Gustrisehat’sWeblog

Januari 2, 2009

Dakwah wal Jihad Abu Bakar Ba’asyir (hal.awal)

Filed under: TAUHID — Gustri @ 12:50 am

Pengantar Editor

“Jika mereka menangkap kamu,

niscaya mereka bertindak sebagai musuh

bagimu dan melepaskan tangan dan lidah

mereka kepadamu dengan menyakitimu

dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.”

(Qs. Mumtahanah, 60:2)

KATA-KATA yang bagaimanakah, demi Allah, yang mungkin kita ungkapkan dengan cara yang benar, sehingga mewakili jeritan hati seorang ulama yang, atas nama kekuasaan negara memerangi terorisme: dianiaya, difitnah, dirampas hak-haknya, dilecehkan martabat serta kehormatannya?

Kata-kata yang bagaimanakah, demi Allah, yang bisa kita ucapkan untuk mengawali buku ini, sehingga dapat berfungsi sebagai lisan sejarah yang mampu berkisah kepada generasi yang datang kemudian, mengenai duka nestapa negeri yang dituduh sarang teroris, tentang harga diri penguasa yang tergadaikan, akal sehat yang hilang, harkat dan martabat yang diperjual belikan?

Di tengah gemuruhnya propaganda terorisme internasional yang dirancang pemerintah Amerika beserta sekutu jahatnya, dan melalui resolusi DK PBB memasukkan Jama’ah Islamiyah sebagai jaringan teroris, dengan serta merta dunia mengutuk gerakan penegak syari’at Islam sebagai gerakan teroris.

Eksistensi gerakan Islam, pada gilirannya terguncang dan terancam: bahkan menjadi terdakwa dari banyak tuduhan hasil konspirasi jahat musuh-musuh Islam. Dalam keadaan demikian, seakan kita kehabisan kata-kata bijak dan manusiawi untuk menceritakan betapa dahsyatnya bencana yang menimpa kaum muslimin dewasa ini.

Mereka yang berpegang teguh pada aqidah Islam, dan berjuang untuk tegaknya Syari’at Islam kini berada di bawah bayang-bayang penzaliman, bukan oleh satu negara, tetapi oleh berbagai negara yang bersekutu untuk menghancurkan Islam dan umat Islam. Ketaatan kepada wahyu Ilahy dan ketundukan kepada sunnah Nabi Muhammad SAW dalam pandangan golongan anti Islam, merupakan bahaya laten yang harus disikapi dengan penghancuran.

Mengapa gerakan penegak syari’ah Islam selalu dijadikan tersangka dari banyak kasus konflik agama dan kekerasan di Indonesia? Sementara RMS, sebuah gerakan sparatis yang mengibarkan bendera Republik Maluku Sarani, dan Laskar Kristus yang ingin mendirikan Negara Kristen Asia Pasifik tidak dianggap gerakan teroris oleh Amerika?

Mengapa Majelis Mujahidin dituduh reinkarnasi Darul Islam yang sekarang bermetamorfose menjadi Jama’ah Islamiyah dan didakwa sebagai jaringan teroris internasional menurut resolusi DK PBB? Mengapa kasus-kasus teror yang terjadi sejak tahun 2000 lalu seperti pengeboman greja di malam natal, Atrium Senen, peledakan bom Bali (2002) bahkan rencana pembunuhan Megawati dikait-kaitkan dengan Abu Bakar Ba’asyir dan jaringan Ngruki? Sedangkan Theo Syafie, penghasut Kerusuhan Kupang, Alex Manuputy, pembantai umat Islam di Ambon, Pendeta Reinaldi Damanik, aktor intelektual dan algojo pembantai ratusan santri pesantren Walisongo di Poso, masih bebas berkeliaran, tidak ditangkap sebagai teroris dan penjahat kemanusiaan?

“Dakwah dan Jihad Abu Bakar Ba’asyir” judul buku yang sekarang berada di tangan pembaca ini, diterbitkan karena dimotivasi, terutama oleh rasa keprihatinan yang mendalam, menyaksikan ketidakadilan dunia internasional serta perlakuan diskriminatif pemerintah Indonesia terhadap ulama Islam. Aparat kepolisian terus menerus menteror Ustadz Abu Bakar Ba’asyir melalui opini yang sengaja direkayasa untuk memojokkan beliau. Vonis bersalah sudah lebih dahulu dijatuhkan oleh pihak polisi, bahkan sebelum gelar perkara berlangsung dipengadilan.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, nama ini akan terekam dalam memori sejarah Indonesia sebagai seorang ulama yang gigih memperjuangkan tegaknya syari’at Islam, tetapi oleh orang-orang kafir dinobatkan sebagai tokoh teroris. Dia juga akan dikenang sebagai sosok militan yang berdiri tegar pada dua garis Siyasah Syar’iyah yang dianggap radikal.

Pertama, melalui Majelis Mujahidin Indonesia, ia memimpin sebuah institusi aliansi penegak syari’at Islam. Kedua, ia menyatakan kebencian dan permusuhannya dengan pemerintah Amerika Serikat, sebuah rezim global yang sedang melancarkan proyek militer, dan kekuasaan ekonomi politiknya di dunia. Gerakan penegak syari’at Islam yang dipimpin Abu Bakar Ba’asyir dirasakan telah menusuk jantung kekuasaan musuh-musuh Islam, membikin repot negara dan militer, dan juga mengancam kepentingan imprialis Amerika di Asia Tenggara.

Buku ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama berisi: “Da’i Bukan Teroris”, upaya mengenalkan secara lebih jujur dan jernih tentang seorang tokoh yang kini telah menjadi simbol perlawanan menghadapi kezaliman dan kejahatan imprialis Amerika. Pada bagian ini dikisahkan secara lebih lengkap memoar Abu Bakar Ba’asyir, masa-masa kecil, bertemu jodoh dan riwayat pendidikannya; aktivitas dakwah hingga. hijrah ke Malaysia, kemudian kembali lagi ke Indonesia dan menjadi Amir Majelis Mujahidin.

Bagian kedua buku ini menyuguhkan wacana dan pokok-pokok pikiran mengenai politik dan dakwah yang mendasari gagasan-gagasan beliau tentang wajibnya menegakkan syari’at Islam. Bagian ini berisi dua tulisan beliau: “Kesempumaan Tauhid Hanya Dengan Menerapkan Syariat Islam” dan “Pengamalan Islam Menurut Qur’an dan Sunnah”. Konsistensi ideologis sikap dan pandangan keagamaannya, sejak tahun 80-an hingga sekarang, dapat ditelurusuri melalui dua tulisan ini, yang disampaikan secara terus terang, melalui forum dialog maupun ceramah umum di berbagai pengajian; dan bukan sembunyi-sembunyi melalui gerakan bawah tanah.

“Khutbah Dari Penjara”, kami letakkan pada bagian ketiga buku ini. Ditulis ketika beliau masih terbaring sakit di RS Kramatjati Jakarta. Sekalipun beliau tidak bisa menyelenggarakan shalat Idul Fithri 1 Syawal 1423 H di alam bebas, karena terhalang statusnya sebagai tahanan Mabes Polri, namun kebiasaan menyiapkan materi khutbah yang sudah dijalaninya selama bertahun-tahun dalam kondisi normal, temyata tidak bisa ditinggalkan. Khutbah dengan judul, “Membela Islam Melawan Rezim Amerika, Yahudi dan Musuh Islam lainnya” bermaksud mengingatkan pemerintah bahwa bangsa Indonesia hendaknya menyadari eksistensinya yang terinjak, dan potensinya yang terabaikan sehingga menjadi obyek permainan politik dan ekonomi pihak asing. Tidak lupa beliau juga mengingatkan kaum muslimin, bahwa skenario masa depan umat Islam di negeri ini tengah menjadi agenda utama neo- imprialis dan neo-kolonialis.

“Jangan bermimpi mendapat pertolongan dari Allah jika kita sendiri tidak aktif berjuang menolong agama Allah (Intan shurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum)”, himbaunya.

Bagian terakhir buku ini berupa, “Nasehat Kepada Penguasa”, berisi surat-surat dari Majelis Mujahidin yang dikirirnkan kepada para pemimpin negeri ini. Termasuk himbauan kepada para Ulama, Ajengan,Tuan Guru, Kyai agar tidak menjadi penghambat tegaknya syari’at Islam, sebaliknya menjadi pelopor terdepan dalam upaya menegakkan syari’at Islam di negeri ini.

Surat-surat MMI sengaja kami sertakan dalam buku ini setidaknya untuk membuktikan dua hal. Pertama, bahwa dakwah penegakan syari’at Islam tidak saja diserukan kepada rakyat, tapi juga kepada pemerintah, DPR, MPR yang akan bertanggungjawab terhadap keselamatan seluruh rakyat Indonesia dunia dan akhirat. Kedua, perjuangan Majelis Mujahidin untuk penegakan syari’at Islam dilakukan secara legal konstitusional, bukan melalui teror maupun intimidasi. Oleh karena itu, MMI siap berdialog dengan siapa saja, baik untuk menjelaskan misi ini maupun beradu konsep. Syari’at Islam merupakan satu-satunya alternatif terbaik untuk membebaskan bangsa Indonesia dari segala krisis dan malapetaka. Mengajukan syari’at Islam sebagai solusi alternatif bagi bangsa Indonesia, bukan sebuah pembangkangan politik, melainkan andil umat Islam untuk membangun bangsa ini dengan predikat Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur (Negara yang aman sejahtera dan diridhai Allah).

Dari 16 surat yang disertakan dalam buku ini, empat surat terakhir yang ditujukan kepada penyidik Mabes Polri, Presiden / Wakil Presiden dan Komisi I DPR RI, adalah surat pribadi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang beliau tulis di Rumah Tahanan Mabes Polri Jakarta. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir demikian terganggu dengan teror Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar yang mengaitkan beliau dengan peristiwa bom Bali sehingga mendorongnya untuk mengirim surat ke DPR melalui kuasa hukumnya.

Sejauhmana efektifitas surat-surat yang dikirim MMI untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, apakah ada manfaatnya? Kemungkinan tidak bermanfaat, tidak dibaca atau bahkan dibuang ke tong sampah, bukan tidak disadari.

Tetapi apa yang dilakukan MMI sebenarnya adalah melanjutkan tradisi ke-Nabian, bahwa Muhammad Rasulullah SAW cukup aktif mengirim surat ke raja-raja di zaman beliau. Tradisi ini juga dilanjutkan oleh para ulama warasatul anbiya dari zaman ke zaman.

Dan yang lebih penting lagi, “Nasehat Untuk Penguasa” yang disampaikan melalui surat dimaksudkan sebagai pelepas tanggung jawab, sebagaimana tersebut di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika satu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa”. (Qs. Al A’raf, 164).

Mengakhiri pengantar buku ini, kami merasa berbahagia dan patut bersyukur kepada Allah Rabbul Alamin. Sekalipun sedang menjalani ujian berat akibat angkuhnya musuh-musuh keadilan dan kebenaran, terampasnya kebebasan dan kemerdekaan, namun Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berkenan mengabulkan permintaan editor, memberikan sambutan, “Renungan dari Penjara” atas terbitnya buku ini. Dengan pertolongan Allah, semoga kehadiran buku ini berhasil mencapai misinya, sebagai lisan dakwah -penyebar risalah kebenaran dari orang-orang yang tidak takut pada ancaman dan tidak lemah menghadapi tantangan. Kepada Allah jualah kita gantungkan segala harapan.

Jogjakarta, 4 Dzulhinah 1423 H / 5 Februari 2003 M

Judul:

DAKWAH & JIHAD

ABU BAKAR BA’ASYIR

Editor:

Irfan Suryahardy Awwas

Desain Cover:

Suhanuddin

Foto, Sabili 2/1/2003

Setting/Type Lay Out:

Mahasin Zaeni

Cetakan I:

Dzuhijjah 1423 H / Februari 2003 M

Penerbit:

Wihdah Press

Penerbit dan Penyebar Buku Islami

Jl. Kusumanegara No. 98, Jogjakarta

Telp. (0274) 389135 Fax 373458

Hak Pengarang dilindungi Undang-undang

All Rights Reserved

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: