Gustrisehat’sWeblog

Januari 2, 2009

Dakwah wal Jihad Abu Bakar Ba’asyir (hal.03)

Filed under: TAUHID — Gustri @ 9:54 am

Sambutan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

“RENUNGAN DARI PENJARA”

SESUNGGUHNYA tujuan pokok Allah menciptakan jin dan manusia di dunia ini hanyalah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’anul Karim antara lain:

“Dan Aku tidak mencipatakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Qs. Adz-Dzariyat, 51:56)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Aku (saja) dan jauhilah Thaghut itu.” (Qs. An-Nahl, 16 : 36).

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Qs. Al Bayyinah, 98 : 5).

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah komi mohon pertolongan” (Qs. Al Fatihah, 1 : 5).

Ibadah dalam pengertian yang benar, adalah setiap ucapan dan perbuatan yang disukai dan diridhai oleh Allah SWT. Tetapi ucapan dan perbuatan seperti apakah yang disukai dan diridhai Allah? Yaitu, ucapan dan perbuatan yang memenuhi dua syarat:

Pertama, ucapan dan perbuatan itu harus terpimpin oleh Syari’at Islam atau hukum Allah SWT. Kedua, ucapan dan perbuatan itu harus didasari niat ikhlas, lillahi ta’ala, hanya untuk mencari ridha-Nya.

Maka secara garis besar, ibadah dapat diartikan, melaksanakan Syari’at Allah secara kaffah demi semata-mata mencari ridha-Nya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa kita dihidupkan oleh Allah SWT di dunia ini, tugas pokoknya adalah: melaksanakan seluruh Syari’at Allah semata-mata untuk mencari ridha-Nya.

Kegiatan hidup selain itu seperti mencari rezeki, menuntut ilmu dan lain-lain, hanya sebagai penunjang menuju kesempurnaan ibadah. Allah Malikurrahman telah menetapkan amanah-Nya, merupakan sunnatullah, bahwa pelaksanaan ibadah dalam kehidupan di dunia ini pasti menghadapi berbagai halangan dan hambatan, baik dari syaitan jin maupun syaitan manusia.

Di dalam Al-Qur’an nul Karim, Allah ” telah menjelaskan rekayasa serta tipu daya syaitan yang tak kenal menyerah, usaha makar dari iblis la’natullah yang tak mengenal putus asa untuk menghambat manusia dari jalan Allah, menyimpangkan orang-orang beriman agar meninggalkan ibadah kepada Allah Rabbul Alamin. Dan iblis selalu optimis bahwa kebanyakan manusia akan berhasil dia tipu, dihambat dan disesatkan kecuali sedikit di antara mereka yang ikhlas.

Firman Allah: “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, maka aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (Qs. Al-A’raaf, 7 :16-17).

“Iblis menjawab: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka sernuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka” (Qs. Al Hijr, 15 : 39-40).

Bagaimanakah caranya supaya ibadah kita bisa sempuna? Caranya adalah, kita wajib melakukan dua amalan yakni:

1. Berdo’a agar diberi kekuatan untuk beribadah dengan baik, seperti do’ a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW: “Ya, Allah tolonglah aku agar mampu selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan boik kepada-Mu”.

2. Berjuang dengan gigih dan berani menghadapi segala hambatan dan rintangan yang datang, baik dan syaitan jin maupun syaitan manusia dengan sabar dan pantang menyerah. Perjuangan yang dimaksudkan adalah berjuang menegakkan Dinullah, berupa penegakan Syari’at Islam secara tegas tanpa kompromi dengan anjuran kebathilan dengan alasan apapun. Perjuangan fii Sabilillah ini harus didasari keikhlasan dan sikap tegas: menang atau mati di jalan Allah, menyerah kepada kebathilan tidak ada kamusnya di dalam al Qur’an.

Firman Allah: “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” (Qs. As Syura, 42 : 13).

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah? Pengikut-pengikut yang setia berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah” (Qs. As Shaf, 61 : 14).

Di dalam mengisi hidup ini, para ulama memberi nasehat yang singkat kalimatnya namun padat isinya: “Hidup mulia atau mati syahid”.

Hidup mulia artinya hidup yang diatur dengan syari’at Islam secara kaffah, atau hidup yang dipenuhi dengan perjuangan menegakkan Syari’at Islam, kemudian dengan sabar rela menanggung segala resikonya.

Sedangkan mati syahid ialah mati terbunuh oleh musuh Islam dalam jihad fi sabilillah, atau dibunuh oleh penguasa dhalim karena berani menyuarakan kebenaran.

Rasulullah SAW bersabda: “Seutama-utama jihad adalah mengucapkan kalimat haq di hadapan penguasa dzalim.”

Semoga Allah SWT terus membimbing kita agar sennatiasa pandai mengisi kehidupan di dunia ini sesuai dengan maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia, yaitu hanya untuk beribadah kepada-Nya. Amin Ya Mujibassailin.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: