Gustrisehat’sWeblog

November 27, 2008

Akar masalah Krisis Bangsa Konyol

Filed under: TAUHID — Gustri @ 4:10 am

Saya harus mengatakan sebelum anda membaca lebih jauh bahwa saya bukan ahli EKONOMI. Saya samasekali tidak mengerti bagaimana cara mengatasi masalah perekonomian, jangankan urusan Negara dan bangsa, ekonomi rumah-tangga saja masih tidak jelas. Tapi saya meyakini adanya suatu akar permasalahan yang menjadi sebab-musabab atas terjadinya masalah perekonomian di Negara Indonesia. Dan tidak akan pernah krisis ekonomi bangsa ini diatasi apabila penanganannya tidak menyentuh pada permasalahan pokok. Team Ekonomi yang secanggih apapun lulusan Amrik, Eropa atau lulusan Antah Berantah, tak akan mampu mengatasi, apalagi ahli ekonomi yang sekarang berkompeten tidak pernah menyetuh pokok permasalahan. Saya tegaskan tanpa menyetuh pokok permasalahan krisis Ekonomi tidak akan bisa disembuhkan.

Akar Masalah yang pertama.

Fakta dilapangan mulai dari bumbu masak Aji-nomoto, Ray-co, Mi-won, Sa-sa dsb. Mulai dari sandal jepit, baju , sampai parfum, mulai dari sendok garpu didapur sampai computer di kantor, dari itu semua 90%-nya adalah barang-barang yang mengandung ROYALTI. Contoh Aqua gelas dengan harga Rp. 500,- maka sekian persennya wajib dibayarkan sebagai Royalti kepada Danone (PerusahaanYahudi yang bermarkas di Perancis). Anggap saja Rp.1,- pergelas, maka sekali kita minum , Rp1,- yang harus kita bayar ke Perancis. Padahal satu Jiwa yang paling primitive di Indonesia paling tidak menggunakan Korek api, kain, perhiasan, atau apalah. Atau katakanlah satu jiwa yang paling primitive terkena biaya royalty atas konsumsinya itu Rp.1, perhari. Ini jumlah yang kecil bukan…? Namun jika dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia 250.juta akan kita dapatkan angka Rp. 250juta, inilah jumlah royalty yang harus dibayar kepada pihak luar perharinya. Dalam sebulan menjadi Rp. 7,5 Milyar. Ini jumlah uang yang mengalir keluar negeri dalam sebulan. Ini bukan jumlah yang kecil lagi. Dan estimasi diatas adalah Rp. 1 perjiwa perhari, praktek dilapangan mungkin lebih dari angka tersebut.

Akar Masalah Kedua.

Ini menyangkut perilaku konyol –(terpaksa pake istilah ini krn saya tidak temukan istilah yang pas)–bangsa kita, saya berikan gambaran sebagai berikut :

Sebuah keluarga terdiri dari Bapak, Ibu dan tiga orang anak. Mereka lari pagi di seputaran Tugu Monas. Karena haus mereka minum the botol di warung kakilima. Saat membayar si Pedagang meminta pembayaran Rp.5000,- perbotol. Karena harga pasaran Rp. 2.000 s/d 3000. mereka membayar dengan mengomel dan menggerutu. “Tidak akan minum disitu lagi” katanya

Sore hari keluarga tersebut jalan jalan di Mal terdekat, kemudian mereka makan malam di Hoka-Hoka Bento. Disitu mereka minum the botol juga. Botolnya sama dengan botol yang mereka minum tadi pagi di Monas, rasanya sama, pabriknya sama. Anehnya saat kasir menyodorkan pembayaran the botol tersebut dengan harga Rp. 9000, perbotol, keluarga tersebut membayar dengan BANGGA dan tidak ada masalah dengan harga. “Minggu depan kita ke Plasa Senayan ya sayang”, kata ibu sambil merangkul anaknya.

Saya mengatakan ini perilaku konyol, apa istilah yang tepat saya tidak tahu. Faktannya perilaku macam begini jumlahnya jutaan di Indonesia.

Semoga kawan-kawan di MP bisa menjadikan tulisan ini menjadi bahan perenungan. Didepan saya katakana saya bukan ahli ekonomi, jadi saya tidak tahu cara mengatasi Krisis. Tapi dua point diatas jika tidak disentuh oleh pembuat kebijakan, maka jangan berharap Indonesia keluar dari krisis.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: