Gustrisehat’sWeblog

Januari 4, 2009

Dakwah wal Jihad Abu Bakar Ba’asyir (Bag.I/hal 3-5)

Filed under: TAUHID — Gustri @ 2:31 am

1. RIWAYAT PENDIDKAN DAN AKTIVITAS DA’WAH

Abu Bakar Ba’asyir dilahirkan pada tanggal 12 Dzulhijjah 1356, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1938 di Pekunden Mojo Agung, sebuah kota kecil yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Ayahnya bernama Abud Ahmad Ba’asyir, seorang pedagang kain berdarah Yaman. Abu Bakar Ba’asyir adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara, empat orang perempuan dan tiga laki-laki, masing-masing bernama: Seha, Fatmah, Aisyah, Salim, dan Ahmad (perempuan keempat tidak jelas namanya).

Pada usia tujuh tahun, Abu Bakar Ba’asyir menjadi seorang yatim, setelah ayahnya wafat pada tahun 1945. Sepeninggal ayahnya, dia diasuh oleh ibundanya bernama Halimah. Sang ibu tidak bersekolah formal, tetapi pandai mengaji. Maka berbekal ilmu agama itulah dia membimbing dan menanamkan nilai-nilai al Qur’an kepada putra-putrinya dengan penuh kasih sayang. Di bawah asuhan Sang ibu, Abu Bakar Ba’asyir tumbuh besar menjadi pemuda yang sederhana di bawah naungan rahmat Ilahy. Dari penuturannya sendiri, terasa betapa Abu Bakar Ba’asyir amat menyayangi ibundanya. Karena itu, ketika ibundanya meninggal dunia pada tahun 1980 ia amat bersedih. Khabar mengenai kematian ibundanya diterima pada saat beliau menjalani masa-masa ujian fi sabilillah, meringkuk dalam tahanan rezim Soeharto di penjara Pati Jawa Tengah atas tuduhan subversi.

Di Desa Mojo Agung inilah Abu Bakar Ba’asyir menghabiskan masa kanak-kanak bersama saudara-saudaranya. Kehidupan keluarganya amat sederhana, sehingga pendidikan formal dijalaninya hanya sampai kelas satu Sekolah Menengah Atas. Untuk membantu ekonomi keluarga, dia pernah selama satu tahun bekerja membantu kakaknya mengelola perusahaan tenun.

Kemudian pada tahun 1959-1963, Abu Bakar Ba’ asyir melanjutkan pendidikannya di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, atas biaya dua orang kakaknya, Ahmad dan Salim. Setelah menamatkan sekolah di Pondok Gontor, beliau meneruskan pendidikan dan kuliah di Universitas Al-Irsyad, Surakarta, mengambil jurusan Dakwah.

Jauh sebelum terjun di masyarakat sebagai muballigh, lebih dahulu aktif dalam berbagai organisasi Islam. Tahun 1956 aktif dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) sebagai ketua tingkat Kecamatan. Tahun 1961 menjadi ketua GPII Cabang Pondok Modern Gontor. Selanjutnya pada tahun 1966 tampil sebagai ketua LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam) Cabang Surakarta. Jabatan terakhir yang pernah dipegang dalam organisasi Islam adalah menjabat Sekretaris Umum Pemuda Al-Irsyad Cabang Solo.

Pengalaman organisasi banyak menempa dirinya dalam perjalanannya mengarungi kehidupan ini. Pada tahun 1967 bersama Abdullah Sungkar dan Hasan Basri, mendirikan pemancar Radio Dakwah Islamiyah ABC (Al-Irsyad Broadcasting Comission), dan dua tahun kemudian, 1969, mendirikan Radio Dakwah Islamiyah Surakarta (RADIS).

Seruan dakwah Islamiyah yang dipancarkan melalui radio benar-benar efektif. Belum lama mengudara, reputasi RADIS sebagai lisan dakwah dengan muballigh terkenal dan digemari mampu membangun citra dakwah yang istiqamah, jujur dan berani dalam menyampaikan kebenaran. Tetapi radio ini tak berumur panjang. Aparat intelijen mulai menguping dan menganggap dakwah yang disampaikan para muballigh sudah memasuki wilayah politik, mengkritik penguasa terutama menyangkut pemberhalaan Asas Tunggal Pancasila. Akibatnya, rezim otoriter Orde Baru melarang RADIS mengudara.

Radio tentu saja bukan satu-satunya media dakwah; berpikir demikian, maka perhatian kemudian dialihkan ke dunia pendidikan. Bersama sahabatnya Abdullah Sungkar, tahun 1971 Abu Bakar Ba’ asyir mendirikan Pondok Pesantren “Al Mukmin” Ngruki, Surakarta masing-masing menjabat Ketua Yayasan dan Pimpinan Pesantren sebagai penyelenggara pendidikan.

BERTEMU JODOH: Begitulah jalan hidup yang ditempuh dan dijalani Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Di tengah kesibukannya berdakwah dan membangun pesantren, ia tak lupa membangun rumah tangga. Pada tahun 1971 ia menyunting seorang gadis Solo yang umurnya lebih muda 8 tahun, bemama Aisyah binti Abdurrahman Baraja. Ketika menikah Abu Bakar Ba’asyir berumur 33 tahun, sementara istrinya Aisyah menginjak usia 24 tahun dan masih tercatat sebagai santri Mu’allimat Al Irsyad, Solo.

“Kakak saya Abdullah Baraja, adalah sahabat karib ustadz Abu. Dialah yang menjodohkan saya dengan ustadz Abu”, tutur Aisyah suatu hari mengenang masa-masa pertautan hatinya dengan sang suami.

“Saya mau saja. Waktu menikah saya tidak berharap macam-macam, selain keridhaan Allah. Saya memilih ustadz Abu sama sekali tidak ada unsur duniawinya. Alhamdulillah, saya berbahagia sampai kini dan tetap bersabar dengan jalan hidup yang ditempuh suami”, ujarnya lagi.

Ia demikian terkesan dengan pribadi pemuda yang kini telah menjadi suaminya itu. Mengenang perjalanan rumah tangganya yang kerap diterpa badai ujian fi Sabilillah karena bersuamikan seorang mujahid, ia mengatakan: “Selama berumah tangga saya belum pernah menyaksikan beliau sengaja melakukan maksiat pada Allah, baik di kala sendirian maupun bersama orang banyak.”

Dari hasil pernikahannya itu membuahkan 3 orang putra-putri, yaitu masing-masing bernama Zulfa, Abdul Rasyid, dan Abdurrahim, kesemuanya telah berkeluarga.

Sebagai juru dakwah yang telah menghibahkan hidupnya untuk perjuangan meninggikan Kalimah Allah, ia rela menghadapi rintangan apapun yang menghambat jalan dakwahnya. Suka dan derita, tawa dan air mata merupakan bagian dari jalan dakwah bagi mereka yang hanya mengharapkan ridha Ilahy. Dan untuk itu ia sudah berulangkali masuk penjara rezim penguasa, dengan tuduhan yang selalu direkayasa.

Suatu hari dalam tahun 1982, saatditangkap pertamakali akibat dakwahnya yang dinilai keras oleh penguasa Orde Baru, di ruang pengadilan, ketika membacakan pledoi di hadapan hakim yang mengadilinya, Abu Bakar Ba’asyir memperlihatkan ketegaran seorang mujahid.

Ia mengatakan: “Bagi saya aqidah dan keimanan adalah jauh lebih mahal dari semua yang ada di dunia ini, termasuk nyawa. Kehilangan anak, istri, harta benda dan keluarga di dalam memperjuangkan tegaknya kebenaran Islam di bumi Allah ini, bagi saya, adalah kecil. Penjara bukanlah hal yang rnenakutkan, bahkan dia merupakan kekasih bagi seorang penyampai kebenaran, sebuah proses kehidupan imani untuk mencapai kehidupan yang lebih tinggi dan lebih sempurna di akhirat. Akan tetapi, jika aqidah telah dinodai, keimanan telah dirampas, sesungguhnya hidup ini sudah tidak lagi berarti. Mati berkalang tanah menghadap Yang Maha Pencipta jauh lebih indah daripada hidup menanggung dosa terus menerus.”

TAHUN PENUH COBAAN: Tanggal 21 November 1978 adalah tahun datangnya cobaan dalam hidup Abu Bakar Ba’asyir. Dakwah Islam yang diserukan dianggap terlalu vokal oleh rezim penguasa. Kritiknya terhadap berbagai kebijaksanaan pemerintah yang tidak adil dan melanggar syari’at Islam, terutama pemaksaan Asas Tunggal Pancasila sebagai asas ormas dan orpol, menyebabkan ia dipenjarakan. Pemerintah telah mengakhiri gerak dakwahnya di alam bebas. Setelah empat tahun meringkuk dalam tahanan Laksusda Jateng, barulah ia diajukan ke pengadilan.

Dalam bulan Maret 1982, bersama sahabatnya Ustadz Abdullah Ahmad Sungkar, Abu Bakar Ba’ asyir diajukan ke sidang Pengadilan Negeri Sukoharjo. Jaksa penuntut Umum, Roedjito menuduhnya telah melanggar UU No. 11/PNPS/1963, yaitu menentang pemerintah dan ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan dasar Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Berdasarkan dakwaan itu, jaksa kemudian menuntut supaya terdakwa dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

Atas tuntutan jaksa yang tentu saja amat memberatkan itu, penasehat hukumnya, Abdul Manan, SH meyakinkan hakim pengadilan bahwa tuduhan jaksa tidak dapat dibuktikan secara yuridis. Fakta di pengadilan tidak satu pun yang mendukung tuduhan jaksa.

Dalam pembelaannya Abdul Manan menjelaskan: “Tuduhan melanggar UU No. 11/PNPS/1963 yaitu menentang pemerintah dan ingin menggantikan dasar negara Pancasila dalam sidang terbuka Pengadilan Negeri Sukohaijo ini tidak dapat dibuktikan. Apalagi bermaksud mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Negara Islam Indonesia (NII). Terdakwa tidak pernah mempertentangkan Islam dan Pancasila. Terdakwa hanya ingin menjalankan syari’at Islam secara utuh dan murni. Yang dilakukan terdakwa bukan seperti yang dituduhkan jaksa untuk mendirikan Negara Islam, tetepi mendakwahkan Islam; kecuali jika saudara jaksa mencoba memisahkan motivasi (Islam) dengan perbuatan terdakwa berupa pengajian-pengajian. Tapi, apakah berceramah menghubungkan Islam dengan Pancasila merupakan perbuatan pidana subversi? Apakah menerima tamu BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Nasional) merupakan perbuatan pidana subversi? Apakah usaha melaksanakan syari’at Islam secara sempurna dan seluas-luasnya dilarang di negara RI ini? Padahal secara implisit dan eksplisit ditegaskan betapa besar peranan agama dalam membangun kehidupan bangsa dan negara RI. Sungguh tuntutan 12 tahun penjara bagi terdakwa bagai ledakan bom menyengat telinga saya. Dimanakah saudara jaksa mendapatkan angka sebesar itu? Mestinya UU No. 11/PNPS/1963 itu tidak digunakan dalam kasus ini.”

Pada akhir persidangan, hakim PN Sukoharjo yang diketuai Nyonya Hoedijani Poedjosewojo, SH menjatuhkan vonis tiga tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa.

“Pada hakekatnya pengadilan sepakat dengan jaksa tentang background kegiatan-kegiatan terdakwa, yaitu menginginkan masyarakat yang lain daripada yang telah digariskan dalam Pancasila dan UUD 1945, yaitu ingin membentuk Negara Islam Indonesia (NII),” kata majelis hakim saat membacakan vonis.

Selanjutnya, dalam amar putusannya majelis hakim mengatakan: “Warna dan latar belakang kegiatan politik terdakwa terselubung dalam dakwah-dakwah yang dilakukannya. Kejelekan pemerintah yang dikemukakan terdakwa adalah benar bila diteropong lewat penafsiran subyektif.”

Tanggal 3 April 1982 majelis hakim yang terdiri dari Ny. Hoedijani Poedjosewojo, SH, Soedjono Hadimartono, SH, Soedarto Radyosoewarno, memutuskan 9 tahun penjara potong masa tahanan atas Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Ahmad Sungkar.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: