Gustrisehat’sWeblog

Desember 25, 2008

Orang Kristen Ragu dengan Natal

Filed under: TAUHID — Gustri @ 12:28 am


Kenapa anda tidak merayakan Natal? Ada tiga alasan utama yang diajukan
oleh orang Kristen yang tidak merayakan Natal. Pertama, Yesus Kristus
tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Kedua, 25 Desember adalah hari
ulang tahun dewa-dewi. Ketiga, tidak ada perintah untuk merayakan
Natal yang tercatat di dalam Alkitab.
Kelahiran Yesus Kristus
Alkitab Perjanjian Baru mencatat beberapa hari istimewa yaitu:
1. Hari Gabriel memberi tahu Maria bahwa dia mengandung
2. Hari kelahiran Yesus
3. Hari Yesus disunat pada hari ke 8
4. Hari kedatangan orang majus
5. Hari penebusan Yesus sebagai anak sulung (hari ke 30, 5 syikal perak)
6. Hari pentahiran Yesus (hari ke 40, domba/2 tekukur/2 anak merpati)
7. Hari Yesus di bait Allah pada umur 12 tahun
8. Hari Yesus dibaptis oleh Yohanes pembaptis
9. Hari Yesus membuat mujizat pertama kali
10. Hari Yesus disambut di Yesusalem
11. Hari perjamuan terakhir
12. Hari Yesus disalib
13. Hari kebangkitan Yesus (hari ke 3)
14. Hari kenaikan ke Surga (hari ke 40)
15. Hari turunnya Roh Kudus (hari ke 50)
Feast of Annunciation (perayaan pemberitahuan) dirayakan oleh gereja
Ortodok dan Katolik setiap tanggal 25 Maret untuk memperingati hari
Gabriel memberi tahu Maria bahwa dia akan mengandung. Gereja di
Inggris menyebutnya hari wanita (Lady day) sekaligus menjadikannya
sebagai hari tahun baru hingga tahun 1752.
Feast of Epiphany (perayaan manifestasi) dirayakan setiap tanggal 6
Januari untuk memperingati kelahiran, kedatangan orang majus,
pembaptisan dan mujizat pertama. Mengenai perayaan ini liturgi kuno
mencatatnya sebagai Illuminatio, Manifestatio, Declaratio (iluminasi,
penjelasan, manifestasi, pembuktian dan deklarasi, pengumuman). Dalam
perkembangan perayaan Epiphany juga disebut Twelfth Day, dua belas
hari setelah Natal (25 Desember) atau Three Kings Day, hari tiga raja.
Baik Clement of Alexandria (150-211/216) dalam buku Stromata, buku
ketiga dari trilogi Stromateis maupun Origen (185-254) dalam bukunya
Contra Celsus (248) membahas tentang perayaan Epiphany ini.
Pada 25 Desember 380 Gregory of Nazianzus (329-389) Uskup
Konstantinopel memisahkan perayaan Epiphany menjadi tiga yaitu 25
Desember untuk memperingati kelahiran dan kedatangan orang majus dan 6
Januari untuk memperingati pembaptisan serta 7 Januari untuk
memperingati mujizat pertama pada perkawinan di Kana.
Sejak tahun 524 semua gereja barat merayakan kelahiran Yesus pada
tanggal 25 Desember dan merayakan kedatangan orang Majus pada tanggal
6 Januari. Sementara itu gereja timur (Ortodoks) merayakan kelahiran
dan kedatangan orang Majus pada tanggal 25 Desember dan merayakan hari
pembaptisan Yesus pada tanggal 6 Januri.
Tanggal 25 Desember
Gereja Katolik dan Protestan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember.
Gereja Ortodoks Armenian (Armenian Apostolic Church, Armenian Orthodox
Church, Gregorian Church) merayakan Natal pada tanggal 6 Januari
sedangkan Gereja Ortodoks Timur (Eastern Orthodox Church) merayakan
Natal pada tanggal 7 Januari.
Kenapa gereja Ortodoks Armenian merayakan Natal pada tanggal 6
Januari? Karena sesungguhnya yang mereka rayakan adalah hari Epiphany.
Kenapa Gereja Ortodoks Timur merayakan Natal pada tanggal 7 Januari?
Karena tanggal 7 Januari pada kalender gregorian yang digunakan saat
ini adalah tanggal 25 Desember pada kalender Julian yang digunakan
oleh Gereja Ortodoks Timur. Mereka juga merayakan Epiphany pada
tanggal 19 Januari (6 Januari kalender Julian).
Kenapa tanggal 25 Desember digunakan untuk merayakan hari Natal? Ada
dua teori mengenai hal itu:
Pertama, 25 Desember ditetapkan sebagai hari Natal berdasarkan teori
Sextus Julius Africanus.
Sextus Julius Africanus melalui kelima bukunya yang berjudul
Chronografiai (225) mengajarkan teori perhitungan waktu Alkitab.
Menurutnya jangka waktu penciptaan hingga kelahiran Yesus adalah 5500
tahun. Dia menetapkan tanggal 25 Maret sebagai hari inkarnasi Allah
Putera menjadi manusia, pada hari itulah Maria menerima khabar
kehamilannya dari malaikat. Sembilan bulan kemudian, 25 Desember
adalah hari kelahiran Yesus Kristus.
Kedua, 25 Desember ditetapkan sebagai hari Natal untuk menggantikan
perayaan musim dingin bangsa penyembah berhala yang biasa dirayakan
sebelum mereka memeluk agama Kristen.
Saturnalia adalah perayaan musim dingin yang dirayakan oleh bangsa
Romawi. Perayaan itu dilakukan mulai tanggal 17 Desember hingga 23
Desember. Dalam perayaan itu mereka menyembah Dewa Saturnus sebagai
dewa pertanian.
Dies Natalis Solis Invicti adalah perayaan hari ulang tahun dewa Sol
Invictus, lengkapnya Deus Sol Invictus (dewa matahari yang tak
terkalahkan). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 25 Desember. Tanggal
25 Desember dalam kalender Julian adalah hari terpendek atau malam
terpanjang dalam setahun. Pada hari itulah dewa matahari menunjukkan
bahwa dirinya tidak terkalahkan oleh kegelapan.
Yule adalah perayaan musim dingin dan hari terpendek atau malam
terpanjang yang dirayakan oleh bangsa Skandinavia. Bangsa Norwegia dan
Denmark dn Swedia merayakannya pada tanggal 24 Desember.

Natal dan Alkitab
Origen seorang Theolog yang hidup pada tahun 185-254 menulis:
Mengenai semua orang suci yang tercatat di dalam Alkitab, tidak ada
seorangpun yang tercatat pernah merayakan hari ulang tahunnya. Hanya
orang-orang berdosa (Firaun dan Herodes) yang mengadakan pesta untuk
memperingati hari di mana mereka di lahirkan di dunia. (Origen, in
Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)
Walaupun kita tidak tahu sejak kapan umat Kristen merayakan Natal,
namun sejarah gereja mencatat bahwa Natal (Epiphany) sudah dirayakan
oleh umat Kristen abad kedua.
Apabila perayaan Natal itu bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka
para bapa gereja tentu sudah menentangnya. Origen (185-254) dalam
tulisannya tersebut di atas menentang perayaan hari ulang tahun, bukan
menentang perayaan Epiphany.
Perayaan Natal bukan perayaan hari ulang Tahun Yesus Kristus namun
memperingati hari Allah menyatakan kasihNya kepada manusia, itu
sebabnya dalam doa Natal kita tidak pernah mengucapkan selamat ulang
tahun kepada Tuhan Yesus, namun bersyukur kepada Allah karena mengirim
AnakNya untuk menyelamatkan manusia.
Semua perayaan keagamaan yang dirayakan oleh umat Kristen saat ini,
Jumat Agung, Minggu Paskah, Kenaikan Isa Almasih, Pentakosta dan Natal
adalah adalah hari-hari syukur agung. Hari untuk bersyukur kepada
Allah bahwa hal-hal tersebut sudah terjadi. Melalui
peristiwa-peristiwa itulah karya penebusan digenapi. Itu sebabnya umat
Kristen sejak abad pertama hingga generasi ini tidak pernah
mempermasalahkan apakah hari-hari perayaan tersebut adalah hari di
mana peristiwa yang dirayakannya terjadi.
Umat Kristen merayakan Jumat Agung bukan untuk memperingati hari
kematian Tuhan Yesus, namun untuk bersyukur bahwa Allah Putera sudah
memberikan nyawaNya ganti nyawa manusia. Itu sebabnya kita tidak
pernah mempertanyakan apakah hari kita merayakannya cocok tanggal dan
bulannya dengan tanggal dan bulan ketika peristiwa itu terjadi?
Umat Kristen merayakan Minggu Paskah bukan untuk memperingati hari
kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian, namun untuk bersyukur bahwa
karya penebusan Tuhan Yesus sudah diterima Allah Bapa.
Umat Kristen merayakan Kenaikan Isa Almasih bukan untuk memperingati
hari kenaikan Yesus ke surga, namun untuk bersyukur bahwa Yesus sudah
kembali bertahta di surga.
Umat Kristen merayakan Pentakosta bukan untuk memperingati hari
turunnya Roh Kudus, namun untuk bersyukur bahwa Roh Kudus sudah turun
ke dunia dan akan tinggal di hati setiap orang yang dipilihNya.
Umat Kristen merayakan Natal bukan untuk memperingati hari ulang tahun
Tuhan Yesus, namun untuk bersyukur bahwa Allah Bapa sudah menyatakan
kasihNya kepada manusia dengan mengutus AnakNya dan Allah Putera sudah
lahir ke dunia menaati perintah BapaNya. Itu sebabnya umat Kristen
dari generasi ke generasi tidak pernah mempermasalahkan apakah Yesus
Kristus lahir tanggal 25 Desember atau tidak?
Kebaktian Natal dan Perayaan Natal
Umumnya gereja memisahkan kebaktian Natal dari perayaan Natal.
Kabaktian Natal adalah kebaktian syukur agung kepada Allah karena
telah mengirim AnakNya ke dunia. Perayaan Natal adalah ungkapan
kegembiraan manusia karena mendapat kasih Allah. Di dalam kebaktian
Natal tidak ada hura-hura. Di dalam perayaan Natal jemaat bebas
mengungkapkan kegembiraannya, namun gereja mengendalikannya agar
berlangsung sesuai kesusilaan.
Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena tidak menemukan ayat
Alkitab yang memerintahkan untuk merayakan Natal, seharusnya anda juga
tidak merayakan Paskah, Kenaikan Isa Almasih dan Pentakosta. Anda juga
tidak perlu makan, minum, sekolah dan melakukan banyak hal lainnya
yang tidak ada ayat perintahnya dalam Alkitab.
Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena yakin bahwa tanggal 25
Desember pernah digunakan dan masih digunakan untuk merayakan hari
ulang tahun dewa matahari, kenapa tidak memilih hari lain untuk
merayakannya? Atau kenapa tidak memikirkannya sebagai kemenangan
Kekristenan atas kefasikan? Atau memikirkannya sebagai tantangan
kepada kaum yang merayakan ulang tahun dewa matahari pada 25 Desember?
Apabila anda tidak mau merayakan Natal karena yakin bahwa merayakan
Natal tidak ada gunanya bagi anda, maka anda tidak perlu merayakannya,
namun biarkanlah orang lain yang ingin merayakannya dan hormatilah
mereka yang merayakannya.
Saya merayakan Natal, namun menolak Santa Claus dan kerabatnya masuk
gereja serta pesta Natal yang tidak sesuai kesusilaan.

Sejarah Natal Tidak Jelas

Pada zaman purba pendewaan matahari lazimnya terdapat di negara-negara
yang kebudayaannya sudah agak tinggi. Matahari sebagai sumber cahaya
dan sumber hidup. Dewa matahari Amaterasu di Jepang, dewa matahari di
Tiongkok, Quetzalcoatle di Mexico dan di Peru.

Dewa Apollo atau Dionysus di antara orang Yunani (Griek), Hercules di
antara orang Romawi, Mithra di antara orang Iran (Persia), Adonis dan
Atis di Syria dan Phrygia (Anadol), Osiris, Isis dan Horus di Mesir,
Baal Samus dan Astarte di antara orang Babil (Babylonia) dan Karthago,
dan seterusnya. Semua dewa matahari ini dilahirkan sekitar tanggal 25
Desember dari seorang dara di sebuah gua, dan dinamakan embawa-Terang,
Perantara, Juru-Selamat, Pembebas, dan sebagainya.

Mithraism, sebagai diakui oleh St. Jerome, lambat-laun terdesak di
Roma dan Alexandna (Iskandaria) oleh Christianity. Tertullian
membenarkan kenyataan bahwa Mithraism lenyap sesudah Gereja mengambil
alih warna-warni dari Mithraism. Selanjutnya Tertullian berkata bahwa
ulama di zamannya menganggap sama Mithraism dengan Christianity
kecuali dalam
soal nama.

Padri Farrar dalam karangannya “Life of Christ” berkata bahwa tidak
ada hujah yang memuaskan untuk menetapkan kelahiran Yesus pada tanggal
25 Desember. Bijbel diam dalam hal ini, walau mengkisahkan di Lukas
2:8 “Maka dijajahan itu pun ada beberapa orang gembala, yang tinggal
di padang menjaga kawan binatangnya pada waktu malam.” Hal ini
memustahilkan menerima 25 Desember sebagai tanggal kelahirannya Yesus
(Natal ), karena bulan Desember adalah puncaknya musim hujan di
Palestina, ketika mana tidak terdapat kawan binatang atau gembala di
waktu malam pada padang Bethlehem.

Semula Natal dirayakan pada tanggal 6 January (Epiphany), tetapi pada
tahun 353 – 354 Paus Liberius merubahnya jadi 25 Desember. Tidak ada
tanda-tanda perayaan Natal sama sekali

hingga abad ke IV. Baru pada tahun 534 oleh mahkamah Hari Natal dan
Epiphany dihitung “Dies Non.”

Gereja Griek hingga kini merayakan Natal pada tanggal 7 Januari. Baru
pada kira-kira tahun 533 seorang rahib Scythia bernama Dionysius
Exiguus, ketua biara dan ahli nujum di Roma, ditugaskan untuk
menetapkan tanggal dan tahun kelahiran Yesus. Beliau tidak memberi
alasan-alasan yang menguasakan ia untuk menetapkan 25 Desember sebagai
hari Natal, tetapi tanggal yang pasti itu adalah tanggal yang
diduganya dari kelahiran kebanyakan dewa-dewa matahari. Dewa matahari
Mithra dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Osiris, dewa matahari
orang Mesir, dilahirkan pada tanggal 27 Desember. Dewa matahari Horus
dan Apollo pada tanggal 28 Desember.

Adapun tahun yang ditetapkan oleh rahib Dionysius Exiguus tersebut,
pada abad ke IX ternyata bahwa rahib itu keliru beberapa tahun, dan
diakui bahwa Herodes wafat tahun 4 S.M.

Menurut Injil karangan Matius 2:16 raja Herodes, untuk melenyapkan
kemungkinan Yesus menjadi “raja sekalian Yahudi,” menitahkan agar
dibunuh sekalian anak-anak berumur 2 tahun dan di bawah. Jadi tahun
kelahiran Yesus harus dimundurkan sekurang-kurangnya sampai 4 S.M.
Kini, para sarjana, memilih tahun 5 atau 6 S.M. sebagai tarikh yang
lebih cocok dengan kisah dari Injil-injil yang saling bertentangan.
Beberapa ahli sejarah mengundurkan sampai
tahun 8 dan 10 S.M.14 Meskipun demikian, tiap Muslim, percaya akan
Nabi Isa a.s. dan Injilnya, boleh turut merayakan Maulid Isa al-Masih,
dan wajib mengundang setiap orang bukan-Muslim untuk turut merayakan
maulid Nabi Muhammad s.a.w. sebagai tabligh agar
mereka mengenal Islam.

Natal yang artinya maulid, kelahiran, seperti dalam istilah Dies
Natalis (Hari Kelahiran), adalah satu dari kata-kata, misalnya:
sekolah, gereja, keju, mentega, dan sebagainya yang bahasa kita warisi
dari bangsa Portugis yang beragama Katolik Roma dan yang mulai datang
ke negeri kita pada akhir abad XV

Jelaslah bahwa Natal adalah Hari Kelahiran Yesus Kristus yang
diperingati dan dirayakan di gereja-gereja dan rumah-rumah.
Diperingati oleh orang Kristen yang salih dengan pujaan-pujaan dan
doa-doa, dengan saling memberi hadiah, dan sebagainya. Dirayakan di
tempat-tempat dansa dan bar-bar dengan meminum minuman-minuman keras
oleh awam yang acuh tak acuh terhadap agamanya.

Sebagaimana perayaan kegerejaan lain, juga Natal menggantikan perayaan
orang kafir (jahil). Hari lahir yang sebetulnya dari Yesus yang nama
asalnya Yesyua, dan Arabnya Isa, tidak ada yang mengetahui. Pada zaman
itu bukan kebiasaan orang awam mencatat hari lahir atau hari wafatnya
seseorang. Keluarga Yesus adalah orang-orang sederhana, dan
murid-muridnya adalah nelayan, dan tidak biasanya dapat membaca atau
menulis.

Bani Israil, yakni orang Yahudi, menggunakan penanggalan qamariyah
(maanjaar, lunar year), bukannya tahun syamsiyah (zonnejaar, solar
year). Semula kedatangan Yesus di muka bumi (Epiphany) dirayakan pada
tanggal 6 Januari. Di beberapa negara, diantaranya di Armenia,
kelahiran Yesus masih saja dirayakan pada tanggal itu.

Digesernya ke tanggal 25 Desember adalah karena pengaruh dari
penanggalan Romawi, yang menyebut tanggal itu “dies invicti solis”
yang artinya “hari dari tuhan (dewa) matahari (Mithras) yang telah
dikalahkan.” Yesus di-umpamakan sebagai “matahari kebenaran” dan
“cahaya dunia.” Tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran Mithras,
yang asalnya dewa matahari Iran yang kemudian dipuja di Roma. Hari
minggu disebutnya juga Zondag, Sunday, Sonntag, hari matahari, hari
gereja, pengganti hari Sabtu. Juga ada yang berpendapat bahwa Natal
itu adalah pengganti dari hari raya Romawi “Saturnalia” (dari 17
sampai 20 Desember), atau pengganti dari perayaan Jerman kuna “Joel”
(biasanya 12 hari lamanya, dan pada masa itu harus damai benar-benar
tak boleh diganggu), dan pendapat ini karena banyaknya upacara-upacara
yang bersamaan: roti Joel jadi roti Natal (kerstbrood).

Hari Natal pada tanggal 25 Desember untuk pertama kalinya dirayakan di
tahun 354 di Roma dan di tahun 375 di Konstantinopel dan di tahun 387
di Antakia (Antiochie). Bak makanan sapi, palungan (crib, kribbe)
dengan anak Yesus yang ditempatkan di gereja waktu perayaan Natal
mulai pada abad VIII, dan penempatan kribbe di rumah-rumah, sesudah
St. Franciscus dari Assisia merayakan malam Natal di hutan Grecio pada
abad XIII

Upacara-upacara yang terbanyak berasal dari adat pada zaman jahiliyah
seperti pemberian hadiah, “hulst” semacam semak atau pohon yang
selama-lamanya hijau (ilex aquifolium), ranting dari pohon mare
(viscum album) buat mengusir setan atau arwah jahat dari istal, dan
pohon Natal (Kerstboom), ialah pohon yang diperelok dengan hiasan dan
lilin atau lampu-lampu.

Suasana, pada saat Yesus dilahirkan, yang dilukiskan di Injil karangan
Lukas 2, tidak cocok dengan keadaan yang sebenarnya, karena di
Palestina dalam musim itu tidak layaknya ada orang gembala di padang
pada waktu malam. Juga sensus yang dititah Kaisar Agustus tak dapat
dipertanggung jawabkan dari sudut sejarah. Ringkasnya, perayaan Natal
adalah suatu syncretism, percampuran, dimana unsur-unsur fiction
(rekaan) dan kafir ada lebih banyak dari unsur-unsur sejarah.

Source:
ALKITAB (BIBLE)
Sejarah Terjadinya dan Perkembangannya
Serta Hal-hal yang Bersangkutan
Prof. H.S. Tharick Chehab

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: