Gustrisehat’sWeblog

Desember 26, 2008

Memberi Perintah Kepada Allah

Filed under: TAUHID — Gustri @ 5:47 pm

Tidak ada pekerjaan terpenting dalam kehidupan kita
kecuali menunggu datangnya shalat, dan menyegerakan shalat.
Dalam satu dialog ada yang bertanya kepada saya bahwa tanpa sadar kita
sering memberi perintah kepada Allah. “Tahu ga Ustadz, perintah apa
tuh kira-kira?”.
Saya memilih diam. Menikmati nasihat yang sedang datang ke saya. Sejak
awal bicara, saya memilih belajar saja.
“Perintah yang dimaksud, perintah tunggu…” katanya melanjutkan.
Pembicaraan saat itu sedang membicarakan shalat tepat waktu. Saya
langsung merespon membenarkan. “Iya juga. Perintah tunggu ya?”
Coba aja lihat, kata orang ini. Ketika Allah memanggil, lewat
muadzdzin, kita masih asyik dengan dunia kita. Tidak sadar bahwa Allah
sudah memanggil kita untuk sujud dan ruku’ menghadap-Nya. Sebagian
lagi mendengar, tapi tidak bergerak. Sebagiannya malah tidak bisa lagi
mendengar. Tertutup oleh kesibukannya bekerja, berusaha dan mencari
dunia.
Bener. Rupanya kita ini memberi satu pengkodean terhadap Allah, di
hampir di setiap 5 waktu shalat. Yaitu pengkodean perintah “TUNGGU”.
Luar biasa.
Jadilah Allah “Menunggu” kita. Sungguh tidak ada pantas-pantasnya.
Masa Allah disuruh menunggu kita, iya ga?

***

Perintah “Tunggu”

Tidak ada yang lebih penting di dunia ini yang harus kita kerjakan
kecuali shalat. Shalatlah pekerjaan utama kita, sedang yang lainnya
adalah pekerjaan sambilan.
Apa yang terjadi dengan diri Anda ketika Anda mendengar Azan? Apakah
langsung bergegas memenuhi panggilan azan tersebut, lalu melaksanakan
shalat? Atau biasa-biasa saja? Kalau Anda tidak segera bergegas
menyambut seruan itu, maka ketahuilah kita termasuk yang berkategori
memberi perintah kepada Allah. Yaitu perintah “tunggu” tersebut.
Perintah “tunggu” kepada Allah ini berarti: # Tunggu ya, saya sedang
melayani pelanggan. # Tunggu ya, saya sedang nyetir. # Tunggu ya, saya
sedang menerima tamu. # Tunggu ya, saya sedang nemani klien. # Tunggu
ya, saya sedang rapat. # Tunggu ya, saya sedang dagang nih. # Tunggu
ya, saya sedang belanja. # Tunggu ya saya sedang belajar. # Tunggu ya
saya sedang ngajar. # Tunggu ya saya sedang merokok. # Tunggu ya, saya
sedang di tol. # Tunggu ya, saya sedang dalam terburu-buru. # Tunggu
ya saya sedang tidur. # Tunggu ya, saya sedang bekerja. Dan
seterusnya.
Coba aja berkaca kepada diri sendiri, dan kebiasaan ketika menghadapi
waktu shalat. Perintah tunggu inilah yang kita berikan kepada Allah.
Adzan berkumandang… Allahu akbar, Allahu akbar… Bukannya kita
bergegas menyambut seruan itu, malah Allah kita suruh menunggu…

***

Siapa sih kita?

Sesiapa yang tidak mengusahakan shalat di awal waktu, sungguh dia
adalah orang yang tidak mengenal Allah. Rizki-Nya lah yang selalu kita
cari. Pertolongan-Nya lah yang sedang kita butuhkan. Dan Allah datang
di setiap waktu shalat membawa apa yang kita butuhkan, memberi apa
yang kita inginkan, di luar kebaikan-Nya yang bersifat sunnatullah.
Kita ini, manusia, makhluk ciptaan Allah. Diciptakan dari saripati
tanah. Kita ada, lantaran ada hubungan yang diizinkan Allah dari
hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian terjadilah kita. Ya,
dari sperma, kita menjadi manusia. Makanya Allah menyindir di surah
Yaasiin ayat ke-77, bagaimana mungkin manusia yang diciptakan dari
saripati tanah lalu tiba-tiba menjadi pembangkang? Menjadi pendurhaka
kepada Allah?
Tapi ya begitulah. Kita ini emang manusia yang ga tahu diuntung dan ga
tahu diri. Kita ga kenal siapa kita. Lihat saja, berani-beraninya kita
“memerintah” Allah untuk menunggu kita. Iya kan?
Sedangkan, saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, seorang kopral, ga
boleh dia memerintah sersan. Sersan, ga boleh memerintah kapten.
Mayor, tidak bisa memerintah Jenderal, dan seterusnya. Hirarki itu,
terjadi. Bahkan, seorang polisi yang berdiri di pinggir jalan, lalu
lewat mobil jenderal, lalu dia tidak mengangkat tangan tanda hormat,
maka secara kesatuan, ini akan jadi masalah buat dia.
Nah, sekarang, tanya, siapa kita, dan siapa juga Allah? Terlalu amat
sangat jauuuuuuhhhhh hirarki kedudukannya. Lah, bagaimana mungkin
kemudian kita membiarkan Allah menunggu kita, atau kita memberikan
perintah tunggu kepada-Nya, untuk menunggu kita? Astaghfirullah.
Insya Allah orang bisa rada selamet soal shalat, ketika bisa berpikir
begini, “Jangan sampe Allah menunggu saya. Kalo bisa, saya yang
menyambut Allah. Sebab ga ada pantes-pantesnya. Masa Raja Diraja,
Pemberi Karunia, yang dirindukan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya, yang
dinikmati rizki-Nya, lalu jadi yang menunggu saya? Emangnya, siapa
saya?”.

***

Renungkan tiga esai ini dulu ya sebagai bahan kuliah hari ini.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: