzab: 67 – 68)

 

Sungguh besar kejahatan terhadap umat Islam yang
telah dilakukan oleh para penguasa Bani Umayyah, dengan membuat hadis-hadis
palsu ini. Begitu juga, betapa besar dosa dari fatwa yang telah dikeluarkan
oleh Ahmad bin Hanbal ini. Betapa fatwa ini telah mengecewakan generasi
revolusioner Islam yang menolak kezaliman dan kediktatoran pada abad yang
digambarkan sebagai abad kebangkitan dan pencerahan ini. Jika di sana terdapat
kejahatan yang telah dilakukan oleh sekelompok pemuda yang bergabung di bawah
bendera ajaran komunis, maka kejahatan terbesar justru dilakukan oleh para
ulama jahat.

 

Fikih
Ahmad bin Hanbal

Sudah dikenal bahwa Ahmad bin Hanbal adalah seorang
ahli hadis dan bukan seorang fakih. Para pengikutnya telah mengumpulkan
sebagian pendapatnya yang beraneka ragam, yang dinisbahkan kepadanya, dan
kemudian menjadikannya sebagai sebuah mazhab fikih.

Oleh karena itu, kita mendapati kumpulan hukum fikih
yang dinisbahkan kepada Ahmad bin Hanbal bermacam-macam dan saling
bertentangan. Di samping perbedaan mereka di dalam menafsirkan maksud dari
beberapa ungkapan, yang darinya tidak dapat dipahami hukum agama dalam suatu
masalah. Seperti ungkapan “la yanbaghi” (tidak selayaknya), apakah
ungkapan ini dimaksudkan untuk menunjukkan hukum haram atau hukum makruh.
Demikian juga ungkapan “yu’jibuni” (membuat saya kagum) dan ungkapan
“la yu ‘jibuni” (tidak membuat saya kagum), serta ungkapan “akrohuhu”
(saya membencinya) dan ungkapan “uhibbuhu” (saya menyukainya).

 

Di samping itu, Ahmad juga tidak mengaku dirinya
termasuk ahli fikih. Bahkan, dia menghindarkan diri dari mengeluarkan fatwa.
Khatib berkata dengan disertai sanadnya, “Saya pernah berada di samping
Ahmad. Lalu seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang halal dan haram. Ahmad
berkata kepadanya, ‘Tanyalah kepada orang lain selain kami.’ Orang itu berkata,
‘Kami hanya menginginkan jawaban darimu, wahai Aba Abdillah.’ Ahmad tetap
berkata, ‘Tanyalah kepada selain kami. Tanyalah para fukaha, dan tanyalah Abu
Tsaur.'”[215]
Dia tidak menganggap dirinya termasuk ke dalam kelompok para fukaha.

 

Al-Marwazi berkata, “Saya mendengar Ahmad
berkata, ‘Adapun tentang hadis, kami telah beristirahat darinya; sedangkan
mengenai masalah-masalah fikih, saya telah bertekad, jika saya ditanya tentang
sesuatu maka saya tidak akan menjawab.'”[216]

 

Khatib menyebutkan sekaligus dengan sanadnya, bahwa
dia mendatangi Ahmad bin Harb (seorang zuhud dari Naisabur) yang datang dari
Mekkah. Lalu Ahmad bin Hanbal berkata kepada saya, “Siapa orang Khurasan
yang datang ini?”

Saya jawab, “Dia adalah orang zuhud yang begini
begini.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidak layak bagi
seseorang yang mengklaim sifat zuhud memasukkan dirinya ke dalam urusan
pemberian fatwa.'”[217]

Inilah kebiasaannya. Dia tidak masuk ke dalam urusan
pemberian fatwa. Bahkan dia memandang urusan pemberian fatwa tidak sejalan
dengan sifat zuhud. Bagaimana mungkin dari orang yang seperti ini memiliki
fikih atau mazhab yang diikuti di dalam urusan-urusan ibadah?!

 

Abu Bakar al-Asyram —murid Ahmad bin Hanbal— berkata,
“Dahulu saya hafal fikih dan perbedaan-perbedaannya, namun sejak saya
menyertai Ahmad saya meninggalkan semuanya itu.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Janganlah kamu
berkata tentang suatu masalah yang kamu tidak mempunyai imam di dalamnya.”[218]

Atau dengan ungkapan yang lebih jelas, “Janganlah
kamu memberikan fatwa meski pun di tanganmu ada hadis, kecuali jika kamu
mempunyai imam tempat kamu bersandar di dalam fatwa ini.”

 

Ahmad bin Hanbal juga tidak melihat perlunya
dilakukan tarjih (menguatkan yang satu atas yang lain) di antara perkataan-perkataan
para sahabat, jika mereka berselisih di dalam suatu masalah. Dia malah
berpendapat silahkan Anda mengikuti mana yang Anda suka.

Inilah jawaban yang diberikannya kepada Abdurrahman
ash-Shair tatkala Abdurrahman ash-Shair bertanya kepadanya, “Apakah
mungkin dilakukan tarjih di antara perkataan-perkataan para sahabat?”

 

Orang yang melarang dilakukannya tarjih dan mengambil
perkataan yang paling maslahat adalah orang yang paling jauh dari ijtihad.
Salah satu bukti yang menunjukkan akan tidak adanya mazhab fikih Ahmad bin
Hanbal ialah, banyak dari kalangan para sahabatnya yang fanatik kepadanya
berselisih berkenaan dengan mazhab fikih mereka.

 

Apakah mereka itu orang-orang Hanafi atau orang-orang
Syafi’i? Seperti Abul Hasan al-Asy’ari, manakala dia meninggalkan paham
Mu’tazilah dan menjadi seorang Hanbali, dia tidak dikenal sebagai orang yang
memeluk agama Allah dengan fikih Hanbali. Demikian juga halnya dengan Qadhi
al-Baqalani, yang tadinya seorang Maliki. Begitu juga dengan Abdullah al-Anshari
al-Harawi, yang wafat pada tahun 481 Hijrah, yang mengatakan,

“Aku adalah Hanbali

selama aku hidup dan sesudah aku mati

Pesanku kepada manusia,

hendaknya mereka menjadi orang-orang Hanbali.”

 

Meski pun dia begitu fanatik kepada Ahmad bin Hanbal,
namun di dalam fikih dia mengikuti jalan Ibnu Mubarak. Inilah yang banyak
dikenal dari orang-orang sezaman dengannya dan dari orang-orang yang dekat
dengan masanya. Orang-orang yang menisbahkan dirinya kepadanya adalah
orang-orang yang menisbahkan dirinya dalam bidang keyakinan, bukan dalam bidang
fikih.

Di samping itu, di dalam risalahnya Ahmad bin Hanbal
melarang penggunaan ra’yu, qiyas dan istihsan, dan meletakkan orang-orang yang
meyakini qiyas ke dalam deretan orang-orang Jahmiyyah, Qadhariyyah dan rafidhah
(Syi’ah). Dia juga menyerang pribadi Abu Hanifah. Meski pun demikian,
penggunaan qiyas telah dimasukkan ke dalam fikih Hanbali. Inilah yang
menjadikan kita curiga bahwa Ahmad bin Muhammad bin Harun (Abu Bakar
al-Khalal), yang wafat pada tahun 311 Hijrah, yang merupakan perawi dan penukil
fikih Hanbali, tidak amanah di dalam melakukan penukilan. Dia melakukan
pencampuran di dalam penukilannya. Terlebih lagi bahwa Ahmad bin Muhammad bin
Harun tidak hidup sezaman dengan Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Muhammad bin Harun
telah mengumpulkan berbagai macam masalah fikih yang dinisbahkan kepada Ahmad
bin Hanbal. Kecurigaan ini pun dikuatkan oleh adanya perselisihan riwayat yang
hebat di dalam perkataan-perkataan Ahmad, sehingga sulit bagi akal untuk
menisbahkan seluruhnya kepada Ahmad bin Hanbal.

 

Abu Zuhrah berkata, “Sesungguhnya fikih yang
ternukil dari Ahmad bin Hanbal, saling berlawanan sedemikian rupa
perkataan-perkataannya sehingga sulit bagi akal untuk menisbahkan seluruhnya
kepadanya. Bukalah kitab mana saja dari kitab-kitab Hanbali, dan bab mana saja
dari bab-babnya, niscaya Anda akan mendapati dia tidak terbebas dari beberapa
masalah yang riwayat-riwayatnya saling berlawanan, antara ‘tidak’ dan
‘ya’.”[219]

 

Mazhab fikih Hanbali tidaklah jelas bagi bagi
orang-orang yang hidup sezaman dengannya, dan memang tidak ada; dia tidak lebih
hanya semata-mata mazhab buatan yang disebarkan dengan kekerasan dan pemaksaan
oleh para pengikut Hanbali. Seperti yang terjadi di kota Baghdad, yang
sebelumnya dikuasai oleh mazhab Syi’ah. Sedangkan di luar kota Baghdad mazhab
ini tidak dikenal. Pada abad ketujuh, hanya beberapa orang saja yang memeluk
mazhab ini di Mesir. Namun, tatkala Muwaffaquddin Abdullah bin Muhammad bin
Abdul Malik al-Hijazi menduduki posisi jabatan kehakiman, yang wafat pada tahun
769 Hijrah, maka mazhab Hanbali pun tersebar dengan perantaraannya. Dia
mendekati para fukaha mazhab Hanbali dan meninggikan kedudukan mereka.
Sedangkan di daerah-daerah lain nama mazhab Hanbali tidak banyak disebut. Ibnu
Khaldun memberikan analisa tentang hal itu, “Adapun Ahmad, jumlah
mukallidnya sedikit, dikarenakan mazhabnya jauh dari ijtihad.” Sebagaimana
yang dia sebutkan di dalam kitabnya al-Muqaddimah. Orang-orang Hanbali tidak
menemukan jalan untuk menyebarluaskan mazhab mereka kecuali dengan kekacauan
dan melakukan pemukulan terhadap orang di jalan-jalan, sehingga menggoyahkan
stabilitas yang ada di kota Baghdad. Maka keluarlah maklumat dari Khalifah
ar-Radhi yang menyalahkan tindakan mereka dan mengecam mereka karena keyakinan
mereka tentang tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk). Beberapa peng-galan
dari maklumatnya berbunyi sebagai berikut, “Kalian mengira wajah kalian yang
buruk serupa dengan Tuhan semesta alam, dan bentuk kalian yang jelek serupa
dengan bentuk-Nya. Kalian juga menyebutkan telapak tangan, jari jemari, dua
kaki naik ke langit dan turun ke dunia. Mahatinggi Allah dari segala sesuatu
yang dikatakan oleh orang-orang yang zalim dan kufur.”[220]

 

Maka demikianlah keadaan mazhab Hanbali. Mereka tidak
mempunyai banyak pengikut. Orang-orang lari dari mereka disebabkan keyakinan-keyakinan
yang mereka miliki tentang Allah dan penyerupaan yang mereka lakukan terhadap
Allah dengan makhluk-Nya. Mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak
layak bagi-Nya. Mazhab ini tidak menemukan kesempatan yang cukup untuk
menyebarkan ajarannya, hingga datanglah mazhab Wahabi di bawah pimpinan
Muhammad bin Abdul Wahab, yang dibangun di atas garis mazhab Hanbali. Penguasa
Keluarga Su’ud membantu Muhammmad bin Abdul Wahab menyebarkan mazhabnya dengan
ketazaman pedang, pada awalnya, dan melalui aliran uang rial, pada akhirnya.
Sungguh sangat disayangkan, banyak sekali manusia yang berpegang kepada fikih
Hanbali dengan tanpa mempunyai alasan kecuali hanya bersandar kepada kata-kata
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan
sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.”

 

Jika tidak demikian, maka mau tidak mau mereka harus
membuktikan argumentasi-argumentasi mereka di dalam tiga hal: Pertama, tentang
kedudukan Ahmad bin Hanbal sebagai fakih. Kedua, bahwa fikih yang dinisbahkan
kepada Ahmad bin Hanbal tidak dipalsukan. Dan yang ketiga, mereka harus
membuktikan dalil yang kuat yang menunjukkan wajibnya mengikuti Ahmad bin
Hanbal. Karena jika tidak, maka itu tidak lain hanya mengikuti sesuatu
berdasarkan sangkaan. Padahal sesungguhnya sangkaan itu tiada memberikan faidah
sedikit pun terhadap kebenaran. Di samping itu, orang-orang yang fanatik kepada
Ahmad bin Hanbal pun, seperti Ibnu Qutaibah, tidak menyebut Ahmad ke dalam
kelompok para fukaha. Jika memang dia seorang fakih dan mujtahid maka tentu
Ibnu Qutaibah tidak akan mengurangi haknya. Demikian juga Ibnu Abdul Barr tidak
menyebut namanya manakala dia menyebut nama-nama para fukaha di dalam kitabnya
al-Intiqa. Begitu juga Ibnu Jarir ath-Thabari, penulis kitab tafsir dan tarikh,
dia tidak menyebut nama Ahmad bin Hanbal di dalam kitabnya Ikhtilaf al-Fuqaha.
Ibnu Jarir ath-Thabari ditanya tentang hal itu. Dia menjawab, “Ahmad bukan
seorang fakih melainkan seorang muhaddis, dan saya tidak melihat dia mempunyai
para sahabat tempat dia bergantung.” Para pengikut Hanbali merasa
tersinggung dengan ucapan Ibnu Jarir ath-Thabari lalu mengatakan, “Dia itu
(Ibnu Jarir) seorang rafidhi. Tanyalah kepadanya tentang hadis ‘duduk di atas
‘arasy’, niscaya dia akan mengatakan, ‘Sesungguhnya itu mustahil.'”
Kemudian ath-Thabari membacakan syair,

 

“Mahasuci Zat yang tidak mempunyai teman

dan tidak duduk di atas ‘arasy.”

 

Maka mereka pun melarang orang-orang untuk duduk dan
datang menemui ath-Thabari. Mereka melontarkan tuduhan terhadapnya di
mihrab-mihrab mereka. Ketika ath-Thabari sedang berada di rumahnya, mereka
melemparinya dengan batu sehingga batu itu bertumpuk.[221]

 

Ini menunjukkan kefanatikan dan penyimpangan para
pengikut Hanbali di dalam menyebarkan mazhab mereka, yang tidak diakui oleh
para ulama. Syeikh Abu Zharah berkata, “Banyak dari kalangan orang-orang
terkemuka tidak menghitung Ahmad termasuk ke dalam kelompok fukaha, seperti
Ibnu Qutaibah, yang sangat dekat sekali dengan masa Ahmad, Ibnu Jarir
ath-Thabari dan yang lainnya.

 

PENUTUP

Setelah kita menjelaskan madrasah-madrasah fikih di
kalangan Ahlus Sunnah, tampak jelas bagi kita bahwa tidak ada kelebihan yang
dimiliki mazhab-mazhab ini atas mazhab-mazhab yang lainnya, sehingga bisa
tersebar ke seluruh dunia Islam, sekiranya para penguasa tidak menetapkan para
Imam mazhab yang empat sebagai satu-satunya sumber rujukkan fikih. Karena
penguasa yang sedang berkuasa tidak mungkin memerangi agama, bahkan sebaliknya
mereka menolong dan mendekati para ulama, namun dengan syarat bahwa
ajaran-ajaran mereka tidak mengganggu kepentingan-kepentingan kekuasaan.
Sehingga dengan demikian, kedudukan seorang penguasa berada di atas yang
lainnya.

 

Oleh karena itu, kita mendapati mazhab yang empat
telah dipilih oleh para penguasa dari sekian ratus mazhab yang ada, dan mereka
mendapat pengampunan dan keridaan sultan. Para penguasa mendudukkan para murid
mazhab-mazhab tersebut pada jabatan kehakiman dan menjadikan urusan agama
berada di tangan mereka. Kemudian mereka menyebarkan mazhab-mazhab pendahulu
mereka yang sesuai dengan keinginan penguasa. Sebagaimana yang telah dijelaskan
di atas.

 

Kebijaksanaan pada masa kekuasaan al-Muntashir al-Abbasi
menetapkan keharusan berpegang kepada perkataan tokoh-tokoh terdahulu, dan
tidak boleh sebuah perkataan disebutkan bersama perkataan mereka. Sementara
para ulama di seluruh negeri memberi fatwa akan wajibnya mengikuti mazhab yang
empat dan mengharamkan mazhab yang lainnya, serta menutup pintu ijtihad.

 

Ahmad Amin berkata, “Penguasa mempunyai peranan
yang besar di dalam memenangkan mazhab-mazhab Ahlus Sunnah. Biasanya, jika
sebuah pemerintahan yang kuat mendukung sebuah mazhab maka orang-orang akan
mengikuti mazhab tersebut. Mazhab tersebut akan terus berkuasa sampai lenyapnya
pemerintahan yang mendukungnya.”[222]

 

Setelah semua penjelasan ini, apakah masih ada orang
yang berargumentasi tentang wajibnya mengikuti mazhab yang empat?!

Apakah memang ada dalil yang mengatakan bahwa mazhab
hanya terbatas pada mazhab yang empat?!

 

Jika di sana tidak ada dalil yang menunjukkan tentang
wajibnya berpegang kepada mereka, apakah itu berarti Allah dan Rasul-Nya telah
lalai akan masalah ini, dan tidak menjelaskan kepada mereka tentang dari mana
seharusnya mereka mengambil agama mereka dan syariat hukum mereka?!

Mahasuci Allah dari membiarkan makhluk-Nya dengan
tanpa menjelaskan kepada mereka hukum-hukum mereka dan jalan yang akan
menyelamatkan mereka. Allah SWT telah menjelaskan melalui lidah Rasulullah saw
dan telah menegakkan hujjah akan wajibnya mengikuti ‘itrah Rasulullah saw. Akan
tetapi, manakala ‘itrah Rasulullah saw yang suci menentang para penguasa zalim
yang sezaman dengan mereka dan juga orang-orang yang merampas hak-hak mereka,
maka para penguasa berusaha memalingkan manusia dari mereka dan melarangnya
untuk berpegang kepada mereka. Karena, manusia kebanyakan hanya mengikuti orang
yang keras suaranya. Mereka akan bergerak ke arah mana pun angin bergerak.
Mereka tidak mencari sinar dengan cahaya ilmu dan tidak berlindung kepada pilar
yang kokoh.

 

Sebaliknya, Anda dapat melihat kepada madrasah Ahlul
Bait —Syi’ah— yang tidak memerlukan para penguasa untuk mencemerlangkan para
fukahanya. Bahkan mereka berpegang teguh kepada apa yang telah dikatakan oleh
Rasulullah saw, “Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua benda yang sangat
berharga, yaitu Kitab Allah dan ‘itrah Ahlul Baitku. Sesungguhnya Zat yang
Mahatahu telah memberitahukan aku bahwa keduanya tidak akan pernah berpisah
hingga keduanya menemuiku di telaga.”

Mereka berpegang kepada ‘itrah Rasulullah saw dan
mengambil agama dan pemikiran mereka darinya. Mereka tidak menyalahi Ahlul Bait
Rasulullah dan tidak mendahuluinya, serta mereka tidak membutuhkan kepada yang
lain untuk memberikan fatwa. Mereka hanya mengambil dari orang-orang yang
perkataannya berasal dari perkataan datuknya, dan perkataan datuknya adalah perkataan
Rasulullah saw, serta perkataan Rasulullah saw adalah perkataan Jibril, dan
perkataan Jibril adalah perkataan Allah SWT.

Seorang penyair berkata,

“Jika engkau ingin mencari
mazhab untuk dirimu

yang akan membebaskan kamu pada
hari kebangkitan

dari nyala api neraka

maka tinggalkanlah olehmu
perkataan Syafi’i, Malik dan

Ahmad, yang diriwayatkan dari
Ka’ab al-Ahbar

dan berpeganglah kepada
orang-orang yang perkataan

dan ucapannya, ‘Datuk kami telah
meriwayatkan dari

Jibril, dari al-Bari
(Pencipta).'”

 

Fikih Di
Kalangan Syi’ah

 

Keadaan mengambil agama secara langsung dari para
Imam Ahlul Bait as ini terus berlangsung hingga datangnya Imam yang kedua
belas, Muhammad bin Hasan al-Mahdi as. Imam Mahdi as telah menggariskan jalan
yang harus dilalui oleh orang-orang Syi’ah di dalam mengambil hukum-hukum fikih
tatkala beliau ghaib. Imam Mahdi as berkata,

“Adapun barangsiapa di
antara para fukaha yang memelihara dirinya, menjaga agamanya, menentang hawa
nafsunya serta taat dan tunduk kepada perintah Tuhannya, maka masyarakat umum
wajib bertaklid kepadanya.”[223]

D

engan begitu maka terbukalah bagi mereka pintu
ijtihad, penelitian dan istinbath. Kemudian, muncullah pemikiran tentang konsep
marji’iyyah fikih, yaitu di mana mereka memilih dari kalangan ulama orang yang
paling banyak ilmunya, paling bertakwa dan paling warak, lalu mereka bertaklid
kepadanya di dalam hukum-hukum fikih dan masalah-masalah yang baru. Para fukaha
telah menjelaskan secara rinci tentang bab ini. Berikut ini saya kemukakan
sebagiannya, yang berasal dari kitab al-Masa’il al-Islamiyyah, karya Ayatullah
Uzhma Sayyid Husain asy-Syirazi, halaman 90:

 

(Masalah
1):
Keyakinan seorang Muslim
tentang ushuluddin harus berdasarkan dalil dan argumentasi. Seseorang tidak
boleh bertaklid dalam masalah ini. Artinya, dia tidak boleh menerima perkataan
seseorang dalam masalah ini dengan tanpa dalil.

 

Adapun di dalam masalah hukum agama dan
cabang-cabangnya, seseorang harus menjadi mujtahid yang mampu meng-istinbath
hukum dari dalil-dalilnya; atau menjadi mukallid, dalam arti dia beramal sesuai
dengan pendapat mujtahid yang memenuhi semua persyaratan; atau dia melaksanakan
kewajibannya melalui jalan ihtiyath, dalam arti dia memperoleh keyakinan bahwa
dirinya telah menunaikan kewajiban, seperti misalnya jika sekelompok orang dari
mujtahid mengeluarkan fatwa akan wajibnya sebuah perbuatan lalu sekelompok
mujtahid yang lain memberi fatwa bahwa perbuatan tersebut mustahab, maka di
sini dia ber-ihtiyath dengan melakukan perbuatan tersebut. Barangsiapa yang
bukan mujtahid dan tidak mungkin baginya berlaku ihtiyath maka wajib atasnya
untuk bertaklid kepada seorang mujtahid dan beramal sesuai dengan pendapat
mujtahid tersebut.

 

(Masalah
2):
Berkenaan dengan
wajibnya bertaklid kepada mujtahid yang lebih tahu (al-a’lam), jika seseorang
mengalami kesulitan di dalam menentukan mujtahid yang lebih tahu (al-a’lam)
maka dia harus bertaklid kepada mujtahid yang dia sangka lebih tahu. Bahkan,
dia wajib bertaklid kepada mujtahid yang menurut perkiraan kecilnya lebih tahu,
dan dia mengetahui bahwa mujtahid yang lainnya tidak lebih tahu. Adapun jika
sekelompok dari para mujtahid sama di dalam ilmunya —menurut pandangannya— maka
dia wajib bertaklid kepada salah seorang dari mereka. Namun, jika salah seorang
dari mereka lebih warak dari yang lainnya, maka menurut ihtiyath dia wajib
bertaklid kepadanya dan tidak kepada yang lainnya.

 

(Masalah
3):
Fatwa dan pandangan
seorang mujtahid dapat diperoleh melalui salah satu cara dari empat cara
berikut ini,

1.   Mendengar
langsung dari mujtahid yang bersangkutan.

2.   Mendengar
dari dua orang yang adil yang menukil fatwa mujtahid.

3.   Mendengar
dari orang yang dapat dipercaya ucapannya dan dapat dipegang penukilannya.

4. Adanya fatwa di dalam risalah amaliah, disertai
dengan keyakinan akan benarnya apa yang terdapat di dalam risalah amaliah
tersebut, dan terbebasnya dari kesalahan.

 

Fikih telah berkembang pesat di kalangan Syi’ah. Di
kalangan mereka banyak terdapat hawzah-hawzah agama yang mengeluarkan para
fukaha dan marji’, yang kemudian dari sekian banyak fukaha tersebut akan muncul
yang tunggal. Ini terus berlangsung sepanjang sejarah, dan bahkan hingga hari
ini.

Seseorang yang merujuk kepada perpustakaan fikih
Syi’ah niscaya akan tercengang di hadapan karya-karya besar itu.

 

Berikut ini saya nukilkan bagi Anda sedikit contoh
dari kitab-kitab fikih Syi’ah.

Di dalam bab riwayat-riwayat yang berkenaan dengan
fikih, banyak sekali terdapat kitab-kitab yang berkenaan dengan hal ini. Yang
paling terkenal di antaranya ialah:

1. Kitab Wasa’il asy-Syi’ah, terdiri dari 20 jilid
besar, karya al-Hurr al-‘Amili.

2. Kitab Mustadrak al-Wasa’il, terdiri dari 18 jilid,
karya Nuri ath-Thabrasi.

 

Adapun di antara kitab-kitab fikih argumentatif
(istidlaliyyah) di antaranya ialah:

1.   Kitab
Jawahir al-Kalam, karya Muhammad Hasan an-Najafi, terdiri dari 43 jilid.

2.   Kitab
al-Hada’iq an-Nadhirah, karya Syeikh Yusuf al-Bahrani, terdiri dari 25 jilid.

3.   Kitab
Mustamsak al-‘Urwah al-Wutsqa, karya Sayyid Muhsin Thabathabai al-Hakim,
terdiri dari 14 jilid.

4.   Kitab
al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah, karya Sayyid Muhammad al-Husaini asy-Syirazi,
termasuk ulama zaman sekarang. Kitab ini telah dicetak dalam bentuk seratus
sepuluh jilid. Kitab ini mencakup seluruh bab fikih. Di antaranya ialah fikih
Al-Qur’an al-Karim, fikih hukum, fikih negara Islam, fikih pengelolaan, fikih
politik, fikih ekonomi dan fikih sosial.

5.   Salah satu
dari ensiklopedia fikih modern lainnya ialah kitab Fiqh ash-Shadiq, karya
Sayyid Muhammad Shadiq ar-Ruhani, terdiri dari 26 jilid; kemudian kitab
Silsilah Yanabi’ al-Mawaddah, karya Ali Ashghar Murwaridi, terdiri dari 30
jilid.

 

▪▪▪▪▪

 

DIALOG
YOHANES DENGAN PARA ULAMA MAZHAB YANG EMPAT

 

Kita akhiri pasal ini dengan dialog yang terjadi di
antara Yohanes dengan ulama mazhab yang empat. Ini merupakan dialog yang paling
indah di dalam bab ini. Para pembaca hendaknya merenungi berbagai hujjah yang
kokoh dan bijaksana yang terdapat di dalam dialog ini. Saya menukil dialog ini
dari kitab Munadzarah fi al-Imamah, karya Abdullah Hasan.

 

Yohanes berkata, “Ketika saya melihat berbagai
perselisihan di kalangan para sahabat besar, yang nama-nama mereka disebut
bersama nama Rasulullah di atas mimbar, hati saya menjadi resah dan gelisah,
dan hampir saya mendapat musibah dalam agama saya. Maka saya pun bertekad untuk
pergi ke Baghdad, yang merupakan kubah Islam, untuk menanyakan berbagai
perselisihan yang terjadi di antara para ulama kaum Muslimin yang saya lihat,
supaya saya dapat mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Ketika saya berkumpul
dengan para ulama dari mazhab yang empat saya berkata kepada mereka, ‘Saya
adalah seorang dzimmi, dan Allah SWT telah menunjukkan saya kepada Islam, maka
saya pun memeluk Islam. Sekarang, saya datang kepada Anda untuk mendapatkan
ajaran agama, syariat Islam dan hadis dari Anda, supaya bertambah pengetahuan
saya di dalam agama saya.’

 

Yang tertua dari mereka —yang merupakan seorang ulama
Hanafi— berkata, ‘Wahai Yohanes, mazhab Islam itu ada empat. Oleh karena itu,
pilihlah salah satu darinya, dan kemudian mulailah baca kitab yang kamu
kehendaki.’

 

Saya berkata kepadanya, ‘Saya melihat terdapat
perselisihan, namun saya tahu bahwa kebenaran ada pada salah satu di antaranya.
Maka Oleh karena itu, pilihkanlah bagi saya —menurut yang Anda ketahui—
kebenaran sebagaimana yang dipegang oleh Nabi Anda.’

 

Ulama Hanafi itu berkata, ‘Sesungguhnya kami tidak
mengetahui dengan pasti kebenaran mana yang dipegang oleh Nabi kami, namun kami
yakin bahwa jalannya tidak keluar dari salah satu kelompok Islam yang ada.
Masing-masing dari kami yang empat mengatakan bahwa kamilah yang benar namun
mungkin juga salah. Masing-masing mereka juga mengatakan bahwa selainnya salah
namun mungkin juga benar. Singkatnya, sesungguhnya mazhab Hanafi adalah mazhab
yang paling dekat dan paling sesuai dengan sunah. Mazhab yang paling masuk akal
dan mazhab yang paling tinggi di kalangan manusia. Mazhab Hanafi adalah mazhab
yang paling banyak dipilih oleh umat, dan bahkan mazhab pilihan para sultan.
Kamu harus berpegang kepadanya, niscaya kamu selamat.'”

 

Yohanes berkata, “Maka berteriaklah Imam dari
mazhab Syafi’i, dan saya kira terdapat perselisihan di antara Syafi’i dan
Hanafi.

 

Imam mazhab Syafi’i itu berkata kepada ulama Hanafi
tersebut, ‘Diam, jangan kamu bicara. Demi Allah, kamu telah membual dan telah
berdusta. Dari mana kamu mengistimewakan suatu mazhab atas mazhab-mazhab yang
lain, dan dari mana kamu menguatkan (tarjih) seorang mujtahid atas
mujtahid-mujtahid yang lain? Celaka kamu. Di mana kamu telah mempelajari apa
yang telah dikatakan oleh Abu Hanifah, dan apa-apa yang telah diqiyaskan dengan
ra’yunya? Sesungguhnya dia (Abu Hanifah)lah orang yang disebut dengan sebutan
‘tuan ra’yu’, yang berijtihad dengan sesuatu yang bertentangan dengan nas, yang
menggunakan istihsan di dalam agama Allah. Sampai-sampai dia meletakkan
pendapatnya yang lemah dengan mengatakan, ‘Jika seorang laki-laki yang berada
di India menikahi seorang wanita yang ada di Romawi dengan akad syar’i. Lalu,
setelah beberapa tahun kemudian laki-laki itu mendatangi istrinya dan
mendapatinya dalam keadaan hamil dan menggendong anak. Laki-laki itu bertanya
kepada istrinya, ‘Siapa mereka ini?’

Wanita itu menjawab, ‘Anak-anakmu’. Kemudian
laki-laki itu mengadukan masalah itu kepada seorang qadhi Hanafi, maka qadhi
Hanafi itu akan menetapkan bahwa anak-anak tersebut adalah berasal dari tulang
sulbinya, dan dinisbahkan kepadanya baik secara zahir maupun secara batin. Dia
mewariskan kepada mereka dan mereka pun mewariskan kepadanya.’ Laki-laki itu
protes, ‘Bagaimana mungkin, padahal saya belum pernah menyentuhnya sama
sekali?’ Maka qadhi Hanafi itu menjawab, ‘Mungkin saja Anda pernah berjunub,
atau Anda pernah keluar mani lalu air mani Anda terbang dan jatuh ke dalam
kemaluan wanita ini.’[224]
Wahai Hanafi, apakah ini sesuai dengan Kitab dan sunah?'”

 

Ulama
Hanafi menjawab, ‘Benar, anak-anak itu dinisbahkan kepadanya. Karena wanita itu
adalah tempat tidurnya, dan tempat tidur dinisbahkan kepada seorang laki-laki
melalui akad syar’i, serta tidak disyaratkan harus adanya jimak. Rasulullah saw
telah bersabda, ‘Anak milik tempat tidur (istri), sedangkan batu milik
pelacur.’ Ulama Syafi’i itu tetap bersikeras menolak terjadinya tempat tidur
dengan tanpa jimak, dan dia pun berhasil mengalahkan ulama Hanafi di atas
dengan berbagai Hujjah yang dikeluarkan.

 

Ulama
Syafi’i berkata lebih lanjut, ‘Abu Hanifah juga berkata, ‘Jika seorang wanita
dibawa ke rumah suaminya; lalu seorang laki-laki lain menggaulinya. Kemudian
laki-laki lain itu mengaku di hadapan qadhi Hanafi bahwa dirinya telah menikahi
wanita tersebut sebelum wanita itu dinikahi oleh laki-laki yang membawanya ke
rumahnya, lalu laki-laki yang mengaku itu mengajukan dua orang fasik untuk
memberikan kesaksian palsu atas pengakuannya itu. Maka qadhi Hanafi itu akan
memutuskan bahwa wanita itu haram bagi suaminya yang pertama (yang membawanya
ke rumahnya —penerj.), baik secara zahir maupun batin, tertetapkannya ikatan
pernikahan di antara wanita itu dengan laki-laki yang kedua, dan wanita itu
halal baginya baik secara zahir maupun batin.’[225]
Lihatlah, wahai manusia, apakah ini mazhab orang yang mengenal kaidah-kaidah
Islam?’

 

Ulama
Hanafi itu berkata, ‘Anda tidak berhak mengkritik. Karena dalam pandangan kami
hukum qadhi berlaku baik secara zahir maupun batin, dan ini merupakan cabang
darinya.’ Ulama Syafi’i berhasil mengalahkannya, dan melarang berlakunya hukum
qadhi baik secara zahir maupun batin dengan firman Allah SWT yang berbunyi,

‘Dan
hendak lah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah
diturunkan Allah’ (QS. al-Maidah: 49)

 

Ulama
Syafi’i berkata, ‘Abu Hanifah telah berkata, ‘Jika seorang laki-laki ghaib dari
istrinya, dan terputus khabar mengenainya, lalu datang seorang laki-laki lain
berkata kepada wanita itu, ‘Sesungguhnya suami kamu telah mati, maka oleh
karena itu, tinggalkanlah dia.’ Lalu wanita itu pun meninggalkan suaminya yang
ghaib itu. Kemudian, setelah habis masa iddah, datanglah seorang laki-laki
menikahinya dan menggaulinya, dan kemudian wanita itu melahirkan beberapa orang
anak. Setelah itu, laki-laki yang kedua itu ghaib, dan kemudian laki-laki yang
pertama muncul di sisi wanita itu, maka seluruh anak dari laki-laki yang kedua
menjadi anak dari laki-laki yang pertama. Dia menerima waris dari mereka dan
mereka menerima waris darinya.’[226]

Wahai
orang-orang yang berakal, apakah orang yang pandai dan mengerti akan mau
berpegang kepada perkataan ini?’

Ulama
Hanafi menjawab, ‘Abu Hanifah mengambil perkataan ini dari sabda Rasulullah saw
yang berbunyi, ‘Anak milik ranjang (istri) dan batu milik pelacur.’ Maka ulama
Syafi’i memprotes dengan mengatakan bahwa istri disyarati dengan adanya dukhul
(disetubuhi), dan dia mampu mengalahkan ulama Hanafi.

 

Kemudian
ulama Syafi’i berkata, ‘lmam kamu Abu Hanifah telah berkata, ‘Laki-laki mana
saja yang melihat seorang wanita Muslim, lalu dia mengklaim bahwa suami wanita
tersebut telah menceraikannya, dan kemudian dia mendatangkan dua orang saksi
yang memberikan kesaksian palsu yang menguntungkan baginya, maka qadhi
memutuskan terjadinya talak atas wanita tersebut, dan wanita itu menjadi haram
bagi suaminya, sehingga dengan begitu boleh bagi laki-laki yang mengklaim itu
menikahinya, dan begitu juga bagi saksi.’[227]
Dia menyangka hukum qadhi berlaku baik secara zahir maupun batin.’

 

Ulama
Syafi’i melanjutkan kata-katanya, ‘lmam kamu Abu Hanifah mengatakan, ‘Jika
empat orang laki-laki bersaksi bahwa seorang laki-laki telah berzina, jika
laki-laki itu membenarkan mereka, maka gugurlah hadd (hukuman), namun jika dia
menyangkal mereka maka tertetapkanlah hukuman baginya.’[228]
Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki penglihatan.’

 

Kemudian
ulama Syafi’i berkata lagi, ‘Abu Hanifah telah berkata, ‘Jika seorang laki-laki
mensodomi seorang anak laki-laki dan kemudian membenamkannnya, maka tidak ada
hadd baginya kecuali hanya ditegur.’[229]

Padahal
Rasulullah saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang melakukan perbuatan kaum Luth,
maka bunuhlah pelakunya (al-fa’il) dan orang yang menjadi objeknya
(al-maf’ul).’[230]
Abu Hanifah berkata, ‘Jika seseorang merampas biji gandum lalu dia
menggilingnya, maka biji gandum itu menjadi miliknya karena telah
menggilingnya. Jika kemudian pemilik biji gandum itu hendak mengambil biji
gandum yang telah digiling itu dengan cara memberikan upah menggiling kepada
orang yang merampas, maka tidak wajib orang yang merampas itu memenuhi
permintaannya dan dia boleh menolaknya. Jika pemilik gandum itu terbunuh maka
darahnya terbuang dengan sia-sia, sedangkan jika perampas itu terbunuh maka
pemilik gandum itu harus dibunuh karena telah membunuhnya.’[231]

Abu
Hanifah juga berkata, ‘Jika seorang pencuri mencuri seribu dinar dari seseorang
lalu dia juga mencuri seribu dinar berikutnya dari yang lain, kemudian dia
menggabungkannya, maka semuanya menjadi miliknya, namun dia wajib memberi ganti
atasnya.’

Abu
Hanifah juga berkata, ‘Jika seorang Muslim yang bertakwa dan berilmu membunuh
seorang kafir yang bodoh maka orang Muslim itu wajib dibunuh. Karena Allah SWT
telah berfirman, ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada
orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.’ (QS. an-Nisa:
141)

Abu
Hanifah berkata, ‘Jika seseorang membeli ibunya atau saudara perempuannya, lalu
dia menikahi keduanya, maka tidak berlaku hukuman (hadd) atasnya, meskipun dia
mengetahui dan sengaja melakukannya.’[232]

Abu
Hanifah berkata, ‘Jika seseorang menikahi ibu atau saudara perempuannya dalam
keadaan dia mengetahui bahwa mereka itu adalah ibu atau saudara perempuannya,
dan kemudian dia menggauli mereka, maka tidak ada hukuman atasnya, disebabkan
akad nikah tersebut akad syubhat.’[233]

Abu
Hanifah berkata, ‘Jika seseorang tidur dalam keadaan junub di sisi kolam yang
berisi minuman keras, lalu dia berbalik di dalam tidurnya dan kemudian jatuh ke
kolam, maka hilang junubnya dan dia menjadi suci.’

Abu
Hanifah juga berkata, ‘Tidak wajib niat di dalam wudu[234],
dan juga di dalam mandi.’[235]
Padahal di dalam kitab sahih disebutkan, ‘Sesungguhnya amal perbuatan itu
(terlaksana) dengan niat.’[236]

Abu
Hanifah berkata, ‘Tidak wajib membaca basmalah di dalam Fatihah[237],
dan dia mengeluarkannya dari surat al-Fatihah, padahal para khalifah telah
menuliskannya di dalam mushaf-mushaf setelah dilakukan pengeditan terhadap
Al-Qur’an.

Abu
Hanifah juga berkata, ‘Jika bangkai anjing yang sudah mati diambil kulitnya,
lalu kulitnya itu disamak, maka kulit anjing itu menjadi suci, meskipun
digunakan untuk tempat minum dan hamparan di dalam salat.’[238]
Ini bertentangan dengan nas yang menyatakan najisnya ‘ain najasah, yang berarti
haramnya pemanfaatannya.’

 

Kemudian
ulama Syafi’i itu berkata, ‘Wahai Hanafi, di dalam mazhabmu seorang Muslim
tatkala hendak salat boleh berwudu dengan menggunakan minuman keras, dan
memulainya dengan membasuh kaki serta mengakhirinya dengan membasuh kedua
tangan.[239]
Kemudian memakai pakaian yang terbuat dari kulit bangkai anjing yang
telah disamak,[240]
sujud di atas kotoran yang telah mengering, bertakbir dengan menggunakan bahasa
India, membaca surat al-Fatihah dengan bahasa Ibrani[241],
dan kemudian setelah al-Fatihah membaca ‘du bargeh-ye sabz’ —yaitu kata
mudhammatan (dua daun hijau), kemudian ruku, lalu tidak mengangkat kepalanya
dari ruku melainkan langsung sujud, serta dua sujud hanya dipisah dengan jeda
waktu yang sangat tipis tidak ubahnya seperti pemisah di antara dua mata
pedang. Dan apabila sebelum salam dia sengaja buang angin, maka salatnya sah,
namun jika dia tidak sengaja buang angin, maka salatnya batal.’[242]

 

Ulama
Syafi’i kembali berkata, ‘Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki
penglihatan. Apakah seseorang boleh beribadah dengan ibadah yang seperti ini?
Apakah boleh bagi Nabi saw memerintahkan umatnya dengan ibadah yang seperti
ini, yang tidak lain hanya merupakan kebohongan yang dibuat-buat atas Allah SWT
dan Rasul-Nya?’

 

Ulama
Hanafi membantah, dan dengan penuh emosi dia berkata, ‘Berhenti! Wahai Syafi’i.
Semoga Allah merobek mulutmu. Kamu kira kamu ini siapa sehingga berani mengecam
Abu Hanifah, mazhab kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan mazhabnya. Mazhab
kamu lebih layak disebut mazhab Majusi. Karena di dalam mazhabmu seorang
laki-laki boleh menikahi anak perempuan dan saudara perempuannya hasil zina,
dan boleh mengumpulkan dua orang saudara perempuan hasil zina, dan begitu juga
boleh menikahi ibunya hasil zina, begitu juga bibinya hasil zina.[243]
Padahal Allah SWT telah berfirman,

‘Diharamkan
atas kamu menikahi ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu,
saudara-saudara perempuan bapakmu dan saudara-saudara perempuan ibumu.’ (QS.
an-Nisa’ 23)

Sifat-sifat
hakiki ini tidak berubah dengan terjadinya perubahan syariat dan agama. Jangan
kamu mengira, wahai Syafi’i, wahai dungu, bahwa terlarangnya mereka dari
menerima waris berarti mengeluarkan mereka dari sifat-sifat hakiki ini. Oleh
karena itu, sifat-sifat tersebut di-idhafah-kan kepadanya, sehingga dikatakan
‘anak perempuan dan saudara perempuannya dari hasil zina’. Pembatasan (taqyid)
ini tidak menyebabkannya menjadi majazi (kiasan), sebagaimana kata-kata kita
yang berbunyi, ‘saudara perempuannya yang berasal dari nasab’, melainkan hanya
untuk memerinci. Sesungguhnya pengharaman di atas mencakup segala sesuatu yang
terkena lafaz di atas, baik yang hakiki maupun yang majazi, berdasarkan
kesepakatan. Berdasarkan kesepakatan, nenek termasuk ke dalam kategori ibu, dan
begitu juga cucu perempuan dari anak perempuan, maka Oleh karena itu, tidak
diragukan haramnya keduanya dinikahi berdasarkan ayat ini. Perhatikanlah, wahai
orang-orang yang berpikir, bukankah mazhab ini tidak lain mazhab Majusi.

Hai
Syafi’i, Imam kamu membolehkan manusia bermain catur,[244]
padahal Rasulullah saw telah bersabda, ‘Tidak menyukai permainan catur
kecuali seorang penyembah berhala.’

Hai
Syafi’i, Imam kamu membolehkan berjoged, memukul rebana dan meniup seruling[245]
bagi manusia. Allah memburukkan mazhabmu, di mana di dalamnya seorang laki-laki
menikahi ibu dan saudara perempuannya, bermain catur, berjoged dan memukul
rebana. Tidaklah ini semua kecuali kebohongan yang dibuat-buat atas Allah SWT
dan Rasul-Nya saw. Tidak akan ada orang yang berpegang kepada mazhab ini
kecuali orang yang buta hatinya dari kebenaran.”‘

 

Yohanes
berkata, “Perdebatan panjang terjadi di antara mereka berdua, lalu ulama
Hanbali membela ulama Syafi’i sedangkan ulama Maliki membela ulama Hanafi,
sehingga terjadilah perselisihan di antara ulama Maliki dan ulama Hanbali.
Ulama Hanbali berkata, ‘Sesungguhnya Malik telah membuat suatu bid’ah di dalam
agama, yang karena bid’ah itu Allah SWT telah membinasakan umat-umat terdahulu,
namun Malik malah membolehkannya. Yaitu perbuatan mensodomi hamba sahaya.
Padahal Rasulullah saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang mensodomi budak laki-laki,
maka bunuhlah pelaku (al-fa’il) dan orang yang menjadi objeknya (al-maf’ul).’[246]

Saya
pernah melihat seorang bermazhab Maliki mengadukan seseorang kepada qadhi,
bahwa dia telah menjual budak laki-laki kepadanya namun budak itu tidak dapat
digauli. Maka qadhi itu memutuskan ada kekurangan pada budak laki-laki itu, dan
Oleh karena itu, pembelinya dapat mengembalikannya kembali kepada penjualnya. Apakah
kamu tidak malu kepada Allah, hai Maliki, mempunyai mazhab yang seperti ini,
sementara kamu mengaku-ngaku bahwa mazhabmu adalah sebagus-bagusnya mazhab?!
Imam kamu menghalalkan daging anjing. Allah pasti memburukkan mazhab dan
keyakinanmu.’

 

Dengan serta
merta ulama Maliki menghardik dan berteriak, ‘Dia kamu, hai mujassim (orang
yang mengatakan Allah berjisim). Justru mazhab kamu yang lebih layak untuk
dilaknat dan dijauhi. Karena dalam pandangan Imam kamu, Ahmad bin Hanbal, Allah
itu jisim yang duduk di atas ‘arasy. Pada setiap malam Jumat Allah SWT turun
dari langit dunia ke atap-atap mesjid dalam bentuk wajah yang tidak berjanggut,
rambut yang keriting, mempunyai dua sandal yang talinya terbuat dari bunga
kurma, serta mengendarai keledai yang diiringi beberapa serigala.'”[247]

 

Yohanes
berkata, “Maka terjadilah perselisihan antara Hanbali dengan Maliki serta
Syafi’i dengan Hanafi. Mereka saling meninggikan suara mereka dan menelanjangi
keaiban mereka masing-masing, hingga menjengkelkan semua orang yang
mendengarkan perbincangan mereka, lalu orang-orang yang hadir pun mencela dan
mengecam mereka.

Lalu saya
berkata kepada mereka, ‘Demi Allah, saya bersumpah, saya tidak senang dengan
keyakinan-keyakinan Anda. Jika Islam benar sebagaimana yang Anda katakan, maka
sungguh celaka. Demi Allah, saya bersumpah kepada Anda, supaya Anda menutup
pembahasan ini dan pergi. Karena sekarang masyarakat umum telah mencela dan
mengecam Anda.”

 

Yohanes
berkata, “Maka mereka pun berdiri, lalu berpisah dan kemudian tidak keluar
dari rumah masing-masing selama seminggu. Tatkala mereka keluar rumah,
masyarakat mengecam mereka. Setelah beberapa hari kemudian mereka pun berdamai
dan berkumpul di mustanshiriyyah, dan saya pun duduk dan berbincang-bincang
kembali bersama mereka. Saya berkata kepada mereka, ‘Saya menginginkan seorang
ulama dari kalangan ulama rafidhi, supaya kita berdialog dengannya tentang
mazhabnya. Apakah Anda bersedia mendatangkan seorang dari mereka untuk kita
berdialog dengannya?’

 

Ulama-ulama
mazhab empat itu berkata, “Wahai Yohanes, kelompok Rafidhah itu jumlahnya
sedikit. Mereka tidak bisa menampakkan diri di tengah-tengah kaum Muslimin,
karena sedikitnya jumlah mereka, dan juga karena banyaknya musuh mereka. Mereka
tidak akan menampakkan diri, apalagi dapat berdebat dengan kita tentang mazhab
mereka. Mereka itu sangat sedikit jumlahnya dan sangat banyak musuhnya.”

 

Yohanes
berkata, “Ini merupakan pujian buat mereka, karena Allah SWT telah memuji
kelompok yang sedikit dan mencela kelompok yang banyak. Allah SWT berfirman,

‘Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang
bersyukur.’

(QS. Saba: 13)

‘Dan tidaklah beriman bersama dengan Nuh itu kecuali
sedikit.’

(QS. Hud: 40)

‘Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang
di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.’

(QS. al-An’am: 116)

‘Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur.’ (QS. al-A’raf: 17)

‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.’

(QS. al-Baqarah: 243)

‘Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’

(QS. al-An’am: 37)

‘Akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.’

(QS. ar-Ra’d: 1)

Dan
ayat-ayat lainnya.”

 

Para ulama
tersebut berkata, “Wahai Yohanes, keadaan mereka lebih besar dari yang
disifatkan. Karena, jika kami mengenal salah seorang dari mereka, maka kami
akan terus membuntutinya hingga kami membunuhnya. Karena dalam pandangan kami,
mereka itu kafir dan halal darahnya. Bahkan, di kalangan para ulama kita ada
yang memberikan fatwa bahwa harta dan wanita mereka halal.”

Yohanes
berkata, “Allah Mahabesar. Ini perkara yang besar sekali. Anda memandang
mereka berhak mendapatkan semua ini, apakah karena mereka mengingkari
syahadatain?”

Para ulama
menjawab, “Tidak.”

Yohanes
bertanya lagi, “Apakah karena mereka tidak menghadap kiblat kaum
Muslimin?”

Mereka
menjawab, “Tidak.”

Yohanes
bertanya sekali lagi, “Apakah karena mereka mengingkari salat, puasa,
haji, zakat atau jihad?”

Mereka
menjawab, “Tidak. Bahkan mereka mengerjakan salat, puasa, zakat, haji dan
jihad.”

Yohanes
kembali bertanya, “Apakah karena mereka mengingkari hari kebangkitan,
shirat, timbangan dan syafaat?”

Para ulama
menjawab, “Tidak. Bahkan mereka mengakui yang demikian dengan
sebaik-baiknya pengakuan.”

Yohanes
bertanya lagi, “Apakah karena mereka membolehkan perbuatan zina, sodomi,
meminum khamar, riba, alat musik dan alat-alat hiburan lainnya?”

Mereka
menjawab, “Tidak. Bahkan mereka menjauhi dan mengharamkannya.”

Yohanes
berkata, “Demi Allah, sungguh mengherankan, bagaimana mungkin sebuah kaum
yang bersaksi dengan dua syahadat (syahadatain), mengerjakan salat dengan
menghadap kiblat, berpuasa di bulan Ramadan, pergi haji ke Baitul Haram,
meyakini hari kebangkitan dan rincian perhitungan, dihalalkan darahnya,
hartanya dan wanitanya, padahal Nabi Anda sendiri telah bersabda, ‘Saya
diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah. Jika mereka mengatakan itu,
maka terjagalah dariku darahnya, hartanya dan wanitanya. Adapun perhitungan
mereka berada di tangan Allah.”[248]

 

Para ulama
itu berkata, “Wahai Yohanes, sesungguhnya mereka telah membuat bid’ah di
dalam agama. Salah satunya ialah, mereka mengatakan bahwa Ali as adalah manusia
paling utama setelah Rasulullah saw, dan mereka lebih mengutamakannya atas para
khalifah yang tiga, padahal generasi pertama telah sepakat bahwa khalifah yang
paling utama adalah khalifah yang pertama.”

 

Yohanes
berkata, “Bagaimana pendapat Anda jika ada orang yang mengatakan bahwa Ali
lebih baik dan lebih utama dari Abu Bakar, apakah Anda akan
mengkafirkannya?”

Mereka
menjawab, “Ya. Karena dia telah menyalahi ijma’.”

Yohanes
bertanya lagi, “Bagaimana pendapat Anda tentang muhaddis Anda yang bernama
al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih?”

Para ulama
menjawab, “Dia orang yang dapat dipercaya. Diterima riwayatnya dan lurus
sifatnya.”

Yohanes
berkata, “Ini kitabnya yang berjudul Kitab al-Manaqib. Di dalam kitab ini
dia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, ‘Ali adalah
sebaik-baiknya manusia, barangsiapa yang enggan menerimanya, maka dia telah
kafir.’

Di dalam
kitab ini juga disebutkan, dari Salman, dari Rasulullah saw yang bersabda,
“Ali bin Abi Thalib adalah sebaik-baiknya orang yang aku jadikan pengganti
sepeninggalku.”

Di dalam
kitab ini juga disebutkan, dari Anas bin Malik yang berkata bahwa Rasulullah
saw telah bersabda, “Saudaraku, pembantuku dan sebaik-baiknya orang yang
aku jadikan pengganti sepeninggalku adalah Ali bin Abi Thalib.”

Dari Imam
Anda, Ahmad bin Hanbal, dia meriwayatkan di dalam musnadnya bahwa Rasulullah
saw telah bersabda kepada Fatimah, “Tidakkah engkau rida aku nikahkan
engkau dengan orang yang paling pertama masuk Islam dari umatku, dan orang yang
paling banyak ilmunya serta paling besar kebijaksanaannya.”[249]

Ahmad juga
meriwayatkan di dalam musnadnya bahwa Rasulullah telah bersabda, “Ya
Allah, datangkanlah kepadaku hamba-Mu yang paling Kamu cintai.”[250]
Lalu datanglah Ali bin Abi Thalib. Hadis ini juga disebutkan oleh Nasa’i dan
Turmudzi di dalam kitab sahih mereka.[251]
Mereka berdua juga termasuk ulama Anda.

Akhthab
Kharazmi juga meriwayatkan hadis ini di dalam kitab al-Manaqib —dia juga
termasuk dari ulama Anda— dari Muadz bin Jabal yang berkata, “Rasulullah
saw telah bersabda, ‘Wahai Ali, aku mengunggulimu dengan kenabian, karena tidak
ada nabi sepeninggalku; namun kamu mengungguli manusia dengan tujuh hal, yang
tidak ada seorang pun dari bangsa Quraisy yang mendebatmu tentang hal itu: kamu
adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah di antara mereka, orang
yang paling menunaikan perintah Allah dan perjanjian dengan-Nya, orang yang
paling rata di dalam pembagian, orang yang paling adil kepada rakyat, orang
yang paling tahu tentang permasalahan dan orang yang paling besar keutamaannya
di sisi Allah pada hari kiamat.”[252]

Penulis
kitab Kifayah ath-Thalib, yang merupakan salah seorang dari ulama Anda berkata,
“Hadis ini hadis hasan yang tinggi, dan al-Hafidz Abu Na’im
meriwayatkannya di dalam kitab Hilyah al-Awliya.”[253]

 

Yohanes
berkata, “Wahai para pemimpin Islam, hadis-hadis yang sahih ini yang
diriwayatkan oleh para Imam Anda, dengan jelas mengatakan kelebih-utamaan dan
kelebih-baikan Ali atas seluruh manusia. Lantas, apa dosa kaum Rafidhahl
Sesungguhnya ini adalah semata-mata dosa dari para ulama Anda dan orang-orang
yang meriwayatkan dengan tidak benar serta membuat-buat kebohongan atas Allah
dan Rasul-Nya.”

 

Mereka
berkata, “Wahai Yohanes, sesungguhnya mereka tidak meriwayatkan dengan
tidak benar, dan juga tidak membuat-buat kebohongan, hanya saja hadis-hadis ini
mempunyai takwil dan pertentangan.”

 

Yohanes
berkata, “Takwil yang mana yang dapat diterima terhadap hadis-hadis yang
ditujukan secara khusus kepada manusia tertentu. Karena nas hadis-hadis ini
secara eksplisit mengatakan bahwa Ali lebih baik dari Abu Bakar, dan ini tidak
dapat ditakwilkan kecuali jika Anda mengeluarkan Abu Bakar dari kelompok manusia.
Kalaupun seumpamanya kita menerima bahwa hadis-hadis ini tidak menunjukkan
kepada makna di atas, namun coba beritahukan kepada saya mana di antara mereka
berdua yang paling banyak berjihad?”

Mereka
menjawab, “Ali.”

Yohanes
berkata, “Allah SWT telah berfirman, ‘Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.’ (QS. an-Nisa:
95)

Bunyi nas
ini begitu amat jelas.”

Mereka
berkata, “Abu Bakar juga seorang mujahid. Maka Oleh karena itu, tidak
harus Ali lebih utama dari Abu Bakar.”

Yohanes
berkata, “Jihad yang lebih sedikit apabila dibandingkan kepada jihad yang
lebih banyak, maka dianggap duduk. Kalaupun seumpamanya maknanya demikian,
lantas apa yang dimaksud oleh Anda dengan ‘orang yang lebih utama’?”

Mereka menjawab,
“Yaitu orang yang terkumpul pada dirinya berbagai kesempurnaan dan
keutamaan, baik yang berupa bawaan maupun yang diperoleh karena jerih payah
usaha, seperti kemuliaan asal-usul, keilmuan, kezuhudan, keberanian, dan
sifat-sifat lainnya yang merupakan cabang dari sifat-sifat ini.”

Yohanes
berkata, “Seluruh keutamaan ini ada pada diri Ali as, dalam bentuk yang
lebih baik dibandingkan yang lainnya.”

Yohanes
berkata, “Adapun dari segi kemuliaan asal (nasab), dia adalah putra paman
Rasulullah saw, suami dari putrinya dan ayah dari kedua cucunya.

Adapun
dari sisi ilmu, Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya adalah kota ilmu dan Ali
adalah pintunya.’[254]
Akal dapat memahami bahwa seseorang tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun
dari sebuah kota kecuali jika dia mengambil dari pintunya. Sehingga dengan
begitu maka jalan untuk mengambil manfaat dari Rasulullah saw hanya melalui Ali
as. Ini adalah kedudukan yang tinggi. Rasulullah saw juga telah bersabda,
‘Orang yang paling mengetahui di antara kamu adalah Ali.’[255]
Kepadanyalah dinisbatkan seluruh permasalahan, berhentinya seluruh golongan,
dan berpihaknya seluruh kelompok. Dia adalah pemuka dan sumber keutamaan, serta
pemenang yang memenangkan arenanya. Setiap orang yang unggul di dalamnya
semuanya mengambil darinya, mengikuti jejaknya dan meniru contohnya. Anda tentu
telah mengetahui bahwa semulia-mulianya ilmu adalah tentang Ketuhanan. Ilmu ini
dikutip dari perkataannya, dinukil darinya dan bermula dari dirinya.

Sesungguhnya
kelompok Mu’tazilah, mereka itu adalah ahli fikir. Dari mereka inilah manusia
belajar tentang ilmu ini, dan mereka itu adalah murid-muridnya. Karena guru
besar mereka yang bernama Washil bin ‘Atha adalah murid Abi Hasyim Abdullah bin
Muhammad ibn al-Hanafiyyah,[256]
sementara Abi Hasyim Abdullah adalah murid ayahnya, dan ayahnya adalah murid
Ali bin Abi Thalib as.

Adapun
kelompok Asy’ari, mereka itu berakhir kepada Abu Hasan al-Asy’ari. Dia adalah
murid dari Abu Ali al-Juba’i, dan Abu Ali al-Juba’i adalah murid Washil bin
‘Atha.[257]

Adapun
kelompok Imamiyyah dan Zaidiyyah, bermuaranya mereka kepadanya amat jelas
sekali.

Adapun
dalam bidang ilmu fikih, dia itu adalah pokok dan dasarnya. Seluruh fakih di
dalam Islam menisbatkan diri mereka kepadanya.

Adapun
Malik, dia mengambil fikih dari Rabi’ah ar-Ra’y, sementara Rabi’ah ar-Ra’y
mengambil dari ‘lkrimah, ‘lkrimah mengambilnya dari Abdullah, dan Abdullah
mengambilnya dari Ali.

Adapun Abu
Hanifah mengambil fikih dari Imam Ja’far ash-Shadiq as. Sementara Syafi’i
adalah murid Malik, dan Hanbali adalah murid Syafi’i.[258]
Adapun tentang merujuknya para fukaha Syi’ah kepadanya adalah sesuatu yang
jelas sekali. Begitu juga tentang merujuknya para fukaha dari kalangan para
sahabat kepadanya adalah sesuatu yang jelas, seperti Ibnu Abbas dan yang
lainnya. Berikut ini adalah perkataan Umar yang diucapkannya tidak hanya
sekali, ‘Aku tidak dilanda masalah selama masih ada Abul Hasan.’[259]
Umar juga mengatakan, ‘Seandainya tidak ada Ali maka celakalah Umar.”[260]

Turmudzi
telah berkata di dalam kitab sahihnya, dan begitu juga al-Baghawi telah berkata
dari Abu Bakar, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang hendak
melihat kepada Adam di dalam keilmuannya, kepada Nuh di dalam pemahamannya,
kepada Yahya bin Zakaria di dalam kezuhudannya, dan kepada Musa bin Imran di
dalam kekuatannya, maka hendaklah dia melihat kepada Ali bin Abi Thalib.’[261]

Baihaqi
telah berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang hendak melihat
kepada Adam di dalam keilmuannya, kepada Nuh di dalam ketakwaannya, kepada
Ibrahim di dalam kesabarannya, kepada Musa di dalam kewibawaannya, dan kepada
Isa di dalam ibadahnya, maka hendaklah dia melihat kepada Ali bin Abi Thalib.’[262]
Dialah yang telah menjelaskan hukuman meminum minuman keras,[263]
yang telah memberikan fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang melahirkan
pada usia enam bulan kandungannya.[264]
Dialah yang telah menyelesaikan pembagian uang dirham kepada pemilik adonan
roti.[265]
Dia juga yang telah memerintahkan untuk membelah seorang anak menjadi dua
bagian.[266]
Dialah yang telah memerintahkan untuk memenggal leher seorang hamba sahaya, dan
yang bertindak sebagai hakim pada kasus orang yang mempunyai dua kepala.”[267]
Dia juga yang telah menjelaskan hukum makar (bughat),[268]
dan dia juga yang telah memberi fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang
hamil karena zina.[269]

Salah satu
di antara cabang ilmu adalah ilmu tafsir. Manusia telah mengetahui kedudukan
Ibnu Abbas di dalam ilmu tafsir. Dia adalah murid Ali. Dia telah ditanya,
‘Bagaimana kedudukan ilmumu dibandingkan ilmu putra pamanmu?’ Ibnu Abbas
menjawab, ‘Laksana setetes air hujan di lautan yang sangat luas.'”[270]

Salah satu
cabang ilmu yang lain adalah ilmu tarekat dan ilmu hakikat. Anda mengetahui
bahwa tokoh-tokoh ilmu ini yang ada di seluruh negeri Islam, mereka semua
berakhir kepadanya, dan berhenti di sisinya. Asy-Syibli, al-Hambali, Sirri
as-Saqathi, Abu Zaid al-Busthami, Abu Mahfudz, yang dikenal dengan sebutan
al-Kurkhi, dan yang lain-nya, dengan tegas mengakui hal ini. Cukup menjadi
bukti bagi yang demikian itu, sobekan-sobekan yang menjadi slogan mereka, dan
mereka menisbatkan sobekan-sobekan tersebut —melalui sanad mu’an’an— kepadanya,
dan mengatakan bahwa dialah yang telah menuliskannya.[271]

Di antara
cabang ilmu berikutnya adalah ilmu nahwu. Seluruh manusia telah mengetahui
bahwa Ali as lah yang telah menciptakannya. Dia telah mendiktekan berbagai
kumpulan yang hampir mendekati katagori mukjizat kepada Abul Aswad ad-Du`ali.
Karena kemampuan manusia biasa tidak cukup untuk dapat menghasilkan penemuan
yang seperti ini.

Bagaimana
bisa memiliki sifat seperti ini seorang laki-laki yang manakala ditanya, apa
arti kata abban, dia berkata, ‘Aku tidak akan mengatakan tentang Kitab Allah
berdasarkan pikiranku’, dan memberikan putusan tentang bagian warisan yang
diterima kakek dengan seratus perkataan yang berbeda satu sama lainnya. Dia
mengatakan, ‘Jika aku menyimpang maka luruskanlah, dan jika aku berada pada
jalan yang benar maka ikutilah aku.’[272]
Apakah seorang yang berakal akan membandingkan orang yang seperti ini dengan
orang yang me-ngatakan, ‘Tanyailah aku sebelum kalian kehilanganku’,[273]
‘Tanyailah aku tentang jalan-jalan yang ada di langit. Karena sesungguhnya demi
—Allah— aku lebih mengetahui jalan-jalan yang ada di langit dibandingkan
jalan-jalan yang ada di bumi.’ Ali as juga berkata, ‘Sesungguhnya di sini,
sambil dia menunjuk ke arah dadanya, terdapat ilmu yang banyak.’ Dia juga
mengatakan, ‘Sekiranya terbuka tirai penutup, tidak akan bertambah
keyakinanku.’[274]

Adapun
dalam masalah zuhud, dia adalah penghulu orang-orang zuhud. Tidak pernah sekali
pun dia makan sampai kenyang. Dia adalah orang yang paling keras di dalam
masalah pakaian dan makanan.

Abdullah
bin Abi Rafi’ berkata, ‘Saya masuk menemui Ali bin Abi Thalib pada hari raya.
Lalu dia mengambil sebuah kantong tertutup yang berisi roti kering yang telah
hancur, kemudian dia pun memakannya.

Saya
berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, kenapa Anda menutup kantong tersebut, padahal
hanya berisi roti yang telah kering ?’

Ali bin
Abi Thalib menjawab, ‘Saya takut kedua anak saya akan membubuhinya dengan
minyak atau mentega.'”[275]

Pakaian yang
dikenakannya selalu bertambalkan kulit atau sabut. Kedua sendalnya terbuat dari
sabut. Dia biasa memakai pakaian yang kasar, dan jika kepanjangan, dia
memotongnya dengan pisau dan tidak menjahitnya kembali. Makanan yang dimakannya
hanya berbumbukan garam atau cuka. Kalaupun lebih dari itu, dia cukup
menambahkannya dengan tanaman hasil bumi. Kalaupun lebih baik lagi, dia hanya
menambahkan dengan sedikit susu unta. Dia tidak memakan daging kecuali hanya
sedikit. Dia berkata, ‘Jangan engkau jadikan perutmu menjadi kuburan binatang’,
meskipun demikian dia adalah manusia yang paling kuat dan paling kokoh.[276]

 

Adapun
dari sisi ibadah, dari dialah manusia belajar salat malam, dawam membaca wirid
dan melakukan ibadah-ibadah nafilah. Bagaimana pendapat Anda tentang seorang
laki-laki yang dahinya kapalan tidak ubahnya seperti lutut unta. Salah satu
bukti bagaimana dia begitu menjaga kewajiban agamanya, dia membentangkan tikar
sajadah yang terbuat dari kulit pada saat perang Shiffin. Dia tetap mengerjakan
salatnya pada saat anak-anak panah berjatuhan di hadapannya dan melewati kedua
telinganya. Dia tidak gentar, dan terus melanjutkan salatnya hingga selesai.

Jika Anda
menyimak dan memperhatikan berbagai doa dan munajatnya, serta melihat
pengagungan Allah yang terdapat di dalam doanya, dan begitu juga ketundukan
akan kebesaran-Nya dan kekhusyukan akan keagungan-Nya, niscaya Anda akan
mengetahui betapa besar keikhlasan yang terkandung di dalamnya. Imam Ali Zainal
Abidin, setiap malamnya mengerjakan salat sebanyak seribu rakaat, namun dia
masih mengatakan, ‘Aku tertinggal apabila dibandingkan dengan ibadah Ali.’[277]

 

Adapun
dalam masalah keberanian, Ali bin Abi Thalib adalah tokohnya. Dia adalah
seorang pemberani yang tidak pernah lari dari medan perang, dan tidak pernah
gentar menghadapi sekelompok pasukan. Tidak ada seorang pun yang datang
menantang kecuali pasti dibunuhnya. Tebasan pedangnya hanya sekali tebasan, dan
tidak memerlukan kepada tebasan yang kedua.

Di dalam
hadis disebutkan bahwa pukulan-pukulan pedangnya ganjil.[278]
Orang-orang musyrik, jika melihat Ali di dalam medan peperangan mereka
berwasiat kepada satu sama lainnya. Dengan pedangnyalah bangunan agama menjadi
kokoh, dan para malaikat merasa kagum akan kehebatan serangan dan pukulan
pedangnnya.

Di dalam
perang Badar, yang merupakan cobaan berat atas kaum Muslimin, Ali bin Abi
Thalib berhasil membunuh pahlawan-pahlawan Quraisy, seperti Walid bin ‘Utbah,
‘Ash bin Sa’id, dan Naufal bin Khuwailid, yang menahan Abu Bakar dan Thalhah
sebelum hijrah. Rasulullah saw telah bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang
telah memperkenankan doaku berkenaan dengannya.’[279]
Ali bin Abi Thalib terus membunuhi pahlawan-pahlawan Quraisy satu demi satu,
sehingga dia berhasil membunuh setengah dari keseluruhan jumlah kaum musyrik
yang terbunuh di perang Badar, yang jumlah keseluruhannya sebanyak tujuh puluh
orang. Sementara seluruh kaum Muslimin yang lainnya, beserta tiga ribu
malaikat, berhasil membunuh setengah yang lainnya.[280]
Di sini lah Jibril berkata,

‘Tidak ada
pedang kecuali Dzul Fiqar, dan tidak ada pemuda kecuali Ali.”[281]

Pada saat
perang Uhud, manakala kaum Muslimin tercerai berai dari Rasulullah saw, dan
Rasulullah saw dibanting ke tanah dan dipukuli dengan tombak dan pedang oleh
orang-orang musyrik, Ali as berdiri kokoh di hadapan Rasulullah saw sambil
menghunus pedang. Ketika Rasulullah saw melihat kepadanya, setelah siuman dari
pingsannya, Rasulullah saw bertanya, ‘Wahai Ali, apa yang telah dilakukan oleh
kaum Muslimin?’

Ali bin
Abi Thalib as menjawab, ‘Mereka telah melanggar sumpah dan telah lari dari
medan peperangan.’

Rasulullah
saw berkata, ‘Lindungi aku.’ Maka Ali pun membuka kepungan mereka, dan
menghadapi sekelompok pasukan demi sekelompok pasukan musuh, sambil memanggil
kaum Muslimin, hingga akhirnya mereka kembali berkumpul. Jibril as berkata
kepada Rasulullah saw, ‘Sungguh ini merupakan pembelaan. Para malaikat merasa
kagum dengan pembelaan yang dilakukan oleh Ali untukmu.’

Rasulullah
saw berkata, ‘Tidak ada yang mencegahnya melakukan itu. Karena dia adalah
bagian dariku dan aku bagian darinya.’[282]
Karena keteguhan Ali itulah akhirnya sebagian kaum Muslimin kembali lagi,
termasuk Usman, yang baru kembali setelah tiga hari. Rasulullah saw berkata
kepada Usman. ‘Engkau pergi membawa peringatan.’[283]

Pada
perang Khandaq, pada saat kaum musyrikin mengepung kota Madinah, sebagaimana
yang dikatakan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an, ‘(Yaitu) ketika mereka datang
kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu
dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah
dengan berbagai macam sangkaan’ (QS. Al-Ahzab: 10), dan Amr bin Abdul Wudd
berhasil mendobrak parit kaum Muslimin, serta menantang duel kepada kaum
Muslimin, sementara tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang berani
menghadapinya, maka tampillah Ali bin Abi Thalib dengan mengenakan sorban
Rasulullah saw, sementara tangannya menenteng sebilah pedang. Dengan cepat Ali
bin Abi Thalib memukulkan pedangnya kepada Amr bin Abdi Wudd, dengan sebuah
pukulan pedang yang menyamai amal perbuatan seluruh jin dan manusia hingga hari
kiamat.[284]

Di mana
Abu Bakar, Umar dan Utsman pada saat itu?

Orang yang
membaca kitab peperangan karya al-Waqidi dan kitab sejarah karya al-Baladzari,
niscaya akan mengetahui bagaimana kedudukan Ali di sisi Rasulullah, dari sisi
jihad dan keberaniannya pada perang Ahzab, perang Bani Musthaliq, pada saat
mengangkat pintu benteng khaibar, dan pada saat perang khaibar.
Peristiwa-peristiwa ini merupakan peristiwa-peristiwa yang amat terkenal.

Abu Bakar
al-Anbari meriwayatkan di dalam kitabnya al-Amali, Ali duduk di sisi Umar di
mesjid, sementara di samping mereka banyak orang yang hadir. Pada saat Ali
berdiri dan meninggalkan majlis, salah seorang dari mereka yang hadir
mengatakan bahwa Ali itu sombong.

Umar
berkata, ‘Orang sepertinya berhak untuk sombong. Kalau bukan karena pedangnya
tidak akan tegak berdiri pilar-pilar agama. Dia adalah orang yang paling
mengetahui di antara umat ini, dan paling mempunyai kedudukan.’

Orang itu
bertanya kepada Umar, ‘Lantas, apa yang mencegah Anda darinya, wahai Amirul
Mukminin?’

Umar
menjawab, ‘Tidak ada yang kami tidak sukai darinya kecuali karena umurnya yang
masih muda, kecintaannya kepada Bani Abdul Muththalib, dan dia yang membawa
surat al-Bara’ah ke kota Mekkah.’

Ketika Ali
bin Abi Thalib mengajak Muawiyah untuk berduel hingga terbunuh salah seorang
dari mereka, guna menghentikan peperangan di antara umat, Amr bin Ash berkata
kepada Muawiyah, ‘Laki-laki itu telah bertindak adil kepadamu.’

Muawiyah
berkata kepada Amr bin Ash, ‘Belum pernah sekali pun engkau menipuku di dalam
memberikan nasihat kepadaku kecuali pada hari ini. Engkau menyuruhku untuk
berduel dengan Abul Hasan, padahal engkau tahu dia adalah seorang pemberani
yang perkasa? Aku lihat, tampaknya engkau menginginkan kekuasaan negeri Syam
sepeninggalku.’[285]

Orang Arab
merasa bangga apabila berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib as di dalam medan
peperangan. Kabilah mereka merasa bangga apabila yang membunuh mereka adalah
Ali. Hal ini tampak jelas sekali dalam ucapan-ucapan mereka. Ummu Kultsum[286]
berkata berkenaan dengan terbunuhnya Amr bin Abdul Wudd,

‘Seandainya
pembunuh Amr bukanlah pembunuhnya, niscaya aku akan menangisinya selamanya, dan
sekejap pun aku tidak mau hidup. Namun, pembunuhnya adalah orang yang tidak ada
tandingannya, yang ayahnya telah menganggapnya sebagai orang yang terpandang.’[287]

Adapun
tentang kedermawanannya, dialah yang telah menyelesaikan puasanya hingga tiga
hari berturut-turut dengan menyedekahkan makanan untuk buka puasanya kepada
peminta-minta setiap malamnya. Hingga Allah SWT menurunkan ayat berkenaan
dengannya, ‘Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia
ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?’ (QS. Al-Insan: 1)

Kemudian
dia menyedekahkan cincinnya ketika ruku, maka turunlah ayat yang berbunyi,
‘Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.’ (QS.
Al-Maidah: 55)

Dia juga
bersedekah dengan empat dirham, lalu Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi,
‘Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara
sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi
Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidakpula mereka bersedih
hati.’ (QS. Al-Baqarah: 274)

Dialah
orang yang menyiram kebun pohon korma dengan tangannya dan kemudian
menyedekahkan uang upah yang diperoleh darinya. Muawiyah bin Abi Sufyan, yang
merupakan musuhnya, manakala Mahjan adh-Dhibbi berkata kepadanya, ‘Saya telah
datang dari sisi manusia yang paling kikir’, mengatakan, ‘Celaka engkau, apa
yang engkau katakan? Engkau mengatakan dia manusia yang paling kikir? Tidak,
seandainya dia mempunyai sebuah rumah yang terbuat dari lempengan emas dan
sebuah rumah lagi yang terbuat dari jerami, niscaya terlebih dahulu dia akan
menginfakkan rumahnya yang terbuat dari emas, sebelum rumahnya yang terbuat
dari jerami.’[288]

Dialah
yang telah mengatakan, ‘