Gustrisehat’sWeblog

Oktober 1, 2008

Kambing hitam dari kerusakan “AQIDAH”

Filed under: TAUHID — Gustri @ 10:51 am
Tags:

By: Gustri Sehat

Fenomena luar biasa dahsyat terjadi pada Umat MUSLIM, yaitu rusaknya AQIDAH mereka, dan yang lebih menakjubkan lagi rendahnya kesadaran untuk berusaha beraqidah dengan benar.

Rendahnya kedewasaan seseorang membuat ia enggan memikirkan perkara AQIDAH, mereka merasa nyaman dengan menyandarkan diri pada orang-orang yang dianggap mengerti masalah tersebut. Padahal tidak sedikit fenomena yang “mengikuti sebenarnya lebih mengerti dari yang diikuti”. Bahkan sebenarnya tidak ada korelasi antara kecerdasan dengan IMAN. Contohnya : yang beriman kaffah belum tentu cerdas/pintar, dan yang cerdas/pintar belum tentu beriman. Bukankah ini fakta ?

1. Kambing hitam pertama : IJTIHAD

Ijtihad rupanya menjadi sumber dari semua masalah ini. Membangun aqidah dengan menyadarkan pada pemikiran para ulama, atau orang-orang yang dianggap menguasai. Sepintas sepertinya tidak ada masalah. ternyata tidak se-wajar yang kita duga.

Mari kita renungkan baik-baik, tentang konsep TAUHID dan KEIMANAN.

AL KAHFI 26. Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum.”

Dalam merumuskan Konsep Tauhid dan Ke-IMAN-an, sepenuhnya ALLAH-lah yang memiliki otoritas tunggal. Rasul rasulpun tidak memilki andil dalam penyusunan konsep Tauhid dan keimanan, termasuk Rasulullah (MUHAMMAD SAW.) Rasulullah menerimanya dalam bentuk konsep yang sudah jadi, dan beliau ajarkan kepada umatnya. Beliau tidak punya andil dalm penyusunan Konsep tauhid dan keimanan.

Masuknya Rasulullah menjadi factor/syarat/rukun dalam masalah keimanan semuanya murni terjadi atas kehendak ALLAH, bukan Rasulullah mengangkat dirinya sendiri, tapi ALLAH-lah yang meninggikan asma beliau. (bukan kehendak beliau atau beliau berstatus pasif), semua terjadi karena kehendak ALLAH). Dan tidak dipungkiri fakta beliaulah yang membangun Islam, dengan pengajaran perkara Tauhid dan Keimanan tersebut.

Ketika saya mengungkapkan Bahwa Tauhid dan Keimanan tidak perlu membawa-bawa Hadits, beberapa pihak menuduh “ingkar sunnah/ingkar hadits”, bakan ada yang mengatakan “ tidak usah sholat aja sekalian”. Saya tidak pernah bisa menjelaskan kepada mereka karena mereka keburu pergi dengan apriori, padahal saya ingin mengatakan,” hadits/sunnah Rasul itu dipakai rujukan dalam perkara, ibadah, muammalah, syariah, dll, tapi tidak dalam perkara aqidah”. Jika dalam aqidah keimanan harus mereferensi pada hadits, maka muncul pertanyaan, “ umat nabi Musa AS. memakai haditsnya siapa ? Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, atau siapa ?

Kita harus mengakui fakta bahwa Iman sudah diajarkan kepada Manusia semejak Nabi ADAM AS. Dan kalimat Tauhid dijadikan Kekal pada NABI IBROHIM dan Keturunannya. Sebelum para perawi hadits lahir bahkan sebelum Rasulullah lahir. Ini adalah fakta.

Masuknya Ijtihad para ulama dalam perkara AQIDAH, sungguh bertentangan dengan logika/rasio. Padahal islam sangat logis, justru umat muslimnya tidak konsisten denga logika.

1.Kerusakan pertama.

Membangun aqidah dengan landasan Ijtihad para Ulama. Baik ulama dimasa lalu maupun ulama dimasa sekarang. Nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci Al Qur’an dirubah dengan nilai-nilai yang dihasilkan dari fatwa para ulama.

Seorang ulama menemui saya, dan menurut pengakuannya sebagai pemilik Pondok Pesantren di daerah Bantul. Dalam sebuah perbincangan saya tanyakan tentang surat ANNISA 65.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Bukankah menurut ayat diatas, jika tidak berhukum pada hukum ALLAH maka Imannya batal (kafir) ?

Jawabanya :

Secara tekstual memang begitu, tapi ingat kisah pembicaraan antara Imam Maliki dan Hambali, ketika salah satunya bertanya kepada yang lain, kalau imannya batal apa harus bersyahadat lagi ? satunya menjawab : tidak perlu, kan udah sholat, waktu sholat kan baca syahadat lagi. Kesimpulan beliau selama dia sholat maka dia belum kafir, karena waktu sholat bersyahadat lagi.

Kesimpulan saya dari jawaban beliau, manusia bisa sebentar kafir, kemudian sholat dan bersyahadat (beriman lagi), kafir lagi, iman lagi…kafir…iman…kafir…iman…kafir. (keluar masuk Iman…kafir). Aqidah keimanan yang dibangun berlandaskan pada sebuah cerita, hanya sebuah cerita tentang pembicaraan HAMBALI dan MALIKI, nilai yang terkandung dalam Al Qur’an berubah dengan hadirnya nilai yang terbentuk dari sebuah cerita, sungguh tidak sebanding, dan tidak berlasan.

Teramat naïf dan teramat sangat tidak logis, mengingat para rasulpun tidak punya andil dalam penyusunan konsep Keimanan dan Tauhid, sedangkan ulama tersebut membangun keimanannya hanya dari sebuah dongeng.

Kerusakan yang terjadi pada kelompok seperti ini ialah mereka melegitimasi untuk tidak berhukum pada hukum ALLAH. Paham Murji’ah, Khowarij, tasawuf, Ahmadiyah, dan berbagai aliran dengan nabi-nabi baru.

2.Kerusakan Kedua.

Membangun keIMANan dengan landasan hadits yang bukan dari RASULULLAH. Mereka menyebutnya sebagai hadits dalam kategori MUTHAWATIR MA’NAWI (syah dari sisi subtansi, maka perawi tidak diperdulikan lagi, dan sudah disepakati oleh para ulama). Disini terjadi—“Nilai–nilai yang terkandung dalam Al Qur’an, mengalami pengurangan (bukan perubahan) dengan hadirnya nilai-nilai yang dihasilkan oleh hadits (padahal haditsnya tidak berasal dari Rasulullah)”.

Hadits yang secara subtansi tidak bertentangan dengan Qur’an memang benar, namun jika hadits tersebut mengurangi isi Qur’an maka inilah yang disebut talbisul Haqo bil baathil (hukumnya bathil). Misalnya Qur’an punya 8 kandungan nilai, kemudian hadits tersebut memuat 6 nilai diantaranya, kemudian dicari pertentangannya —“ya tentu tidak ada pertentangan”. Tapi ada 2 nilai yang tersembunyi/tidak dikemukakan. Lagipula toh juga tidak berasal dari Rasul, maka kita tinggalpun tidak apa-apa.

Kita tarik lagi garis lurus bahwa Para Rasulpun tidak punya andil dalam masalah konsep ke-IMAN-an, maka kelompok ini membangun Aqidah keimanannya berdasarkan hadits yang “tidak berasal dari Rasullulah”. Disusunlah rukun iman menjadi 6 rukun. Rukun IMAN yang 6 ini menyembunyikan fakta bahwa :

1. Tidak berhukum pada Hukum ALLAH berakibat batal IMANNYA. Annisa 65, Al Maidaah 44, 45, 47.

2. Wajib berjihad di jalan ALLAH tandanya orang beriman (Al Hujurot 15. Al Araaf 39. At Taubah 29. dll)

Kerusakan yang ada pada kelompok ini berakibat hilangnya keperdulian terhadap Syariah Islam, mengaku Islam tapi memilih-milih amalan yang disukai, membuang amalan yang tidak disukai, (memilih sebagian ayat dan mengingkari ayat yang lain). Pengikut kelompok ini a.l. kelompok yang mengaku ahlu sunnah tapi mengangkat pimpinan yang notabene menurut dalil Qur’an telah jatuh pemimpin kafir. Termasuk golongan SYIAH (Rofidhoh), yang rukun imannya ada 5.

3.Kerusakan yang ketiga.

Membangun Aqidah dengan landasan Ilmu pengetahuan. Hubungan antara ilmupengetahuan, Iman,dan logika. Nilai nilai Al Quran dirubah dengan hadirnya nilai-nilai yang bersumber dari akal manusia.

  • Iman dan logika : akan seiring sejalan dimana Iman berposisi sebagai obyek kemudian logika sebagai alat translasi untuk menjadikan obyek tersebut dipahami oleh kognitif/pemahaman manusia. Semakin dikaji konsep keimanan dalam Islam khususnya Al Qur’an, akan semakin logis.
  • Iman dan pengetahuan : mencerna Iman dengan kaca mata apa yang diketahui manusia adalah terlalu bahaya. Peluang untuk memperoleh kebenaran adalah :
    • peluang pertama antara bisa benar dan bisa salah adalah 50 : 50 atau ½. Hasil tersebut harus dikalikan dengan
    • peluang kedua yaitu : perbandingan antara luasnya pengetahuan yang dimilki manusia dengan luasnya pengetahuan disisi ALLAH, yang akan kita dapatkan angka 1/~.
      • Maka peluang untuk mendapatkan kebenaran adalah sbb ;

·

          • ½ X 1/~ = 1/2 X ~ = 1/~ = 0

Kerusakan dari kelompok ini sudah sangat parah, mereka sudah tidak ada benarnya, nilai benar 0 (nol). Kebanyakan dari kelompok ini meragukan perkara takdir baik dan takdir buruk, dengan alasan Iptek tidak dapat menjelaskan perkara takdir baik dan takdir buruk.

Termasuk disini Islam Liberal. Kelompok ini mengambil nilai-nilai esensi dari Qur’an kemudian mencampurkan dengan ilmu pengetahuan Yang dimiliki manusia.

Contoh : Hakekat inti dari Qur’an tentang “keadilan”.

Logika kelompok ini, boleh memakai hukum apa saja asal memakai prinsip “keadilan”.

Pertanyaannya, “keadilan” versi siapa ?

Menurut Al Qur’an hukuman yang adil bagi pencuri adalah potong tangan, ini adil “versi ALLAH”, kalau hukum versi manusia pencuri ya dipenjara, ini adil “versi hukum manusia”.

Maka tampak jelas “Keadilan” disini memilki makna berbeda walupun sama dalam perkataan/pengucapan.

Maka Qur’an itu tidak akan didatangi kebathilan dari muka maupun dari belakang.

Kesimpulan.

Berijtihad menganalisa/mencerna konsep tauhid dan keimanan haruslah dengan logika yang konsisten. Namun berijtihad untuk mengubah Konsep Aqidah khususnya keimanan biar ulama sekaliber apapun, ijtihadnya BATHIL diikuti. Aqidah keimanan hanya mengikuti satu petunjuk dari Yang Maha Kuasa yaitu KITABBULAH ( AL QUR’AN). Tidak lebih dan tidak kurang.

2. Kambing hitam yang kedua “Ilmu ASHBABUL”

(Fenomena ASHBABUL Khusus untu Qur’an)

Fenomena unik tetang ilmu ashbabul, mari kita simak !

Fakta pertama.

Shiah menggunakan ilmu ashbabul dan menafsir ayat Al Maidaah 55 untuk melegitimasi pendapat mereka tentang kepemimpinan ALI. Kelompok Muhammadiyah, dan beberapa yang lain, dengan ASHBABUL menafsir Ali Imran 128 menolak pemakian doa Qunut. Kelompok yang lain lagi dengan ASHBABUL untuk ayat-ayat tertentu dan menghasilkan mantera ilmu “pellet”, dan semua kelompok menjustifikasi pemahaman mereka dengan ASHBABUL.

Fakta kedua.

Berkat ilmu ASHBABUL, dihasilkan nilai-nilai yang terkandung dalam Qur’an yang semula VALID sampai akhir jaman, berubah menjadi RELATIP, menjadi tergantung konteks, situasi, kondisi,dll.

Contoh :

AT TAUBAH 29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Nilai yang terkandung dalam ayat tersebut diatas adalah perintah “perangi”, tidak peduli konteks apapun jika memenuhi syarat yang disebut ayat diatas maka wajib kita perangi atau sampai mereka tunduk. Perintah ini harusnya tidak berubah sampai akhir jaman.

Saya tanyakan hal ini pada seorang ulama yang Kondang di seputaran JAKTIM.

JAWABANNYA :

Menurut “ASHBABUL”. Waktu keluar ayat tersebut Islam masih sedikit pengikutnya,… sedangkan sekarang situasinya sudah berbeda. Kalaupun harus memerangi, maka yang cocok untuk hari ini perangnya dalam bentuk lain “Ghaswul Fikri” umpamanya….bla…bla..bla dst. (intinya nilai yang terkandung dalam Qur’an berubah seiring berubahnya kondisi, situasi, dll. Dan semuanya berlindung dibalik ilmu yang bernama “ASHBABUL”). Ketika saya Tanya Mengapa Ibnu Taimiya tidak memakai asbabul dalm tafsirnya, dan sayatidak memperoleh jawaban.

Tidak ada satupun alasan yang bisa dijadikan sandaran untuk menolak ilmu asbabul ini (khusus untuk Qur’an). Namun sangat mengherankan mengapa terjadinya fakta-fakta diatas, dan semuanya berlindung dibalik payung ilmu ashbabul.

Pertimbangan !

Nabi ISA AS. Bersabda dan kata-katanya diabadikan dalam ALKITAB (umat Kristen, terlepas dari Aqidah mereka, yaitu RED LETTER BIBBLE atau Alkitab huruf merah, khusus perkataan langsung dari Nabi Isa AS. Ditulis dengan huruf merah). Dalam buku itu tertulis Sabda Nabi Isa AS dengan warna merah, bunyinya sbb :

For every good tree will be god fruit, and every evil three will be evil fruit, by the fruit you shall known them. ( tiap pohon yang baik akan berbuah kebaikan, pohon yang jahat akan berbuah kejahatan, dari buahnya kamu mengetahui asalnya)

Mengenali suatu ilmu/ajaran (pohon) itu benar atau salah, jangan dilihat ajarannya (pohonnya) tapi lihatlah buahnya, dari buahnya kamu mengenali benar/salahnya.

Mengenai ASBABUL, jangan dilihat dari sisi ilmunyaatau ajarannya, tapi lihatlah apa yang dihasilkannya/buahnya. Dan buahnya adalah ”PERPECAHAN AQIDAH”

Wassalam.

1 Komentar »

  1. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Ma’af saudaraku, saya membacanya tidak berurutan. Tapi komentarnya sesuai dengan judul poting tsb.

    Sungguh setiap apa yang dikatakan dan diperbuat, kelak seluruhnya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Swt.

    Apabila kita mengatakan kambing hitam perpecahan Aqidah, harus intropeksi dulu sampai sejauh manakah pemahaman kita terhadap agama Islam?

    Kalo menurut pemahaman saya yang menjadi biangkeladinya adalah ketika terjadi pemilihan khalifah oleh Umar bin Khatab dan Abubakar. Kenapa saya mengatakan demikian? karena pemilihan tsb murni atas kemauan manusia (demokrasi) yg diadakan di Saqifah Banisa’diyah, tanpa keikutsertaan Ahlulbait Nabi Saw dan para sahabat utama lainnya. Yang secara otomatis telah melanggar ketentuan dan hukum Allah Swt yaitu ajaran Ahlulbait Nabi Saw mengenai garis kepemimpinan umat (Imamah) setelah Rasulullah Saw wafat sampai hadirnya Imam Mahdi As pada akhir zaman.

    Maka timbullah perselisihan dan perdebatan, karena hadist dan tafsir Al qur’an telah terkontaminasi oleh peranan penguasa thagut yakni Muawiyah dan Abbasiyah (baca komentar di posting wasiat).

    Demikian. semoga paham dan mengerti.

    Was. Wr. Wb.

    Komentar oleh asep — November 11, 2008 @ 5:43 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: