Gustrisehat’sWeblog

Maret 15, 2009

STRATEGI MENUJU KHILAFAH

Filed under: TAUHID — Gustri @ 1:21 pm

JAMAAH,IMAMAH dan BAI’AT

Dalam Strategi menuju Khilafah, jamaah Imamah dan Bai’at ini menjadi elemen dasar yang paling esensial, syarat mutlak yang harus dipenuhi. Perjalanan Siroh Rasululloh mulai dari komunitas kecil, bai’at I (Aqobah I) , bai’at II, (Aqobah II), menunjukkan bahwa Manegemen Organisasi yang diterapkan Rasul adalah JAMAAH, IMAMAH, WAL BAI’AT.

Berbagai kalangan dan Jamaah Muslim yang ada, memerinci membuat perencanaan langkah-langkah strategis dalam penegakan Syariah, Menuju Khilafah, memang secara teoritis sangat bagus, namun karena tidak melibatkan konsep Jamaah imamah dan bai’at, saya ibaratkan seperti makhluk kehilangan Roh, ibarat elektronika tanpa listrik.

Selama Umat muslim terjebak dalam organisasi apapun namanya dan tidak menerapkan konsep Jamaah Imamah dan Bai’at, maka pembicaraan tentang cita-cita mulia KHILAFAH, penegakan Syariah, hanyalah pepesan kosong, setara dengan obrolan diwarung kopi.

“Wajib atas kalian berjama’ah dan jauhilah perpecahan”. (HR. At-Tirmidzi dalam Jami’us Sahih Kitabul Fitan, juz 4 hal 465-466)

“Tetaplah engkau di dalam Jama’ah Musli-min dan Imam mereka.” (Shahih Bukhari, IV/225 dan Shahih Muslim II/134-135)

Tentang khusus tuntunan prakteknya, tidak akan dibahas di artikel ini.Silahkan Mencari di toko Buku yang terdekat, atau search dari Google.

Seorang Amir dalam konsep jamaah-imamah diangkat satu kali bukan secara periodik. Ia akan tetap menjadi Amir selama masih memiliki kemampuan dan tidak melanggar syariat,” ini salah satu ciri jamaah Imamah.


WAJIBNYA JAMAAH, IMAMAH WAL BAI’AT.

Al Quran maupun Hadist cukup banyak menerangkan hal tersebut, sehingga seluruh ulama dari zaman ke zaman secara ijmak menyepakati bahwa berjamaah itu wajib hukumnya.

Apabila kewajiban berjamaah ini telah difahami oleh kaum muslimin. maka kewajibannya adalah menemukan adanya jamaah muslimin itu, lalu mendaftarkan diri sebagai warganya atau ummatnya. Selanjutnya berjihad didalamnya dalam rangka melakukan taat kepada Allah Swt, taat kepada Rasul-nya, Ulil Amri dari orang-orang yang beriman, Sebagaimana difirmankan Allah di dalam

Surat An-Nisa Ayat 59 :

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-nya, dan kepada Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasulnya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih bauk akibatnya”.

Allah Swt, telah mewajibkan orang-orang beriman untuk taat kepada Rasulnya dan Ulil Amri diantara mereka. Oleh karena itu, mereka yang benar-benar beriman, apabila ditanya, apakah dia sudah mempunyai Ulil Amri? Tidak mungkin akan menjawab: “Saya tidak memerlukan Ulil Amri”. Tidak mungkin dia berkata walau di dalam hati, “-Mengapa Allah memerintahkan kita mentaati sesuatu yang tidak ada?” Nah, Siapakah Ulil Amri anda? Jawabannya yang benar, tentu saja yang dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


Wajibnya Bersatu dan Harammya Berpecah-Belah

Perintah berjamaah, dimaksudkan agar kaum muslimin tetap utuh dalam satu kesatuan ummah. Supaya terhindar dari kemungkinan timbulnya firqah-firqah yang akan memecah belah kesatuan ummat Islam, menghancurkan serta memporak-porandakan keutuhan jamaah. Karena sesungguhnya, setiap bentuk perpecahan di kalangan ummat Islam telah diancam oleh Allah, sebagaimana tertera di dalam Al Quran:

“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan meraka”. (QS.30:31-32)

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada apa yang telah mereka perbuat”. ( QS.6:159 )

Masih banyak ayat-ayat Al Quran yang mengharamkan berpecah dan berbantahan yang mengakibatkan hilangnya kekuatan. Menegakkan Dien Islam selamanya tidak akan sukses jika masih terdapat perpecahan di kalangan kaum muslimin. Selanjutnya silahkan baca Al Quran Surat 6 :46 dan 42:13.

Perpecahan yang diharamkan Allah dalam banyak ayat di atas, adalah perpecahan sebagai akibat dari banyaknya jamaah-jamaah minal muslimin yang masing-masing merasa benar dan bangga dengan golongannya dan terjebak dalam Jamaah Imamah ala Kaffir, tidak ada system Bai’at.

Apabila ternyata di antara jamaah muslimin tidak sanggup berbuat demikian, itu artinya belum lahir jamaah yang melingkupi keseluruhan kaum muslimin di muka bumi atau khususnya bumi persada ini. Dan keadaan demikian merupakan fitnah yang besar atas seluruh ummat Islam. Pada gilirannya akan membawa akibat yang lebih fatal, tidak terlaksananya Syariat Islam di dalam kehidupan mereka. Sementara mereka tetap takluk di bawah genggaman kekuasaan non Islami, lengkap dengan segala instrument hukum Jahiliyyah yang mereka restui. Disadari ataupun tidak, pada saat kekuasaan Islam tidak wujud, maka secara otomatis Ummat Islam terpaksa harus tunduk dan ikut andil di dalam mendukung dan menstabilkan kekuasaan THAGHUT yang terang-terangan menolak Al Quran (Walaupun sebagian) dan Hadist sebagai sumber hukum Negara. Jama’atum minal muslimin yang dalam aktivitasnya tidak Ijtanibut Thaghut (ingkar kepada Thaghut) dan hukum-hukumnya, sudah pasti mereka orang-orang munafiq. Dalam hal ini, Allah menegaskan dengan firman-Nya:

“Apabila dikatakan kepada merka:”Marilah kamu tunduk kepada hukum Allah yang telah diturunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi manusia dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu”. ( QS.4:60 )


Kemudian dalam ayat yang lain Allah Swt, berfirman:

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat untuk menyerukan,”Sembahlah Allah saja dan jauhilah Thaghut”, maka diantara ummat itu ada yang diberi petunjuk dan ada pula di antaranya yang telah pasti kesesatan baginya”. (QS.16:36 )

Bahaya terbesar yang akan terjadi manakala kaum muslimin mengakui kepemimpinan orang-orang kafir ( orang yang menolak hukum Allah secara kaffah ) atas diri mereka. Telah diinformasikan oleh Allah melalui Al Quran Surat

An-Nisa ayat 139:

“Khabarkan kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan disisi orang kafir itu? Sesungguhnya tiada paling mengerikan melebihi adzab Allah Swt”.

Yang lebih berbahaya Lagi adalah berakibat batalnya keimanan seperti yang tercantum

An Nisa’ 65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Pembeberan Fakta:

Mengapa Palestina dari waktu ke waktu wilayahnya makin sempit…?

Mengapa Taliban makin hari makin berjaya…?

Mengapa Al Qoida lebih ditakuti daripada golongan muslim yang lain…?

Mengapa….?

Itulah kehebatannya Jamaah Imamah wal Bai’at.

Seandinya saudara Muslim yang di Palestina mengamalkan Sunnah Rasul ini, tidak disangsikan Yahudi bakal Takluk.

Seandainya Taliban tidak menggunakan Kaonsep Jamaah Imamah wal Bai’at, sudah dari dulu mereka habis.

Seandainya Al Qoida tidak menerapkan Jamaah Imamah wal Bai’at, tidak akan “menggentarkan” kaum KAffIR.

Tahukah Anda Abu Sayyaf itu hanya 200 Mujahid…?

Tahukah Anda Pattani itu hanya 390 jiwa (laki dan perempuan)…?

Tahukah anda perbandingan Taliban dengan organisasi anda…?

Tahukah anda berapa perkiraan jumlah anggauta Al Qoida menurut FBI…? Apakah Sampai 15,000….?

Tahukah anda jumlah Mujahid Somalia, Checnya….?

Anda tidak perlu menjawab karena saya hanya menunjukan pada anda hebatnya JAMAAH, IMAMAH WAL BAI’AT.

Mohon ma’af atas kurang dan lebihnya, kebenaran dari Allah, kesalahan dari Nafsu saya pribadi.

Wabillahi Taufik wal Hidayah, wassalamu’aalaikum warrahmatullahi wabarkatuh.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: