Gustrisehat’sWeblog

Januari 3, 2009

Dakwah wal Jihad Abu Bakar Ba’asyir (Bag.I/hal 1-2)

Filed under: TAUHID — Gustri @ 2:54 am

Bagian Pertama

DA’I BUKAN TERORIS

Foto 1

“Dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab, 33:46).

ABU BAKAR BA’ASYIR

MENGHIBAHKAN HIDUPNYA

UNTUK ISLAM

Dalam hidup ini, yang paling sulit bagi seseorang

Adalah memutuskan untuk memilih jalan hidup yang benar.

Dan yang lebih sulit lagi, mempertahankan jalan hidup

Yang benar hingga sampai ke tujuan, yaitu mardhatillah.

(Abdullah Ahmad Sungkar, w. Oktober 1999).

USTADZ Abu Bakar Ba’asyir telah memutuskan untuk memilih jalan hidup Taqwa, yang dirintisnya sejak usia muda. Perjalanan hidupnya memang penuh dinamika. Ia tak pernah lelah menyingkirkan segala perintang yang menghambat perjalanannya menuju keridhaan Allah. Kezaliman penguasa bahkan tak mampu menghadangnya, sekalipun akibatnya membuat dirinya teraniaya. Bahkan tuduhan George Walker Bush, presiden Amerika Serikat dan sekutu jahatnya yang memvonis dirinya sebagai tokoh teroris internasional pun, tidak dapat melemahkan semngat jihadnya.

Barangkali benar, memang tidak mudah memahami karakteristik seseorang, tentang cita-cita, kegemaran maupun idelismenya. Termasuk tentang prinsip hisup, prilaku serta kecenderungan ruhiyahnya. Salah satu pendekatan untuk memahami manusia, antara lain melalui analisis psikologi.

Abraham H. Maslow yang populer dengan teori Hierarchy of Needs (hirarki kebutuhan), membagi tingkat kebutuhan manusia menjadi Physiological Needs, Safety Needs, Love Needs, Esteem Needs, Self-Actualization.

Analisis psikologi Abraham H. Maslow mengatakan, “Terpenuhinya tingkat kebutuhan yang lebih rendah, akan membawa seseorang kepada hirarki kebutuhan di atasnya”. Namun, pada kenyataannya, hirarki kebutuhan ini tidak mendapat contoh yang sempuma. Seseorang atau sejumlah orang yang sudah berhasil memenuhi hirarki kebutuhan di tingkat yang lebih rendah, ternyata belum tentu berhasil mencapai tingkatan yang lebih tinggi.

Seseorang atau sekelompok orang yang sudah berhasil memenuhi physiological needs, safety needs, dan love needs-nya dengan baik, ia hidup di dalam rumah mewah, dikelilingi para sahabat, ajudan dan sopir yang setia, mobil mewah dan deposito yang berlimpah, anak dan isteri yang saling mencintai, mempunyai kedudukan sosial yang bergengsi, mempunyai power, namun dari dalam dirinya tidak terbit kebutuhan yang lebih tinggi, ia justru menikmati posisinya sebagai budak kekuatan asing yang merendahkan martabat diri dan bangsanya.

Seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai power, justru menggunakan power-nya itu untuk menindas rakyatnya sendiri, untuk merampok kekayaan rakyat, menjual murah aset strategis bangsa kepada kapitalis asing. Meski kekuasaan itu berada di tangannya, ia justru menggunakan hak kuasanya itu untuk membiarkan kekuatan asing memperkosa hak asasi rakyat (untuk bersyarikat, berpendapat dan mengekspresikan rasa cinta kepada Allah Yang Maha Pencipta).

Kontras dengan itu adalah sosok Abu Bakar Ba’asyir. Ustadz berusia 65 tahun ini, hingga usia senja kini tidak pernah menikmati rumah pribadi yang paling sederhana sekalipun. Ia dan anggota keluarganya menempati rumah dinas (pinjaman) yang disediakan pengurus pondok pesantren Al-Mukmin, itu pun karena beliau merupakan salah seorang pendiri sekaligus tenaga pengajar di lembaga pendidikan tersebut. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir adalah tipikal yang tidak mau menerima imbalan tanpa bekerja.

Jika kita berusaha memahami Ustadz Abu Bakar Ba’asyir –yang kini namanya tercemar sebagai tokoh teroris intemasional akibat propaganda dusta yang disebarkan pemerintah Amerika dan antek-anteknya di seluruh dunia– dengan meminjam pisau analisa Maslow, maka dapat dikatakan bahwa Ba’asyir sampai senja usianya kini meski belum pernah menyempurnakan tingkat kebutuhan yang lebih rendah, namun dari dalam dirinya sudah tumbuh kebutuhan yang hiraikinya lebih tinggi: self-esteem dan self-actualization. Bahkan Ba’asyir telah menghibahkan hidupnya untuk Islam, demi tegaknya syari’at Islam.

Dalam bahasa sederhana, gejala seperti ini dapat kita katakan bahwa belum tentu seseorang yang berpangkat tinggi, berharta melimpah, berpendidikan (formal) tinggi, akan mempunyai harga diri yang tinggi pula. Bahkan dengan menonjolkan sikap munafiqisme (oportunis) yang sempurna, mereka terlihat lebih rendah dari hewan melata.

Demikianlah, apabila manusia tidak beriman dengan benar dan tidak beramal shalih, maka martabatnya akan jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (Qs. At-Tin, 95:4-6).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: